Jurnal Teologi Cultivation

Journal Information
ISSN / EISSN : 2581-0499 / 2581-0510
Total articles ≅ 20
Filter:

Latest articles in this journal

Elisamark Sitopu
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 13-29; doi:10.46965/jtc.v4i1.214

Abstract:
AbstrackThis paper discusses the link between the preaching of the prophet Jeremiah with other parts of the Old Testament, whether it is related to the Torah, the Prophets (Neviim), and the Writings (Khetuvim). The author's assumption is that the preaching of the prophet Jeremiah is inseparable from other parts of the OT. There are passages in Jeremiah that are influenced by the ideas of the earlier OT books, and vice versa Jeremiah also influences the thoughts of the OT books afterwards. In research on this topic, the author uses themethod of library research.Keywords: The message of Jeremiah; Torah; Prophets; Writings.
Nurelni Limbong
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 104-114; doi:10.46965/jtc.v4i1.220

Abstract:
This research aims to bring out the true meaning of the Gospel text Luke 3: 10-14. The research method used in this study is a qualitative research method with a content analysis approach and exegetical study. The research results obtained are that Luke 3: 10-14 confirms to everyone to share and spread love to others, and rebuke each person to be able to suffice from their own rights so that we should not rob or take the rights of other people. Luke 3:10-14 also teaches us to have the concept of a life of frugal spirituality, which is the concept of a simple and adequate life.Keywords: Spirituality; Frugal; Luke's Gospel Study.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengangkat keluar makna yang sebenarnya dari teks Injil Lukas 3:10-14. Metode Penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis isi dan study eksegetis. Hasil Penelitian yang diperoleh adalah bahwa Lukas 3:10-14 ini menegaskan kepada setiap orang untuk saling berbagi dan menebarkan cinta kasih kepada sesama, dan menegur keras setiap orang untuk dapat mencukupi diri dari apa yang menjadi haknya, artinya kita tidak boleh merampas atau mengambil hak orang lain. Lukas 3:10-14 ini juga mengajarkan kepada kita untuk memiliki konsep hidup spiritualitas keugaharian, yaitu konsep hidup sederhana dan hidup berkecukupan.Kata Kunci: Spritualitas; Keugaharian; Studi Injil Lukas.
Tiffany Tamba
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 115-134; doi:10.46965/jtc.v4i1.221

Abstract:
Lake Toba is a volcanic-tectonic lake which is rich in natural resources. Wealth and benefits here will keep on exist and continue if humans and nature are in danger of the order of the universe that continues to be pursued together. But the reality is not always the case. Human needs are not limited to degradation of their homes, need ecological awareness that is needed to restore the existing damage. In this study, the method used is a qualitative method with critical theological research. Researchers will implement ecological damage in the Lake Toba area based on informative data. The results obtained indicate the factors causing ecological damage on the part and the parties contributing to the ecological damage are very complex and integrated with each other. This research will be reviewed through Fretheim's perspective that ecological damage in the Lake Toba region will be examined in a necessary relational theology. This theology will help us to see the relational patterns that allow humans to see the broad relations between themselves, God and non-humans. God and His creation are in the interdependence of wholeness. This review will help to critique ecological damage from revised theological studies into a reference to the destructive ecology of community. Thus, awareness of ecological damage is needed as a joint responsibility of every levels of society and the relevance of activities supported by (sustainable creation) because natural damage (Lake Toba) will increase the survival of the community, both today and in the future.Keywords: relational theology; ecological damage; Lake Toba; Fretheim's perspective.AbstrakDanau toba adalah danau vulkano-tektonik yang kaya akan sumber daya alam. Kekayaan dan kemanfaatan di dalamnya akan terus ada dan continue jika manusia dan alam berada dalam harmoni tatanan alam semesta yang terus diupayakan bersama. Namun kenyataan yang ada tidak selalu demikian. Kebutuhan manusia yang tidak terbatas mengakibatkan degradasi lingkungan terhadap tempat tinggalnya, sehingga kesadaran ekologis sangat diperlukan untuk memulihkan kerusakan yang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan tinjauan kritis teologis. Pada metode ini, peneliti akan mengidentifikasi kerusakan ekologi di kawasan Danau Toba berdasarkan data informatif. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab kerusakan ekologi di dalamnya dan pihak-pihak yang menyumbang kerusakan ekologis terhadapnya sangat kompleks dan terintegrasi satu dengan yang lain. Penelitian ini akan ditinjau melalui perspektif Fretheim yaitu kerusakan ekologi di kawasan Danau Toba akan dikaji dalam sebuah teologi relasional penciptaan. Teologi ini akan membantu melihat pola relasional yang memungkinkan manusia melihat secara luas relasi di antara dirinya (human), Allah dan nonhuman. Allah dan ciptaan-Nya berada dalam interdepensi keutuhan ciptaan yang mencakup kerangka mutualisme. Tinjauan ini akan membantu mengkritisi kerusakan ekologi dari kajian teologis yang diduga menjadi acuan teologi ekologi masyarakat yang destruktif. Dengan demikian, diperlukan kesadaran kerusakan ekologis sebagai mutual responsibility seluruh lapisan masyarakat dan relevansi dari aktivitas penciptaan yang berkelanjutan (creation continua) karena kerusakan alam (Danau Toba) akanmempengaruhi keberlangsungan hidup masyarakat, baik hari ini maupun di masa yang akan datang.Kata kunci: teologi relasional; kerusakan ekologi; danau toba; perspektif Fretheim.
Herowati Sitorus
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 56-75; doi:10.46965/jtc.v4i1.217

