Jurnal Hortikultura Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 2087-4855 / 2614-2872
Published by: Journal of Consumer Sciences (10.29244)
Total articles ≅ 76
Filter:

Latest articles in this journal

Ridho Kurniati, Fauziah Khairatunnisa, Reni Indrayanti
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 140-148; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.140-148

Abstract:
Lily was usually propagated using MS (Murashige and Skoog) medium supplemented with plant growth regulator and hormone. The important concerns in mass propagation and seed production of lily for industries are cheap, easy and low cost medium. This study’s objective was to find out of generic media to substitute MS medium and to decrease the cost of mass propagation of lily in vitro. Three substitutions medium were Vitagrow, Growmore, Gibril, and G-60. Bulbs of lily Arumsari varieties were used as materials. Complete Random Design with a single factor was used in the experimental design. The treatments were type of generic in vitro medium (Vitagrow, Growmore, Gibril, and G-60), consisting of three replication and 20 units per repetition and five bulbs per unit of repetition. The parameter observed was the total number of leaves and roots, length of leaves and roots, and bulb growth percentage. Growmore medium showed a better result than others in total number of leaves (50,67), length of leaves (1,6 cm), length of roots (0,312 cm) and percentage of bulb growth (100%). The highest total number of roots was achieved in G-60 medium.
Ni Wayan Deswiniyanti, Ni Kadek Dwipayani Lestari, Ida Ayu Astarini, Yunita Hardini
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 131-139; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.131-139

Abstract:
Tanaman lili (Lilium longiflorum Thunb.) merupakan tanaman hias dan bunga potong. Permintaan bunga potong lili sangat menjanjikan tetapi ketersediaan bibit masih terbatas. Penelitian ini terdiri dari perkecambahan biji lili secara in vitro pada media ½ Murashige & Skoog (MS), multiplikasi bagian eksplan pangkal dan ujung tunas pada berbagai perlakuan media MS kombinasi ZPT BAP dan NAA. Tujuannya untuk mendapatkan kombinasi media yang tepat dan mengetahui persentase tertinggi bagian eksplan yang mampu tumbuh tunas, akar dan kalus. Kombinasi media MS dengan BAP dan NAA yaitu (a) kontrol 0:0 mg L-1, (b) 0:0.1 mg L-1, (c) 0:1 mg L-1, (d) 0.1:0 mg L-1, (e) 0.1:0.1 mg L-1, (f) 0.1:1 mg L-1, (g) 1:0 mg L-1, (h) 0.1:1 mg L-1, (i) 1;1 mg L-1. Penelitian ini disusun dalam RAL faktorial dua faktor yaitu kombinasi pemberian BAP dan NAA, multiplikasi eksplan bagian pangkal dan ujung tunas. Biji lili mampu berkecambah sebanyak 58%. Media c dan i yang mampu menginduksi eksplan untuk tumbuh tunas, akar dan kalus. Media c mampu menginduksi tunas, akar dan kalus, media i mampu menginduksi akar dan kalus. Persentase respon pertumbuhan eksplan bagian pangkal tunas yaitu pertumbuhan tunas 11.1% dan akar 13.3%, sedangkan eksplan bagian ujung tunas menunjukkan pertumbuhan akar 6.7% tanpa pertumbuhan tunas. Pertumbuhan kalus menunjukkan hasil yang sama pada eksplan pangkal dan ujung tunas yaitu 4.4%.
Devinawati Rachmi, Samanhudi, Djoko Purnomo
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 91-100; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.91-100

