Amerta Nutrition

Journal Information
ISSN / EISSN : 2580-1163 / 2580-9776
Current Publisher: Universitas Airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 254
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Ai Sri Kosnayani, Edi Dharmana, Suharyo Hadisaputro, Ignatius Riwanto
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 52-58; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.52-58

Abstract:
Latar Belakang: Perubahan gaya hidup dan pola makan menyebabkan tingginya angka kejadian obesitas di seluruh dunia yaitu 13% padat tahun 2016. Perbaikan status obesitas dapat dilakukan melalui jalur farmakologik ataupun non farmakologik. Metformin dan meniran (Phyllanthus niruri Linn.) mempunyai fungsi untuk menurunkan penyerapan asupan makanan.Tujuan: menganalisis pengaruh kombinasi metformin dan ekstrak air meniran (Phyllanthus niruri Linn.) terhadap perbaikan status obesitas tikus Sprague Dawley jantan.Metode: multigroup time series design. Dua puluh empat ekor tikus dibuat obesitas dengan cara diberi pakan tambahan lemak sapi cair dan fruktosa terhadap pakan dasar AIN93G selama 5 minggu. Obesitas ditentukan dengan indeks Lee > 300. Sampel dikelompokkan menjadi 4 kelompok, kelompok 1 diberi metformin 45 mg/kg BB/hari, kelompok 2 diberi ekstrak air meniran 400 mg/kg BB/hari, kelompok 3 diberi kombinasi keduanya, dan kelompok 4 kontrol.Hasil: Selama penelitian ada perbedaan berat pakan dan asupan kalori pada setiap kelompok perlakuan. Setelah 28 hari perlakuan ada perbedaan kenaikan berat badan dan perubahan indeks Lee antara ketiga kelompok perlakuan (ρ < 0,05), walaupun indeks Lee > 300.Kesimpulan: pemberian kombinasi ekstrak air meniran dan metformin dapat mengendalikan kenaikan berat badan dan menurunkan indeks Lee.
Angga Rizqiawan, Sri Anna Marliyati, Rimbawan Rimbawan
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 59-67; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.59-67

Abstract:
Latar Belakang: Kanker payudara dapat disebabkan oleh berkembangnya Reactive Oxygen Species (ROS) di dalam sel yang memicu stres oksidatif dan oksidasi pada DNA. DNA akan kehilangan kemampuannya untuk memperbaiki diri dan terjadi mutasi. Mutasi dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan sel tumor. Asupan antioksidan seperti β-karoten pada penderita tumor dimungkinkan dapat menurunkan stres oksidatif dan risiko berkembangnya kanker.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan dan kadar serum β-karoten, aktivitas SOD, TNF-α dan 8-isoprostan serum dengan ukuran tumor payudara.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data yang digunakan adalah data baseline dari penelitian utama yang diambil pada bulan November-Desember 2018. Sebanyak 15 orang wanita yang terindikasi tumor payudara dan memenuhi kriteria inklusi serta eksklusi diikutsertakan dalam penelitian ini. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan spearman.Hasil: Usia subjek berkisar antara 22-52 tahun dengan rata-rata usia 36 tahun. Hasil penelitian menunjukkan asupan β-karoten per hari masih kurang. Terdapat hubungan antara asupan β-karoten dengan aktivitas SOD (p=0,025; r=0,408) dan aktivitas SOD dengan ukuran tumor payudara (p=0,018; r=-0,430). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan tidak langsung antara asupan β-karoten dengan ukuran tumor payudara. Kadar serum β-karoten, TNF-α dan 8-isoprostan serum tidak berhubungan signifikan dengan ukuran tumor payudara (p=0,107; r=-0,430 | p=0.061; r=0,347 | p= 0,217; r=0,232).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara asupan β-karoten dengan aktivitas SOD dan aktivitas SOD dengan ukuran tumor payudara.
Iriyani Harun
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 91-97; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.91-97

