Journal of Public Health Research and Community Health Development

Journal Information
ISSN / EISSN: 25800140 / 25977571
Total articles ≅ 88

Latest articles in this journal

Putu Ayu Krisnawati,
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 63-74; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.29552

Abstract:
People with disabilities are around 15% of the total world population. People with disabilities have various obstacles in accessing reproductive health services, including information, behavior, environment and economy. Women with disabilities are at high risk for reproductive health problems. Aim: The purpose of this research is to determine the level of knowledge, attitudes behavior and proportion about reproductive health of childbearing age women with physical disabilities in Denpasar City.This research was observational study with cross-sectional design. This research was conducted on April - June 2020. The population in this study was women of childbearing age with physical disabilities who already had marriage. The sampling technique was purposive sampling with 66 women. This study used an online questionnaire to reduce direct contact because this research conducted during COVID-19 pandemic. This study analyzed by statistical package software.The result showed that majority of respondents with hearing impaired (36.36%), blind (31.82%), physical disability (28.79%), and speech impaired (3.03%). The level of reproductive health knowledge of respondents in this study who had good knowledge (39.39%), had positive attitudes (69.70%) and had bad behavior (68.18%). There is a significance relation between knowledge (p = 0.0003) and attitude (p = 0.002) towards reproductive health behavior.That can be conclude that most respondents have good knowledge and positive attitudes, but have poor reproductive health behaviors. To have good reproductive health behavior need to have good knowledge and positive attitude in reproductive health. Therefore, it is suggested regular socialization of reproductive health among women with disability using proper media that accessible for them.  ABSTRAK Kesehatan reproduksi merupakan hak setiap orang, termasuk penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas memiliki berbagai hambatan dalam mengakses layanan kesehatan reproduksi, diantaranaya informasi, perilaku, lingkungan, dan ekonomi. Wanita dengan disabilitas adalah kelompok yang memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan reproduksi. Penelitian yang dilakukan di Denpasar pada remaja dengan gangguan pendengaran menemukan bahwa remaja Tuli memiliki pengetahuan yang rendah terkait kesehatan reproduksi. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap, perilaku, dan proporsi wanita usia subur dengan disabilitas fisik di Kota Denpasar terkait kesehatan reproduksi. Metode yang digunakan yaitu desain penelitian observasional deskriptif dengan menggunakan rancangan penelitian cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Kota Denpasar pada bulan April – Juni 2020. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita usia subur penyandang disabilitas fisik yang sudah memiliki status perkawinan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan jumlah 66 responden. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki jenis disabilitas Tuna Rungu (36.36%) dan Tuna Netra (31.82%), sedangkan untuk Tuna Daksa (28.79%) dan Tuna Wicara (3.03%). Tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi responden dalam penelitian ini memiliki pengetahuan baik (39.39%), mayoritas memiliki sikap positif (69.70%) dan sebagian besar memiliki perilaku kurang baik (68.18%). Tidak terdapat perbedaan proporsi antara karakteristik responden dengan perilaku kesehatan reproduksi dan terdapat perbedaan proporsi antara pengetahuan (p=0.0003) dan sikap (p=0.002) terhadap perilaku kesehatan reproduksi. Dapat disimpulkan bahwa responden memiliki pengetahuan baik, sikap positif, namun memiliki perilaku kesehatan reproduksi kurang baik. Terdapat perbedaan proporsi pada pengetahuan terhadap perilaku kesehatan reproduksi dan terdapat perbedaan proporsi pada sikap terhadap perilaku kesehatan reproduksi. Diperlukan sosialisasi kepada perempuan dengan disabilitas terkait informasi kesehatan reproduksi.
Alifia Fiarnanda Putri, , Anizah Izzi Haibah, Titi Rahmawati Hamedon
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 35-47; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.36371