Abstract:
The title of this research is The Exile’s Theology: theological studies of exile acording to the Message of Jeremiah. Theology is science that describes God in relation to Israelites as prisoners of war in Babylon. Writing of this journal uses qualitative research methods, namely research sourced from text books, journals and other written materials, reveals: the ecperience of foreigners as immigrants, refugees and foreigners in this country is a commom theme for Jews and Christian scriptures. The story of the Israel as a nation is a story about migration becoming as a stanger.Keywords: exile; theology.AbstrakPenelitian ini mengangkat judul Teologi Pembuangan: Suatu Kajian Teologis Teologi Pembuangan menurut Yeremia. Teologi adalah ilmu yang mendiskripsikan tentang Allah dalam hubungannya dengan orang Israel sebagai tawanan perang di Babilonia. Penulisan jurnal menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bersumber dari bukubuku teks, jurnal dan bahan-bahan tertulis lainnya, adalah Pengalaman orang asing sebagai imigran, pengungsi, dan orang asing di negeri ini adalah tema umum bagi orang Yahudi dan kitab suci Kristen. Cerita bangsa Israel adalah suatu cerita tentang migrasi, menjadi orang asing di tanah asing. Pembentukan identitas kolektif Israel sendiri terkait dengan pengalaman mereka sebagai orang asing.Kata Kunci: Pembuangan; Teologi.
Herrio Tekdi Nainggolan
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 76-92; doi:10.46965/jtc.v4i1.218

Abstract:
The space for interaction in society is always influenced by religion and culture as binding aspects, both individually and in groups. This study aims to reveal how the relationship between culture and religion in the development of Toba Islam in Huta Sijungkang, Parlilitan sub-district, Humbang Hasundutan district. The study was conducted with a qualitative approach through interviews and literature studies. Based on research conducted in the development of Islamic religion in Huta Sijungkang, culture and religion are not two contradictory entities, but an inherent unity to regulate relations in society. This has made the people not patterned based on religion, so that cultural and religious dualism is not a conflict, but rather a cultural identity and values that continue to be lived by the Huta Sijungkang community. For society, religious differences are not a barrier in family ties, so there is an awareness to maintain the principles of togetherness and unity.Keyword: Relation; Culture; Religion; Huta Sijungkang.
Foriaman Zega, Hendi H
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 30-43; doi:10.46965/jtc.v4i1.215