Abstract:
Background: Overweight and obesity are the accumulation of excess fat accumulation which has become a serious problem at the global level, one of which is an abnormality of the lipid profile (dyslipidemia) which is a trigger for cardiovascular diseases such as heart disease and stroke. Physical inactivity is one of the causes of health problems such as obesity and other metabolic disorders. Walking is a moderate-intensity aerobic physical activity suitable for all ages and has a variety of health benefits, especially in less active obese adults. Objectives: The purpose of this study was to examine and analyze walking exercise against changes in the lipid profile of overweight women Discusion: This study is a literature review conducted through online database searches of Scopus, Google Scholar, PubMed, and Science Direct to examine relevant research results regarding the benefits of walking exercise to improve lipid profile. The results showed that walking exercise was able to reduce levels of TC, TG, LDL, and increase serum HDL in overweight and obese patients if it was done with the recommended intensity, duration, and frequencyConclusions: walking exercise is an aerobic physical activity that is suitable for overweight and obese patients and has the potential to improve lipid profiles. This study is expected to be the basis for recommendations to increase daily physical activity for the prevention of cardiovascular disease.
Netti Yaneli, Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq, Syilga Cahya Gemily
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 84-90; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.84-90

Abstract:
Latar Belakang: Untuk mendukung kebutuhan gizi yang tinggi saat menyusui, ibu menyusui membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan ibu hamil. Namun, berbagai studi melaporkan bahwa konsumsi energi ibu menyusui justru lebih rendah dibandingkan ibu hamil.Tujuan: Mengetahui faktor yang berhubungan dengan konsumsi energi ibu menyusui yang rendah di Kecamatan Cipayung Kota Depok Tahun 2016.Metode: Penelitian ini menganalisis data sekunder dari penelitian eksperimental semu dengan pendekatan kohort prospektif di Kota Depok. Total sampel berjumlah 169 responden. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik ganda.Hasil: Konsumsi energi ibu saat hamil merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan konsumsi energi ibu saat menyusui setelah dikontrol dengan paritas dan usia ibu. Ibu yang mengonsumsi energi dalam jumlah kurang saat hamil berisiko 3,5 kali lebih besar untuk mengonsumsi energi dalam jumlah kurang saat menyusui.Kesimpulan: Konsumsi energi ibu hamil sangat penting diperhatikan karena selain diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, sebagai cadangan lemak yang akan digunakan saat menyusui, juga untuk menjamin agar ibu mengonsumsi energi dalam jumlah cukup saat menyusui.
Annisa Lutfiah, Annis Catur Adi, Dominikus Raditya Atmaka
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 75-83; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.75-83

Abstract:
Latar Belakang: Hati ayam merupakan sumber zat besi yang baik dan kacang kedelai adalah jenis kacang-kacangan kaya protein dan besi yang dapat diolah menjadi sosis sebagai snack ataupun lauk tinggi protein dan zat besi.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hasil mutu hedonik, daya terima, kadar protein dan zat besi pada sosis dengan substitusi hati ayam dan kacang kedelai.Metode: Jenis penelitian ini yaitu experimental murni dengan rangangan acak lengkap (RAL). Terdapat 4 jenis formula, yaitu formula kontrol F0 (ayam) dan 3 formula modifikasi F2 (35 g hati ayam dan 65 g kacang kedelai), F3 (45 g hati ayam dan 55 g kacang kedelai), F4 (55 g hati ayam dan 45 g kacang kedelai) dengan pengulangan 4 kali. Panelis penelitian terdiri dari 5 panelis terbatas dan 27 panelis tidak terlatih.Hasil: Berdasarkan hasil penilaian panelis terbatas pada uji mutu hedonik adalah formula F2, F3, dan F4. Hasil uji daya terima, formula yang paling disukai panelis tidak terlatih adalah formula F4. Kandungan protein dan besi pada 100 g sosis F4 yaitu 17,21 g dan 7,415 mg. Terdapat perbedaan signifikan antara F0 dan F4 pada karakteristik aroma (p = 0,045), kekenyalan (p < 0,000) dan rasa (p < 0,000).Kesimpulan: Formula dengan tingkat mutu hedonik terbaik terdapat pada formula F2, F3 dan F4. Formula dengan daya terima tertinggi terdapat pada F4. Satu porsi (33 g) dapat mencukupi 10 – 15 % dari kebutuhan protein dan besi pada remaja putri berusia 16 – 21 tahun.
Alvina Rachmatillah Jamil, Rahayu Astuti, Indri Astuti Purwanti
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 23-30; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.23-30

