Journal Jurnal Ilmu Dakwah

-
53 articles
Page of 6
Articles per Page
by
Purnama Rozak, Hafiedh Hasan, Sugarno Sugarno, Srifariyati Srifariyati, Afsya Septa Nugraha
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36i1.1624

Abstract:The success of the development of a nation is determined by the Human Development Index (HDI). International scale parameter indicates the level of development of human resources emphasizes on three areas: education, health, and income per capita. The various dimensions of community development was a collective responsibility to make it happen. One way to do is through the proselytizing activities of community empowerment. This is as done in the village of Pemalang district, Danasari that has HDI levels is low compared than other villages. Community development in this village was done by taking three primary focus , they are the field of economics, health, and education and religion.***Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh Human Develop-ment Indeks (HDI). Parameter berskala internsional ini menunjukkan tingkat pengembangan sumber daya manusia yang menitiberatkan pada tiga bidang yaitu pendidikan, kesehatan, dan pendapatan perkapita. Pengembangan masyarakat yang berbagai dimensi tadi merupakan tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan dakwah pemberdayaan masyarakat. Hal ini sebagaimana dilakukan di Desa Danasari Kabupaten Pemalang yang memiliki tingkat HDI yang rendah dibandingkan desa lainnya. Pemberdayaan masyarakat di desa ini dilakukan dengan mengambil tiga fokus utama yaitu bidang ekonomi, bidang kesehatan, dan pendidikan dan keagamaan. Potensi yang ada perlu diberdayakan secara bersama dengan tujuan pencapaian perbaikan kehidupan masyarakat desa Danasari.
Syihabuddin Najih
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36i1.1629

Abstract:Kajian dalam jurnal ini mencoba membedah maksud lafadz mau’idzah hasanah dalam Al-Qur’an yang bertujuan untuk mengetahui implementasinya dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling Islam. Penelitian yang penulis pakai adalah menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan metode tafsir maudu’iy (metode tematik). Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan lafadz mau’idzah dalam Al-Qur’an. Pemahaman dari lafaldz mau’idzah menyimpulkan bahwa kesemuaan ayat tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda meliputi empat hal : pelajaran, peringatan, nasehat dan larangan. Mau’idzah hasanah dipahami sebagai salah satu teknik yang disampaikan dengan bentuk nasehat, sehingga implementasi dari mau’idzah hasanah merupakan wujud dari kegiatan dakwah secara langsung. Mau’idzah hasanah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling Islam memberikan kontribusi yang besar dalam upaya perbaikan diri dan kesadaran beragama bagi individu, dengan adanya penerapan tersebut diharapkan bisa menjadi pijakan dalam bimbingan dan konseling Islam agar pelaksanaannya dapat berlangsung baik dan dapat menghasilkan perubahan-perubahan dengan cara penyampaian yang berakhlakul karimah berdasarkan pedoman Al-Qur’an dan As-Sunnah.***The study in the journal is trying to dissect the intent of lafadz mau'idzah hasanah in Qur'an. It has aim to determine the implementation of guidance and counseling in the implementation of Islam. This reseachused qualitative in descriptive method of maudu'iyinterpretation (thematic method). This research was conducted by collecting verses relating to mau'idzahword in the Qur'an. Result of this research conclude that understanding of mau'idzah word concluded that the totality of the verse has a different function consists of four things: a lesson, a warning, advice and restrictions. Mau'idzahhasanah understood as one of the techniques presented in the form of advice, so that the implementation of mau'idzahhasanah is a form of proselytizing activities directly. Mau'idzah hasanah in the implementation of guidance and counseling Islam made a great contribution in improving ourselves and religious awareness for individuals.
Purnama Rozak, Hafiedh Hasan, Sugarno Sugarno, Srifariyati Srifariyati, Afsya Septa Nugraha
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36.1.1624

