Journal Jurnal AgroBiogen

-
29 articles
Page of 3
Articles per Page
by
Alberta Dinar Ambarwati, Tri Joko Santoso, Edy Listanto, Toto Hadiarto, Eny Ida Riyanti, Kusmana Kusmana, Bambang Sugiharto, Netty Ermawati, Sukardiman Sukardiman
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 67-74; doi:10.21082/jbio.v13n1.2017.p67-74

Abstract:Pemanfaatan tanaman kentang produk rekayasa genetik (PRG) dalam pemuliaan tanaman melalui persilangan dengan Atlantic dan Granola telah menghasilkan enam galur PRG hasil silangan yang terseleksi. Sebelum komersialisasi, kentang PRG harus dikaji keamanan pangan dan lingkungannya. Penulisan bertujuan memberikan informasi mengenai tanaman kentang PRG di Indonesia yang tahan terhadap penyakit busuk daun Phytophthora infestans dan telah dinyatakan aman untuk di-konsumsi oleh manusia. Analisis stabilitas menunjukkan bahwa gen RB stabil terintegrasi selama empat generasi klonal ber-urutan dalam genom tanaman kentang PRG dengan satu sisipan gen. Hasil studi komposisi dan nutrisi, glikoalkaloid total, dan anti nutrisi pada kentang PRG Katahdin SP951 dan galur-galur silangannya bersifat sepadan dengan Katahdin non-PRG. Studi toksisitas menunjukkan bahwa pemberian pakan suspensi umbi kentang dan suspensi tepung kentang Katahdin SP951 dan galur-galur silangan tidak berdampak terhadap mortalitas, bobot badan, dan tanda-tanda klinis pada mencit. Protein RB tidak memiliki homologi yang tinggi dengan protein toksin sehingga tidak bersifat toksik. Studi alergenisitas dengan Simulated Gastric Fluid dan Simulated Intestinal Fluid menunjukkan bahwa protein umbi kentang Katahdin SP951 dan galur-galur silangan terdegradasi kurang dari 5 menit inkubasi setelah perlakuan enzim pepsin atau tripsin. Protein RB tidak mempunyai sekuen asam amino yang homolog dengan protein alergen, sehingga tidak berpotensi menimbulkan alergi. Kentang Katahdin SP951 telah dinyatakan aman untuk dikonsumsi melalui Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2016. Tanaman kentang PRG tahan P. infestans yang dapat mengurangi 50% aplikasi fungisida, dan telah mendapat sertifikat aman pangan dan aman lingkungan diharapkan dapat menjadi pilihan untuk dimanfaatkan petani.
Elizabeth Handini, Dewi Sukma, Sudarsono Sudarsono, Ika Roostika
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 91-100; doi:10.21082/jbio.v13n2.2017.p91-100

Abstract:Cymbidium hartinahianum J.B. Comber & Nasution merupakan spesies anggrek asli Indonesia yang terancam punah. Penelitian ini bertujuan menentukan formulasi media yang sesuai untuk multiplikasi protokorm dan metode aklimatisasi planlet C. hartinahianum. Pada tahap pertama multiplikasi protokorm, media Knudson C (KC) ditambah dengan naphthaleneacetic acid (NAA) 0,5 mg/l dikombinasikan dengan benzyladenine (BA) (0, 5, 10, 15, 20 mg/l). Pada tahap kedua, digunakan thidiazuron (TDZ) (0, 0,1, 0,3, 0,5 mg/l). Induksi akar dilakukan dengan menggunakan media KCA dengan penambahan NAA atau indolebutyric acid (IBA) (0, 1, 3, 5 mg/l). Planlet diberi perlakuan hardening pada media KCA dengan perlakuan sukrosa (0, 20, 40 g/l) dan diinkubasi pada 16–18°C selama 1 bulan, kemudian dipindahkan ke 22–27°C selama 1 bulan, dan selanjutnya dipindahkan ke 27–29°C selama 1 bulan sebelum aklimatisasi. Sebanyak 3,1 tunas dan 11,16 protocorm-like body (PLB) (daya hidup 72%) dihasilkan dengan BA 5 mg/l. Penggunaan BA lebih dari 5 mg/l tidak berpengaruh secara nyata terhadap kenaikan jumlah PLB. Perlakuan TDZ 0,3 mg/l menghasilkan 2,33 PLB (daya hidup 99,63%). Penggunaan TDZ lebih dari 0,3 mg/l menyebabkan kenaikan jumlah PLB. Induksi akar optimal pada perlakuan NAA 3 mg/l, namun jumlah akarnya tidak berbeda nyata dengan kontrol. Perlakuan hardening terbaik adalah inkubasi planlet pada media KCA yang ditambah gula 20 g/l di ruang kultur dengan suhu 16–18°C selama 1 bulan dilanjutkan dengan 1 bulan di ruang persiapan dengan suhu 22–27°C (daya hidup 44,6%).
Chaerani Chaerani
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 53-66; doi:10.21082/jbio.v13n1.2017.p53-66

