An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman

Journal Information
ISSN / EISSN : 2086-0749 / 2654-4784
Published by: IAIN Jember (10.35719)
Total articles ≅ 35
Filter:

Latest articles in this journal

Nur Shofiyah, Masruchan Masruchan
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 29-42; doi:10.35719/annisa.v14i1.44

Abstract:
Al-Qur’an sebagai kalamullah mengandung asas pengajaran karena mencakup ajaran-ajaran Islam yang menata kehidupan kaum muslimin dalam segala aspek di dunia dan akhirat. Pemahaman al-Qur’an terutama bagi anak harus dimulai sejak dini melalui kegiatan membaca dan menulis yang dilanjutkan dengan memahami ajaran agama Islam secara bertahap. Namun faktanya, sistem pembelajaran Al Qur’an terutama bagi anak usia dini masih monoton dan kurang menarik karena masih menerapkan paradigma pembelajaran yang berpusat pada pengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem pembelajaran al-Qur’an di lembaga Tahsin Qur’an Ka’Uqoy Private dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif dan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembelajaran al-Qur’an di lembaga Tahsin Qur’an Ka’Uqoy menerapkan paradigma konstruksionisme dengan hanya menggunakan satu peraga yaitu alat indera melalui ragam interaksi dengan lingkungan sekitarnya seperti melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakannya. Melalui pengaktifan indrawi, seorang anak bisa membangun gambaran dalam dunia belajarnya. Lembaga ini telah mencetak pengajar yang mampu mengajarkan Al-Qur’an dengan mudah untuk difahami terutama bagi anak usia dini dengan cara ikut terlibat langsung dalam mencerna, mengolah, mengalami, memahami, merasakan dan mempraktikkan isi kandungan Al-Qur’an dengan fun learning sehingga para anak usia dini lebih mudah dalam menangkap ilmu Al-Qur’an dan menerimanya dengan senang hati. Al-Qur'an as kalamullah contains teaching principles because it includes Islamic teachings that organize the lives of Muslims in all aspects. Understanding the Qur'an, especially for children, must start early through reading and writing activities which are continued by gradually understanding the teachings of Islam. However, the fact is that the learning system of the Qur'an, especially for early childhood, is still monotonous and less interesting because it still applies a teacher-centered learning paradigm. This study aims to describe the al-Qur'an learning system in the Tahsin Qur'an ka'Uqoy Private institution with a descriptive qualitative research that uses some data collection techniques. The results showed that the al-Qur'an learning system in the tahsin Qur'an ka'Uqoy institution applies the constructionism paradigm by using only an instrument namely the senses through various interactions with the surrounding environment such as seeing, hearing, touching, and feeling it. Through sensory activation, a child can build a picture in the world of learning. This institution has produced teachers who are able to teach the Qur'an easily to be understood, especially for early childhood by being directly involved in digesting, processing, experiencing, understanding, tasting and practicing the contents of the Al- The Qur'an with fun learning so that early childhood can more easily grasp the knowledge of the Qur'an.
M Mohsi, Moh Mujibur Rohman, Miftahul Ulum
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 74-87; doi:10.35719/annisa.v14i1.56

