Journal Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences

-
30 articles
Page of 4
Articles per Page
by
Dedi Purnomo, Fnu Damanhuri, Wahyu Winarno
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 73-85; doi:10.25047/agriprima.v2i1.72

Abstract:Pengembangan budidaya kentang perlu dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi nasional, salah satu langkahnya yaitu dengan mengembangkan kentang di dataran medium 300 sampai 700 m dpl. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi budidaya kentang pada dataran medium melalui pengaplikasian pupuk kieserite (Mg) dan naungan. Pelaksanaan penelitian di mulai dari bulan Agustus 2016 sampai dengan bulan Desember 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu pupuk kieserite terdiri dari lima taraf : 0 kg/ha, 50 kg/ha, 100 kg/ha, 150 kg/ha, dan 200 kg/ha. Faktor kedua yaitu naungan dengan kerapatan 60% dan tanpa naungan. Hasil analisis data menunjukkan penggunaan naungan dengan kerapatan 60% berpengaruh sangat nyata pada tinggi tanaman umur 14 HST, 28 HST, dan 42 HST, luas daun 42 HST, serta berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah umbi persampel, berat umbi persampel dan tidak berpengaruh nyata pada jumlah cabang tanaman. Perlakuan pupuk kieserite (Mg) memberikan pengaruh nyata pada jumlah cabang tanaman umur 42 HST, tetapi tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman umur 14 HST, 28 HST, dan 42 HST, luas daun 42 HST, jumlah umbi persampel, berat umbi persampel. Interaksi antara naungan dan pupuk kieserite (Mg) tidak memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman, luas daun, jumlah cabang, jumlah umbi, dan berat umbi, hal ini diduga karena kurang sesuainya dosis dan intensitas pemberian pupuk kieserite (Mg) yang di aplikasikan.
Febby Mardhiana, Sigit Soeparjono, Tri Handoyo
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 1-9; doi:10.25047/agriprima.v2i1.81

Abstract:Cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman penting di Indonesia. Dalam 100 gram cabai segar mengandung sekitar 0,1-1,5% capsaicin yang merupakan tingkat kualitas cabai. Salah satu faktor yang mempengaruhi kadar capsaicin adalah kondisi stres salinitas. Kami mengamati efek salinitas dan waktu aplikasi pada hasil dan kandungan capsaisin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon tanaman cabai dengan penambahan konsentrasi dan waktu aplikasi NaCl terhadap cabai dan kualitas. Penambahan konsentrasi NaCl sampai 9000 ppm dan waktu penerapan fase vegetatif NaCl dapat meningkatkan variabel kualitas kadar capsaicin dibandingkan dengan perlakuan kontrol.
Ika Nur Farida, Nurul Sjamsijah, Dwi Rahmawati
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 30-39; doi:10.25047/agriprima.v2i1.57

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon seleksi hasil persilangan tanaman F6 karakter umur pendek dan potensi hasil tinggi pada beberapa genotipe hasil persilangan dengan menggunakan seleksi pedigree dan mengetahui nilai kemajuan genetik dari genotipe hasil persilangan tanaman F6. Penelitian dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Jember pada bulan September 2016 hingga Januari 2017. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan 11 genotipe tanaman yang terdiri dari empat tetua Dering, Rajabasa, Polije 2, Polije 3 dan tujuh genotipe hasil persilangan RD, P2D, P2R, P2P3, P3D, P3R, P3P2 serta varietas Malabar sebagai varietas pembanding. Parameter terdiri dari umur berbunga, umur panen, bobot 100 biji, hasil per tanaman, hasil per plot dan potensi hasil per Ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 11 genotipe hasil seleksi tanaman kedelai memberikan pengaruh sangat nyata pada karakter umur berbunga dan karakter bobot 100 biji. Nilai kemajuan genetik karakter umur panen (2,229%) termasuk kategori rendah. Nilai kemajuan genetik karakter umur berbunga (7,231%), bobot 100 biji (8,993%), hasil per tanaman (7,772%), hasil per plot (7,772%) dan potensi hasil per Ha (7,772%) termasuk kategori sedang.
Fnu Suyamto
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 40-47; doi:10.25047/agriprima.v2i1.70

