Journal Jurnal AgroBiogen

-
29 articles
Page of 3
Articles per Page
by
Rossa Yunita, Nurul Khumaida, Didy Sopandie, Ika Mariska
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 35-42; doi:10.21082/jbio.v13n1.2017.p35-42

Abstract:Regenerasi tanaman merupakan tahapan penting yang perlu dikuasai sebelum diaplikasikan untuk perakitan varietas unggul secara kultur in vitro. Penelitian bertujuan mengoptimasi teknik regenerasi in vitro beberapa varietas padi indica melalui jalur organogenesis. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial. Materi yang dicobakan, yaitu Ciherang, Inpari 13, Inpara 3, Pokkali, dan IR29. Perlakuan yang diberikan untuk induksi kalus organogenik adalah 2,4-D (0, 1, 3, 5, 7 mg/l) + kasein hidrolisat 3 g/l, untuk regenerasi kalus membentuk tunas adventif adalah BA (0, 1, 5 mg/l) + zeatin (0, 0,1, 0,3 mg/l) + prolin 100 mg/l, untuk multiplikasi tunas adalah MS + thidiazuron/TDZ (0, 0,1, 0,3 mg/l) dan untuk perakar-an adalah IBA (0, 1, 2, 3 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan media terbaik untuk induksi kalus untuk padi varietas Ciherang, Inpari 13, dan Pokkali adalah MS + 2,4-D 3 mg/l, sedangkan untuk varietas Inpari 3 dan IR 29 adalah MS + 2,4-D 5 mg/l. Media terbaik untuk regenerasi tunas untuk varietas Ciherang adalah BA 5 mg/l + zeatin 0,1 mg/l + prolin 100 mg/l, untuk Inpari 13 adalah MS + BA 3 mg/l + zeatin 0,3 mg/l + prolin 100 mg/l, untuk Inpara 3 adalah BA 5 mg/l + zeatin 0,3 mg/l + prolin 100 mg/l dan untuk Pokkali dan IR29 adalah MS + BA 3 mg/l + zeatin 0,1 mg/l. Media terbaik untuk multiplikasi tunas adalah MS + TDZ 0,3 mg/l dan untuk induksi perakaran adalah MS + IBA 2 mg/l. Setiap tahapan kegiatan pembentukan planlet membutuhkan formulasi media yang berbeda.
Rerenstradika Tizar Terryana, Kristianto Nugroho, Reflinur Reflinur, Karden Mulya, Nurwita Dewi, Puji Lestari
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 1-16; doi:10.21082/jbio.v13n1.2017.p1-16

Abstract:Sebagai salah satu komoditas tanaman pangan penting di Indonesia setelah padi dan jagung, kedelai memerlukan upaya peningkatan keragaman genetik dengan cara introduksi aksesi dari negara lain terutama Cina sebagai salah satu negara asal kedelai di dunia. Marka simple sequence repeat (SSR) dapat digunakan untuk analisis keragaman genetik antaraksesi kedelai introduksi. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari keragaman genotipik dan fenotipik 48 aksesi kedelai introduksi asal Cina menggunakan 15 marka SSR. Analisis DNA dilakukan menggunakan PCR dan data hasil PCR menggunakan marka SSR dianalisis menggunakan perangkat lunak XLSTAT, NTSYS, dan PowerMarker. Data karakter morfologis diperoleh dari basis data Germplasm Resources Information Network (GRIN), United States Department of Agriculture (USDA) (www.ars-grin.gov). Data ini digunakan sebagai data keragaman fenotipik yang diperlukan untuk menunjang hasil karakterisasi molekuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman karakter morfologis dan molekuler antaraksesi kedelai yang dipelajari. Berdasarkan hasil analisis komponen utama, karakter tinggi tanaman, bobot 100 biji, hasil biji, warna pusar biji, warna trikoma, warna bunga, dan warna polong berkontribusi besar terhadap keragaman total. Analisis molekuler menggunakan marka SSR menunjukkan bahwa terdapat variasi alel yang cukup tinggi (9–25 alel) di antara aksesi kedelai dengan rerata jumlah alel 15,6, sedangkan rerata nilai Polymorphism Information Content (PIC) sebesar 0,89 (0,84–0,94). Seluruh marka SSR memiliki nilai PIC>0,5 yang menunjukkan bahwa marka tersebut informatif untuk studi keragaman genetik kedelai dengan rerata nilai diversitas gen sebesar 0,90. Hasil analisis filogenetik dan analisis koordinat utama menunjukkan bahwa 48 aksesi tersebut mengelompok menjadi tiga dengan koefisien kemiripan 0,84. Pada penelitian ini dilakukan pula uji asosiasi antara marka SSR dan karakter morfologis. Asosiasi yang signifikan ditemukan pada tujuh lokus marka SSR. Persentase keragaman total yang dapat dijelaskan oleh marka SSR tersebut, yaitu 17,25–78,45%. Marka GMES2225 dan Sat_286 berasosiasi dengan warna kulit biji, sedangkan marka GmF35H berasosiasi dengan tinggi tanaman. Informasi keragaman genetik akan sangat bermanfaat sebagai langkah awal untuk kegiatan seleksi tetua persilangan dengan sifat yang diinginkan dalam membantu program pemuliaan kedelai di Indonesia.
Kristianto Nugroho, Rerenstradika T. Terryana, Reflinur Reflinur, Puji Lestari, Karden Mulya, I Made Tasma
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 17-24; doi:10.21082/jbio.v13n1.2017.p17-24