Abstract:
Nikah bawah tangan menjadi isu krusial dalam hukum Islam kekinian. Sadd al-dzarī‘ah merupakan salah satu bentuk metode ijtihad yang yang dapat digunakan sebagai landasan istimbath al-hukm (pengambilan hukum). Secara istilah sadd al-dzarī‘ah merupakan pembahasan seputar upaya untuk menghalangi dan memblokade semua akses dan kemungkinan dari suatu perbuatan tertentu yang pada dasarnya diperbolehkan maupun dilarang untuk mencegah terjadinya segala jenis kerusakan dan kemudaratan. Teori pencegahan ini sering disebut sebagai langkah preventif dalam meminimalisir atau bahkan menutup jalan terjadinya kemudaratan suatu perbuatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan studi pustaka. penelitian pustaka mengacu kepada literatur-literatur sebagai basic of anlisis atas topik yang dijadikan obyek penelitian. Salah satu bentuk langkah preventif pemerintah Indonesia dalam bidang hukum perkawinan adalah menjamin ketertiban dalam sebuah perkawinan melalui undang-undang pencatatan perkawinan, sebagaimana pasal 5 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berbunyi “Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat islam setiap perkawinan harus dicatat”. Langkah ini bertujuan membentuk keadilan gender, agar diskriminasi terhadap kaum perempuan dalam praktik perkawinan tidak lagi terjadi. Underhand marriage is a crucial issue in contemporary Islamic law. Sadd al-dzarī'ah is a form of the ijtihad method which can be used as a basis for istimbath al-hukm. In terms of sadd al-dzarī'ah, it is a discussion about efforts to block and block all access and the possibility of a certain act which is basically allowed or prohibited to prevent all kinds of damage and damage. This theory of prevention is often referred to as a preventive step in minimizing or even blocking the path for the occurrence of an act of oblivion. This research uses a qualitative approach, with literature study. literature research refers to the literature as the basic of analysis on the topic which is the object of research. One form of preventive measures taken by the Indonesian government in the field of marriage law is to guarantee order in a marriage through the marriage registration law, as in Article 5 paragraph (1) Islamic Law Compilation (KHI) which reads "In order to ensure orderliness of marriage for the Islamic community every marriage must noted ”. This step aims to establish gender justice, so that discrimination against women in the practice of marriage no longer occurs.
Nani Widiawati, Nurkhopipah Nurkhopipah
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 88-107; doi:10.35719/annisa.v14i1.58

Abstract:
Sinetron Dunia Terbalik yang mengungkap pertukaran peran gender dalam masyarakat merupakan fenomena yang menarik untuk dianalisis. Tulisan difokuskan untuk menemukan problem gender dalam sinetron Dunia Terbalik, prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam perspektif Nasaruddin Umar, dan interpretasi gender dalam sinetron Dunia Terbalik berdasarkan pemikiran Nasaruddin Umar. Untuk itu, digunakan penelitian kualitatif dengan metode analisis isi terhadap sinetron tersebut sampai 150 episode versi youtube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problem gender dalam sinetron Dunia Terbalik adalah mengungkap pertukaran peran gender antara laki-laki dengan perempuan. Berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan gender menurut Nasaruddin Umar, dapat diinterpretasi bahwa persoalan pertukaran gender bukan hal esensial sebab, dalam pandangan Islam, laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah, khalifah di bumi, menerima perjanjian primordial di mana Adam dan Hawa terlibat secara aktif dalam drama kosmis sehingga keduanya berpotensi meraih prestasi. Temuan ini sesungguhnya membuka ruang evaluasi bagi penggagasnya untuk membuka wawasan masyarakat dalam memahami persoalan gender sehingga makna pesan yang disampaikan tidak menjadi kontradiksi. The soap opera Dunia Terbalik, which reveals the exchange of gender roles in society, is an interesting phenomenon to analyze. The writing is focused on finding gender problems in the soap opera Dunia Terbalik, the principles of gender equality in the perspective of Nasaruddin Umar, and the interpretation of gender in the soap opera Dunia Terbalik based on the thoughts of Nasaruddin Umar. For this reason, qualitative research is used with the content analysis method to these soap operas up to 150 episodes of the YouTube version. The results showed that the gender problem in the soap opera Dunia Terbalik is to reveal the exchange of gender roles between men and women. Based on the principles of gender equality according to Nasaruddin Umar, it can be interpreted that the issue of gender exchange is not essential because, in the view of Islam, men and women are both servants of Allah, caliphs on earth, accepting the primordial agreement in which Adam and Eve were involved actively in the cosmic drama so that both of them have the potential for achievement. These findings actually open up an evaluation space for the initiators to open people's insights in understanding gender issues so that the meaning of the messages conveyed does not become a contradiction.
Muhammad Ulul Albab
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 21-28; doi:10.35719/annisa.v14i1.42

