Jurnal Hortikultura Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 2087-4855 / 2614-2872
Published by: Journal of Consumer Sciences (10.29244)
Total articles ≅ 107
Filter:

Latest articles in this journal

Ellis Nihayati, Dellia Rezha Bayu Rizqullah, Eko Widaryanto
Published: 31 August 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 81-88; https://doi.org/10.29244/jhi.12.2.81-88

Abstract:
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) tumbuh di lahan tegalan yang memiliki banyak tanaman tahunan. Intensifikasi temulawak dapat menggunakan lahan jati sebagai alternatif dalam budidaya. Jarak tanam jati yang lebar dapat dimanfaatkan untuk menanam temulawak. Jarak tanam temulawak di bawah tegakan jati akan mempengaruhi pertumbuhan, kualitas dan kuantitas temulawak. Tujuan penelitian untuk mempelajari dan mendapatkan jarak tanam temulawak yang tepat pada perbedaan intensitas cahaya di bawah tegakan jati, agar mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang maksimal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2019 hingga Juni 2020 di kebun percobaan Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan split plot terdiri dari 2 taraf petak utama yaitu jati umur 17 dan 3 tahun, dengan anak petak jarak tanam temulawak 50 cm × 50 cm (J1), 50 cm × 40 cm (J2), 50 cm × 30 cm (J3), 50 cm × 20 cm (J4) diulang 4 kali. Dari hasil penelitian didapat bahwa berat rimpang temulawak per hektar yang optimum didapatkan pada temulawak yang ditanam di bawah tegakan jati umur 3 tahun dengan jarak tanam J1. Kualitas temulawak (tingkat aktivitas antioksidan) yang optimum didapatkan pada temulawak yang ditanam di bawah naungan jati umur 17 tahun dengan jarak tanam J4. Efisiensi penggunaan intensitas cahaya tertinggi terdapat pada temulawak yang ditanam pada tegakan jati 17 tahun. Kata kunci: antioksidan, intensitas cahaya, jarak tanam, kurkumin
Ifa Manzila, M. Syukur, Tri Puji Priyatno, Reflinur, Chotimatul Azmi, Astri Widia Wulandari, Neni Gunaeni, Nur Azizah
Published: 31 August 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 126-137; https://doi.org/10.29244/jhi.12.2.126-137

Abstract:
Aksesi cabai IPBC12 telah diketahui memiliki gen ketahanan dominan terhadap PYLCV dan dapat dimanfaatkan sebagi donor gen untuk perakitan varietas cabai tahan PYLCV. PYLCV merupakan salah satu virus patogen penting pada pertanaman cabai di Indonesia. Identifikasi marka SSR polimorfik pada populasi persilangan antara IPBC12 dan varietas Yuni dilakukan untuk mendapatkan marka yang dapat digunakan untuk seleksi progeni hasil persilangan dan terpaut dengan sifat ketahanan terhadap PYLCV. Sebanyak 20 marka SSR dianalisis polimorfismenya pada dua tetua persilangan, kemudian marka yang polimorfik diuji pada galur generasi F1 dan F2. Hasil penelitian menunjukkan ada empat marka polimorfik pada kedua tetua persilangan, tetapi ketika diuji pada galur-galur keturunannya hanya 3 marka (CaBR61, CaBR64, dan CaBR98) yang polimorfik. Berdasarkan analisis marka, 14 galur F1 terkonfirmasi hasil persilangan antar aksesi IPBC12 dan varietas Yuni. Marka yang secara konsisten mendeteksi penurunan alel dari kedua tetua pada progeni F1 adalah CaBR61. Marka tersebut berpotensi sebagai marka seleksi galur-galur hasil persilangan pada tanaman cabai. Analisis molekuler pada galur-galur F2 tidak mendapatkan keterpautan antara marka dengan sifat ketahanan. Perlu analisis lebih lanjut menggunakan jumlah marka yang mencukupi dan tersebar merata dalam genom cabai untuk memetakan gen ketahanan terhadap PYLCV pada populasi persilangan antara aksesi IPBC12 dan varietas Yuni. Kata kunci: aksesi IPBC12, Capsicum annuum, seleksi berpandu marka, varietas Yuni
Eko Darma Husada, I Made Sudiana, Idris, Ni Luh Putu Indriyani, Panca Jarot Santoso
Published: 31 August 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 117-125; https://doi.org/10.29244/jhi.12.2.117-125

