Journal Buletin Plasma Nutfah

-
182 articles
Page of 19
Articles per Page
by
Mamik Setyowati, Nfn Minantyorini
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 119-126; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p119-126

Abstract:Perakitan varietas unggul talas ditentukan oleh ketersediaan plasma nutfah sebagai sumber gen yang akan digunakan dalam program pemuliaan tanaman talas. Koleksi plasma nutfah talas yang telah ada perlu dimanfaatkan. Untuk memanfaatkan plasma nutfah perlu diketahui karakteristik adaptabilitas yang dimiliki oleh plasma nutfah. Plasma nutfah tanaman talas sebanyak 149 aksesi telah ditanam di Kebun Percobaan Pacet, Jawa Barat pada tahun 2008-2013. Analisis data bobot umbi dilakukan untuk mengetahui tingkat adaptabilitas bobot umbi terhadap indek lingkungan melalui analisis regresi. Hasil evaluasi bobot umbi plasma nutfah talas pada lingkungan yang memiliki variasi relatif kecil umumnya tidak mengalami perubahan hasil. Aksesi yang memiliki adaptabilitas negatif terhadap perubahan kesuburan lahan, semakin subur lingkungan semakin rendah bobot umbinya adalah varietas Ungu/Ketan dan varietas Kimpul. Aksesi talas yang memiliki respon negatif dapat dikembangkan atau bahan pemuliann talas untuk lahan kurang subur. Aksesi yang memiliki adaptabilitas positif, semakin subur lahan semakin tinggi bobot umbinya terdapat 12 aksesi. Dua aksesi yang mengindikasikan lebih peka terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan aksesi yang lain adalah varietas Karangasem dan varietas Talas Sutera.
Marfuah Wardani, Adi Susilo
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 81-92; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p81-92

Abstract:Shorea balangeran Burck termasuk jenis pohon komersial terancam punah di habitat alaminya. Dalam rangka mendukung upaya konservasi, telah dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui kondisi tempat tumbuh, keanekaragamn morfologi dan hubungannya kandungan senyawa fitokimia pada pepagan, ranting, dan daun. Penelitian dilakukan di kawasan hutan Pulau Bangka Belitung. Lokasi penelitian dilaksanakan di Hutan Konservasi (HK) Air Limau, Bangka pada bulan Juni 2014. Penelitian di Pulau Belitung dilaksanakan di Hutan Lindung Pantai (HLP) Senusur Sembulu dan Hutan Lindung Gunung (HLG) Bantan pada bulan Oktober 2014. Metode yang dilakukan dengan membuat sepuluh plot pengamatan berbentuk lingkaran dengan radius 7,32 m pada setiap lokasi, dan S. balangeran sebagai titik tengahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa S. balangeran tumbuh mengelompok dan mendominasi di ketiga lokasi penelitian. Jenis ini tumbuh pada daerah dataran rendah lahan kering hingga lahan basah, pada ketinggian 5 – 55 m dari permukaan laut. Hasil analisis fitokimia pepagan, daun, ranting S. balangeran secara umum mengandung senyawa alkaloid, saponin, tannin, fenolik, flavonoid, triterfenoid dan glikosida. Pepagan, ranting dan daun individu S. balangeran berdiameter batang 20 cm asal sampel HK Air Limau memiliki senyawa fitokimia lebih lengkap, yaitu terdapat steroid. Ukuran diameter batang dan tempat tumbuh S. balangeran dapat sebagai parameter untuk menduga potensi kandungan senyawa fitokimia pada pepagan, ranting, serta daun.
Evert Y. Hosang, Yermias Bombo, Tony Basuki
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 93-100; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p93-100