Abstract:
COVID-19 is an infectious disease caused by the SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2) virus. During the pandemic, health workers have a higher risk of being exposed to the coronavirus. This study aims to analyze the availability and use of PPE for COVID-19 infection cases in health workers. This study used the scoping review method. Selected articles had been chosen by topic and inclusion criteria. Twenty-four articles were varied based on research locations in the US, China, Italy, Germany, Ethiopia, India, Pakistan, Nigeria, Australia, and Israel. Health workers have used PPE when handling specimens or patients with COVID-19 symptoms. The health workers were varied, including doctors, dentists, veterinarians, public health officers, nurses, pharmacists, and medical personnel who treat COVID-19 patients or not—the type of PPE widely used as masks. Health care facilities have provided PPE, but access, quality, and availability vary. Cases of COVID-19 infection in health workers varied, and the symptoms. PPE availability indirectly affects the high or low cases of COVID-19 infection in health workers, so the availability of PPE for health workers must be considered. ABSTRAK COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2). Selama pandemi, tenaga kesehatan memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus corona. Tujuan dari penulisan ini yaitu menganalis ketersediaan dan penggunaan APD terhadap kasus infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode scoping review. Artikel yang dipilih sesuai dengan topik dan kriteria inklusi. Didapatkan 24 artikel dengan lokasi penelitian di AS, Cina, Italia, Jerman, Ethiopia, India, Pakistan, Nigeria, Australia, dan Israel. Tenaga kesehatan telah menggunakan APD saat menangani pasien ataupun spesimen pasien dengan gejala COVID-19. Tenaga kesehatan yang diteliti bervariasi, meliputi dokter, dokter gigi, dokter hewan, public health officer, perawat, apoteker, tenaga medis yang menangani pasien COVID-19 ataupun tidak. Jenis APD yang paling banyak digunakan oleh tenaga kesehatan yaitu masker. Fasilitas pelayanan kesehatan telah menyediakan APD, namun akses, kualitas, dan ketersediaannya bervariasi. Kasus infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan bervariasi, begitu pula dengan gejala yang timbul. Penggunaan APD dapat meminimalisir risiko penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan. Ketersediaan APD berpengaruh tidak langsung terhadap tinggi atau rendahnya kasus infeksi COVID-19 pada tenaga kesehatan, sehingga ketersediaan APD untuk tenaga kesehatan harus diperhatikan.
, Endang Dwiyanti
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 21-26; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.25082

Abstract:
 Background: Workers who perform repetitive movements and work in a manner that remains seated for a long time experience Carpal Tunnel Syndrome in stone-breaking workers. It can reduce worker productivity because CTS can cause disability. Objective: Analyzing the relationship between work posture and repetitive movements with Carpal Tunnel Syndrome in stone-breaking workers on the banks of the Kalisetail River, Genteng District, Banyuwangi Regency. Method: This study was included in an observational analytic study with a cross-sectional research design. The samples in this study were all stone-breaking workers, consisting of 30 people, along the Kalisetail River, Setail Village, Genteng District, and Banyuwangi Regency. Results: The results showed the relationship between work posture (r = 0.420) and repetitive movement (r = 0.671) with complaints of Carpal Tunnel Syndrome in stone-breaking workers on the banks of the Kalisetail River was sufficient or moderate until strong. Conclusion: This study concludes that the relationship between work posture and repetitive movements of Carpal Tunnel Syndrome was sufficient until strong in stone-breaking workers on the outskirts of Kalisetail River. The researcher suggests applying rest breaks or recovery times, physical exercise during break times, and workplace adjustment. ABSTRAKLatar Belakang: Pekerja yang melakukan gerakan repetitif dan bekerja dengan posisi tetap yaitu duduk dalam waktu yang lama merupakan penyebab terjadinya Carpal Tunnel Syndrome pada pekerja pemecah batu. Hal ini dapat menurunkan produktivitas pekerja karena CTS dapat menimbulkan kecacatan. Tujuan: Menganalisis hubungan antara postur kerja dan gerakan repetitif dengan Carpal Tunnel Syndrome pada pekerja pemecah batu di pinggiran Sungai Kalisetail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Metode: Penelitian ini termasuk dalam penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah semua populasi pekerja pemecah batu di sepanjang Sungai Kalisetail Desa Setail, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi sebanyak 30 orang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara postur kerja (r=0,420 dan gerakan repetitif (r=0,671) dengan keluhan Carpal Tunnel Syndrome pada pekerja pemecah batu di pinggiran Sungai Kalisetail adalah cukup atau sedang sampai kuat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hubungan antara postur kerja dan gerakan repetitif dengan keluhan Carpal Tunnel Syndrome adalah cukup atau sedang sampai kuat pada pekerja pemecah batu di pinggiran Sungai Kalisetail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Saran peneliti adalah penerapan jeda istirahat atau waktu pemulihan, latihan fisik di sela waktu istirahat, dan penyesuaian tempat kerja.
, Hanifa Maher Denny, Ida Wahyuni
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 1-8; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.21490