Abstract:
Pisang kepok (Musa balbisiana) mengandung genom B dengan potensi pencoklatan tinggi dan tingkat proliferasi rendah dalam kultur in vitro. Salah satu cara mengurangi pencoklatan dan meningkatkan kandungan vitamin serta hormon dalam media, yaitu dengan penambahan suplemen sintetik maupun ekstrak bahan organik alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui proliferasi eksplan pisang kepok Unti Sayang dengan media diperkaya ekstrak buah dan kemampuan aklimatisasi planletnya. Penelitian ini terdiri atas 2 percobaan, pertama tahap in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap split plot dengan 2 faktor, yaitu main plot (3 taraf suhu ruang kultur) dan subplot (5 taraf ekstrak buah). Kedua, tahap aklimatisasi menggunakan Rancangan Acak Lengkap split plot dengan 2 faktor, yaitu main plot (4 taraf media aklimatisasi) dan subplot (4 taraf vigor planlet). Hasil percobaan menunjukkan penambahan ekstrak buah pada media MS berpengaruh, sedangkan perbedaan suhu inkubasi tidak berpengaruh terhadap proliferasi eksplan pisang kepok Unti Sayang. Media MS dengan penambahan ekstrak buah pepaya (150 g L-1) dan air kelapa (100 ml L-1) memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan penambahan vitamin sintetik terhadap proliferasi dan morfogenesis eksplan pisang kepok Unti Sayang. Vigor planlet pada berbagai media aklimatisasi tidak berbeda nyata dengan kemampuan hidup mencapai 92%.
Resa Sri Rahayu, Roedhy Poerwanto, Darda Efendi, Winarso Drajad Widodo
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 82-90; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.82-90

Abstract:
Cekaman kekeringan merupakan salah satu teknik yang dilakukan untuk menginduksi bunga jeruk keprok di luar musim dalam upaya memenuhi ketersediaan buah jeruk keprok sepanjang tahun. Durasi cekaman kekeringan yang tepat penting dipelajari untuk menghindari cekaman berat dan mendapatkan hasil bunga yang optimum. Penelitian ini bertujuan menentukan durasi cekaman kekeringan yang tepat untuk menginduksi bunga jeruk keprok dataran rendah varietas Madura. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan PKHT-IPB dengan ketinggian ± 300 mdpl dari bulan April-Mei 2019. Percobaan dirancang dengan RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan satu faktor perlakuan yaitu durasi cekaman kekeringan dengan lima taraf: tanpa cekaman kekeringan sebagai kontrol, durasi cekaman kekeringan satu minggu, durasi cekaman kekeringan dua minggu, durasi cekaman kekeringan tiga minggu dan durasi cekaman kekeringan empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi cekaman kekeringan mempengaruhi keberhasilan induksi bunga jeruk keprok Madura. Durasi cekaman kekeringan selama 2, 3 dan 4 minggu dengan nilai kadar air secara berturut-turut 81.81%, 65.21% dan 55.39% dari kapasitas lapang berhasil menginduksi bunga. Bunga muncul pada 3, 2 dan 1 minggu setelah rewatering dan pengairan rutin secara berturut-turut pada perlakuan durasi cekaman 2, 3 dan 4 minggu. Tiga minggu tanpa irigasi merupakan durasi cekaman kekeringan optimum untuk induksi bunga jeruk keprok Madura.
Duta Berlintina, Agus Karyanto, Rugayah, Kuswanta Futas Hidayat
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 110-119; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.110-119

Abstract:
Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu buah yang memiliki potensi cukup tinggi di pasaran dibandingkan dengan buah tropis lainnya, namun produksi manggis masih sangat rendah. Kendala utama dalam budidaya tanaman manggis yaitu lambatnya pertumbuhan tanaman manggis akibat minimnya akar–akar lateral, khususnya tanaman manggis asal biji, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mempercepat pertumbuhan seedling manggis. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan seedling manggis dengan penggunaan zat pengatur tumbuh alami ekstrak bawang merah dan ekstrak kecambah dengan frekuensi pemberian yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan Oktober 2018 hingga Maret 2019. Perlakuan disusun secara faktorial (2x3) dalam rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah jenis ekstrak bawang merah dan kecambah, sedangkan faktor kedua adalah frekuensi pemberian 1, 2, dan 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam dan dilakukan pemisahan nilai tengah dengan uji orthogonal kontras pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan organik sumber ZPT frekuensi satu kali lebih baik dalam meningkatkan bobot basah seedling manggis dibandingkan frekuensi dua atau tiga kali dengan selisih bobot 0.47 g (12.71%). Perkembangan akar seedling manggis akan meningkat apabila diberi perlakuan ekstrak kecambah dengan frekuensi satu kali, tetapi apabila yang digunakan ekstrak bawang merah maka frekuensi pemberian dua atau tiga kali.
Ira Mulyawanti, Nurdi Setyawan, Dondy Anggono Setyabudi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 101-109; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.101-109