Abstract:Wereng batang cokelat (WBC) timbul menjadi hama utama padi di Asia sebagai dampak revolusi hijau. Ledakan populasi WBC didukung oleh perilaku WBC yang monofagus pada padi, keperidian tinggi, dan kemampuan migrasi jarak jauh. WBC bersifat labil dalam virulensi dan mampu beradaptasi pada varietas tahan. Penggunaan istilah ‘biotipe’ untuk pengelompokan virulensi WBC masih diperdebatkan karena adanya variasi virulensi dan genetik antarindividu dalam satu biotipe. Makalah tinjauan ini membahas aspek strategi hidup dan makan, biokimia, interaksi dengan endosimbion, dan genetik WBC untuk mengetahui basis adaptasi virulensi WBC sehingga dapat digunakan dalam perbaikan strategi pengelolaan hama ini. Pada level molekuler, virulensi ditandai dengan peningkatan profil ekspresi gen-gen yang berkaitan dengan detoksifikasi senyawa alelokemik tanaman; metabolisme lipid, karbohidrat, asam amino, dan nitrogen; jalur lintas penyinalan respons pertahanan, respons terhadap cekaman, dan respons kekebalan. Penelitian genomik mengungkap interaksi komplementer antara WBC dan mikroorganisme endosimbion, tetapi percobaan menggunakan WBC aposimbiotik menunjukkan bahwa kepadatan endosimbion tidak selalu berkorelasi positif dengan virulensi WBC. Bertolak belakang dengan hasil-hasil penelitian sebelum-nya, pemetaan genetik gen virulensi menggunakan tetua inbred menunjukkan bahwa virulensi WBC dikendalikan secara monogenik sehingga hubungan gene-for-gene antara WBC dengan tanaman padi berlaku. Strategi penanaman varietas tahan untuk mengantisipasi adaptasi virulensi WBC seiring dengan dinamika varietas padi yang ditanam di lapangan dibahas dalam makalah ini.
Puji Lestari, Dwi Ningsih Susilowati, I Made Samudera, Tri Puji Priyatno, Kristianto Nugroho, Wyranti Wyranti, Winda Winda, Yadi Suryadi
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 25-34; doi:10.21082/jbio.v13n1.2017.p25-34

