Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1907-9133 / 2406-9264
Total articles ≅ 351
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Wiwin Kusuma Perdana Sari, Suharyanto Suharyanto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i1.674

Abstract:
Makroalga merupakan biota laut yang mengandung berbagai jenis senyawa potensial, termasuk pigmen. Pigmen alami makroalga telah terbukti menunjukkan berbagai aktivitas biologis yang bermanfaat, termasuk sebagai antioksidan. Meskipun informasi mengenai kandungan pigmen maupun potensi antioksidan makroalga dari Pantai Gunungkidul telah banyak diteliti, namun penelitian yang menelaah korelasi antara kandungan pigmen dan aktivitas antioksidan makroalga dari wilayah ini masih terbatas. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi kandungan pigmen serta potensi antioksidan beberapa jenis makroalga yang berasal dari Pantai Gunungkidul, Yogyakarta. Enam spesies mewakili kelompok makroalga hijau, merah, dan coklat digunakan pada penelitian ini, yaitu Codium tomentosum, Ulva lactuca, Gelidium corneum, Palisada perforata, Turbinaria ornata, dan Sargassum aquifolium. Hasil pengukuran kandungan pigmen menunjukkan bahwa klorofil a tertinggi terdapat pada jenis U. lactuca, klorofil b tertinggi pada C. tomentosum, dan total karotenoid tertinggi pada T. ornata. Dari keenam spesies yang diteliti, T. ornata menunjukkan potensi antioksidan terbaik dalam menangkap radikal bebas DPPH dengan persentase penghambatan radikal DPPH 79,11±0,41% pada konsentrasi 500 ppm. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa potensi antioksidan makroalga berkorelasi positif dengan kandungan total karotenoid (R2=0,806; p0,05). Hasil studi ini menunjukkan bahwa karotenoid dari berbagai jenis makroalga merupakan kelompok pigmen yang potensial untuk dikembangkan sebagai nutrasetikal antioksidan. ABSTRACTMacroalgae are marine biota that contains various types of potential compounds, including pigments. Natural pigments of macroalgae have shown to produce various beneficial biological activities, including antioxidant. Although information regarding the pigment content and antioxidant property of macroalgae from Gunungkidul Coast has been widely studied, research on the correlation between pigment content and its antioxidant activity of macroalgae from this region is still limited. This study aimed to examine the correlation between pigment content of several species of macroalgae from Gunungkidul, Yogyakarta, and its antioxidant potential. Six species representing the green, red, and brown macroalgae were used in this study i.e. Codium tomentosum, Ulva lactuca, Gelidium corneum, Palisada perforata, Turbinaria ornata, and Sargassum aquifolium Result of pigment content concentration showed that the highest concentration of chlorophyll a was in U. lactuca, while chlorophyll b was in C. tomentosum, and the highest total carotenoid content was in T. ornata. Of the six species assessed, the brown macroalgae T. ornata showed the best antioxidant potential in DPPH radical scavenging with a percentage of DPPH inhibition 79.11±0.41% at 500 ppm. The Pearson correlation analysis showed that the antioxidant of the macroalgae is positively correlated to the total carotenoid content (R2=0.806; p0.05). This study showed that carotenoids from various species of macroalgae are the group of potential pigments to be developed as antioxidant nutraceuticals.
