Journal BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap

-
271 articles
Page of 28
Articles per Page
by
Thomas Hidayat, Tegoeh Noegroho
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10, pp 17-28; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.17-28

Abstract:Ikan tongkol abu-abu (Thunnus tonggol) tertangkap di Laut Cina Selatan dan bernilai ekonomis penting. Trend produksi berfluktuatif, 2009-2011 meningkat, menurun pada 2013 dan 2015 meningkat kembali. Kondisi fluktuatif juga ditunjukkan dari nilai CPUE jarring insang hanyut. Seiring dengan meningkatnya permintaan, pemanfaatan tongkol abu-abu harus dikelola agar ketersediaannya tetap berkesinambungan. Tujuan penelitian adalah mengkaji biologi reproduksi ikan tongkol abu-abu sebagai bahan kebijakan pengelolaan yang lestari. Kajian yang dilakukan meliputi struktur ukuran, hubungan panjang dan berat, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), rata-rata ukuran pertama kali tertangkap dan matang gonad serta kebiasaan makanan. Pengumpulan sampel dilakukan oleh enumerator di PPN Pemangkat, Kalimantan Barat pada Januari sampai November 2014. Data yang dikumpulkan meliputi panjang, berat, jenis kelamin, tingkat kematangan gonad, dan isi lambung. Hasil penelitian menunjukkan sebaran panjang ikan tongkol abu-abu pada kisaran 29-80 cm dan modus 47-49 cm, pertumbuhan bersifat isometrik, nisbah kelamin jantan dan betina menunjukkan kondisi seimbang, ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) pada panjang 47,8 cm, ukuran pertama kali matang gonad (Lm) 41,1 cm. Dari data TKG dan IKG, prediksi musim pemijahan berlangsung pada Mei dan Agustus. Hasil pengamatan isi lambung menunjukkan bahwa ikan tongkol abu-abu tergolong ikan karnivora. Dari hasil penelitian rekomendasi untuk kebijakan pengelolaan adalah penetapan penutupan musim dan daerah penangkapan pada bulan Mei dan Agustus pada wilayah perairan yang diduga sebagai daerah pemijahan, penetapan kuota ukuran tangkapan lebih besar dari Lm 41,1 cm dan alternatif wisata pancing dengan ukuran mata pancing yang hanya menangkap ukuran yang sudah matang gonad. Longtail tuna (Thunnus tonggol) were caught in the South China Sea has important economic value. The catch trend fluctuates, increases from 2009 - 2011, decreases in 2013 and increase in 2015. Fluctuating condition is also showed from CPUE drift gill net. Along with the escalation demand, the utilization longtail tuna should be managed in order to keep it sustainable. The objective of the research was to study the reproductive biology of longtail tuna as suggestion for sustainable management. Studies performed on the size structure, the length and weight relationship, sex ratio, maturity stage, gonad somatic index (GSI), Length at first capture and Length at first maturity and food habits. Sample collection was conducted by enumerators at Pemangkat Fishing Port, West Kalimantan in January to November 2014. Data containing length, weight, sex, maturity stage, and stomach contents. The results showed that the length of longtail tuna in range of 29-80 cm and the mode of 47-49 cm, the growth is isometric, the sex ratio male and female showed a balanced condition, the average Length at first capture (Lc) at 47.8 cm, Length at...
Umi Chodrijah, Ria Faizah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10, pp 49-55; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.49-55

Abstract:Udang windu merupakan salah satu komoditas ekonomis di Indonesia dan sudah dimanfaatkan serta dikembangkan cukup lama di perairan Tarakan sehingga perlu upaya pengelolaan dengan salah satu dasar kajian biologinya. Penelitian ini membahas beberapa aspek biologi udang windu, meliputi hubungan panjang-berat, nisbah kelamin, kematangan kelamin, serta ukuran rata-rata tertangkap dan matang kelamin. Penelitian dilakukan pada selama bulan Januari-November 2016. Hasil penelitian menunjukkan, dari 2208 ekor contoh udang windu yang dianalisa, ukuran yang tertangkap berkisar antara 21,9-63 mmCL serta hubungan panjang-bobot menyatakan pola pertumbuhan isometrik. Musim pemijahan diduga terjadi sepanjang tahun dengan puncak pemijahan pada bulan Maret-April dan September. Nisbah kelamin udang berada dalam kondisi tidak seimbang dan didominasi oleh betina. Rata-rata ukuran pertama kali tertangkap (Lc) adalah pada panjang karapas 40,69 mmCL serta rata-rata ukuran matang gonad (Lm) udang betina adalah 33,58 mmCL. Tiger shrimp (Penaeus monodon, Fabricus, 1789) was one of economic commodity of shrimp in Indonesia and had been exploited and developed for long time so that necessary management measure based on biology study. The aim of the research was to study of biology aspects of tiger shrimp such as length-weigth relationship, sex ratio, maturity stage and length of first capture (Lc) and length of first maturity (Lm). The research were carried out from January to November 2016 using survey method and the enumeration programme. The result of 2.208 sample of tiger shrimp analyzed showed that size of tiger shrimp between 21.9-63 mmCL with the growth follows a isometric trend. Spawning season occurs throughout the year with peak season in March-April and September. Sex ratio was in an unbalanced condition dominated by females. The length of first capture (Lc) was 40.69 mmCL and length of first maturity (Lm) was 33.58 mmCL.
Tegoeh Noegroho, Thomas Hidayat, Umi Chodriyah, Mufti P Patria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10, pp 69-84; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.69-84

