Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1907-9133 / 2406-9264
Total articles ≅ 343
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Tri Nugroho Widianto, Luthfi Assadad, Ahmat Fauzi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 151-158; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.677

Abstract:
Alat transportasi ikan segar (ALTIS) adalah sarana pendingin yang dapat mempertahankan mutu ikan segar. ALTIS umumnya digunakan oleh pedagang kelliling dalam transportasi dan distribusi produknya. Komponen yang menentukan kinerja pendingin adalah heatsink dan dudukan peltier. Kedua bagian ini berfungsi dalam transfer panas kotak penyimpanan ikan menuju udara. Namun, biaya produksi dan harga material kedua komponen tersebut cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk modifikasi spesifikasi heatsink dan dudukan peltier, agar mendapatkan efisiensi biaya pembuatannya. Heatsink dibuat dari 3 mm plat tembaga dengan 18 sirip aluminium yang memiliki ketinggian 10 mm dan ketebalan 1 mm. Sementara itu, dudukan peltier juga dibuat dari alumunium dengan ketebalan bervariasi (4, 5, 6, dan 10 mm). Performa kedua bagian ini diuji dengan variabel suhu heatsink dalam, heatsink luar, dan ruang penyimpanan ikan, setiap 5 menit selama 95 menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa suhu ruang penyimpanan ikan menggunakan heatsink baru (17,8°C) lebih rendah dari heatsink sebelumnya (18,3°C). Desain heatsink yang baru ini dapat mengurangi biaya pembuatan sebesar Rp. 807.000,00. Dudukan elemen peltier dengan alumunium setebal 4 mm dapat mempercepat proses perpindahan panas dari ruang penyimpanan ikan menuju peltier. Modifikasi ini dapat diaplikasikan untuk menurunkan biaya dan meningkatkan performa ALTIS.ABSTRACTRefrigerated Fresh Fish Container (ALTIS) is a cooler equipment to maintain the quality of fresh fish. ALTIS is usually used by the itinerant fish traders to preserve their products in transportation and distribution. The components that determine the cooler performance are the heatsinks and the Peltier base plate. These components are responsible for transferring the heat from the fish container to the air. However, the production costs and material price for both components are expensive. This study aimed to reduce production costs by modifying the heatsink and Peltier base plate design specifications. The heatsink was made from 3 mm thickness copper and aluminum fins. The aluminum fins were 18 pieces in total, with 1.6 mm thickness and 10 mm height. Meanwhile, the Peltier base plate was also made from aluminum with varied thicknesses (4, 5, 6, and 10 mm). The performance of both parts was evaluated by temperature measurement in the inner heatsink, outer heatsink, and box container for every 5 minutes in 95 minutes. The results showed that the refrigerated container box temperature with the new heatsink (17.8°C) was lower than the existing heatsink (18.3°C). Moreover, the new heatsink design may reduce the production costs by Rp. 807,000.00. Furthermore, the Peltier base plate with a 4 mm thickness could accelerate the heat-dissipating of Peltier. Thus, the modification can be applied for ALTIS production with lower cost and better performance.
