Refine Search

New Search

Advanced search

Journal Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan

-
133 articles
Page of 14
Articles per Page
by
Tati Barus, Fransiska Maya, Anastasia Tatik Hartanti
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Volume 8; doi:10.17728/jatp.3761

Abstract:Kualitas tempe ditentukan oleh mikroorganisme yang berperan selama proses fermentasi berlangsung. Mikroorganisme utama dalam fermentasi tempe adalah Rhizopus spp. yang sekarang umumnya berasal dari salah satu jenis laru komersial. Akibatnya, keragaman Rhizopus spp. yang digunakan pada fermentasi tempe mengalami penurunan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang peran beberapa galur R. microsporus yang berasal dari “laru tradisional” dalam menentukan kualitas tempe. Tempe diproduksi menggunakan R. microsporus TB 23 (Tempe TB 23), R. microsporus TB 32 (Tempe TB 32), R. microsporus TB 51 (Tempe TB 51), R. microsporus TB 55 (Tempe TB 55) dan tempe menggunakan laru komersial (Tempe K). Kualitas tempe ditentukan melalui pengukuran tekstur, warna, cita rasa, aktivitas antioksidan, dan komposisi kimia (kadar air, kadar lemak, kadar protein, dan kadar serat kasar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekstur, warna, dan cita rasa dari Tempe TB 23, Tempe TB 32, dan Tempe TB 55 sama dengan Tempe K. Demikian juga komposisi kimia Tempe TB 23, Tempe TB 32, dan Tempe TB 55 hampir sama dengan Tempe K. Namun aktivitas antioksidan ketiga jenis tempe tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan Tempe K. Tekstur, warna, dan komposisi kimia Tempe TB 23, Tempe TB 32, dan Tempe TB 55 bersama dengan Tempe K memenuhi syarat mutu tempe yang ditetapkan di Indonesia, yaitu yang tertera pada SNI 3144:2015. Oleh karena itu kesimpulannya adalah R. microsporus TB 23, R. microsporus TB 32, dan R. microsporus TB 55 memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai laru komersial untuk fermentasi tempe.The Role of Some Strains of Rhizopus microsporus Originating from “laru tradisional” in Determining Tempe Quality AbstractThe quality of tempe was determined by involved microorganisms. The main microorganism in tempe fermentation is Rhizopus spp. which now generally comes from one type of commercial laru. As a result, the diversity of Rhizopus spp. in tempe has decreased. Therefore, this study aims to obtain information about the role of several strains of R. microsporus originating from "laru tradisional" in determining the quality of tempe. Tempe was produced using R. microsporus TB 23 (Tempe TB 23), R. microsporus TB 32 (Tempe TB 32), R. microsporus TB 51 (Tempe TB 51), R. microsporus TB 55 (Tempe TB 55), and tempe using commercial laru (Tempe K). The quality of tempeh was determined through measurements of texture, color, taste, antioxidant activity, and chemical composition (moisture content, fat content, protein content, and crude fiber content). The results showed that texture, color and taste of Tempe TB 23, Tempe TB 32, Tempe TB 55 were similar as compared to Tempe K. The antioxidant activity of the three types of tempe was higher than Tempe K. The chemical composition of the three types of tempeh was almost similar compared to Tempe K. Texture, color and chemical composition of Tempe TB 23, Tempe TB 32, Tempe TB 55 and Tempe K has...
Yessy Tamu Ina, Widiyanto Widiyanto, Valentinus Priyo Bintoro
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Volume 8; doi:10.17728/jatp.3760

