Jurnal Hortikultura

Journal Information
ISSN / EISSN : 0853-7097 / 2502-5120
Total articles ≅ 340
Filter:

Latest articles in this journal

Irwan Muas, Nfn Jumjunidang, Nfn Hendri, Bambang Hariyanto, Liza Oktariana
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 21-28; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p21-28

Abstract:
Pemupukan merupakan salah satu aspek penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas buah naga. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik terhadap pertumbuhan dan produksi buah naga. Penelitian dilaksanakan di kebun petani Nagari Aripan, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat, dimulai sejak Januari sampai dengan Desember 2014. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan, setiap unit perlakuan terdiri atas tiga tiang. Faktor pertama adalah takaran pupuk organik dengan tiga level, yaitu 5, 10, dan 15 kg/tiang. Faktor kedua adalah interval waktu pemberian pupuk organik terdiri atas empat level, yaitu 1, 2, 3, dan 4 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik secara nyata dapat meningkatkan pertumbuhan (jumlah cabang), jumlah produksi dan kualitas buah (grade/ukuran buah, TSS). Pemberian pupuk organik juga dapat meningkatkan kandungan hara pada tanah dan tanaman. Aplikasi pupuk organik dengan takaran 15 kg dan interval 1 bulan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (jumlah cabang), produksi, dan kualitas buah (grade/ukuran buah) tertinggi. Implikasi dari penelitian ini adalah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi buah naga perlu dilakukan aplikasi pupuk organik.KeywordsPupuk organik; Pertumbuhan; Produksi; Buah nagaAbstractFertilization is one of important aspect in improving the productivity and quality of dragon fruit. This study aims to determine the effect of organic fertilizer on the growth and production of dragon fruit. The research was conducted from January to December 2014 at farmer orchard in Solok District, West Sumatra. The study was prepared based on a Factorial RCBD with two factors and three replicates, each treatment consisting of three pillars. First factor was organic fertilizer dose with three levels (5, 10, and 15 kg/pillar). Second factor was the interval application of organic fertilizer consisting of four levels (1, 2, 3, and 4 months). The results showed that the provision of organic fertilizer can significantly increase the growth (number of branches), amount of production and quality of fruit (grade/fruit size,TSS). Provision of organic fertilizers can also increase the nutrient content of soil and plants. Application of organic fertilizer with a dose of 15 kg and 1 month interval gives the highest growth (number of branches), the highest number of fruit production and quality (grade/fruit size) are significantly. Implication of this research is to increase the growth and production of dragon fruit that needs to be done organic fertilizer application.
Lia Hadiawati, Ahmad Suriadi, Titin Sugianti, Fitria Zulhaedar
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 57-64; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p57-64

Abstract:
Research on the benefits of Trichoderma-enriched compost (Tricho-compost) to improve soil fertility and yield of some vegetables has been widely reported. The objective was to study the effect of Tricho-compost application on productivity and storability of shallot. The experiment was laid out in a randomized block design at Labuan Lombok Village, Pringgabaya, East Lombok District, West Nusa Tenggara Province, during June to August 2017. There were five treatments with three replications, i.e., T1 = no fertilizer (control), T2 = 10 t/ha compost, T3 = NPK (250 kg/ha NPK, 150 kg/ha Urea, and 150 kg/ha SP-36), T4 = T3 + T2, and T5 =T3 + 10 t/ha Tricho-compost. The results showed that shallot with T5 treatment produced higher height at 20, 40 and 60 days after planting (DAP), fresh weight at 40 and 60 DAP, and dry yield. The plant height, fresh weight and dried yield were higher in T5 than those of plants in T4 for 3.7%, 8.7%, and 8.3%, respectively. Weight lost in T5 was 2.7% lower than T4 after storing for 90 days, indicating T5 shallot had better storability. These data indicated the potential of Tricho-compost to improve growth, yield, and storability of shallot.Keywords: Allium cepa ascalonicum; Productivity; Storability; Tricho-compost; Tropical drylandABSTRAK. Penelitian terkait pemanfaatan kompos diperkaya Trichoderma sp. (Tricho-kompos) untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produksi berbagai sayuran telah dipublikasikan secara luas. Tricho-kompos terbuat dari kompos organik yang diperkaya Trichoderma sp. yang telah diperbanyak dalam media beras. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemupukan menggunakan Tricho-kompos terhadap produktivitas dan daya simpan bawang merah di lahan kering Lombok Timur. Percobaan lapangan dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada bulan Juni sampai Agustus 2017. Terdapat lima perlakuan pemupukan dengan tiga ulangan, yaitu T1 = tanpa pupuk (kontrol), T2 = kompos 10 ton/ha, T3 = NPK (250 kg/ha NPK, 150 kg/ha Urea, dan 150 kg/ha SP-36), T4 = T3 + T2, dan T5 = T3 + Tricho-kompos 10 ton/ha. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bawang merah dalam perlakuan T5 menghasilkan tanaman yang lebih tinggi pada umur 20, 40, dan 60 hari setelah tanam (HST), berat berangkasan pada umur 40 dan 60 HST, dan berat kering eskip. Tinggi tanaman, berat berangkasan segar, dan berat kering eskip lebih tinggi dalam perlakuan NPK dan Tricho-kompos (T5) dibandingkan dengan perlakuan NPK dan kompos (T4), yaitu sebesar 3,7%, 8,7%, dan 8,3% secara berurutan, sedangkan susut bobot dalam T5 lebih rendah 2,7% daripada T4 setelah disimpan 90 hari, hal tersebut mengindikasikan bahwa daya simpan bawang merah lebih baik dalam T5. Hasil percobaan ini menunjukkan potensi pemupukan Tricho-kompos dalam meningkatkan pertumbuhan, produksi, dan daya simpan bawang merah yang ditanam di lahan kering tropis Kabupaten Lombok Timur.
Dedi Hutapea, Indijarto Budi Rahardjo, Budi Marwoto, Rudy Soehendi
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 75-86; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p75-86

Abstract:
(The Potential of Botanical Insecticides to Control of Aphis gossypii on Gerbera and its Compatibility with Menochilus sexmaculatus)Kutu daun Aphis gossypii diketahui dapat menghambat peningkatan produksi gerbera. Upaya pengendalian hama ini masih mengandalkan penggunaan insektisida sintetik. Namun, pada beberapa kasus, praktik pengendalian hama tersebut seringkali kurang efektif. Insektisida nabati merupakan salah satu teknik pengendalian ramah lingkungan yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji keefektifan formulasi insektisida nabati ekstrak daun suren (Toona sinensis) dan bunga piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) dalam pengendalian A. gossypii pada tanaman gerbera serta kompatibilitasnya dengan Menochilus sexmaculatus. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Februari sampai November 2017. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 12 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan ekstrak bunga piretrum dan daun suren serta campuran keduanya (Formula I, Formula II, Formula III) diuji keefektifannya terhadap nimfa A. gossypii pada tanaman gerbera koleksi plasma nutfah nomor 01200002. Pengujian dilakukan pada dua taraf konsentrasi 0,35% dan 0,40% (w/v) dengan metode semprot serangga dan residu pada daun. Uji kompatibilitas insektisida nabati terhadap M. sexmaculatus dilakukan dengan metode semprot serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan insektisida nabati memiliki aktivitas insektisida, namun hanya perlakuan konsentrasi 0,40% yang menunjukkan persentase kematian tertinggi hama target. Penyemprotan langsung insektisida nabati pada nimfa A. gossypii lebih efektif dibandingkan dengan residu pada daun gerbera. Perlakuan Formula III 0,40% menunjukkan mortalitas tertinggi, dan keefektifannya setara dengan imidakloprid dalam mengendalikan kutu daun di rumah kaca. Ekstrak insektisida nabati uji kompatibel dengan M. sexmaculatus, sementara imidakloprid bersifat toksik terhadap keduanya. Dengan demikian, penggunaan imidakloprid untuk pengendalian kutu daun pada tanaman gerbera perlu dibatasi.KeywordsGerbera jamesonii; Aphis gossypii; Chrysanthemum cinerariaefolium; Toona sinensis; Predator CoccinellidaeAbstractAphis gossypii is known as one of the most damaging aphid species in gerbera production. The botanical insecticide is one of the environmentally-friendly control techniques to overcome this pest. The objective of research was to examine the effectiveness of the botanical insecticide from Toona sinensis leaf and pyrethrum flowers extract to control gerbera aphids and its compatibility with Menochilus sexmaculatus. The research was