Abstract:Asam indol asetat (AIA) dapat dihasilkan oleh bakteri rizosfer/rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman (PPT). Keragaman genetik isolat bakteri PPT indigenous Indonesia perlu diinvestigasi untuk mencari sumber potensial agen PPT dengan informasi kekerabatan intra dan interspesies yang jelas. Karena itu penelitian ini bertujuan mengetahui keragaman genetik rizobakteri penghasil AIA indigenous Indonesia dengan gen 16S rRNA, dilengkapi dengan ARDRA. Koleksi isolat bakteri BB Biogen diidentifikasi kandungan AIA-nya, morfologi secara makroskopis dan sekuensing pada sekuen 16S rRNA dan ARDRA. Total empat belas isolat rizobakteri memiliki kandungan AIA dalam kisaran 5,24-37,69 µg/ml dan tertinggi pada SM1. Karakteristik morfologi koloni rizobakteri mendukung variasi strain bakteri penghasil AIA. Delapan isolat terpilih diidentifikasi sebagai spesies Bacillus dengan homologi 96-99%. Lima isolat (SM1, JP4, KP3, MB2, dan CP3) diidentifikasikan sebagai B. subtilis, SC2 sebagai B. amyloliquefaciens, BL2 dekat dengan B. velezensis, dan JP3 memiliki homologi tinggi dengan Brevundimonas olei. Delapan isolat rizobakteri tersebut berkerabat dekat dengan strain bakteri referensi yang memiliki kesamaan spesies. Analisis ARDRA-RsaI menghasilkan lima filotipe dengan keunikan pola sidik jari. Isolat CP3, MB 2, dan KP 3 berada dalam satu filotipe. Kedekatan isolat dalam Bacillus sp. digambarkan oleh filotipe 5 (B. subtilis SM1 dan B. velezensis BL2) yang diduga jauh dari B. amyloliquefaciens SC2 (filotipe 4) dan JP 3 pada genus Brevundimonas (filotipe 3). Keragaman genetik isolat rizobakteri penghasil AIA terhitung rendah berdasarkan 16S-rRNA dan ARDRA-RsaI.
Wawan Wawan, Teguh Santoso, Ruly Anwar, Tri Puji Priyatno
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 43-52; doi:10.21082/jbio.v13n1.2017.p43-52

Abstract:Hirsutella citriformis merupakan salah satu jamur entomopatogen potensial untuk wereng batang cokelat (WBC), tetapi belum banyak dimanfaatkan karena konidianya sulit diperbanyak sehingga perlu dicari propagul alternatif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi isolat H. citriformis yang menginfeksi WBC dan menguji efektivitas miselianya sebagai alternatif inokulum konidia dalam pengendalian biologis WBC. Identifikasi Hirsutella dilakukan berdasarkan karakter morfologis dan molekuler dan berdasarkan sekuen internal transcribed spacer (ITS). Konidia dan miselia pada berbagai konsentrasi diaplikasikan pada nimfa WBC instar 2–3 dengan cara penyemprotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakter morfologis, isolat jamur entomopatogen asal Bogor yang menyerang WBC di lapangan adalah H. citriformis. Salah satu isolat (Bgr 0716) telah diidentifikasi berdasarkan sekuen ITS dan terkonfirmasi sebagai H. citriformis. Aplikasi miselia isolat Bgr 0716 efektif mengendalikan WBC dengan nilai lethal time 50% (LT50) selama 13,3 hari, tidak jauh berbeda dari nilai LT50 konidia yang terjadi dalam waktu 12,8 hari. Nilai lethal concentration 50% (LC50) miselia sekitar 2,303 g/l, sedangkan nilai LC50 untuk aplikasi konidia adalah sebesar 2,5 × 105 konidia/ml. Dengan nilai LT50 dan LC50 yang relatif rendah tersebut, miselia layak untuk di-aplikasikan dalam skala luas karena produksinya lebih mudah dan cepat dibanding dengan produksi konidia. Oleh karena itu, miselia H. citriformis dapat menjadi propagul aktif sebagai alternatif konidia untuk pengembangan biopestisida efektif terhadap WBC.
Slamet Slamet, Ahmad Warsun
Published: 13 February 2018
Jurnal AgroBiogen, Volume 12; doi:10.21082/jbio.v12n1.2016.p29-36

