Naditira Widya

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-0932 / 2548-4125
Current Publisher: Balai Arkeologi Yogyakarta (10.24832)
Total articles ≅ 111
Filter:

Latest articles in this journal

Warto, Tundjung Wahadi Sutirto, Rara Sugiarti
Published: 4 August 2020
Naditira Widya, Volume 14, pp 83-92; doi:10.24832/nw.v14i1.417

Abstract:
History subject in secondary schools faces a number of challenges which may affect the efficiency of student learning outcomes. Several factors which influence such condition are the idea that history is less important than other subjects, lack of employing attractive educational methods and instruments, as well as limited facilities and learning resources in schools. An important aspect that needs to be reconsidered is the use of history-learning instrument beyond a classroom. This research explores the use of the archaeological site of Sangiran as a pre-literacy learning tool for junior high school students. This is a quantitative study which was carried out by a survey that involves the 10th grade high school students as research subjects. Sixty four students were divided into two groups, i.e. an experimental class consisting students who have visited the Sangiran site, and a control class of those who have not. The analysis indicates (sig 2 tailed) was 0.00 in the paired sample t test. Sig 0.00 is smaller than sig 0.05 (sig 2 tailed
Iwan Hermawan
Published: 4 August 2020
Naditira Widya, Volume 14, pp 35-46; doi:10.24832/nw.v14i1.416

Abstract:
Cirebon merupakan batas barat dari konsesi yang diperoleh Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dalam membangun dan mengoperasikan kereta api kelas tiga atau trem, sedangkan batas timurnya adalah kota Semarang. Permasalahan yang diangkat pada tulisan ini adalah bagaimana keterkaitan antara penempatan Stasiun SCS di kota Cirebon dengan fungsinya sebagai stasiun akhir. Penelitian ini bertujuan memahami keterkaitan antara lokasi dan fungsi Stasiun SCS sebagai stasiun akhir. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis, dengan pendekatan keruangan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan arsip, serta pengamatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan Stasiun Kereta Api SCS di Kota Cirebon terintegrasi dengan keberadaan pelabuhan. Kondisi ini menunjukkan lebih jauh bahwa penempatan Stasiun SCS di Kota Cirebon dipengaruhi oleh aspek ekonomi yang menjadi tujuan pembangunan jalur-jalur kereta api oleh SCS. Cirebon is the western boundary of the concession obtained by the Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) in constructing and operating a third-class train or tram, whereas the eastern border is Semarang. The issue of this research concerned with the connection between the placement and function of SCS Stations in Cirebon as final stations. The research aimed to comprehend the connection between the location and function of SCS Stations as final stations. The research method used was descriptive analysis with a spatial approach. Data collection was carried out by literature and archive study, and field observations. Research results indicate that the placement of the SCS Train Stations in Cirebon was integrated with the existence of a harbor. Such condition suggest further that the placement of SCS stations in Cirebon was influenced by economic aspects which were the objectives of the development of railroad lines by SCS.
Karisma Putri Miranti, Agus Setiawan
Published: 4 August 2020
Naditira Widya, Volume 14, pp 19-34; doi:10.24832/nw.v14i1.409

Abstract:
Penelitian ini difokuskan untuk menguraikan pesan-pesan yang terkandung dalam relief-relief Candi Sukuh yang dianggap tabu. Studi ini dilakukan karena Candi Sukuh dapat menjadi bukti bahwa jauh sebelum adanya gerakan feminisme, masyarakat berlatar agama Hindu-Buddha pada masa lampau telah mengakui perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut merupakan suatu konstruksi sosial yang dimengerti dalam hubungan kompromi laki-laki dan perempuan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif-interpretatif, dan data dianalisis dengan pendekatan multidesain. Teori Ikonografi digunakan untuk menganalisis pesan dari relief-relief Candi Sukuh, sedangkan teori feminisme diterapkan dengan pendekatan tubuh, seks, dan gender. Hasil penelitian menunjukkan adanya pesan feminisme pada relief kidung Sudhāmālā, relief linggā dan yoni, dan relief kālāmĕrgā. Kesimpulannya pesan gender yang disajikan di relief-relief Candi Sukuh berupa penolakan perempuan terhadap pengobjekan tubuhnya oleh laki-laki, yang dianggap memiliki otoritas terhadap tubuh perempuan. This research is focused to describe the messages contained in the reliefs of Candi Sukuh, which are considered taboo. This study was conducted because Candi Sukuh may well be an evidence that long before the existence of the feminism movement, the Hindu-Buddhist communities in the past have recognized differences between men and women. Such difference is a social construct which was understood in terms of compromising relations between men and women. The method used in this research was descriptive-interpretive, and data were analyzed using a multi-design approach. Theories of iconography were used to analyze messages of the reliefs of Candi Sukuh, whereas the theory of feminism was applied using approaches of body, sex and gender. Research results showed messages of feminism are contained in the Sudhāmālā hymn, reliefs of linggā and yoni, and the kālāmĕrgā relief. Conclusively, gender messages presented by the reliefs of Candi Sukuh informs the rejection of objectification of women’s body by men, who are considered to have authority over women's bodies.
Dwi Septiwiharti
Published: 4 August 2020
Naditira Widya, Volume 14, pp 47-64; doi:10.24832/nw.v14i1.419

