Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Journal Information
ISSN / EISSN : 19079133 / 24069264
Total articles ≅ 321
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

S.Pi Giri Rohmad Barokah, Dwiyitno Dwiyitno, Indrianto Nugroho
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14, pp 95-106; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.611

Abstract:
Cemaran logam berat dapat terakumulasi pada air laut, sedimen dan biota laut yang hidup di dalamnya. Biota laut seperti kerang hijau (Perna viridis) yang tercemar logam berat melebihi ambang batas yang diijinkan akan membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi oleh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat pada air, sedimen dan kerang hijau (P. viridis) di Teluk Jakarta. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga sentra lokasi budidaya kerang hijau di Teluk Jakarta yaitu Cilincing, Kalibaru dan Kamal Muara pada musim penghujan bulan Oktober 2016. Hasil penelitian menunjukkan kandungan logam berat pada air laut di lokasi Cilincing, yaitu Pb 0,368 mg/L; Cd 0,007 mg/L; dan Hg 0,072 mg/L dan di lokasi Kalibaru, yaitu Pb 0,422 mg/L; Cd 0,005 mg/L; dan Hg 0,045 mg/L, sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Kepmen LH No.51/2004. Kandungan Hg pada sedimen perairan di lokasi Cilincing (0,85 mg/kg), Kalibaru (0,77 mg/kg) dan Kamal Muara (0,86 mg/kg) sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh WAC 173-204-320. Namun demikian, kandungan Hg, Cd dan Pb pada kerang hijau budidaya di semua lokasi pengambilan sampel masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Peraturan Kepala BPOM No 8 Tahun 2018. Analisis batas aman konsumsi kerang hijau yang tercemar logam berat yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa kerang hijau baik di lokasi Cilincing, Kalibaru dan Kamal Muara masih aman dikonsumsi hingga 1 kg/minggu pada orang dewasa dengan berat badan rata-rata 60 kg.
Hedi Indra Januar, Dwiyitno Dwiyitno, Umi Annisah, Ajeng Kurniasari Putri
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.613

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Jurnal Pascapanen Dan Bioteknologi Kp
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.642

Jurnal Pascapanen Dan Bioteknologi Kp
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.644

Diini Fithriani, Etyn Yunita, Ajeng Kurniasari, Fauzan Martha
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14, pp 107-116; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.357

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Nannochloropsis oculata dengan dosis bertingkat terhadap kadar kolesterol total tikus yang dibuat hypercholesterolemia dan pengaruhnya terhadap perubahan berat tikus. Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan hewan percobaan tikus Wistar (Sprague Dawley) jantan. Sampel terdiri dari 25 ekor tikus Sprague Dawley yang secara acak dibagi menjadi menjadi 5 kelompok. Kelompok A adalah kelompok kontrol negatif yang diberi pakan standar, kelompok B adalah kontrol positif yang diberi pakan hiperkolesterol, dan kelompok C, D dan E sebagai kelompok perlakuan yang diberikan pakan hiperkolesterol dan pemberian N. oculata dengan dosis 150 mg/ kg bb (kelompok C), 300 mg/ kg bb (kelompok D), dan 600 mg/ kg bb (kelompok E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa N. oculata memberikan pengaruh positif terhadap penurunan total kolesterol. Semakin tinggi dosis mikroalga yang diberikan maka semakin tinggi penurunan total kolesterol dalam darah. Total penurunan kolesterol pada dosis 150 mg/kg bb adalah 21%, sedangkan pada dosis 300 mg/kg bb adalah 34% dan pada dosis 600 mg/kg bb adalah 42%. Pada kontrol positif mengalami penurunan 12%, sedangkan kontrol negatif meningkat 3%. Selain itu, diperoleh hasil bahwa terdapat interaksi periode waktu dan perlakuan terhadap kadar kolesterol. Hasil uji in vivo ini menunjukkan bahwa mikroalga N. oculata berpotensi untuk dikembangkan sebagai suplemen penurun kolesterol dengan dosis efektif 600 mg/kg bb. Pemberian N.oculata pada dosis 150 mg-600 mg/kg bb selama 28 hari dapat menurunkan jumlah pakan yang dikonsumsi namun jumlahnya belum secara signifikan mempengaruhi berat badan tikus.
Rany Dwimayasanti, Bayu Kumayanjati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14, pp 141-150; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.603

Abstract:
Enis pengemas biodegradable saat ini sangat diperlukan untuk mengurangi penggunaan plastik sintetik, di antaranya dengan pengembangan pengemas edible film yang lebih ramah lingkungan. Karagenan dan kitosan merupakan polimer alam yang berpotensi menjadi bahan dasar dalam pembuatan edible film. Penelitian pembuatan edible film berbahan dasar karagenan dan kitosan dengan metode layer-by-layer telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi karagenan dan kitosan yang berbeda terhadap kualitas edible film yang dihasilkan. Karakterisasi film yang dilakukan meliputi uji kuat tarik, elongasi, kelarutan, water vapour permeability (WVP) dan morfologi permukaan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial 2 faktor dengan variasi karagenan (1,0%, 1,5%, 2,0%, 2,5%) dan variasi kitosan (0,5%, 1,0%, 1,5%, 2,0%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kombinasi konsentrasi karagenan dan kitosan menghasilkan nilai yang berbeda-beda. Kenaikan konsentrasi karagenan dan kitosan tidak selalu berbanding lurus terhadap kenaikan nilai kuat tarik, elongasi, kelarutan, WVP dan morfologi permukaan edible film. Secara umum, dari seluruh perlakuan yang ada dapat disimpulkan bahwa kombinasi karagenan 2,5% dan kitosan 1,0% adalah formulasi terbaik.
Didit Kustantio Dewanto, Finarti Finarti, Roni Hermawan, Samliok Ndobe, Putut Har Riyadi, Wendy Alexander Tanod
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14, pp 163-178; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.583