Abstract:
ABSTRAK Latar belakang: Anemia pada perempuan terjadi jika kadar Hb (Hemoglobin) < 12 gr/dL. kondisi ini sangat dipengaruhi oleh zat gizi antara lain : zat besi, protein dan vitamin C. Daun Kelor (Moringa oleifera) merupakan tumbuhan kaya akan zat gizi, sehingga menarik diteliti.Tujuan: Mengteahui perbedaan kadar Hb berdasarkan kebiasaan konsumsi kelor di Dukuh Ngawenombo, Desa Ngawenombo, Blora, Jawa Tengah.Metode: Penelitian desain cross sectional ini melibatkan 70 subjek perempuan usia ≥ 20 tahun dipilih secara purposive sampling, pada kelompok konsumsi kelor terus menerus dan kelompok tidak konsumsi kelor sama sekali. Data yang dikumpulkan mencakup kadar Hb diukur dengan alat Easy Touch GHb, kebiasaan konsumsi kelor diukur dengan kuisioner dan asupan makanan diukur dengan metode recall 2x24 jam. Uji statistika yang digunakan : uji T-Independent, One Way Anova dan Kruskal Wallis. Uji kenormalan data digunakan uji kolmogorov smirnov.Hasil: Tedapat 30 orang (42,9%) mengkosumsi kelor dan 40 orang (57,1%) tidak konsumsi kelor. Terdapat 17 orang (56,7%) mengkonsumsi kelor sejak 3 tahun terakhir, 9 orang (30,0%) 2 tahun terakhir dan 4 orang (13,3%) 1 tahun terakhir. Frekuensi konsumsi kelor ≥ 3x per-minggu terdapat 26 orang (86,7%) dan < 3x per-minggu terdapat 4 orang (13,3%). Bentuk kelor yang dikonsumsi yaitu sayur kelor, teh kelor, dan kapsul kelor. Rata-rata kadar Hb perempuan konsumsi kelor 13,4gr/dL dan perempuan tidak konsumsi kelor 11gr/dL dan hasil uji perbedaan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,00).Kesimpulan: Terdapat perbedaan signifikan kadar Hb perempuan konsumsi kelor dan tidak konsumsi kelor. Kata Kunci: Kadar Hemoglobin, Daun Kelor, Perempuan ABSTRACT Background: Anemia occurs in women if the amount of hemoglobin is <12 gr/dL. Nutrients including: iron, calcium, and vitamin C greatly affect hemoglobin. The leaves of Moringa oleifera are rich in nutrients so they are interesting for study research.Objective: Knowing the difference in Hb levels in Hamlet Ngawenombo, Ngawenombo Town, Blora, Central Java based on the moringa consumption habits. Method: This cross-sectional design analysis included 70 female participants between the ages of 20 selected by purposeful sampling in the continuous Moringa consumption and the non-Moringa consumption. Data collected included Hb levels measured with Easy Touch GHb, Moringa consumption habits were measured using a questionnaire and food intake was measured using 2x24 hour recall process. The statistical tests used: T-Independent, One Way Anova and Kruskal Wallis. Normality test data used the Kolmogoro Smirnov test.Results: Moringa was consumed by up to 30 people (42,9%), and 40 people (57,1%) did not consume Moringa. Over the last 3 years, there have been 17 people (56,7%) consumed Moringa, 9 people (30,0%) last 2 years and 4 people (13,3%) last 1 year. There are 26 people (86.7%) in Moringa consumption frequency ≥3x/week and 4 people (13.3%) in Moringa consumption frequency <3x/week. Moringa's type that is consumed is vegetable, tea, and capsules. The average Hb levels of female Moringa consumption 13,4gr/dL and females non-Moringa consumption 11gr/dL and the results of the differential test showed differences (p=0,00). Conclusion: The Hemoglobin level of female Moringa consumption and non-Moringa consumption are different. Keywords: Hemoglobin Levels, Moringa Leaves, Women
Agus Hendra Al Rahmad
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 31-40; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.31-40

Abstract:
Background: The prevalence of obesity in the world is getting higher, so it becomes a severe health problem. Some factors that contribute to the problem of obesity are increased calorie intake, including the consumption of junk food and sedentary, and low physical activity. School teachers are one of the most crucial labor elements in improving the human development indeks.Objectives: The study aims to determine the risk factors for obesity in female teachers as well as some non-communicable health problems during the Covid-19 pandemic.Methods: This quantitative study uses a cross-sectional design, which was conducted on 270 female school teachers; the sample was taken by purposive sampling. Participants measured weight, height, waist circumference data. Blood pressure data were also recorded by participants, including data on diabetes, cholesterol, arthritis, coronary heart disease. While the BMI value data is calculated by the researcher Data collection using a questionnaire distributed from Google Form. Statistical analysis using test Chi-Square and Logistic Regression. Results: The results showed risk factors for obesity in female school teachers were age, waist circumference, consuming junk food, type of diet and physical activity (p< 0.05), with the main predictor being consumption junk food (OR= 3.2). Also, obesity in women is closely related to several non-communicable diseases such as hypertension and arthritis.Conclusions: The main risk factors that cause the high prevalence of obesity in female school teachers in Banda Aceh City are due to consumption habits junk food during the Covid-19 pandemic, and are strongly related to health problems such as hypertension and arthritis.
Yulianti Wulan Sari, Melania Rahadiyanti, Dominikus Raditya Atmaka
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 68-74; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.68-74