Abstract:The success of the development of a nation is determined by the Human Development Index (HDI). International scale parameter indicates the level of development of human resources emphasizes on three areas: education, health, and income per capita. The various dimensions of community development was a collective responsibility to make it happen. One way to do is through the proselytizing activities of community empowerment. This is as done in the village of Pemalang district, Danasari that has HDI levels is low compared than other villages. Community development in this village was done by taking three primary focus , they are the field of economics, health, and education and religion.***Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh Human Develop-ment Indeks (HDI). Parameter berskala internsional ini menunjukkan tingkat pengembangan sumber daya manusia yang menitiberatkan pada tiga bidang yaitu pendidikan, kesehatan, dan pendapatan perkapita. Pengembangan masyarakat yang berbagai dimensi tadi merupakan tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan dakwah pemberdayaan masyarakat. Hal ini sebagaimana dilakukan di Desa Danasari Kabupaten Pemalang yang memiliki tingkat HDI yang rendah dibandingkan desa lainnya. Pemberdayaan masyarakat di desa ini dilakukan dengan mengambil tiga fokus utama yaitu bidang ekonomi, bidang kesehatan, dan pendidikan dan keagamaan. Potensi yang ada perlu diberdayakan secara bersama dengan tujuan pencapaian perbaikan kehidupan masyarakat desa Danasari.
Zalussy Debby Styana, Yuli Nurkhasanah, Ema Hidayanti
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36.1.1625

Abstract:This study is a qualitative reseachthat aims to describe how the spiritual guidance of Islam in cultivating spiritual adaptive response for stroke patients in hospitals Islam CempakaPutih Jakarta. This research is qualitative research. Source of research data is binroh officers as well as all stroke patients with mild stroke were treated qualification and post-stroke patients who are undergoing physiotherapy in Jakarta, CempakaPutih RSI. Methods of data collection using interviews, observation, and documentation. The first results showed that stroke patients had a spiritual response adaptive, second, implementation of Islamic spiritual guidance in cultivating spiritual response is adaptive stroke patients with stroke patients to visit. Efforts are being made binroh officers to cultivate spiritual adaptive response is to encourage motivation, suggestion, support and education of worship during illness, such as providing guidance procedures for prayer, ablution, tayammum and exercising. Not only officer binroh who provide spiritual touch but all stakeholders in the hospital as nurses, physiotherapists, doctors, etc. also participated giving spiritual touch, the facilities and the best service both medical and non-medical patients, so that patients become optimistic about the pain and able to achieve adaptive spiritual response.***Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendiskripsikan bagaimana bimbingan rohani Islam dalam menumbuhkan respon spiritual adaptif bagi pasien stroke di rumah sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian adalah petugas binroh serta seluruh pasien stroke dengan kualifikasi stroke ringan yang dirawat dan pasien pasca stroke yang sedang menjalani fisioterapi di RSI Jakarta Cempaka Putih. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, meliputi data reduction, data display, conclusion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama pasien stroke memiliki respon spiritual adaptif, kedua, Pelaksanaan bimbingan rohani Islam dalam menumbuhkan respon spiritual adaptif pasien stroke adalah dengan visit ke pasien stroke. Upaya yang dilakukan petugas binroh untuk menumbuhkan respon spiritual adaptif adalah dengan memberikan semangat motivasi, sugesti, support dan edukasi ibadah selama sakit, seperti memberikan tuntunan tatacara sholat, wudhu, tayammum beserta prakteknya. Tidak hanya petugas binroh saja yang memberikan sentuhan rohani tetapi seluruh stakeholder yang ada dirumah sakit seperti perawat, fisioterapis, dokter dll juga ikut serta memberikan sentuhan rohani, fasilitas dan pelayanan terbaik medis maupun non medis kepada pasien, sehingga pasien menjadi optimis terhadap sakitnya dan mampu mencapai respon spiritual adaptif.
Hidayatul Khasanah, Yuli Nurkhasanah, Agus Riyadi
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36.1.1623

