Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1907-9133 / 2406-9264
Total articles ≅ 354
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Rika - Nuryahyani, Dita Kristanti, Dewi - Desnilasari, Devry P. Putri, Achmat Sarifudin, Diki N. Surahman, Woro Setiaboma
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 17; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v17i1.760

Abstract:
ARTICLE IN PRESSAbstrak Bakso merupakan produk olahan yang digemari oleh masyarakat, sehingga banyak dilakukan pembuatan bakso ikan sebagai upaya peningkatan konsumsi ikan. Fortifikasi daun kelor telah dilakukan untuk meningkatkan kandungan protein dan zat besi pada bakso ikan. Proses pembuatan bakso ikan menjadi produk instan dilakukan sebagai upaya mempermudah dan memperpanjang masa simpannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perlakuan terbaik pada pembuatan bakso ikan etong dengan penambahan daun kelor yang akan dijadikan bakso instan dan mengetahui karakteristik fisikokimia bakso instan tersebut. Bakso ikan etong dibuat dengan variasi penambahan daun kelor segar sebesar 0% (A0), 5% (A1), 10% (A2), dan 15% (A3) dari berat daging ikan. Bakso ikan terbaik dipilih menggunakan metode De Garmo berdasarkan kandungan protein dan Fe. Hasil perlakuan terbaik berdasarkan analisis De Garmo adalah bakso A3. Bakso instan A3 memiliki karakteristik kadar air 11,82 % bb, protein 33,17% bb, zat besi 1,27 mg/100 g bb, waktu rehidrasi 13 menit, dan kecerahan 65,62. Kata Kunci : AbstractMeatballs are processed products favored by the community, so the manufacturing of fish meatballs could increase fish consumption. Fortification of moringa leaves was carried out to increase the protein and iron content of fish meatballs. The fish meatball processing into an instant product was done to extend the shelf life. This study aimed to determine the best treatment of triggerfish meatballs with the addition of moringa leaves to produce instant meatballs and evaluate the physicochemical characteristics of producing instant meatballs. Triggerfish meatball was made with the addition of fresh moringa leaves by 0% (AO), 5% (A1), 10% (A2), and 15% (A3) of the weight of the fish. The best fish meatball was selected using the De Garmo method based on protein and Fe values. The best treatment result based on De Garmo’s analysis was the A3 treatment with the following characteristics: water content 11.82% ww, protein 33.17% ww, iron 1.27 mg/100 g ww, rehydration time 13 min, and lightness 65.62.
Rodiah Nurbaya Sari, Dina Fransiska, Fera Roswita Dewi, Ellya Sinurat
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 17, pp 31-42; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v17i1.797

Abstract:
Abstrak Biokeramik hidroksiapatit (HAp) adalah suatu komponen kimiawi sintetik dari turunan kalsium fosfat yang banyak digunakan untuk memperbaiki kerusakan jaringan keras. Salah satu bahan alami untuk membuat hidroksiapatit adalah cangkang kerang simping (Amusium pleuronectes), hasil samping dari usaha penangkapan kerang simping. Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan sediaan HAp dari cangkang kerang simping dan mengkarakterisasi sediaan hidroksiapatit yang dihasilkan. Tahapan yang dilakukan adalah persiapan tepung cangkang kerang, proses kalsinasi dengan perlakuan suhu (700, 800, dan 900°C) dan waktu (6; 4,5; dan 3 jam), serta sintesis HAp menggunakan amonium dihidrogen fosfat. Hasil HAp terbaik diperoleh dari perlakuan suhu kalsinasi 800°C selama 4,5 jam dengan rendemen 75,20%. Gugus fungsi CO32- yang muncul mengindikasikan adanya vibrasi C-O dari gugus CO3 dan gugus hidrogen fosfat (HPO42-). Difraktogram HAp yang dihasilkan mendekati standar (HAp-S) dengan intensitas tinggi pada nilai 2θ: 25,88°; 31,75°; 32,18°; 32,88°; 34,05°; 39,77°; 46,61°; dan 49,97°. HAp yang dihasilkan memiliki unsur Ca dan P masing-masing 59,09 dan 40,91% dengan rasio Ca/P sebesar 1,44 dan diameter partikel rata-rata 396,88 nm. HAp ini memiliki morfologi berbentuk aglomerat dan tidak terdapat permukaan dengan tepi runcing dan tajam sehingga relatif aman untuk diaplikasikan pada jaringan lunak manusia. AbstractHydroxyapatite bioceramic (HAp) is a synthetic chemical component of calcium phosphate derivatives generally used to repair hard tissue damage. One of the natural ingredients for making hydroxyapatite is scallop shells (Amusium pleuronectes), a by-product of catching fresh scallops, which only use the adductor