Abstract:
Artikel ini membahas tentang peran orientalis dalam memandang hadits Nabi Muhammad SAW dengan kacamata mereka. Maksud dan tujuan orientalis tentu mempunyai misi khusus dalam menggoyahkan pegangan umat Islam, yaitu hadits. Sosok orientalis seringkali menganggap rendah ajaran Islam lantaran dari sifat kebenciannya yang merupakan warisan akibat kekalahan di pihak Kristen dalam perang salib. Sehingga muncul nama-nama orientalis dengan mentalitas tinggi dalam memerangi Islam. Salah satunya adalah Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht yang aktif dalam mengkritik hadits. Keduanya mempunyai koneksitas dalam dalam mempunyai pandangan sama terkait otentitas hadits. Sehingga perlu tinjauan ulang arah kritik mereka untuk bisa menemukan analisa diskriptif dalam membantahnya. Oleh karenanya, kedua tokoh orientalis tersebut mempunyai hubungan erat dalam pandangannya terhadap hadits, sehingga kita sebagai Muslim tentu mempunyai kewajiban dalam memperjelas terkait otentitas hadits dan ilmu sanad yang benar. This article discusses the role of orientalists in looking at the hadith of the Prophet Muhammad SAW with their views. Orientalist purposes and objectives certainly have a special mission in shaking the grip of Muslims, namely hadith. Orientalist figures often consider the teachings of Islam because of the nature of his hatred which is a legacy of defeat on the war of Christian side. So came the names of orientalists with a high mentality in the fight against Islam. One of them is Ignaz Goldziher and Joseph Schacht who are active in criticizing hadiths. Both have deep connections in having the same view regarding the authenticity of hadith. So it is necessary to review the direction of their criticism to be able to find a descriptive analysis in refusing it. Therefore, the two orientalist figures have a close relationship in his view of the hadith, so that we as Muslims certainly have an obligation in clarifying the authenticity of hadith and the science correct of sanad.
Muh Gufron Hidayatullah, Syamsul Huda
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 01-20; doi:10.35719/annisa.v14i1.40

Abstract:
Trem Al-Hidayah memiliki multi interpretasi yang berhubungan dengan jalan kehidupan (Sabil al-Hayat). Setiap insan diseru untuk menjalankan kehidupannya setakar dengan tolok ukur aturan Allah SWT (hududullah). Ia juga di haruskan untuk selalu mengikuti aturan individu, berkeluarga dan bermasyarakat (ijtimaiyyah). Bertolak dari itu semua, memahami petunjuk tuhan (al-Hidayah mina Allah) merupakan kebutuhan manusia yang subtansial. Agar didalam menjalankan kehidupannya baik yang sifatnya horizontal (hamblum minannas) atau vertikal (hamblum minallah) sesuai dengan Iradtullah. Eksplorasi ini bermaksud untuk memahami bagaimana syaikh al-Shawi dalam menafsirkan ayat-ayat al-Hidayah dalam kitabnya Tasfsir Hasiyah Shawi. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan model penelitian (al-Dirasah al-Maudluiyyah) yang tekanannya pada pendalaman pemahaman topic ayat-ayat al-Hidayah, kemudian mengunakan tehnik Content Analisys yaitu menganalisis hasil makna ayat-ayat al-Hidayah hasil tafsiran Syaikh al-Shawi dan analisis historis atau teori asbab al-Nuzul yaitu uaraian sejarah sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa al-Hidayah bukanlah keberhasilan seseorang dalam menjalankan kehidupan, sebagaimana anggapan banyak orang akan tetapi al-Hidayah adalah petunjuk tuhan baik berupa al-Qur’an atau Sunnah beserta interpretasinya meskipun orang tersebut belum mengikuti petunjuk-Nya. The tram of Al-Hidayah is subject to multiple interpretations that intertwine with the pathway of life (Sabil al-Hayat). Every soul is commanded to conduct their life adhering to the etiquette arranged by Allah SWT (hududullah). One is also obligated to always follow the etiquette whether as an individual, in a family, and in a society (ijtimaiyyah). Following that, understanding the messages from God (al-Hidayah mina Allah) has then become a crucial necessity for one. In order to live a good life, be it in accordance to the Earth and everything within (hamblum minannas), or in accordance to God (hamblum minallah) entwined with Iradtullah. This exploration is meant to gain understanding on how Syaikh al-Shawi interpreted the passages of al-Hidayah in his book, Tasfsir Hasiyah Shawi. This research used the qualitative method with a research model (al-Dirasah al-Maudluiyyah) that emphasizes on deepening the understanding of the topics in al-Hidayah passages. Content analysis was then used to analyze the meaning of al-Hidayah passages according to Syaikh al-Shawi’s interpretation, and a historical analysis or the theory of asbab al-Nuzul, which is the chronological backstory to every passage of Al-Qur’an that has been passed down to the humankind. The result of this research showed that al-Hidayah is not about someone’s success in living their life as many have assumed, instead al-Hidayah is a direction from God in the form of both al-Qur’an and as-Sunnah along with its interpretations, even if one might have not yet followed His guidance.
Evi Muzaiyidah Bukhori
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 43-57; doi:10.35719/annisa.v14i1.53

