Journal LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR

-
10 articles
Page of 2
Articles per Page
by
Karto Wijaya, Asep Yudi Permana
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4, pp 79-88; doi:10.26418/lantang.v4i2.23247

Abstract:Kawasan Cigondewah pada awalnya merupakan kawasan agraris, dan kawasan ini mengalami perkembangan kearah sentra perdagangan kain dan industri tekstil sejak tahun 1960-1976 yang ditandai oleh usaha karung goni oleh masyarakat setempat. Kegiatan ekonomi berbasis home industri ini memberikan kontribusi pendapatan bagi khususnya penduduk setempat, karena tenaga kerja berasal dari sekitar kelurahan Cigondewah sendiri. Mulanya usaha karung goni ini dibeli dari pabrik gula yang kemudian dipasarkan hingga Kawarang dan Banten. Pada tahun 1976 mengalami kejenuhan, yang kemudian masyarakat setempat beralih dari usaha karung goni ke imbah industri (karung plastik dan kain bekas). Pada awal 1997 kawasan cigondewah mampu berperan sebagai sentra perdagangan kain. Sentra ini melayani pembeli-pembeli yang berasal dari Bandung dan sekitasrnya. Bahan baku dari tekstil berasal dari pabrik yang ada di wilayah tersebut, namun sebagian lagi berasal dari Jakarta melalui pelabuhan Tanjung Priok. Kawasan ini dalam RTRW Kota Bandung adalah kawasan industri berwawasan lingkungan. Perkembangan kawasan ini memberikan potensi yang luas terutama dalam pengembangannya sebagai sebuah kawasan yang memiliki produk unggulan/spesialisasi dalam cakupan rencana pengembangan pariwisata Kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, di mana melalui pendekatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai fakta dan fenomena yang terjadi dilapangan. Berdasarkan hasil analisis penelitian ditemukan potensi dan karakteristik kawasan yang mendukung dalam pengembangan Kawasan Cigondewah sebagai Kawasan Wisata Tesktil di Kota Bandung. Terkait dengan prasarana dan sarana lingkungan ditemukan permasalahan, antara lain: ketersediaan sarana parkir dan jalur pedestrian yang kurang memadai, kondisi kawasan yang belum tertata secara maksimal.Kata-kata Kunci: Lingkungan Terbangun, Perkembangan KawasanCIGONDEWAH AREA RELATED TO ENVIRONMENT BUILT INFRASTRUCTURE FACILITIES AS SENTRA CLOTH IN BANDUNG CITY The Cigondewah area was originally an agrarian area, and the region has been progressing towards the trading center of textile fabrics and industry since 1960-1976 which is marked by the burlap sack by the local community. This home industry-based economic activity contributes the income to the locals in particular, since the labor comes from around Cigondewah urban village itself. Initially, this sack business was purchased from a sugar factory which was then marketed to Kawarang and Banten. In 1976 experienced saturation, which then the local community shifted from the business of burlap sack to industrial waste (plastic bags and used cloth). In early 1997 the cigondewah area was able to serve as a fabric trading center. This center serves buyers who come from Bandung and sekitasrnya. Textile raw materials come from existing factories in the area, but some come from Jakarta through the port of Tanjung Priok. This area in RTRW Bandung...
