Journal Jurnal Penelitian Tanaman Industri

-
58 articles
Page of 6
Articles per Page
by
Djajadi Djajadi, Sulis Nur Hidayati
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 26-35; doi:10.21082/littri.v23n1.2017.26-35

Abstract:ABSTRAKPada umumnya petani tembakau cerutu Besuki NO memberikan pupuk dengan dosis dan waktu pemberian berlebihan dengan jenis pupuk N-amonium, sehingga menyebabkan bertambahnya biaya pupuk dan penurunan mutu tembakau. Penelitian yang dilakukan di Desa Ampel Kecamatan Wuluhan, Jember pada musim tanam 2015 ini bertujuan mengetahui pengaruh paket pupuk majemuk NPK terhadap pertumbuhan, produksi, dan mutu tembakau cerutu Besuki NO. Penelitian didesain menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 9 perlakuan paket pemupukan yang diulang tiga kali. Perlakuan paket pemupukan meliputi sumber pupuk majemuk NPK, KNO3, dan KS, dikombinasikan dengan frekuensi pemupukan sebanyak 3 dan 4 kali, sehingga diperoleh 8 paket pemupukan, yang dibandingkan dengan paket pemupukan petani (650 kg Urea + 25 kg SP36 +100 kg ZA +200 kg KS). Hasil penelitian menunjukkan paket dosis petani (650 kg Urea + 25 kg SP36 +100 kg ZA +200 kg KS per hektar diberikan 4 kali menghasilkan produksi basah tertinggi (19,6 ton/ha). Namun demikian hasil tertinggi produksi kering (2,5 ton/ha) dan indeks tanaman (69,75) diperlihatkan oleh tembakau yang dipupuk dengan 250 kg NPK + 100 kg Urea + 200 kg ZA + 150 kg KS + 100 kg KNO3 per hektar dengan frekuensi pemberian 3 kali, yaitu saat tembakau berumur 3, 15, dan 30 hari setelah tanam.Kata kunci: pupuk majemuk, tembakau cerutu, produksi, indeks mutu, indeks tanamanABSTRACTFarmers of Besuki NO cigar tobacco use single fertilizer of ZA or Urea (as a source of N-ammonium), and SP36 (as source of P) in excessive rates which may increase cost of fertilizing and reduce tobacco quality. The experiment which was carried out at Ampel village, District of Wuluhan, Jember in 2015 had an objective to quantify the effect of NPK compound fertilizer on growth, yield, and quality of Besuki NO cigar tobacco. Treatments were packages of fertilizing which include source of compound fertilizer (NPK, KNO3, and KS) and frequency of fertilizer addition (3 and 4 times). The research used Randomized Block Design with 9 treatments of fertilizer package and they were repeated three times. As much 8 treatments of fertilizer packages were compared with farmers fertilizer package (650 kg Urea + 25 kg SP36 +100 kg ZA +200 kg KS with 4 times application). Results showed that the highest fresh yield of cigar tobacco (19,6 tons/ha) was produced by farmers package. However, the high dried leaves (2,5 ton/ha) and crop index (69,75) were yielded by tobacco with 250 kg NPK + 100 kg Urea + 200 kg ZA + 150 kg KS + 100 kg KNO3 per hectare which were applied 3 times.Keywords: NPK fertilizer, cigar tobacco, yield, grade index, crop index
Robet Asnawi, Ratna Wylis Arief, Zahara
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 1-10; doi:10.21082/littri.v23n1.2017.1-10