Abstract:Segregasi ketahanan populasi F2 padi Ciherang/Swarnalata terhadap wereng batang coklat.. BB-Biogen Bogor. Wereng batang coklat (WBC) Delpacidae (Nilaparvata lugens Stal) merupakan hama utama yang menyebabkan penurunan produktivitas panen padi secara nyata di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menguji populasi WBC yang terganas dan mengevaluasi segregasi ketahanan F2 persilangan Ciherang/Swarnalata. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap yaitu 1. Uji keganasan WBC yang berasal dari daerah Jateng dan Jatim pada 12 genotip padi; 2. Evaluasi ketahanan terhadap WBC pada tiruan (simulasi) populasi persilangan yaitu monohibrid dominan (3:1), monohibrid resesif (1:3) dan BC1F2 (1:1). 3. Uji Segregasi menggunakan WBC terganas dengan 125 populasi F2 dari persilangan Ciherang/Swarnalata. Sistem skoring berdasarkan metode IRRI 1996 dan IRRI 1996 yang dimodifikasi, dan data dianalisis statistik menggunakan chi-square. Hasil menunjukkan bahwa WBC asal Jateng lebih ganas dari pada WBC asal Jatim yang menunjukkan respon diferensial secara konsisten pada tanaman tahan dan peka. Dari 125 tanaman yang diuji terpisah menjadi dua kelompok yaitu kelompok tahan 90(72%) nomor dengan skor (0, 1, 3), dan peka 35(28%) nomor dengan skor (5, 7, 9). Kedua kelompok tersebut menunjukkan pola segregasi 3:1 yang sesuai dengan kaidah Mendel. Uji ketahanan progeni F2 Ciherang/Swarnalata terhadap WBC dapat dilakukan melalui metode IRRI 1996 modifikasi dengan skoring individu pada generasi awal dan stadia bibit. Penelitian ini bermanfaat dan dapat digunakan di masa yang akan datang dalam penelitian terkait dengan penelitian konfirmasi marka genotipik dan penyaringan terhadap ketahanan WBC. Uji segregasi ini masih perlu dikonfirmasi pada progeni F3 berikutnya.
Yati Supriati, Mia Kosmiatin, Ali Husni, Nfn Karsinah
Published: 13 February 2018
Jurnal AgroBiogen, Volume 12; doi:10.21082/jbio.v12n1.2016.p45-50

Abstract:Perbanyakan bibit mangga umumnya dilakukan melalui teknik sambung pucuk agar laju pertumbuhan dan panen lebih cepat. Varietas mangga madu sering digunakan sebagai batang bawah karena selain memiliki sifat perakaran yang kuat dalam menopang bagian atas, juga mempunyai daya gabung yang baik dengan varietas mangga yang lain. Kendala yang dihadapi adalah rendahnya ketersediaan batang bawah mangga Madu, karena pohon induk yang ada selain sudah tua, jumlahnya sangat terbatas. Mikropropagasi tanaman melalui embriogenesis somatik diharapkan dapat membantu perbanyakan batang bawah Madu secara cepat, seragam dan dalam jumlah tak terbatas. Penelitian berlangsung dari bulan januari sampai dengan November 2015, di Laboratorium Kultur Jaringan BB Biogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan metode terbaik dalam memproduksi kalus dan tunas in vitro sebagai bahan pembentuk planlet. Percobaan terdiri dari 2 kegiatan yaitu 1) Penghambatan oksidasi fenol pada eksplan mangga Madu, dan 2) Induksi pembentukan kalus embriogenik dari jaringan nuselar. Percobaan disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap dengan enam ulangan. Parameter yang diamati untuk kegiatan pertama yaitu saat terjadi pencoklatan, intensitas pencoklatan, dan persentase eksplan mati. Untuk kegiatan kedua, parameter yang diamati adalah waktu inisiasi kalus, persentase eksplan membentuk kalus, tipe kalus (embriogenik dan non embriogenik), bobot kalus, dan jumlah embrio somatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: a). Dari empat perlakuan yang diuji, ternyata perendaman dengan Potasium nitrat 0.125% selama 1 menit, lalu ditanam pada media MS yang diberi Arang aktif 0.3% merupakan perlakuan yang terbaik untuk membantu pengurangi oksidasi phenol. Induksi kalus dengan menggunakan eksplan nuselar menunjukkan persentase eksplan menjadi kalus mencapai 50% persen, pada media MS yang diberi Thidiazuron 0.4 mg/l. Induksi kalus mulai terjadi pada minggu ke 3-6 setelah tanam. Formulasi yang terbaik untuk pertumbuhan kalus adalah media 1/2MS yang ditambah kombinasi BAP 2mg/l dan 2,4D 1mg/ dan diberi AgNO3 3mg/l serta arang aktif 0.3%. Struktur kalus lebih banyak bersifat remah dan berwarna putih. Dari perkembangan kalus, terbentuk struktur embrio somatik globular, hati, torpedo sampai kecambah.
Ma'sumah Ma'sumah, Tri Joko Santoso, Kurniawan R. Trijatmiko
Published: 13 February 2018
Jurnal AgroBiogen, Volume 12; doi:10.21082/jbio.v12n1.2016.p21-28