Siti Belinda Amri, La Ode Abdul Syukur
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4, pp 136-143; doi:10.26418/lantang.v4i2.23252

Abstract:Bidang penelitian tentang aliran angin pada bangunan sangat penting baik untuk perencanaan bangunan maupun pemukiman. Aliran angin yang mempengaruhi bangunan memiliki dampak pada ketahanan struktural terhadap angin. Penelitian dilakukan untuk mengetahui nilai drag coefficient atau gaya hambat terhadap angin yang dihasilkan pada atap miring dengan nilai sudut yang berbeda. Metode yang digunakan adalah dengan menguji model atap melalui simulasi CFD (Computational Fluid Dynamic) pada software Autodesk Flow Design. Hasil uji lima atap miring dengan nilai 0o, 15o, 30o, 45o, dan 60o menujukkan bahwa semakin besar sudut atap maka semakin besar luas bidang atap yang bersentuhan dengan aliran angin datang, hal ini sejalan dengan nilai average drag coefficient yang dihasilkan. Atap dengan sudut 60o memiliki luas bidang atap dan nilai average drag coefficient yang tertinggi diantara kelima sudut atap yang diuji, dengan nilai luas 72 m2 menghasilkan nilai average drag coefficient sebesar 1,4. Bangunan dengan nilai drag coefficient yang tinggi memiliki resiko kerusakan struktur yang tinggi akibat angin karena memiliki bentuk yang kurang aerodinamis.Kata-kata Kunci: aliran angin, atap miring, Flow Design, drag coefficient.ANALYSIS OF WIND FLOW PATTERN ON SLOPED ROOF USING FLOW DESIGN SIMULATIONThe field of research on wind flow on buildings is important for both building planning and planning a residential areas. Wind flow affecting the building has an impact on structural resistance to the wind. The study was conducted to find out the value of drag coefficient or drag force against the wind generated on the sloped roof with different angle values. The method applied by tested the roof model through CFD (Computational Fluid Dynamic) simulation through Autodesk Flow Design software. The test results of five sloped roofs with angle 0o, 15o, 30o, 45o, and 60o showed that the higher the angle of the roof, the larger the area of the roof in contact with the approaching wind flow. This is in line with the average drag coefficient value generated. The roof with an angle of 60o has a large roof area and the highest average drag coefficient among the five tested roof angles, with an area of 72 m2 yields and average drag coefficient of 1.4. Buildings with high drag coefficient value have a high risk of structural damage due to wind because it has a less aerodynamic shape.Keywords: wind flow, sloped roof, Flow Design, drag coefficient REFERENCESAutodeks Help (2015), Get Started With Autodesk Flow Design, https://www.autodesk.com/products/flow-design/overview (diakses tanggal 5 November 2017)Bhandari NM, Krishna P. (2011) An Explanatory handbook on proposed IS- 875 (Part 3): Wind loads on buildings and structure. IITK-GSDMA Project on Building Codes.Boutet, T. (1987). Controlling Air Movement. New York: McGraw Hill.Chung, TJ., (2010), Computational Fluid Dynamic. Cambridge: Cambidge University Press.Driss, S., Driss, Z., & Kammoun, I. K. (2014). Impact of Shape of...
Yudi Purnomo, Agustiah Wulandari
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4, pp 95-113; doi:10.26418/lantang.v4i2.23249

Abstract:Fasilitas pelayanan publik merupakan salah satu fungsi bangunan gedung yang menjadi tujuan masyarakat dalam berbagai urusan administrasi maupun pemerintahan di sebuah kota maupun daerah. Proses administrasi, dengan jenis dan hierarki yang beragam, yang dilakukan sering kali menuntut masyarakat untuk melakukan perjalanan dari tempat tinggal menuju fasilitas pelayanan publik dan sebaliknya. Jenis layanan publik dan jarak jangkau perjalanan dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan sebaran dan alokasi fasilitas pelayanan publik dalam sebuah bagian wilayah kota.Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan pilihan (preferensi) masyarakat terhadap sebaran lokasi fasilitas pelayanan publik di Kota Pontianak, khususnya Kecamatan Pontianak Utara. Penelitian ini dilakukan dengan menjadikan jenis dan hierarki fasilitas pelayanan publik di Kota Pontianak, radius layanan, perilaku perjalanan, kepemilikan moda, dan lain-lain sebagai variabel penelitian. Selanjutnya artikel ini akan menggunakan pendekatan statistik deskriptif untuk memberikan gambaran pilihan masyarakat terhadap sebaran fasilitas pelayanan publik.Terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi pilihan masyarakat di Kecamatan Pontianak Utara terhadap sebaran fasilitas pelayanan publik, yaitu jarak tempuh dan kualitas layanan. Salah satu karakter perjalanan masyarakat di wilayah ini adalah perjalanan dengan jarak tempuh dalam rentang yang jauh tidak menjadi kendala untuk dilalui jika fasilitas yang akan dikunjungi adalah fasilitas rekreasi, perniagaan, dan peribadatan.Kata-kata Kunci: fasilitas pelayanan publik, jarak tempuh, statistik deskriptif, Kota Pontianak DISTRIBUTION OF PUBLIC SERVICE FACILITIES AND COMMUNITY OPTIONS IN NORTH PONTIANAK DISTRICT, PONTIANAK Public service facility is one of the places that the community goals in various purposes and administrative affairs in a city or region. The service processes, with diverse types and hierarchies, often require people to travel from residence to public service facilities and vice versa. The type of public service and travel distance can be one of the factors that determine the distribution and allocation of public service facilities in a part of the city area.This article aims to explain the society's choice to the distribution of public service facilities in Pontianak City, especially Pontianak Utara Subdistrict. This research is done by making the type and hierarchy of public service facility in Pontianak City, service radius, travel behavior, and so on as research variables. Furthermore, this article will use a descriptive statistical approach to provide an overview of society's choice of public service facilities.There are two main factors influencing the choice of people in Pontianak Utara Subdistrict to the distribution of public service facilities, ie mileage and service quality. One character of the community's journeys in the region is long distance travel is not an obstacle to go through if the facilities to be...