Abstract:Plasmanutfah padi gogo lokal NTT sudah pernah dikoleksi dan dievaluasi sebanyak 97 aksesi oleh tim peneliti Balai Besar Biogen Bogor pada tahun 1997 yang berhasil mengkoleksi 97 aksesi dari 19 kabupaten di NTT dan dilanjutkan dengan kegiatan koleksi dan karakterisasi oleh Pengkajian Teknologi (BPTP) NTT yang telah mengkoleksi 61 aksesi tanaman padi gogo lokal NTT dari 11 kabupaten di NTT. Kabupaten Sumba Barat Daya adalah salah satu wilayah yang memiliki aksesi padi gogo yang terbanyak yaitu sebanyak 20 aksesi karena itu telah dilakukan karakteristik 20 aksesi dari Kabupaten Sumba Barat Daya dengan menggunakan descriptor Standard Evaliation Sysrem (SES) IRRI 1996. Dari hasil karakterisasi ini disimpulkan bahwa terdapat variasi karakteristik agronomi dan fenotip yang sangat besar antar aksesi padi gogo lokal tersebut dan Karakter yang paling menunjukkan keragaman antar aksesi adalah bentuk permukaan daun, sudut daun bendera, warna pelepah daun, warna gabah, warna kulit arid an peoduktivitas padi. Berdasarkan kemiripan karakteristik yang dievaluasi, terdapat empat kelompok padi local Sumba Barat Daya. Karena itu menejemen pengelolaan plasmanutfah padi local di NTT maupun di tingkat nasional perlu dirancang dan dilaksanakan dengan bijaksana sehingga keragaman padi gogo local yang ada dapat dipertahankan sebagai kekayaan untuk keperluan pembentukan varietas unggul di masa depan.
Nfn Suhartina, Ratri T. Hapsari, Nfn Purwantoro
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 109-118; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p109-118

Abstract:Plasma nutfah berperan penting dalam penyediaan sumber gen sebagai bahan dasar perakitan varietas unggul. Karakterisasi, yang dilanjutkan dengan pengelompokan plasma nutfah akan sangat bermanfaat untuk mengetahui keragaman dan keunggulan aksesi. Karakterisasi morfo-agronomis telah dilakukan pada sebanyak 214 aksesi plasma nutfah kedelai koleksi Balitkabi pada musim kemarau (MK) I 2013 di KP Jambegede. Data karakteristik morfo-agronomis selanjutnya dianalisis menggunakan analisis komponen utama (PCA) dan gerombol (clustering). Hasil penelitian menunjukan bahwa dari sebanyak 15 karakter morfo-agronomis yang diuji, nilai keragaman totalnya sebesar 72,7%. Berdasarkan analisis gerombol, diketahui bahwa 214 aksesi plasma nutfah dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok. Kelompok I dicirikan dengan warna hipokotil ungu dan warna bunga ungu serta warna hilum coklat muda, Kelompok II dicirikan dengan warna hipokotil hijau dan warna bunga putih, warna hilum coklat, coklat tua, dan campuran, tinggi tanaman pendek, ukuran biji kecil sampai sedang, umur masak genjah sampai sedang. Kelompok III dicirikan dengan jumlah cabang banyak, jumlah polong isi yang tinggi, batang yang tinggi, umur masak dalam, ukuran biji kecil. Kelompok IV dicirikan dengan jumlah buku subur banyak, ukuran biji besar, warna polong kuning, dan umur masak genjah. Beberapa aksesi diketahui memiliki potensi sebagai sumber gen dalam program pemuliaan, yaitu MLGG 0313 dan MLGG 0417, MLGG 0752 (umur genjah), dan MLGG 0768 (potensi hasil tinggi, berbiji besar, dan berumur genjah).
Nfn Denny, Titi Kalima
Published: 20 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 22, pp 137-148; doi:10.21082/blpn.v22n2.2016.p137-148