Abstract:
Repentance is the second thing we do after we believe and are baptized into Christ Jesus. Repentance means transforming the salvation every day and becoming a lifestyle of believers. Repentance will continue to perfect the image of God in us becoming more and more like God or Christ. And in the end the believers will be united in God (Theosis) by the grace of God. Therefore, the issue of repentance is important to discuss so that every believer can understand this doctrine and practically could do it in his life with Christ. Repentance always starts from sorrow or tears for the sins committed. This tears is the basis of the repentance described by the Apostle Paul in 2 Corinthians 7: 8-11. Then repentance and tears will continually purify our sinful nature to be like Christ likeness. This paper will study the theory or concept of repentance according to the Apostle Paul and will be supplemented by Patristic literature or the Fathers of the Church’s concept.Keywords: Repentance; tears; salvation; theosis; nous.AbstrakPertobatan adalah hal kedua yang kita kerjakan setelah kita percaya dan dibaptis dalam Kristus Yesus. Pertobatan berarti mengerajakan keselamatan kita setiap hari dan menjadi gaya hidup orang percaya. Pertobatan akan terus menyempurnakan gambar Allah di dalam diri kita menjadi semakin serupa dengan Allah atau Kristus. Dan pada akhirnya kita akan menyatu di dalam Allah (Theosis) oleh anugerah Allah. Sebab itu masalah pertobatan ini penting dibahas supaya setiap orang percaya dapat memahami hal ini dan secara praktis dapat mengerjakannya dalam kehidupannya bersama Kristus. Pertobatan selalu dimulai dari dukacita atau kesedihan akan dosa-dosa yang dilakukan. Dukacita ini adalah dasar pertobatan yang dijelaskan Rasul Paulus di dalam 2 Korintus 7:8-11. Selanjutnya pertobatan dan tangisan dikerjakan untuk semakin hari semakin serupa dengan Kristus. Tulisan ini akan mengkaji teori atau konsep pertobatan menurut Rasul Paulus dan akan dilengkapi dengan literarur Patristik atau para Bapa Gereja.Kata Kunci: pertobatan; dukacita; keselamatan; theosis; nous .
Warseto Freddy Sihombing
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 135-175; doi:10.46965/jtc.v4i1.222

Abstract:
No one can be justified before God for doing good deeds. No matter how good a man is, if he does not believe in Jesus Christ, the Son of God, he will not be saved from the wrath of God to come. There is no human being who is right before God, and no sinful man can save himself in any way. The only way out is in the way that God has given to the problem of all sinners, by sending Jesus Christ to the world to die for sinners. "And for this he came, so that every man believed in him, who was sent by God" (John 6:29). The Bible teaches that salvation is only obtained because of faith in Jesus Christ. Jesus Christ is the object of that faith. This salvation is known as the statement "Justified by faith. Paul explained this teaching in each of his writings. This teaching of justification by faith has been repeatedly denied by some people who disagree with Paul's opinion. The history of the church from the early centuries to the present has proven the variety of understandings that have emerged from this teaching, but one important thing is that sinful humans are justified by their faith in Jesus Christ before God.Keywords: Paul;history; justified by faith.AbstrakTidak ada seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena telah melakukan perbuatan baik. Sebaik apa pun manusia, jika dia tidak percaya kepada Yesus Kristus, Anak Allah maka ia tidak akan selamat dari murka Allah yang akan datang. Tidak ada seorang pun manusia yang benar di hadapan Allah, dan tidak ada seorang manusia berdosa yang dapat menyelematkan dirinya sendiri dengan cara apa pun. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan cara yang Allah telah berikan untuk masalah semua orang berdosa, yaitu dengan mengutus Yesus Kristus ke dunia untuk mati bagi orang berdosa. “Dan untuk itulah Dia datang, yaitu supaya setiap orang percaya kepada Dia, yang telah diutus oleh Allah” (Yohanes 6:29). Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan hanya diperoleh karena iman kepada Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah obyek iman tersebut. Keselamatan ini dikenal dengan pernyataan “Dibenarkan karena iman. Paulus menjelaskan ajaran ini dalam setiap tulisannya. Ajaran pembenaran oleh iman ini telah berulang kali disangkal oleh beberap orang yang tidak setuju dengan pendapat Paulus. Sejarah gereja mulai dari abad permulaan sampai pada masa sekarang ini telah membuktikan beragamnya pemahaman yang muncul terhadap ajaran ini, namun satu hal yang terpenting adalah bahwa manusia berdosa dibenarkan oleh iman mereka kepada Yesus Kristus di hadapan Allah.Kata Kunci: Paulus; sejarah; iman; dibenarkan oleh iman.
Grecetinovitria Merliana Butar-Butar
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 44-55; doi:10.46965/jtc.v4i1.216