conducted at Segunung Research Station from February to November 2017, using a Randomized Completed Design with 12 treatments and three replications. Extract of Toona leaf, and pyrethrum flowers, and mixture of both (Formula I, Formula II, Formula III) were tested for its effectiveness against A. gossypii nymphs on gerbera. Testing was arranged at two concentration levels of 0.35% and 0.40% (w/v) by insect spraying and leaf residual methods. The compatibility test against M. sexmaculatus was worked by using the insect spraying method. The results showed that all botanical insecticide had insecticidal activity, but only a concentration of 0.40% showed the highest target pests mortality. Direct spraying of A. gossypii is more effective than residue on the leaf. The Formula III 0.40% showed the highest mortality and equal to imidacloprid for controlling aphids in greenhouses. The botanical insecticide extract was compatible with M. sexmaculatus, while imidacloprid was toxic them both.
Wiwin Setiawati, Ahsol Hasyim, Bagus Kukuh Udiarto, Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 65-74; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p65-74

Abstract:
Penggunaan pupuk hayati dan unsur hara makro sekunder seperti magnesium (Mg) dan hara mikro boron (B) diketahui dapat meningkatkan pertumbuhan, kualitas hasil tanaman, meningkatkan unsur hara dalam tanah serta mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu penggunaan pupuk tersebut dapat mengurangi kebutuhan terhadap pupuk kimia sintetis. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh aplikasi Mg, B, dan kombinasinya dengan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil panen serta penekanan serangan hama dan penyakit. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat (1.250 m dpl.) dari bulan Juni 2018 sampai bulan Februari 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok terdiri atas delapan perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah aplikasi Mg, B, dan kombinasi dengan pupuk hayati serta teknologi konvensional sebagai pembanding. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan luas kanopi), komponen hasil dan hasil serta serangan hama dan penyakit penting yang menyerang tanaman cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Mg, B, dan pupuk hayati yang diaplikasikan sebanyak dua kali pada umur 30 HST dan 45 HST mampu meningkatkan produktivitas cabai sebesar 21,68 ton/ha atau meningkat sebesar 54,53% dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan produktivitas cabai terjadi karena adanya perbaikan dalam komponen hasil seperti jumlah bunga, jumlah buah, panjang, dan bobot buah serta adanya penekanan terhadap serangan hama dan penyakit seperti trips, antraknosa, lalat buah, dan penggerek buah sebesar 18,10% sampai 23,93%.KeywordsCapsicum annuum; Unsur hara makro; Pupuk hayati; Produktivitas; Organisme pengganggu tumbuhanAbstractThe use of biofertilizer and macro and micro nutrients enhanced the growth and development, yield quality of vegetable crops as well as nutrient status of soil to a greater extent and to increased on pests and diseases resistance. Organic sources of nutrients including biofertilizers also economize the use of chemical fertilizers. The objectives of this study were to determine the best combination of Mg, B, and biofertilizer that increase the growth and yield of chili pepper and the impact to pest and diseases on chili pepper. The field experiment was conducted at the experimental field of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, West Java from June 2018 to February 2019. The experiment was arranged in a Randomized Block Design with eight treatments and four replicated. The treatments were Mg, B, and their combinations with biofertilizer compared to the conventional technologies as a control. The observations were carried out on the growth parameters (plant height and leaf canopy), yield components, pest and diseases of chili pepper. The results showed that the combinations of Mg, B, and biofertilizer increased the yield of chili up to 21.68 ton/ha or positive interaction beside beneficial agent with Mg, B, and biofertilizer package on 54.53%. Increased productivity of chili occurs because of improvements in yield components such as the number of flowers, number of fruits, fruit length and fruit weight and reduction of pest and disease attacks such as thrips, anthracnose, fruit flies and, fruit borers by 18.10% to 23.93%.