Abstract:
Biohidrolisis merupakan proses hidrolisis atau delignifikasi biomasa lignoselulosa secara enzimatik dengan bantuan mikroorganisme. Koleksi isolat cendawan Trametes polyzona dan Aspergillus sp. memiliki potensi untuk digunakan pada proses biohidrolisis dalam produksi bioetanol. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi isolat cendawan dalam metode biohidrolisis kulit buah durian untuk pembentukan gula reduksi dalam produksi bioetanol. Optimasi metode dilakukan dengan perlakuan biohidrolisis langsung dengan cendawan, kombinasi praperlakuan kimiawi (1% NaOH) dan biohidrolisis, kombinasi praperlakuan panas (microwave) dan biohidrolisis, serta delignifikasi alkali (5% NaOH) sebagai kontrol. Isolat cendawan Trametes polyzona secara umum memperlihatkan potensi terbaik pada perlakuan biohidrolisis langsung maupun kombinasi dengan praperlakuan kimia dan panas dibandingkan dengan isolat Aspergillus sp. Proses biohidrolisis Trametes polyzona dengan kombinasi praperlakuan panas selama 10 menit dengan inkubasi selama 7 hari menghasilkan 0.38% atau setara 3.83 g L-1 gula reduksi pada hidrolisat. Metode biohidrolisis langsung memberikan hasil 0.32% dan tidak berbeda nyata dengan kontrol (0.32%). Kedua modifikasi dalam proses hidrolisis biomasa lignoselulosa ini dapat digunakan sebagai metode alternatif produksi bioetanol di samping menggunakan senyawa kimia. Metode biohidrolisis dengan cendawan Trametes polyzona ini masih perlu dikaji lebih dalam terkait beberapa parameter lainnya yang berpengaruh agar diperoleh gula reduksi yang lebih baik dalam produksi bioetanol yang lebih efektif. Kata kunci: delignifikasi, lignoselulosa, optimasi, Trametes polyzona
M. Zuhran, Gatot Mudjiono, Retno Dyah Puspitarini
Published: 31 August 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 108-116; https://doi.org/10.29244/jhi.12.2.108-116

Abstract:
Beberapa praktik budidaya dilaporkan mempengaruhi kesesuaian agroekosistem bagi perkembangan penyakit tanaman. Namun demikian, praktik-praktik budidaya jeruk yang mempengaruhi perkembangan penyakit huanglongbing (HLB) dan serangga vektornya yaitu kutu loncat jeruk (KLJ) Diaphorina citri belum banyak diketahui. Penelitian ini mempelajari pengaruh praktik budidaya jeruk terhadap intensitas penyakit HLB melalui survei singkat selama dua minggu pada 37 kebun jeruk yang berlokasi di Kabupaten Sambas. Parameter pengamatan adalah intensitas serangan penyakit HLB, kelimpahan KLJ, dan praktik budidaya yang diterapkan. Pengaruh praktik budidaya terhadap intensitas serangan penyakit HLB dianalisis melalui structural equation modeling berbasis partial least squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan tingkat penggunaan pestisida, kualitas saluran drainase, dan kepadatan tanaman jeruk berpengaruh positif terhadap intensitas serangan penyakit HLB, sedangkan tingkat keanekaragaman vegetasi dan pemberian pupuk kimia berpengaruh negatif terhadap intensitas serangan penyakit HLB. Pengendalian gulma, kualitas tanah, dan pemangkasan pemeliharaan tidak mempengaruhi intensitas HLB. Oleh karena itu, penanaman jeruk sebaiknya menerapkan sistem polikultur, menggunakan beragam varietas, dan jarak tanam tidak terlalu rapat. Pemberian hara yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman jeruk terhadap serangan KLJ hendaknya ditingkatkan. Pengendalian hama dan penyakit tanaman disarankan dilakukan secara terpadu sehingga insektisida hanya digunakan ketika populasi hama mencapai ambang ekonomi. Kata kunci: huanglongbing, jeruk, kutu loncat jeruk, praktik budidaya
Endah Retno Palupi, Chintya Dwi Septianingrum, Erianna Ayu Emkha Putri, Abdul Qadir
Published: 31 August 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 89-98; https://doi.org/10.29244/jhi.12.2.89-98

