Journal Jurnal Kesehatan Melayu

-
43 articles
Page of 5
Articles per Page
by
Yolazenia Yolazenia, Bestari Jaka Budiman, Dolly Irfandy
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 106-113; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.106-113

Abstract:Banyak dilaporkan kegagalan pengobatan pada rinosinusitis kronis (RSK) disebabkan resistensi terhadap antibiotik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa biofilm bakteri berperan penting pada etiologi dan persistensi dari RSK. Penulisan tinjauan pustaka ini adalah untuk mengetahui implikasi biofilm bakteri pada penderita RSK. Rinosinusitis kronis adalah penyakit inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung dalam waktu lebih dari 12 minggu. Biofilm adalah suatu struktur komunitas sel-sel bakteri yang ditutupi oleh matriks polimer yang dihasilkan sendiri dan menempel pada permukaan. Berbagai penelitian menunjukkan terdapatnya biofilm bakteri pada mukosa sinonasal penderita RSK dan berhubungan dengan resistensi terhadap pengobatan dengan antibiotika. Berbagai pemeriksaan untuk mendeteksi biofilm yaitu Scanning Electron Microscopy (SEM), Transmission Electron Microscopy (TEM), Confocal Scanning Laser Microscopy (CSLM), modifikasi Calgary Biofilm Device Assay, Tube Method dan Congo Red Agar Method. Beberapa terapi potensial untuk mengatasi biofilm pada RSK sedang berkembang.
Dedi Afandi
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 99-105; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.99-105

Abstract:Persetujuan Tindakan Kedokteran (PTK) atau informed consent merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh dokter sebelum melakukan tindakan medis. Pelaksanaan PTK yang kurang adekuat atau tidak sesuai dengan prosedur dapat menimbulkan komplain dan atau klaim baik dari pasien maupun keluarga serta dapat menimbulkan masalah hukum bagi dokter. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk membahas aspek medikolegal dan tata laksana dalam proses melakukan PTK bagi dokter baik di rumah sakit maupun di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Sejarah, filosofi, definisi, dasar hukum, tujuan, aspek medikolegal dan tata laksana PTK dibahas dan didiskusikan untuk meningkatkan pemahaman proses PTK yang benar. Dengan memahami aspek medikolegal dan tata laksana PTK maka diharapkan akan meminimalisir dan menghindari tuntutan hukum dari pasien.
Dino Irawan
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 88-92; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.88-92

Abstract:Menggigil pasca anestesia merupakan mekanisme kompensasi tubuh yang dapat menimbulkan efek samping antara lain pasien merasa tidak nyaman bahkan nyeri hingga dapat meningkatkan kebutuhan oksigen karena adanya peningkatan aktifitas otot. Menggigil pasca anestesi pada pasien yang menjalani seksio sesarea yang dilaporkan berkisar antara 37-57%. Kejadian tersebut dapat diatasi dengan beberapa cara salah satunya dengan pendekatan farmakologis. Klonidin merupakan parsial agonis α2adrenergik yang secara ekstensif dievaluasi sebagai adjuvan anestesi spinal dan memiliki efek anti menggigil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kejadian menggigil, karakteristik menggigil, dan perubahan tanda vital pasien seksio sesarea pasca anestesi spinal yang diberikan klonidin 30 mcg intratekal. Penelitian ini bersifat deskriptif. Observasi dilakukan di ruang pemulihan RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan jumlah sampel sebanyak 30 pasien. Hasil penelitian menunjukkan 5 dari 30 pasien (16,7%) mengalami kejadian menggigil. Berdasarkan derajat menggigil, 25 pasien (83,3%) derajat 0, dan 5 pasien derajat 1 (16,7%). Pada penelitian ini perubahan suhu tubuh, tekanan darah, dan denyut nadi hanya terjadi sedikit perubahan.
Bayu Fajar Pratama
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 114-117; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.114-117