Abstract:
Penelitian ini merupakan refleksi kritis tentang budaya sintuvu masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah. Kajian budaya sintuvu dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat dewasa ini yang rentan dengan konflik akibat terpinggirkannya nilai-nilai kearifan lokal. Tujuan penelitian adalah menemukan hakikat budaya sintuvu berdasarkan histori dan kehidupan keseharian masyarakat Kaili. Penelitian ini merupakan kajian filosofis dengan menggunakan data kepustakaan yang didukung oleh wawancara lapangan. Hasil penelitian menunjukkan budaya sintuvu adalah milik masyarakat Kaili dan dipahami mendukung prinsip kebersamaan yang dikenal sejak masa Tomalanggai, dan berkembang sejak masa kerajaan Kaili di Sulawesi Tengah pada abad ke-15 Masehi. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa budaya sintuvu merupakan simbol persatuan dan gotong-royong yang masih relevan hingga sekarang. Nilai-nilai yang mendasari konsep budaya sintuvu dibangun berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari masyarakat Kaili, yang mencakup nilai harmoni, kekeluargaan, semangat berbagi, solidaritas, musyawarah mufakat, tanggung jawab, dan keterbukaan. This study is a critical reflection of the Kaili community's sintuvu culture in Central Sulawesi. The study is motivated by the condition of the community today which is vulnerable to conflict due to the marginalization of the values of local wisdom. The purpose of this research is to discover the nature of sintuvu culture based on history and daily life of the Kaili people. This research is a philosophical study using library data supported by field interviews. The results show that the sintuvu culture belongs to the Kaili people and is understood to support the principle of togetherness known since the Tomalanggai period and has developed since the sovereignty of Kaili kingdom in Central Sulawesi in the 15th century. Research conclusion indicates that the culture of sintuvu is a symbol of unity and cooperation which is still relevant today. The underlying values of sintuvu concept are built based on the daily life experiences of the Kaili community, which includes values of harmony, kinship, the spirit of sharing, solidarity, deliberation for consensus, responsibility, and openness.
Wasita, Hartatik, Nugorho Nur Susanto, Ida Bagus Putu Prajna Yogi, Restu Budi Sulistiyo, Fitri Wulandari, Diyah W. Restiyati
Published: 4 August 2020
Naditira Widya, Volume 14, pp 65-82; doi:10.24832/nw.v14i1.414

Abstract:
Partisipasi dalam kegiatan pelestarian tinggalan arkeologi bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk masyarakat. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah partisipasi yang tepat dan tidak akan menimbulkan masalah baru. Penelitian di Tanjungredeb ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana kegiatan pelestarian, pandangan setiap pemangku kepentingan tinggalan arkeologi, dan dampaknya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisisnya dilakukan dengancara menyusun dan mengklasifikasikan data untuk menemukan pola atau tema, agar dapat dipahami maknanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada upaya pelestarian tinggalan arkeologi di lokasi penelitian yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Namun demikian, sebagian praktik pelestarian itu tidak sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pihak yang berkepentingan dengan tinggalan arkeologi harus segera turun tangan untuk menginformasikan cara pelestarian yang benar. Selain itu, dianggap perlu mengubah cara pandang pelestarian yang belum tepat agar dapat mencegah timbulnya masalah baru di masa depan. Participating in an archaeological heritage preservation can be done by anyone, including the community. However, the most important aspect is appropriate participation that will not cause new problems. The study in Tanjungredeb aimed to find out how the preservation operates, to understand the perspective of each archeological stakeholder, and the impact. This research used a descriptive-analytic method with a qualitative approach. Data collection was done by observations, interviews, and document studies. The analysis was conducted by compiling and classifying data to find patterns or themes; thus, their meaning can be understood. Results of the study indicate that there were efforts to preserve archeological remains in the study areas by governments and the communities. However, some preservation practises do not comply with the Constitution of the Republic of Indonesia number 11 of 2010 concerning Cultural Heritage. Therefore, it can be concluded that the parties concerned with archeological remains must immediately mediate to inform the correct method of preservation. Also, it is necessary to change imprecise perspectives of preservation to prevent new problematic matters in the future.
Hari Wibowo, J.S.E. Yuwono, Indah Asikin Nurani
Published: 4 August 2020
Naditira Widya, Volume 14, pp 1-18; doi:10.24832/nw.v14i1.404

