Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2337-8212 / 2541-5980
Total articles ≅ 132
Filter:

Latest articles in this journal

Sholihatul Amaliya
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 337-345; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8663

Abstract:
Sepsis neonatorum banyak dialami neonatus dengan angka kematian dan kesakitan yang tinggi. Tanda klinis sepsis neonatorum bersifat non-spesifik sehingga identifikasi karakteristik bayi dan ibu yang dapat meningkatkan risiko bayi mengalami sepsis penting dilakukan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi karakteristik ibu dan bayi dengan sepsis yang dirawat di salah satu rumah sakit Pendidikan di Jawa Timur. Metode penelitian menggunakan deskriptif retrosspektif dengan data sekunder laporan asuhan keperawatan mahasiswa tahap pembelajaran profesi Ners. Penelitian melibatkan 17 responden dengan convinience sampling. Kriteria inklusi bayi dengan diagnosis medis sepsis dan dirawat di ruang bayi. Hasil penelitian 53% bayi mengalami sepsis neonatus awitan dini, lahir prematur (53%) dan memiliki berat badan lahir rendah (65%). Karakteristik ibu 53% menjalani persalinan spontan dan mengalami masalah kesehatan (59%) seperti infeksi, hipertensi dan perdarahan. Kesimpulan dari penelitian ini mayoritas bayi yang mengalami sepsis lahir dalam kondisi prematur dan BBLR dengan karakteristik ibu mayoritas persalinan spontan dan mengalami masalah kesehatan selama hamil.
Daniswara Setiarta, Titih Huriah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 328-336; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8368

Abstract:
Patient safety is the key to maintain the quality of health services. One of the most important things to achieve patient safety is to identify medication errors and its causes. Most cases of medication errors are reported by nurses, because nurses are the therapeutic team. The purpose of this study is to determine factors affecting medication error by nurse in giving parenteral therapy at Government Hospital in Magelang. A cross-sectional analytic study was carried out on 67 nurses working in hospital wards. The data were collected using a questionnaire filled by respondents to see medication errors within 3 months. The final number of medication errors were 91 incidents in 3 months. The most frequent errors were wrong time (51.7%), wrong dose (14.2%), wrong document and wrong drug (9.9%), wrong route (8.8%), and the least was wrong patient (5%). Although the medication error incidences were not sentinel events and didn’t affect to SNARs criteria, but it still affecting on the quality of health services in the hospital. The significant independent determinant of medication errors is working experience at Government Hospital in Magelang (p 0,001), while the other determinants are not. Conclusion in this study was significant correlation between work experience in hospital and medication error, where respondents with work experience at Government Hospital in Magelangless than 5 years tend to be at higher risk doing medication errors than those who having worked more or equivalent to 5 years.
Rinco Siregar, Rumondang Gultom, Frida Liharis Saragih
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 417-424; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8704

Abstract:
Background : It is importan to promote physical activity for elderly people, but to improve level of physical activity of elderly people is a challange for health workers. Purpose : The purpose of this quasi- experimental study was to determine the effect of exercise consultation program by using Transtheoretical Model (TTM) approach on physical activity level in elderly people at Darussalam’s Community Health Center. Research method :The two comparison groups for this study were purposively designed for pre-test/post-test procedures; sixty elderly people at Darussalam’s Community Health Center with randomly allocated into the experimental (30 people) and the control (30 people) groups. While the experimental group received the exercise consultation for 8 weeks, the control group received routine care. Physical Activity Scale for Elderly (PASE) was use to assess the the physical activity of elderly. Comparative assessments on differences in level of physical activity both within group using Wilcoxson macthed-pairs and between group using Mann Withney U Test. Results : The results of this study found that after receiving exercise consultation program, level of physical activity in elderly people significantly increased in the experimental group (P < 0.05), but there was no significant difference in the control group. Between groups, level of physical activity significantly increased after receiving the exercise consultation while no change was found among those who did not (P < 0.05).Conclusion: The exercise consultation program by using TTM approach could increase level of physical activity of elderly people.
Ahmad Faizal Rangkuti, Feby Indah Nurcahyati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 479-489; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8088