Irma Nurjannah
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4, pp 144-158; doi:10.26418/lantang.v4i2.23253

Abstract:Kawasan Kota Lama Kendari dahulunya adalah pusat kota, kawasan ini juga dikenal sebagai kota pelabuhan yang merupakan salah satu identitas kawasan tersebut. Akibat mengalami penurunan kualitas lingkungan,yakni menurunnya estetika kawasan, bangunan historis yang mulai hilang, tata ruang yang tidak memenuhi syarat, aktifitas ekonomi masyarakat yang mulai berkurang, sertatidak adanya taman kota, sehingga kota ini dianggap sebagai kota mati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa konsep penataan kawasan Kota Lama Kendari sehingga dapat menghidupkan serta mempertahankan identitas dan citra kotanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan positivistik dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif melalui kegiatan survey literatur, observasi, wawancara, dan materi visual yang kemudian dilakukan kajian dan analisa sesuai dengan permasalahan berdasarkan teori penataan kawasansehingga dapat diketahui konsep penataan kawasan yang cocok untuk diterapkan. Penelitian ini menghasilkan: penataan kawasan(bangunan &lingkungan);peningkatan kualitas kawasan (penguatan karakter dan identitas kawasan) yang membentuk image;peningkatan vitalitas ekonomi kawasan; pengintegrasian komponen kawasan; danpenataan komponen perancangan secara terpadu.Kata-kata Kunci: Penataan Kawasan, Identitas Kota, Citra Kota. STUDY OF KENDARI’S OLD TOWN AREA ARRANGEMENT CONCEPT BASED ON THE IDENTITY AND IMAGE OF THE CITYThe Kendari’s Old Town was once the center of the city andhas been properly acknowledged as the port city, the eminent identity of the region. Due to the environmental degradation i.e. the ghastly decaying of aesthetics, lost of historical building, unqualified spatial, decreasing of economic activity of society, and the absence of city’s park, the area has been deemed as dead city. This study aims to analyze the concept of the Kendari’s Old Town area arrangement in reviving and maintaining the identity and image of the city. This research applied positivistic approach with descriptive qualitative type through literature study activity, observation, interview, and visual material followed by study and analysis in accordance with the problems based on the theory of the area arrangement, hence it might result on the suitable concept toward area arrangement that meets the requirements. Research findings are as follows: Area arrangement (buildings& environment), improvement of area’s quality (strengthening of character and identity of the area) that forms image, improvement of economic vitality, integration of component area; and the design of components in integrated manner.Keywords: Area Arrangement, City’s Identity, City’s Image REFERENCESAmar. (2009). Identitas Kota, Fenomena dan Permasalahannya. Jurnal “ ruang “ VOLUME 1 Nomor 1 September 2009. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tadulako.Budiharjo, E. (1982). Sejumlah Masalah Permukiman Kota. Bandung: Alumni Bandung.Nurjannah, Irma., Santi., (2011). Studi Morfologi Kota Kendari Sebagai...