meat/muscle. This study aimed on HAp preparations from scallop shells and characterized the resulting hydroxyapatite formulation. The steps taken were preparing scallop shell flour, the calcination processed with temperatures of 700, 800, and 900°C and times 6; 4.5; and 3 hours, and the synthesis processed using Ammonium Dihydrogen Phosphate (ADP). The results obtained were the best hydroxyapatite treatment at a calcination temperature of 800°C for 4.5 hours with a yield of 75.20%. The functional group found of CO32- indicated C-O vibrations from the CO3 group and the hydrogen phosphate group (HPO42-). The diffractogram of HAp was similar to standard hydroxyapatite (HAp-S) with high intensity at values of 2θ: 25,88°; 31.75°; 32.18°; 32.88°; 34.05°; 39.77°; 46.61°; and 49.97°. HAp from this study has an agglomerate morphology, without sharp surface and edges. Based on SEM-EDS analysis, the HAp contains Ca and P 59.09 and 40.91%, respectively, with a Ca/P ratio of 1.44. The average particle diameter size was 396.88 nm. The morphology of the resulting HAp will be safe for human soft tissue application.
Theresia Dwi Suryaningrum, Suryanti Suryanti, Rodiah Nurbaya Sari, Ema Hastarini, Diah Lestari Ayudiarti
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 17, pp 63-76; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v17i1.799

Abstract:
Abstrak Industri filet ikan patin menghasilkan hasil samping berupa kulit sebesar 7-8%. Untuk meningkatkan nilai ekonominya, kulit ikan patin dapat diolah menjadi camilan berupa keripik kulit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh perendaman kulit ikan dalam larutan asam cuka dan sodium bikarbonat (NaHCO3) serta kombinasinya dengan blansing dalam air panas terhadap karakteristik keripik kulit ikan patin yang dihasilkan. Sebelum dilumuri tepung dan digoreng menjadi keripik, kulit ikan patin direndam dalam larutan asam cuka 3% (v/v) atau larutan NaHCO3 1% (b/v) selama 15 menit serta kombinasi perendaman asam cuka, NaHCO3, dan blansing dengan air panas pada suhu 70-80°C selama 2 menit. Sebagai kontrol digunakan kulit patin yang hanya diblansing dan tanpa perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan perendaman dalam larutan NaHCO3 1% (b/v) selama 15 menit dan blansing dalam air panas suhu 70-80°C selama 2 menit menghasilkan keripik kulit yang mempunyai kenampakan, aroma, kerenyahan, dan secara keseluruhan paling disukai panelis. Keripik kulit tersebut mempunyai kandungan protein 28,93±0,71%, dengan lemak 31,89±1,52%, abu 3,31±0,19%, air 2,40±0,38%, serta nilai TBA 0,14±0,02 mg MDA/kg. Keripik kulit dengan perlakuan ini mempunyai tingkat kecerahan dengan nilai L* paling tinggi, nilai +a* (derajat kemerahan) dan +b*(derajat kekuningan) yang rendah, serta tekstur yang lebih renyah (p<0,05) dibandingkan dengan keripik kulit yang diberi perlakuan perendaman dalam larutan asam cuka dan kontrol. AbstractThe pangasius (catfish) fillet industry produces fish skin as a by-product by 7-8%. To increase its value-added, catfish skin can be processed into a snack of skin chips. This study aimed to examine the effects of soaking fish skin in a solution of vinegar and sodium bicarbonate (NaHCO3) and its combination with blanching in hot water on the characteristics of the catfish skin chips produced. The skin of the catfish before being coated with flour and fried was soaked in a solution of 3% (v/v) vinegar or 1% (w/v) NaHCO3 solution for 15 minutes, and a combination of soaking vinegar by  blanching and  NaHCO3 by blanching with hot water at a temperature of 70-80°C for 2 minutes. As a control, skin that was only blanched and without treatment was also observed. The experiment was carried out with 3 replications. The results showed that the combination of soaking in 1% (w/v) NaHCO3 solution and blanching in hot water at 70-80°C for 2 minutes resulted in catfish skin chips that had the most favorable appearance, aroma, crispness, and overall acceptance by the panelists. The catfish skin chips contained protein of 28.93±0.71%, a fat content of 31.89±1.52%, ash of 3.31±0.19%, the water of 2.40±0.38%, and a TBA value of 0.14±0.02 mg MDA/kg. Catfish skin chips with this treatment had a brightness level with the highest L* value, a low +a* value (degree of redness), and +b*(yellowish), and a crispier texture, which were significantly different (p<0.05) from the catfish skin chips treated with soaking in an acid solution and control.