Abstract:Kekeringan merupakan faktor pembatas yang menyebabkan penurunan produktivitas hingga 55%. Salah satu penyebab rendahnya produksi kedelai di Indonesia adalah penanaman kedelai dilakukan di lahan yang ketersediaan airnya terbatas. Seleksi yang digunakan untuk mendapatkan varietas kedelai yang tahan terhadap kekeringan serta memiliki produksi yang tinggi yaitu dengan karakterisasi hasil biji dan indeks toleransi cekaman (ITC). Sebanyak 30 galur kedelai dievaluasi di dua lingkungan tumbuh yaitu diberi perlakuan pengairan optimal dengan 6 kali pengairan setiap 15 hari sekali dan pengairan 3 kali setiap 15 hari sekali (cekaman kekeringan). Penelitian lapang menggunakan rancangan petak terpisah diulang dua kali, dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm dengan dua tanaman per-rumpun. Tiap galur ditanam 4 baris dengan panjang baris 4,5 m. Tanaman di pupuk dengan pupuk dasar sebanyak 50 kg Urea, 100 kg SP.36 dan 75 kg KCl per hektar yang diberikan pada saat tanam. Penelitian dilaksanakan di KP. Genteng dan KP. Muneng pada bulan Juli 2015. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang nyata antar lokasi (Genteng dan Muneng), dimana hasil kedelai di Genteng lebih baik dari pada di Muneng. Demikian juga dengan lingkungan tumbuh menunjukkan perbedaan yang nyata dimana cekaman kekeringan selama fase pengisian polong/biji pada kedelai dapat menurunkan hasil sebesar 26% dibanding dengan hasil yang mendapat pengairan optimal. Tidak ada pengaruh interaksi antara lokasi dan perlakuan pengairan terhadap hasil. Terdapat 6 galur yang memiliki potensi hasil dan nilai indeks toleransi cekaman lebih besar dari pada varietas Wilis yaitu KP/2805-1, DV/2984-2, DV/2984-3, KP/3072-2, MLG-2805 dan varietas Tidar dengan potensi hasil berturut-turut 1.097, 1.074, 1.137, 1.107, 1.176 dan 1.111 t/ha sedangkan varietas Wilis 1.053 t/ha. Tiga diantaranya yaitu KP/2805-1, DV/2984-3 dan KP/3072-2 memiliki ukuran biji lebih besar dan umur berbunga lebih panjang dibanding Wilis, Tidar dan MLG-2805.
Fnu Kasutjianingati, Okta Sintya, Niniek Wihartiningseh, Fnu Prayitno
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 10-19; doi:10.25047/agriprima.v2i1.77

Abstract:Proses produksi benih kentang (Solanum tuberosum L.) pada umumnya dihasilkan didataran tinggi (1.500 - 3.000 m dpl), akan tetapi tidak menutup kemungkinan di produksi di dataran yang lebih rendah dengan bantuan teknologi tertentu selama proses budidayanya. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan metode produksi benih kentang di dataran menengah (650 m dpl) melalui pemanfaatan asal bahan tanam dan melihat interaksinya terhadap komposisi media tanam. Percobaan menggunakan RAK faktorial terdiri dari perlakuan 2 jenis asal bahan tanam (stek mini/S1 dan umbi mikro/S2) dan 3 jenis komposisi media tanam dengan perbandingan sama, komposisi A (arang sekam: cocopeat: tanah); komposisi B (arang sekam: cocopeat: tanah: kascing) dan komposisi C (arang sekam: cocopeat: tanah: pupuk kandang ayam). Percobaan diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup tanaman kentang Granola Kembang cukup baik (79,16% hidup). Asal bahan tanam umbi mikro mempunyai kemampuan bertahan hidup lebih besar (87.50%), dibandingkan asal bahan tanam stek mini (70,8%). Factor interaksi antara asal bahan tanam dengan macam komposisi media tidak menunjukkan beda nyata. Beda nyata hanya terjadi pada factor tunggal, dimana pada parameter pertumbuhan (jumlah anakan, tinggi) asal bahan tanam umbi mikro lebih baik dibandingkan bahan stek mini. Pengaruh komposisi media terhadap parameter pertumbuhan tertinggi diperoleh pada komposisi C (arang sekam: cocopeat: tanah: pupuk kandang ayam), disusul komposisi B dan komposisi A terendah. Produksi umbi G2 jumlah umbi dan berat umbi per sampel serta produksi umbi total tertinggi di peroleh pada komposisi media C, disusul komposisi media B dan hasil terendah diperoleh pada komposisi media A. Hasil produksi umbi terbaik diperoleh dari bahan tanam asal umbi mikro dibandingkan dengan stek mini.
Arif Rahman Hakim, Liliek Dwi Soelaksini, Muqwin Asyim Ra
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 48-58; doi:10.25047/agriprima.v2i1.78