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisikokimia pada dendeng sapi setelah dilakukan perendaman dengan gula kelapa dan madu. Penelitian ini terdiri atas 4 perlakuan variasi konsentrasi gula kelapa dan madu, yaitu: 30:0%, 22,5:7,5%, 15:15%, 7,5:22,5%. Kadar fruktosa, glukosa, kadar air, aktivitas air diamati pada dendeng hasil perlakuan. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan proporsi madu dalam larutan perendam dapat secara nyata menurunkan kandungan fruktosa, glukosa, kadar air, aktivitas air pada dendeng sapi. Kesimpulannya, sifat fisikokimia dendeng dapat berubah sesuai dengan proporsi konsentrasi gula kelapa dan madu.The Physico-Chemical Properties of Indonesian Dried Beef Immersed in Palm Sugar and HoneyAbstractThis study is aimed to investigate the physics-chemical aspect of Indonesian dried beef that was immersed in palm sugar and honey. Four ratios of palm sugar and honey were used, i.e. 30:0%, 22.5:7.5%, 15:15%, 7.5:22.5%. The level of fructose, glucose, water content, and water activity were analysed as the dried beef quality. Data were analyzed using analysis of variance and followed by Duncan’s Multiple Range Test. The results indicated that the elevation in the honey concentration in the ratio of immersion provided significant effect on decrease in fructose and glucose levels, water content, water activity. As conclusion, the ratio of palm sugar and honey might provide the effect on the change of fructose and glucose levels, water content, water activity.•••
Tagor Marsillam Siregar, Clarine Kristanti
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan; doi:10.17728/jatp.3304

Abstract:Daun Kenikir (Cosmos caudatus K.) memiliki kandungan senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan yang tinggi. Senyawa fenolik telah diketahui sensitif terhadap cahaya, oksigen dan panas. Enkapsulasi dapat melindungi senyawa fenolik dalam ekstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh rasio bahan inti:bahan penyalut (1:10 dan 1: 20) dan suhu inlet spray dryer (125, 150 dan 175oC) terhadap karakteristik mikrokapsul. Pada penelitian tahap pendahuluan, daun kenikir diekstraksi menggunakan pelarut etanol, kemudian ekstrak yang diperoleh dianalisis aktivitas antioksidan dan total fenolik. Pada tahap selanjutnya ekstrak dienkapsulasi dan mikrokapsul yang diperoleh dianalisis powder recovery, kandungan total fenolik, effisiensi enkapsulasi, aktivitas antioksidan dan ukuran partikel. Rasio bahan inti:bahan penyalutdansuhu inlet spray dryer mempengaruhi powder recovery, total fenolik, effisiensi enkapsulasi, aktivitas antioksidan dan ukuran partikel mikrokapsul. Perlakuan dengan rasio bahan inti:bahan penyalut1:20 dan suhu inlet spray dryer 125oC menghasilkan mikrokapsul dengan powder recovery 59,87%, total fenol 24,644 mgGAE/g sampel, efisiensi enkapsulasi 98,820%, aktivitas antioksidan (IC50) 1711,804 ppm dan ukuran partikel 1,55 µm.Microencapsulation Of Phenolic Compounds From Cosmos caudatus K. Leaves ExtractCosmos caudatus K. leaves are high in total phenolic content and have high antioxidant activity. Phenolic compounds are sensitive to light, oxygen, and heat. Encapsulation process can protect the phenolic compounds of extract. This research was aimed to study the effect of core to coating ratio (1:10 and 1:20) and spray drying inlet temperature (125, 150, and 175°C) towards the characteristics of microcapsules. In preliminary stage, Cosmos caudatus K. leaves were extracted with ethanol. The extract was analyzed for antioxidant activity and total phenolic content. In the main stage, the extract were encapsulated. The microcapsules were analyzed for powder recovery, total phenolic content, encapsulation efficiency, antioxidant activity, and particle size. Core to coating ratio and inlet temperature affected the powder recovery, total phenolic content, encapsulation efficiency, antioxidant activity, and particle size of microcapsules. Microcapsules with core to coating ratio 1:20 and inlet temperature 125°C gave the best result with powder recovery 59.87%, total phenolic content 24.644 mg GAE/g sample, encapsulation efficiency 98.820%, IC50 1711.804 ppm, and particle size 1.55 μm. •
Suharyanto Suharyanto, Henny Nuraini, Tuti Suryati, Irma Isnafia Arief, Dondin Sajuthi
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan; doi:10.17728/jatp.3147

