Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2337-8212 / 2541-5980
Total articles ≅ 185
Filter:

Latest articles in this journal

Rahimul Yakin, , Robiatul Adawiyah, Muhammad Khairul Fikri, Azhar Azhar
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 326-333; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.12123

Abstract:
Patient satisfaction is a condition of fulfilling the wishes, expectations and needs of patients. Bases on data from March 2020 to March 2021, there was an increase in patients returning home at their own request by 3% and the lack of fulfillment of patient satisfaction values which were still below 90%. The aim of this study is to evaluate infrastructure and compliance of covid-19 patients. The study design used was cross sectional, whit a consecutive sampling and a sample size of 120 covid-19 patients. Data were analyzed using the spearman rank rest. The data collection was carried out from June 2021 to August 2021. The result of the study found that there was a relationship between physical facility and satisfaction with p value 0.001 and r 0.498. The better infrastructure provide, the higher definite satisfaction.
Hieronimus Amandus, Rima Rianti, Suratno Suratno, Doni Al Ifhan
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 349-354; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.8482

Abstract:


Latar belakang: Penerapan teknologi digital dalam proses pembelajaran bukan merupakan barang asing lagi di zaman sekarang. Adanya perangkat keras seperti handpone, computer, tablet, ipad dan sejenisnya yang didukung dengan perkembangan pesat internet membuat segala informasi dan komunikasi menjadi lebih efektif dan efesien. Adanya penggunaan teknologi diharapkan dapat bersinergi dan mendukung pekerjaan yang sifatnya konvensional. Penelitian ini mencari jawaban tentang model pembelajaran alternatif yang dapat digunakan oleh perawat dalam meningkatkan pengetahuan mereka melakukan triage korban massal kecelakaan lalulintas darat di situasi minimnya pendidikan dan pelatihan yang di dapat oleh mereka secara langsung. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh menonton video simulasi SALT Triage sebelum dan setelah dilakukan intervensi tehadap peningkatan pengetahuan perawat instalasi gawat darurat dalam melakukan simulasi SALT Triage. Metode : Jenis penelitian nonequivalent control group design. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan besar sampel sebanyak 32 responden yang dibagi dalam 2 kelompok. Analisa data menggunakan paired t test. Hasil : Ada pengaruh menonton video simulasi SALT Triage terhadap peningkatan pengetahuan perawat sebelum dan setelah dilakukan intervensi dengan hasil p value < 0,05. Kesimpulan : Menonton video simulasi SALT Triage merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan perawat tentang triage penanganan korban massal kecelakaan lalulintas darat.
Fitri Ayatul Azlina
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 342-348; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.9731

Abstract:
Kelelahan merupakan kondisi umum yang rentan dan berkelanjutan pada ibu postpartum. Angka kejadian ibu postpartum yang mengalami kelelahan di Indonesia cukup tinggi. Kelelahan postpartum dapat menyebabkan berbagai gejala yang tidak menyenangkan serta memengaruhi kesehatan fisik dan psikologis. Hal tersebut mengakibatkan terganggunya peran ibu dalam merawat dirinya dan perawatan bayi serta dapat menjadi predictor munculnya depresi. Tinjauan pustaka ini bertujuan mengidentifikasi strategi Self-Care Management dalam intervensi keperawatan pada ibu dengan kelelahan postpartum sehingga dapat dijadikan acuan bagi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan. Metode yang digunakan dalam tinjauan ini adalah tinjauan literatur berdasarkan kata kunci yang sesuai. Self-Care Management dalam intervensi keperawatan yang dilakukan oleh perawat dapat digunakan sebagai bentuk upaya mempertahankan kesehatan ibu postpartum dan perawatan bayi baru lahir yang optimal. ABSTRACTFatigue is a common condition that is vulnerable and persistent in postpartum mothers.The incidence of postpartum mothers experiencing fatigue in Indonesia is quite high. Postpartum fatigue can cause a variety of unpleasant symptoms and affect physical and psychological health. This can interfere with the role of the mother in caring for herself and baby care and can be a predictor of depression. This literature review aims to identify Self-Care Management strategies and nursing interventions in mothers with postpartum fatigue so that they can be used as a reference for nurses in carrying out nursing care. The method used in this review is literature review based on appropriate keywords. Self-Care Management and nursing interventions carried out by nurses can be used as an effort to maintain optimal postpartum mother health and newborn care.
Bagus Pria Utama, Retno Purwandari, Dicky Endrian Kurniawan
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 454-464; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.8720