Abstract:Pemupukan merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya tanaman. Tanaman ubi jalar diketahui sangat respon terhadap pemupukan. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan penelitian Politeknik Negeri Jember pada bulan April sampai Agustus 2017. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dosis pupuk P dan K serta interaksinya terhadap laju pertumbuhan dan produksi tanaman ubi jalar varietas Antin 3. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama dosis pupuk TSP (P) terdiri dari 3 taraf yaitu : P1 (78 kg/ha), P2 (117 kg/ha) dan P3 (157 kg/ha). Faktor kedua dosis pupuk KCL (K) terdiri dari 3 taraf yaitu : K1 (150 kg/ha), K2 (300 kg/ha) dan K3 (450 kg/ha). Data hasil penelitian dianalisis secara statistik menurut uji F dan uji lanjut DMRT. Faktor tunggal dosis P dan K serta interaksinya memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap parameter jumlah cabang. Faktor tunggal dosis P memberikan pengaruh nyata terhadap parameter laju pertumbuhan tanaman, jumlah umbi per tanaman, panjang umbi per tanaman dan bobot umbi total per tanaman. Perlakuan terbaik yaitu P3 dengan dosis TSP 157 kg/ha. Faktor tunggal dosis K memberikan pengaruh nyata terhadap parameter laju pertumbuhan, jumlah umbi per tanaman dan bobot umbi total per tanaman. Perlakuan terbaik yaitu K3 dengan dosis 450kg/ha. Interaksi dosis P dan K memberikan pengaruh nyata terhadap parameter bobot umbi total per bedeng. Perlakuan P3K3 yaitu dosis TSP 157 kg/ha + KCl 450 kg/ ha memberikan hasil tertinggi yaitu 7,2 kg/ bedeng
Saktiyono Sigit Tri Pamungkas
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 66-72; doi:10.25047/agriprima.v2i1.76

Abstract:Jamur Tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur yang dimanfaatkan untuk bahan makanan karena kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan dengan jamur lain. Upaya untuk meningkatkan produksi jamur ini masih terus dilakukan, misalnya dengan penggunaan campuran media tanam dan aplikasi pupuk organik cair. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis campuran media tanam, pemberian pupuk cair serta interaksi keduanya guna pertumbuhan jamur tiram putih. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Rumah Jamur Agrojamur Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu jenis campuran media tanam dan dosis pupuk organik cair. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah saat muncul tubuh buah, jumlah tubuh buah jamur keseluruhan, kadar air jamur, berat segar dan kering jamur saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan komposisi media tanam menggunakan serbuk gergaji tanpa potongan kardus mampu meningkatkan berat segar jamur, berat kering jamur, dan jumlah tubuh buah jamur. Perlakuan menggunakan campuran media tanam (25% serbuk gergaji + 75% kardus) mampu meningkatkan waktu munculnya tubuh buah jamur dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Aplikasi pupuk organik cair dan interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata bagi pertumbuhan jambur tiram putih.
Efrin Firmansyah, Fnu Dadang, Ruly Anwar
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 59-65; doi:10.25047/agriprima.v2i1.82