Abstract:
Latar Belakang: Suhu dan kelembapan dalam ruang pengolahan dan distribusi merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Suhu dan kelembapan ruangan yang baik akan menjaga makanan agar terhindar dari aktivitas mikroorganisme. Suhu dan kelembapan juga menjadi hal penting bagi penjamah makanan agar tetap merasa aman dan nyaman pada saat bekerja.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran suhu dan kelembapan udara pada ruangan pengolahan dan distribusi di Instalasi Gizi RSUD Kabupaten Sidoarjo.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cohort retrospektif. Pengambilan data dilakukan sebanyak 4 kali sehari yaitu pagi ( sekitar pukul 10.00), siang (sekitar pukul 14.00) sore (sekitar pukul 17.00), dan malam (sekitar pukul 19.00). Penelitian suhu dan kelembapan dilakukan di ruang pengolahan dan distribusi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melihat laporan penilaian ketepatan suhu dan kelembapan pada bulan april, mei, juli dan agustus yang telah diobservasi sebanyak 4 kali sehari.Hasil: Suhu di ruang pengolahan dan ruang distribusi lebih tinggi dibandingkan dengan standar rumah sakit yakni antara 25-27°C. Akan tetapi, apabila dibandingkan dengan standar Permenkes, suhu masih tergolong aman. Kelembapan udara di ruang pengolahan masih berada dalam standar, namun di ruang distribusi kelembapan udara lebih tinggi dari standar rumah sakit dan permenkes, yakni 40-70%.Kesimpulan: Suhu dan kelembapan udara di ruang pengolahan dan distribusi sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.Kata kunci: Suhu, Kelembapan, Ruang Pengolahan, Ruang Distribusi
Adillah Imansari, Siti Madanijah, Lilik Kustiyah
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 1-7; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.1-7

Abstract:
Latar Belakang: Pendidikan gizi dapat berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan kader dalam mendeteksi status gizi balita secara dini di posyandu. Tujuan: Menganalisis pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan konseling gizi di posyandu. Metode: Desain penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan rancangan non randomized control group pre-test – post-test. Subjek penelitian berjumlah 60 kader dari Kecamatan Tatanga, Kota Palu yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni –Agustus 2019. Kelompok intervensi diberikan pendidikan gizi sebanyak 3 kali dengan teknik ceramah, simulasi dan praktik dengan menggunakan modul. Kelompok kontrol diberikan pendidikan gizi sebanyak 1 kali dengan teknik ceramah tanpa modul . Analisis menggunakan independen t-test dan paired t-test. Hasil: Kelompok intervensi mengalami peningkatan pengetahuan post-test 1 sebesar 21.96 poin dan post-test 2 meningkat sebesar 0.4 poin; sikap post-test 1 meningkat sebesar 6.73 poin dan post-test 2 meningkat sebesar 0.07 poin; keterampilan post-test 1 meningkat sebesar 21.94 poin dan post-test 2 meningkat sebesar 0.26 poin. Sementara kelompok kontrol mengalami peningkatan pengetahuan post-test 1 sebesar 11.17 poin dan saat post-test 2 meningkat sebesar 8.63 poin; sikap post-test 1 meningkat sebesar 0.27 poin dan post-test 2 menurun sebesar 0.94 poin; keterampilan post-test 1 meningkat sebesar 7.22 poin dan post-test 2 menurun 0.28 poin. Kesimpulan: Nilai pengetahuan, sikap dan keterampilan kader pada kelompok intervensi siginifikan lebih baik daripada kelompok kontrol. Pendidikan gizi dengan simulasi dan praktik sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan sehingga pengetahuan, sikap dan keterampilan kader tetap terjaga lebih baik.
Dwi - Kuswanto, Hari Basuki Notobroto, Rachmah Indawati
Published: 19 March 2021
Amerta Nutrition, Volume 5, pp 8-14; doi:10.20473/amnt.v5i1.2021.8-14