Abstract:
Purpose of this study was to describe the meaning of ezer kenegdo and to know position and role of women in the family. The research method used is qualitative research methods (library research). The term of “ ezer kenegdo” refer to a helper but her position withoutsuperiority and inferiority. “The patner model” between men and women is uderstood in relation to one another as the same function, where differences are complementary and mutually beneficial in all walks of life and human endeavors.Keywords: Ezer Kenegdo; Women; Family.AbstrakTujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan pengertian ezer kenegdo dan mengetahui kedudukan dan peran perempuan dalam keluarga. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif library research. Ungkapan “ezer kenegdo” menunjuk pada seorang penolong namun kedudukannya adalah setara tanpa ada superioritas dan inferioritas. “Model kepatneran” antara laki-laki dan perempuan dipahami dengan hubungan satu dengan yang lain sebagai fungsi yang sama, yang mana perbedaan adalah saling melengkapi dan saling menguntungkan dalam semua lapisan kehidupan dan usaha manusia.Kata Kunci: Ezer Kenegdo, Prerempuan, Keluarga.
Andrianus Nababan
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 1-12; doi:10.46965/jtc.v4i1.213

Abstract:
AbstrackThe Christian religious education teacher is an educator who provides knowledge about Christianity based on the Bible, centered on Jesus Christ, and relied on the Holy Spirit. Christian Religious Education teachers must be able to offer their bodies in Romans 12:1-3. The understanding of offering the body include: 1)the Christian religious education teacher always i approaches the loving and generous God 2)give advice by encouraging, directing convey the truth of God's Words. 3). renewal of the mind by distinguishing which is good and pleasing to God. Thus, each Christian religious education teacher can understand that a true educator must surrender his/her body as a true offering according to will of God.Key word: Christian education teacher; Offering the body Romans 12:1-3.ABSTRAKGuru Pendidikan Agama Kristen merupakan seorang pendidik yang memberikan ilmu pengetahuan tentang agama Kristen yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Yesus Kristus, dan bergantung pada Roh Kudus kepada peserta didik dalam kegiatan belajarmengajar. Guru Pendidikan Agama Kristen harus mampu mempersembahkan tubuhnya dalam Roma 12:1-3 sebagai ibadah sejati. Pemahaman mempersembahkan tubuh yaitu 1)guru Pendidikan agama Kristen senantiasa menghampiri Allah yang penuh kasih dan kemurahan 2)memberikan nasihat dengan mendorong, mengarahkan dan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. 3)pembaharuan budi dengan membedakan mana yang baik dan yang berkenan kepada Allah. Demikian Guru Pendidikan Agama kristen mampu memahami mempersembahkan tubuh menyangkut kehendak Allah sebagai pendidik yang sejati.Kata Kunci: Guru Pendidikan Agama Kristen; Mempersembahkan tubuh.
Joy Moses E Simbolon
Jurnal Teologi Cultivation, Volume 4, pp 93-103; doi:10.46965/jtc.v4i1.219

Abstract:
Jean-Paul Sartre is an atheist philosophical figure that is well known for spreading his idea about existentialism. The purpose of this paper is to know what Jean-Paul Sartre knows about the existence of God. As for the purpose of this writing is to see Jean-Paul Sartre concept of God that said if God exist then humanity is nothing, man will be come it self if they nullify God himself. The method of the research ised is a literature research and descriptive method, which scientifically digs the flow and the core of Jean-Paul Sartre thoughts and what other factor that affects his thinking. The result of this research shows that for Sartre the existence of God only limits himself from freedom. With existence of God humans can’t be free to find their true identity. The real freedom according to Sartre is humans are willing to deny God’s existence in every aspect of their life. The implications tha we can get from Jean-Paul Sartre idea is we have to acknowledge that philosophical thinking can not be separated from the context of its era so we must be careful on understanding Sartre thoughts that stated that we become ourself when we deny the existence of God, that’s why as a human we must be willing to learn through education and our experiences with God, so we can develop meaning for ourself and those around us by prioritizing God. Because of that, we must be responsible with what we belief on reaching our own existence.Key Words: Exitensialism; Jean-Paul Sartre; God
Back to Top Top