Abstract:
Background: The Central Java Response COVID-19 website shows, Semarang City has the highest COVID-19 cases in Central Java. The coverage area of Rowosari Community Health Center (CHC) has experienced many COVID-19 cases compared to other areas in Semarang City. Meanwhile, the Srondol CHC has shown a rapid decline in COVID-19 cases. Subsequently, the COVID-19 cases in Krobokan CHC have been recorded as low numbers compared to other CHCs in Semarang City. Purpose: The purpose of this study was to analyze the association between the CHC workers' behavior (knowledge, attitude, practice) and the readiness in anticipation of COVID-19 at work. Methods: This study was a quantitative analytic with the google form instrument in collecting the primary data. Meanwhile, secondary data obtained from CHCs, Central Java provincial government, and Semarang City Government were added to enrich the study. The investigators invited 135 persons from the CHC workers. However, only 97 respondents filled the instrument. Results: The majority of respondents were female with a good knowledge of 57 people (58.8%). Respondents with a good attitude were 57 people (58.8%), good practices were 87 people (89.7%), and informed readiness were 88 people (90.7%). There is a significant relationship between knowledge (p-value: 0.002; α: 0.05), attitude (p-value: 0.012; α: 0.05), and practice (p-value: 0.028; α: 0.05) and the readiness of health center officers in anticipation of COVID-19 at work. ABSTRAKLatar Belakang: Merujuk data pada portal Jateng Tanggap COVID-19, Kota Semarang adalah kota yang mempunyai kasus COVID-19 tertinggi di Jawa Tengah. Dari hasil pantauan data COVID-19 maka daerah sekitar puskesmas Rowosari pernah menjadi wilayah dengan kasus tertinggi di Kota Semarang. Sedangkan wilayah kerja puskesmas Srondol menunjukkan penurunan kasus COVID-19 secara cepat. Wilayah kerja Puskesmas Krobokan dipilih karena kasus COVID-19 tergolong rendah di banding wilayah kerja Puskesmas lainnya. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesiapan dari petugas Puskesmas dalam antisipasi COVID-19 di wilayah kerja masing masing. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian berbentuk googleform untuk pengumpulan data primer. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Puskesmas, pemerintah provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang. Jumlah populasi pada penelitian adalah 135 orang pegawai Puskesmas, namun yang bersedia menjadi responden penelitian hanya 97 orang. Hasil: Dari 97 responden, mayoritas responden adalah perempuan, responden yang mempunyai pengetahuan baik (58,8%), responden dengan sikap baik (58,8%), praktik yang baik (89,7%) dan siap dalam antisipasi COVID-19 sebanyak (90,7%). Ada hubungan secara signifikan antara pengetahuan (p-value: 0,002; α: 0,05), sikap (p-value: 0,012; α: 0,05), dan praktik (p-value: 0,028; α: 0,05) dengan kesiapan petugas Puskesmas dalam antisipasi COVID-19 di Puskesmas Kota Semarang.
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 27-34; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.21535