Safrina Dyah Hardiningtyas, Sri Purwaningsih, Ekowati Handharyani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 99-105; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.604

Abstract:
Api-api putih (Avicennia marina) merupakan salah satu jenis bakau yang melimpah di Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh waktu ekstraksi dan fraksinasi daun A. marina terhadap aktivitas antioksidannya. Serbuk daun A. marina dimaserasi dengan pelarut etil asetat pada durasi waktu ekstraksi selama 1, 2, 3, dan 4 hari. Sementara itu, fraksinasi ekstrak etil asetat dilakukan dengan kolom kromatografi secara isokratik. Aktivitas antioksidan dari ekstrak kasar dan fraksi-fraksi dianalisis dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Hasil analisis menunjukkan perlakuan selama satu hari merupakan durasi waktu ekstraksi terbaik untuk mendapatkan rendemen ekstrak (1,65±0,01 %) dengan aktivitas antioksidan tertinggi (IC50 186,67±2,82 ppm). Eluen pengembang terbaik untuk fraksinasi ekstrak etil asetat adalah campuran eluen etil asetat: n-heksana (3:7), yang menghasilkan delapan fraksi. Namun, fraksinasi menurunkan aktivitas antioksidan pada fraksi-fraksi, dibandingkan dengan ekstraknya. Hal ini diduga disebabkan oleh efek sinergis antar senyawa dalam ekstrak. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk isolasi senyawa aktif yang terdapat ekstrak etil asetat daun bakau A. marina. ABSTRACTGrey mangrove (Avicenia marina) is one of the abundant types of mangrove in Indonesia, which can be used as a natural antioxidant source. This study aimed to determine the effect of extraction duration and fractionation on the antioxidant activity of A. Marina leaves. A. marina leaves powder was macerated by ethyl acetate solvent for 1, 2, 3, and 4 days. Meanwhile, fractionation was carried out using column chromatography with an isocratic method. The antioxidant activity of crude extracts and fractions was analyzed by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) method. The result showed that one-day treatment was the optimum extraction duration to obtain the extract’s yield (1.65±0.01%) with the highest antioxidant activity (IC50 186.67±2.82 ppm). The best eluent in fractionation was a mixture of ethyl acetate: n-hexane (3:7) eluents, which produced eight fractions. However, fractionation reduced the antioxidant activity of fractions, compared to the crude extract. This might have happened because of the synergistic effect among compounds in the extract. Further research can be carried out to isolate the active compounds in the A. marina leaves extract.
Jurnal Pascapanen Dan Bioteknologi Kp
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.725

Jurnal Pascapanen Dan Bioteknologi Kp
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.726

Mulidati Mutya Khasanah, Rizky Muliani Dwi Ujianti, Fafa Nurdyansyah, M. Khoiron Ferdiansyah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 143-149; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.634

Abstract:
Kerupuk ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan produk makanan kering yang terbuat dari campuran tepung ikan dengan tapioka atau sagu. Kerupuk ikan dapat dibuat dengan beberapa teknik pengolahan tepung ikan serta jenis pati. Kerupuk tidak akan mengembang dengan baik atau memiilki aroma yang disukai oleh konsumen, jika proses pembuatan tepung ikan atau komposisinya dengan pati tidak tepat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakuan untuk mempelajari karakteristik fisiko-kimia dan organoleptik kerupuk ikan C. chanos yang dihasilkan dari variasi jenis proses pengolahan tepung ikan (rebus, kukus, dan presto) serta pati (tapioka dan sagu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerupuk dengan komposisi 9:1 antara pati jenis tapioka dan tepung ikan hasil pengukusan adalah yang terbaik. Kerupuk ini memiliki kadar air 7,01%; daya kembang 48,41%; dan elastisitas 2,43 mm. Pengujian sensoris secara hedonik (skala 1-5) menunjukkan bahwa kerupuk matang dari komposisi tersebut dapat diterima dengan baik oleh panelis, berdasarkan parameter kerenyahan (3,90), kerapuhan (3,73), aroma (3,06), rasa (3,43), dan warna kecoklatan (3,50). ABSTRACTMilkfish cracker is a dry food product made from a mixture of milkfish meal with tapioca flour or sago flour. There are several options to choose the fish meal process and type of starches. Crackers will not expand properly and having the preferable consumers flavor, if it made from inappropriate fish meal processing and improper composition of starch. Thus, this research was conducted to study the physicochemical and sensory characteristics of fish crackers made from various types of C. chanos fish meal processing (boil, steam, and presto) and starch (tapioca and sago). The results revealed that the preferable crackers was made from 9:1 composition between tapioca starch and steamed fish flour. The crackers characterized with 7.01% moisture content, 48.41% linear expansion, and 2.43 mm elasticity. Sensory analysis (1-5 hedonic scale) showed the cracker made from described composition was preferable from several responses, which were crispiness (3.90), fragility (3.73), odor (3.06), taste (3.43), and brownish color (3.50).