Abstract:Kalimantan Tengah memiliki keanekaragaman hutan rawa gambut yang berperan bagi gudang plasma nutfah khususnya tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status konservasi spesies tumbuhan obat, khususnya yang berhubungan dengan struktur dan komposisi serta keanekaragamannya. Pengumpulan data menggunakan metode jalur berpetak, membuat 40 petak pengamatan berbagai tingkat pertumbuhan yang masing-masing berukuran 20 x 20 m,10 x 10 m, 5 x 5 m, dan 1 x 1 m dengan luas total 2,104 ha. Semua tumbuhan berbagai kelas diameter yang berada di dalam petak pengamatan dicatat, diukur, dan diidentifikasi. Kondisi vegetasi tumbuhan obat dicirikan oleh tingkat kerapatan pohon dengan rata-rata 93,140 batang/ha dan luas bidang dasar 10,606 m2/ha, tiang 622,50 batang/ha dan luas bidang dasar 17,1606 m2/ha, pancang 5450 batang/ha dan luas bidang dasar 41,712 m2/ha, serta semai tingkat kerapatan 6975 batang/ha. Dalam seluruh petak pengamatan terdapat 56 spesies tumbuhan obat termasuk dalam 48 marga dan 30 famili. Berdasarkan indeks nilai penting spesies, maka Diospyros borneensis Hiern, Combretocarpus rotundus Dans, merupakan spesies yang paling dominan, diikuti tingkat semai Syzygium zeylanicum (L.) DC. Nilai Indeks Keanekaragaman pada kisaran 1< H'≤ 3. Terdapat enam spesies tumbuhan obat yang dilindungi berdasarkan PP. 7/1999, tiga spesies kedalam CITES dan 15 spesies termasuk dalam daftar IUCN.
Dini Yuliani, Untung Susanto, Sudir Sudir
Published: 13 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 23-32; doi:10.21082/blpn.v23n1.2017.p23-32

Abstract:The resistance genes in IRBB near isogenic lines (NILs) which was introduced from International Rice Research Institute (IRRI) have been known. It could be used as source of resistance to the dominant Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) pathotype in Indonesia. The purpose of this research was to evaluate IRBBN NILs and promising lines to the dominant Xoo pathotype in Indonesia i.e. pathotype III, IV, and VIII. Research was conducted at Sukamandi exprerimental field station in Subang, West Java, at dry seasons (DS) 2012 and wet seasons (WS) 2012/2013. The experiment was conducted following Factorial Randomized Completely Block Design with three replications. The first factor were three pathotype Xoo that was pathotype III, IV, and VIII, while the second factor were 20 IRBB lines, 6 promising lines, and 6 refferer varieties such as Conde, Lusi, Logawa, Java 14, Angke, dan Inpari 1. The result showed that three isogenic lines i.e. IRBB 21, IRBB 50, and IRBB 52 were resistant to Xoo pathotype III, IV, and VIII at DS 2012. At WS 2012/2013 was obtained five isogenic lines i.e. IRBB 52, IRBB 53, IRBB 54, IRBB 56, and IRBB 57 resistant to Xoo pathotype III, IV, and VIII. IRBB 52 was consistently resistant to the three Xoo pathotypes in two cropping seasons. It could be recommended to be used as donor in developing new resistant varieties to bacterial leaf blight. AbstrakGalur isogenik IRBB introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) telah diketahui gen ketahanannya dan dapat digunakan sebagai sumber ketahanan terhadap patotipe Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) dominan di Indonesia. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan galur isogenik dan galur harapan terhadap patotipe Xoo dominan di Indonesia, yaitu patotipe III, IV, dan VIII. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sukamandi, Subang, Jawa Barat pada musim kemarau (MK) 2012 dan musim hujan (MH) 2012/2013. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Faktorial Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tiga patotipe Xoo, yaitu patotipe III, IV, dan VIII, sedangkan faktor kedua yaitu materi yang diuji sebanyak 20 galur IRBB, 6 galur harapan padi, dan 6 varietas pembanding, yaitu Conde, Lusi, Logawa, Java 14, Angke, dan Inpari 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur isogenik IRBB 21, IRBB 50, dan IRBB 52 bereaksi tahan terhadap Xoo patotipe III, IV, dan VIII pada MK 2012. Pada MH 2012/2013 diperoleh lima galur isogenik IRBB 52, IRBB 53, IRBB 54, IRBB 56, dan IRBB 57 bereaksi tahan terhadap Xoo patotipe III, IV, dan VIII. Galur isogenik IRBB 52 konsisten tahan terhadap Xoo patotipe III, IV, dan VIII pada dua musim tanam. Oleh karena itu, galur tersebut dapat direkomendasikan untuk dijadikan tetua tahan untuk perakitan varietas tahan HDB.
Yusi Nurmalita Andarini, Higa Afza, Lina Herlina, Sutoro Sutoro
Published: 13 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 33-40; doi:10.21082/blpn.v23n1.2017.p33-40