Abstract:This research aimed to describe the characteristics of hyperactive children and analyze methods of Islamic guidance and counseling in instilling discipline of Duha prayer in hyperactive children in MI Nurul Islam Ngaliyan Semarang. This research is qualitative research. The data source is a teacher as well as a hyperactive child. Methods of data collection using interviews, observation, and documentation. The results showed that hyperactive children have discipline problems in implementing the Duha prayer in congregation. Islamic guidance and counseling methods used to embed discipline of Duha prayer for hyperactive children consisting of four methods: the method of habituation, role model, motivation and supervision.***Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendiskripsikan karakteristik anak hiperaktif dan menganalisis metode bimbingan dan konseling Islam dalam menanamkan kedisiplinan shalat dhuha pada anak hiperaktif di MI Nurul Islam Ngaliyan Semarang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah guru serta anak hiperaktif. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama anak hiperaktif memiliki problem kedisiplinan dalam melaksanakan shalat dhuha berjamaah. Kedua, metode bimbingan dan konseling Islam yang digunakan untuk menanamkan kedisiplian shalat dhuha bagi anak hiperaktif terdiri dari empat metode yaitu metode pembiasaan, metode tauladan, metode nasehat (motivasi), dan metode pengawasan ketika shalat dhuha berjamaah berlangsung.
Mei Fitriani
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36i1.1626

Abstract:Elderly is the stage of human development that has decreased both physical and psychological. Various causes of the decline in the elderly did not carry out a social function in the community maximally. The decline in these conditions also affects the elderly who turned psych spiritual problems with the theory that a person's spiritual will increase when entering elderly age. Islamic Guidance and Counseling is one way that can be given to treat variety problems of the elderly psych spiritual, such as loss of meaning in life, easy emotion, and alienation with their selves. Hall of social services of Kendal Cepiring is one of the center that provide guidance and counseling services for the elderly fostered Islam. The service is able to deliver the elderly to find meaning in life, be diligent in worship and control self-emotion.***Kondisi udzur sebagaimana digambarkan dalam Qur’an surat Ar-Rum ayat 54, menyebutkan tentang penurunan yang menggerogoti lanjut usia. Penurunan tersebut terdiri dari fisik dan psikis yang menyebabkan lansia tidak melaksanakan fungsi sosial didalam masyarakat secara maksimal. Penurunan kondisi pada lansia tersebut juga berpengaruh terhadap psikospiritual lansia yang berbalik dengan teori yang menyebutkan spiritual seseorang akan meningkat saat memasuki usia lanjut. Balai pelayanan merupakan tempat yang tepat bagi masyarakat dan lansia yang tidak mampu mengatasi masalah-masalah pada lansia terutama spirtitual. Adanya penyuluh agama Islam di balai pelayanan diharapkan mampu membimbing lansia secara maksimal yaitu sebagai motivator, stabilitator dan direktif. Hal itu dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan lansia di balai pelayanan yaitu bimbingan keagamaan.
Ilmi Hidayati
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36i1.1630