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi esktrak daun senduduk (EDS) sebagai food additive ditinjau dari sifat fisikokimia dan mikrobiologi sosis daging sapi selama penyimpanan dingin. Sebanyak 40 g bubuk daun senduduk dimaserasi dalam air destilata (1:4; b/v) selama 24 jam pada suhu kamar, disaring, kemudian di-freeze dry. Empat perlakuan diaplikasikan, yaitu kontrol yang mengandung daging sapi, minyak nabati, susu skim bubuk, tepung tapioka, garam, fosfat, es, dan bumbu-bumbu (kontrol); formula kontrol ditambah dengan ekstrak 0,55% (EDS), ditambah garam nitrit 0,0011% (nitrit), dan ditambah keduanya (EDS+nitrit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan EDS dan kombinasinya dengan nitrit menurunkan susut masak sosis. Kandungan nutrisi semua sosis penelitian masuk dalam kategori SNI. Nilai pH sosis menurun akibat pemberian EDS, bukan oleh lamanya penyimpanan. Lama penyimpanan berpengaruh terhadap meningkatnya aw sosis dengan menghasilkan nilai yang sama pada penyimpanan hari ke-12 untuk semua sosis. EDS dan nitrit memberikan efek yang sama terhadap daya mengikat air (DMA) yang lebih rendah dibanding kontrol pada hari ke-0, tetapi memiliki DMA yang sama pada penyimpanan hari ke-12. Warna sosis tidak berbeda antar sosis dan lamanya penyimpanan kecuali pada sosis yang diberi nitrit memiliki derajat kemerahan lebih tinggi. Penambahan EDS dapat meningkatkan kandungan senyawa fenolat, aktivitas antioksidan pada sosis, dan menurunkan nilai TBARS serta mereduksi nitrit pada setiap masa penyimpanan. Kombinasi EDS dan nitrit menekan pertumbuhan bakteri hingga penyimpanan hari ke-12. Pemberian EDS saja hanya menekan pertumbuhan bakteri hingga hari ke-6. Meskipun demikian secara mikrobiologis, sosis masih masuk kategori SNI kecuali keberadaan Salmonella yang muncul pada hari ke-9.This study aimed to analyze the potency of senduduk leaf extracts (SLE) as a food additive to physicochemical and microbiological properties of beef sausages during refrigerated storage. A-40 g powder was macerated with distilled water (1:4; w/v) for 24 h at room temperature, filtered, and then was freeze-dried. Four treatments were employed including control containing beef, vegetable oil, skimmed milk powder, tapioca, salt, phosphate, ice, and seasons (control); control added extract 0.55% (SLE); sodium nitrite 0.0011% (nitrite); and both (SLE+nitrite). The results showed the addition of SLE and SLE+nitrite decreased the cooking loss. The nutritional content of all sausages fit SNI (Indonesia Nasional Standard) category. The pH of sausage decreased caused by SLE, not by storage. The storage affected increasing aw sausages by yielding the similar value at day 12th. SLE and nitrites exerted an equivalent effect on water holding capacity (WHC) compared to control on day 0 but gave the same WHC at day 12 storage. The Sausage color was not different between treatment and storage except for sausage added with nitrite, which had a higher redness. The SLE increased...
Zita Letviany Sarungallo, Budi Santoso, Meike Meilan Lisangan, Sritina Noverita Paulina Paiki, Risma Uli Situngkir, Endah Ayudwi Asokawaty
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Volume 7; doi:10.17728/jatp.2947