Abstract:
Based on observations of most of the workers at the LPG agent at Kelurahan Manggarai deploying gas cylinders manually for (± 8 hours) and the frequency of activities undertaken by workers is very high, based on interviews conducted by researchers found that most workers experience pain in the lower back. This can increase tension in the muscles and cause disability. This study aimed to determine the relationship between individual characteristics and occupational factors with complaints of low back pain in LPG agent workers at Kelurahan Manggarai Jakarta in 2020. This research was quantitative by using a cross-sectional design. The sampling technique was by total sampling where the number of samples was 52 people. Data were analyzed using the Chi-Square test. Workers' body positions were observed by adjusting the OWAS observation assessment sheet. The results of the analysis found that age, BMI, smoking habits, manual material handling and years of work have a significant relationship with LBP complaints (p-value 0.05). The company should create a two-wheeled hand truck based on worker anthropometry to minimize LBP complaints. ABSTRAK Berdasarkan hasil observasi sebagian besar pekerja pada agen LPG Kelurahan Manggarai Jakarta mengerahkan tabung gas secara manual selama kurang lebih 8 jam serta frekuensi aktivitas yang dilakukan pekerja sangat tinggi. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti ditemukan sebagian besar pekerja mengalami LBP. Hal ini dapat meningkatkan ketegangan pada otot dan menimbulkan kecacatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan karakteristik individu dan faktor pekerjaan dengan keluhan low back pain pada pekerja di agen LPG Kelurahan Manggarai Jakarta tahun 2020. Sebanyak 52 orang dilibatkan dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain cross-sectional. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Posisi tubuh pekerja diamati dengan menyesuaikan lembar penilaian observasi OWAS. Hasil analisis menunjukan bahwa variabel usia, IMT, kebiasaan merokok, manual material handling, dan masa kerja memiliki hubungan yang bermakna dengan keluhan LBP (nilai-p 0,05). Sebaiknya, perusahaan menciptakan hand truck dua roda yang dibuat berdasarkan antropometri pekerja agar meminimalisasi terjadinya keluhan LBP.
, Solihin Sayuti, Rozalia
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 48-53; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.23516

Abstract:
Background: Vitamin A is an indispensable nutrient for humans and very important in physiological processes of the body, including cell growth, improving visual function, improving immunology and body growth. Giving high dose of vitamin A for infants, toddlers and postpartum mothers could decrease morbidity and mortality of infants and toddlers. The percentage of Tegal Arum Public Health Center in giving Vitamin A to toddlers was low (37,30%) while the target indicator was 100%.Objective: This study aims to determine the description and relationship of family motivation and the role of officers with maternal behavior in vitamin A in toddlers in the Tegal Arum public Health Center, Tebo Regency, Jambi Province.. Methods: This research was a quantitative study with a cross-sectional design, using proportional random sampling. In this study, the samples were mothers who had toddlers in the working area of ​​the Tegal Arum Public Health Center, Tebo Regency, with the number of samples in this study amounting to 82 people. Results: A total of 47 (57,3%) respondents had poor maternal behavior in giving vitamin A to toddlers, 45 (54,9%) respondents had low motivation, 59 (72,0%) respondents had poor family support, 54 (65,9%) of respondents have a less good role of officers. There is a relationship between motivation (p-vaue:0.001) family support (p-value:0.001) the role of officers (p-value:0.002) with mother's behavior in giving Vitamin A in toddlers in the Tegal Arum Public Health Center, Tebo Regency, Jambi Province Conclusion: As input for Public Health Center, there is a need for outreach to health workers, especially village Integrated Health care Center cadres regarding the provision of vitamin A by providing information and counseling to mothers to administer vitamin AABSTRAKLatar Belakang: Vitamin A merupakan zat gizi yang sangat diperlukan bagi manusia, karena zat gizi ini sangat penting agar proses-proses fisiologis dalam tubuh berlangsung secara normal, termasuk pertumbuhan sel, meningkatkan fungsi penglihatan, meningkatkan imunologis dan pertumbuhan badan Pemberian vitamin A dosis tinggi pada bayi, balita dan ibu nifas dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi dan balita. Puskesmas Tegal Arum pemberian Vitamin A pada anak balita tergolong rendah dengan persentase 37,30% sedangkan target indikator gizi sebesar 100%.Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan hubungan motivasi keluarga dan peran petugas dengan perilaku ibu dalam vitamin A pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tegal Arum Kabupaten Tebo Provinsi Jambi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan Desain penelitian ini adalah Cross Sectional menggunakan Proposional Random Sampling Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah ibu yang mempunyai balita di wilayah kerja puskesmas Tegal Arum Kabupaten Tebo,dengan jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 82 orang. Hasil : Sebanyak 47 (57,3 %) responden memiliki perilaku Ibu dalam pemberian vitamin A pada balita Kurang Baik, 45 (54,9 %) responden memiliki motivasi rendah, 59 (72,0%) responden memiliki dukungan keluarga kurang baik, 54 (65,9 %) responden memiliki peran petugas kurang baik.Ada hubungan antara motivasi (p-vaue:0,001) dukungan keluarga (p-value :0,001) peran petugas (p-value:0,002) dengan perilaku ibu dalam pemberian Vitamin A pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tegal Arum Kabupaten Tebo Provinsi Jambi. Kesimpulan: Sebagai masukan bagi Puskesmas perlu adanya sosialisasi terhadap petugas kesehatan khususnya kader posyandu desa mengenai pemberian vitamin A dengan cara memberikan informasi dan konseling kepada ibu untuk melakukan pemberian vitamin A
, Inge Dhamanti
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 14-20; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.31556