Dewi Seswita Zilda, Gintung Patantis, Mada Triandala Sibero, Yusro Nuri Fawzya
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i1.699

Abstract:
Agarase adalah enzim yang mampu menghidrolisis agar menjadi oligoagar yang sudah banyak diaplikasikan dalam industri kesehatan dan kosmetik. Bakteri laut merupakan mikroba yang paling banyak dilaporkan sebagai sumber untuk isolasi bakteri penghasil agarase. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisan, isolasi, dan identifikasi bakteri penghasil agarase dari sedimen laut. Sampel sedimen diambil dari pantai Pulau Bara Caddi, Sulawesi Selatan. Penapisan dilakukan menggunakan media air laut yang ditambahkan tripton 0,5%, ekstrak ragi 0,1%, dan agar 2%. Identifikasi dilakukan dengan amplifikasi gen 16S rRNA. Sebanyak 45 isolat berhasil dimurnikan, 16 diantaranya merupakan bakteri penghasil agarase. Pola zona bening yang terbentuk terlihat berbeda-beda, hal ini diduga disebabkan oleh perbedaan jenis agarase yang dihasilkan oleh masing-masing isolat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 genera bakteri yang memiliki kemiripan yang tinggi dengan 16 isolat bakteri penghasil agarase yang terdapat pada sampel sedimen yaitu Vibrio, Alteromonas, Salinivibrio, dan Marinobacter. Vibrio merupakan genus yang paling dominan diikuti oleh Alteromonas dan hanya satu isolat yang menunjukkan kesamaan dengan Salinivibrio dan Marinobacter. ABSTRACTAgarase is an enzyme that hydrolyze agar into agaro oligosaccharide which have been applied in health and cosmetic industries. Marine bacteria are the most widely reported microbes as a source for isolation of agarase-producing bacteria. This work was aimed to screen, isolate, and identify the agarase-producing bacteria from marine sediment. The sediment samples were collected from the sea around Bara Caddi Island, South Sulawesi. The screening of agarase-producing bacteria was carried out using seawater media containing 0.5% tryptone, 0.1 % yeast extract with 2 % agar. The identification of the bacteria obtained was carried out by amplification of the 16S rRNA gene. A total of 45 isolates were successfully purified, 16 of which were agarase-producing bacteria. The clear zone formed on solid medium by some isolates showed different pattern which may be caused by the type of agarase produced by each isolate. The results showed that there were 4 genera of bacteria which similar to the 16 isolates agarase-producing bacteria found in sediment samples i.e. Vibrio, Alteromonas, Salinivibrio, and Marinobacter. Vibrio is the most dominant genus followed by Alteromonas and only one isolate showed similarity to Salinivibrio and Marinobacter.
Jamal Basmal, Nurhayati Nurhayati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i1.681

Abstract:
Caulerpa racemosa mengandung serat, vitamin, antioksidan, polisakarida sulfat, sulfat bebas, dan mineral sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pangan fungsional. Namun, cairan C. racemosa mudah mengalami kemunduran mutu selama proses penyimpanan dan transportasi, sehingga perlu dipertahankan mutunya dalam bentuk bulir. Perlakuan yang diberikan dalam proses penyalutan adalah variasi konsentrasi Na-alginat 0,4%; 0,6% dan 0,8% dan variasi larutan Ca-laktat 0,4%; 0,6% dan 0,8% yang diulang sebanyak tiga kali. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kombinasi konsentrasi Na-alginat dan Ca-laktat terbaik dalam mempertahankan mutu bulir cairan C. racemosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan C. racemosa mengandung mineral, serat pangan, dan asam amino baik esensial maupun non esensial dengan kadar air cairan C. racemosa sebesar 97,77%±0,02% dan setelah ditambah air dengan rasio 1:4, kadar airnya menjadi 99,6%±0,61%. Perlakuan konsentrasi Ca-laktat berpengaruh terhadap kadar air dan kadar abu bulir yang dihasilkan, sementara kadar serat kasar bulir dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi Na-alginat. Nilai terbaik berdasarkan kadar serat ditemukan pada perlakuan kombinasi Na-alginat 0,6% dan Ca-laktat 0,8% sebesar 4,05% dengan kadar air 97,22% dan kadar abu 0,65%.ABSTRACTCaulerpa racemosa contains fiber, vitamins, antioxidants, sulfated polysaccharides, free sulfates, and minerals so that it can be used as functional food. However, C. racemosa liquid deteriorates easily during storage and transportation, therefore it is necessary to maintain the quality of C. racemosa liquid in encapsulated form as grain. The treatments given in encapsulation process were variation of Na-alginat concentration i.e. 0.4%; 0.6% and 0.8%, and variation of Ca-lactate solution i.e. 0.4%; 0.6% and 0.8% which were repeated three times. The aim of the study was to determine the best combination of Na-alginate and Ca-lactate concentrations in maintaining the quality of encapsulated C. racemosa liquid grain. The results showed that C. racemosa liquid contained minerals, dietary fiber and amino acids, both essential and non-essential, with moisture content of 97.77±0.02%. After added with water with a ratio of 1:4, the moisture content of C. racemosa liquid was 99.6%±0.61%. The treatment of Ca-lactate concentration affected the moisture content and ash content of the liquid grain, while the crude fiber content was affected by Na-alginate concentration. The best value based on fiber content was found in the combination treatment of 0.6% Na-alginate and 0.8% Ca-lactate (A6K8) at 4.05%, with moisture content of 97.22% and an ash content of 0.65%.
