Jurnal Hortikultura Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 2087-4855 / 2614-2872
Published by: Journal of Consumer Sciences (10.29244)
Total articles ≅ 77
Filter:

Latest articles in this journal

Emmy Darmawati, Putri Rika Permata Sari, Sutrisno Suro Mardjan
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 157-165; https://doi.org/10.29244/jhi.11.3.157-165

Abstract:
Salak madu merupakan salak unggul yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi dari salak pondoh, namun kelemahannya adalah kulit buah tipis, sisik besar, daging berair membuat salak madu mudah mengering. Teknologi coating berbahan Aloe vera yang dikombinasikan beeswax diharapkan dapat menjaga mutu buah salak selama proses penyimpanan. Tujuan penelitian adalah mengkaji aplikasi coating berbahan Aloe vera-beeswax pada salak madu. Salak madu yang digunakan berasal dari Sleman, Yogyakarta. Percobaan dilakukan dengan perlakuan kombinasi Aloe vera 30% dan beeswax 3% yang diaplikasikan dalam bentuk komposit (emulsi) dan bilayer. Hasil dari perlakuan dibandingkan dengan kontrol (tanpa coating). Semua sampel percobaan disimpan pada suhu ruang (27 oC - 28 oC). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Lengkap 3 perlakuan (komposit, bilayer, kontrol). Variabel mutu yang diamati adalah kerusakan, kadar air daging, susut bobot, dan kecerahan kulit. Hasil kajian menunjukkan perlakuan coating berbahan Aloe vera yang dikombinasikan dengan beeswax dapat mempertahankan mutu buah salak madu hingga hari ke-8 dengan tingkat kerusakan sebesar 32.38%, sedang pada kontrol mencapai 55.24%. Aplikasi dalam bentuk komposit menghasilkan mutu yang lebih baik dibandingkan bilayer pada susut bobot dan kecerahan kulit sedang variable mutu lainnya tidak berbeda nyata. Coating salak madu menggunakan Aloe vera-beeswax terbaik adalah dalam bentuk komposit (emulsi) dengan metode celup. Kata kunci: bilayer, emulsi, metode celup, suhu ruang.
, Wawan Sutari, Arif Affan Wicaksono, Ade Risti Oktavia
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 174-182; https://doi.org/10.29244/jhi.11.3.174-182

Abstract:
Balanced organic and inorganic fertilization is expected to improve low nutrient on Inceptisols to increased snap bean production. The effect of the combination of N, P, K, and granule organic fertilizer on bean harvests was the purpose of this study. The parameters were leaf area index (LDA), shoot-root ratio, the weight of pods, pod length, pod diameter, percentage of the number of pods, marketable and unmarketable,and percentage of pods by quality class. The experiment was conducted in February to April 2016 at Ciparanje Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Padjadjaran Univeristy, Jatinangor. The study was conducted using a randomized block design (RBD) with 10 treatments and 3 replications. The experimental results showed that N, P, K fertilizer and granule organic fertilizer (GOF) in the order of Inceptisols significantly affected the weight of pods. Application 50% of the dosage N, P, K fertilizer combined with 50% dosage of granule organic fertilizer resulted in a higher pod weight per plot, which reached 2 439.84 g. Keywords: an organic fertilizer, granule organic fertilizer, leaf area index, quality grade, shoot-root ratio,
Eny Rolenti Togatorop, Dia Novita Sari, Edi Susilo, Parwito
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 202-211; https://doi.org/10.29244/jhi.11.3.202-211

Abstract:
The production of long beans at Bengkulu province is still concentrated in highland regions. The possibilities for increasing long bean production in the lowlands of Bengkulu by create superior varieties to produce the high yielding varieties and well adapted to lowland ecosystems. It is important to classify the explored genotypes as preliminary knowledge for the production of parental genotype on long bean crossing. The research aimed to characterize 14 genotypes of long beans grown on the lowland Bengkulu. This research was conducted at the Kebun Percobaan Kelurahan Medan Baru, Kecamatan Muara Bangkahulu Bengkulu province with 10 m above the sea level (asl). The experiment design was used a complete randomized block with three replications. The result showed that the genotypes KPG4, KPG8, KPG12, KPG13, and KPG14 had early maturity, high pod length, weight per pod, and pod weight per plant and also had a green color and crunchy texture. Cluster analysis of 14 genotypes of long beans based on the quantitative character resulted in 5 groups and principal component analysis resulted in 3 main components with the cumulative diversity of 82.54%.Keywords: dendogram, coefficient of variance, exploration, pod length, germplasm, selection
Dina Lestari, Armaini, Gusmawartati
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 183-191; https://doi.org/10.29244/jhi.11.3.183-191

Abstract:
Budidaya dengan sistem wick (sumbu) secara hidroponik menggunakan nutrisi dengan berbagai konsentrasi pada penggunaan beberapa media tanam diharapkan mampu mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi tanaman seledri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media tanam pada pemberian berbagai konsentrasi nutrisi serta mendapatkan media tanam terbaik dan konsentrasi nutrisi yang tepat dengan sistem wick secara hidroponik. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kasa Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau, mulai Juni sampai Oktober 2019. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi, terdiri dari petak utama nutrisi: AB-MIX 1000 ppm, AB-MIX 1200 ppm, AB-MIX 1400 ppm, AB-MIX 1600 ppm, anak petak media tanam: arang sekam, cocopeat, serbuk gergaji, dilakukan sebanyak 3 ulangan. Peubah yang diamati terdiri dari: tinggi tanaman, jumlah tangkai daun utama, jumlah daun, berat segar konsumsi per tanaman dan berat akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media tanam serbuk gergaji dengan nutrisi 1000-1200 ppm memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman seledri terbaik, berpengaruh nyata pada tinggi tanaman dan jumlah tangkai daun utama. Pemberian nutrisi 1000-1200 ppm cendrung memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman terbaik sedangkan media tanam serbuk gergaji dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman seledri secara nyata pada semua peubah yang diamati. Kata kunci: hydroponik sistem wick, konsentrasi nutrisi, media tanam, seledri
Eny Rokhminarsi, Darini Sri Utami, Begananda
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 192-201; https://doi.org/10.29244/jhi.11.3.192-201

