Tata Kota Dan Daerah

Journal Information
ISSN / EISSN: 2338168X / 26865742
Total articles ≅ 47

Latest articles in this journal

Robi Hari Marhesa, Luchman Hakim, Edriana Pangestuti
Published: 3 August 2022
Tata Kota Dan Daerah, Volume 14, pp 25-34; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2022.014.01.4

Abstract:
Desa Ngargoretno merupakan desa wisata di Kabupaten Magelang yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Guna mendukung pengembangan dan keberlanjutan Desa Wisata Ngargoretno, maka perlu dilakukan analisis status keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status keberlanjutan Desa Wisata Ngagroretno dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur, dan kelembagaan. Penelitian ini menggunakan analisis Multi Dimensional Scaling Rappfish yang dimodifikasi menjadi Rap-Tourism. Hasil analisis status keberlanjutan Desa Wisata Ngargoretno menunjukkan dimensi ekologi (63,72%) cukup berkelanjutan, dimensi ekonomi (41,87%) kurang berlanjutan, dimensi sosial (49,14s%) kurang berkelanjutan, dimensi infrastruktur (47,01%) kurang bekelannjutan, dan dimensi kelembagaan (74,32%) cukup berkelanjutan.
Ngargoretno Village is a tourism village in Magelang Regency that has a lot of potential to expand. It is located in the heart of the region. It is required to conduct a sustainability assessment of the Ngargoretno Tourism Village in order to assist in the development and long-term viability of the facility. The purpose of this research is to assess the long-term viability of the Ngagroretno Tourism Village from the perspectives of the ecological, economic, social, infrastructural, and institutional components. This research makes use of an examination of a Multi Dimensional Scaling Rappfish that has been developed to become Rap-Tourism.The findings of the research of the Ngargoretno Tourism Village's long-term viability reveal that the ecological dimension (63.72%) is quite sustainable, the economic dimension (41.87%) is less sustainable, the social dimension (49.14s%) is less sustainable, the infrastructure dimension (47.01%) is less sustainable. sustainability, and the institutional dimension (74.32%) is quite sustainable.
Nuril Fikriyah, Christia Meidiana, Kartika Eka Sari
Published: 3 August 2022
Tata Kota Dan Daerah, Volume 14, pp 35-46; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2022.014.01.5

Abstract:
Pengelolaan sampah menjadi tantangan serius bagi pengelola dan pembuat kebijakan di perkotaan maupun pedesaan dan oleh karena itu, solusi masalah sampah harus terintegrasi dan berkelanjutan. Desa Sawahmulya merupakan Desa yang ditetapkan sebagai zona prioritas pelayanan sampah di Pulau Bawean. Namun, penanganan sampahnya belum optimal. Pelayanan pengumpulan Desa Sawahmulya belum tersedia di setiap dusun. Keberadan 3 TPS seharusnya dapat melayani seluruh dusun. Tetapi, masih ada dusun yang belum terlayani sehingga menimbulkan TPS ilegal yang berada di tepi pantai dan permasalahan lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sistem pengelolaan sampah, menghitung efektivitas pengumpulan sampah, mengevaluasi kinerja TPS, menentukan lokasi dan lingkup pelayanan TPS, serta sistem pengumpulan sampah di Desa Sawahmulya.  Hasil penelitian menunjukkan pengumpulan sampah di Desa Sawahmulya belum efektif, hanya 36% sampah yang terkumpul oleh petugas di TPS, kondisi TPS Sawahlaut sudah melebihi kapasitasnya yakni 143%, dari segi lokasi keberadaan lokasi TPS masih belum memenuhi kriteria kesesuaian lokasi TPS sehingga direkomendasikan untuk membangun TPS Baru di Kebundaya yang mampu melayani 500 KK dan melakukan pemerataan daerah lingkup pelayanan di setiap TPS. Penentuan sistem pengumpulan meliputi pola pengumpulan komunal dan individual tidak langsung dengan memerlukan 7 rute pengumpulan, dan penambahan moda bermotor dengan ritasi sebanyak 2-3 sesuai area pelayanannya.Kata Kunci: Pengelolaan Sampah, Sistem-Pengumpulan-Sampah, TPS.
Ade Atmi Sri Hardini, I Nyoman Suluh Wijaya, Deni Agus Setyono
Published: 3 August 2022
Tata Kota Dan Daerah, Volume 14, pp 9-20; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2022.014.01.2