Abstract:Plutella xylostella merupakan salah satu hamaoligofag yang menyerang tanaman family Brassicaceae. Pemakaian insektisda sintetik merupakan suatu metode pengendalian yang banyak dilakukan oleh petani. Penggunaan insektisida sintetik dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif tersebut adalah memanfaatkan bahan alami sebagai insektisida nabati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas dari ekstrak T. diversifolia terhadap larva P. xylostella. T. diversifolia yang digunakan yaitu daun dan bunga yang diekstrak dengan metanol dan etil asetat secara terpisah. Metode aplikasi yang digunakan yaitu metode residu pada daun, data mortalitas dianalisis dengan menggunakan analisis probit untuk memperoleh nilai LC50dan LC95. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak metanol bunga T. diversifolia lebih toksik dibandingkan perlakuan lainnya dengan nilai LC50dan LC95berturut-turut 0,067 dan 0,826.
Any Kusumastuti, Fnu Fatahillah, Andi Wijaya, Yan Sukmawan
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 20-29; doi:10.25047/agriprima.v2i1.84

Abstract:Degradasi lahan akibat pengolahan tanah intensif secara terus menerus dapat menurunkan produksi pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh sistem olah tanah, pengaruh berbagai dosis pupuk N pada sifat kimia tanah, dan pengaruh antara sistem olah tanah dan residu N pada sifat kimia tanah tahun ke-29 dengan tanaman indikator leguminosa. Penelitian dilakukan di Politeknik Negeri Lampung mulai dari Mei 2016 sampai dengan November 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor. Faktor pertama adalah berbagai sistem olah tanah yang terdiri atas olah tanah intensif (OTI), olah tanah minimum (OTM), dan tanpa olah tanah (TOT). Faktor kedua adalah residu pupuk N (Urea) yang diberikan pada tanaman sebelumnya, yang terdiri atas 3 taraf, yaitu 0kg N/ha (N0), 100 kg N/ha (N1), dan 200 kg N/ha (N2). Perlakuan diulang empat kali. Peubah yang diamati yaitu pH, C-organik, Nitrogen total, P tersedia (H2O), kalium tersedia, dan bobot tajuk. Data di analisis dengan analisis ragam diikuti dengan uji BNT pada taraf α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara sistem olah tanah dengan residu pupuk N. Tanpa olah tanah menghasilkan P tersedia tertinggi (10,713). Residu nitrogen dengan taraf dosis 200 kg N/ha menghasilkan pH terendah (5,980).
Miftah Farid As’Ad, Mochamad Syarief, Fnu Kaidi
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 2, pp 86-94; doi:10.25047/agriprima.v2i1.80

Abstract:Walang sangit merupakan hama utama tanaman padi. Penanggulangan hama ini sering dilakukan dengan Penggunaan insektisida sintetik secara intensif yang berpotensi memacu resistensi, sehingga deteksi resistensi secara dini perlu dilakukan agar status resistensi hama dapat diketahui lebih awal yang bermanfaat dalam menyusun strategi pengendalian hama resisten. Penelitian ini dilakukan di Desa Antirogo, Jember yang menggunakan insektisida sintetik berbahan aktif Fipronil dan di Desa Lombok Kulon, Bondowoso yang menggunakan musuh alami Beauveria bassiana. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari status resistensi walang sangit terhadap Fipronil, kepekaannya terhadap B. bassiana, perkembangan populasi dan intensitas serangan. Data populasi dan intensitas serangan ditampilkan dalam bentuk box-plot. Nisbah resistensi dianalisis dengan Regresi probit. Perbedaan populasi dan intensitas serangan kedua lokasi menggunakan uji Mann-Whitney. Hubungan antara populasi dan intensitas serangan menggunakan korelasi Spearman. Hasil penelitian adalah walang sangit Antirogo telah resisten terhadap insektisida berbahan aktif Fipronil. dengan Nisbah Resistensi 9,33. Walang sangit Antirogo peka terhadap B. bassiana dengan Nisbah Resistensi 0,28. Intensitas serangan walang sangit Antirogo pada 9 MST dan 10 MST adalah 9,38 ± 15,53 % dan 5,83 ± 11,06%. Intensitas serangan walang sangit Lombok Kulon pada 9 MST dan 10 MST adalah 2,36 ± 5,85% dan 1,50 ± 5,37%. Populasi walang sangit Antirogo pada 9 dan 10 MST adalah 0,57 ± 0,94 dan 0,37 ± 0,66. Populasi walang sangit Lombok Kulon pada 9 dan 10 MST adalah 0,39 ± 0,53 dan 0,20 ± 0,40
Page of 4
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search