Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2407-4411 / 2502-406X
Published by: Universitas Hamzanwadi (10.29408)
Total articles ≅ 37
Filter:

Latest articles in this journal

Hudaidah Intan Permatasari
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 8, pp 1-9; https://doi.org/10.29408/jhm.v8i1.3406

Abstract:
Proses masuk dan Islamisasi serta penyebaran Islam di Indonesia sering menarik perhatian untuk dipelajari dan diteliti. Terutama di kalangan umat muslim yang berada dalam dunia akademisi. Hal ini terkait dengan beberapa pertanyaan yang sering muncul, pertanyaan itu terkait tentang kapan agama Islam sebenarnya datang? Siapa sebenarnya yang menyebarkan Islam ke Indonesia. Terkait dengan pertanyaan tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui teori masuknya Islam dan proses Islamisasi di Indonesia. Metode yang dipakai yaitu metode penelitian kepustakaan. Kesimpulannya bahwa Islami di Indonesia berjalan secara damai. Adapun teori masuknya Islam di Indonesia adalah teori Gujarat, teori Arab, teori Persia, teori Cina. Untuk proses Islamisasi dan penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan, tasawuf, politik, serta seni dan budaya.
Muhammad Reza Arviansyah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 8, pp 34-46; https://doi.org/10.29408/jhm.v8i1.4502

Abstract:
Pendidikan pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang keberadannya itu telah ada cukup lama di wilayah Indonesia, tentunya sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berbasis agama islam. Maka sudah seharusnya pesantren masih dapat tetap eksis dalam ruang lingkup pendidikan di Indonesia hingga saat ini, karena mayoritas masyarakat Indonesia yang menganut atau memeluk agama islam. Kemudian bicara mengenai pesantren tentunya tidak terlepas dari proses islamisasi yang terjadi, pesantren yang awal mulanya digunakan sebagai media dalam berdakwah dan menyebarkan syiar-syiar agama islam lambat laun menjadi sarana untuk pendalaman ilmu agama. Bahkan pesantren menjadi salah satu lembaga yang hanya ada di Indonesia. Untuk itu disini penulis akan membahas mengenai lembaga pendidikan pesantren secara umum dan keberadaan pesantren secara khusus di Kota Palembang dengan mengumpulkan data-data tertulis yang ada dan melakukan analisis terhadap data yang telah dikumpulkan, sehingga nantinya data yang akan diambil memiliki kesesuaian dengan tema yang akan dibahas.
Hari Darmansyah, Yuliantoro Yuliantoro, Asyrul Fikri
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 8, pp 47-61; https://doi.org/10.29408/jhm.v8i1.4606

Abstract:
Prasasti Pariangan adalah prasasti yang ditemukan di Nagari Tuo Pariangan. Nagari Tuo Pariangan adalah sebuah desa yang terletak di Gunung Marapi di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Kajian ini menjelaskan tentang sejarah Nagari Tuo Pariangan dan proses ditemukannya prasasti ini, serta bagaimana kondisinya saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sejarah prasasti Pariangan atau yang sekarang lebih dikenal dengan prasasti tungku Tigo Sejarang oleh masyarakat sekitar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis dan menonjolkan proses dan maknanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prasasti Pariangan tahun 1340 dibuat oleh Raja Adityawarman. Sesuai dengan namanya prasasti tungku Tigo Sejarang terdiri dari tiga batu besar dengan jarak antara ketiga batu tersebut tidak terlalu jauh dan jika dilihat dari tempat yang lebih tinggi akan terlihat seperti tungku segitiga tradisional. Pada tahun 2021, Dinas Pariwisata Kota Padang membantu dan merestorasi prasasti ini. Saat ini prasasti tersebut masih dalam tahap pemugaran.
Musni Hidayah Putri, Yuliantoro Yuliantoro, Asyrul Fikri
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 8, pp 77-90; https://doi.org/10.29408/jhm.v8i1.4695