Abstract:
ABSTRAK Latar Belakang : Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia sebagai akibat kelainan sekresi insulin maupun kerja insulin. Diabetes sebagai salah satu penyebab dislipidemia sekunder, sehingga pengelolaan glukosa darah merupakan pencegahan primer timbulnya komplikasi penyakit kardiovaskular. Hasil Riskesdas tahun 2018, prevalensi diabetes melitus yang didiagnosis dokter pada penduduk di semua umur sebesar 3,4% di Kota Surabaya.Tujuan : Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan profil lipid pada level HbA1C normal, prediabetes dan diabetes melitus.Metode : Penelitian cross sectional, teknik pengambilan sampel dengan simple random sampling dari data rekam medis pasien rawat jalan di Rumah Sakit Islam Surabaya dari 1 Januari tahun 2018 sampai dengan 31 Desember 2019 berusia 35-80 tahun dan mendapat pemeriksaan HbA1c, kolesterol, trigliserida dan LDL-kolesterol pada waktu yang sama dan terdokumentasi lengkap pertama sekali sehingga diperoleh besar sampel 73 data pasien. Uji Anova one way digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata kolesterol, trigliserida dan LDL-kolesterol berdasarkan HbA1C.Hasil : Hasil penelitian menunjukkantidakada perbedaan yang signifikan rata-rata kolesterol, dan LDL-kolesterol dengan tingkatan HbA1C (p>0,05), ada perbedaan yang signifikan rata-rata trigliserid dengan HbA1C normal, prediabetes, dan diabetes (p=0,01). Hasil multiple comparison dengan metode Tukey HSD menunjukkan perbedaan signifikan rata-rata trigliserid pada HbA1C normal dengan diabetes (p=0,039) dan prediabetes dengan diabetes (p=0,044).Kesimpulan :Perbedaan rata-rata trigliserida signifikanpada HbA1Ckategorinormal dan prediabetes dengan diabetes, pentingnya mengendalikanglukosa darah untuk mencegahkomplikasi kardiovaskuler pada penderita diabetes melitus yang dapat dilakukan melalui pemantauan mandiri glukosa darah, pola hidup sehat, aktivitas fisik secara teratur, terapi nutrisi medis sesuai kebutuhan, menurunkan berat badan bagi yang mengalami obesitas, tidak merokokdan intervensi obat anti hiperglikemia jika dibutuhkan.Kata Kunci : diabetes, HbA1C, kolesterol, trigliserid, LDL-kolesterol. ABSTRACT Background :Diabetes melitus is a metabolic disease characterized by hyperglicemia as a result of abnormal insulin secretion and insulin action. Diabetes is a cause of secondary dislipidemia, so that diabetes melitus monitoring is a primary deterrent to cardiovascular complication. Riskesdas 2018 said that the prevalence of doctors' diagnosed diabetes in the population at all age 3.4% in Surabaya.Objective : This study is to find out the difference in lipid profiles on normal HbA1Clevels, pre-diabetes and diabetes mellitusMethod: Cross-sectional study, the sampling technique used was simple random sampling fromoutpatient medical recordsthe Surabaya Islamic hospital's from 1st of January 2018 to 31st December 2019 aged 35-80 years and checked for HbA1C, cholesterol, triglyceride and LDL-cholesterol at the same and firsttime documented. Sample sizes of 73 data analized with One Way Anova test was used to identify differences in mean cholesterol, triglyceride and LDL-cholesterol based Hba1C.Results :The results showed that there was no significant difference mean cholesterol and mean LDL-cholesterol with HbA1C levels (p> 0.05), there were significant differences mean the triglyceride with normal HbA1C levels, pre-diabetes, and diabetes (p= 0.01). Multiple comparason results using Tukey HSD methods showed that there was significant differences mean the triglycerid on normal HbA1C levels with diabetes (p= 0.039) and the mean triglyceride ebetween hba1c prediabetesand diabetes (p= 0.044).Conclusions: The mean difference trigliseride signifnificant in normal HbA1C levels and pre-diabetes with diabetes.The importantce of controlling blood glucose to prevent cardiovasculer complication in people with diebetes mellitus can be done through education on independent monitoring of blood glucose, healthy lifestyle, reguler physical activity, medical nutrition therapy according to the needs, lost weight for those who are obese, do not smoke and anti-hyperglicemia drug intervention if needed.
Back to Top Top