Refine Search

New Search

Advanced search

Journal Gorontalo Agriculture Technology Journal

-
16 articles
Page of 2
Articles per Page
by
Yulianti Yulianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 8-15; doi:10.32662/gatj.v1i2.411

Abstract:Ubi jalar salah satu jenis umbi-umbian yang mengandung karbohidrat yang tinggi. Pengolahan ubi jalar menjadi mie kering sudah dilakukan namun mie kering yang dihasilkan mengandung protein yang rendah sehingga perlu ditambahkan alternatif sumber protein dari bahan lain seperti tepung ikan cakalang. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan (A1: tepung ubi jalar 20%, tepung ikan cakalang 50%, tepung terigu 30%, A2 : tepung ubi jalar 50%, tepung ikan cakalang 30%, tepung terigu 20%, dan A3: tepung ubi jalar 70%, tepung ikan cakalang 20%, tepung terigu 10%,) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein mie kering yang dihasilkan berkisar antara 10-11,93% dan kadar karbohidrat 31-35%. Sedangkan uji organoleptik menunjukkan panelis agak suka pada perlakuan A1 dan A2 sedangkan perlakuan A3 disukai oleh panelis baik dari segi warna, aroma, rasa, dan tekstur.
Andi Lelanovita Sardianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 16-27; doi:10.32662/gatj.v1i2.412

Abstract:Pengolahan gula aren merupakan bentuk usaha kecil yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Gula aren diolah dari nira, nira terkandung dalam beberapa tumbuhan dari suku Arecaceae, salah satunya adalah terdapat pada pohon aren (Arenga pinnata). Gula aren merupakan produk yang berpotensi menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan input dengan hasil produksi gula merah pada pengrajin di Desa Cammilo Kecamatan Kahu Kabupaten Bone. Metode pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan metode sensus dengan jumlah populasi sebanyak 30 produsen gula merah yang dijadikan sebagai responden penelitian di Desa Cammilo Kecamatan Kahu Kabupaten Bone.Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa input produksi seperti nira aren, modal, tenaga kerja, bahan tambahan, dan jumlah pohon yang dimiliki ternyata memiliki hubungan input produksi yang sangat kuat pada pengrajin, sedangkan input alat-alat yang dimiliki, pengalaman dan umur pengrajin memiliki hubungan input dengan produksi pengrajin yang cukup rendah. Lain dari pada itu input lama pendidikan tidak memiliki hubungan dengan hasil produksi pengrajin.
Tuti Rostianti, Dini Nur Hakiki, Ani Ariska, Sumantri Sumantri
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 1-7; doi:10.32662/gatj.v1i2.410

Abstract:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi sifat fisiko-kimia Talas Beneng yang berasal dari Pandeglang, Banten. Analisis proksimat, keputihan, pati total, dan karakteristik pasta ditentukan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik Pertanian, IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat masing-masing 10,46%, 4,85%, 0,28%, 3,4%, 82,56%. Rendemen berkisar antara 20-30% dengan derajat putih 84,96%. Tepung talas beneng ditandai dengan gelatinisasi awal pada 83.35o. Kemunduran tepung talas beneng sebesar 582 cP, ini berarti kecenderungan retrogradasi yang tinggi. Tepung talas beneng dapat dibuat produk yang membutuhkan tepung protein rendah dan memiliki karakteristik tidak tahan panas
Wanti Dewayani, Riswita Syamsuri, Nurjanani Nurjanani, Warda Halil
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 27-34; doi:10.32662/gatj.v1i2.420