Abstract:
Kota Malang memiliki pola pertumbuhan ekonomi yang unik, dimana sektor ekonominya sebagian besar disokong oleh industri kecil dan mikro, dengan pola yang demikian melihat keberlanjutan ekonomi pada kampung industri akan lebih mudah dilakukan. Pembangunan berkelanjutan merupakan sebuah konsep yang mencakup tujuan sosial, lingkungan dan ekonomi di dalamnya akan tetapi penilaian keberlanjutan belum terbentuk secara utuh, terutama ketika membahas tentang tiga pilar keberlanjutan, belum ada yang indikor yang baku dalam mengukur tingkat keberlanjutan pada suatu wilayah, terutama yang terkait dengan pilar keberlanjutan ekonomi. Penelitian berfokus pada mengidentifikasi tingkat keberlanjutan tujuh kampung industri di Kota Malang dengan melihat Indikator-indikator produksi berkelanjutan (sustainable production indicators) lalu kemudian dievaluasi dengan menggunakan analisis logika fuzzy untuk mengetahui tingkat keberlanjutan masing-masing kampung industri. Hasil yang diperoleh berupa tingkat keberlanjutan dimana kampung industri sanitair dan kampung industri tempe kedelai dan keripik tempe memiliki tingkat keberlanjutan Medium high sustainability sedangkan kampung industri gerabah, kampung industri rotan, kampung industri marning jagung, kampung industri keramik dan kampung industri mebel memiliki tingkat keberlanjutan Medium sustainability.
Fadjar Iman Nugroho, Deni Agus Setyono, Eddi Basuki Kurniawan
Published: 3 August 2022
Tata Kota Dan Daerah, Volume 14, pp 1-8; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2022.014.01.1

Abstract:
Kota Malang dianugerahkan sebagai kota layak huni berdasarkan IAP dalam kajian Most Livable City Index di tahun 2017. Namun, perlu adanya kajian lebih lanjut dalam mengidentifikasi area mana saja yang masuk dalam kategori kelayakhunian tinggi, sedang, dan rendah di Kota Malang berdasarkan indikator fisik yang mengandung nilai spasial. Fokus dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menilai zona layak huni di Kota Malang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis skoring dan analisis spasial menggunakan bantuan GIS. Data-data yang digunakan adalah data sekunder dari instansi terkait serta hasil observasi kondisi eksisting Kota Malang.
Dewi Setyaningrum
Published: 3 August 2022
Tata Kota Dan Daerah, Volume 14, pp 21-24; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2022.014.01.3

Abstract:
Kondisi fisik kampung nelayan Kanigoro belum mewadahi aktivitas, proses tumbuh kembang, dan belum memenuhi kriteria ramah anak. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh dan membuat suatu kampung dapat dikatakan ramah anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Pengambilan data pada metode kuantitatif dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada 95 responden yang telah ditentukan jumlahnya pada sepuluh RT berdasarkan perhintungan sampel. Data hasil penyebaran kuesioner tersebut kemudian dianalisis menggunakan analisis faktor. Hasil yang diperoleh berdasarkan analisis faktor yaitu terdapat faktor yang sangat berpengaruh dalam mempengaruhi kampung nelayan Kanigoro untuk menjadi ramah anak dengan nilai pengaruh 33,431% yaitu tempat berobat, area bermain, persampahan, fasilitas keamanan dan faktor berpengaruh dengan nilai pengaruh 12,469% yaitu sekolah dan acar cara kebudayaan.
Annisa Nadhira Maudina, Fakultas Teknik Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota, Imma Widyawati Agustin, Budi Sugiarto Waluyo
Published: 31 December 2021
Tata Kota Dan Daerah, Volume 13, pp 59-72; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2021.013.02.2