Ellya Sinurat, Dina Fransiska, Sihono Sihono, Rinta Kusumawati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16, pp 63-72; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i1.682

Abstract:
Rumput laut Ulva sp. memiliki kandungan serat pangan tinggi yang diketahui memiliki aktivitas hipoglikemik. Penelitian ini telah melakukan penambahan Ulva sp. pada biskuit sebagai makanan sehat yang kaya serat pangan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian biskuit Ulva terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus jantan yang diinduksi sukrosa jenuh. Selain itu, diamati profil hematologi dan biokimia klinis darah sebelum dan setelah pemberian biskuit Ulva. Uji antidiabetes dilakukan menggunakan uji toleransi glukosa oral terhadap tikus jantan yang diinduksi sukrosa jenuh. Biskuit Ulva yang diberikan 1 g/kg berat badan (BB) tikus dengan perlakuan kontrol negatif (pakan tanpa biskuit), biskuit tanpa Ulva sp., dan biskuit Ulva setara dengan Ulva sp. 1, 5, dan 10 mg/kg BB. Perlakuan dosis diberikan pada 5 ekor tikus percobaan sekali sehari selama 14 hari. Pengamatan terhadap intoleransi glukosa dilakukan melalui pengukuran glukosa darah setelah pemberian sukrosa jenuh ke semua perlakuan pada hari ke-14, dan diukur pada menit ke-0, 30, 60, dan 120. Penimbangan tikus dilakukan pada hari ke-0, 7, dan 14, sedangkan analisis hematologi dan biokimia klinis darah dilakukan pada hari ke-0 dan ke-14. Pemberian biskuit Ulva berpengaruh signifikan terhadap kadar glukosa darah, serta menurunkan hematokrit dan hemoglobin darah tikus. Biskuit dengan dosis Ulva setara 1 mg/kg BB mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus secara efektif pada menit ke-60. Tidak ada perbedaan kenaikan berat badan tikus jantan antara kelompok kontrol negatif dan biskuit Ulva pada hari ke-0, 7, dan 14. Pemberian biskuit Ulva sampai dengan 10 mg/kg BB tidak mempengaruhi SGOT, SGPT, ureum, dan kreatinin tikus. ABSTRACTSeaweed Ulva sp. contains high dietary fiber which is known to have hypoglycemic activity. In this study, the addition of Ulva sp. in biscuit products as a healthy food rich in dietary fiber. The objective of this study was to determine the effect of Ulva added biscuits on blood glucose levels reduction in male rats induced by saturated sucrose. In addition, clinical hematology and blood biochemical profiles before and after the administration of Ulva biscuits were also observed. Antidiabetic method used the oral glucose intolerance test method on male rats induced by saturated sucrose. Ulva biscuits were given at 1 g/kg body weight of rats for each treatment. This test used five treatments, namely negative control (rats feeding without biscuits), rat feeding without Ulva added biscuits; and rat feeding with Ulva biscuits equivalent to 1, 5, and 10 mg Ulva sp. /kg BW. Each dose treatment was given to five experimental rats once a day for 14 days. Observations on glucose intolerance included measurement of blood glucose levels by giving saturated sucrose to all treatments and measured at 0, 30, 60, and 120 minutes after administration of saturated sucrose. The weighing was carried out on day 0, 7, and 14, while clinical hematological and blood biochemical analyzes were performed on day 0 and 14. The administration of Ulva biscuits had a significant effect on the blood glucose levels of male rats, lowering hematocrit and hemoglobin in rat blood. The concentration of 0.1% Ulva biscuits in biscuits (equivalent to a dose of Ulva sp. 1 mg/kg BW) was able to effectively reduce the blood glucose levels of rats after 60 minutes. There was no difference in weight gain of male rats between the negative control group and Ulva biscuits on days 0, 7, and 14. The diet of Ulva biscuits with 10 mg/kg BW Ulva sp. did not affect the SGOT, SGPT, urea, and creatinine of rats.