Ni Wayan Sri Agustini, Dody Priadi, Raja Vin Atika
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 17, pp 19-30; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v17i1.781

Abstract:
Abstrak Salah satu penyebab masalah kesehatan mulut adalah bakteri. Mikroalga jenis Nannochloropsis sp. diketahui memiliki senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti asam lemak dan fenol. Studi ini bertujuan untuk mengetahui potensi senyawa yang terkandung dalam Nannochloropsis sp. yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan gangguan kesehatan mulut, dalam hal ini bau mulut dan plak gigi. Bakteri yang digunakan pada uji ini adalah Streptococcus mutans, Streptococcus sanguinis, dan Porphyromonas gingivalis. Selanjutnya profil kimia fraksi aktifnya dianalisis menggunakan kromatografi gas spektrometri massa (KG-SM). Biomassa Nannochloropsis sp. dimaserasi secara berturut-turut menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Aktivitas antibakteri ekstrak diuji dengan metode difusi menggunakan kertas cakram. Selanjutnya, ekstrak etanol yang paling aktif difraksinasi menggunakan kolom silika G60 dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Hasil fraksinasi (fraksi A dan B) kemudian diuji aktivitas antibakterinya. Fraksi A diketahui lebih aktif dibanding fraksi B, dengan diameter zona hambat fraksi A 15,5 mm (terhadap S. mutans); 16,8 mm (S. sanguinis) dan 16,1 mm (P. gingivalis) pada konsentrasi ekstrak 10 mg/mL dan dikatagorikan mempunyai respon hambatan pertumbuhan bakteri yang kuat. Hasil identifikasi fraksi A menggunakan KG-SM dibandingkan dengan spektra fragmentasi database WILEY 10N.14 dan diperoleh sepuluh senyawa dengan tingkat kemiripan ≥ 90%. Senyawa-senyawa tersebut diduga berperan dalam aktivitas antibakteri. Oleh karena itu, fraksi A dari ekstrak etanol Nannochloropsis sp. berpotensi sebagai bahan untuk formulasi obat kumur pencegah bau mulut dan plak gigi. AbstractOne of the causes of oral health problems is bacteria contamination. The microalgae of Nannochloropsis sp., contains chemical compounds that can inhibit bacterial growth, such as fatty acids and phenols. The objective of the study is to determine the potential compounds of Nannochloropsis sp., which can inhibit the growth of bacteria that cause bad breath (halitosis) and dental plaque. The bacteria used in this test were Streptococcus mutans, Streptococcus sanguinis, and Porphyromonas gingivalis. Futhermore, chemical profiles of the active fractions were determined using a gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS). The biomass of Nannochloropsis sp. was macerated successively using n-hexane, ethyl acetate, and ethanol as solvents. The extract was tested for its antibacterial activity by diffusion method using disc paper. The most active ethanol extract was fractionated using a silica G60 column with n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The results of the fractionation (A and B fractions) were tested for their antibacterial activity. The A fraction was more active than the B fraction with the inhibition zone diameters of the A fraction were 15.5 mm (against S. mutans), 16.8 mm (S. sanguinis), and 16.1 mm (P. gingivalis) at extract concentration of 10 mg/mL and categorized as a strong bacterial growth inhibition response. The A fraction was identified using GC-MS and compared with the fragmentation spectra based on the WILEY 10N.14 database. The identification obtained ten compounds with > 90% similarity. These compounds were thought to play a role in the antibacterial activity. Therefore, the A fraction of ethanol extract from Nannochloropsis sp. can potentially be used in mouthwash formulation to prevent halitosis and dental plaque.