Tias Suci Lailani, Ifah Munifah, Hermanto Hermanto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 115-121; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.653

Abstract:
Fikoeritrin adalah pigmen dari rumput laut merah Halymenia sp. dengan aktivitas antioksidan yang potensial untuk dikembangkan dalam bidang nutraseutikal. Ekstraksi fikoeritrin dapat dilakuan dengan berbagai jenis pelarut. Namun, penggunaan pelarut yang tidak sesuai dapat berdampak terhadap rendemen, kemurnian, dan juga bioaktivitas ekstrak fikoeritrin. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis pelarut dan durasi waktu ekstraksi (secara maserasi) yang tepat sehingga menghasilkan ekstrak dengan rendemen, kemurnian, dan daya antioksidan fikoeritrin terbaik. Ekstraksi dilakukan menggunakan tiga jenis pelarut (akuabides; buffer fosfat pH 6,8; dan aseton 80%) dengan variasi waktu maserasi (24, 48, 72, dan 96 jam). Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel (UV-Vis) dipergunakan dalam identifikasi fikoeritrin, sementara Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) merupakan metode dalam telaah daya antioksidan ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah rendemen ekstrak (w/w segar) dari ketiga pelarut, yaitu 1,76% (akuabides); 0,91% (aseton 80%); dan 2,91% (buffer fosfat pH 6,8). Selain itu, waktu ekstraksi juga menyebabkan perbedaan jumlah rendemen, yaitu 1,72% (24 jam); 1,51% mg/mL (48 jam); 1,37% (72 jam); dan 1,43% (96 jam). Hasil ini menunjukkan bahwa pelarut buffer fosfat dengan durasi waktu maserasi 24 jam adalah metode yang terbaik untuk mendapatkan rendemen fikoeritrin tertinggi dari rumput laut merah Halymenia sp. Aktivitas antioksidan dari ekstrak buffer fosfat ini terdeteksi sebesar 3,14 mg ekuivalen asam askorbat/100 g ekstrak pada konsentrasi 10 mg/mL. ABSTRACTPhycoerythrin is a pigment from red seaweed Halymenia sp., with antioxidant activity which is prospective in nutraceutical development. There are several solvents that could be used in the extraction of phycoerythrin. However, the use of inappropriate solvents may impact the yield, purity, and bioactivity of phycoerythrin extract. Therefore, this study aimed to obtain the type of solvent and the duration of extraction (with maceration technique) to produce the highest yield, purity, and antioxidant activity of phycoerythrin extract. Extraction was carried out using three types of solvents (aquabidest, phosphate buffer pH 6.8, and acetone 80%) with variations in extraction time (24, 48, 72, and 96 hours). Spectrophotometric Ultraviolet-Visible (UV-Vis) was used to identify the phycoerythrin, and Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) was applied to analyze the antioxidant activity in the extract. The results showed that there were differences in the amount of extract yield (w/w fresh) from three solvents, which was 1.77% (aquabidest), 0.91% (acetone 80%), and 2.91% (phosphate buffer pH 6.8). Moreover, extraction duration was also affecting the amount of yield, which was1.78% (24 hours), 1.51% mg/mL (48 hours), 1.37% (72 hours), and 1.43% (96 hours). These results indicated that the phosphate buffer solvent with a 24-hour extraction duration was the best method to get the highest yield of phycoerythrin from the red seaweed Halymenia sp. The antioxidant activity from the phosphate buffer extract was detected up to 3.14 mg equivalent ascorbic acid /100 g extract at a concentration of 10 mg/mL.