Emilya Kalsum, Yudi Purnomo, Tri Wibowo Caesariadi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4, pp 114-124; doi:10.26418/lantang.v4i2.23250

Abstract:Hujan merupakan salah satu sumber air bersih yang sangat potensial di wilayah tropis basah. Kelurahan Sungai Bangkong Kota Pontianak merupakan wilayah yang memiliki curah hujan dalam kategori menengah-tinggi. Di wilayah ini, hujan memiliki potensi sebagai sumber air bersih dan juga sekaligus sebagai penyebab genangan. Wilayah ini juga merupakan kawasan permukiman dengan kepadatan yang tinggi yang membutuhkan cukup besar suplai air. Penelitian ini mencoba memberikan gambaran tentang pemanfaatan air bersih di wilayah permukiman perkotaan.Penelitian ini menggunakan pendekatan statistika deskriptif. Beberapa variabel yang akan dijelaskan adalah sumber air, penampungan air, sistem aliran, tinggi, durasi dan penyebab genangan. Penelitian memberikan gambaran tentang perlunya peningkatan penampungan dan pemanfaatan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan permukiman. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah air hujan tetap menjadi sumber air bersih warga, namun pemanfaatannya relatif lebih rendah dibandingkan penggunaan air yang berasal dari PDAM dan air tanah.Kata-kata Kunci: Air hujan, permukiman, perkotaan, Kota Pontianak IDENTIFICATION OF USE OF CLEAN WATER IN URBAN SETTLEMENT AREA (A CASE STUDY OF KELURAHAN SUNGAI BANGKONG KOTA PONTIANAK)Rain is one of the potential clean water sources in the wet tropics area. Kelurahan Sungai Bangkong, Kota Pontianak, is an area that has rainfall in the middle-high category. In this region, rain has the potential as a source of clean water and also as a cause of runoff. It is also a high density settlement area that requires a substantial supply of water. This research tries to describe the utilization of clean water in urban settlement area.This research uses descriptive statistical approach. Some of the variables to be explained are water source, water reservoir, flow system, height, duration and cause of runoff. The study provides an overview of the need to increase rainwater storage and utilization to meet clean water needs in residential areas. The results obtained in this study is that rainwater remains the main source of clean water for residents, but its utilization is relatively lower than the use of water coming from PDAM and other sources.Keywords: precipitation, rainwater, urban settlement, Kota PontianaREFERENCESBPS Kota Pontianak. (2017). Kota Pontianak dalam Angka 2017. Pontianak: Badan Pusat Statistik Kota Pontianak.Lippsmeier, G. (1997). Bangunan Tropis. Jakarta: Penerbit Erlangga.Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.Noerbambang, S. M., & Morimura, T. (2000). Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.Purnomo, Y., & Wulandari, A. (2015). Infiltrasi sebagai Pendekatan Pengendalian Intensitas Pemanfaatan Ruang di Kota Pontianak. Prosiding Seminar Nasional Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2015 (hal. 259-272). Pontianak: Universitas Tanjungpura.Purnomo, Y., & Wulandari, A. (2017). Presipitasi dalam...
Muhammad Ridha Alhamdani, Hamdil Khaliesh
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4, pp 125-135; doi:10.26418/lantang.v4i2.23251

Abstract:Permasalahan yang ada pada pasar-pasar tradisional termasuk yang terjadi pada pasar Kemuning dan Dahlia Kota Pontianak dapat menggambarkan kualitas performansi bangunan. Pencahayaan, sirkulasi udara, dan temperatur dalam ruang pada bangunan merupakan aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kenyamanan aktivitas pengguna. Tulisan ini memaparkan mengenai hasil penelitian khususnya mengenai tingkat pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang pada dua pasar tradisional di Kota Pontianak tersebut. Performansi kedua pasar tersebut diukur untuk dibandingkan dengan standar untuk aktivitas yang sesuai. Selain itu dikumpulkan pula pendapat dari para pengguna tentang kepuasan terhadap aspek pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang di kedua pasar tersebut. Data-data yang dikumpulkan melalui 2 cara yaitu observasi dan kuesioner. Observasi dilakukan dengan pengukuran pada bangunan. Kuesioner disebarkan kepada 195 responden khususnya penjual dan pembeli pasar untuk melihat tingkat kepuasan berdasarkan persepsi pengguna. Hasil analisis diperoleh bahwa tingkat performansi pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang pada kedua bangunan pasar tersebut termasuk rendah, begitu pula kepuasan pengguna terhadap kedua aspek tersebutKata-kata Kunci: pasar tradisional, performasi bangunan, pencahayaan, penghawaan. THE PERFORMANCE OF LIGHTING, VENTILATION, AND USER PERCEPTION ON MARKET BUILDING IN PONTIANAK CITY Problems that exist on traditional markets including those that occur in the Kemuning and Dahlia market, Pontianak City can represent the quality of building performance. Lighting, ventilating and air temperature in buildings are aspects that can affect the comfort of occupants. This paper describes the results of research especially regarding the level of lighting, ventilating and air temperature in two traditional markets at Pontianak City. The performance of both markets is compared to the standard for the appropriate activity. The user satisfaction is also identified. The data collected through 2 ways that are observation and questionnaire. Observations were made with measurements of buildings. Questionnaires were distributed among 195 respondents, especially sellers and market buyers to see the level of satisfaction based on user perceptions. The analysis indicates performance levels of both market buildings are low, as are user satisfaction with those aspects.Keywords: traditional market, building performance, lighting, ventilating, temperatureREFERENCESKaryono, Tri Harso. (2001). Penelitian Kenyamanan Termis di Jakarta sebagai Acuan Suhu Nyaman Manusia Indonesia. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 29, No. 1. Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra. SurabayaKeputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/Menkes/Sk/Xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan IndustriKeputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 519/Menkes/SK/VI/2008...