Abstract:
Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keinginan kuat untuk mempublikasikan masterpiece seorang mufasir kontroversial dari Suriah yang menawarkan pembacaan baru terhadap Al-Qur’an bernama Muhammad Syahrur. Dalam tafsirnya terhadap Al-Qur’an, Syahrur telah mengundang berbagai polemik dan respon-respon yang tidak jarang bernada negatif. Syahrur bukanlah satu-satunya mufasir modern-kontemporer anti maenstreem, terdapat juga mufasir lain seperti Muhammad Arkoun. Namun menarik untuk dicatat adalah metodologi tafsir Al-Qur’an Syahrur gunakan untuk membaca isu-isu perempuan yang masih terus-menerus diperdebatan sampai hari ini yaitu isu poligami. Hasil tulisan ini adalah Pembacaan Syahrur terhadap Al-Qur’an sedikit banyak dipengaruhi oleh setting sosial di mana ia hidup. Terutama pergumulannya dengan dengan teman sekaligus guru bernama ‘’Ja’far Dakk al-Bab. Semenjak itu Syahrur mulai mendalami Al-Qur’an. Muhammad Syahrur memandang salah satu problem terbesar dalam penafsiran Al-Qur’an adalah problem aplikasi metodologi penafsiran. Konsep kunci pemikiaran Syahrur adalah teori tentang Hudud. Teori ini terutama dipakai untuk membaca persoalan-persoalan hukum yang terdapat dalam ajaran Islam khususnya isu poligami memiliki pemahaman yang unik dibandingkan dengan ulama-ulama terdahulu. This paper is motivated by a strong desire to publish a masterpiece of a controversial commentator from Syria who offers a new reading of the Qur'an named Muhammad Syahrur. In his commentary on the Qur'an, Syahrur has invited various polemics and responses that are often negative in tone. Shahrour is not the only modern-contemporary anti-maenstreem commentator, there are also other commentators such as Muham-mad Arkoun. However, it is interesting to note that the methodology of Al-Qur'an Syahrur exegesis uses to read women's issues which are still being debated to this day, namely the issue of polygamy. The result of this paper is that Syahrur recitation of the Al-Qur'an is more or less influenced by the social setting in which he lives. Especially his struggles with a friend and teacher named Ja'far Dakk al-Bab. Since then Syahrur began to study the Qur'an. Muhammad Syahrur sees that one of the biggest problems in the interpretation of the Qur'an is the problem of the application of the methodology of interpretation. The key concept of Syahrur ‘s thinking is the theory of Hudud. This theory is mainly used to read legal issues contained in Islamic teachings, especially the issue of polygamy, which has a unique understanding compared to previous scholars.
Nurul Sa'Adah, Abdulloh Dardum
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 29-45; doi:10.35719/annisa.v14i1.54