Abstract:Kandungan fosfolipid dalam minyak kasar buah merah merupakan masalah utama dalam pengolahannya menjadi berbagai produk pangan, yang dapat dihilangkan melalui proses degumming. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan model kinetik perubahan kualitas minyak buah merah hasil degumming (MBMD) selama penyimpanan. MBMD dikemas dalam botol gelap dan disimpan pada suhu 60, 75, dan 90°C selama ± 15 hari untuk dievaluasi kadar air, kadar asam lemak bebas (ALB), bilangan peroksida dan total karotenoid. Perubahan kualitas MBMD selama penyimpanan dihitung menggunakan persamaan Arhennius dengan perangkat lunak Microsoft Excell 2007. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mutu MBMD menurun dengan meningkatnya suhu dan waktu penyimpanan. Kadar ALB dan bilangan peroksida MBMD meningkat mengikuti ordo 0, dengan energi aktivasi (Ea) 22416 dan 34839 J/mol ˚K. Sedangkan, penurunan kadar karotenoid sesuai dengan ordo 1 dengan Ea 48504 J/mol ˚K. Kadar ALB MBMD dengan Ea terendah adalah yang paling sensitif terhadap kerusakan hidrolisis selama penyimpanan, dibandingkan bilangan peroksida, dan kadar karotenoid. Kesimpulannya, perkiraan umur simpan MBMD berdasarkan peningkatan kadar ALB dan bilangan peroksida berhasil untuk ditentukan. Kinetics of Quality Change of Degummed Red Fruit (Pandanus conoideus) Oil during StorageAbstract The main problem in crude red fruit oil (CRFO) is the phospholipid content. That problem can be eliminated through degumming process. The objective of this study was to obtain kinetic model of quality of degummed red fruit oil (DRFO) during storage. The DRFO was packaged in dark bottles and stored at 60, 75, and 90°C for ±15 days to evaluated of water content, free fatty acids (FFA), peroxide value and total carotenoids content. The quality change of DRFO during storage was calculated using Arhennius equation with Microsoft Excell 2007 software. The results showed that the quality of DRFO decreases with the increase of temperature and storage time. The FFA and peroxide value of DRFOs were increase following a zero order, with energy of activation (Ea) of 22416 and 34839 J/mol ˚K, respectively, while carotenoid content was decrease at the first order with Ea of 69009 J/mol ˚K. The FFA content of DRFOs (the lowest Ea) was the most sensitive to hydrolisys damaged during storage, compared to both peroxide value and carotenoid content. As conclusion, the shelf life estimation of the DRFO based on the increasing of both FFA and peroxide values were successfully formulated.
Suliasih Suliasih, Anang Mohamad Legowo, Baginda Iskandar Moeda Tampoebolon
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Volume 7; doi:10.17728/jatp.3061

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interaksi kombinasi perlakuan antara rasio starter dan konsentrasi ekstrak buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) pada yogurt drink terhadap aktivitas antioksidan, BAL, viskositas dan nilai L*a*b*. Penelitian dengan menggunakan desain eksperimen rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor dan tiga kali pengulangan. Faktor pertama adalah rasio starter, mempunyai tiga taraf yaitu S1,1 (L. bulgaricus + S. termophilus): 1 B. longum; S2,1 (L. bulgaricus + S. termophilus): 2 B. longum; dan S3, 2 (L. bulgaricus + S. termophilus): 1 B. longum dan faktor kedua konsentrasi ekstrak buah naga merah mempunyai empat taraf dengan T0 tanpa buah naga merah, T1 ekstrak buah naga merah 5%; T2 ekstrak buah naga merah 10%; T3 ekstrak buah naga merah 15%. Variabel yang diuji aktivitas antioksidan, BAL, viskositas dan warna . Variabel dianalisis dengan ANOVA pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Wilayah Ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi rasio bakteri dengan konsentrasi ekstrak buah naga merah terhadap aktivitas antioksidan dan pengaruh nyata (P0.05). Semakin tinggi rasio Bifidobacterium longum menghasilkan kenaikan viskositas dan semakin tinggi penambahan konsentrasi ekstrak buah naga merah menghasilkan kenaikan nilai a (warna merah - hijau) sedangkan viskositas, nilai L (kecerahan) dan nilai b (biru – kekuningan) mengalami penurunan, dan jumlah BAL tidak berpengaruh nyata terhadap perlakuan.The purpose of this research was to evaluate the interaction combination of treatments between starter ratio and the concentration of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) extract of yogurt drink to antioxidant activity, LAB, viscosity and L*a*b* score . The experiment design of this research was completely randomized design of factorial pattern with two factors and three replications. The first factor was a starter ratio, with has three levels of S1, 1(L. bulgaricus + S. termophilus): 1 B. longum; S2, 1( L. bulgaricus + S. thermophilus): 2 B. longum; and S3, 2 (L. bulgaricus + S. termophilus):1 B. longum) and the second factor was the concentrations of red dragon fruit extract having four levels (T0, without red dragon fruit extract; T1, red dragon fruit extract 5%; T2, red dragon fruit extract 10%; T3, red dragon fruit extract 15% ). Variables tested for antioxidant activity, BAL, viscosity and L*a*b* score . The variables were analyzed by ANOVA at 5% level and continued by Duncan Multiple Range Test . The result showed that the interaction of bacteria ratio with red dragon fruit extract concentration on antioxidant activity and significant effect (P 0.05). The higher ratio Bifidobacterium longum resulted in increased viscosity and the higher concentration of red dragon fruit extract yields a (red - green) value rises while viscosity, L (brightness) and b (blue - yellow) values decrease.
Hermawan Setyo Widodo, Tridjoko Wisnu Murti, Ali Agus, Widodo Widodo
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Volume 7; doi:10.17728/jatp.3008