Abstract:
Istana Hinggap merupakan peninggalan bersejarah yang dijadikan sebagai Rumah Inap Sultan dari Kerajaan Siak Sri Indrapura yaitu Sultan Siak XII. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah rumah singgah Sultan Siak yang dikenal dengan Istana Hinggap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana data didapatkan melalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Istana Hinggap berdiri pada tahun 1929 yang dibangun oleh arsitektur dari Belanda dengan model rumah Eropa dan Turki. Rumah ini pada awalnya adalah milik H. Zakaria yang pada zaman Kerajaan Siak dikenal sebagai Mufti Besar di Kesultanan Siak Sri Indrapura yang bergelar Datuk Kadhi H. Zakaria. Rumah ini merupakan rumah tempat bermalamnya Sultan Siak Ke XII apabila berkunjung ke Pekanbaru. Istana Hinggap masih berdiri kokoh hingga sekarang. Oleh karena itu peninggalan bersejarah ini memerlukan perawatan dan perlindungan yang maksimal dari Pemerintah Provinsi Riau. Sekarang rumah ini dimiliki oleh H. Syahril Rais, yang merupakan suami dari Hj. Nurlis Yahya cucu dari H. Zakaria pemilik rumah awal.
Nur Rahmawati Busyro, Yuliantoro Yuliantoro, Asyrul Fikri
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 8, pp 62-76; https://doi.org/10.29408/jhm.v8i1.4607

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri sejarah tarekat Naqsyabandiyah Distrik Mandau Kesultanan Siak dengan memfokuskan kajian pada peranan Tuan Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi Bin Encik Coteih dalam mengembangkan ajaran Islam jalur tarekat Naqsyabandiyah di onder distrik Mandau tepatnya di desa Balai Pungut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawanacara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarekat Naqsyabandiyah berkembang dan diamalkan di Indonesia pada abad ke-19. Kerajaan Siak menjadi pusat berkembangnya ajaran tarekat Naqsyabandiyah di Riau. Desa Balai Pungut menjadi saksi nyata berkembangnya ajaran tarekat Naqsyabandiyah di wilayah Mandau pada masa Kerajaan Siak Sri Indrapura oleh Tuan Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi bin Encik Coteih. Tarekat Naqsyabandiyah untuk pertama kalinya mulai berjalan dan dipimpin langsung oleh Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi pada tahun 1925 di desa Beringin. Kemudian baru pada tahun 1936 diajarkan dan dikembangkan di desa Balai Pungut.
Suci Ramadhani
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 8, pp 10-23; https://doi.org/10.29408/jhm.v8i1.3410

Abstract:
Pada artikel ini membahas sejarah dari perkembangan pendidikan Indonesia pada zaman penjajahan Jepang. Penelitian ini akan membahas mengenai pendidikan Indonesia latar belakang masuknya Jepang ke Indonesia, pergantian mekanisme pendidikan buatan Belanda ke Jepang, sistem pendidikan yang diterapkan pemerintahan Jepang, dan sekolah-sekolah buatan Jepang. Selain itu, pada artikel ini juga akan membahas kekurangan (kelemahan) sistem pendidikan yang diterapkan Jepang. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode sejarah atau metode historis. Sedangkan proses tahapannya yaitu: Heuristik, kritik (intern dan ekstern), interpretasi dan historiografi. Hasil dari penelitian ini yaitu membahas sejarah perkembangan pendidikan Indonesia pada zaman penjajahan Jepang yang tak banyak diketahui oleh masyarakat umum secara lebih jelas. Masyarakat beranggapan bahwa pendidikan pada zaman penjajahan jepang ini sangat lah buruk. Namun, pada artikel ini terlihat bahwa jika dilihat dari satu sisi pendidikan kala itu memang sangat buruk. Sedangkan jika dilihat dari sisi lain hal itu memiliki dampak positif bagi Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari penghapusan sistem golongan (kasta) yang membuat masyarakat golongan menengah ke bawah bisa bersekolah.
Trisna Wulandari
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 8, pp 24-33; https://doi.org/10.29408/jhm.v8i1.3413