Sri Haryani Anwar, Rosa Wildatul Hifdha, Syarifah Rohaya, Hafidh Hasan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16, pp 73-82; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i1.705

Abstract:
Ikan tuna termasuk komoditi yang mudah rusak sehingga perlu diolah untuk memperpanjang umur simpan, salah satu caranya dengan pengalengan. Penelitian tentang pengalengan tuna dari perairan Aceh belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kualitas tuna kaleng yang disterilisasi menggunakan alat pressure canner berkapasitas 24L dengan memvariasikan suhu dan lama sterilisasi (suhu 121°C selama 20 menit dan suhu 115°C selama 50 menit) serta jenis medium (larutan garam dan minyak kelapa sawit). Ikan tuna yang dikalengkan diperoleh dari perairan Aceh. Parameter kualitas bahan baku yang diuji pada tuna segar adalah kadar histamin, angka lempeng total (ALT) dan pH. Sementara itu, parameter kualitas yang diuji pada tuna kaleng adalah ALT, pH, kandungan logam berat (timbal dan merkuri) serta tingkat penerimaan konsumen melalui uji organoleptik (hedonik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ALT tuna kaleng pada semua perlakuan <1x101 koloni/g, sedangkan kandungan timbal (Pb) <0,0001 mg/kg dan merkuri (Hg) berkisar antara 0,29-0,58 mg/kg. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa panelis secara umum dapat menerima kedua jenis produk tuna kaleng, namun panelis lebih menyukai rasa tuna kaleng dalam larutan garam serta warna tuna kaleng dalam minyak kelapa sawit. Hasil penelitian ini menyarankan pengalengan tuna sebaiknya dilakukan pada suhu 121°C selama 20 menit.ABSTRACTTuna is a perishable commodity thus it needs to be preserved to prolong its shelf life. The Canning process is one of the solutions to increase tuna shelf life at room temperature. Research on the tuna canning processes from Aceh waters has never been reported. Therefore, this research aimed to investigate the quality of canned tuna which was sterilized using a 24L pressure canner with varying the temperature and duration of sterilization (121°C for 20 minutes and 115°C for 50 minutes) and the type of medium (brine and palm oil). The fresh tuna used for canning was caught from Aceh water. The quality parameters evaluated for fresh tuna were histamine levels, total plate count (TPC), and pH. Meanwhile, the parameters tested on the quality of the canned tuna were TPC, pH value, heavy metals lead (Pb) and mercury (Hg) contamination, and levels of consumer acceptance through organoleptic tests (hedonic). The results indicated that the TPC values for all canned tuna were <1x101 cfu/g, the metal contaminations were <0.0001 mg/kg for Pb and in the range of 0.29-0.58 mg/kg for Hg. The hedonic tests proved that although all the panelists accepted these two types of canned tuna, they prefer the taste of canned tuna in a salt solution and the color of canned tuna in palm oil. This research suggests that the sterilization process for canned tuna using a 24L pressure canner should be carried out at 121°C for 20 min.