Abstract:
Bioaktif antioksidan merupakan substansi yang penting bagi kesehatan manusia. Karang lunak telah diketahui memproduksi bioaktif dengan keragaman struktur dan aktivitas biologi, termasuk memproduksi bioaktif antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bioprospeksi karang lunak dari perairan Teluk Palu sebagai penghasil antioksidan. Penelitian meliputi pengambilan sampel, identifikasi, ekstraksi (maserasi) karang lunak, skrining konstituen kimia, pengujian aktivitas antioksidan (penangkapan radikal DPPH), dan penentuan IC50. Pengambilan sampel dilakukan di Teluk Palu, pesisir desa Kabonga Besar, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Berdasarkan bentuk koloni monomorfik, tujuh sampel karang lunak yang digunakan pada penelitian ini termasuk dalam genus Sinularia, Dampia dan Sarcophyton. Analisis konstituen kimia mengindikasikan adanya senyawa saponin, fenolik, triterpenoid, dan alkaloid. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, menunjukkan ekstrak kasar karang lunak menunjukkan persentase inhibisi radikal DPPH yang lemah. Hasil pengujian aktivitas antioksidan (metode DPPH) dari fraksi hasil partisi tujuh ekstrak kasar karang lunak berpotensi sebagai antioksidan dengan kategori kuat sampai lemah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak karang lunak asal Teluk Palu berpotensi sebagai sumber antioksidan. Karang lunak di pesisir Desa Kabonga Besar didominasi oleh genus Sinularia.
Siti Balqis Huriyah, Iriani Setyaningsih, Wini Trilaksani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14, pp 117-128; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.606

Abstract:
Suplemen makanan kesehatan di pasaran saat ini sebagian besar terdiri dari satu jenis bahan baku, sehingga berpotensi hanya memiliki satu manfaat. Spirulina diketahui memiliki kandungan protein tinggi tetapi kadar lemaknya rendah, oleh karena itu dilakukan penelitian tentang pembuatan tablet Spirulina dengan tambahan sumber lain untuk mendapatkan nutrisi lengkap dan seimbang yang sangat diperlukan. Naskah ini melaporkan formulasi Spirulina yang diperkaya dengan mikroenkapsulat virgin fish oil (VFO) mata tuna; yang terdiri dari tiga tahap, yaitu kultivasi Spirulina; preparasi, ekstraksi, dan mikroenkapsulasi VFO mata tuna (Thunnus sp.); serta formulasi tablet. Ada tiga formula dalam hal rasio Spirulina dan mikroenkapsulat VFO mata tuna, yaitu P1 (250:180 mg); P2 (200:230 mg); P3 (150:280 mg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula P3 merupakan formulasi terbaik berdasarkan karakteristik fisik, aktivitas antioksidan (IC50 133,27 ppm), dan kadar lemak 14,67%. Tablet P3 memiliki proporsi asam amino arginin tertinggi (3,30%) dan asam dokosaheksaenoat (18,03%), serta dapat memenuhi 18,6% dari angka kecukupan gizi asam lemak omega-3 untuk wanita hamil trimester pertama.
Sugeng Hadinoto, Joice P. M. Kolanus, Syarifuddin Idrus
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14, pp 129-140; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.589

Abstract:
Gelembung renang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kolagen karena mempunyai kandungan protein kolagen yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia gelembung renang ikan tuna sirip kuning dan karakteristik kolagen yang diperoleh melalui ekstraksi menggunakan asam asetat 0,2 M. Gelembung renang ikan tuna sirip kuning diuji kandungan komposisi proksimat, logam berat (Hg, Pb, Cd dan As) dan asam amino. Kuantitas dan kualitas kolagen hasil ekstraksi dilihat melalui parameter rendemen, komposisi proksimat, logam berat, cemaran mikroba dan karakteristik fisikokimia (gugus fungsi, berat molekul, asam amino, dan stabilitas termal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelembung renang ikan tuna sirip kuning mengandung protein 19,17%, yang didominasi oleh jenis asam amino glisin 5,71 mg/g, arginin 3,72 mg/g dan alanin 3,95 mg/g. Kandungan logam berat gelembung renang masih berada di bawah ambang batas. Ekstraksi kolagen dari gelembung renang ikan tuna sirip kuning menggunakan asam asetat 0,2 M menghasilkan rendemen kolagen sebesar 1,15%. Kolagen yang dihasilkan mengandung protein sebesar 94,14%, yang didominasi oleh asam amino glisin 1957,75 mg/g, arginin 827,96 mg/g dan alanin 825,98 mg/g; tidak terdeteksi logam berat (Hg, Pb, Cd dan As); dan bebas dari cemaran Escherichia coli, Salmonella dan Coliform. Karakteristik gugus fungsi dan berat molekul menunjukkan kolagen yang diperoleh tergolong kolagen Tipe I, dan kolagen yang dihasilkan memiliki kestabilan termal yang tinggi sehingga dapat diaplikasikan pada industri makanan, farmasi dan kosmetik.
Jurnal Pascapanen Dan Bioteknologi Kp
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 14; doi:10.15578/jpbkp.v14i2.643

Back to Top Top