Maria Ariadne Dewi Wulansari, Dimas Wihardyanto
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4, pp 89-94; doi:10.26418/lantang.v4i2.23248

Abstract:Salah satu target utama dalam rekonstruksi paska bencana ialah tersedianya hunian bagi korban bencana yang kehilangan tempat tinggalnya. Dalam pengadaan hunian paska bencana terdapat berbagai macam strategi rekonstruksi. Pada penelitian ini dibahas mengenai kemungkinan menggunakan penilaian kualitas hunian sebagai alat untuk melakukan evaluasi terhadap strategi rekonstruksi. Metode penilaian kualitas hunian baik secara faktual maupun perseptual dipaparkan sebagai pengantar, kemudian disajikan perbandingan dari beberapa penelitian terdahulu mengenai kualitas hunian paska bencana. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa penilaian kualitas hunian paska bencana merupakan cara yang efektif untuk melakukan evaluasi terhadap strategi rekonstruksi. Penilaian kualitas hunian paska bencana itu sendiri dapat menggunakan pendekatan faktual, perseptional, maupun perpaduan keduanya, sesuai dengan obyek pengamatan yang dipilih.Kata-kata Kunci: kualitas hunian, paska bencana, analisis faktual, analisis perseptual SCORING METHOD OF THE QUALITY OF POST DISASTER HOUSING AS RECONSTRUCTION STRATEGY’S EVALUATION : FACTUAL AND PERCEPTUAL ANALYSIS APPROACHOne of post disaster recontruction’s main targets is providing proper housing for the victims who lost their homes. In post-disaster housing procurement there are various reconstruction strategies. This research discusses about ability to rate the quality of housing in evaluating the reconstruction strategy. Scoring method of the quality of housing, factually or perceptually, both are explained as preface. And then comparation of previous study about the quality of post disaster housing is discussed. From this research it learned that scoring of the quality of post disaster housing is an effective way to evaluate the reconstruction strategy. The scoring method of the quality of post disaster housing itself, can be seen from different approaches, the factual analysis approach, the perceptual analysis approach, or both, depends on the chosen study object.Keywords: quality of housing, post disaster, factual analysis, perceptual analysisREFERENCESAl-Hussaini, T. M., Seraj, S. M., Islam, M. K., Safiullah, A. M. M., Choudhury, J. R. (1999). A Methodology For Selection Of Post Disaster Shelter. H&H Dhaka99Batchelor, Victoria. (2011). Tarpaulins, transitional shelter or permanent houses : how does the shelter assistance provide affect the recovery of communities after disaster? Dissertation on Oxford Brookes UniversityCollins, Sam. Corsellis, Tom. Vitale, Antonella. (2010).Transitional Shelter: Understanding Shelter from The Emergency Through Reconstruction and Beyond. ALNAP. Diakses melalui www.sheltercenter.orgDola, K. and Parva, M. (2012). Transformation Of Earthquake Disaster Victims’ Shelter Into Sustainable Home: The Case Of Lar City, Iran. ALAM CIPTA, International Journal of Sustainable Tropical Design Research and Practice. Universiti Putra Malaysia. Volume 5 (2) December 2012Kamel, Nabil M. O. and Loukaitou-Sideris, Anastasia (2003). Residential Assistance and Recovery Following the Northridge Earthquake. Urban Studies, Vol. 41, No. 3, 533–562, March 2004.Kwanda, T., Rahardjo, J., Wardhani, M.K. (2001). Analisis Kepuasan Penghuni Perumahan Sederhana di Denpasar Berdasarkan Faktor Lokasi, Prasarana, Sarana, Kualitas Bangunan, Desain dan Harga. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 29, No. 2, Desember 2001: 117 – 125.Leon, E., Kelman, I., Kennedy, J., and Ashmore,J. (2009). Capacity Building Lessons From A Decade Of Transitional Settlement And Shelter. International Journal Of Strategic Property Management (2009) 13, 247–265Önder, D. E., Köseoğlu, E., Bġlen, Ö. (2010). The Effect Of User Participation In Satisfaction: Beyciler After-Earthquake Houses In Düzce. Itu A|ZPamungkas, H.B.E, Harianto, F. (2012). Analisis Kualitas Perumahan Mutiara Regency Sidoarjo. Jurnal IPTEK Vol 16 No.1 Mei 2012Ratnayake R.M.G.D., Rameezdeen, Raufdeen. (2008).Post Disaster Housing Reconstruction: Comparative Study Of Donor Driven Vs. Owner Driven Approach. International Conference on Building Education and Research (BEAR)Rini, Johanita Anggia. (2012). Evaluasi Penerapan Prinsip Tahan Gempa pada Renovasi atau Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa 2006 di Yogyakarta. Tesis Magister, Institut Teknologi Bandung.Saleh, Sakhrul Dachlan. (2010). Kajian Kualitas Bangunan Rumah Pondokan Terhadap Kenyamanan Huni Berdasarkan Persepsi Penghuni di Permukiman Sekitar Kampus Universitas Hasanuddin. Masters Thesis, Universitas Diponegoro.Samaddar, S., Okada, N. (2006). Participatory Approach for Post-Earthquake Reconstruction in the Villages of Kachchh, India. Annuals of Disas. Prev. Res. Inst., Kyoto Univ., No. 49 B, 2006
Maria Ariadne Dewi Wulansari, Dimas Wihardyanto
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 4, pp 89-94; doi:10.26418/lantang.v4i2.23272

Abstract:Salah satu target utama dalam rekonstruksi paska bencana ialah tersedianya hunian bagi korban bencana yang kehilangan tempat tinggalnya. Dalam pengadaan hunian paska bencana terdapat berbagai macam strategi rekonstruksi. Pada penelitian ini dibahas mengenai kemungkinan menggunakan penilaian kualitas hunian sebagai alat untuk melakukan evaluasi terhadap strategi rekonstruksi. Metode penilaian kualitas hunian baik secara faktual maupun perseptual dipaparkan sebagai pengantar, kemudian disajikan perbandingan dari beberapa penelitian terdahulu mengenai kualitas hunian paska bencana. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa penilaian kualitas hunian paska bencana merupakan cara yang efektif untuk melakukan evaluasi terhadap strategi rekonstruksi. Penilaian kualitas hunian paska bencana itu sendiri dapat menggunakan pendekatan faktual, perseptional, maupun perpaduan keduanya, sesuai dengan obyek pengamatan yang dipilih.Kata-kata Kunci: kualitas hunian, paska bencana, analisis faktual, analisis perseptual SCORING METHOD OF THE QUALITY OF POST DISASTER HOUSING AS RECONSTRUCTION STRATEGY’S EVALUATION : FACTUAL AND PERCEPTUAL ANALYSIS APPROACHOne of post disaster recontruction’s main targets is providing proper housing for the victims who lost their homes. In post-disaster housing procurement there are various reconstruction strategies. This research discusses about ability to rate the quality of housing in evaluating the reconstruction strategy. Scoring method of the quality of housing, factually or perceptually, both are explained as preface. And then comparation of previous study about the quality of post disaster housing is discussed. From this research it learned that scoring of the quality of post disaster housing is an effective way to evaluate the reconstruction strategy. The scoring method of the quality of post disaster housing itself, can be seen from different approaches, the factual analysis approach, the perceptual analysis approach, or both, depends on the chosen study object.Keywords: quality of housing, post disaster, factual analysis, perceptual analysisREFERENCESAl-Hussaini, T. M., Seraj, S. M., Islam, M. K., Safiullah, A. M. M., Choudhury, J. R. (1999). A Methodology For Selection Of Post Disaster Shelter. H&H Dhaka99Batchelor, Victoria. (2011). Tarpaulins, transitional shelter or permanent houses : how does the shelter assistance provide affect the recovery of communities after disaster? Dissertation on Oxford Brookes UniversityCollins, Sam. Corsellis, Tom. Vitale, Antonella. (2010).Transitional Shelter: Understanding Shelter from The Emergency Through Reconstruction and Beyond. ALNAP. Diakses melalui www.sheltercenter.orgDola, K. and Parva, M. (2012). Transformation Of Earthquake Disaster Victims’ Shelter Into Sustainable Home: The Case Of Lar City, Iran. ALAM CIPTA, International Journal of Sustainable Tropical Design Research and Practice. Universiti Putra Malaysia. Volume 5 (2) December 2012Kamel, Nabil M. O. and...