Abstract:
Menerapkan prinsip enam benar pemberian obat oleh perawat adalah salah satu implementasi preventif keselamatan pasien. Hal ini dapat menjamin keamanan pengobatan bagi pasien, mengurangi kesalahan pengobatan, dan menghindari pemberian obat yang salah kepada pasien di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi prinsip enam penerapan obat yang benar oleh perawat di rumah sakit. Pendekatan dengan metode deskriptif. Penelitian ini dilakukan di dua rumah sakit umum di Jember dan diikuti oleh 75 perawat rawat inap melalui teknik total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai modus penerapan prinsip enam benar adalah 125, posisi data berada di posisi tengah dispersi, yang berarti penerapan prinsip enam benar dengan perawat mendekati nilai maksimum. Data juga menunjukkan bahwa perawat masih belum sepenuhnya menerapkan prinsip enam benar dalam pemberian obat. Manajer perawat dapat meningkatkan penerapan prinsip enam oleh perawat melalui kegiatan pengawasan. Selain itu, perlu untuk memiliki evaluasi yang dilakukan oleh komisi keselamatan pasien rumah sakit pada penerapan prinsip enam benar pemberian obat oleh perawat rawat inap.
Emil Huriani, Yanti Puspita Sari, Nurfa Rahim Harningsih
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 334-341; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.8360

Abstract:
Kota Padang termasuk wilayah risiko tinggi gempa bumi dan tsunami yang diperkirakan menyimpan potensi gempa bumi 8,9 SR pada Zona Mentawai Megatrust. SMAN 2 Padang merupakan salah satu sekolah yang berada di wilayah Zona Merah gempa bumi dan tsunami dan dekat dengan Sungai Banda Bakali. Didapatkan data masih terdapat siswa yang menyatakan belum memiliki pengetahuan yang cukup berkaitan dengan kesiapsiagaan gempa bumi dan tsunami dan belum siap apabila bencana terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan kesiapsiagaan menghadapi risiko gempa bumi dan tsunami pada siswa di SMAN 2 Padang. Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif analitik menggunakan desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 280 siswa. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang terdiri dari 4 bagian yaitu data demografi, pengetahuan, sikap, dan kesiapsiagaan. Analisis penelitian menggunakan uji komperatif dengan menggunakan aplikasi komputer. Hasil penelitian ini menunjukkan 55,4% memiliki pengetahun tinggi, 53,2% sikap baik, dan 66,1% kesiapsiagaan sedang. Didapatkan hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan (p=0,001) dan didapatkan hubungan bermakna antara sikap dengan kesiapsiagaan (p=0,000). Disarankan kepada pihak sekolah untuk meningkatkan pembelajaran yang lebih aplikatif dalam promosi kesehatan siswa khususnya tentang kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami yang telah terintegrasi dalam mata pelajaran dan menyegerakan waktu pelaksanaan simulasi bencana terkhusus bagi siswa baru.
Septian Andriyani, Linda Amalia
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 476-486; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.9435