Tsurayya Ramadhani, Apri Dwi Anggo, Lukita Purnamayati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 17, pp 53-62; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v17i1.806

Abstract:
Abstrak Keripik atau chips merupakan makanan ringan yang digemari oleh seluruh kalangan masyarakat dengan kadar nutrisi yang beragam. Konsentrat protein ikan (KPI) kembung sebagai salah satu sumber protein hewani bisa ditambahkan dalam keripik dengan harapan dapat meningkatkan nilai gizi dan kualitas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji pengaruh fortifikasi KPI kembung terhadap kualitas keripik dan menentukan konsentrasi KPI kembung terbaik. Pembuatan keripik diawali dengan mengolah sampel ikan kembung menjadi KPI, kemudian dilakukan fortifikasi dengan konsentrasi KPI 0%, 5%, 10%, dan 15%. Parameter analisis yang diamati meliputi proksimat, daya cerna protein, asam amino lisin, kerenyahan, dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi KPI kembung berpengaruh nyata terhadap kandungan proksimat, kecuali kadar lemak, daya cerna protein, asam amino lisin, kerenyahan, dan uji hedonik (kenampakan, rasa, dan tekstur). KPI kembung dengan konsentrasi 5% merupakan tingkat fortifikasi keripik terbaik berdasarkan parameter rasa yang paling disukai yaitu 7,47 dan terdapat peningkatan kandungan protein menjadi 9,44%, daya cerna protein 60,29%, dan asam amino lisin 0,19%. Abstract Chips are snacks that are very popular with a variety of nutritional content. Mackerel Fish Protein Concentrate (FPC), as a source of animal protein added to chips is expected to increase the nutritional value and quality of chips. The purpose of this study was to examine the effect of mackerel FPC on chips quality and determine the best mackerel FPC concentration. Chip processing began by preparing FPC from mackerel, then fortified into the chip with concentration levels of 0%, 5%, 10%, and 15%. The analysis parameters observed were proximate composition, protein digestibility, lysine content, crispiness, and hedonic tests. The results showed that the concentration of mackerel FPC had a significant effect on the proximate except for fat content, protein digestibility, lysine content, crispiness, and hedonic test (appearance, taste, and texture). Mackerel FPC at a concentration of 5% produced the best chips with the most preferred taste of 7.47 and there was an increase in protein content to 9.44%; protein digestibility 60.29%; and lysine content 0.19%.
Fitriana Nainggolan, Seftylia Diachanty, Indrati Kusumaningrum, Irman Irawan, Ita Zuraida
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 17, pp 43-52; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v17i1.793

Abstract:
Abstrak Nuget udang berkualitas baik mempunyai tekstur kenyal tetapi lembut ketika digigit, warna menarik, rasa udang yang kuat dan gurih, serta disukai oleh konsumen. Salah satu bahan tambahan pangan yang dapat digunakan untuk memperbaiki tekstur dan meningkatkan nilai gizi nuget udang adalah rumput laut Kappaphycus alvarezii. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik fisikokimia nuget udang werus (Metapenaeus monoceros) dengan penambahan rumput laut K. alvarezii, serta untuk mendapatkan rasio daging udang dan rumput laut terbaik yang disukai konsumen. Perlakuan rasio (b/b) daging udang dan rumput laut lumat terdiri atas A0 (10:0), A1 (9:1), A2 (8:2), A3 (7:3), dan A4 (6:4). Parameter yang dianalisis meliputi expressible moisture content, proksimat, tingkat kesukaan (hedonik), dan warna. Berdasarkan hasil penelitian, kombinasi daging udang werus dan K. alvarezii tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap kadar protein, abu, expressible moisture content, dan warna, namun memberikan pengaruh (p<0,05) pada kadar air, lemak, dan serat kasar. Penambahan daging udang dan rumput laut menurunkan kadar air dan lemak nuget udang, namun meningkatkan kadar serat kasarnya. Selanjutnya, penambahan K. alvarezii mampu meningkatkan nilai tekstur nuget, namun tidak mempengaruhi parameter tingkat kesukaan lainnya secara umum. Rasio (b/b) daging udang dan rumput laut terbaik adalah 6:4 (A4) dengan nilai kesukaan keseluruhan antara 6,83-7,93 (suka sampai sangat suka). Rumput laut K. alvarezii dapat ditambahkan pada nuget udang untuk memperbaiki tekstur dan sebagai sumber serat. AbstractA good shrimp nugget exhibits chewy and soft textures, attractive color, strong shrimp flavor, savory taste