Abstract:ABSTRAKLuas area dan produksi lada di Provinsi Lampung terus berkurang dari tahun ke tahun dan terancam punah jika tidak segera dilakukan penanganan secara serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengelolaan faktor internal usahatani terhadap produktivitas lada di Provinsi Lampung yang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam penyusunan kebijakan pengembangan lada ke depan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Lampung Utara, Lampung Timur, dan Way Kanan, mulai bulan Maret sampai Desember 2014. Kajian ini menggunakan metode survei dan wawancara dengan bantuan kuisioner terstruktur dengan jumlah petani sampel 180 orang yang distratifikasi berdasarkan: a) petani yang pernah menanam lada tetapi saat ini tidak lagi menanam lada; b). petani yang menanam lada dengan introduksi teknologi minimal (konvensional dan seadanya); dan c) petani lada yang menanam lada dengan rekomendasi paket teknologi Badan Litbang Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan faktor internal usahatani lada yang mempengaruhi produksi lada di Lampung adalah luas areal, pemupukan NPK Phonska, pemupukan SP36, dan penerapan pola tanam lada monokultur. Upaya peningkatan produksi lada di Lampung dapat ditempuh melalui penambahan luas areal lada yang didukung dengan penanganan intensif melalui penerapan teknologi budidaya dengan benar seperti pemupukan NPK Phonska, SP36, dan penerapan pola tanam lada monokultur. Perkembangan harga lada yang relatif baik pada dua tahun terakhir dapat dijadikan momentum untuk kebangkitan kembali perladaan di Lampung. Dukungan inovasi teknologi perlu ditingkatkan melalui pendampingan dan pengawalan penerapan SOP disertai peningkatan akses petani terhadap input produksi terutama ketersediaan pupuk.Kata kunci : lada, faktor teknis, sosial-ekonomi, produktivitasABSTRACTArea and pepper production in Lampung were decreased from time to time and potential to become extinct if it isnt immediate treatment seriously. The study were to analyze the effect of internal factors of farming management on pepper productivity in Lampung Province which is expected to provide benefits for preparing pepper development policy in the future. The study was conducted in North Lampung, East Lampung, and Way Kanan regency, from January to December 2014. The study used survey methods and interview with structured questionaire with sample of 180 people which are stratified by: a) farmers who have planted pepper but he is not planting pepper anymore; b) farmers growing pepper with conventional technology introduction; and c) farmers who plant pepper with recommendations technology package of IAARD. The results showed that technically of internal pepper farm management factors that affect on pepper production in Lampung is acreage, NPK Phonska, SP36 fertilization, and application of pepper monoculture cropping. Efforts to increase pepper production in Lampung could be achieved through the addition of pepper acreage supported with intensive handling pepper plants through cultivation technology properly such as NPK Phonska fertilization, SP36 fertilization, and the application of pepper monoculture cropping. The development of a relatively good price of pepper last two years should be a momentum for the revival pepper in Lampung. Support technological innovation needs to be improved through the assistance and support on the implementation of SOP accompanied by an increase farmers' access to production inputs especially fertilizer.Keywords: pepper, technical factor, socioeconomic factor, productivity
Efi Taufiq, Hasim Hasim, Bonny Pw Soekarno, M. Surahman
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 18-25; doi:10.21082/littri.v23n1.2017.18-25