Abstract:Generally, upland rice productivity is lower than irrigated rice due to physical characteristic, water land limitation, and rooting characteristic. Upland rice variety which could be adaptive towards marginal land environment can be achieved through plant breeding. This study aimed to evaluate rooting system of upland rice germplasm through its rooting ability to penetrate into hard coating and to measure rooting which expected to related with its adaptability towards dry environment and soil density. This study was implemented in ICABIOGRAD’s glass house, Bogor during July–August 2015. A hundred of local varieties of germplasm seeds originated from North Sumatra, South Sumatra, North Sulawesi, Jambi, Central Kalimantan, East Kalimantan, NTT, Central Java, East Java, West Java, DIY, and Banten provinces were planted inside pot with basic materials were coated with mix combination of 60% paraffin and 40% vaseline which equal with 12 bars of strength. The results showed grouping of 100 variety upand rice germplasms could be devided based on variety with unsimilar charachteristic with others variety, which were Si Gambiri Etek from North Sumatra, Cikapudeng variety from Banten, and Ketan Kasumba B variety from Banten. Germplasm with the best rooting characteristic (roots weight and high root canopy ratio) can be used as genetic resources for plant breeding program. Abstrak Produktivitas padi gogo umumnya lebih rendah dibanding dengan padi sawah disebabkan oleh sifat fisik dan terbatasnya air dalam tanah serta karakteristik perakaran tanaman. Varietas padi gogo yang adaptif pada lingkungan lahan marginal dapat diperoleh melalui pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi sistem perakaran plasma nutfah padi gogo melalui kemampuan perakarannya menembus lapisan keras dan untuk mengukur perakaran yang diduga berkaitan dengan adaptabilitasnya terhadap lingkungan kekeringan dan kepadatan tanah. Penelitian dilakukan di rumah kaca BB Biogen Bogor pada bulan Juli–Agustus 2015. Benih plasma nutfah 100 aksesi (varietas lokal) yang berasal dari provinsi Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Sulawesi Utara, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, NTT, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, dan Banten ditanam pada pot dengan bagian dasar dilapisi dengan kombinasi campuran 60% parafin dan 40% vaselin yang setara dengan kekerasan 12 bar. Hasil penelitian menunjukkan pengelompokan plasma nutfah 100 varietas padi gogo dapat dikelompokkan berdasarkan varietas yang karakteristiknya jauh berbeda dengan yang lain, yaitu varietas Si Gambiri Etek asal Sumatra Utara, varietas Cikapundeng asal Banten, dan varietas Ketan Kasumba B asal Banten. Plasma nutfah yang memiliki karakteristik perakaran baik (bobot akar dan rasio akar tajuk yang tinggi) dapat digunakan sebagai tetua dalam program pemuliaan tanaman.
Untung Susanto, Ali Imamudiin, My Samaullah, Satoto Satoto, Ali Jamil, Jauhar Ali
Published: 13 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 41-50; doi:10.21082/blpn.v23n1.2017.p41-50