Endar Marraskuranto, Muhammad Nursid, Swestri Utami, Iriani Setyaningsih, Kustiariyah Tarman
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i1.696

Abstract:
Caulerpa racemosa merupakan rumput laut hijau yang mengandung senyawa aktif yang berpotensi sebagai antibakteri dan antioksidan. Perbedaan profil fitokimia dan bioaktivitas suatu ekstrak dipengaruhi oleh kepolaran pelarut ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari profil fitokimia, aktivitas antibakteri dan antioksidan ekstrak C. racemosa. Ekstrak diperoleh dari sampel segar C. racemosa yang dimaserasi menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol. Uji antibakteri dilakukan dengan metode Resazurin Microtitter Assay (REMA) terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Hasil penapisan fitokimia memperlihatkan bahwa ekstrak n-heksana mengandung alkaloid dan triterpenoid, sedangkan ekstrak etil asetat dan metanol mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, fenol, dan steroid. Aktivitas antibakteri terbaik ditunjukkan oleh ekstrak etil asetat dengan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) terhadap E. coli sebesar 250 mg/mL. Ekstrak etil asetat C. racemosa juga memperlihatkan aktivitas antioksidan terbaik dengan nilai IC50 DPPH sebesar 110,7 mg/mL dan nilai FRAP sebesar 96,68 mmol Fe (II)/g. ABSTRACTCaulerpa racemosa is a green seaweed that contains active compounds that are potential for antibacterial and antioxidant. The phytochemical constituents and bioactivity of an extract depend on the extraction solvent polarity. This study aimed to determine the phytochemical profiles, antibacterial and antioxidant activity of C. racemosa extracts. Extracts were obtained from the fresh C. racemosa samples that were macerated with n-hexane, ethyl acetate, and methanol. Antibacterial assay was tested by Resazurin Microtiter Assay (REMA) method against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Antioxidant activity was determined using 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) and Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) method. Phytochemical screening showed that n-hexane extract contained alkaloid and triterpenoid, while ethyl acetate and methanol extracts contained alkaloids, flavonoids, tannins, phenols, and steroids. The most active extract in the antibacterial assay was ethyl acetate extract with a Minimum Inhibitory Concentration (MIC) value of 250 mg/mL against E. coli. Ethyl acetate extract of C. racemosa also showed the best antioxidant activity where the IC50 of DPPH value was 110.7 mg/mL and the FRAP value was 96.68 mmol Fe(II)/g.
Ni Nyoman Trisa Monikasari, Ida Bagus Wayan Gunam, Ni Wayan Wisaniyasa
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i1.689

Abstract:
Tempe merupakan produk pangan bergizi tinggi yang digemari dan diterima oleh masyarakat luas tetapi umumnya memiliki kadar yodium yang rendah. Rumput laut yang kandungan yodiumnya cukup tinggi dapat digunakan sebagai bahan fortifikasi yodium pada makanan. Penambahan rumput laut pada tempe diharapkan dapat menjadi alternatif pangan sumber yodium untuk menanggulangi masalah GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung rumput laut Gracilaria sp. terhadap kadar yodium pada tempe serta mengetahui karakteristik yang dihasilkan. Perlakuan yang dilakukan adalah perbandingan kedelai dan tepung rumput laut 100:0; 97,5:2,5; 95:5; 92,5:7,5; dan 90:10. Perbandingan kedelai dan tepung rumput laut 92,5:7,5 merupakan komposisi terbaik yang menghasilkan tempe dengan kadar yodium 0,26 mg/g; nilai sensoris hedonik rata-rata 5 (agak suka), serta 100 gram tempe tersebut memenuhi 17,47% angka kecukupan gizi (AKG) yodium orang dewasa per hari. Studi ini menunjukkan bahwa tempe tersebut dapat digolongkan sebagai pangan sumber yodium karena telah memenuhi 15% AKG orang dewasa.ABSTRACTTempeh is a highly nutritious food that is popular and accepted by diverse community groups but has low iodine levels. Seaweed, with a high iodine content can be used as a fortification ingredient to increase the iodine levels of the foods. The addition of seaweed in tempeh is expected to be used as an alternative food source of iodine contents to overcome the IDD (Iodine Deficiency Disorders) problem. This study aimed to determine the effect of the addition of Gracilaria sp. seaweed flour to iodine levels in tempeh and to determine the characteristic of the product. The treatments were 5 (five) compositions of soybean and seaweed flour, in the ratio of (100:0), (97.5:2.5), (95:5), (92.5:7.5), and (90:10). The composition of soybean and seaweed flour in the ratio of 92.5:7.5 was the best composition that produces tempeh with an iodine content of 0.26 mg/g; hedonic sensory test results on average 5 (somewhat like) and 100 g of tempeh met 17.47% of the daily iodine requirements for the adults. This study showed that tempeh can be considered as an alternative food source of iodine content as it contributed to 15% of adult’s daily nutritional adequacy.