Abstract:
ABSTRAKAutism  Spectrum  Disorder (ASD) merupakan salah satu jenis gangguan perkembangan anak dengan gangguan pada keterampilan komunikasi, interaksi sosial, dan daya imajinasi. Anak dengan autisme perlu untuk dilatih kemandiriannya, salah satunya dalam melaksanakan kegiatan toilet training Toilet training merupakan salah satu tugas perkembangan yang perlu dicapai oleh setiap anak dan dibutuhkan perhatian orang tua dalam melatih kemampuan berkemih dan defekasi. Toilet training harus dilakukan selama anak berada dalam periode optimal untuk menghindari efek jangka panjang diantaranya inkontinesia dan infeksi saluran kemih (ISK). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggali secara mendalam tentang dukungan kelurga dalam pelaksanaan toilet training pada anak autism spectrum disorder. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods). Teknik pengambilan sampel secara kuantitatif dengan totalsampling kepada 50 orang tua yang memiliki anak autism spectrum disorder dan untuk pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam (in- depth interview) kepada 5 orang partisipan. Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner dan pedoman wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan Collaizi. Hasil penelitian didapatkan dukungan keluarga mempunyai nilai rata-rata sebesar 76,64 (95% CI 73,72-79,56) dengan nilai terendah 54 dan tertinggi 98. Hasil wawancara didapatkan 7 tema yaitu Pentingnya diajarkan toilet training, tanda-tanda anak ingin BAK/BAB, tanda kesiapan anak dilatih, kesiapan orang tua, tahap latihan toilet training perhatian keluarga, dan perasaan orang tua saat anak dilatih. Dengan dukungan keluarga yang tepat menjadikan pelaksanaan toilet training dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini memberikan implikasi untuk pengelolaan keluarga dengan mengintensifkan pelaksanaan toilet training pada anak autism. Kata kunci: Autism Spectrum Disorder, Dukungan Keluarga, mixed method,Toilet Training ABSTRACTAutism Spectrum Disorder (ASD) is a type of developmental disorder of children with impaired communication skills, social interactions, and imagination. Children with autism need to be trained in their independence, one of which is in carrying out toilet training activities. Toilet training is a developmental task that needs to be achieved by every child and requires parental attention in training the ability to urinate and defecate. Toilet training should be done as long as the child is in the optimal period to avoid long-term effects including incontinence and urinary tract infections (UTIs). This study aims to identify and explore in depth about family support in implementing toilet training for children with autism spectrum disorder. This research uses quantitative and qualitative approaches (mixed methods). Quantitative sampling technique with total sampling of 50 parents who have children with autism spectrum disorder and for qualitative data collection is done by in-depth interviews with 5 participants. This study used a questionnaire instrument and interview guidelines. Data were analyzed using the Collaizi approach. The results showed that family support had an average value of 76.64 (95% CI 73.72-79.56) with the lowest score of 54 and the highest was 98. The results of the interview obtained 7 themes, namely the importance of being taught toilet training, signs that children want BAK / BAB, a sign of children's readiness to be trained, parental readiness, toilet training stage, family attention training, and the feelings of parents when children are trained. With the right family support, the implementation of toilet training can run well. This research has implications for family management by intensifying the implementation of toilet training for children with autism. Keywords: Autism Spectrum Disorder, Family Support, mixed method, Toilet Training
Yosi Oktarina, Yusnilawati Yusnilawati, Tuti Aryani, Lizda Hayani
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 465-475; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.9459

Abstract:
Pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK) beresiko mengalami kekambuhan atau serangan berulang. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan oleh perawat untuk mencegah terjadinya serangan berulang yaitu edukasi kesehatan. Pengkajian kebutuhan belajar pasien merupakan tahapan penting di dalam proses edukasi kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan belajar pasien PJK berdasarkan persepsi pasien dan perawat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Jumlah responden 71 orang, terdiri dari 55 orang pasien PJK dan 16 perawat jantung. Analisis data berupa mean dan persentase. Pengambilan data menggunakan kuesioner Cardiac Patients Learning Needs Inventory (CPLNI). Kebutuhan belajar pasien PJK tertinggi berdasarkan persepsi pasien yaitu kebutuhan mengenai aspek informasi lainnya dengan nilai rerata 3,91±0,61. Sedangkan berdasarkan persepsi perawat yaitu kebutuhan tentang informasi obat dengan nilai rerata 4,46±0,42. Kebutuhan belajar pasien PJK terendah berdasarkan persepsi pasien yaitu kebutuhan mengenai anatomi fisiologi jantung dengan nilai rerata 3,76±0,77. Sementara itu, berdasarkan persepsi perawat yaitu kebutuhan mengenai aktivitas fisik dengan nilai mean 4,08±0,68. Diharapkan perawat dapat menyusun program edukasi kesehatan didasarkan pada prioritas kebutuhan belajar pasien serta perawat dan pasien dapat berdiskusi untuk menyamakan persepsi dalam menentukan kebutuhan belajar pasien. Kata Kunci : Edukasi Kesehatan, Kebutuhan belajar, Penyakit Jantung Koroner
Afina Puspita Zari, Meirina Ernawati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 388-394; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.11316