Nfn Noflindawati, Aswaldi Anwar, Agus Sutanto, Nfn Yusniwati
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 1-8; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p1-8

Abstract:
Identifikasi dini terhadap jenis kelamin tanaman pepaya merupakan hal penting yang dapat membantu petani dalam budidaya tanaman pepaya. Identifikasi kelamin pepaya berdasarkan marka morfologi dan fisiologi telah dilakukan, namun beberapa hasilnya masih bias karena faktor lingkungan. Identifikasi kelamin tanaman pepaya menggunakan marka molekuler bisa lebih cepat dan akurat. Penelitian tersebut telah banyak dilakukan, salah satu di antaranya adalah marka berbasis sequence characterized amplified region (SCAR) dan beberapa primer SCAR telah dihasilkan untuk identifikasi kelamin pepaya. Penelitian bertujuan untuk menyeleksi primer SCAR yang efektif dalam mengidentifikasi seks tanaman pepaya. Penelitian dilakukan pada bulan November 2018 sampai Juni 2019 di Laboratorium Molekuler dan Uji Mutu Kebun Percobaan Sumani Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika di Solok. Primer SCAR yang diseleksi adalah W11,T12, PKBT5, Napf2, dan SDp. Tanaman referensi sebagai sampel umur 11–12 bulan adalah tanaman betina, jantan, dan hermaprodit masing-masing lima tanaman dari pepaya lokal dan Merah Delima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima primer SCAR yang diuji hanya dapat membedakan tanaman betina dengan tanaman jantan dan hermaprodit tetapi belum dapat membedakan antara tanaman jantan dengan hermaprodit. Konsistensi pola amplifikasi dihasilkan dari primer SCAR W11, Napf2, dan T12 dengan posisi 800 bp. Primer SCAR W11, Napf2, dan T12 selanjutnya dapat digunakan sebagai marka untuk identifikasi kelamin tanaman betina dengan tanaman jantan dan hermaprodit.KeywordsSCAR; Identifikasi; Pepaya; Jantan, Hermaprodit AbstractThe determination of sex expression of papaya plants is important to farmers in its cultivation. The identification of papaya plant sex based on morphological and physiological characters have been previously carried out, however, the results were still biased due to environmental factors. Many studies have been carried out to identify this plant sex, such as the use of molecular and SCAR markers, based on sequence characterization on amplified regions. This research aims to select the SCAR primers that are effective in identifying papaya plant sex. The study was conducted from November 2018 to June 2019, at Laboratory of Molecular and Quality Testing of the Indonesian Tropical Fruit Research Institute in Solok. The selected SCAR primers were W11, T12, PKBT5, Napf2, and SDp, using a total of five female, male, and hermaphrodite plants are reference aged 11–12 month from local papaya and cv. Merah Delima. The five SCAR primers tested were only able to differentiate females from male and hermaphrodite plants. The consistency of the amplification pattern was obtained from the SCAR W11, T12, and Napf2 primers at 800 bp. In conclusion, SCAR W11, Napf2, and T12 primers are used as markers to distinguish female plants from male and hermaphrodite.