and, is preferred by consumers. An additional food ingredient that can improve the texture and increase the nutritional value of shrimp nuggets is Kappaphycus alvarezii seaweed. This research aimed to investigate the physicochemical characteristics of speckled shrimp (Metapenaeus monoceros) nuggets incorporated with K. alvarezii and to obtain the best ratio (w/w) of shrimp meat and seaweed in nugget formulations in accordance with consumer’s preference. The ratios (w/w) of shrimp meat and seaweed, i.e. A0 (10:0), A1 (9:1), A2 (8:2), A3 (7:3), and A4 (6:4). Parameters analyzed were expressible moisture content, proximate, preference level (hedonic), and color. Based on the results, the combination of shrimp meat and K. alvarezii had no significant effect (p>0.05) on protein content, ash, expressible moisture, and color, but affected (p<0.05) the moisture content, fat, and crude fiber. The addition of shrimp meat and seaweed decreased the moisture and fat contents of shrimp nuggets, but increased the crude fiber content. The addition of K. alvarezii in shrimp nuggets did not affect consumer preferences on the nugget’s taste, aroma, color, and overall preference, but affected its texture. The best ratio (w/w) of shrimp meat and seaweed was 6:4 (A4) with an overall preference rating of 6.83-7.93 (like moderately to like very much). K. alvarezii seaweed can be added to shrimp nuggets to improve the texture and as a source of fiber.
Fadia Mutiara Prastianti, Eri Bachtiar, Muhammad Wahyudin Lewaru, Moch Untung Kurnia Agung
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 17, pp 77-87; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v17i1.794

Abstract:
Abstrak Perairan Sungai Citarum banyak memperoleh limpasan limbah antropogenik dari darat yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut, bakteri dapat dimanfaatkan sebagai agen bioremediasi. Hingga saat ini belum tersedia informasi komunitas bakteri di Perairan Sungai Citarum, khususnya dari wilayah hilir Muara Gembong. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komunitas, kelimpahan, dan keanekaragaman bakteri dari Perairan Muara Gembong yang telah diperkaya dengan pendekatan metagenomik, serta analisis fungsional dengan melihat profil protein yang dimiliki dari bakteri yang teridentifikasi yang berpotensi sebagai agen bioremediasi. Pengambilan sampel air dilakukan di dua lokasi (A1 dan A2) dengan karateristik perairan yang berbeda. Sampel air estuari diperkaya dengan 0,2x Nutrient Broth. Sekuensing dilakukan dengan metode Next Generation Sequencing (NGS) menggunakan amplikon sekuensing platform Novaseq Illumina, dengan primer 16S rRNA region V3–V4 (341F dan 806R). Hasil identifikasi menunjukkan terdapat 37 genera, 19 famili, 13 ordo, 7 kelas, dan 4 filum bakteri dengan 49 OTU untuk sampel A1 dan 48 OTU untuk sampel A2. Kelimpahan tertinggi diperoleh pada kelas Gammaproteobacteria (99,82%) yang didominasi oleh genus Vibrio. Keanekaragaman bakteri pada kedua sampel diperkaya ini tergolong sedang dengan dominasi tinggi. Analisis fungsional menunjukkan kemampuan bakteri yang teridentifikasi mampu mendegradasi benzoate, dioxin, asam lemak, metana, naftalen, nitrotoluene, PAH, dan sulfur dengan protein dan enzim yang terlibat dalam metabolisme tersebut. Penelitian ini menunjukkan bakteri yang teridentifikasi pada Perairan Muara Gembong mempunyai potensi bioremediasi untuk cemaran lingkungan, seperti polutan organik dari logam berat. AbstractMuara Gembong waters is a downstream region of the Citarum watershed that receives anthropogenic runoff and affects water pollution. To overcome the problem of pollution, bacteria can be used as a bioremediation agent. Until now, information on the bacterial community in Citarum River waters has not been obtained, especially in the downstream area of Muara Gembong. This study aims to identify the community, abundance, and diversity of bacteria from Muara Gembong waters that have been enriched with a metagenomic approach, as well as functional analysis by looking at the protein profiles of the identified bacteria that have the potential as bioremediation agents. Water samples were taken at two locations (A1 and A2) with different water characteristics. Estuary water samples were enriched with 0.2x Nutrient Broth (NB). Amplicon sequencing of NGS by Novaseq Illumina platform was used in this research, using 16S rRNA primer region V3-V4 (341F and 806R). The