Abstract:Pengkajian ini dilaksanakan di lahan petani, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Kemudian buah diangkut ke laboratorium BPTP untuk perlakuan dan pengamatan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terpisah dengan 3 ulangan. Induk petak adalah perlakuan kemasan terdiri dari 2 faktor yaitu a) dos karton dan b) karung plastik (cara petani). Anak petak terdiri dari 2 faktor yaitu disekat dan tidak disekat dan anak-anak petak adalah pelilinan terdiri dari 2 faktor yaitu dililin dan tidak dililin. Pengamatan dilakukan pada saat sebelum dikirim di makassar dan setelah diangkut di Bogor. Pengamatan dilakukan terhadap berat buah, lingkar buah, kadar gula, kadar asam dan vitamin C. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik pada buah jeruk Pamelo setelah pengangkutan dari Makassar ke Bogor adalah kemasan dos karton yang disekat dan dililin dengan susut bobot terkecil (1,76 – 1,95%), lebar buah normal (14,5 – 19,3 cm), kandungan vitamin C paling tinggi (24,02 – 34,36%), kadar asam (65,00 – 68,74%) dan kadar gula tinggi (8,85 – 11,79 Brixo). Perlakuan yang masih disukai rasanya oleh panelis setelah pengangkutan adalah jeruk pamelo yang dikemas dalam dos, disekat tanpa pelilinan, karung disekat baik dililin maupun tanpa dililin dengan tingkat kesukaan 55%. Sedangkan aroma jeruk masih tetap baik setelah pengangkutan dan tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan dengan tingkat kesukaan 67,5 % - 85,00 %. Penampilan yang paling disukai panelis setelah pengangkutan adalah perlakuan pelilinan yang dikemas dalam dos baik disekat maupun tidak disekat
Yulianti Yulianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 8-15; doi:10.32662/gatj.v1i2.418

Abstract:Ubi jalar salah satu jenis umbi-umbian yang mengandung karbohidrat yang tinggi. Pengolahan ubi jalar menjadi mie kering sudah dilakukan namun mie kering yang dihasilkan mengandung protein yang rendah sehingga perlu ditambahkan alternatif sumber protein dari bahan lain seperti tepung ikan cakalang. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan (A1: tepung ubi jalar 20%, tepung ikan cakalang 50%, tepung terigu 30%, A2 : tepung ubi jalar 50%, tepung ikan cakalang 30%, tepung terigu 20%, dan A3: tepung ubi jalar 70%, tepung ikan cakalang 20%, tepung terigu 10%,) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein mie kering yang dihasilkan berkisar antara 10-11,93% dan kadar karbohidrat 31-35%. Sedangkan uji organoleptik menunjukkan panelis agak suka pada perlakuan A1 dan A2 sedangkan perlakuan A3 disukai oleh panelis baik dari segi warna, aroma, rasa, dan tekstur.
Andi Lelanovita Sardianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 16-26; doi:10.32662/gatj.v1i2.419

Abstract:Pengolahan gula aren merupakan bentuk usaha kecil yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Gula aren diolah dari nira, nira terkandung dalam beberapa tumbuhan dari suku Arecaceae, salah satunya adalah terdapat pada pohon aren (Arenga pinnata). Gula aren merupakan produk yang berpotensi menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan input dengan hasil produksi gula merah pada pengrajin di Desa Cammilo Kecamatan Kahu Kabupaten Bone. Metode pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan metode sensus dengan jumlah populasi sebanyak 30 produsen gula merah yang dijadikan sebagai responden penelitian di Desa Cammilo Kecamatan Kahu Kabupaten Bone.Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa input produksi seperti nira aren, modal, tenaga kerja, bahan tambahan, dan jumlah pohon yang dimiliki ternyata memiliki hubungan input produksi yang sangat kuat pada pengrajin, sedangkan input alat-alat yang dimiliki, pengalaman dan umur pengrajin memiliki hubungan input dengan produksi pengrajin yang cukup rendah. Lain dari pada itu input lama pendidikan tidak memiliki hubungan dengan hasil produksi pengrajin.
Tuti Rostianti, Dini Hakiki, Ani Ariska, Sumantri Sumantri
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 1-7; doi:10.32662/gatj.v1i2.417

Abstract:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi sifat fisiko-kimia Talas Beneng yang berasal dari Pandeglang, Banten. Analisis proksimat, keputihan, pati total, dan karakteristik pasta ditentukan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik Pertanian, IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat masing-masing 10,46%, 4,85%, 0,28%, 3,4%, 82,56%. Rendemen berkisar antara 20-30% dengan derajat putih 84,96%. Tepung talas beneng ditandai dengan gelatinisasi awal pada 83.35o. Kemunduran tepung talas beneng sebesar 582 cP, ini berarti kecenderungan retrogradasi yang tinggi. Tepung talas beneng dapat dibuat produk yang membutuhkan tepung protein rendah dan memiliki karakteristik tidak tahan panas
Muh Arsyad
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 35-46; doi:10.32662/gatj.v1i2.424