Abstract:Susu kambing memiliki komponen protein salah satunya protein β dan secara umum terjadi polimorfisme pada level protein. Perubahan urutan asam amino akibat polimorfisme memungkinkan adanya potensi dihasilkannya peptida bioaktif penghambat enzim pengubah angiotensin (ACEi). Penelitian ini bertujuan untuk menyaring peptida bioaktif yang berpotensi sebagai ACEi dari kasein β kambing beserta polimorfismenya. Penelitian ini dilakukan dengan teknik in silico terhadap sekuen kasein β kambing serta struktur tiga dimensi human testicular ACE. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi simulasi pemotongan peptida dengan enzim pencernaan (pepsin, tripsin dan kimotripsin), peninjauan karakteristik peptida lalu simulasi docking ligan-reseptor. Tampilan parameter Lipinski’s Rule of Five (Ro5), bioaktivitas dan energi afinitas dipertimbangkan untuk memilih peptida bioaktif. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa ditemukan peptida bioaktif yakni INK (Ile-Asp-Lys) yang memiliki kemampuan hampir setara dengan lisinopril (afinitas energi -8,2kkal/mol vs. -8,3kkal/mol). Peptida INK dapat ditemukan dari hasil hidrolisis dari alel A, C, D dan E, sehingga polimorfisme tidak menyebabkan perbedaan produksi peptida bioaktif. Kesimpulan yang dapat diambil yakni kasein β susu kambing jika dicerna dengan enzim pencernaan dapat menghasilkan peptida bioaktif ACEi yakni INK.Identification of Angiotensin Converting Enzyme-inhibitor (ACEi) Bioactive Peptide from Goat Milk β-Casein with It's Polymorphism by In Silico TechniqueAbstractPolymorphism eventually may be occurred at the protein level. Changes in the amino acid sequence due to polymorphism may exhibit a potential action to generate of the angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEi) bioactive peptide. This study is aimed to assess bioactive peptides that have a great potent value as ACEi from goat β casein along with its polymorphism. The research was done by in silico technique on goat β-casein sequence and three-dimensional structure human testicular ACE. Peptide-cutting simulations with digestive enzymes (pepsin, trypsin and chymotrypsin), peptide properties review, then ligand-receptor docking simulations was applied in this research. Appearance of Lipinski's Rule of Five (Ro5), bioactivity and affinity energy were considered for selecting bioactive peptides. The results show that bioactive peptide found as INK (Ile-Asp-Lys) which had similar ability as lisinopril (energy affinity –8.2kcal/mol vs. –8.3kcal/mol). The INK peptides could be found from the hydrolysis resulted in alleles A, C, D and E, therefore polymorphism did not affect the differences of production of bioactive peptides. A conclusion, processed goat milk β casein with digestive enzymes could produce ACEi of INK as bioactive peptide.
Salsabila Eka Ghina Rana, Lydia Ninan Lestario, Yohanes Martono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Volume 7; doi:10.17728/jatp.2581