Abstract:Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan salah satu tanaman yang potensial sebagai penghasil energi alternatif bahan bakar fosil. Informasi mengenai keragaman genetik genus Jatropha spp. sangat penting untuk menentukan arah kegiatan pemuliaan ke depan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keragaman genetik 20 aksesi plasma nutfah Jatropha spp. asal Indonesia dan Thailand menggunakan 20 marka SSR. Sebanyak 129 alel berhasil dideteksi dengan rentang 4-9 alel per lokus dan rerata 6,5 alel. Nilai diversitas gen sebesar 0,53 hingga 0,86 dengan rerata 0,75, sedangkan nilai PIC sebesar 0,49 hingga 0,84 dengan rerata 0,71. Sebanyak 12 marka memiliki nilai PIC > 0,70 dan bersifat informatif untuk membedakan individu jarak. Rerata frekuensi alel utama yang diperoleh sebesar 37% dengan rentang 18–55%. Sebanyak 7 marka SSR mampu membedakan genotipe heterozigot dengan nilai heterozigositas sebesar 0,05 hingga 0,11 dengan rerata 0,03. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa 20 aksesi Jatropha spp. memisah menjadi dua klaster utama pada koefisien kesamaan 0,70. Klaster pertama terdiri atas 17 aksesi J. curcas, sedangkan klaster kedua terdiri atas 3 aksesi, yaitu J. podagrica, J. gossypifolia, dan J. multifida. Data keragaman genetik yang diperoleh pada penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar pemilihan tetua persilangan dalam rangka menghasilkan varietas unggul baru dengan karakter kadar minyak tinggi sesuai yang diharapkan.
R. Heru Praptana, Y. B. Sumardiyono, Sedyo Hartono, Y. Andi Trisyono
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 75-82; doi:10.21082/jbio.v13n2.2017.p75-82

Abstract:Tungro merupakan salah satu penyakit penting pada padi yang menjadi kendala dalam peningkatan produksi padi di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi dua virus yang berbeda secara serologis, yaitu Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV) yang hanya dapat ditularkan oleh wereng hijau, terutama Nephotettix virescens (Distant) secara semipersisten. Informasi keragaman genetik virus tungro diperlukan sebagai pertimbangan dalam pengendalian penyakit tungro menggunakan varietas tahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman genetik RTBV dari tiga daerah endemis virus tungro di Indonesia berdasarkan sekuen basa nukleotida dan asam amino pada open reading frame 2 (ORF2). Isolat RTBV dikoleksi di Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tengah dengan cara penularan virus tungro secara buatan pada bibit padi varietas TN1 menggunakan wereng hijau hasil tangkapan dari lapangan. Analisis homologi sebagian sekuen DNA ORF2 RTBV menunjukkan bahwa ketiga isolat memiliki variasi kesamaan basa nukleotida dan asam amino, berturut-turut 94-98% dan 97-100%. Ketiga isolat berbeda jauh dengan isolat dari negara lain dengan tingkat kesamaan genetik 77-95% berdasarkan sekuen basa nukleotida dan 82-98% berdasarkan sekuen asam amino. Keragaman dan hubungan kekerabatan genetik ketiga isolat RTBV tidak berkorelasi dengan perbedaan geografis asal isolat. Adanya keragaman genetik antarisolat RTBV mengindikasikan bahwa berbagai strategi penggunaan varietas tahan perlu dilaksanakan untuk menjaga durabilitas ketahanan padi.
Yadi Suryadi, Tri Puji Priyatno, I Made Samudra, Dwi Ningsih Susilowati, Tuti Septi Sriharyani, Syaefudin Syaefudin
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 111-122; doi:10.21082/jbio.v13n2.2017.p111-122