Abstract:Cekaman kekeringan adalah salah satu faktor pembatas penting pada peningkatan produksi padi di Indonesia. Salah satunya cara pemecahannya adalah identifikasi gen-gen yang dapat digunakan untuk memperbaiki varietas padi toleran terhadap cekaman kekeringan. Sejumlah galur padi transgenic kultivar Nipponbare yang membawa vector penanda aktivasi telah dihasilkan dari penelitian sebelumnya. Untuk mengetahui apakah vector penanda aktivasi yang telah terintegrasi menghasilkan fenotipik peningkatan fungsi gen dalam responnya terhadap kekeringan, galur-galur tersebut perlu untuk dianalisis secara genotipk dan fenotipik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman fenotipik akar galur-galur transgenik generasi T1 yang toleran terhadap cekaman kekeringan dan mendapatkan galur-galur yang stabil membawa penanda aktivasi. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah 47 individu galur transgenik, dua galur cek toleran (IRAT112 dan Cabacu), galur cek peka (IR64) dan tipe liar (Nipponbare). Sebelum evaluasi fenotip akar dan deteksi gen hptII dan bar, galur-galur padi transgenik dikonfirmasi dengan skrining pada larutan herbisida basta pada tahap perkecambahan. Kemampuan menembus akar dari galur-galur padi transgenik dievaluasi pada pot plastik yang dilapisi dengan paraffin-vaselin. Stabilitas galur-galur transgenik mutan dideteksi dengan amplifikasi gen hptII dan bar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar galur-galur Nipponbare transgenik yang diuji mampu berkecambah pada larutan herbisida basta. Ini menunjukkan bahwa galur-galur tersebut adalah memang tanaman transgenik mengandung gen bar. Pengujian fenotipik daya tembus akar mengindikasikan bahwa dua galur padi transgenik mempunyai karakteristik akar yang dapat dikategorikan sebagai galur toleran kekeringan, yaitu M-Nip-50.1 dan M-Nip-51.13. Uji stabilitas gen bar menunjukkan bahwa terdapat 4 galur-galur mutan transgenik stabil yang terdeteksi dengan analisis molekuler rmenggunakan primer spesifik gen hptII dan bar galur tersebut adalah M-Nip.12.12, M-Nip 19.18, M-Nip.19.9 and M-Nip 20.13.
AsadI Asadi, Puji Lestari, Nurwita Dewi
Published: 13 February 2018
Jurnal AgroBiogen, Volume 12; doi:10.21082/jbio.v12n1.2016.p51-62