Abstract:
Serangan penyakit yang disebabkan oleh cendawan ataupun serangga menjadi salah satu permasalahan dalam penyimpanan buah mangga. Teknik untuk menekan perkembangan penyakit pascapanen yang sudah ada diantaranya dengan perendaman buah dalam air panas, pelilinan, atau penggunaan bahan kimia seperti fungisida dan insektisida. Perlakuan tersebut dapat menekan perkembangan penyakit pascapanen buah mangga, namun disisi lain penggunaan suhu tinggi dan bahan kimia mempengaruhi aktivitas fisiologi dan juga sensori buah setelah disimpan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pendahuluan yang digunakan pada penyimpanan buah mangga terhadap karakteristik buah mangga setelah disimpan. Perlakuan yang diuji meliputi perendaman air panas, pelilinan, dan pencelupan dalam ekstrak lengkuas. Buah mangga kemudian dikemas, dan disimpan pada suhu dingin (9 °C) selama 28 hari di dalam kontainer berpendingin panjang 609.6 cm. Karakteristik buah mangga yang diamati meliputi tekstur, warna, kandungan padatan terlarut total, vitamin C, waktu pematangan dan peragaan, serta jenis kerusakan yang terjadi pada setiap perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pencelupan ekstrak lengkuas menunjukkan hasil terbaik dalam meningkatkan umur simpan buah mangga cv. Gedong dan menjaga kualitas fisiologi buah.
Nurul Afifah, Eny Widajati, Endah Retno Palupi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 120-130; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.120-130

Abstract:
Uji tetrazolium (TZ) merupakan salah satu metode untuk mengestimasi viabilitas dan vigor benih. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki metode analisis vigor pada benih botani bawang merah. Pada penelitian ini digunakan dua varietas benih bawang merah, yaitu Trisula dan Tuk-tuk. Pre-treatment dalam uji tetrazolium benih bawang merah dilakukan dengan perendaman benih dalam air selama 18 jam. Sebelum pewarnaan benih disiapkan dengan menggores sisi lurus secara longitudinal sebagai satu-satunya irisan tipis, dan sisi cembung benih ditusuk dengan scalpel. Benih diwarnai selama 18 jam dalam larutan tetrazolium pada suhu 1% suhu 30 oC dalam kondisi gelap. Pola pewarnaan benih diklasifikasikan dalam empat kategori yaitu empat pola normal kuat sebagai kriteria benih vigor, lima pola normal lemah, tujuh pola abnormal, dan empat pola benih mati. Parameter fisiologis viabilitas dan vigor berkorelasi erat dengan hasil pola vigor/ normal kuat. Pola normal kuat memiliki koefisien korelasi (r) yang tinggi dengan parameter uji fisiologis di laboratorium termasuk indeks vigor (r= 0.882), bobot kering kecambah normal (r= 0.899), dan kecepatan tumbuh (r= 0.875). Hal ini mengindikasikan pola pewarnaan vigor dapat memprediksi vigor benih.
Tri Lestari, Rion Apriyadi, Eries Dyah Mustikarini, Alif Satria, Niken Dwiyulivia Yasmin
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 149-156; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.149-156