Abstract:
Latar Belakang: Pediculosis capitis merupakan infestasi ektoparasit spesies pediculus humanus capitis yang hidup di kulit kepala manusia dan dapat menimbulkan berbagai masalah bagi penderitanya. Penularannya dibagi menjadi dua yaitu melalui kontak langsung dan tidak langsung. Personal hygiene dan tingkat pengetahuan merupakan faktor risiko terjadinya pediculosis capitis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan personal hygiene dengan kejadian pediculosis capitis pada santriwati di Pondok Pesantren Binaul Ummah, Bantul, DIY. Metoda: Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik total sampling yaitu sebanyak 55 santriwati. Hasil penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square.Hasil: Karakteristik responden umur terbanyak adalah 13 tahun (36,4%) dan kelas terbanyak adalah kelas VIII (41,8%). Santriwati yang memiliki tingkat pengetahuan rendah (56,4%) dan Personal hygiene tidak baik (63,6%). Kejadian pediculosis capitis positif adalah 74,5%. Hasil uji statistik chi square tingkat pengetahuan p value = 0,034 dan personal hygiene p value = 0,028 yang artinya p value <0,05. Kesimpulan: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan personal hygiene dengan kejadian pediculosis capitis pada santriwati pondok pesantren Binaul Ummah, Bantul, DIY. Peneliti menyarankan bagi pihak pengelola pondok pesantren agar mengupayakan penyediaan fasilitas pos kesehatan pesantren (Poskestren) sehingga para santriwati dapat memperoleh pengobatan maupun informasi kesehatan khususnya mengenai pediculosis capitis.
Nuridha Fauziyah, Rr Tutik Sri Hariyati, Umi Fatmawati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 442-451; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8859

Abstract:
Salah satu domain penerapan patient-centered-cared yang dapat dilakukan adalah dengan mendengarkan pendapat pasien tentang asuhan keperawatan yang diharapkan serta memotivasi pasien untuk selalu terlibat aktif dalam proses perawatan. Metode pelibatan pasien: feedback pasien dan edukasi Speak-up merupakan cara yang dapat diterapkan di rumah sakit. Studi ini bertujuan menerapkan pengembangan metode pelibatan pasien: feedback pasien dan edukasi speak-up. Metode yang digunakan adalah pilot-study terhadap 57 perawat dengan menggunakan lembar observasi proses feedback pasien dan edukasi Speak-up yang terdiri dari 17 item. Tahapan dimulai dengan identifikasi masalah, analisis fishbone, implementasi dan evaluasi. Implementasi berupa pembuatan panduan, standar prosedur operasional, formulir, dan video role-play. Hasil studi menunjukan bahwa metode pelibatan pasien: feedback pasien dan edukasi speak-up dilakukan dengan capaian 69,42%. Keberhasilan proses pelibatan pasien dipengaruhi adanya keinginan organisasi dan staf untuk mendengarkan pasien, kesiapan untuk berubah, sumber daya yang mendukung, serta dukungan perawat, perawat manajer dan manajemen. Studi ini dapat menjadi dasar penerapan metode baru mengenai proses pelibatan pasien di rumah sakit.
Vergeina Ayu Mandalike Mastur, Hanny Handiyani, Aat Atnikasari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 397-405; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.7765