Liferdi Lukman, Muhammad Syakir, Wiwin Setiawati, Ahsol Hasyim
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 29-40; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p29-40

Abstract:
Mountain microorganism (MM) merupakan kumpulan dari berbagai mikrobe menguntungkan yang ditemukan pada tanah yang masih virgin pada serasah yang ada di pegunungan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi MM sebagai bioactivator, biofermented, dan biopestisida untuk meningkatkan hasil cabai dengan menggunakan teknologi LEISA. Penelitian dilaksanakan di Ciamis, Jawa Barat mulai bulan Mei sampai dengan bulan Desember 2016. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak terpisah dengan empat ulangan. Faktor utama adalah pengelolaan hara (a = kompos + EM4) dan (a = kompos + MM + BF) 12. Subplot adalah dosis NPK (b = 1.000 kg/ha NPKdan b = 625 kg/ha NPK), dan sub-subplot adalah cara pengendalian OPT (c1= 12 konvensional dan c2 = biopestisida MM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MM pada kompos dapat meningkatkan pertumbuhan (tinggi dan lebar kanopi) tanaman cabai sebesar 2 – 8 cm, dapat meningkatkan jumlah buah, jumlah bunga, jumlah cabang, dan bobot buah serta mampu meningkatkan produktivitas cabai sebesar 7,20% hingga 12,5%. Pemberian kompos + MM dapat memperbaiki kesuburan kimia, sifat fisiko-kimia dan biologi tanah sehingga lebih sesuai untuk budidaya tanaman cabai merah. Pengurangan pupuk NPK sebanyak 37,5% tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan produktivitas cabai merah dan komponen hasil lainnya. Penggunaan MM sebagai biopestisida dapat menghambat perkembangan OPT dengan efikasi setara dengan penggunaan insektisida sintetik.KeywordsMikroorganisme pegunungan (MM); Pupuk kimia;, Biopestisida; Cabai; LEISAAbstractMountain microorganism (MM) is a collection of various beneficial microorganism that was found in virgin soils or forest decomposing organic matter, used in the preparation of bokashi, bioferments, and biopesticides. The objective of this experiment found the efficacy of MM as bioactivator, bioferments, and biopesticide to increase the yield of chili pepper under LEISA technology. The experiment was conducted in Ciamis, West Java from May to December 2016. The experiment arranged in a split-plot design with four applications. Main plot was nutrient management (a1 = compost + EM4) and (a2 = compost + MM + BF). Subplot were dose of NPK (b1 = 1,000 kg/ha of NPK, b2 = 625 kg/ha of NPK), and sub-subplot were control of pest and diseases (c1= conventional and c2 = biopesticide). Result of this experiment showed that the used of MM on compost can increase growth (height and width of the canopy) pepper plants of 2-8 cm, the amount of fruit, flower number, number of branches and fruit weight and increase production chili at 7.20% until 12. 15%. The use of compost + MM can improve the fertility of chemical, physicochemical properties, and biological soil, making it more suitable for the cultivation of chili pepper. Reduction of NPK fertilizer as much as 37.5% do not provide an effect on productivity improvement and the other components of yield. Efficacy of MM as biopesticide similar to synthetic pesticide and could reduce plant damage due to pest and diseases.