Abstract:AbstrakPra-pemuliaan aneka kacang dalam mendukung proses pemuliaan untuk perakitan varietas unggul baru. Asadi, Puji Lestari dan Nurwita Dewi. Aneka kacang merupakan komoditas tanaman pangan yang menempati posisi strategis ditinjau dari aspek ekonomi, pangan dan gizi di dunia termasuk Indonesia. Namun kondisi cekaman biotik dan abiotik menuntut perakitan varietas unggul dengan memanfaatkan secara optimal plasma nutfah atau sumber daya genetik (SDG) aneka kacang melalui pemuliaan. Dalam reviu ini disampaikan tentang bagaimana memanfaatkan koleksi SDG aneka kacang secara optimal dan pemuliaannya dalam rangka perbaikan varietas, dan pra-pemuliaan yang berperan dalam menjembatani koleksi SDG sebagai sumber gen dengan aktivitas pemuliaan termasuk aspek genomiknya termasuk di Indonesia. Untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan SDG, perlu dibuat koleksi inti (core collection) yaitu dengan cara mengkarakterisasi dan mengevaluasi ketahanan/toleransinya terhadap sifat-sifat penting. Untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, pra-pemuliaan dititikberatkan untuk mencari sumber gen yang tahan/toleran terhadap cekaman abiotik dan biotik. Berbagai aksesi aneka kacang yang dikoleksi dalam bank gen telah dilaporkan toleran terhadap cekaman abiotik (kekeringan, kerendaman, keracunan aluminium dan salinitas tinggi) dan tahan terhadap cekaman biotik. SDG dengan karakter penting yang sudah teridentifikasi akan lebih mudah diakses dan diberdayakan sebagai sumber gen dalam perakitan varietas baru, sehingga akan memperkaya karakter penting pada varietas unggul yang dilepas. Kemajuan genomik pada aneka kacang berkembang pesat tidak hanya di kedelai namun juga di kacang hijau, kacang merah, kacang gude, kacang, tanah, chickpea (Cicer arietinum), kacang buncis dan lainnya. Marka berbasis genom dan platform genotyping SNP dengan high throughput menjadikan teknologi ini menjadi harapan dalam membantu program pemuliaan aneka kacang. Kemajuan dalam aspek pengelolaan dan pemanfaatan SDG, biologi molekuler dan bioteknologi esensial untuk mencapai keberhasilan final dalam pemuliaan terutama di Indonesia. Karena itu, pra-pemuliaan merupakan kegiatan penting untuk menyambungkan pengelolaan SDG aneka kacang dengan program pemuliaannya.
Imron Riyadi, Djoko Santoso, Bambang S. Purwoko, Darda Efendi
Published: 13 February 2018
Jurnal AgroBiogen, Volume 12; doi:10.21082/jbio.v12n1.2016.p37-44

Abstract:Proliferasi Kalus dan Induksi Embriogenesis Somatik Tanaman Sagu (Metroxylon saguRottb.) Menggunakan Tiga Metode Kultur: Sistem Perendaman Sesaat, Suspensi dan Media Padat. Imron Riyadi, Djoko Santoso, Bambang S. Purwoko dan Darda Efendi. Metode kultur in vitro yang tepat akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi pada proses penggandaan kalus maupun induksi embriogenesis somatik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh metode kultur dan konsentrasi 2,4-D dalam proses penggandaan kalus maupun induksi embryogenesis somatic. Bahan tanam atau eksplan awal yang digunakan adalah kalus remah hasil induksi dari kultur meristem pucuk tunas anakan sagu. Kalus tersebut dikulturkan pada media Murashige dan Skoog modifikasi dengan penambahan 2,4-D 5,0 – 15,0 mg/L dikombinasikan dengan kinetin 0,1 mg/L yang menggunakan tiga metode kultur yaitu kultur suspensi, sistem perendaman sesaat (SPS) dan media padat, sehingga terdapat 12 kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot segar kalus tertinggi sebesar 12,0 g/bejana yang dicapai pada perlakuan S D15K0,1 (kultur suspensi dengan konsentrasi ZPT berupa 2,4-D 15,0 mg/L dikombinasikan dengan kinetin 0,1 g/L). Perolehan jumlah embrio somatic tertinggi dicapai pada perlakuan S D5K0,1 (kultur suspensi dengan konsentrasi ZPT berupa 2,4-D 5,0 mg/L dikombinasikan dengan kinetin 0,1 g/L) sebesar 384,7 buah/bejana. Daya hidup kultur sagu terbaik dan tertinggi diperoleh pada metode kultur suspensi pada semua perlakuan konsentrasi 2,4-D yang mencapai 100%. Selama proses induksi embrio somatic, terjadi perubahan warna kalus dari sebagian besar kekuningan menjadi krem dan putih-kekuningan.
Page of 3
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search