Abstract:Increased drug use is one of the troubling social problems for the population. The impact is felt by mad'u drug abuse whether physical, psychological, spiritual, and social. Mad'u victims of drug abuse is categorized as mad'u with special needs due to physical and psychological conditions experienced an effect on all aspects of life. For that need to develop the psychological strength to recover various impacts due to drug abuse, called the resilience. One way to strengthen the resilience is the da’wah way. Da’wah is a process to invite individuals or groups forming the teachings and Islamic civilization so that the realization of happiness in this world and hereafter. Da'wah serves to invite mad'u misguided and deviated from religious laws or out of nature, in order to return to the path of religion. Meanwhile, to strengthen the resilience of victims of drug abuse, there are several methods used the method of personal approach, method of bi al hal, and counseling methods.***Meningkatnya penyalahgunaan Napza merupakan salah satu problem sosial yang meresahkan bagi masyarakat. Dampak penyalahgunaan Napza dirasakan oleh mad’u baik secara fisik, psikologis, spiritual, maupun sosial. Mad’u korban penyalahgunaan Napza dikategorikan sebagai mad’u dengan kebutuhan khusus karena kondisi fisik dan psikologis yang dialami berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan yang dijalani. Untuk itu perlunya mengembangkan kekuatan psikologis dalam proses pemulihan berbagai dampak yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan Napza yang dinamakan dengan resiliensi. Salah satu cara untuk menguatkan resiliensi yaitu dengan jalan dakwah. Dakwah merupakan proses untuk mengajak individu atau kelompok membentuk ajaran dan peradaban Islam sehingga terwujudnya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dakwah berfungsi untuk mengajak mad’u yang sesat dan menyimpang dari syariat agama atau keluar dari fitrahnya, supaya kembali kepada jalan agama. Sementara untuk menguatkan resiliensi korban penyalahgunaan Napza, terdapat beberapa metode yang digunakan yaitu metode personal approach, metode bi al hal, dan metode konseling.
Ahmad Shofi Muhyiddin
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36.1.1628

Abstract:This study showed that the diversity of society in globalization era faced by dā’i required the effort to create the concept of relevant Islamic religious proselytizing with the diversity of its object. Therefore, the dā’i needs to know the characteristics and typology of the community being faced. Every dā’i should include the words of God (al-Qur'an) in accordance with his intellectual ability. Then the model of propaganda through a psychological approach becomes important to be applied in the globalization era. And to cope with pathological behavior as the negative impact of globalization, the dā’i in his preaching activities requires having solution for social problems faced by the majority of society in globalization era. These roles include: 1) the role of dā’i as substitute of parents. 2) The role of dā’i as a guide. 3) The role of dā’i as peer counselor.***Kajian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman masyarakat yang akan dihadapi oleh dā’i di era globalisasi menuntut adanya upaya untuk menciptakan konsep dakwah Islam yang relevan dengan keanekaragaman obyeknya. Untuk itu, bahasa aplikasi dakwah mestilah terletak pada kearifan para petugas dakwah dengan cara mengenal karakteristik dan tipologi masyarakat yang dihadapinya. Setiap dā’i wajib membahasakan sabda Tuhan (al-Qur’an) sesuai dengan kemampuan pikiran (daya nalar) mad’ū. Maka model dakwah melalui pendekatan psikologis menjadi penting untuk diterapkan di era globalisasi. Dan untuk menanggulangi perilaku patologis sebagai dampak negatif globalisasi, maka dā’i dalam kegiatan dakwahnya dituntut untuk mempunyai peran yang solutif-partisipatif dalam menyelesaikan problematika sosial yang dihadapi oleh mayoritas masyarakat era globalisasi. Peran-peran tersebut meliputi: 1) Peran dā’i sebagai pengganti orang tua asuh. 2) Peran dā’i sebagai pembimbing. 3) Peran dā’i sebagai konselor teman sebaya.
Zalussy Debby Styana, Yuli Nurkhasanah, Ema Hidayanti
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36i1.1625