Abstract:Selai merupakan produk makanan semi basah yang berbentuk setengah padat dan dibuat dari campuran gula, buah, dan pektin. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh konsentrasi gula yang tepat pada pembuatan selai kelapa muda dan tingkat penerimaan panelis terhadap selai kelapa muda dengan penambahan konsentrasi gula. Percobaan meliputi 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah penambahan gula yaitu 300 g, 330 g, 360 g, 390 g. Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar protein, kadar gula, dan uji organoleptik terhadap rasa, aroma, tekstur, dan warna selai kelapa muda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan gula memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar protein, dan kadar gula selai kelapa muda. Penambahan gula 300 g menghasilkan selai kelapa muda dengan rasa manis yang cukup. Rasa khas dari buah kelapa muda masih terasa dan aroma tidak hilang serta tekstur yang lembut. Sedangkan warna selai kelapa muda panelis lebih menyukai penambahan gula 390 g dikarenakan warna yang kecoklatan sehingga menarik perhatian panelis. Untuk segi rasa, tekstur, dan aroma panelis lebih menyukai selai dengan penambahan gula 300 g, sedangkan dari segi warna panelis lebih menyukai selai dengan penambahan gula 390 g.
Irma Hasan
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 59-67; doi:10.32662/gatj.v1i1.168

Abstract:Waste oil is the result addition to the manufacture of coconut milk, coconut meat processed into coconut oil of processing way wet be procured byproduct waste oil. until now utilization is limited to feed and partly be Tempe bongkrek for food. based on the analysis of waste oil still high-value when used as the flour for food ingredients high protein. this study aims untukmengetahui the influence of waste oil terhada water content, karbohidat and organoleptic (color, taste, aroma and texture) brownies.manfaat this study is to provide information on the broad about making brownies with the addition of flour waste oil and can be applied to the product food economic value because flour waste oil has a high content protein, low fat, and gluten-free. this study using the method is composed of creation phase flour waste oil and making process brownies. engineering data processing using the design of randomized complete (RAL), which consists of three treatment and three replicates. brownies the generated then in the test of the content of water content, level of carbohydrate and test organoleptic (color, taste, aroma and texture). of research results brownies of wheat flour and flour dregs coconut obtained highest average that is in the treatment with a comparison of wheat flour 55 grams and flour dregs coconut 45 grams with water content 39,0%, comparison of wheat flour 75 grams and flour dregs coconut 25 grams grading carbohydrates 45,8% and test organoleptic each preferred by panelists terms of aroma, color, taste. Keywords : Sago Flour, All Purpose Flour, Bread Flour, The Addition Of Sago
Satria A Makmur
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 1-9; doi:10.32662/gatj.v1i1.161

Abstract:Expect this research can provide information about the utilization of sago flour becomes economically benilai products that can be used in the manufacture of food products and then give you information on how to manufacture of sago flour with sweet bread. This research was carried out in the laboratory of Agricultural Technology Courses in February of the year 2017. The materials used in this study was powdered sugar, instant yeast, milk powder, salt, emulsifier, fresh milk, flour and sago appropriate treatment, egg yolks, butter and water ice. While the instrument used was a knife, a plastic sink, oven, baking pans, mixers, Cain and scales. This research method using a complete randomized design (RAL) consisting of three treatment addition of sago flour with wheat flour as much as 3 times. a sweet bread in the produce in a test of water content, rate of carbohydrates and organoleptic (taste, colour, texture and aroma) of research results of research regarding the addition of hasi flour with flour in bread making sago sweet get averages – average water content (33.30%) levels of carbohydrates (61.45%) on different treatment – different. A test of the level of fondness toward color, flavor, aroma and texture the highest results contained on the A3 where a 50% wheat flour and sago flour 50% because many of the panelists liked the organoleptic. Keywords : Sago Flour, All Purpose Flour, Bread Flour, The Addition Of Sago
Page of 2
Articles per Page
by