Abstract:ABSTRAKPenyakit busuk pucuk vanili (BPV) merupakan salah satu penyakit penting vanili yang berpotensi mengurangi produksi vanili di Indonesia. Penyakit BPV di Indonesia umumnya merusak pembibitan, namun akibat perubahan iklim yang ekstrim, serangan penyakit BPV pada tanaman vanili dewasa di kebun mengalami peningkatan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui keefektifan Trichoderma sp. dan Fusarium non patogenik (FusNP) dalam mengendalikan penyakit BPV di kebun vanili. Penelitian lapangan dilakukan di KP Sukamulya, Sukabumi mulai November 2015 - Juli 2016. Pengujian residu fungisida sintetik dilakukan di Laboratorium Residu Bahan Agrokimia Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Laladon Bogor. Penelitian terdiri atas lima perlakuan yaitu pemberian substrat Trichoderma sp. (T), penyemprotan suspensi konidia FusNP (F), kombinasi Trichoderma sp. dan FusNP (TF), fungisida sintetik mancozeb (M) dan kontrol (K). Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK), tiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Variabel yang diamati adalah gejala dan keparahan penyakit, curah hujan, dan residu fungisida sintetik. Data dianalisis dengan Uji Tukey pada selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma sp. dan FusNP cukup efektif mengendalikan penyakit BPV di lapangan, setara dengan keefektifan fungisida sintetik yaitu kejadian penyakit berkisar 2 - 5%, sedangkan kontrol mencapai 32%. Perkembangan penyakit BPV dipengaruhi oleh curah hujan, semakin tinggi curah hujan semakin tinggi intensitas serangan penyakit BPV. Penggunaan fungisida sintetik secara intensif menyebabkan pencemaran lingkungan berupa residu pestisida pada daun, buah, dan tanah rizosfer vanili..Kata kunci: busuk pucuk vanili, Phytophthora. capsici, agens hayati. ABSTRACTVanilla shoot rot disease (VSR) is one of important disease that potentially reduces Indonesia’s vanilla production. The VSR disease is prevalently developing in the nursery, but due to the extreme climate change, the disease occurrence in the garden has increased recently. A present study was aimed to assess the effectiveness of Trichoderma sp. and non-pathogenic Fusarium (NPF) in controlling the VSR disease in the garden. An experiment was conducted in a vanilla garden at KP Sukamulya, Sukabumi November 2015 - July 2016. The study consisted of five treatments that were application of Trichoderma sp. substrate (T) onto the vanilla tips, spraying the conidial suspension of FusNP (F), a combine application of Trichoderma sp. and FusNP (TF), synthetic fungicide mancozeb (M) and the control (K). The treatments were arranged in a randomized block design, replicated five times each. The variables measured were the incidence and severity of VSR diseases monthly, residue of synthetic fungicides and rainfall. The results showed that application of Trichoderma sp. sp. and NPF reduced the disease severity of VSR 3 % and 5 % respectively than the one of control. While the fungicide application was 3% lower than the control. The VSR disease progress is affected significantly by rainfall period. Keyword: vanilla shoot rot disease, Phytophthora capsici. Bioagent.
Sesanti Basuki, Sudarsono Sudarsono
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 36-44; doi:10.21082/littri.v23n1.2017.36-44

Abstract:AbstrakGen PMT adalah gen penyandi enzim putresina N-metiltransferase (PMT) yang berperan dalam lintasan biosintesis nikotin pada tanaman tembakau (Nicotiana tabacum). Sepuluh varietas tembakau yang memiliki perbedaan tingkat kadar nikotin diuji untuk mempelajari: (1) keragaman runutan basa parsial gen PMT dari masing-masing varietas, dan (2) kekerabatan antara sepuluh varietas tembakau yang diuji berdasarkan keragaman runutan basa parsial gen PMT. Keragaman runutan basa dianalisis dengan mensejajarkan data runutan basa dari sepuluh varietas tembakau yang diuji dengan runutan basa dari Ntpmt_Sindoro1 (JQ438825) yang telah tersimpan dalam database genbank NCBI. Hasil pensejajaran digunakan untuk menghitung matriks jarak, yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis hubungan kekerabatan diantara sepuluh varietas tembakau. Hasil analisis memperlihatkan adanya variasi ukuran dan jumlah runutan basaparsial gen PMT asal sepuluh varietas tembakau yang dianalisis. Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa runutan basa parsial gen PMT tersebut berasal/diturunkan dari sumber (ancestor) yang sama dan terkait dengan biosintesis nikotin pada tembakau. Runutan basaparsial gen PMT dari sepuluh varietas yang dianalisis memisahkan antara kelompok tembakau introduksi (kadar nikotin rendah-sedang) dengan kelompok tembakau lokal (kadar nikotin sedang-tinggi). Dua kelompok memisah berdasarkan level kadar nikotin, danperbedaan/perubahan susunan basa pada situs-situs tertentu dari runutan basaparsial gen PMT yang dianalisis. Informasi tentang mutasi yang terjadi pada situs-situs runutan basa dari parsial gen PMT dapat digunakan untuk mempelajari keterkaitan antara perubahan basa pada fragmen gen PMT dengan kandungan nikotin total tembakau yang terjadi selama proses evolusi.Kata kunci: Analisis pengelompokkan, gen PMT,Nikotin, Nicotiana tabacum Abstract PMT gene is the gene encoded putrescine N-methiltransferase which is related to nicotine biosinthesis in tobacco (Nicotiana tabacum). Ten tobacco varieties with different nicotine level were used inthis study. The aims of this study were: (1) to analyze thepartial PMT gene sequence diversity among ten tobacco varieties, and (2) to evaluate the closed-relationship amongten tobacco varieties based on their partialPMT gene sequences diversity.Sequence diversity was analyzed by multiple sequence alignment between the partialPMT gene sequence of the ten tobacco varietiesand Ntpmt_Sindoro1 sequence deposited in the NCBI gene-bank database.The phylogenetic relationship amongthe sequences was inferred by genetic distancebetween pairs of sequences using the pairwise and multiple sequence alignment analysis. Analysis of the sequences showed that all varieties analyzed had varied in size and number of the PMT gene fragments yielded. The analysis also revealed that thepartialPMT gene sequencesarecoming from the same ancestor which related to nicotine biosynthesis in tobacco. Phylogenetic analysis separated the partialPMT gene sequences into two different branches significantly (bootstrap value = 100), and clustered together based on tobacco types with different nicotine level in whichcould be due to some baseschanged on the specific sites of thePMT gene sequences. This information could be used to study the relationship between some bases changed on the specific sites of thePMT gene sequences and the nicotine content variation yielded by the ten tobacco varieties that is happened during evolution time.Key words: Clustering analysis, PMT gene, nicotine, Nicotiana tabacum
Joko Pitono, Nur Maslahah, Setiawan Setiawan
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 23, pp 55-62; doi:10.21082/littri.v23n1.2017.55-62