Abstract:
Salah satu bentuk penjagaan Allah Swt terhadap ayat-ayatnya (al-Qur’an) adalah dengan banyaknya umat Islam yang menghafalkan al-Qur’an. Tradisi menghafal ini bahkan sudah ada sejak masa Nabi Saw dan dan para shahabat. Ketika wahyu diturunkan, disamping ditulis, Nabi Saw dan para shahabat juga berupaya untuk langsung menghafalkannya. Tradisi menghafal ayat-ayat al-Qur’an ini terus berlangsung hingga saat ini. Karena itu banyak berdiri lembaga yang fokus pada tahfidz al-Qur’an, baik itu berupa yayasan, pesantren, dan sebagainya dengan metodenya masing-masing. Bahkan ada juga lembaga tahfidz yang dikhususkan untuk mencetak para huffadz dari kalangan anak-anak usia dini. Tentu saja bukan perkara mudah untuk mengajar bahkan mencetak anak-anak usia dini menjadi penghafal al-Qur’an. Dalam konteks inilah kajian living qur’an ini ingin mengungkap bagaimana metode yang digunakan oleh Sekolah Tahfidz Anak Usia Dini Shahabat Qur’an (TAUD SAQU) Jember dalam pembelajaran al-Qur’an untuk anak usia dini. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang didapatkan selanjutnya dianalisa, kemudian dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 3 metode yang digunakan dalam pembelajaran al-Qur’an di TAUD SAQU Jember, yaitu; 1) Metode Tarbiyah, Metode Tahajji dan Metode Tahfidz. The tradition of memorizing the Koran (Alquran) has existed since the time of the Prophet and friends. This tradition continues to this day. Because of that, there are many institutions that focus on the tahfidz of the Koran, both in the form of foundations, Islamic boarding schools, and so on with their respective methods. There is even a tahfidz institute which is devoted to producing huffadz from young children. Of course, it is not an easy matter to teach and even print young children to memorize the Koran. It is in this context that this study of living quran wants to reveal how the methods used by the Tahfidz Early Childhood School of Sahabat Qur'an (TAUD SAQU) Jember in learning the Koran for early childhood. The method used in this study is a qualitative method, while the data sources were obtained from interviews, observation, and documentation. The data obtained is then analyzed, then conclusions are drawn. The results showed that there were 3 methods used in learning the Koran at TAUD SAQU Jember: 1) Tarbiyah method, which is religious material taught to children which includes morning dhikr, prayers, asmaul husna, hadis, tauhid, and so on . 2) Tahajji method, which is material on how to learn and spell hijaiyah letters and 3) Tahfiz method, which is memorizing the Koran by using TTM (Talaqqi-Tasmi'-Murāja'ah).
Husnul Khotimah, Ainul Churria Almalachim
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 196-211; doi:10.35719/annisa.v13i2.30

Abstract:
Economic well being or a livelihood in the family can be a trigger to realize the family mandate of sakinah, mawaddah and rahmah. This can be achieved with an established education, age and occupation. Living is a logical consequence of marriage, where it is the husband's obligation to his wife, so that if the husband does not provide a proper living for the wife, then it is not uncommon for couples to experience tempestuous relationships continuously until it leads to divorce. Divorce from the background aspect is seen as an alternative solution in overcoming unresolved household problems, so divorce must be for strong and clear reasons, and only in circumstances that can endanger the husband and wife only divorce is permitted by Religion. Kesejahteraan ekonomi atau nafkah dalam keluarga bisa menjadi pemantik untuk mewujudkan mandat keluarga yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Hal demikian bisa tercapai dengan mapannya pendidikan, usia dan pekerjaan. Nafkah merupakan konsekuensi logis pernikahan, dimana hal tersebut merupakan kewajiban suami terhadap istri, sehingga jika suami tidak memberikan nafkah yang layak kepada istri, maka tidak jarang relasi pasangan akan mengalami prahara secara terus menerus hingga berujung pada perceraian. Perceraian dari aspek yang melatar belakanginya dipandang sebagai solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan rumah tangga yang tidak terselesaikan, sehingga terjadinya perceraian harus dengan alasan-alasan yang kuat dan jelas, dan hanya dalam keadaan yang dapat membahayakan suami dan istri sajalah perceraian diperbolehkan oleh Agama.
Erfan Efendi
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 313-332; doi:10.35719/annisa.v13i2.35