Hedi Indra Januar, Irma Hermana, Dwiyitno Dwiyitno
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 107-114; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.668

Abstract:
Logam berat merupakan variabel penting dalam penelaahan keamanan produk kekerangan. Namun, kuantifikasinya membutuhkan tingkat kesiapan analis dan peralatan laboratorium yang modern. Hal ini mendorong usulan berbagai metode penapisan High-throughput Screening seperti komposisi asam amino, sebagai penanda kimia pada penapisan tahap awal dari kontaminasi logam berat di biota kekerangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fisibilitas komposisi asam amino yang terkandung pada produk kekerangan, sebagai penanda kimia akumulasi logam berat. Biota kerang bernilai ekonomis, yaitu kerang hijau (Perna viridis), dipilih sebagai target yang diambil dari tiga lokasi budidaya di Perairan Cirebon (sisi utara, perairan kota, dan sisi timur). Kadar logam berat (Cr, Co, Cu, As, Cd, Hg, dan Pb) dianalisis mempergunakan ICP-MS (Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry), sementara kandungan asam amino ditelaah dengan kromatografi gas yang dilengkapi Flame Ionization Detector (FID). Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kadar tertinggi dari tiap logam berat pada P. viridis adalah 0,25 mg/kg (Cr); 0,2 mg/kg (Co); 2,1 mg/kg (Cu); 1,5 mg/kg (As); 0,25 mg/kg (Cd); 0,25 mg/kg (Hg); dan 0,1 mg/kg (Pb). Nilai ini masih memenuhi persyaratan baku mutu, kecuali kadar arsen. Pengujian statistika korespondensi menunjukkan bahwa kadar asam amino kerang hijau dapat mengalami pergeseran komposisi yang tergantung pada tipe, variasi, dan kuantifikasi akumulasi logam beratnya. Oleh karena itu, tidak ada satupun jenis asam amino tertentu yang dapat dijadikan sebagai penanda kimia umum dari akumulasi berbagai jenis logam berat. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menemukan faktor pembanding menggunakan senyawa tertentu yang dapat melengkapi rasio komposisi asam amino sebagai penanda kimia dari akumulasi logam berat pada biota kekerangan.ABSTRACTHeavy metals are important factor in the food safety analysis of marine mussels. However, heavy metal quantification requires factors an adequate analyst and modern laboratory equipment. Therefore, various high throughput screening methods have been proposed, such as the composition of amino acids as a marker in a preliminary screening of heavy metal contamination in marine mussels. This study aimed to determine the feasibility of amino acids composition in marine mussels as a chemical marker of heavy metal accumulation. The commercial marine mussels, Green Mussels (Perna viridis), were collected from three aquaculture sites in Cirebon Waters (north side, in front of the city, and east side). Heavy metals content (Cr, Co, Cu, As, Cd, Hg, and Pb) was analyzed by ICP-MS (Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry) technique while the amino acids content was analyzed using gas chromatography with Flame Ionization Detector (FID). Results of this study showed that the maximum value of each heavy metal in P. viridis were 0.25 mg/kg (Cr); 0.2 mg/kg (Co); 2.1 mg/kg (Cu); 1.5 mg/kg (As); 0.25 mg/kg (Cd); 0.25 mg/kg (Hg); and 0.1 mg/kg (Pb). Except for arsenic, these values were below the allowable threshold level. Correspondence analysis showed that the composition of amino acids in the green mussels was shifted, according to the type, variation, and quantification of the accumulated heavy metals. Therefore, none of the amino acids can be used as a general chemical marker for various types of heavy metals. Further research can be done to identify a particular comparative compound that can complement the ratio of amino acids composition as biomarkers for heavy metals accumulation in marine mussels.
Rodiah Nurbaya Sari, Ema Hastarini, Athanatius Henang Wicaksono Widyajatmiko, Armansyah Halomoan Tambunan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 159-167; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.675

Abstract:
Proses pengolahan ikan patin di Indonesia memiliki hasil samping hingga 67% dari total bobotnya dan berpotensi menimbulkan polusi. Pemanfaatan hasil samping sebagai biopelumas yang ramah lingkungan merupakan salah satu solusi dalam penanggulangan hasil samping menjadi produk yang bernilai ekonomis. Namun, pelumas yang dihasilkan harus dapat memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). Riset ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi biopelumas yang dibuat dari hasil samping produksi ikan patin Siam (Pangasius hypophthalmus), berupa bagian jeroan atau isi perut, dan membandingkannya dengan SNI 7069.9:2016. Isi perut patin diekstrak menjadi minyak kasar dengan metode wet rendering. Selanjutnya, minyak kasar diubah menjadi biopelumas melalui tahapan hidrolisis, polimerisasi, dan poliesterifikasi. Bahan baku minyak kasar diuji komposisi asam lemak, bilangan asam lemak bebas, dan bilangan penyabunan. Sementara itu, karakterisasi biopelumas dilakukan dengan variabel densitas, viskositas kinematik pada suhu 40 dan 100°C, warna, indeks viskositas, flashpoint, pour point, dan uji korosi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa suhu poliesterifikasi 135°C akan menghasilkan biopelumas terbaik. Biopelumas ini memiliki