Abstract:Anthracnose (Colletotrichum gloeosporioides) is one of the important diseases of fruit crops that need to be controlled. This study was aimed to obtain the best formula of hydrolyzed nano chitosan and its potensial in controlling anthracnose. The hydrolyzed chitosan was prepared using chitinase enzyme extracted from Burkholderia cepacia isolate E76. Chitosan nanoparticles were synthesized using ionic gelation method by reacting hydrolyzed chitosan (0.2%) with Sodium tripolyphosphate (STPP) (0.1%) as cross-linking agent using 30–60 minutes stirring condition. The bioactivity of the nano chitosan formula was tested to C. gloeosporioides under in vitro and in vivo assays. The specific enzymatic activity of the purified chitinase was higher (0.19 U/mg) than that of crude enzyme (supernatant) with the purity increased by 3.8 times. Of the four formula tested, Formula A (hydrolyzed chitosan to STPP volume ratio of 5 : 1 with 60 minutes stirring condition) was found good in terms of physical characteristic of the particle. The formula nano chitosan particle had the spherical-like shape with an average particle size of 126.2+3.8 nm, polydispersity index (PI) of 0.4+0.02, and zeta potential (ZP) value of 27.8+0.2 mV. Nano chitosan had an inhibitory activity to C. gloeosporioides in vitro up to 85.7%. Moreover, it could inhibit 61.2% of C. gloeosporioides spores germination. It was shown that nano chitosan was also effective to reduce anthracnose disease severity in vivo when applied as a preventive measure on chili and papaya fruits. This study could be used as a reference for further fruit coating application using nano chitosan as a promising postharvest biocontrol agent to C. gloeosporioides.
Taruna Dwi Satwika, Iman Rusmana, Alina Akhdiya
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 101-110; doi:10.21082/jbio.v13n2.2017.p101-110

Abstract:Ekspresi gen-gen virulensi pada Dickeya dadantii diatur oleh proses quorum sensing menggunakan asil-homoserin lakton (AHL) sebagai molekul sinyal. Patogenisitas bakteri tersebut dapat dihambat oleh aktivitas quorum quenching (QQ) bakteribakteri penghasil AHL-laktonase. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengarakterisasi bakteri penghasil AHLlaktonase asal rizosfer dan filosfer yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai quorum quencher untuk D. dadantii. Isolasi bakteri dilakukan dari sampel daun dan sampel tanah rizosfer beberapa komoditas tanaman asal Sukabumi, Tegal, Kupang, dan Wonosobo. Sebanyak 8 dari 79 isolat bakteri yang diperoleh menunjukkan aktivitas QQ terhadap bioindikator Chromobacterium violaceum. Bioasai respons hipersensitif (hypersensitive response) yang dilakukan pada tanaman tembakaumenunjukkan enam (KT2, KT9, KT10, KUT1, TKF2, and WKF3) dari delapan isolat tersebut tidak menimbulkan respons hipersensitif. Keenam isolat tersebut mampu menekan virulensi D. dadantii pada umbi kentang. Sekuen 16S rRNA enam isolat tersebut memiliki kemiripan tertinggi dengan Bacillus cereus, B. aryabhattai, B. acidiceler, dan Micrococcus aloeverae. B. cereus KT9 and B. aryabhattai TKF2 terdeteksi memiliki gen penyandi AHL-laktonase (aiiA). Ini merupakan laporan yang pertama tentang aktivitas QQ pada spesies M. aloeverae, B. aryabhattai, and B. acidiceler. Keberadaan gen aiiA pada B.aryabhattai juga belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini memberikan informasi baru tentang aktivitas QQ ketiga isolat tersebut dan potensinya sebagai quorum quencher untuk D. dadantii.
Bahagiawati - Ah, Nurliani Bermawie
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 137-146; doi:10.21082/jbio.v13n2.2017.p137-146