Abstract:
Kawasan karst di Kabupaten Rembang adalah bagian dari Karst Perbukitan Rembang yang membentang dari Jawa Tengah hingga ke Pulau Madura. Di bagian Jawa lainnya terdapat pula barisan karst Gunung Sewu sebagai salah satu kawasan karst Pegunungan Selatan Jawa. Tidak seperti situs-situs arkeologi di Gunung Sewu yang telah diteliti secara intensif, kawasan karst Rembang di gugusan utara belum banyak diteliti. Hal inilah yang menggaris bawahi pentingnya penelitian arkeologi di kawasan karst di perbukitan Rembang, yaitu untuk menjajaki potensi gua-guanya sebagai hunian prasejarah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan penalaran induktif, dengan memakai variabel potensi gua, dan dilakukan dengan teknik survei gemorfologis dan arkeologis. Hasil survei kemudian dibagi menjadi tiga variabel pengharkatan, yaitu kandungan arkeologis gua, aksesibilitas, dan morfologi gua. Dalam penelitian lapangan terdapat 41 titik gua yang menjadi objek pengamatan, dan beberapa di antara gua-gua tersebut memenuhi tingkat probabilitas untuk dihuni. Namun demikian, tentu saja untuk membuktikan gua-gua ini benar-benar dihuni atau tidak pada masa prasejarah diperlukan penelitian lebih lanjut. Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan segmen-segmen di sebelah barat dan timurnya, potensi arkeologi kawasan karst Rembang, dalam pengertian situs-situs guanya, termasuk rendah. The karst region in Kabupaten Rembang is part of the Rembang Karst Zone that stretches from Central Java to Madura Island. Another mountain range of karst, the Gunung Sewu, lies on the southern region of Java. Unlike the archeological sites of Gunung Sewu that have been intensively investigated, the Rembang karst region in the northern ranges has not been much studied. This underlines the importance of archeological research in the karst region of Rembang, which is to explore the potentiality of its caves as prehistoric dwellings. This research employs descriptive method with inductive reasoning, using potential variables of a cave, and carried out with geomorphological and archaeological survey techniques. Survey results are further divided into three criteria, i.e. archaeological findings in caves, accessibility, and cave morphology. The field observation was focussed on 41 caves, and several of them indicated the probability of inhabitation. Nevertheless, further researches are required to prove whether these caves were inhabited or not during the prehistoric period. Furthermore, in terms of cave sites when compared to the west and east segments, the archaeological potency of Rembang karst regions is low.
Nugroho Nur Susanto
Published: 31 December 2019
Naditira Widya, Volume 13, pp 121-134; doi:10.24832/nw.v13i2.398