densitas 0,903 g/cm3; viskositas 40°C sebesar 39,76 cSt; viskositas 100°C sebesar 7,94 cSt; indeks viskositas 176; dan sifat korosi yang rendah (1A). Indeks viskositas dan korosi bilah tembaga menunjukkan bahwa minyak patin adalah bahan baku biopelumas yang potensial. Namun, titik nyala dari biopelumas masih rendah (127°C) dan titik tuangnya juga tinggi (27°C). Modifikasi proses lebih lanjut dapat dilakukan untuk menaikkan titik nyala serta menurunkan titik tuang, sehingga produk ini dapat memenuhi persyaratan sebagai biopelumas.ABSTRACTThe pangasius processing in Indonesia has a by-products waste, that can reach up to 67% of its total weight, and may cause pollution. An environmentally friendly lubricant (biolubricant) is a potential solution that transforms the by-products waste into an economically value product. However, the proceed biolubricant has to meet the Indonesian National Standard (abbreviated SNI). The purpose of this study were to characterize the biolubricant from pangasius (Pangasius hypophthalmus) by-products, which is the viscera part, and to compare the product with the Indonesian lubricant standard SNI 7069.9: 2016 reference. The crude fish oil was extracted from the viscera using the wet rendering method. Furthermore, the crude fish oil was converted into biolubricant through the stages of hydrolysis, polymerization, and polyesterification. The raw material of pangasius by-products was characterized by fatty acid profiles, free fatty acid numbers, and saponification numbers. Meanwhile, the biolubricant product was characterized by density, kinematic viscosity at temperatures of 40 and 100°C, color, viscosity index, flashpoint, pour point, and hazardous corrosion test. The results showed that the best biolubricants were those through the polyesterification temperature process of 135°C. This biolubricant has a density of 0.903 g/cm3; a viscosity at 40°C of 39.76 cSt; a viscosity at 100°C of 7.94 cSt; a viscosity index of 176; and low corrosion level (1A). The viscosity index and corrosion of copper blades were adequate for biolubricant standards. However, the biolubricant flashpoint was relatively low (127°C) and the pour point was relatively high (27°C). A further modification is needed to adjust the flash and pour points so that the biolubricant able to fullfil the national lubricant standard.
Ryana Tammi Putri, Linawati Hardjito, Joko Santoso
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 123-132; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.657

Abstract:
Ulvan dalam hidrolisat Ulva lactuca merupakan senyawa bioaktif yang potensial di bidang biofarmakologi. Proses hidrolisis untuk memperoleh golongan senyawa ini dapat dilakukan secara kimiawi atau mikrobiologi. Proses mikrobiologi merupakan teknik yang potensial karena lebih mudah dan berbiaya rendah dibanding metode kimiawi. Namun, penelitian yang menggunakan teknik hidrolisis mikrobiologi masih sangat terbatas, terutama terhadap U. lactuca. Oleh karena itu, optimasi diperlukan agar mendapatkan teknik dengan hasil rendemen hidrolisat yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi proses hidrolisis secara mikrobiologi dan menelaah aktivitas biologis ekstrak hidrolisatnya. Proses hidrolisis mikrobiologi dilakukan dengan teknik padat dan cair menggunakan kapang endofit dari tanaman Enhalus dan isolat bakteri laut dari rumput laut Eucheuma cottonii. Teknik mikrobiologis ini juga dibandingkan dengan teknik kimiawi (HCl). Optimasi dilakukan terhadap variabel durasi waktu (3, 6, 9, dan 12 hari) hidrolisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen metode hidrolisis cair menggunakan bantuan kapang endofit dari tanaman Enhalus (51,67%) dan isolat bakteri laut dari rumput laut E. cottonii (52,67%), lebih tinggi dan berbeda secara signifikan (p200 ppm) maupun antibakteri (menghambat 36% Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeroginosa).ABSTRACTThe Ulvan in Ulva lactuca hydrolysate is a potential bioactive compound in the biopharmacology field. The hydrolysis process to obtain this class of compounds can be done in various ways, both chemically and microbiologically. The microbiological process is a potential technique because it is easier and cheaper than the chemical method. However, studies conducted with the microbiology hydrolysis technique are still very limited, especially for U. lactuca. Thus, optimation is needed to reveal an appropriate technique that produces the maximum yield. This study aimed to optimize the microbiological hydrolysis process and identify the biological activity of the hydrolyzed extract. The microbiological hydrolysis process was performed by solid and liquid techniques using microbial endophytic fungi from Enhalus plants and marine bacteria isolated from Eucheuma cottonii. The microbiology technique was compared with chemical techniques (HCl). Optimization was also carried out on the variable of hydrolysis duration (3, 6, 9, and 12 days). The results showed that yield of liquid hydrolysis method using the microbial endophytic fungi from Enhalus plants (51.67%) and marine bacteria isolated from E. cottonii (52.67%), were higher and significantly different (p200 ppm) or antibacterial agent (36% Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeroginosa inhibition).