Abstract:
Background: Root cause analysis (RCA) is a process used by hospitals to reduce the level of patient safety incidents. The minimized application of root cause analysis has resulted in inevitable patient safety incidents. Research objectives: ​​ This study aims to determine the application of RCA to patient safety incidents in hospitals. Method: The method used in this study was a literature review. Articles were obtained through the Pubmed, SAGE, and Google Scholar databases published in 2016-2021. Results: The implementation of RCA in 46 hospitals in France, the United States, and Hong Kong is known to run inadequately. This is due to the fact that the overall causative factors are not identified and the type of solution produced is ineffective in preventing the occurrence of the same patient safety incidents (PSI) in the future. Conclusion: The results of the article review shows that the application of RCA is not optimal. Therefore, it is necessary to improve the quality of RCA in hospitals. ABSTRAKLatar belakang: Analisis akar penyebab merupakan proses yang digunakan oleh rumah sakit untuk mengurangi tingkat kejadian insiden keselamatan pasien. Penerapan analisis akar penyebab yang belum maksimal menyebabkan insiden keselamatan pasien belum berhasil untuk dicegah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas dan hambatan penerapan RCA pada insiden keselamatan pasien di rumah sakit. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah scoping review. Pencarian artikel didapat melalui database Pubmed, SAGE, dan Google Scholar yang dipublikasikan pada tahun 2016-2021. Hasil: Penerapan RCA pada 46 rumah sakit di negara Prancis, Amerika Serikat, dan Hongkong diketahui belum berjalan secara optimal. Hal ini disebabkan, karena tidak mengidentifikasi faktor penyebab secara keseluruhan dan jenis solusi yang dihasilkan tidak efektif untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien (IKP) yang sama di masa mendatang. Kesimpulan: Hasil tinjauan artikel menunjukkan penerapan RCA belum optimal, sehingga dibutuhkan peningkatan kualitas RCA di rumah sakit.
, Yuli Peristiwati, Agusta Dina Ellina, Asruria Sani Fajriah
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 54-62; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.29534