Riong Seulina Panjaitan, Lidya Natalia
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i1.692

Abstract:
Sargassum polycystum merupakan alga cokelat penghasil polisakarida sulfat yang memiliki aktivitas farmakologi yang menjanjikan. Selama ini metode ekstraksi polisakarida sulfat masih bersifat konvensional (seperti maserasi, sokletasi, dan refluks) yang memerlukan waktu ekstraksi relatif lama (4-6 jam). Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi polisakarida sulfat menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) serta melakukan uji toksisitasnya. Karakterisasi ekstrak polisakarida sulfat menggunakan spektrofotometer UV-Visible dan Fourier Transform Infrared (FT- IR). Uji toksisitas terhadap larva Artemia salina Leach dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil ekstraksi polisakarida sulfat diperoleh rendemen sebesar 3,42±0,01% dimana tidak jauh berbeda dari metode konvensional. Hasil perhitungan bobot susut pengeringan polisakarida sulfat 7,60±0,085%. Karakterisasi polisakarida sulfat dengan spektrofotometer UV- Visible diperoleh panjang gelombang optimum pada 270 nm. Hasil spektrum FT-IR terdapat gugus fukosa yang dihubungkan oleh gugus sulfat dan O-Sulfat yang mengindikasikan adanya fukoidan. Selain itu masih ditemukan peregangan ester C=O yang menunjukan adanya asam uronat. Asam tersebut merupakan penyusun alginat dimana bukan merupakan polisakarida sulfat. Dari uji toksisitas diperoleh nilai LC50 polisakarida sulfat terhadap larva A. salina Leach sebesar 113,11 mg/mL yang tergolong kategori toksik. Ekstraksi polisakarida sulfat menggunakan MAE dapat mempercepat waktu ekstraksi dibandingkan dengan metode konvensional, tetapi perlu dilakukan tahap selanjutnya untuk menghilangkan senyawa pengotor lainnya seperti asam uronat. ABSTRACTSargassum polycystum, a brown algae, produces sulfate polysaccharides that have promising pharmacological activity. To date, the extraction of sulfate polysaccharide is still conventional (such as maceration, shoxletation and reflux) and requires a relatively long time (4-6 h). This study aims to extract the sulfate polysaccharides using the Microwave Assisted Extraction (MAE) and assess the toxycity. Sulfate polysaccharide extract was characterized by UV-Visible and Fourier Transform Infrared (FT-IR) spectrophotometer and tested for its toxicity against Artemia salina Leach larvae using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method. The yield of sulfate polysaccharide extraction was 3.42±0.01% which is not much different from conventional methods, but the advantage of the MAE method is in terms of time efficiency. The result of the calculation of the drying shrinkage weight of the sulfate polysaccharide is 7.60±0.085%. Characterization of sulfate polysaccharide using a UV-Visible spectrophotometer obtained an optimum wavelength at 270 nm. Based on spectra of FT-IR, it was identified that there are fucose groups which are connected by sulfate and O-Sulfate groups which indicates the presence of fucoidan. In addition, there was still a stretch of ester C=O which indicates the presence of uronic acid. The acid is a constituent of alginate which is not a sulfate polysaccharide. The LC50 value of sulfate polysaccharide against A. salina Leach larvae was 113.11 mg/mL which was classified as toxic. The extraction of sulfate polysaccharides using MAE can speed up the extraction time compared to conventional method, but a further step is needed to remove other impurities such as uronic acid
Tri Nugroho Widianto, Luthfi Assadad, Ahmat Fauzi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 151-158; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v15i2.677

Abstract:
Alat transportasi ikan segar (ALTIS) adalah sarana pendingin yang dapat mempertahankan mutu ikan segar. ALTIS umumnya digunakan oleh pedagang kelliling dalam transportasi dan distribusi produknya. Komponen yang menentukan kinerja pendingin adalah heatsink dan dudukan peltier. Kedua bagian ini berfungsi dalam transfer panas kotak penyimpanan ikan menuju udara. Namun, biaya produksi dan harga material kedua komponen tersebut cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk modifikasi spesifikasi heatsink dan dudukan peltier, agar mendapatkan efisiensi biaya pembuatannya. Heatsink dibuat dari 3 mm plat tembaga dengan 18 sirip aluminium yang memiliki ketinggian 10 mm dan ketebalan 1 mm. Sementara itu, dudukan peltier juga dibuat dari alumunium dengan ketebalan bervariasi (4, 5, 6, dan 10 mm). Performa kedua bagian ini diuji dengan variabel suhu heatsink dalam, heatsink luar, dan ruang penyimpanan