Abstract:Penelitian tentang aspek biologi tenggiri di Indonesia masih jarang dilakukan, padahal upaya pemanfaatannya telah lama dilakukan oleh nelayan. Ikan tenggiri di Teluk Kwandang penangkapannya dilakukan dengan alat tangkap purse seine dan pancing ulur. Data terkait biologi reproduksi ikan tenggiri di perairan Kwandang belum tersedia dengan baik, oleh sebab itu perlu dilakukan kajian yang lebih lengkap. Pelabuhan Perikanan Pantai Kwandang merupakan pelabuhan baru, sehingga informasi terkait perikanan tenggiri pada khususnya sangat bermanfaat dalam pendataan dan rencana pengelolaannya. Penelitian telah dilakukan pada Februari-Desember 2012 di perairan Teluk Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, dengan tujuan mengkaji aspek perikanan meliputi struktur ukuran, panjang bertama kali tertangkap dan biologi reproduksi meliputi: Tingkat Kematangan Gonad, Gonado Somatic Index (GSI), nisbah kelamin, panjang pertama kali matang gonad, diameter dan jumlah telur. Dari penelitian ini diperoleh distribusi ukuran panjang ikan pada kisaran 25-138 cmFL, dengan rata-rata modus 60 cmFL. Panjang pertama kali tertangkap dengan purse seine dan pancing ulur masing-masing 64,7 cmFL dan 71,9 cmFL. Tingkat Kematangan Gonad ikan tenggiri didominasi oleh gonad belum matang 61,2%, dan kondisi matang gonad 38,8%. Puncak Gonado Somatic Index (GSI) terjadi pada bulan Mei, sehingga ikan tenggiri di Teluk Kwandang diduga memijah pada Mei-Juli. Nilai GSI mencapai puncaknya pada panjang ikan 98 cm, dan akan turun pada panjang ikan lebih dari 100 cm. Dari hasil uji chi-square diketahui terdapat perbedaan yang nyata antara jumlah ikan tenggiri jantan dan betina. Panjang pertama kali matang gonad ikan tenggiri adalah 80,4 cm, pada kisaran 79,3-81,6 cm. Jumlah telur ikan tenggiri berkisar antara 417.360-9.476.520 butir pada panjang ikan 65-103 cmFL. Berdasarkan perkembangan diameter telur setiap bulan menunjukkan tipe pemijahan ikan tenggiri adalah asynchronous dengan pola pemijahan partial spawner. Study on biological aspects of spanish mackerel in Indonesia still rarely, whereas the utilization efforts have been done by fishermen. Spanish mackerel in Kwandang Bay are caught with a purse seine and handline. The data related to reproductive biology of mackerel fish in Kwandang waters is not yet available properly, therefore a more complete study needs to be done. Kwandang is a new port, so the information related to Spanish mackerel in particular is very useful in data collection and management plan. The study was conducted in February-December 2012 at Kwandang Bay water, North Gorontalo regency. With the aim of assessing the fishery aspects include the size structure, the length at first captured and reproductive biology aspects such as gonad maturity stage, Gonado Somatic Index (GSI), sex ratio, length at first maturity, number and diameter of oosit. From this research, the fish ditributions between range of 25-138 cmFL, with average mode 60 cmFL. The length at first capture caught...
Aisyah Aisyah Aisyah, Chairulwan Umar, Setiya Triharyuni, Husnah Husnah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10, pp 29-38; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.29-38