Abstract:
Background: Stroke is a medical emergency condition that often causes death and disability recorded worldwide. About 5.5 million people died and 44 million people living with the residual effects of stroke. Stroke results weakness of the extremities and impact from prolonged bed rest that gives one of the complications called decubitus. Decubitus as result of prolonged pressure on the Protruding bone surface area, so that depressed area and over time the local tissue is ischemic, hypoxia and develops into necrosis. Cause of the patients’ inability to take care of their own bodies, therefore family caring is important roles in decubitustreatment in stroke patients.Purpose: To collect and analyze the results of research relate the treatment management with family caring methods to prevention decubitus in stroke patients. Methods: this study used a research article from 2015-2021 with a data base of PubMed, google scholar, ScienceDirect, and research gates and using certain keywords. The keywords for this review included decubitus, pressure ulcers, pressure injury, stroke, family caring.Results: The author filtered 315 literature study from four databases (PubMed, google scholar, ScienceDirect and research gate) for review. That as many 15 articles that considered relevant, and 8 articles were included of treatment management with family caring to prevent decubitus for patient stroke. Based on the analysis of 8 articles, the family caring method can reduce the risk of decubitus in stroke patients. Conclusion: The Family caring method can prevent the risk of decubitus in stroke patients.ABSTRAKLatar Belakang: Penyakit stroke adalah suatu keadaan darurat medis yang sering mengakibatkan kematian maupun kecatatan di seluruh dunia. Sebanyak kurang lebih 5,5 juta orang meninggal serta 44 juta orang mengalami gejala sisa akibat penyakit stroke. Stroke mengakibatkan terjadinya kelemahan ekstremitas serta berdampak pada terjadinya tirah baring yang lama, sehingga menimbulkan salah satu komplikasi yaitu dekubitus. Dekubitus ini terjadi akibat dari tekanan dengan durasi lama pada area permukaan kulit yang menonjol karena tulang, sehingga area yang tertekan tersebut membentuk jaringan iskemik, hipoksia, dan nekrosis. Kondisi ini menjadi penyebab ketidakmampuan pasien dalam menjaga dirinya sendiri. Maka dari itu, keluarga diharapkan mampu berperan sebagai pendukung dalam melakukan perawatan dekubitus pada pasien stroke. Tujuan: Untuk mengumpulkan dan menganalisis hasil terkait suatu manajemen perawatan pasien stroke dengan metode family caring terhadap pencegahan luka dekubitus Metode: Penelitian ini menggunakan penelusuran artikel dari tahun 2015 hingga 2021 pada database pubmed, google scholar, scienderect dan research gate dengan kata kunci tertentu. Pencarian artikel dengan menggunakan kata kunci dekubitus, pressure ulcers, pressure injury, stroke, dan family caring. Hasil: Penulis memilah 315 studi literature dari empat database (pubmed, google scoolar, sciendirect dan research gate). Sebanyak 15 artikel yang dianggap relevan dan 8 artikel yang layak untuk ditelaah tentang manajemen untuk pencegahan luka dekubitus pada pasien stroke. Bersumber perawatan dengan metode family caring untuk pencegahan luka dekubitus pada pasien stroke. Bersumber pada analisis dari 8 artikel tersebut diperoleh bahwa metode family caring dapat menurunkan resiko terjadinya luka dekubitus. Kesimpulan: Metode family caring dapat mencegah resiko terjadinya luka dekubitus pada pasien stroke.
, Hanifa Maher Denny, Ekawati
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 9-13; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.21477