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan gula dengan konsentrasi yang bervariasi terhadap stabilitas warna ekstrak antosianin buah rukem yang terpapar cahaya lampu fluoresens berdasarkan kinetika degradasi warnanya dan menentukan konsentrasi gula yang optimal untuk meningkatkan stabilitas warna ekstrak antosianin buah rukem. Variasi konsentrasi gula yang digunakan adalah 20, 40, dan 60% (b/v). Uji stabilitas warna dilakukan terhadap ekstrak antosianin buah rukem yang disinari selama 10 jam dengan intensitas cahaya 3580, 4655 lux, dan 8544 lux. Metode yang digunakan yaitu pemodelan kinetika degradasi, dimana nilai konstanta laju degradasi (k) dan nilai waktu paruh (t1/2) dihitung berdasarkan orde reaksi yang sesuai. Degradasi antosianin mengikuti orde reaksi 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gula 20% mampu meningkatkan stabilitas warna ekstrak antosianin buah rukem dibandingkan dengan kontrol (tanpa penambahan gula), terlihat dari meningkatnya waktu paruh dari 54,82 jam menjadi 61,35 jam. Namun, pada penambahan gula 40 dan 60% dapat menurunkan stabilitas warnanya dengan menurunnya waktu paruh dari 42,52 jam menjadi 31,66 jam pada intensitas 3580 lux. Kecenderungan kenaikan dan penurunan waktu paruh yang sama juga terjadi pada intensitas cahaya 4655 lux dan 8544 lux. Kesimpulannya, penambahan gula mempengaruhi stabilitas warna ekstrak antosianin buah rukem yaitu dapat meningkatkan dan menurunkan stabilitasnya.Effect of Various Concentration Sugar Addition on the Color Stability of Rukem Fruit Anthocyanin Extract (Flacourtia rukam Zoll. & Mor.)This study is aimed to determine the effect of sugar addition with varying concentrations to the color stability of anthocyanin extract of rukem fruit exposed to fluorescent lamp lights based on color degradation kinetics and determining the optimal sugar concentration to improve color stability of anthocyanin extract of rukem fruit. Variations of sugar concentration were 20, 40, and 60% (w/v). The color stability test was performed on the anthocyanin extract of rukem fruit which was irradiated for 10 hours with the light intensity of 3580, 4655, and 8544 lux. The degradation kinetics modeling was used as method, where the value of the degradation rate constant (k) and half-life value (t1/2) were calculated according to the appropriate reaction order. Degradation of anthocyanin was analyzed using zero order reaction. The results showed that sugar addition at 20% could increase the stability of rukem fruit anthocyanin extract compared to control (without sugar addition), that was reflected by increase of half-life from 54.82 to 61.35 hours. However, addition of 40 and 60% sugar decreased the color stability with the half-life decline from 42.52 to 31.66 hours. The similar half-life increase and decrease also occured at the intensity of light 4655 and 8544 lux. As conclusion, sugar addition might increase and decrease of the color stability in the extract rukem fruit.
Bambang Dwiloka, Umiyati Atmomarsono, Valentinus Priyo Bintoro, Bhakti Etza Setiani
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Volume 7; doi:10.17728/jatp.2447