Abstract:Ikan bandeng (Chanos chanos) di Waduk Sempor diintroduksi pada tahun 2014 melalui penerapan teknologi perikanan tangkap berbasis budidaya (Culture Based Fisheries, CBF). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan bandeng melalui pengamatan parameter pertumbuhan dan biologi populasinya di Waduk Sempor, Jawa Tengah. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil pencatatan enumerator periode September 2014 sampai– Desember 2015. Kajian dinamika populasi ikan bandeng yang meliputi laju pertumbuhan, laju kematian dan tingkat pemanfaatan mengacu pada persamaan Von Bertalanffy dan turunannya. Aspek biologi meliputi hubungan panjang berat mengacu pada model logistik, serta faktor kondisi, keseluruhan analisis dilakukan secara manual dengan program excel 2007. Hasil penelitian menunjukan bahwa parameter pertumbuhan panjang-asimtotik L∞ = 55,97 cm TL dan K= 0,38 per tahun. Laju kematian total (Z) = 1,17 per tahun, kematian alami (M) = 0,56 per tahun, kematian akibat penangkapan (F) = 0,61 per tahun serta laju eksploitasi (E) = 0,5. Pertumbuhan populasi dan laju pemanfaatan menunjukkan bahwa bandeng sudah dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat di sekitar Waduk Sempor. Milkfish (Chanos chanos) was introduced at 2014 in Sempor Reservoir through culture based fisheries (CBF) technology. This study aims to evaluate population growth of the milkfish in Sempor Reservoir. Data were collected from September 2015 to December 2016, and were analyzed using excel 2007 programe manually. Analysis of length-weight relationship is refers to logistic model, population dynamic like growth rate, mortality and mortality rate are refers to Von Bertalanffy and differentiate of it. Biology of population like length-weight relationship are refers to logistic model, and condition factor. The results showed that growth parameters were L∞ = 55.97 cm TL and K = 0.38 year-1. Total mortality (Z) = 1.17 year-1; M = 0.56 year-1; F = 0.61 year-1; and E=0.5. The growth rate and exploitation rate of Milkfish (Chanos chanos) in Sempor Reservoir has been utilized optimally.
Darwanto Darwanto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10, pp 85-86; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.app.85-app.86

Andi Sagita, Rahmat Kurnia, Sulistiono Sulistiono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10, pp 57-67; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.57-67

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi ekologi untuk pengembangan budidaya kerang hijau di pesisir Kuala Langsa, Aceh. Data ekologi perairan dikumpulkan di 12 titik sampling pada Agustus, September dan Oktober untuk mewakili musim hujan, serta Maret, April dan Mei untuk mewakili musim kemarau. Data dianalisis dengan analisis komponen utama (principal component analysis/PCA). Suhu perairan pesisir Kuala Langsa berkisar 25,5 – 35,6 oC dengan rata-rata 30,5 ± 1,7 oC; salinitas 25,9 – 34,0 ppt dengan rata-rata 29,9 ± 1,3 oC; pH 7,0 – 9,2 dengan rata-rata 8,1 ± 0,3; oksigen terlarut 3,9 – 6,8 mg/l dengan rata-rata 5,5 ± 0,5 mg/l; kecepatan arus berkisar 0,1 – 0,9 m/s dengan rata-rata 0,3 ± 0,1 m/s; serta kelimpahan fitoplankton berkisar 1,32 x 105 sel/m3 hingga 6,86 x 105 sel/m3 dengan rata-rata 3,88 x 105 ± 1,08 x 105 sel/ m3. PCA yang diaplikasikan pada seluruh data menghasilkan dua komponen utama, yaitu PC1 dan PC2 dengan nilai akar ciri (eigenvalue) sebesar 2,096 dan 1,770; dimana PC1 secara kumulatif dapat menjelaskan ragam seluruh data sebesar 34,9% yang dibangun oleh parameter salinitas, suhu dan plankton, sedangkan PC2 sebesar 64,4% yang dibangun oleh parameter oksigen terlarut dan salinitas. Berdasarkan analisis dengan membandingkan parameter ekologi perairan untuk budidaya kerang hijau berdasarkan literatur maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ekologi perairan pada musim hujan dan kemarau dapat mendukung pengembangan budidaya kerang hijau di pesisir Kuala Langsa, Aceh. The research aims to assessment of waters ecology condition for the development of green mussel cultivation in coastal of Kuala Langsa, Aceh. Data of waters ecology parameters collected at 12 sampling points in August, September and October to represent the rainy season, while March, April and May to represent the dry season. Data analyzed using principal component analysis (PCA). Temperature of waters coastal Kuala Langsa ranged from 25.5 – 35.6 oC average of 30.5 ± 1.7 oC; salinity 25.9 – 34.0 ppt average of 29.9 ± 1.3 oC; pH 7.0 – 9.2 average of 8.1 ± 0.3; dissolved oxygen from 3.9 – 6.8 average of 5.5 ± 0.5 mg/l; current velocity of 0.1 – 0.9 m/s average of 0.3 ± 0.1 m/s; and abundance of fitoplankton ranged of 1.32 x 105 cell/m3 to 6.86 x 105 cell/m3. PCA applied to all data produced two principal component is PC1 and PC2 with a eigenvalue of 2.096 and 1.770; where PC1 on cumulatively can explain 34.9% of all data collected, with built by parameters of salinity, temperature and plankton, while PC2 is 64.4% with built by parameters dissolved oxygen dan salinity. Based on the analysis by comparing waters ecology parametes for green mussel culture based on the literature, it can be concluded that the waters ecology condition can support development of green mussel culture in coastal Kuala Langsa, Aceh.
Prihatiningsih Prihatiningsih, Isa Nagib Edrus, Bambang Sumiono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10, pp 1-15; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.1-15