Titistyas Gusti Aji, Nfn Sutopo, Norry Eka Palupi
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 41-46; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p41-46

Abstract:
Lubang Resapan Biopori (LRB) dan penambahan bahan organik ke dalam LRB dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pada jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh jumlah LRB dan jenis bahan organik pengisi LRB terhadap kapasitas penyimpanan air di daerah perakaran tanaman jeruk keprok dewasa di lahan kering dan pengaruhnya terhadap kualitas buah. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan faktor yang diujikan adalah kombinasi jumlah LRB dan bahan pengisi LRB. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan jumlah LRB, baik 4, 5, maupun 6 lubang dan bahan pengisi baik cocopeat maupun zeolit meningkatkan lengas tanah di daerah perakaran tanaman jeruk pada bulan kering. Penambahan cocopeat, zeolit, atau pupuk kandang ke dalam LRB meningkatkan kandungan jus. Perlakuan bahan pengisi serasah pada LRB dan tanpa LRB meningkatkan kandungan padatan terlarut total (PTT), sedangkan penambahan zeolit dan serasah serta perlakuan tanpa LRB meningkatkan kandungan asam tertitrasi total (ATT). Kadar air pada daerah perakaran yang tinggi menyebabkan peningkatan kandungan jus, serta penurunan kandungan PTT dan ATT pada buah jeruk keprok. Pembuatan LRB pada awal musim hujan dapat dilakukan sebagai upaya menabung air hujan sehingga dapat menghindarkan tanaman dari pengaruh negatif defisit air pada musim kering.KeywordsAir; Buah jeruk keprok; Kualitas; Lubang resapan biopori; Rizosfer AbstractBiopore Infiltration Holes (BIH) and addition of organic matters to the BIH can improve the physical, chemical, and biological properties of the soil. The purpose of this study was to study the effect of BIH and type of BIH filler on water storage capacity in the rhizosphere of mature mandarin plants on dry land and their effect on fruit quality. The study employed a randomized block design with the tested factors of combination of BIH number and BIH filler material. The results showed that either 4, 5 or 6 holes BIH and fillers of both cocopeat and zeolite increased the soil water content in the rhizosphere in the dry months. Adding cocopeat, zeolite, or manure into BIH increased the juice content. Weeds as fillers and treatment without BIH increased the total soluble solids (TSS), while addition of zeolite and weeds and treatment without BIH increased the total acid (TA). High water content in the rhizosphere caused an increase in juice content, but a decrease in TSS and TA. Making BIH at the beginning of rainy season is an effort to save rainwater so that it can prevent plants from the negative influence of water deficit in the dry season.
Leni Marlina, Bambang Hariyanto, Nfn Jumjunidang, Irwan Muas
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 87-96; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p87-96

Abstract:
Pengembangan buah naga (Hylocereus polyrhizus) masih mengalami kendala dalam aspek pascapanen, seperti rendahnya mutu buah di pasaran dan pendeknya umur simpan. Indeks panen yang tepat diharapkan dapat meningkatkan mutu buah naga di pasaran dan memperpanjang umur simpan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh indeks panen terhadap mutu dan umur simpan buah naga selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November 2015 di Laboratorium Kimia dan Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika), Solok, Sumatra Barat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan, yaitu indeks I=kulit buah hijau 90–99% dan merah 1–10% (hijau semburat merah) jumbai hijau, indeks II=kulit buah hijau 60–89% dan merah 11–40% (hijau>merah) jumbai hijau, indeks III=kulit buah hijau 11–40% dan merah 60–89% (hijau<merah) jumbai hijau, indeks IV=kulit buah hijau 0–10% dan merah 90–100% (merah terang) jumbai hijau, dan indeks V=kulit buah merah gelap jumbai hijau, dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan indeks panen berpengaruh nyata terhadap warna kulit buah, kesegaran, padatan terlarut total, asam tertitrasi total, dan susut bobot. Perlakuan indeks panen yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap mutu dan umur simpan buah naga. Perlakuan yang menghasilkan mutu terbaik selama buah disimpan adalah buah naga yang dipanen pada indeks III. Perlakuan terbaik yang menghasilkan umur simpan terlama adalah buah naga yang dipanen pada indeks II, yaitu 8 hari setelah panen. KeywordsIndeks panen; Mutu; Umur simpan; Buah nagaAbstractThe development of dragon fruit is still encountered some constraints in postharvest aspects i.e. low quality in the market and short self-life. The suitable harvest index is intended to improve quality and prolong the shelf-life of dragon fruit. The aim of the research was to determine the effect of harvest index on quality and shelf-life of dragon fruits during storage. The research was conducted from September to November 2015 at Chemistry and Postharvest Laboratory of Indonesian Tropical Fruits Research Institute (ITFRI), Solok. The study was used completely randomized design with five treatments were index I=peel color are green 90–99% and red 1–10% (green tinge of red), II=peel color are green 60–89% and red 11–40% (green>red), III=peel color are green 11–40% and red 60–89% (green<red), IV=peel color are green 1–10% and red=90–100% (light red), and V=peel color is dark red with green scaled all of treatments, and five replications. The results showed that harvest index effected in peel color, freshness, total soluble solid, total titrable acidity, and weight loss. The treatment which produces the best quality during storage was index III. The best treatment that prolongs the shelf-lfe of dragon fruit during storage was index II i.e. 8 day after harvesting.