Abstract:Indonesia termasuk lima belas besar negara penghasil tekstil di dunia. Namun, bahan dasar industri tekstil ini, yaitu kapas, 99,5% masih diimpor, padahal lahan potensial untuk penanaman kapas terbilang cukup besar. Ada beberapa hal yang memengaruhi produksi kapas, antara lain belum tersedianya benih kapas bermutu tinggi yang tahan serangan hama dan penyakit. Teknologi rekayasa genetika telah terbukti menghasilkan benih kapas transgenik berpotensi hasil tinggi yang tahan hama utama. Pada tahun 2001–2002, Indonesia pernah menanam kapas transgenik (kapas Bt) terbatas di tujuh kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Pada waktu itu, produksi rerata kapas Bt mencapai 220% lebih tinggi daripada kapas lokal Kanesia. Namun karena beberapa hal penanaman kapas Bt dihentikan. Setelah penanaman kapas Bt terhenti selama lebih kurang 12 tahun, produksi kapas nasional tetap rendah dan cenderung menurun sehingga impor kapas terus meningkat. Kondisi yang berbeda bila dibandingkan dengan negara lain seperti India yang mengalami perkembangan pesat penanaman kapas Bt. Pada tahun 2014, India telah menjadi negara pengekspor kapas utama di dunia mengalahkan Cina dan Amerika Serikat. Berdasarkan pengalaman Indonesia menanam kapas Bt dan keberhasilan yang telah dibuktikan oleh negara lain terutama India dalam meningkatkan produksi kapas, untuk meningkatkan produksi kapas nasional, Indonesia perlu mempertimbangkan untuk menanam kembali kapas Bt di sentra produksi kapas di Indonesia. Tujuan tinjauan ini adalah memberikan informasi tentang pengalaman Indonesia menanam kapas Bt, potensi kapas Bt, dan kebijakan yang disarankan untuk meningkatkan produksi kapas nasional.
I Made Tasma
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 123-136; doi:10.21082/jbio.v13n2.2017.p123-136

Abstract:Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman penghasil minyak nabati yang dapat digunakan sebagai pengganti minyak diesel. Tanaman yang dapat tumbuh pada kondisi lahan kurang subur ini menarik minat banyak pihak untuk mengekplorasi potensinya sebagai tanaman sumber energi yang ramah lingkungan. Namun, masih banyak kendala yang dihadapi dalam pembudidayaannya supaya dapat diusahakan secara ekonomis. Dari aspek bahan tanaman dan budi daya, saat ini tanaman jarak pagar masih belum banyak diketahui. Bahkan, jarak pagar masih dianggap sebagai tanaman yang belum didomestikasikan secara penuh seperti ditunjukkan oleh fakta bahwa sebagian besar genotipe jarak pagar di dunia bijinya toksik sehingga ampas bijinya yang kaya protein tidak dapat langsung digunakan sebagai pakan ternak. Kematangan buah tanaman ini tidak serempak yang menyebabkan biaya panen tinggi. Rasio bunga betina dan bunga jantan yang rendah menyebabkan produktivitas bijinya rendah. Biji jarak pagar mengandung asam lemak poli tidak jenuh yang konsentrasinya perlu diturunkan untuk meningkatkan mutu minyak diesel. Pengetahuan genomika memungkinkan untuk mengetahui komposisi genom, komposisi dan fungsi gen, dan pemetaan genetik (gen/QTL) unggul jarak pagar. Pemahaman ini diperlukan agar genetika tanaman jarak pagar dapat dimanipulasi secara sistematis. Teknologi rekayasa genetika potensial diaplikasikan untuk perbaikan: arsitektur tanaman, karakter agronomis, kualitas biji, produktivitas, dan kualitas minyak. Tujuan tulisan ini ialah mengulas tentang pendekatan bioteknologi dan genomika untuk perbaikan genetik tanaman jarak pagar. Aplikasi bioteknologi memungkinkan untuk mempercepat program pemuliaan tanaman jarak pagar. Dengan bahan tanaman unggul, jarak pagar dapat dibudidayakan sehingga bermanfaat secara ekonomis dengan mutu minyak yang cocok sebagai bahan baku biodiesel.
Sutoro Sutoro, Puji Lestari, Andari Risliawati, Kristianto Nugroho, R. Neni Iriany
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 83-90; doi:10.21082/jbio.v13n2.2017.p83-90