Abstract:
Garlic seed clovesisusually separated from previous cropping, and cannot be planted directly due to dormancy. This research was conducted at the Seed Storage and Testing Laboratory of the Department of Agronomy and Horticulture during November 2017 to April 2019. The research consisted of two experiments. The first experiment was aimed at determining the effective GA3 concentration for breaking the dormancy of garlic seed cloves (var Tawangmangu Baru). The experiment was arranged in completely randomized design with two factors, i.e. GA3 concentrations (0, 50, 100, dan 150 ppm) and storage conditions(ambient room/27±2 °C and refrigerator/9±1 °C), replicated 4 times.The second experiment was aimed at breaking the dormancy, and was arranged in completely randomized design with two factors, i.e. immersion solutions (water/control, 50 ppmGA3 and 1.5% KNO3) and storage conditions(ambient room/29±2˚C, RH 87±2%, air-conditioned room/19±1˚C, RH 60±1%, and refrigerator/7±1˚C, RH 77±3%). In both experiments the seed cloves were immersed in different solutionsas treatments for 24 h prior to storage at various conditions. The immersion was repeated prior to germination test. The results showed that the dormancy period of garlic seed cloves was more than 22 weeks after harvest (WFH). GA3 at 50 ppm was effective for breaking the dormancy of garlic seed cloves. Immersion in 50 ppmGA3 for 24 h followed by storage in low temperature (6 – 10 ˚C) for 8 weeks was effective for breaking dormancy of garlic seed cloves aged 6 WFH. Keywords: germination, quiescence, refrigerator, vigor index
Winarso Drajad Widodo, Ketty Suketi, Aidil Fitriansyah
Published: 31 August 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 99-107; https://doi.org/10.29244/jhi.12.2.99-107

Abstract:
The determination of the harvest time for Raja Bulu banana based on the age of the fruit causes the post-harvest ripe quality is not uniform between bunches. Determination of more precise harvest criteria has been carried out by converting the age of the flower anthesis to fruit harvest to the accumulated heat unit and obtaining the optimum heat unit accumulation of 1400  oC days in Raja Bulu banana plantations in the lowlands (± 10 m asl). To confirm these results, an experiment was carried out with a complete randomized block design of 3 anthesis times with one week intervals with 4 replications at heat units of 1400 oC days. The anthesis flower tagging was carried out at Parakansalak Garden, PTPN VIII, Sukabumi (670 m asl) In July 2018. Postharvest observations were carried out at the Postharvest Laboratory of the Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB. The heat unit accumulation of 1400 oC days was achieved at 88 – 91 days after anthesis. The postharvest ripeness (skin color scale 6) was reached at 11 – 14 days after harvest. At the similar ripe level, the difference in anthesis time did not affect the postharvest ripeness criteria for Raja Bulu banana fruit which included shelf life, weight loss, respiration rate, fruit hardness, total soluble solids, total titrated acid, and vitamin C contents.Keywords: anthesis, fruit age, postharvest ripeness, shelf-life
Tri Handayani, Aryani Leksonowati, Indira Riastiwi, Ridwan, Witjaksono
Published: 30 April 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 59-68; https://doi.org/10.29244/jhi.12.1.59-68

Abstract:
In plant micropropagation, cytokinin and nitrogen are the essensial components that affect plant growth and morphogenesis. In this research, we evaluated the effect of BA concentration and modification of MS medium with variation in total nitrogen concentration and NO3-:NH4+ ratio on the growth of moringa plant. The treatments tested were (1) BA concentrations of 0.00, 0.05, 0.10, 0.25, 0.50, 1.00 mg L-1; (2) the total N concentrations of 20, 40, 60, 80 mM; (3) the NO3-:NH4+ ratio of 1:0, 1:3, 1:1, 3:1, 0:1. The experimental design used was a completely randomized design with 10 replications. The results showed that the treatment of 0.25 mg L-1 BA produced the best shoot proliferation with the highest number of nodes (8.07 ± 3.48). The shoot growth response to nitrogen level tended to be parabolic with an optimum concentration of 40-60 mM. Modification of MS medium with different NO3-:NH4+ ratio showed differences in the growth and biomass of moringa shoots, and the optimal growth was obtained at the 3:1 ratio. Therefore, MS medium with total nitrogen concentration of 40-60 mM with NO3-:NH4+ ratio of 3:1 can be used for in vitro propagation of Moringa selected genotypes.Keywords: Benzyladenine, Moringa oleifera, nitrate/ammonium ratio, shoot,total N
Rugayah, Desi Suherni, Yohannes Cahya Ginting, Agus Karyanto
Published: 30 April 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 42-50; https://doi.org/10.29244/jhi.12.1.42-50