Etsa Purnama Sari, Emilya Kalsum
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 1; doi:10.26418/lantang.v1i1.18812

Abstract:Wilayah Indonesia yang terdiri dari pulau dan perairan menjadikan angkutan laut menjadi salah satu sarana transportasi yang cukup efektif di negara ini. Daya angkut yang besar dan beragam serta biaya yang lebih murah dengan jarak jangkauan yang luas, membuat sarana ini banyak diminati oleh masyarakat sekaligus juga merupakan pendukung utama perkembangan kehidupan sosial budaya dan roda perekonomian. Untuk mendukung proses transportasi laut ini perlu sarana berupa pelabuhan. Pelabuhan dalam melakukan pelayanan terhadap kapal memiliki beberapa fasilitas pokok dan penunjang yang wajib dimiliki. Salah satunya adalah terminal penumpang kapal laut dengan berbagai kegiatan di dalamnya untuk kedatangan maupun keberangkatan. Masalah ketidaknyamanan dalam berkegiatan, jauhnya akses sirkulasi antara satu kegiatan dengan kegiatan kegiatan embarkasi dan debarkasi yang tidak teratur, pembagian jalur sirkulasi penumpang dan pengantar penumpang yang tidak jelas seringkali muncul akibat sirkulasi yang tidak direncanakan dengan baik pada terminal penumpang kapal laut. Bahkan tidak jarang dapat menimbulkan adanya calo tiket hingga adanya penumpang tanpa tiket yang dapat masuk ke dalam kapal hingga kapal berlayar. Perencanaan sebuah sirkulasi yang tepat pada terminal penumpang kapal laut memerlukan kajian terhadap unsur-unsur sirkulasi seperti pencapaian, pola sirkulasi, jalur sirkulasi, serta bentuk ruang sirkulasi. Kajian unsur-unsur ini selanjutnya diselidiki melalui penelusuran masalah dengan analisis deskriptif melalui penggambaran objek penelitian yang terdapat pada Terminal Penumpang Pelabuhan International Yokohama, Terminal Penumpang Pelabuhan Kobe dan Terminal Penumpang Pelabuhan Osanbashi Hall As one of the largest archipelago country, sea transportation acts as one of the most effective means of transportation in Indonesia. Large and diverse carrying capacity, lower cost with wide range of distances, are factors which making sea transportation demand is quite high in public as well as a major proponent of development of social, cultural, and economy. Thus, to support this means of transportation, facility in form of port is needed. A port must have some basic and support facilities, which includes ship passenger terminal to accommodate arrival of departure of passengers. Problems which usually occur in ship passenger terminal caused by poor planning of circulation are: discomfort in activities, long distance of circulations which connect one activity to another, disorganized embarkation and disembarkation, and confusing distribution of passengers and passenger’s comperes’ pathways. From those conditions, sometimes it gives opportunity for ticket brokers and passengers without tickets who could board ships without proper requirements. A proper planning of circulation requires analysis of elements of circulation which includes entrance, circulation pattern, circulation path, and form of circulation space. Furthermore, such elements were studied through problem seeking, then descriptively analyze through research’s object depiction from Yokohama International Passenger Terminal, Kobe Port Terminal, and Osanbashi Hall Passenger TerminalREFERENCES__. 1996. Peraturan Pemerintah RI No. 70 Tahun 1996 tentang Kepelabuhan, Departemen Perhubungan RIAlucci, Marcia Peinando; Leonardo Marques Monteiro. 2009. Thermal Comfort Index for The Assessment of Outdoor Urban Spaces in Subtropical Climates. University of Sao Paulo. Sao PauloAndiani, Dita. 2011. Terminal Feri Domestik Sekupang – Batam (Arsitektur Simbolis). Laporan Perancangan Tugas Akhir Departemen Arsitektur, Universitas Sumatera Utara. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/ handle/123456789/26972Ching, Francis D. K. 2000. Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan; edisi kedua. Erlangga. JakartaCyril, Haris 1975. Dictionary of Architecture And Construction. McGraw-Hill Professional. New York.Haronjeff, Robert. 1993. Perencanaan dan Perancangan Bandar Udara. Erlangga. JakartaMorlok, Edward K. 1991. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Erlangga. JakartaTriatmodjo, Bambang. 2008. Pelabuhan. Beta Offset. Yogyakartawww.kobe-meriken.or.jp. Akses: 2013www.osanbashi.com. Akses: 2013www.investor.co.id. Akses: 2013