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth) dalam mengeliminasi Cd dan Pb pada paha ayam broiler yang diberi pakan mengandung logam berat (Cd.Cl2.4H2O). Perlakuan yang diberikan adalah perendaman larutan daun kumis kucing yang diikuti dengan proses perebusan. Kandungan Cd dan Pb yang dilakukan dengan Atomic Absorption Spectrophotometer. Data logam berat yang diperoleh dianalisis statistik dengan Anova. Hasil penelitian membuktikan bahwa dada ayam broiler yang diberi pakan mengandung CdCl2.4H2O ternyata mengandung Cd dan Pb, walaupun masih di bawah Maximum Residu Limit (MRL). Perlakuan perendaman dalam larutan daun kumis kucing yang dilanjutkan dengan perebusan mampu menurunkan nilai Cd pada dada ayam broiler. Sementara dengan perlakuan perendaman dalam larutan daun kumis kucing dan pada perlakuan perebusan mampu menurunkan kandungan Pb pada dada ayam broiler. Kesimpulannya, kandungan Cd dan Pb pada daging ayam broiler dapat diturunkan melalui perendaman daun kumis kucing.The Effect of Orthosiphon stamineus Benth (OSB) Leaf in Reducing Cd and Pb Content on Breast Broiler ChickenAbstractThe feed containing heavy metal was provided to broiler feeds in order to detect the residue of Cd and Pb in chicken broiler breast. The treatments for eliminating the residue was conducted by the immersion in the distilled water containing cat whiskers leaf. The boiling of chicken meat was also conducted. The content of metals was analysed by Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The data were analysed statistically by ANOVA. As results, Cd and Pb were able to be detected in the chicken breast meat although still below the Maximum Residue Limit (MRL). The treatment of immersion in the cat whiskers leafs extract plus boiling in the distilled water were significantly (P
Gino Nemesio Cepeda, Meike Meilan Lisangan, Mathelda Kurniaty Roreng, Elva Intan Permatasari, Dolly Citra Manalu, Wulan Tanlain
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, Volume 7; doi:10.17728/jatp.3239

Abstract:Akway (Drimys piperita Hook. f) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam kelompok tumbuhan berkayu, berdaun tebal aromatik dan termasuk kerabat winteraceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengobati malaria dan untuk meningkatkan vitalitas tubuh. Beberapa penelitian kandungan fitokimia ekstrak akway telah dilakukan untuk mengetahui potensi bioaktivitas akway. Ekstrak kulit kayu akway dilaporkan mengandung kelompok senyawa alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, terpenoid dan glikosida. Minyak atsiri kulit kayu akway mengandung linalool, β-pinen, α-pinen, nerolidol dan terpineol. Senyawa-senyawa tersebut dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kapasitas antioksidan ekstrak kulit kayu akway secara in vitro dan vitamin C sebagai kontrol positif. Pengujian kapasitas antioksidan yang dilakukan meliputi kandungan total fenol dengan metode Folin-Ciocalteu, kandungan flavonoid dengan metode aluminum klorida, kapasitas penangkalan radikal bebas menggunakan metode DPPH (1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl)-radical scavenging assay dan daya reduksi menggunakan metode reduksi Fe+3 menjadi Fe+2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki kandungan total fenol dan flavonoid yang tertinggi dibandingkan dengan ekstrak etanol dan etilasetat. Kandungan total fenol dan flavonoid ekstrak metanol masing-masing sebesar 18,22 dan 14,32%. Ekstrak metanol dan vitamin C memiliki kapasitas menangkal radikal bebas DPPH dan daya reduksi yang paling tinggi kemudian diikuti ekstrak etanol dan etilasetat. Kemampuan menangkal radikal bebas ekstrak metanol dan vitamin C pada konsentrasi 200 µg/ml masing-masing sebesar 90% dan 88,31% sedangkan daya reduksi masing-masing sebesar 0,54 dan 0,62. Kesimpulannya, ekstrak metanol memiliki kapasitas antioksidan yang paling tinggi dibandingkan dengan ekstrak etanol dan etilasetat. Abstract Free Radical Scavenging Activity and Reducing Power of Akway (Drimys piperita Hook. f.) Bark ExtractsAkway (Drimys piperita Hook. f) was a woody and aromatic plant of winteraceae. This plant was used as traditional medical plant to heal malaria and to enhance vitality of body. Some studies were done to know bioactivity potency of akway extracts. D. piperita bark extract contains alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, terpenoid and glycoside. The bark essential oil of the plant consists of lynalool, β-pinene, α-pinene, nerolidol and terpineol. Those compounds were exhibited high antioxidant activity. The objectives of this research were to determine total phenol and flavonoid of the extracts and its antioxidant capacity which was compared to antioxidant capacity of vitamin C. The assay of antioxidant capacity comprised of total phenol and flavonoid content, free radical scavenging activity, and reducing power. Total phenol and flavonoid was determined using Folin-Ciocalteu and aluminum chloride method, respectively while determination of free radical...
Page of 14
Articles per Page
by