Abstract:Keragaman genetik jagung inbrida diperlukan untuk mendapatkan jagung hibrida yang berpotensi hasil tinggi. Keragaman inbrida dapat dievaluasi melalui analisis molekuler dengan marka simple sequence repeat (SSR). Tujuan enelitian ini adalah mengevaluasi keragaman genetik jagung inbrida yang berlatar belakang genetik berbeda dengan marka SSR dan mengelompokkannyasebagai panduan untuk pembentukan jagung hibrida. Sebanyak sepuluh marka SSR digunakan untuk mengelompokkan 32 jagung inbrida yang memiliki latar belakang genetik yang berbeda. Analisis dilakukan di Laboratorium BiologiMolekuler, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, pada bulan Maret 2017. Data polimorfisme SSR pada jagung inbrida dianalisis secara statistik dan filogeninya menggunakan perangkat lunak NTSYS. Hasil analisis keragaman genetik menunjukkan adanya perbedaan antarinbrida, termasuk inbrida yang dihasilkan dari satu populasi jagung bersari bebas. Total sepuluh marka SSR mampu membedakan alel homozigot dan heterozigot jagung inbrida. Dari hasil pengelompokan jagung inbrida pada tingkat kesamaan 68% diperoleh dua klaster. Klaster pertama terdiri atas 30 inbrida, sedangkan klaster kedua hanya terdiri atas inbrida Al-46 dan 22-9-5-4-17-5. Pasangan inbrida dengan jarak genetik terjauh adalah inbrida 22-9-5-4-17-5 dan 23-4-9-7-2-9, dan inbrida CML161/Nei 9008 dan 22-9-5-4-17-5. Inbrida tersebut potensial untuk dijadikan sebagai tetua dalam menghasilkan hibrida karena jarak genetiknya yang relatif jauh.
Alberta Dinar Ambarwati, Tri Joko Santoso, Edy Listanto, Toto Hadiarto, Eny Ida Riyanti, Kusmana Kusmana, Bambang Sugiharto, Netty Ermawati, Sukardiman Sukardiman
Jurnal AgroBiogen, Volume 13, pp 67-74; doi:10.21082/jbio.v13n1.2017.p67-74

Abstract:Pemanfaatan tanaman kentang produk rekayasa genetik (PRG) dalam pemuliaan tanaman melalui persilangan dengan Atlantic dan Granola telah menghasilkan enam galur PRG hasil silangan yang terseleksi. Sebelum komersialisasi, kentang PRG harus dikaji keamanan pangan dan lingkungannya. Penulisan bertujuan memberikan informasi mengenai tanaman kentang PRG di Indonesia yang tahan terhadap penyakit busuk daun Phytophthora infestans dan telah dinyatakan aman untuk di-konsumsi oleh manusia. Analisis stabilitas menunjukkan bahwa gen RB stabil terintegrasi selama empat generasi klonal ber-urutan dalam genom tanaman kentang PRG dengan satu sisipan gen. Hasil studi komposisi dan nutrisi, glikoalkaloid total, dan anti nutrisi pada kentang PRG Katahdin SP951 dan galur-galur silangannya bersifat sepadan dengan Katahdin non-PRG. Studi toksisitas menunjukkan bahwa pemberian pakan suspensi umbi kentang dan suspensi tepung kentang Katahdin SP951 dan galur-galur silangan tidak berdampak terhadap mortalitas, bobot badan, dan tanda-tanda klinis pada mencit. Protein RB tidak memiliki homologi yang tinggi dengan protein toksin sehingga tidak bersifat toksik. Studi alergenisitas dengan Simulated Gastric Fluid dan Simulated Intestinal Fluid menunjukkan bahwa protein umbi kentang Katahdin SP951 dan galur-galur silangan terdegradasi kurang dari 5 menit inkubasi setelah perlakuan enzim pepsin atau tripsin. Protein RB tidak mempunyai sekuen asam amino yang homolog dengan protein alergen, sehingga tidak berpotensi menimbulkan alergi. Kentang Katahdin SP951 telah dinyatakan aman untuk dikonsumsi melalui Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2016. Tanaman kentang PRG tahan P. infestans yang dapat mengurangi 50% aplikasi fungisida, dan telah mendapat sertifikat aman pangan dan aman lingkungan diharapkan dapat menjadi pilihan untuk dimanfaatkan petani.
Page of 3
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search