Abstract:
Gender socialization in pesantren is a top priority because gender construction in pesantren is very dependent on how gender identity is also formed through how strong the socialization process is. The identity formed in the pesantren will then become a reference for the students to socialize or interact with the environment outside the pesantren. From that, the issue of gender or equal partnerships between men and women, which was previously known as the increase in the position of the role of women in Islam, has increasingly attracted a lot of progress and success. There are two orientations in socializing gender in pesantren, namely: first, strengthening the normativity of gender roles . This role is performed by most of the kyai, nyai, and teachers. Second, prioritizing gender role textuality. This motive is carried out by a small number of madrasah teachers and badal kyai and nyai when conducting recitation at the pesantren. The problem is the focus of this research discussion. First, what is the role of kyai and nyai leadership in gender socialization at the Wahid Hasyim Islamic boarding school, Sleman Yogyakarta. Second, how to implement gender criteria in the regulations of the Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta Islamic boarding school. Third, how is the implementation of the santri behavior of the Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta Islamic boarding school. Sosialisasi gender di pesantren menjadi prioritas utama sebab konstruksi gender yang ada di pesantren sangat bergantung pada bagaimana identitas gender juga dibentuk melalui seberapa kuat proses sosialisasinya. Identitas yang terbentuk di pesantren selanjutnya akan menjadi acuan para santri untuk bermasyarakat ataupun berinteraksi dengan lingkungan di luar pesantren. Dari itu, persoalan gender atau kemitra sejajaran antara laki-laki dan perempuan yang sebelumnya dikenal dengan peningkatan kedudukan peran perempuan dalam Islam semakin menarik banyak kemajuan dan keberhasilan.Terdapat dua orientasi dalam mensosialisasikan gender di pesantren, yaitu: pertama, menguatkan normativitas peran-peran gender. Peran ini dilakukan oleh sebagian besar para kyai, nyai, dan guru. Kedua, mengedepankan tekstualitas peran gender. Motif ini dilakukan oleh sebagian kecil guru madrasah dan badal kyai serta nyai ketika melakukan pengajian di pesantren. Adapun problem yang menjadi fokus pembahasan penelitian ini. Pertama, Bagaiman peran kepemimpinan kyai dan nyai dalam sosialisasi gender di pesantren Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta. Kedua, Bagaimana implementasi kesteraan gender dalam peraturan pesantren Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta. Ketiga, bagaimana implementasi pada perilaku santri pesantren Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta.
Muhammad Munir, Dwi Putri Robiatul Adawiyah
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 254-285; doi:10.35719/annisa.v13i2.33

Abstract:
Extreme work was done by Muslim women, their courage in doing slicing the bark of rubber tree to get the latex (noreh) alone in the middle of the night located in the forest.This work really made the researchers amazed.It was interesting to be adopted by all women moslem that they can learnin and understand the life of a Muslim woman that happened in the village clearly. The method of the study uses descriptive qualitative research and the approach is Phenomenology Study, using data collection methods: interviews, observation and documentation, which include Muslim women, rubber workers, and including the people in the village. The location of this study is in the district of Kaula Mandor B, Kuburaya Regency by snowball regardingMuslim women plays an important role in family such as parenting children, obeying their husbands and their parents. While in data analysis, researchers would analyze, explore data. Data analysis is directed at research questions, data reduction, and synthesis. Triangulation and extension of participation is used as checking the validity of the data. The results of this study are the role of Muslim women, the courage of Muslim women, the upbringing of Muslim women, and self-portraits of Muslim women in Islam. Pekerjaan yang ekstrim yang dilakukan oleh wanita muslimah, keberanian mereka dalam melakukan pekerjaan melukai pohon karet untuk mendapatkan getahnya (noreh) sendirian di tengah malam yang berlokasi di hutan, pekerjaan ini sangat membuat peneliti kagum sehingga menarik untuk di angkat dalam sebuah penelitian ini agar semua wanita muslimah memahami begitu berat kehidupan seorang muslimah yang terjadi di desa tersebut. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dan pendekatannya Studi Fenomenologi, dengan menggunakan metode pengumpulan data: wawancara, observasi dan dokumentasi, yang meliputi wanita muslimah, wanita pekerja karet, serta termasuk masyarakat yang ada di desa tersebut. Adapun lokasi penelitian ini bertempat di kecamatan Kaula Mandor B Kabupaten Kuburaya dengan cara snowball. Dengan pertimbangan wanita muslimah berperan penting dalam berkeluarga seperti pola asuh anak, taat kepada suami dan kepada orang tuanya. Sedangkan dalam analisis data peneliti akan menganalisis, mengeksplorasi data. analisis data diarahkan pada pertanyaan penelitian, reduksi data, sintesisasi. Triangulasi dan perpanjangan keikutsertaan sebagai pengecekan keabsahan data. Hasil dari penelitian ini ialah Peran Wanita Muslimah, Keberanian Wanita Muslimah, Pola Asuh Anak Wanita Muslimah, Potret diri wanita muslimah dalam Islam
Back to Top Top