Abstract:
Perkembangan pendidikan di Indonesia, tidak lepas dari pengaruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Tokoh yang memberikan sumbangsi besar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia dan mendapat gelar sebagai Bapak Pendidikan Naisonal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan pengaruh dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam kurikulum 2013 di Indonesia. Metode penelitian ini adalah kajian pustaka. Sumber data yang digunakan adalah buku dan artikel jurnal yang membahas topik terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemikirannya dalam dunia pendidikan inilah yang menjadi salah satu peran penting dalam menghantarkan pada Kemajuan pendidikan saat ini. Sumbangan pemikiran dan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan sistem among dan tripusat pendidikan memiliki kesesuaian dengan penerapan kurikulum 2013 yaitu pendidikan harus mengedepankan jasmani, akal, sosial, dan rohani. Hingga kini semboyan Tut Wuri Handayani yang mengandung arti di belakang memberi dorongan telah menjadi semboyan untuk pendidikan di Indonesia.
Maya Marisa, Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 7, pp 81-92; https://doi.org/10.29408/jhm.v7i2.3380

Abstract:
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui latar belakang pelaksanaan pendidikan Indonesia pada masa tanam paksa sampai politik liberal di Indonesia dan memahami berbagai macam perkembangan dan pelaksanaan pendidikan Indonesia di pada masa itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya pembelajaran dengan pendidikan modern yang menumbuhkan sikap nasionalisme serta menghasilkan kebutuhan tenaga terampil di Indonesia. Dengan demikian, perkembangan dan pelaksanaan pendidikan Indonesia pada masa tanam paksa dan politik liberal Belanda di Indonesia mendorong munculnya beberapa tokoh kebangkitan nasional yang memiliki pemikiran luas dan mau membela rakyat Indonesia untuk merdeka. Hal ini menjadi titik awal perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan
Alliyyah Zahra Permata Putri, Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 7, pp 69-80; https://doi.org/10.29408/jhm.v7i2.3342

Abstract:
Artikel ini bertujuan menjelaskan informasi tentang pemikiran RA. Kartini dapat mengubah pendidikan perempuan dari masa penjajahan hingga masa kini. Menjelaskan arah pemikiran, dan berbagai ancaman serta hambatan dalam implementasiannya. Membahas pengaruh yang diberikan untuk kemajuan pendidikan wanita pada masa yang akan datang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi pustaka. Data-data diperoleh dari internet, e-book, laporan penelitian terdahulu, jurnal, makalah, artikel, ensiklopedia, buku panduan atau penunjang dan sumber-sumber dari berbagai dokumen atau referensi tentang topik yang telah diajukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada era globalisasi sekarang ini, konsep pendidikan RA. Kartini masih relevan dan terbukti dapat dirasakan oleh perempuan pada zaman sekarang ini. Perempuan bisa bersekolah dan mencapai pendidikan setinggi-tingginya.
Desi Lestari, Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, Volume 7, pp 57-68; https://doi.org/10.29408/jhm.v7i2.3350

Abstract:
Budaya merupakan hal mendasar yang terdapat dalam kehidupan, sebab kebudayaan adalah mutlak terlahir dari kehidupan manusia sehari-hari. Pada budaya masyarakat Kota Palembang terdapat pakaian pengantin yaitu Aesan Gede yang merupakan hasil perpaduan budaya Kerajaan Sriwijaya yang masih tetap eksis sampai masa kini. Aesan Gede bukan hanya sebatas pakaian adat biasa namun memiliki nilai didalamnya. Tujuan penelitian ini hendak mengungkap makna nilai budaya seperti apa yang terkandung pakaian adat Palembang Aesan Gede. Adapun metode yang dipergunakan yaitu studi kepustakaan untuk mengupas tentang makna nilai budaya Palembang yang terdapat dalam busana Aesan Gede. Bentuk gaun pengantin Aesan Gede terbagi atas kepala, badan, tangan dan kaki. Fungsi busana Aesan Gede memiliki dua fungsi, yaitu fungsi sebagai fungsi estetika, dan fungsi sebagai fungsi simbolik. Dalam hal ini Aesan Gede bukan hanya sebagai pakaian adat tetapi juga sebagai bentuk ekspresi masyarakat Palembang.
Back to Top Top