Abstract:
Budidaya nenas di lahan pasca tambang timah memerlukan perlakuan untuk menjaga mikroklimat tanah. Salah satu perlakuan yang dapat digunakan adalah aplikasi mulsa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis mulsa untuk budidaya tanaman nenas di lahan pasca tambang timah. Penelitian dilakukan bulan Januari 2018 sampai Mei 2019, di Desa Dwi Makmur, Kecamatan Merawang, Bangka, laboratorium Agroteknologi Universitas Bangka Belitung, dan Saraswanti Indo Genetech, Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Faktor perlakuan adalah jenis mulsa yang terdiri dari tanpa mulsa (M0), Arachis pintoi (M1), Mulsa sabut kelapa (M2), Mulsa alang-alang (M3). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan berbagai jenis mulsa tidak memiliki pengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman nenas. Pemberian mulsa sabut kelapa memberikan nilai tertinggi pada pengamatan jumlah daun dan panjang akar. Mulsa Arachis pintoi memberikan nilai tertinggi pada pertambahan tinggi dan lebar tajuk tanaman. Hasil penelitian menunjukan aplikasi jenis mulsa memberikan pengaruh nyata terhadap panjang buah. Aplikasi jenis mulsa tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter lainnya. Apikasi Arachis pintoi menunjukan kandungan vitamin C tertinggi (9,83 mg) pada buah nenas. Buah nenas di lahan pasca tambang timah tidak mengandung logam Pb, Cu, Sn sehingga buah nenas aman dikonsumsi.
Pipit Werdhiwati, Surjono Hadi Sutjahjo, Desta Wirnas
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 72-81; https://doi.org/10.29244/jhi.11.1.72-81

Abstract:
Okra merupakan tanaman dari suku Malvaceae yang memiliki aktivitas antidiabetik, dapat menurunkan dan menstabilkan kadar gula darah. Kandungan glibenclamide yang terdapat pada ekstrak etanol buah okra dapat merangsang sekresi insulin dari sel beta. Ketersediaan okra di Indonesia masih terbatas dan perlu ditingkatkan produksinya. Teknik induksi mutasi menjadi alternatif untuk meningkatkan keragaman tanaman okra yang keberadaan materi genetiknya sangat terbatas. Peneltian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi LD50 dan seleksi individu terbaik tanaman okra untuk perbaikan daya hasil. Dosis iradiasi sinar gamma yang diaplikasikan pada benih okra yaitu 0 Gy hingga 900 Gy dan dilakukan analisis LD50, kemudian dilakukan iradiasi kembali pada dosis LD50. Hasil penelitian diperoleh nilai LD50 sebesar 574.08 Gy. Keragaman genetik yang tinggi hanya ditunjukkan pada karakter karakter jumlah buku dan jumlah buah. Karakter jumlah buku berhubungan erat dengan jumlah buah disebabkan oleh pengaruh langsung. Berdasarkan nilai korelasi, koefisien lintas, dan heritabilitas, karakter jumlah buku digunakan sebagai kriteria seleksi untuk mendapatkan galur okra berdaya hasil tinggi. Kata kunci: analisis sidik lintas, heritabilitas, korelasi, LD50
Ita Aprilia, Awang Maharijaya, Suryo Wiyono
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 32-40; https://doi.org/10.29244/jhi.11.1.32-40

Abstract:
Keragaman genetik merupakan hal yang penting dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Ketahanan terhadap penyakit layu fusarium merupakan salah satu karakter yang diharapkan dalam pengembangan varietas bawang merah. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi keragaman genetik berdasarkan marka morfologi, marka molekuler ISSR, dan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium dari 19 genotipe bawang merah Indonesia. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan dan satu faktor yaitu genotipe bawang merah. Isolat Fusarium oxysporum f.sp cepae yang digunakan sebagai bahan uji didapatkan dari tanaman yang terserang penyakit layu fusarium di Brebes, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman genetik berdasarkan marka morfologi, molekuler ISSR, dan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium pada genotipe bawang merah yang diamati. Genotipe Batu Ijo dan Rubaru merupakan genotipe dengan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium terbaik dibandingkan genotipe lainnya berdasarkan parameter periode inkubasi penyakit, kejadian penyakit, dan laju infeksi penyakit. Kata kunci: moler, pemuliaan, penyakit cendawan, varietas tahan
Back to Top Top