results showed that 37 genera, 19 families, 13 orders, 7 classes, and 4 bacterial phyla were identified with 49 OTUs for A1 and 48 OTUs for A2. The highest abundance was obtained by the Gammaproteobacteria class (99.82%) which dominated by the Vibrio genera. The diversity level is classified as medium diversity with high dominance. Functional analysis showed the ability of the identified bacteria to degrade benzoate, dioxin, fatty acid, methane, naphthalene, nitrotoluene, PAH, and sulfur with proteins and enzymes involved in the metabolism. This study shows that identified bacteria in Muara Gembong waters are potentially appicable for bioremediation of the environment contaminants, such as organic pollutants and heavy metals.
Tri Nugroho Widianto, Iwan Malhani, Nandang Priyanto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v17i1.791

Abstract:
ARTICLE IN PRESS
Abstrak Kualitas dan sintasan ikan nila setelah transportasi umumnya masih rendah yang disebabkan oleh terjadinya stres selama pengangkutan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan penelitian untuk mengetahui performansi metode transportasi ikan nila dengan sistem basah terbuka yang dilakukan pada suhu rendah dan kepadatan berbeda. Simulasi transportasi dilakukan dengan perlakuan suhu rendah (15 dan 20°C) dan kepadatan ikan berbeda (100 dan 150 g/L). Simulasi dilakukan dengan simulator goncangan yang bekerja dengan arah horizontal (maju dan mundur) sejauh 0,24 m dengan kecepatan 0,14 m/detik selama 8 jam. Selama pengujian, dilakukan aerasi menggunakan oksigen dengan debit 4 L/menit. Pengamatan yang dilakukan adalah pengukuran kualitas air yang meliputi oksigen terlarut (DO), pH, TDS, suhu, kandungan total amonia nitrogen (TAN), nitrat, dan nitrit. Kandungan glukosa darah ikan diukur sebelum dan sesudah simulasi, sedangkan sintasan ikan diamati setelah uji simulasi. Hasil pengujian menunjukkan kandungan TAN, nitrat, dan nitrit pada perlakuan suhu rendah nilainya lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan suhu 15°C (kepadatan 100 g/L) menghasilkan kandungan TAN dan kenaikan kandungan nitrat terendah, yaitu masing-masing 2,88 ppm dan 13,6 ppm. Sementara itu, kenaikan kandungan nitrit terendah terdapat pada perlakuan suhu 20°C (kepadatan 100 g/L) sebesar 0,06 ppm. Nilai pH air relatif sama pada semua perlakuan, yaitu 7,5-7,8. Hasil pengujian menunjukkan perlakuan suhu rendah tidak berpengaruh terhadap TDS air, sedangkan pada perlakuan kepadatan ikan yang lebih tinggi menghasilkan TDS lebih tinggi pula. Sintasan tertingi diperoleh dari perlakuan suhu 15°C (kepadatan 100 g/L) sebesar 97,9 %. Pada perlakuan tersebut, kandungan TAN-nya terendah serta perubahan pH dan TDS-nya juga kecil sehingga dapat mengurangi tingkat stres ikan selama transportasi. AbstractThe quality and survival rate (SR) of tilapia after transportation is still low due to fish stress during transportation. To overcome this problem, this study has been carried out to determine the transportation performance of tilapia using an open system at low temperatures and different densities. The transport simulations were carried out with fish densities of 100 and 150 g/L of water and temperature of 20 and 15°C. Simulations were conducted using a shock simulator with horizontal (forward and backward) movement of 0.24 m distance at a speed of 0.14 m/s continuously for 8 h. During the simulation, aeration was carried out using oxygen with a flow rate of 4 L/min. Performance tests were conducted by measuring dissolved oxygen (DO), pH, total dissolved solids (TDS), temperature, total ammonia nitrogen (TAN), nitrate, and nitrite contents of water. The blood glucose content of fish was measured before and after the simulation, while fish survival rate was observed after the simulation test. The performance test results showed that the TAN, nitrate and nitrite content of water were lower at low temperatures compared to the control. The lowest TAN and nitrate of water occurred at a temperature of 15°C (densities of 100 g/L) with a value of 2.88 ppm and 13.6 ppm, respectively, while the lowest increase in nitrite content occurred at a temperature treatment of 20°C (density 100 g/L) of 0.06 ppm. The pH showed relatively similar for each treatment, i.e. 7.5-7.8. The TDS value showed that the low temperature treatment had no effect on TDS, while high fish densities resulted in higher TDS. The best survival rate occurred at a temperature of 15°C (density 100 g/L) of 97.9 %. This treatment also resulted in the lowest TAN content and relatively small changes in pH and TDS, so that it can reduce the fish stress levels during transportation.