Abstract:
Dukuh Atas sebagai kawasan TOD direncanakan sebagai area interchange—pusat integrasi enam moda transportasi umum di DKI Jakarta, yaitu KRL, MRT, LRT, kereta bandara, Transjakarta, dan mini-Transjakarta (feeder)—yang terletak di daerah strategis Segitiga Emas Jakarta yang berskala nasional-internasional sebagai pusat distrik bisnis dan pemerintahan. Namun, penggunaan kendaraan pribadi masih tinggi, mencapai 98% yang melalui ruas Jl. Jendral Sudirman dengan 60% kendaraan bertujuan akhir di Kawasan Dukuh Atas. Secara ideal, TOD mengintegrasikan antara T (transit) dan D (development), sehingga konsep ini dianggap dapat memecahkan permasalahan transportasi. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik Kawasan Dukuh Atas sebagai salah satu dari delapan stasiun MRT yang dikembangkan menjadi kawasan TOD di DKI Jakarta. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari (1) gabungan dari ITDP  (2017) dengan parameter yang disesuaikan dengan Permen ATR/BPN No. 16 Tahun 2017, (2) Network-Activity-Human Model dan (3) 3V Framework/ Extended Node-Place Model. Hasil penelitian menujukkan bahwa karakteristik Kawasah Dukuh Atas masih terklasifikasi dalam kawasan TAD, alih-alih kawasan TOD. Hal ini ditunjukkan oleh tersedianya jaringan pejalan kaki, jaringan transportasi dan telah memiliki kawasan dengan 5 jenis campuran guna lahan, namun diantaranya belum memiliki keterkaitan. Karakteristik ini menggambarkan antara komponen “transit†dan “development†belum terintegrasi dan kawasan belum terkoneksi.
Ghefra Rizkan Gaffara
Published: 31 December 2021
Tata Kota Dan Daerah, Volume 13, pp 81-86; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2021.013.02.4

Abstract:
Ports are part of a complex urban setting as they provide important economic opportunities, such as access to global supply chains.(Economics, 2021). DivergenceFor an archipelago country that can exploit the maritime potential, Indonesia should be utilizing the potential of logistics transportation aspect, in this research context is Port. The distribution of ports in Indonesia is not evenly distributed if seen from Gross Regional Domestic Product (PDRB), in this case is Dumai City which has a port in the Indonesian archipelagic sea lane (ALKI) 1, although it is in strategic location, it is not reflected from Dumai city  PDRB that can be categorized as lagging compared to other Port cities in Indonesia. To optimize the utilization of existing ports and increase economic growth in Dumai City, PT. Pelindo 1 of Dumai territory plans to develop port capacity by building a special segment of container loading and unloading activities based on the increasingly cheap vessels of containers docked at Dumai Port. To increase the phenomenon that occurs, the research is intended to design the conceptual design of port development by using dynamic system. The aim to the research are how to know cost maintenance, operation-maintenance and revenue at Dumai Port and how to develop this area
Vionna Ariella Fauzia, Fakultas Teknik Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota, Eddi Basuki Kurniawan, I Nyoman Suluh Wijaya
Published: 31 December 2021
Tata Kota Dan Daerah, Volume 13, pp 87-98; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2021.013.02.5

Abstract:
Kota Yogyakarta merupakan kota pusaka yang memiliki enam kawasan cagar budaya. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta 186/KEP/2011 tentang Penetapan Cagar Budaya menetapkan kawasan cagar budaya yang salah satunya adalah Kawasan Cagar Budaya Kotabaru. Kawasan Cagar Budaya Kotabaru memiliki karakteristik kawasan yang menerapkan konsep garden city dengan langgam bangunan kolonial dan indis serta memiliki pola radial konsentris. Seiring dengan perkembangan zaman, Kawasan Cagar Budaya Kotabaru yang semula difungsikan untuk permukiman berubah menjadi zona perdagangan dan jasa serta zona perkantoran. Perubahan fungsi bangunan ini menyebabkan pengelola/pemilik bangunan memiliki peluang untuk merubah fasad bangunan hindia belanda yang disesuaikan dengan tren yang lebih modern. Lebih dari 40% bangunan hindia belanda di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru mengalami perubahan dan masih terus berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi bangunan hindia belanda dan mengetahui tingkat perubahan bangunan hindia belanda di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru. Data penelitian diperoleh dari observasi dan wawancara yang akan diolah menggunakan architectural micro analysis dan analisis tingkat perubahan bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perubahan elemen bangunan memiliki rata-rata tingkat perubahan yang kecil dan bahkan tidak ada perubahan.
Satria Arif Santosa, Fakultas Teknik Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota, Dian Dinanti, Nindya Sari
Published: 31 December 2021
Tata Kota Dan Daerah, Volume 13, pp 73-80; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2021.013.02.3