Meda Canti, Sherly Apryani, Diana Lestari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 15, pp 133-141; doi:10.15578/jpbkp.v15i2.651

Abstract:
Mi kering adalah produk pangan dari tepung terigu yang banyak dikonsumsi masyarakat. Produk ini dapat dikembangkan dengan tambahan dari bahan lain, seperti labu kuning (Cucurbita moschata), untuk mengurangi kebutuhan tepung terigu. Campuran antara tepung terigu dan C. moschata memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, namun rendah protein. Oleh karena itu, diperlukan penambahan bahan baku lain, seperti tepung ikan, untuk meningkatkan nilai gizinya. Ikan petek (Leiognathus equulus) dapat ditambahkan sebagai sumber protein dalam pembuatan mi kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas sensoris, fisik, dan proksimat, dari mi kering yang dibuat dengan kombinasi tepung terigu dan C. moschata, serta ditambahkan dengan tepung L. equulus. Formulasi mi kering dilakukan pada lima variasi rasio antara tepung terigu dan C. moschata (100:0, 90:10, 80:20, 70:30, dan 60:40). Formulasi terbaik yang didapatkan selanjutnya ditambahkan dengan variasi rasio tepung L. equulus (0%, 10%, 20%, 30%, dan 40%). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mi kering dengan rasio tepung terigu dan C. moschata sebesar 80:20 serta tepung L. equulus hingga 20% adalah yang terbaik. Penambahan tepung L. equulus yang lebih tinggi menyebabkan penurunan daya serap air, swelling index, dan kuat tarik mi kering, serta peningkatan cooking loss dan kekerasan. Penambahan 20% tepung L. equulus meningkatkan kandungan protein mi kering sebesar 1,52 kali; menjadi 20,74±1,22% (dry basis/db). ABSTRACTDried noodle is a daily consumed food from wheat flour. This product can be developed with the addition of other ingredients, such as pumpkin (Cucurbita moschata), to reduce the needs of wheat flour. The mixture between wheat flour and C. moschata has a high carbohydrate content but low protein. Therefore, it is necessary to add other raw materials, such as fish flour, to increase the nutritional value. Pony fish (Leiognathus equulus) can be added as a source of protein for dried noodles. This study aimed to evaluate the sensory quality, physical, and proximate value of dry noodles made from the combination of wheat flour and C. moschata,which was also added with L. equulus flour. Formulation of dry noodles was conducted with five ratio variations between wheat flour and C. moschata (100:0, 90:10, 80:20, 70:30, and 60:40). The best ratio was then added with varied L. equulus flour (0%, 10%, 20%, 30%, and 40%). The results showed that the best formula for dry noodles was the ratio of wheat flour and C. moschata at 80:20 and L. equulus up to 20%. Higher addition of L. equulus flour decreased water absorption, swelling index, the tensile strength of dry noodles, and increased cooking loss and hardness. The addition of 20% of L. equulus flour increased the protein content of dry noodles by 1.52 times, to 20.74 ±1.22% (dry basis/db).
Back to Top Top