Yusma Yennie, Gunawan Gunawan, Farida Ariyani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16, pp 83-92; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i2.702

Abstract:
Listeria monocytogenes adalah salah satu bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan. Penolakan ekspor produk udang beku Indonesia karena kontaminasi L. monocytogenes masih terjadi yang berdampak pada kerugian material bagi pelaku usaha. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan tingkat kontaminasi L. monocytogenes pada produk udang beku untuk pasar ekspor. Sampel yang diambil merupakan udang segar dari tambak dan bahan baku dari bagian penerimaan di Unit Pengolahan Ikan (UPI) serta udang beku sebagai produk akhir UPI, dengan menerapkan sistem ketertelusuran. Lokasi penelitian adalah Sumatra Utara (Medan), DKI Jakarta, Jawa Timur (Surabaya dan Banyuwangi), dan Sulawesi Selatan (Makassar). Identifikasi dan enumerasi L. monocytogenes dilakukan dengan metode MPN-PCR dengan target gen hlyA (~456bp). Prevalensi L. monocytogenes pada udang vaname secara keseluruhan sebesar 6,7% (9/135 sampel), dengan prevalensi di masing-masing titik pengambilan sampel berturut-turut 6,1% di tambak, 9,6% di bahan baku, dan 4% di produk akhir, yang merupakan sampel udang dari batch yang sama. Tingkat kontaminasi L. monocytogenes pada sampel udang vaname berkisar 6,1-1.100 APM/g. Persyaratan L. monocytogenes pada bahan pangan adalah negatif/25g, sehingga sampel udang yang terkontaminasi L. monocytogenes tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagai pangan yang aman untuk dikonsumsi berdasarkan regulasi yang berlaku di Indonesia maupun di negara lain. Kontaminasi L. monocytogenes pada udang beku kemungkinan berasal dari tambak ataupun lingkungan pengolahan. Penerapan Good Aquaculture Practices (GAP) di lingkungan tambak udang, serta Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Good Manufacturing Practices (GMP) di UPI perlu dilakukan dengan benar sebagai upaya pengendalian kontaminasi L. monocytogenes. Selain itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai sumber dan titik kritis kontaminasi L. monocytogenes di sepanjang rantai pengolahan udang beku mulai dari tambak sampai produk akhir.ABSTRACTListeria monocytogenes is pathogenic bacteria that can cause foodborne illness. Rejection of frozen shrimp exports due to L. monocytogenes contamination still occurs and causes economical losses for the industries. The objective of this study was to determine the prevalence and the level of L. monocytogenes contamination in frozen shrimp for export markets. Samples collected were fresh shrimp from shrimp culture and raw material from the receiving point of fish processing plants (UPI), and frozen shrimp as the end product, by implementing a traceability system. Study locations were in North Sumatra (Medan), Special Capital Region of Jakarta, East Java (Surabaya dan Banyuwangi), and South Sulawesi (Makassar). Identification and enumeration of L. monocytogenes were carried out using the MPN-PCR method with the target gene hlyA (~456bp). The prevalence of L. monocytogenes in vanname shrimp was 6.7% (9 out of 135 samples), where 6.1%, 9.6%, and 4% of the prevalence were found in samples from shrimp culture, raw material, and end product, respectively. These samples were from the same batch. The contamination level ranged from 6.1 to 1,100 MPN/g. L. monocytogenes in food should be negative/25g, thus the contaminated samples do not meet requirements as safe for human consumption based on food regulation in Indonesia and other countries. Findings from this study suggested that shrimp culture or fish processing environment are potential sources of L. monocytogenes contamination in frozen shrimp. Therefore, the implementation of Good Aquaculture Practices (GAP) in shrimp culture environment, as well as Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) and Good Manufacturing Practices (GMP) in shrimp processing plant are necessary to control L. monocytogenes contamination. Further studies regarding the sources and critical points of L. monocytogenes contamination throughout the processing of frozen shrimp from shrimp culture to end product are also needed.