Abstract:
Pada saat ini jiwa patriotisme dan sifat kepahlawanan cenderung memudar, sedangkan figur dan sosok teladan mulai langka. Dengan demikian perlu kehadiran sosok pengganti yang dapat memberi nuansa peristiwa perjuangan dan kepahlawanan. Sosok berupa aspek bendawi itu dapat berupa tugu peringatan atau monumen. Monumen ini walaupun dibuat lebih kemudian diharapkan dapat mewakili semangat dan keteladanan. Melalui metode induktif dengan mengkompilasikan sumber sejarah dan bukti-bukti arkeologi yang lain, diungkapkan peristiwa dan makna masa lalu tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menggali nilai penting aspek ideologis dari tinggalan arkeologi berupa monumen Dwikora. Penelitian ini dapat membantu kita untuk mengungkapkan, menjelaskan, dan mendesain ulang peristiwa masa lalu. Di daerah perbatasan selain masalah ekonomi, ada persoalan yang tak kalah mendesak, yaitu nasionalisme. Monumen Dwikora di Nunukan, Kalimantan Utara, hampir musnah karena terdesak oleh perbedaan kepentingan, demikian pula kisah sejarahnya. Deskripsi kasus di Nunukan ini dihadirkan dalam upaya penanganan dan menakar nilai penting suatu cagar budaya.Today the soul of patriotism and the nature of heroism tends to fade, while figures and role models are becoming scarce. Thus, it is necessary to have a substitute figure that can give the nuances of the struggle and heroism. The figure in the form of material aspects can be a monument or monument. The monument although made later is expected to represent enthusiasm and example. Through the inductive method by compiling historical sources and other archeological evidence, the events and meanings of the past are revealed. This research was conducted to explore the importance of the ideological aspects of the archeological remains of the Dwikora monument. This research can help us to express, explain, and redesign past events. In border areas besides economic problems, there is a problem that is no less urgent, namely nationalism. The Dwikora monument in Nunukan, North Kalimantan, was almost destroyed because it was pressured by differences in interests, as did its historical story. A description of the case in Nunukan needs to be presented in an effort to handle and measure the importance of a cultural property.
Takashi Tsuji
Published: 31 December 2019
Naditira Widya, Volume 13, pp 135-150; doi:10.24832/nw.v13i2.395

Abstract:
The wedge sea hare (Dolabella auricularia) is a mollusk species found in tidal flats and is consumed as food around the Philippines. The practice of consuming its internal organs is probably found only on the Mactan Island. The Problem of this study is to clarify why people collect the internal organs of wedge sea hare. The objective is a gleaner who have special skills to identify the sea hare burrows. Participatory observation and measurement method were employed for this research. As a result, it found that the gleaners precisely identify occupied sea hare burrows using unique skills, and to remove the edible internal organs from the disposable body. Local people regard the internal organs as a nutrition. As a conclusion, this practice must be an adaptation to an environment where vegetable protein is scarce due to a limestone-based soil unsuitable for agriculture. Thus, the role of the wedge sea hare in a unique culture was also developed.Kelinci laut (Dolabella auricularia) adalah spesies moluska yang ditemukan di dataran pasang surut dan dikonsumsi sebagai makanan di sekitar Filipina. Praktik mengkonsumsi organ internalnya mungkin hanya ditemukan di Pulau Mactan. Masalah penelitian ini adalah untuk menjelaskan mengapa orang mengumpulkan organ internal kelinci laut. Tujuannya adalah seorang pengumpul yang memiliki keterampilan khusus untuk mengidentifikasi lubang kelinci laut. Metode pengamatan dan pengukuran partisipatif digunakan untuk penelitian ini. Sebagai hasilnya, ditemukan bahwa para pengumpul secara tepat mengidentifikasi lubang yang didiami kelinci laut dengan menggunakan keterampilan unik, dan mengeluarkan organ internal yang dapat dimakan dari tubuh yang bisa dibuang. Masyarakat lokal menganggap organ dalam sebagai nutrisi. Sebagai kesimpulan, praktik ini harus merupakan adaptasi terhadap lingkungan di mana protein nabati langka karena tanah berbahan dasar batugamping yang tidak cocok untuk pertanian. Dengan demikian, peran kelinci laut dalam budaya unik juga dikembangkan.
Theodorus Aries Briyan Nugraha Setiawan Kusuma, Andry Hikari Damai
Published: 27 December 2019
Naditira Widya, Volume 13, pp 75-86; doi:10.24832/nw.v13i2.320