Abstract:
ABSTRAKDi Indonesia diare masih menjadi masalah kesehatan utama dimana angka kesakitan yang inggi, diare juga masih menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Kasus diare yang berada di Kabupaten Bojonegoro, dimana diare merupakan penyebab kematian perigkat 4 dengan jumlah kasus diare sebanyak 26.237 kasus. Salah satu factor yang menyebabkan kejadian diare pada balita adalah tingkat pendidikan ibu dan pemberian ASI Ekslusif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dan pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian diare paada bayi di Desa Tinumpuk, Kabupaten Bojonegoro. Jenis penelitian pada penelitian ini adalah observasional dengan rancangan penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif yaitu melakukan wawancara dengan menggunakan instrumen kuesioner yang disebarluaskan dengan door to door setiap rumah di Desa Tinumpuk. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu p value (0,000) < 0,05 dan pemberian asi ekslusif dengan p value 0,038 <0,05 yang berarti terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan pemberian ASI Ekslusfif dengan kejadian diare pada bayi
Septriani Renteng, Valen Fridolin Simak, Ronald Joy Datu
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 418-424; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.11604

Abstract:
Peningkatan kasus Covid 19 berdampak terhadap peningkatan risiko terpaparnya anak yang berakibat tingginya angka kematian. Upaya yang dapat dilakukan dalam menurunkan risiko terpaparnya anak yaitu protocol kesehatan. Perilaku anak usia prasekolah dalam menerapkan protocol kesehatan tidak lepas dari peran orang tua dalam memberikan contoh perilaku dalam menjalankan protocol kesehatan. Perilaku berkaitan dengan norma sosial di dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh persepsi norma sosial pada orang tua terhadap perilaku anak dalam melakukan protocol kesehatan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dan jumlah sampel 312 orang tua dengan anak usia prasekolah di Kota Manado. Instrument penelitian yaitu kuesioner norma sosial dan perilaku anak dalam menerapkan protocol kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh persepsi norma sosial pada orang tua dengan perilaku anak dalam menerapkan protokol kesehatan (p=0,000). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh persepsi norma sosial orang tua terhadap perilaku anak dalam melakukan protokol kesehatan.
Ledya Hayati, Hajjul Kamil, Elly Wardani
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 9, pp 395-401; https://doi.org/10.20527/dk.v9i3.10438

Abstract:
In 2018 only 35.8% of schools in Indonesia had implemented PHBS, and in 2019 only 22.5% of schools in Aceh had implemented Clean and Healthy Behaviors. This study aims to compare the implementation of PHBS in santri of modern pesantren with traditional Islamic boarding schools in Aceh. This study uses a quantitative method with a comparative study and a total sampling method with 368 students. The data collection tool used was the standard PHBS questionnaire—data analysis using Mann Whitney test and multiple linear regression. The results of this study indicate that there are differences in knowledge (p-value = 0.613), attitudes (p-value = 0.377), PHBS (p-value = 0.094), basic sanitation, have received counseling when to get counseling. There is a difference in action (p-value = 0.000) for santri of modern pesantren with traditional pesantren in Aceh. Knowledge, attitudes, and actions affect PHBS behavior, which means that there is no most dominant factor affecting the PHBS of santri in modern and traditional Islamic boarding schools. ABSTRAK Tahun 2018 hanya 35,8% sekolah di Indonesia yang sudah melaksanakan PHBS dan pada tahun 2019 hanya 22,5% sekolah di Aceh yang telah melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pelaksanaan PHBS pada santri pesantren modern dengan pesantren tradisional di Aceh. Penelitian ini menggunakan merode kuantitatif dengan desain study komparatif. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah responden 368 orang santri. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner baku PHBS. Analisa data menggunakan uji mann whitney dan regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan pengetahuan (p-value = 0.613), sikap (p-value = 0.377), PHBS (p-value = 0.094), sanitasi dasar, pernah mendapatkan penyuluhan, kapan mendapatkan penyuluhan serta ada perbedaan tindakan (p-value = 0.000) pada santri pesantren modern dengan pesantren tradisional di Aceh. Pengetahuan, sikap, dan tindakan berpengaruh sama terhadap perilaku PHBS, hal ini berarti bahwa tidak ada faktor yang paling dominan yang mempengaruhi PHBS santri di pesantren modern dan tradisional.
Back to Top Top