Abstract:
Pelaksanaan peningkatan mutu di rumah sakit masih kurang memuaskan. Masalah ini disebabkan salah satunya adalah dengan belum terlaksana dengan baik pelaksanaan audit keperawatan oleh komite keperawatan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi pelaksanaan audit mutu profesi keperawatan di Rumah Sakit A, Jakarta Barat. Metode yang digunakan adalah pilot study pada ruangan keperawatan dengan pelibatan dari perawat manajer dan perawat klinis sebanyak 140 perawat. Dimulai dari tahap pengkajian, wawancara, observasi, penyebaran kuesioner dan focus group disscussion, dan analisis fishbone dengan ditemukan masalah bahwa audit profesi keperawatan yang menjadi tugas subkomite keperawatan berpotensi di tingkatkan. Implementasi yang dilakukan adalah pembuatan pedoman, tim auditor, tools audit dan pelaksanaan audit keperawatan. Hasil: Pelaksanaan audit telah dilaksanakan dengan penentuan topic adalah serah terima antar shift. Belum optimalnya pelaksanaan serah terima antar shift menjadi hasil dari pelaksanaan audit keperawatan. Kesimpulan telah terlaksananya penyusunan pedoman audit mutu keperawatan di RS A, terbentuknya tim auditor dan telah tersusunnya tools dalam pelaksanaan audit keperawatan. Telah dilakukan pelaksanaan audit mutu profesi keperawatan dengan topik serah terima antar shift dan hasilnya bahwa serah terima antar shift berpotensi untuk dioptimalkan. Rekomendasi pengesahan pedoman audit keperawatan, pelaksanaan audit keperawatan dengan topik sesuai dengan kebutuhan komite keperawatan dan re-audit secara berkala. Dukungan dan komitmen dari setiap staf manajerial serta adanya kepedulian dan komitmen dari perawat klinis dapat membangun perubahan bagi rumah sakit.
Evelin Malinti, Yunus Elon, Imanuel Sri Mei Wulandari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 425-434; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8277

Abstract:
Status kesehatan individu dapat dicerminkan dari tekanan darah. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor resiko tekanan darah pada orang dewasa di desa Cihanjuang Rahayu. Dengan pendekatan potong lintang, penelitian ini dilakukan pada total 120 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengisian kuesioner dan pengukuran tinggi badan dan berat badan, serta tekanan darah dilakukan untuk memperoleh data dalam penelitian ini. Lebih dari setengah responden memiliki tekanan darah diatas normal yang tergolong meningkat dan hipertensi. Faktor usia, pekerjaan dan IMT memiliki hubungan yang siknifikan dengan tekanan darah sistolik dan diastolik (p<.05). Tingkat pendidikan dan status pernikahan secara siknifikan berhubungan dengan tekanan darah sistolik (p<.05). Sedangkan tingkat pendapatan dan aktifitas fisik memiliki hubungan siknifikan dengan tekanan darah diastolik (p<.05). Tidak terdapat hubungan signifikan (p>.05) tingkat stress, merokok, minum kopi, jenis kelamin, dan riwayat keluarga dengan tekanan darah. Melakukan pola hidup yang sehat sangat penting ditanamkan kepada masyarakat untuk mencegah dan mengontrol tekanan darah tinggi.
Kristina Kristina, Theresia Tutik Ismiati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 499-510; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8433

Abstract:
Latar belakang : Pengetahuan yang memadai tentang asuhan keperawatan merupakan syarat utama dalam merawat pasien, dibutuhkan bahan pembelajaran yang menarik dan interaktif sehingga mahasiswa keperawatan dapat belajar dengan baik dan memahami asuhan keperawatan yang akan diberikan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan pilihan bahan pembelajaran menarik berupa komik interaktif tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker. Metode penelitian : penelitian ini menggunakan true experimental design dengan post test-only control design. Terdapat 80 responden mahasiswa keperawatan semester 5, kelompok perlakuan sebanyak 40 responden dan kelompok kontrol sebanyak 40 responden. Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan pemilihan sample sesuai dengan kriteria inklusi. Kelompok perlakuan mendapatkan bahan belajar berupa komik keperawatan dan kelompok kontrol diberikan handout. Setelah mendapatkan pengajaran tentang asuhan keperawatan pada pasien kanker sebanyak 2 kali pertemuan, dilakukan evaluasi tertulis dengan kategori soal level kognitif 1 – 3. Nilai mahasiswa diolah menggunakan program SPSS 24 dengan analisis independent t-test. Hasil : hasil analisis menunjukkan setelah menggunakan bahan belajar komik keperawatan pada kelompok perlakuan dan handout pada kelompok kontrol, terdapat perbedaan nilai yang signifikan 000<0.05, dimana hasil belajar pada kelompok perlakuan menunjukkan hasil rata-rata 72,6 dan nilai rata-rata 60.4 pada kelompok kontrol. Kesimpulan : media pembelajaran komik interaktif keperawatan efektif dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa keperawatan.
Indra Adi Sugiatno, Sri Rahayu
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 354-364; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8045