Abstract:This study is a qualitative reseachthat aims to describe how the spiritual guidance of Islam in cultivating spiritual adaptive response for stroke patients in hospitals Islam CempakaPutih Jakarta. This research is qualitative research. Source of research data is binroh officers as well as all stroke patients with mild stroke were treated qualification and post-stroke patients who are undergoing physiotherapy in Jakarta, CempakaPutih RSI. Methods of data collection using interviews, observation, and documentation. The first results showed that stroke patients had a spiritual response adaptive, second, implementation of Islamic spiritual guidance in cultivating spiritual response is adaptive stroke patients with stroke patients to visit. Efforts are being made binroh officers to cultivate spiritual adaptive response is to encourage motivation, suggestion, support and education of worship during illness, such as providing guidance procedures for prayer, ablution, tayammum and exercising. Not only officer binroh who provide spiritual touch but all stakeholders in the hospital as nurses, physiotherapists, doctors, etc. also participated giving spiritual touch, the facilities and the best service both medical and non-medical patients, so that patients become optimistic about the pain and able to achieve adaptive spiritual response.***Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendiskripsikan bagaimana bimbingan rohani Islam dalam menumbuhkan respon spiritual adaptif bagi pasien stroke di rumah sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian adalah petugas binroh serta seluruh pasien stroke dengan kualifikasi stroke ringan yang dirawat dan pasien pasca stroke yang sedang menjalani fisioterapi di RSI Jakarta Cempaka Putih. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, meliputi data reduction, data display, conclusion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama pasien stroke memiliki respon spiritual adaptif, kedua, Pelaksanaan bimbingan rohani Islam dalam menumbuhkan respon spiritual adaptif pasien stroke adalah dengan visit ke pasien stroke. Upaya yang dilakukan petugas binroh untuk menumbuhkan respon spiritual adaptif adalah dengan memberikan semangat motivasi, sugesti, support dan edukasi ibadah selama sakit, seperti memberikan tuntunan tatacara sholat, wudhu, tayammum beserta prakteknya. Tidak hanya petugas binroh saja yang memberikan sentuhan rohani tetapi seluruh stakeholder yang ada dirumah sakit seperti perawat, fisioterapis, dokter dll juga ikut serta memberikan sentuhan rohani, fasilitas dan pelayanan terbaik medis maupun non medis kepada pasien, sehingga pasien menjadi optimis terhadap sakitnya dan mampu mencapai respon spiritual adaptif.
Syihabuddin Najih
Published: 24 August 2017
Jurnal Ilmu Dakwah, Volume 36; doi:10.21580/jid.v36.1.1629

Abstract:Kajian dalam jurnal ini mencoba membedah maksud lafadz mau’idzah hasanah dalam Al-Qur’an yang bertujuan untuk mengetahui implementasinya dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling Islam. Penelitian yang penulis pakai adalah menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan metode tafsir maudu’iy (metode tematik). Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan lafadz mau’idzah dalam Al-Qur’an. Pemahaman dari lafaldz mau’idzah menyimpulkan bahwa kesemuaan ayat tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda meliputi empat hal : pelajaran, peringatan, nasehat dan larangan. Mau’idzah hasanah dipahami sebagai salah satu teknik yang disampaikan dengan bentuk nasehat, sehingga implementasi dari mau’idzah hasanah merupakan wujud dari kegiatan dakwah secara langsung. Mau’idzah hasanah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling Islam memberikan kontribusi yang besar dalam upaya perbaikan diri dan kesadaran beragama bagi individu, dengan adanya penerapan tersebut diharapkan bisa menjadi pijakan dalam bimbingan dan konseling Islam agar pelaksanaannya dapat berlangsung baik dan dapat menghasilkan perubahan-perubahan dengan cara penyampaian yang berakhlakul karimah berdasarkan pedoman Al-Qur’an dan As-Sunnah.***The study in the journal is trying to dissect the intent of lafadz mau'idzah hasanah in Qur'an. It has aim to determine the implementation of guidance and counseling in the implementation of Islam. This reseachused qualitative in descriptive method of maudu'iyinterpretation (thematic method). This research was conducted by collecting verses relating to mau'idzahword in the Qur'an. Result of this research conclude that understanding of mau'idzah word concluded that the totality of the verse has a different function consists of four things: a lesson, a warning, advice and restrictions. Mau'idzahhasanah understood as one of the techniques presented in the form of advice, so that the implementation of mau'idzahhasanah is a form of proselytizing activities directly. Mau'idzah hasanah in the implementation of guidance and counseling Islam made a great contribution in improving ourselves and religious awareness for individuals.
Page of 6
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search