Abstract:
Background: The accidents at the workplace can affect productivity and public welfare. The occupational safety and health (OSH) program minimizes the case of accidents and illness at the workplace. The study site is a freight railway company with some risks as other transportation businesses. Purpose: The purpose of this study was to identify the company's best practices in OSH programs. Methods: This research is a qualitative design with an online in-depth interview approach to collect the data. The head of the company, Central Java branch, was interviewed as the primary informant while the head of the operational section was the triangulation informant. The researchers also reviewed some documents to validate the interview results. Data were analyzed using content analysis. Results: inspection, briefing, and training are the main OSH related programs in the company to increase the safety climate in the workplace. However, the company has not implemented the inspection as scheduled, lack of safety materials for the morning briefing, and lack of training for the workers. Conclusion: The freight railway in the study site has implemented some OSH Programs, but the safety briefing, inspection, and OSH training need to be conducted.ABSTRAKLatar Belakang: Masih tingginya angka kecelakaan kerja di Indonesia dapat mempengaruhi produktivitas serta kesejahteraan masyarakat. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, diperlukan adanya program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di tempat kerja yang merupakan upaya dari perusahaan untuk meminimalisir terjadinya kasus kecelakaan kerja dan kasus penyakit akibat kerja. PT.X yang merupakan perusahaan logistik berbasis kereta api ini mempunyai potensi bahaya yang dapat memicu terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui upaya dari perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja melalui program K3 yang ada di perusahaan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu form wawancara mendalam, serta pengumpulan data dilakukan secara daring. Informan utama dan triangulasi dalam penelitian ini yaitu kepala cabang dan kepala operasional. Data dianalisis berdasarkan triangulasi metode dan triangulasi sumber. Hasil: Inspeksi, briefing, dan pelatihan merupakan program utama perusahaan yang berkaitan dengan K3, dengan tujuan untuk meningkatkan iklim K3 di tempat kerja. Tetapi, perusahaan tidak menjalankan inspeksi rutin, kurangnya materi K3 pada saat briefing, dan kurangnya pelatihan pada pekerja. Kesimpulan: Program K3 yang ada di PT. X masing-masing mempunyai kelebihan serta kekurangan, dan menyarankan untuk meningkatkan atau memperbaiki program K3, seperti penerapan inspeksi rutin, adanya pelatihan, dan pemberian materi K3 pada saat briefing.
, Elievia Wienarno, Hesti Khofifah, Yuni Herliyanti, Zly Wahyuni
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 6, pp 75-81; https://doi.org/10.20473/jphrecode.v6i1.30209

Abstract:
Background: Human milk donor (HMD) works as temporary support before the mother could breastfeed independently and meet the exclusive breastfeeding (EBF) status on their own. However, caregivers commonly use bottle feeding to give breast milk substitutes for the baby. although it might increase the risk of nipple confusion and disturb the breastfeeding (BF) process. Objectives: this research aimed to explore the relationship between HMD, bottle-feeding, and the BF status of the mother of infants aged 0-6 months in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Methods:This is a cross-sectional research using online questionnaires with the link available in social media for four months (December 2020-March 2021), with a total participant number of 123. Data were analyzed using the Kolmogorov-Smirnov and chi-square test.Results: There was no significant correlation between HMD-recipient status and EBF (p=0.080). However, it has a significant relationship with prolonged BF insufficiency (p=0.000; RR=3.214; CI=1.020-4.082). The bottle-feeding utilization was signified as a risk factor for both non-EBF (p=0.020; RR=2.524; CI=1.090-5.844) and prolonged BF insufficiency (p=0.021; RR=2.103; CI=1.073-4.123). ConclusionAn approach to use appropriate feeding media through lactation support for the mothers is essential, particularly in HMD practices.ABSTRAKLatar Belakang: Donor Air Susu Ibu (ASI) merupakan salah satu alternatif sementara sebelum ibu dapat menyusui dan mencapai status ASI Esklusif secara mandiri. Namun demikian, dot merupakan media yang sering digunakan oleh pengasuh untuk memberi makan bayi meskipun hal ini dapat meningkatkan resiko bingung puting dan mengganggu proses menyusui. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Donor ASI, penggunaan dot, dan status menyusui Ibu dari bayi berusia 0-6 bulan di DIY Metode: Penelitian ini merupakan studi cross sectional yang menggunakan kuesioner online dengan link yang tersedia di sosial media selama 4 bulan (Desember 2020- Maret 2021). Jumlah total responden 123 orang. Data diolah menggunakan uji statistik Kolmogorov-smirnov dan chi square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara Donor ASI dan ASI Esklusif (p=008) namun Donor ASI memiliki hubungan dengan keberlanjutan ketidakcukupan ASI (p=0.000; RR=3.214; CI=1.020-4.082). Penggunaan dot memiliki hubungan yang signifikan baik pada status tidak ASI Esklusif (p=0.020; RR=2.524; CI=1.090-5.844) dan keberlanjutan ketidakcukupan ASI (p=0.021; RR=2.103; CI=1.073-4.123). Kesimpulan: Perlu adanya upaya untuk mengedukasi penggunaan media yang tepat untuk pemberian makan bayi melalui proses dukungan menyusui bagi ibu, terutama pada praktik Donor ASI.
Back to Top Top