Abstract:
Kebudayaan Austronesia menyebar di wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya hingga ke kepulauan Pasifik dan Madagaskar. Kebudayaan ini berasal dari Taiwan atau Formosa. Persebaran budaya penutur bahasa Austronesia di Asia Tenggara berpengaruh besar dalam mengembangkan budaya yang masih bertahan sampai masa sekarang. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada budaya maritim, budaya pertanian, dan juga dalam aspek-aspek sosial seperti pemujaan terhadap leluhur atau dewa/dewi. Hal ini menjadi penting dalam upaya memperkuat identitas penutur bahasa Austronesia sebagai satu-satunya komunitas yang punya peranan begitu besar di Asia Tenggara. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana proses persebaran penutur bahasa Austronesia dan pengaruhnya dalam kebudayaan di Asia Tenggara. Aspek yang diteliti adalah perkembangan kebudayaan dan masyarakat yang bertutur bahasa Austronesia pada periode 4500-1500 tahun lalu dan penjelajahan Austronesia menyeberangi Samudera Hindia. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka dan pengamatan dengan pendekatan metode kualitatif. Penelitian ini membuktikan peranan besar penutur bahasa Austronesia dalam perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara. Hasil dari penelitiaan bahwa adanya peranan besar penutur bahasa Austonesia dalam berbagai hal seperti kebudayaan maritim, budaya agraris, ritual penguburan dan juga kepercayaan pada leluhur. Austronesian culture spread out in Southeast Asia and adjacent areas until Pacific Archipelago and Madagascar. This culture came from Taiwan or Formosa. The development of Austronesian speakers has a big influence on develop culture who still survive until now. That influence can be seen in maritime culture, agricultural culture, and social aspects as worship the ancestor or God/Goddess. This thing is important for makes Austronesian speakers stronger as the one and only community who has big part for Southeast Asia culture. The problem is how the process of the spread of speakers of Austronesian languages and their influence in culture in Southeast Asia. The aspect that studied is the development from Taiwan to all regions of Southeast Asia Islands within a period of time 4500-1500 years ago and the exploration of Austronesian crossing the Indian ocean. This research method was conducted using a qualitative descriptive that explain the problem on the object. Data collection techniques with literature review. The data that collected in this research is qualitative. An analysis technique used in this research is a systematic qualitative analysis of Austronesian culture development. The results of the research that their major role Austronesian languages in various things such as technology of boat building, maritime culture, agrarian culture, burial rituals, and belief in ancestors.
Ashar Murdihastomo
Published: 27 December 2019
Naditira Widya, Volume 13, pp 87-104; doi:10.24832/nw.v13i2.397

Abstract:
Pelayaran merupakan salah satu aktivitas yang mendukung perdagangan antara India dengan Cina. Jalur laut ini dipilih pada masa lampau dan menjadi populer di kalangan para pedagang saat jalur perdagangan darat mengalami hambatan yang tidak kunjung reda. Perkembangan teknologi dan pengetahuan pelayaran makin membuat aktivitas pelayaran makin mudah dan ramai. Namun, aktivitas ini tentu juga tidak dapat terhindar dari beberapa hambatan seperti badai ataupun perompak laut. Beberapa hal telah dilakukan oleh para pedagang dalam menghindari hambatan tersebut. Salah satunya adalah melalui aktivitas pemujaan terhadap dewa-dewi panteon dalam panteon Hindu-Buddha. Penelitian ini dilakukan sebagai pengumpulan data panteon yang dipuja sebagai dewa pelindung pelayaran. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui agama yang dominan dalam pemujaan dewa-dewi tersebut. Dalam upaya mendukung kajian ini, digunakanlah data sekunder yang berasal dari kajian pustaka. Data sekunder tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode analisis kontekstual agar dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewa-dewi yang dipuja sebagai pelindung pelayaran terdiri atas dewa-dewi lokal dan asing. Selain itu, dewa-dewi dalam agama Buddha memiliki peran dominan dalam pemujaan tersebut dibandingkan dengan dewa-dewi agama Hindu. Seafaring is one of the activities that support trade between India and China. The sea routes were chosen in the past and became popular among traders when the land trade lanes encounters obstacles that never stop. The development of seafaring technology and knowledge increasingly made shipping activities more easy and crowded. However, this activity certainly could not be protected from obstructions such as storms and sea pirates. Some things have been done by traders in avoiding such obstacles. One of them was through the worship of gods and goddesses in the Hindu-Buddhist pantheon. This research was carried out as a data collection of pantheons worshiped as patron deities of seafarings. In addition, this study also aimed to find out the dominant religion in the worship of the gods. In an effort to support this study, secondary data from the literature review were used. The secondary data was then analyzed using the contextual analysis method so that it could be used to answer the questions raised. Research results indicates that the gods worshiped as patron deities of seafarings consisted of local and foreign gods. Furthermore, Buddhist pantheons had dominant role of worship compared to those of Hindus.
Back to Top Top