Abstract:Tanaman hydraulic lift (HL) dilaporkan dapat memasok air pada tanaman lain di sekitarnya saat periode kekeringan. Hasil studi sebelumnya menunjukkan jambu mete memiliki kemampuan HL, namun belum diketahui potensi pasokan airnya. Penelitian ini dilakukan di komplek rumah kaca Cimanggu antara Mei-November 2016 dengan tujuan mengevaluasi kemampuan pasokan air dari hydraulic lift jambu mete pada periode kekeringan dan efeknya terhadap status air jaringan jagung yang tumbuh di sekitarnya. Jambu mete varietas B-02 dan jagung varietas Lamuru ditanam berdampingan pada pot dengan desain khusus, yang diatur dalam tiga kondisi perlakuan, yakni selalu berkecukupan air (B), kekeringan tanpa ada akses HL jambu mete (K), dan kekeringan dengan akses HL jambu mete (H). Ketiga perlakuan kondisi tanaman tersebut ditempatkan di rumah kaca dalam rancangan acak kelompok dengan sembilan ulangan. Hasil penelitian menunjukkan HL jambu mete dapat memasok air pada jagung, sehingga pada periode kekeringan tingkat lanjut, lengas tanahnya menjadi lebih tinggi ± 2,5% dibandingkan jagung tanpa akses HL jambu mete. Adanya pasokan air tersebut menyebabkan status air jaringan jagung selama periode kekeringan menjadi lebih baik dengan tingkat penurunan nilai dari kondisi kecukupan air pada potensial air daun, transpirasi, dan fotosintesis berturut-turut hanya sekitar 30%, 36%, dan 32%, dibandingkan penurunan nilai tersebut pada kondisi tanpa akses HL jambu mete yang mencapai 40%, 70%, dan 66%. Hasil penelitian ini memperlihatkan pasokan air pada jagung oleh HL jambu mete cukup efektif pada periode kekeringan, dan membantu meringankan efek stres kekeringan pada jagung sehingga dapat memelihara status air jaringannya tetap baik.
Nfn Khaerati, Suryo Wiyono, Efi Toding Tondok
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 22, pp 1-10; doi:10.21082/littri.v22n1.2016.1-10

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Sari Intan Kailaku, Budi Setiawan, Ahmad Sulaeman
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 22, pp 43-51; doi:10.21082/littri.v22n1.2016.43-51

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Rossa Yunita, Ika Mariska, Ragapadmi Purnamaningsih, Endang Gati Lestari, Sri Utami
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 22, pp 37-42; doi:10.21082/littri.v22n1.2016.37-42

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Rusli Anwar, Santun Rp Sitorus, Anas Miftah Fauzi, Nfn Widiatmaka, Nfn Machfud
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 22, pp 11-18; doi:10.21082/littri.v22n1.2016.11-18

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Cheppy Syukur, Nfn Sukarman, Nurliani Bermawie
Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Volume 22, pp 29-36; doi:10.21082/littri.v22n1.2016.29-36

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Page of 6
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search