Abstract:Adaptability of Green Super Rice Lines under Dry Season of Rainfed Lowland Condition in Regency of Pati. Green Super Rice (GSR) is rice genotype which is designed to have high yield, tolerance to biotic and abiotic stresses, as well as efficient fertilization and water. GSR is expected to have good adaptability and results under rainfed conditions. Evaluation of GSR lines under rainfed egro-ecosystem had been conducted in the District of Jakenan, Pati, Central Java, which is representing of rainfed lowland condition in Java, during Dry Season 2014. The research was conducted in a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two replications, consisted of 30 GSR rice lines and four check varieties, i.e. Inpari 13, Inpari 10, Inpari 23, and Situ Bagendit. Twenty one days old seedlings were transplanted into a 1 m x 5 m plot size, with 1-3 seedlings per hole with planting space of 20 x 20 cm. The watering depended on the rainfall and pumped water from water reservoir. The results showed that the lines had significant differences on yield and agronomic characters. HHZ2-SKI-2-7-0Kr-JK-IND (4.09 t/ha) had the highest yield, significantly higher than the best check Situ Bagendit (3.04 t/ha). Additionally, three genotipes, i.e. HHZ2-SKI-2-7-0Kr-JK-IND, HHZ4-SKI-5-4-0Kr-JK-IND (3.91 t/ha), and Zhonghua1-SKI-1-IND (3.85 t/ha) had higher yield compared to the second best check, Inpari 13 (2.88 t/ha). The selected GSR lines had equal characteristic to popular adopted varieties such as Situ Bagendit and Inpari 13 i.e. maturity around 100 DAS, plant height around 100 cm, and 1000 grain weight around 25 g. This results indicated that the lines had good prospect for further testing in the development of new varieties for rainfed lowland rice in Indonesia. Abstrak Green Super rice (GSR) adalah tanaman padi yang dirancang untuk memiliki daya hasil tinggi, toleran terhadap cekaman biotik dan abiotik, serta efisien pemupukan dan air. GSR diharapkan memiliki daya adaptasi dan hasil yang baik pada kondisi sawah tadah hujan. Evaluasi galur-galur padi GSR pada lahan tadah hujan telah dilakukan di Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati Jawa Tengah pada MK 2014. Penelitian menggunakan rancangan percobaan acak kelompok 2 ulangan dengan perlakuan 30 galur padi GSR dan empat varietas pembanding. Galur-galur GSR yang dievaluasi merupakan galur hasil seleksi di Indramayu pada musim sebelumnya. Varietas pembanding yang digunakan adalah Inpari 13, Inpari 10, Inpari 23, dan Situ Bagendit. Bibit umur 20 hari setelah sebar dari setiap galur dan varietas pembanding ditanam 1-3 bibit per lubang pada plot berukuran 1 m x 5 m dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Pengairan bergantung pada turunnya hujan dan pompa air dari embung penampung air hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur yang diuji memiliki perbedaan nyata dan sangat berbeda nyata pada karakter agronomi yang diamati. HHZ2-SKI-2-7-0Kr-JK-IND (4,09 t/ha) memiliki hasil tertinggi, nyata lebih tinggi daripada cek terbaik Situ Bagendit (3,04 t/ha). Selain galur tersebut, memiliki hasil lebih tinggi dari pada cek terbaik kedua, Inpari 13 (2,88 t/ha), yaitu HHZ4-SKI-5-4-0Kr-JK-IND (3,91 t/ha), dan Zhonghua1-SKI-1-IND(3,85 t / ha). Galur-galur GSR tersebut memiliki karakteristik setara dengan varietas-varietas yang telah diterima luas petani seperti Situ Bagendit dan Inpari 13, yaitu memiliki umur sekitar 100 HSS, tinggi tanaman sekitar 100 cm, dan bobot 1000 butir sekitar 25 g. Hasil pengujian tersebut mengindikasikan bahwa galur-galur GSR terseleksi memiliki prospek yang cerah untuk diuji lebih lanjut untuk mendapatkan varietas padi spesifik lahan sawah tadah hujan di masa yang akan datang.
Miswarti Miswarti, W. E. Putra, Dedi Sugandi
Published: 13 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 59-68; doi:10.21082/blpn.v23n1.2017.p59-68