Abstract:
Desa Wisata Adat Ngadas merupakan salah satu desa wisata berlokasi di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Keanekaragaman bentang alam dan tempat bermukimnya suku Tengger yang memegang teguh adat dan tradisi yang menjadikan daya tarik wisata Desa Ngadas. Seiring berjalanannya waktu wisatawan berkunjung semakin meningkat, hal ini memberikan pengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat setempat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kualitas hidup berdasarkan persepsi masyarakat dan identifikasi faktor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas hidup. Metode analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif dan analisis faktor konfimatori (CFA). Berdasarkan hasil analisis statistik desripitf dapat diketahui kualitas hidup masyarakat bernilai 3,63 dengan kategori sedang serta faktor yang mempengaruhi kualitas hidup masyarakat adalah material well-being dan health and safety well-being.
Adhania Nurhana, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota, Abdul Wahid Hasyim,
Published: 31 December 2021
Tata Kota Dan Daerah, Volume 13, pp 47-58; https://doi.org/10.21776/ub.takoda.2021.013.02.1

Abstract:
Intensitas mobilitas dari suburban menuju pusat kota terus meningkat setiap tahunnya. Pergerakan yang terjadi bervariasi menggunakan berbagai moda, baik pribadi maupun umum. Namun, pergerakan dengan kendaraan pribadi memperburuk kemacetan, sedangkan fasilitas kendaraan umum masih memiliki banyak permasalahan, salah satunya overcapacity, ketidapastian waktu tunggu, dan belum adanya integrasi antar moda. Pemerintah menyelenggarakan kereta api ringan (Light Rail Transit/LRT) sebagai solusi permasalahan transportasi tersebut dengan mengadakan sistem transportasi massal dalam Kawasan Metropolitan Jabodebek dengan Stasiun LRT Harjamukti, Depok sebagai stasiun akhir dari segmen Cawang-Cibubur. Pembangunan Stasiun LRT Harjamukti, Depok menyebabkan peningkatan aksesibilitas wilayah di area sekitar pembangunan, sehingga terjadi peningkatan kebutuhan lahan di area sekitar proyek pembangunan. Namun, keterbatasan lahan yang tersedia menimbulkan terjadinya kelangkaan terhadap lahan di kawasan tersebut, sehingga terjadi peningkatan nilai ekonomi lahan yang kemudian terefleksi dalam pembentukan harga lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan harga lahan, menyusun peta pola distribusi spasial harga lahan permukiman, serta menyusun peta spasial dan model harga lahan permukiman di area sekitar proyek Stasiun LRT Harjamukti, Depok. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis karakteristik harga lahan, analisis regresi linear berganda, dan metode interpolasi cokriging. Dengan menggunakan data hasil kuesioner, observasi, wawancara, serta tinjauan terhadap data sekunder, penelitian ini memperoleh model harga lahan akhir berupa Y = 7.375.584,160 + 177.232,579X2.2 – 61.060,826X2.4 + 25.075,015X2.5 + 93.258,006X4.1 + 293.584,789X5.1. Berdasarkan analisis regresi linear berganda yang dilakukan, diperoleh subvariabel luas lahan, jenis dan kualitas permukaan jalan, waktu tempuh menuju pusat kota, lebar jalan, kualitas jaringan persampahan, dan status kepemilikan lahan sebagai subvariabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan harga lahan di area permukiman sekitar proyek pembangunan Stasiun LRT Harjamukti, Depok.
Back to Top Top