ikan, setiap 5 menit selama 95 menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa suhu ruang penyimpanan ikan menggunakan heatsink baru (17,8°C) lebih rendah dari heatsink sebelumnya (18,3°C). Desain heatsink yang baru ini dapat mengurangi biaya pembuatan sebesar Rp. 807.000,00. Dudukan elemen peltier dengan alumunium setebal 4 mm dapat mempercepat proses perpindahan panas dari ruang penyimpanan ikan menuju peltier. Modifikasi ini dapat diaplikasikan untuk menurunkan biaya dan meningkatkan performa ALTIS.ABSTRACTRefrigerated Fresh Fish Container (ALTIS) is a cooler equipment to maintain the quality of fresh fish. ALTIS is usually used by the itinerant fish traders to preserve their products in transportation and distribution. The components that determine the cooler performance are the heatsinks and the Peltier base plate. These components are responsible for transferring the heat from the fish container to the air. However, the production costs and material price for both components are expensive. This study aimed to reduce production costs by modifying the heatsink and Peltier base plate design specifications. The heatsink was made from 3 mm thickness copper and aluminum fins. The aluminum fins were 18 pieces in total, with 1.6 mm thickness and 10 mm height. Meanwhile, the Peltier base plate was also made from aluminum with varied thicknesses (4, 5, 6, and 10 mm). The performance of both parts was evaluated by temperature measurement in the inner heatsink, outer heatsink, and box container for every 5 minutes in 95 minutes. The results showed that the refrigerated container box temperature with the new heatsink (17.8°C) was lower than the existing heatsink (18.3°C). Moreover, the new heatsink design may reduce the production costs by Rp. 807,000.00. Furthermore, the Peltier base plate with a 4 mm thickness could accelerate the heat-dissipating of Peltier. Thus, the modification can be applied for ALTIS production with lower cost and better performance.
Safrina Dyah Hardiningtyas, Sri Purwaningsih, Ekowati Handharyani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 99-105; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v15i2.604

Abstract:
Api-api putih (Avicennia marina) merupakan salah satu jenis bakau yang melimpah di Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh waktu ekstraksi dan fraksinasi daun A. marina terhadap aktivitas antioksidannya. Serbuk daun A. marina dimaserasi dengan pelarut etil asetat pada durasi waktu ekstraksi selama 1, 2, 3, dan 4 hari. Sementara itu, fraksinasi ekstrak etil asetat dilakukan dengan kolom kromatografi secara isokratik. Aktivitas antioksidan dari ekstrak kasar dan fraksi-fraksi dianalisis dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Hasil analisis menunjukkan perlakuan selama satu hari merupakan durasi waktu ekstraksi terbaik untuk mendapatkan rendemen ekstrak (1,65±0,01 %) dengan aktivitas antioksidan tertinggi (IC50 186,67±2,82 ppm). Eluen pengembang terbaik untuk fraksinasi ekstrak etil asetat adalah campuran eluen etil asetat: n-heksana (3:7), yang menghasilkan delapan fraksi. Namun, fraksinasi menurunkan aktivitas antioksidan pada fraksi-fraksi, dibandingkan dengan ekstraknya. Hal ini diduga disebabkan oleh efek sinergis antar senyawa dalam ekstrak. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk isolasi senyawa aktif yang terdapat ekstrak etil asetat daun bakau A. marina. ABSTRACTGrey mangrove (Avicenia marina) is one of the abundant types of mangrove in Indonesia, which can be used as a natural antioxidant source. This study aimed to determine the effect of extraction duration and fractionation on the antioxidant activity of A. Marina leaves. A. marina leaves powder was macerated by ethyl acetate solvent for 1, 2, 3, and 4 days. Meanwhile, fractionation was carried out using column chromatography with an isocratic method. The antioxidant activity of crude extracts and fractions was analyzed by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) method. The result showed that one-day treatment was the optimum extraction duration to obtain the extract’s yield (1.65±0.01%) with the highest antioxidant activity (IC50 186.67±2.82 ppm). The best eluent in fractionation was a mixture of ethyl acetate: n-hexane (3:7) eluents, which produced eight fractions. However, fractionation reduced the antioxidant activity of fractions, compared to the crude extract. This might have happened because of the synergistic effect among compounds in the extract. Further research can be carried out to isolate the active compounds in the A. marina leaves extract.
Back to Top Top