Panca Jarot Santoso, I Nyoman Pugeg Aryantha, Sony Suhandono, Adi Pancoro
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 9-20; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p9-20

Abstract:
Penyakit mati-pohon disebabkan cendawan Pythiaceae khususnya Phytophtora palmivora, Pythium vexans, dan Pythium cucurbitacearum menjadi salah satu kendala utama dalam budidaya durian. Di antara upaya pengendaliannya adalah melalui pemuliaan dan seleksi tanaman tahan berbasis molekuler menggunakan marka SSR. Penelitian untuk mengidentifikasi lokus SSR yang berasosiasi dengan karakter tahan penyakit mati-pohon pada durian telah dilaksanakan di Laboratorium Genetika Tumbuhan SITH-ITB dari bulan April sampai dengan Desember 2014. Penelitian dilaksanakan secara bulked pseudo-segregant analysis dua pool DNA durian tahan dan rentan. Amplifikasi lokus SSR menggunakan 77 pasang primer mikrosatelit berlabel fluorescent. Produk amplifikasi dibaca menggunakan GeneMarker v.2.4.0., setiap puncak pancaran fluorescent yang memiliki nilai intensitas tinggi dipilih sebagai alel. Pembandingan panjang alel dilakukan di antara dua pool dan pembanding aksesi tahan. Lokus yang memiliki alel berbeda antara dua pool tetapi memiliki alel sama dengan pembanding dianggap sebagai marka yang berasosiasi dengan sifat tahan durian terhadap Pythiaceae. Hasil analisis ditemukan tiga lokus mDz03F10, mDz4B2, dan mDz3B1 dengan motif berturut-turut (GAA)3.A(GA)4, (GAGT)2ttGAGT, dan (TTTTATG)2(GCCC)2 teridentifikasi sebagai marka yang berasosiasi dengan karakter tahan Pythiaceae. Hasil analisis ini memerlukan satu langkah validasi untuk meyakinkan keterpautan marka dengan karakter target sebelum digunakan sebagai marka molekuler.KeywordsDurian; SSR; BpSA; Tahan; PythiaceaeAbstractDie-back disease caused by Pythiaceae especially Phytophtora palmivora, Pythium vexans, and Pythium cucurbitacearum is one of the obstacles in durian cultivation. An effort to control this disease is through breeding and selection of resistant plants based on molecular assays such as SSR markers. Research to identify SSR loci associated with durian die-back resistance was done at Plant Genetics Laboratory, SITH-ITB from April to December 2014. The research was conducted through bulked pseudo-segregant analysis of two DNA pools, resistance, and susceptible durians. Amplification of SSR loci was carried out by using 77 fluorescent labeled primers. Amplification products were analyzed using GeneMarker v.2.4.0. Fluorescent peak with high intensity was considered as a selected allele. Comparison of allele length was executed amongst two pools and resistance reference. A locus showed different allele between two pools, while it given the same allele to reference was considered as SSR marker associated with Phytiaceae resistance. The analysis were found three loci, mDz03F10, mDz4B2, and mDz3B1 with motif of (GAA)3.A(GA)4, (GAGT)2ttGAGT, and (TTTTATG)2(GCCC)2 recpectively identified as SSR markers associated to die-back resistance. This result, therefore, requires further validation to convince markers association to target traits before they are used as molecular markers.