Abstract:Durian is a tropical fruit species that grows in Indonesia, including in Kalimantan and Sumatra. Durian has a distinctive flavor and aromatic with diverse morphological characteristics. The research was conducted from March to August 2015 in Central Bengkulu district, Rejang Lebong, and Lebong (Bengkulu Province). The aims of this research were to determine the morphological variability and relationship among the durian accessions based on the morphological characteristics. The method used was exploration and in situ observation. Twenty nine of durian genotypes with fruiting stage were collected and observed according to the standard criteria. Relationship among the genotypes was analysed using NTSYSpc 2.1 software. Based on relationship analysis of the 35 morphological characters, four genotypes were grouped by similarity of 59–84%. The genotype that had a very close relationship were genotypes #27 and #33. The best performance genotype was D10. Abstrak Durian merupakan salah satu jenis tanaman buah tropis yang banyak tumbuh di Indonesia, seperti Kalimantan dan Sumatra. Durian mempunyai rasa dan aroma yang khas serta bentuk morfologi yang beragam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2015 di Kabupaten Bengkulu Tengah, Rejang Lebong, dan Lebong (Provinsi Bengkulu). Tujuan penelitian ialah mengetahui tingkat keragaman dan potensi durian di Provinsi Bengkulu. Metode yang digunakan ialah jelajah dan observasi tanaman durian secara in situ. Sebanyak 29 genotipe tanaman durian yang telah berbuah digunakan sebagai sampel tanaman dan diamati sesuai kriteria standar yang telah ditetapkan. Analisis data kekerabatan dilakukan menggunakan program NTSyspc 2.1. Hasil analisis kekerabatan dari 35 karakter morfologis yang diamati (kualitatif dan kuantitatif) diperoleh kesimpulan (1) terdapat keragaman yang tinggi pada karakter tebal daging buah, kemerekahan kulit buah setelah panen, jumlah biji, kerapatan duri, bobot buah, bobot biji, dan bobot daging buah; (2) koefisien kemiripan sebesar 59–84%. Genotipe yang mempunyai kekerabatan yang sangat dekat adalah genotipe 27 dan 33. Genotipe yang mempunyai penampilan terbaik ialah D10.
Indra Hendaru, Y. Hidayat, M. Ramdhani
Published: 13 February 2018
Buletin Plasma Nutfah, Volume 23, pp 13-22; doi:10.21082/blpn.v23n1.2017.p13-22

Abstract:Indonesia is one of the diversity centre of banana. The North Maluku area has a high diversity of banana, which cultivated in farm and yard to produce food and other utilization, but has not been characterized yet morphologically and genetically. The objective of this study was to characterize banana accessions collected by BPTP Maluku Utara. The study was conducted from May 2014 to May 2015 in Germplasm Station of Assessment Institute for Agricultural TechnologyNorth Maluku. This study used seven accessions of cultivated banana, namely Emas, Jarum, Tembaga, and Gohu Banana (Tidore Kepulauan City), Bunga (East Halmahera Regency), Galela (North Halmahera Regency), and Mulu Bebe (West Halmahera Regency). The morphological character observed were 32 qualitative characters and 15 quantitative characters based on standard descriptors from IPGRI. The data were analized by cluster analysis. The results showed that variability of morphology characters were found in the observed banana accesions. The cluster analysis showed that genetic diversity of seven banana accessions was divided two group clusters. The first, cluster I consisted of Gohu and Bunga banana. Second, cluster II consisted of Jarum, Emas, Galela, Tembaga, and Mulu Bebe banana. Emas banana and Jarum banana had the most maximum similar morphology characters of 63,12%, meanwhile Gohu banana had the lowest similar morphology characters from other accessions. AbstrakIndonesia merupakan bagian dari pusat keragaman pisang. Kawasan Maluku Utara memiliki keragaman pisang yang tinggi dan mudah ditemukan di kebun dan pekarangan untuk produksi bahan pangan maupun tujuan lain. Namun, keragaman tersebut belum dikarakterisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi aksesi pisang yang dikoleksi BPTP Maluku Utara berdasarkan karakter morfologi. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2014 sampai Mei 2015 di Kebun Plasma Nutfah BPTP Maluku Utara. Penelitian menggunakan tujuh jenis pisang yaitu pisang Emas, pisang Jarum, pisang Tembaga, dan pisang Gohu (Kota Tidore Kepulauan), pisang Bunga (Kab. Halmahera Timur), pisang Galela (Kab. Halmahera Utara), dan pisang Mulu Bebe (Kab. Halmahera Barat). Karakter morfologi yang diamati meliputi 32 karakter kualitatif dan 15 karakter kuan¬titatif berdasarkan panduan deskriptor dari IPGRI. Data hasil pengamatan karakter morfologi dianalisis dengan analisis klaster untuk mengetahui hubungan kekerabatan dari jenis pisang yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik aksesi pisang yang diamati, terbagi pada dua kelompok yaitu kelompok 1 (pisang Gohu dan Bunga) dan kelompok II (pisang Jarum, Emas, Galela, Tembaga, dan Mulu Bebe). Aksesi pisang yang memiliki kemiripan paling tinggi ialah pisang Emas dengan Jarum yaitu 63,12%, sedangkan pisang Gohu memiliki hubungan kekerabatan paling jauh di antara seluruh aksesi.
Page of 19
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search