Heri Azwansyah, Ferry Juniardi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 1; doi:10.26418/lantang.v1i1.18808

Abstract:Infrastruktur yang memadai dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui aksesibilitas infrastruktur dasar bagi masyarakat pedesaan di Desa Sungai Paduan dan Desa Mas Bangun Kecamatan Telok Batang. Studi ini membutuhkan data-data aksesibilitas dan kondisi infrastruktur dasar yang diperoleh dari instansi terkait, observasi lapangan dan interview. Studi ini menggunakan metode Integrated Rural Accessibility Planning (IRAP). Tingkat aksesibilitas menggunakan beberapa indikator aksesibilitas tiap infastruktur. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada Desa Sungai Paduan prioritas pertama, kedua dan ketiga berturut-turut sektor pertanian/perkebunan, sektor sumber air bersih, dan sektor industri/perdagangan dengan nilai aksesibilitas sebesar 9,90, 9,00, dan 7,59. Pada Desa Mas Bangun, prioritas pertama, kedua dan ketiga untuk mendapat penanganan infrastruktur adalah sektor pertanian/perkebunan, sektor sumber air bersih, dan sektor Kesehatan dengan nilai aksesibilitas sebesar 10,80, 9,00, dan 7,62. Untuk meningkatkan aksesibilitas inftasratruktur tersebut dapat dilakukan dengan perbaikan fasilitas dan penyedian sarana transportasi, sementara saat ini jalan desa yang ada masih baik. A decent infrastructure is able to support economic activities. This study aims to find out the basic infrastructure accessibility for rural communities in Sungai Paduan village and Mas Bangun village, Telok Batang district. This study requires the data of access and basic infrastructure conditions, obtained from the relevant agencies/departments, field observation, and inteview. This study use Integrated Rural Accessibility Planning (IRAP) method. A level of accessibility uses some indicators of accessibility in each of infrastructures. The study concluded that the priorities in Sungai Paduan village serially are: agriculture/plantation as the first priority, followed by water resource sector and the industrial/trade sector, with accessibility values ranging from 9.90, 9.00, and 7.59. While in Mas Bangun village, as the first, second and the third priority to get infrastructure treatment are agriculture/plantation, water resources sector, and the health sector with the accessibility values ranging from 10.80, 9.00, and 7.62. To improve the accessibility of infrastructure can be done through facility repairing and the provision of means of transportation. Currently, the existing roads in both villages are in the good conditionREFERENCESAzwansyah, H. 2010. Perencanaan Infrastruktur di Desa Tanjung Satai dan Desa Satai Lestari Kecamatan Pulau Maya Karimata. Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura vol 10 Nomor 2. Desember 2010. Fakultas Teknik Untan. Pontianak.BPS Kabupaten Kayong Utara. 2012. Kalimantan Barat Dalam Angka, BPS Kabupaten Kayong Utara. Sukadana.Parikesit, D., Pratama, D.A., Ekawati, N., 2003. Modul Pelatihan Perencanaan Infrastruktur Perdesaan, Kerjasama Universitas Gajah Mada dengan Kementrian Koordonator Bidang Ekonomi dan International Labour Organization. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta.Dennis, Ron. 1998. Rural Transport and Accessibility. Development Policies Departement, ILO office Geneva.Donnges, Chris. 1999. Rural Access and Employment, The Laos Experience. Development Policies Departement, ILO office Geneva.Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). 2012. Mewujudkan Pembangunan Ekonomi Bagi Kesejahteraan Rakyat. KPPOD Brief Edisi September – Oktober 2012. KPPOD. Jakarta
Page of 2
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search