Eny Rokhminarsi, Darini Sri Utami, Nfn Begananda
Jurnal Hortikultura, Volume 30, pp 47-56; https://doi.org/10.21082/jhort.v30n1.2020.p47-56

Abstract:
Bawang merah termasuk sayuran bumbu yang dibutuhkan oleh masyarakat dan harganya bersifat fluktuatif sehingga diperlukan kecukupan produksi untuk mendukung kestabilan harga. Kecukupan produksi dapat tercapai melalui pemanfaatan lahan marjinal seperti Ultisol yang masih luas dan perbaikan teknik budidaya, di antaranya melalui aplikasi pupuk Mikotricho. Tujuan penelitian adalah mengkaji pupuk Mikotricho dengan pengurangan dosis N-P-K terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian berupa percobaan lapang di lahan Ultisol menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama, dosis pupuk Mikotricho, yaitu 10 g, 30 g, dan 50 g/tanaman, faktor kedua, pengurangan dosis N-P-K berupa Urea, SP-36, KCl, dan ZA, yaitu 0, 25%, dan 50% dari rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan, aplikasi pupuk Mikotricho meningkatkan jumlah daun (11,4%) dan bobot tanaman segar (49,1%) bawang merah secara linier positif dengan dosis terbaik 50 g/tanaman. Hasil umbi/rumpun dan per petak efektif (0,64 m2) dosis pupuk Mikotricho, 10 g, 30 g, dan 50 g/tanaman tidak berbeda. Pengurangan dosis N-P-K dari rekomendasi berpengaruh terhadap jumlah anakan dan bobot segar tanaman bawang merah dengan efek linier negatif, namun pengurangan 25% dosis N-P-K dapat dipilih. Pengaruh interaksi pupuk Mikotricho dengan pengurangan dosis N-P-K terjadi pada kehijauan daun dan luas daun. Pemberian pupuk Mikotricho dosis 10 g hingga 30 g/tanaman dengan pengurangan dosis N-P-K 25% hingga 50% dari rekomendasi meningkatkan kehijauan daun dan luas daun bawang merah. Implikasi dari penelitian ini adalah diperlukan sosialisasi pemanfaatan pupuk Mikotricho pada budidaya tanaman bawang merah atau tanaman sayuran lain untuk mengurangi pemakaian pupuk sintetik dan perlu dukungan industri pembuatan pupuk Mikotricho.KeywordsMikoriza; Trichoderma; N-P-K; Bawang merah; Lahan marginalAbstractShallots are a spice vegetable needed by the community. Adequacy of production can be achieved through the use of Ultisols with application of Mikotricho fertilizer. The aim of this research was to study the Mikotricho fertilizer with a reduced dose of N-P-K on growth and yield of shallots. The research was a factorial RCBD with three replications. The first factor, namely 10 g, 30 g, and 50 g/plant Mikotricho fertilizer dose, the second factor, namely 0, 25%, 50% N-P-K reduction of the recommendation.The results showed that Mikotricho fertilizer increased the number of leaves (11.4%) and fresh plant weight (49.1%) of shallots, the best dose of 50 g/plant. The yield bulbs/clump and per plot (0.64 m2) 10 g, 30 g, and 50 g Mikotricho fertilizer were not different. The 25% reduction in the N-P-K can be chosen to the number of tillers and fresh weight of shallots plants. Apply of Mikotricho fertilizer 10 g until 30 g/plant with a reduction in the N-P-K of 25% until 50% increases leaf greenish and leaf area. The implication was that socialization of Mikotricho fertilizer in cultivation of shallots or other vegetable crops to reduce the use of synthetic fertilizers and needs the support of the Mikotricho fertilizer manufacturing industry.
Back to Top Top