Abstract:
Keselamatan pasien merupakan komponen yang penting dalam asuhan serta langkah untuk memperbaiki mutu layanan yang berkualitas. Strategi penerapan patient safety telah dilakukan dengan berbagai upaya di lingkungan rumah sakit. Data keselamatan pasien berdasarkan provinsi terbanyak di Banten 125 laporan, dan Jakarta 105 laporan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penerapan patient safety pada perawat di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Dradjat Prawiranegara tahun 2018. Desain penelitian bersifat cross sectional dimana sampel yang diambil dengan metode total sampling. Populasi penelitian adalah perawat yang ada di ruang IGD RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang berjumlah 37 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian univariat menunjukan dari 37 responden sebanyak 30 responden (81,1%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, 21 responden (56,8%) memiliki sikap positif, 30 responden (81,1%) memiliki masa kerja ≥5 tahun, dan 20 responden (54,1%) memiliki perilaku yang baik. Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan (nilai P=0,002), sikap (nilai P=0,003) dan masa kerja ≥5 tahun (nilai P=0,027) dengan perilaku penerapan keselamatan pasien pada perawat. Peneliti mengharapkan agar Rumah Sakit mampu melakukan penyegaran kembali tentang penerapan keselamatan pasien (patient safety) kepada seluruh perawat secara berkala enam bulan sekali.
Hendra Dwi Cahyono, Dewi Irawaty
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 386-396; https://doi.org/10.20527/dk.v8i3.8222

Abstract:
Background: Chemotherapy induced Alopecia (CIA) is one of the most complained and cause the highest distress in breast cancer patients with chemotherapy. Cryotherapy or Scalp Cooling is an alternative intervention to reduce metabolism of cytotoxic agents against hair follicle by lowering the temperature of the scalp. Literature that discusses the effectiveness of Cryotherapy in breast cancer patients is still limited.Objective: Summarize and investigate the effect of Cryotherapy on preventing Chemotherapy induced Alopecia in breast cancer patients and its determinant factors of successfull Cryotherapy . Design: Literature ReviewData Sources: A search was performed by using Ebscohost, Scopus, Science Direct, and ProQuest database from 2009 to 2019 for research article.Review methods: A systematic process was used to analyze and extract data include studies using CASP.Result: From 278 articles that have been observed using CASP, only 10 articles match the inclusion criteria. Total respondents in 10 articles were 1201 breast cancer patients undergoing chemotherapy. All articles used in this study showed positive results about the effect of Cryotherapy on decreasing the severity of Chemotherapy Induced Alopecia (CIA) measured by hair preservation, hair loss, hair regrowth, and decreasing use a wig or head covering. The importance of continuously monitoring the patient's condition to manage the side effects caused by Cryotherapy such as headaches, cold, and nausea.Conclusion:Cryotherapy significantly reduce the severity of CIA by inhibit the process of mitosis and vasoconstriction. There are several factors that must be considered when giving Cryotherapy, such as type of chemotherapy, dosages, device, duration of administration, and temperature. For further research, it is important to considered some factors that can affect the successfull of Cryotherapy and the patient response
Back to Top Top