Abstract:Ikan ekor kuning (Caesio cuning) merupakan ikan ekonomis penting dan mendominasi hasil tangkapan bubu di perairan Natuna. Pada saat ini, produksinya merupakan dominan ke-2 setelah ikan bawal putih yaitu 2.891 ton/tahun (17,8% dari total produksi ikan). Populasi ikan ekor kuning sejak tahun 2008 menurun, diduga karena tingkat eksploitasi yang cenderung meningkat. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek biologi, meliputi reproduksi, pertumbuhan dan mortalitas ikan ekor kuning. Contoh ikan sebanyak 2.627 ekor dikumpulkan melalui tempat pendaratan ikan utama di Kijang, Pulau Bintan (Kepulauan Riau) dan Tanjung Pandan (Kepulauan Bangka Belitung) pada bulan Januari - Nopember 2014. Hasil penelitian menunjukkan sebaran ukuran panjang ikan ekor kuning berkisar antara 9,3-43,3 cmTL. Ikan yang tertangkap didominasi oleh belum matang gonad (immature). Musim pemijahannya berlangsung pada bulan Juni-Juli dan September-Oktober. Fekunditas telur yang matang gonad berkisar antara 13.355-151.632 butir. Panjang pertama kali ikan ekor kuning tertangkap dengan bubu adalah lebih kecil dari panjang pertama kali matang gonad (Lc
Tirtadanu Tirtadanu, Suprapto Suprapto, Andina Ramadhani Putri Pane
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10, pp 41-47; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.41-47

Abstract:Kajian tentang komposisi, sebaran dan kepadatan stok udang merupakan informasi penting sebagai evaluasi dampak aktivitas penangkapan udang saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis, sebaran dan kepadatan stok udang pada saat musim selatan di perairan Timur Kalimantan. Penelitian dilakukan pada bulan September – Oktober 2016 menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya IV. Estimasi kepadatan stok menggunakan metode sapuan (swept area method) dengan menggunakan trawl dasar berukuran tali ris atas 36 m. Lama penarikan jaring 1 jam dengan kecepatan kapal sekitar 3 knot. Analisis terhadap 11 stasiun pengamatan yang berhasil menunjukkan komposisi udang terdiri dari 14 spesies yang tergolong dalam 7 genera dan 3 famili. Spesies yang dominan meliputi udang dogol (Metapenaeus ensis), udang windu (Penaeus monodon) dan udang jerbung (Penaeus merguiensis). Berdasarkan lokasinya, kepadatan stok tertinggi ditemukan di sebelah timur Balikpapan dan secara umum kepadatan stok tertinggi ditemukan pada kedalaman kurang dari 40 m. Kepadatan stok udang berkorelasi dengan kedalaman di mana udang jerbung hanya tertangkap pada kedalaman kurang dari 40 m. Udang dogol ditemukan pada kedalaman hingga 60 m namun lebih padat pada kedalaman kurang dari 40 m, sedangkan udang windu lebih padat pada perairan yang lebih dalam yaitu antara 40-60 m. Total kepadatan stok udang pada musim selatan di perairan Timur Kalimantan adalah 16,5 ± 9,7 kg/km2. Study of species composition, distribution and stock density of shrimp was important information to evaluate of the impact of current shrimp fishing to its sustainability. The aim of this research is to study composition, distribution and stock density of shrimps during south monsoon in East of Kalimantan which was conducted in September – October 2016. R.V. Baruna Jaya IV was used as a platform of trawl sampling. Stock density was estimated by swept area method using bottom trawl with headrope length of 36 m. Towing duration of 1 hour and vessel speed around 3 knot. The analysis of successful haul of 11 stations showed that the composition of shrimps consist of 14 species from 7 genera and 3 family. The dominant species (38.4%) were greasyback shrimp (Metapenaeus ensis), while giant tiger prawn (Penaeus monodon) 22.2% and banana prawn (Penaeus merguiensis) 16.7%. Based on the geographic location, the highest stock density was found in East Waters of Balikpapan with depth stratum of less than 40 m. The density of shrimp correlated with depths where banana prawn found in depths of less than 40 m. Greasyback shrimp found in depths of more than 60 m with more abundant in depth less than 40 m, while giant tiger prawn were more abundant in deeper water in depths between 40 – 60 m. Total density of shrimps during south monsoon in East of Kalimantan Waters was 16.5 ± 9.7 kg/km2.
Darwanto Darwanto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 10; doi:10.15578/bawal.10.1.2018.i-vii