Novalia Rachmawati, Radestya Triwibowo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Volume 16, pp 93-104; https://doi.org/10.15578/jpbkp.v16i2.771

Abstract:
Tuna, tongkol, cakalang (TTC) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomis penting yang disukai oleh banyak konsumen di Indonesia. Namun demikian, distribusi, penanganan, dan pengolahan komoditas ini masih banyak mengalami kendala, di antaranya kontaminasi bakteri pembentuk histamin (BPH) yang dapat menyebabkan akumulasi histamin dan menimbulkan kerugian kesehatan pada konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi BPH dari komoditas TTC segar yang dijual di pasar domestik, mengevaluasi profilnya, serta mengkarakterisasi kemampuan BPH tersebut dalam menghasilkan histamin. Sebanyak 93 sampel TTC diperoleh dari TPI, pasar tradisional, dan pasar modern di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Dari 318 isolat presumtif BPH yang ditemukan, sebanyak 59 isolat (19%) terkonfirmasi positif gen hdc dan di antaranya sebanyak 43 isolat dikategorikan sebagai BPH prolifik. Hasil sekuensing 16S rDNA menunjukkan sebanyak 30 dari 43 isolat BPH prolifik (69,8%) adalah Morganella morganii. Selain M. morganii, isolat lain yang ditemukan dari semua jenis ikan yang diamati adalah Photobacterium damselae (6,9%), keduanya merupakan BPH mesofilik. Isolat mesofilik lain yang teridentifikasi dari sampel TTC berasal dari genus Klebsiella (4,7%), Proteus (4,7%), Raoultella (4,7%), Shewanella (2,3%), dan Vibrio (6,9%). Keberadaan BPH prolifik ini mengindikasikan adanya potensi akumulasi histamin pada produk akhir TTC apabila dalam penanganan dan pengolahannya tidak menerapkan sistem rantai dingin dengan benar. ABSTRACTTuna and tuna-like fish are economically important and popular amongst Indonesian consumers. However, the distribution, handling, and processing of these commodities are still facing many problems, including contamination of histamine producing bacteria (HPB) which may lead to histamine accumulation and cause human adverse health effects. This study aimed to identify HPB from fresh tuna and tuna-like fish sold in domestic markets in Indonesia, evaluate their profile, and characterize their ability to produce histamine. A number of 93 fish samples were obtained from fish landing, traditional and modern fish markets in West Java, DKI Jakarta, and Banten. Of 318 presumptive HPB identified from the sample, 59 isolates (19%) were confirmed as hdc-gene positive with 43 isolates were categorized as prolific HPB. Bacterial identification with 16S rDNA sequencing identified 30 out of 43 (69.8%) prolific HPB as Morganella morganii. Besides M. morganii, another mesophilic HPB identified from all different type of fish was Photobacterium damselae (6.9%), while the remaining mesophilic HPB were identified from genus Klebsiella (4.7%), Proteus (4.7%), Raoultella (4.7%), Shewanella (2.3%), and Vibrio (6.9%). The presence of prolific HPB in the samples suggested that histamine accumulation in the final product is possible if cold-chain system is not properly applied during fish handling and processing.
Back to Top Top