Abstract:
One of the main obstacles in mangosteen cultivation is a relatively long juvenile period due to the lack of root formation during seedling phase. To solve this problem, an effort was done by administering growth regulators, such as by applying shallot and tomato extracts which believed contain root growth regulator. This study aims to determine the effect of the shallot and tomato extracts on mangosteen seedling growth. This research was arranged factorially (3x2) using a randomized block design (RAK) with the treatment of three shallot extract in the concentrations (0 g L-1, 400 g L-1, and 800 g L-1), and tomato extract concentrations of 0 g L-1 and 100 g L-1 with three replication. The data were tested with analyses of variance and with LSD test at the 5% level. The results showed that shallot extract with a concentration of 400 g L-1 increased the stem diameter, fresh plant weight, and showed a tendency for the best treatment on the number of secondary roots. The application of tomato extract at 100 g L-1 increased plant weight, and there was an interaction effect between the provision of shallot extract and tomato extract on mangosteen leaf area. We recommend using either shallot extract solely at 400 g L-1 or tomato extract at 100 g L-1for better mangosteen seedling growth.Keywords: fresh weight, konsentration, organic matter, plant growth regulator
Musalamah, Indijarto Budi Rahardjo, Rudy Soehendi, Lia Sanjaya
Published: 30 April 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 1-9; https://doi.org/10.29244/jhi.12.1.1-9

Abstract:
Thrips parvispinus is one of the limiting factors in Chrysanthemum production. The use of resistance varieties is one of environmentally friendly efforts to control Thrips parvispinus on Chrysanthemum. The research aimed to determine the resistance of some Indonesian Ornamental Crop Research Institute (IOCRI) mutant Chrysanthemum genotype against T. parvispinus. The research was carried out in the protected house on Segunung Research Station of IOCRI from January to December 2019. A total of 10 IOCRI mutant Chrysanthemum genotypes and two introduced varieties (Yellow Fiji and White Fiji) were used in the study using a Randomized Completely Block Design with three replications. The resistance screening method used in this study was the Thrips parvispinus existing in nature or without investment. Observation variables include pest attack intensity, pest attack percentage, percentage of harvestable flowers, and flower diameters. The results showed that the Mayang Ratih IOCRI mutant Chrysanthemum was moderately resistant to T. parvispinus. It has the lowest pest attack intensity, pest attack percentage, and the highest harvestable flowers and flower diameters qualify as Chrysanthemum standard type cut flower. Mayang Ratih genotype can be recommended as T. parvispinus resistance parent for Chrysanthemum cut flower breeding program.Keywords: attack intensity, Dendrathema grandiflora, flower, pest
Arifah Rahayu, Nur Rochman, Wini Nahraeni
Published: 30 April 2021
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 12, pp 31-41; https://doi.org/10.29244/jhi.12.1.31-41

Abstract:
Daun katuk tidak hanya dimanfaatkan untuk sayuran tetapi juga sebagai bahan baku biofarmaka, sehingga perlu diproduksi secara ramah lingkungan, menggunakan pupuk organik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh komposisi pupuk urea dan kompos kipahit terhadap produksi dan kualitas berbagai aksesi katuk. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama yaitu sepuluh aksesi katuk (Sarampad, Maleber1, Maleber2, Kadudampit1, Kadudampit2, Gegerbitung, Dramaga, Cinangneng1, Cinangneng2, Katulampa). Faktor kedua adalah enam komposisi pupuk urea dan kompos kipahit, terdiri atas 100% N-urea, 100% N-kipahit, 75% N-urea+25% N-kipahit, 50% N-urea+50% N-kipahit, 25% N-urea+75% N-kipahit, dan tanpa pupuk N. Dosis pupuk N yang digunakan adalah 250 kg N ha-1. Hasil penelitian menunjukkan katuk ‘Kadudampit1’ dan ‘Kadudampit2’ memiliki tinggi tanaman dan luas daun terbesar, ‘Sarampad’ dan ‘Maleber2’ menghasilkan jumlah tunas, panjang tunas total, bobot kering panen, dan kandungan klorofil total paling tinggi. Daun katuk ‘Katulampa’ memiliki kandungan padatan terlarut total (PTT) dan nitrat daun tertinggi. Pemberian berbagai kombinasi urea+kompos kipahit dapat menghasilkan jumlah tunas, panjang tunas total, bobot kering panen, kandungan klorofil total dan PTT setara dengan yang diberi urea, tetapi tinggi tanaman dan jumlah anak daun setara urea hanya terdapat pada tanaman yang diberi 50% N-urea+50% N-kipahit. Penggunaan kompos kipahit dapat menurunkan kandungan nitrat daun dan mengurangi penggunaan urea. Kata kunci: bobot kering panen, klorofil, nitrat, padatan terlarut total, Sauropus androgynous (L.) Merr
Back to Top Top