Umi Chodrijah, Irwan Jatmiko, Agus Arifin Sentosa
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, Volume 9, pp 175-183; doi:10.15578/bawal.9.3.2017.175-183

Abstract:Hiu kejen atau silky shark (Carcharhinus falciformis) merupakan salah satu spesies hiu dari famili Carcharhinidae yang banyak tertangkap di Samudera Hindia Selatan Jawa. Berdasarkan keputusan sidang CoP-17 di Johannesburg species ini masuk dalam daftar merah Apendik II CITES, sejak saat itu pengelolaan hiu kejen menjadi perhatian khusus pada perikanan tangkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi parameter populasi ikan hiu kejen di perairan Samudera Hindia bagian Selatan Nusa Tenggara. Penelitian dilakukan di Tempat Pendaratan Ikan Tanjungluar, Lombok Timur tahun 2016. Pengukuran contoh hiu meliputi panjang total tubuh, nisbah kelamin serta panjang klasper. Hasil penelitian terhadap 3002 ekor ikan contoh menunjukkan bahwa kisaran panjang total hiu kejen (Carcharhinus falciformis) antara 65-300 cm (betina) dan 74-315 cm (jantan). Rerata ukuran panjang total adalah 187,66 cm (betina) dan 195 cm (jantan). Parameter pertumbuhan menurut Von Bertalanffy, meliputi laju pertumbuhan (K), panjang asimptotik (L) dan umur ikan pada saat panjang ke-0 (t0), masing-masing sebesar 0,42/tahun; 331,28 cmTL dan -0,20/ tahun. Persamaan kurva pertumbuhan von Bertalanffy untuk hiu kejen yaitu Lt = 331,28[1–e–0.,42(t+0.20)]. Parameter mortalitas hiu kejen meliputi laju kematian total (Z), laju kematian alamiah (M) dan laju kematian karena penangkapan (F) masing-masing sebesar 2,79/tahun; 0,49/tahun dan 2,30/tahun. Laju eksploitasi (E) hiu kejen sebesar 0,82 menandakan eksploitasi terhadap spesies ini cenderung sudah tinggi.Silky shark (Carcharhinus falciformis) is one of the family Carcharhinidae that commonly caught in the Indian Ocean South of Java. The purpose of this study was to obtain information on the populations parameters of silky shark caught in the waters of Indian Ocean Southern part of Nusa Tenggara. The study was conducted at fish landing sites in Tanjungluar, East Lombok from January to December 2016. The method used in this research was survey method. Observations included total body length, sex ratio and clasper length measured with direct measurements and visual observations in the field. From a total 3002 fish samples showed that the total length range for silky shark (Carcharhinus falciformis) caught in the waters of the Indian Ocean landed in Tanjungluar were between 65-300 cm TL (female) and 74-315 cmTL (male), with the average length of 187, 66 cmTL (female) and 195 cm TL (male). The estimated Von Bertalanffy growth parameters of length infinity (L), growth rate (K) and theoretical age of fish at zero length (t0) were 331.28 cmTL, 0.42 / year and -0.20 years, respectively. The Von Bertalanffy growth equation for silky shark was Lt = 331.28 [1-e-0.42(t+0.20)]. The calculated Parameters for silky shark mortality including total mortality rate (Z), the natural mortality rate (M) and the fishing mortality rate (F) were 2.79 / year, 0:49 / year and 2.30 / year, respectively. The exploitation rate (E) of silky shark of...
Page of 28
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search