Abstract:Infeksi akibat Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi kongenital yang terbanyak dan menyebabkan morbiditas yang cukup tinggi pada bayi baru lahir. Infeksi CMV tersebar luas di seluruh dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Infeksi CMV menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan organ-organ pada janin. CMV juga merupakan penyebab terbanyak dari gangguan pendengaran, gangguan perkembangan saraf, dan retardasi mental pada anak. Transmisi CMV dapat terjadi secara horizontal (dari satu orang ke orang yang lain) maupun vertikal (dari ibu ke janin). CMV ditransmisikan secara horizontal terjadi melalui cairan tubuh dan membutuhkan kontak yang dekat dengan cairan tubuh yang telah terkontaminasi CMV. Transmisi CMV terjadi secara vertikal melalui cara in utero, intrapartum, dan postnatal. Sebagian besar anak yang lahir dengan infeksi CMV kongenital tidak menunjukkan gejala (asimptomatik) saat lahir. Anak yang menunjukkan gejala infeksi CMV kongenital saat lahir hanya berkisar antara 7-10%. Gold standard diagnosis infeksi CMV kongenital adalah isolasi atau kultur virus pada anak dalam usia tiga minggu pertama. Tatalaksana anak dengan infeksi CMV kongenital meliputi tatalaksana suportif dan pemberian antivirus. Evaluasi secara berkala dilakukan pada anak untuk mengetahui perkembangan dari perjalanan penyakit infeksi CMV.
Yulia Wardany, Nurul Humairah Arfiza, Arfianti Arfianti
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 81-87; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.81-87

Abstract:Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor internalnya adalah kesehatan mata. Anak yang mengalami kelainan refraksi berpotensi untuk mengganggu prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kelainan refraksi terhadap prestasi belajar siswa SD X Pekanbaru. Design penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling pada 555 murid. Pemeriksaan visus digunakan untuk mendeteksi kelainan refraksi sedangkan ranking di sekolah digunakan sebagai acuan prestasi belajar siswa. Prevalensi kelainan refraksi ditemukan pada 16%. Hasil uji statistik tidak memperlihatkan adanya perbedaan prestasi belajar pada anak dengan atau tanpa kelainan refraksi. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan tidak adanya pengaruh kelainan refraksi terhadap prestasi belajar pada murid sekolah dasar.
Esy Maryanti, Suri Dwi Lesmana, Melia Novira
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 73-80; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.73-80

Abstract:Pedikulosis kapitis dikategorikan sebagai penyakit yang terabaikan dan masih menjadi masalah kesehatan. Infestasi Pediculus humanus capitis dengan mudah ditularkan melalui hubungan langsung antar individu atau benda pribadi yang digunakan bersama. Pedikulosis kapitis memiliki berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya infestasi Pediculus humanus capitis. Penyakit ini menyerang semua usia terutama usia muda dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat seperti asrama dan panti asuhan. Gejala klinis yang khas berupa gatal disertai adanya bekas garukan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan infestasi Pediculus humanus capitis pada anak panti asuhan di kota Pekanbaru. Anak panti asuhan yang diperiksa berjumlah 127 orang dari 3 panti asuhan di Pekanbaru. Hasil pemeriksaan didapatkan infestasi Pediculus humanus capitis pada perempuan lebih tinggi (87,1%), infestasi berdasarkan kelompok usia lebih banyak terjadi pada usia 6-12 tahun (65,9%), infestasi Pediculus humanus capitis menurut karakteristik rambut tertinggi pada keriting (81,8%). Anak yang memiliki panjang rambut sebahu adalah 91,3%. Kebiasaan anak yang selalu memakai alat rambut dan tidur bersama memiliki infestasi Pediculus humanus capitis sebesar 57,5% dan infestasi Pediculus humanus capitis untuk anak yang mencuci rambut 3 kali seminggu adalah 58,3%. Jenis kelamin dan karakteristik rambut memiliki hubungan yang signifikan mempengaruhi kejadian pedikulosis kapitis dengan nilai p
Olivia Makmur, Yuni Eka Anggraini, Dimas Pramita Nugraha
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 51-59; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.51-59

Abstract:Erupsi obat alergi merupakan bentuk reaksi simpang obat tipe B yang terjadi di kulit yang disebabkan oleh penggunaan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pasien erupsi obat alergi di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau pada periode 1 Januari 2011-31 Desember 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Sampel yang digunakan sebanyak 351 sampel yang telah sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pasien erupsi obat alergi paling banyak ditemukan pada perempuan (58,97%) dibandingkan dengan laki-laki. Kelompok usia 41-60 tahun (30,20%) merupakan kelompok usia pasien erupsi obat alergi terbanyak. Penyakit endokrin (10,54%) merupakan penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini dan riwayat alergi makanan ditemukan pada 4 kasus (1,14%). Bentuk erupsi yang paling sering ditemukan adalah eritroderma (23,93%). Obat penyebab erupsi obat alergi yang paling banyak ditemukan adalah antibiotik (21,65%).
Donaliazarti Donaliazarti
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 130-135; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.130-135

Abstract:Hemoglobin SD adalah suatu keadaan heterozigot HbS dan HbD yang merupakan bentuk penyakit sel sabit yang jarang. Pasien dengan Hb SD menunjukkan manifestasi klinis yang bervariasi. High performance liquid chromatography (HPLC) merupakan metode rujukan untuk membantu menegakkan diagnosis kelainan Hb saat ini. Anak laki-laki berusia 7 tahun mengeluh nyeri pada kedua tungkai sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit dan sudah muncul berulang sejak 4 tahun yang lalu. Keluhan disertai demam dan tampak pucat. Riwayat keluar cacing dari BAB usia 2 tahun. Pemeriksaan fisik menunjukkan hipertermia, konjungtiva anemis, limfadenopati dan hepatomegali. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan anemia normositik normokrom dengan retikulositosis dan leukositosis dengan eosinofilia. Hasil pemeriksaan HPLC menunjukkan adanya S-window, D-window, dan peningkatan HbF. Nyeri pada kedua tungkai merupakan gambaran terjadinya proses vasooklusif akut yang dicetuskan oleh keadaan demam dan infeksi. Sumber infeksi pada pasien ini belum diketahui pasti namun diperkirakan adalah infestasi cacing yang didiagnosis banding dengan sindrom hipereosinofilik. Manifestasi klinis lainnya dihubungkan dengan anemia hemolitik yang dapat terjadi intravaskular maupun ekstravaskular.
Sukamto Sukamto
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 118-124; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.118-124

Abstract:Infark Miokard Akut (IMA) disebabkan oleh oklusi total pembuluh darah koroner oleh trombus yang memberikan gambaran elevasi segmen-ST pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG). Diagnosis dan tindakan reperfusi segera dibutuhkan untuk menangani kasus IMA. Semakin cepat tindakan reperfusi memberikan hasil yang lebih baik pada pasien. Terdapat beberapa penyebab lain selain IMA yang dapat memberikan gambaran elevasi segmen-ST pada EKG. Sehingga menjadi tantangan buat setiap dokter terutama dokter instalasi gawat darurat (IGD) untuk memiliki kemampuan membedakan gambaran tersebut untuk menghindari pengobatan dan tindakan reperfusi yang tidak sesuai indikasi.
Elva Susanty
Jurnal Kesehatan Melayu, Volume 1, pp 125-129; doi:10.26891/jkm.v1i2.2018.125-129

Abstract:Infeksi parasit usus merupakan penyakit endemik yang menyebabkan masalah kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia. Diagnosa parasit usus memerlukan teknik pemeriksaan yang sensitif dan biaya murah. Teknik konsentrasi formol eter (formol eter concentration/FEC) merupakan salah satu teknik pemeriksaan dengan sampel feses untuk mendeteksi parasit usus dengan prinsip sedimentasi. Tehnik ini merupakan salah satu tehnik yang ekonomis, mudah dilakukan, dan meningkatkan jumlah penemuan parasit usus karena dapat memisahkan debris dari feses. Tujuan: Mengetahui teknik konsentrasi formol eter dalam mendiagnosa parasit usus. Tinjauan Pustaka: Prevalensi infeksi parasit usus masih cukup tinggi di negara berkembang akibat kurangnya sanitasi dan buruknya higiene, sehingga diperlukan suatu teknik pemeriksaan yang bisa mendeteksi kista protozoa, larva, dan telur cacing. Teknik FEC menggunakan formalin 10% dalam air sebagai penstabil dan eter sebagai pelarut. Teknik FEC tidak merusak organisme dalam sampel feses, dapat mengetahui parasit usus dengan sampel feses sedikit, dan ekonomis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa teknik FEC lebih baik daripada teknik direct wet mount dalam mendiagnosa parasit usus. Simpulan: Teknik FEC merupakan salah satu teknik pemeriksaan yang sensitif dan ekonomis dan dapat digunakan sebagai pilihan untuk mendiagnosa parasit usus.
Page of 5
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search