Abstract:
The research objective was to determine the effect of the application of Mikotricho bio-fertilizers and N-P-K fertilizers on the yield and quality of tomatoes. The research was conducted from May to October 2020. The experiment used a factorial treatment in the screenhouse. The design used was a completely randomized block design (CRBD) with 3 replications.  The first factor is the dosage of Mikotricho biofertilizer, namely 10 g, 30 g, and 50 g plant-1. The second factor was a reduction in the dose of N-P-K fertilizer, namely a reduction of 0%, 25%, 50% of the recommended doses and control (without Mikotricho fertilizer and without N-P-K fertilizer). Data were analyzed using analysis of variance and further test of LSD 5%. The results showed that the application of micotricho fertilizers in tomato cultivation could increase fruit volume and fruit yield of plant-1 at a dose of 30 g plant-1 and without reducing N-P-K fertilizers in the form of urea, SP-36 and KCl from recommended dosage. For the number of fruit of plant-1, the application of micotricho fertilizer at a dose of 30 g plant-1 can be increased by reducing the dose of N-P-K by 25%. The application of micotricho fertilizer at a dose of 30 g plant-1 can also increase the vitamin C content and reduce N-P-K fertilizer by up to 25%, while the sugar content in fruit increased at 10 g plant-1 micotricho fertilizer.Keywords: mycorrhiza, production, trichoderma, vegetable
Farida Yulianti, Afifuddin Latif Adiredjo, Lita Soetopo, Sumeru Ashari
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 166-173; https://doi.org/10.29244/jhi.11.3.166-173

Abstract:
Vigor tanaman jeruk dipengaruhi oleh batang bawah yang digunakan. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan korelasi antara karakter anatomi akar dan batang terhadap tinggi tanaman jeruk batang bawah dan mendapatkan variabel prediksi vigor tanaman jeruk keprok RGL. Penelitian dilaksanakan di KP-Tlekung, Balitjestro mulai bulan Juni 2019 – Maret 2020. Penelitian menggunakan batang bawah JC, Citrumelo dan Kanci dengan batang atas jeruk keprok RGL. Percobaan dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok, lima kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan JC dan Citrumelo sama dan lebih tinggi dibandingkan Kanci. Ketiga jenis batang bawah memiliki karakter anatomi yang berbeda. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa karakter persentase dan luas pembuluh xylem baik pada akar maupun batang berkorelasi positif terhadap tinggi tanaman batang bawah. Batang bawah kanci memiliki persentase dan luas pembuluh paling kecil. Batang bawah JC memiliki persentase xylem dan rata-rata luas pembuluh xylem tertinggi baik pada irisan melintang akar maupun batang. Batang bawah Citrumelo memiliki densitas pembuluh xylem/mm2 tertinggi. Hasil evaluasi pada tanaman jeruk keprok RGL umur tiga tahun menunjukkan bahwa batang bawah JC dan Citrumelo menyebabkan tinggi tanaman dan volume kanopi lebih tinggi dibandingkan pada batang bawah Kanci. Karakter persentase dan luas pembuluh xylem dapat digunakan sebagai parameter penduga vigor tanaman jeruk RGL. Kata kunci: Jeruk batang bawah, jeruk keprok RGL, karakter anatomi, xylem, vigor
Rina Ekawati, Lestari Hetalesi Saputri
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 221-230; https://doi.org/10.29244/jhi.11.3.221-230

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat naungan yang berbeda terhadap karakter pertumbuhan dan biomassa tanaman bawang Dayak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga September 2020 (5 bulan) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal dengan perlakuan berbagai tingkat naungan yang terdiri dari 3 taraf perlakuan, yaitu tanpa naungan (0%), naungan 55%, dan naungan 75%. Perlakuan diulang lima kali sehingga terdapat 15 satuan percobaan. Setiap unit percobaan terdiri dari 10 tanaman sehingga total terdapat 150 tanaman. Pengamatan dilakukan pada suhu dan kelembaban udara, umur bertunas, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan komponen biomassa tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian naungan 55% dan 75% menghasilkan tinggi tanaman dan luas daun bawang Dayak yang lebih tinggi dan luas dibandingkan tanpa naungan. Naungan 75% memberikan tinggi tanaman 37.1% lebih tinggi, sedangkan naungan 55% memberikan luas daun 41.6% lebih luas dibandingkan tanpa naungan. Jumlah daun dan komponen biomassa tanaman tidak dipengaruhi oleh pemberian naungan. Bawang Dayak dapat ditanam di lahan dengan persentase naungan 55 – 75%. Kata kunci: Eleutherine palmifolia, intensitas cahaya rendah, keragaan, suhu
Amarilis Andani Kesuma, Sri Nopitasari, Yasushi Yoshioka, Shogo Matsumoto, Endang Semiarti
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 212-220; https://doi.org/10.29244/jhi.11.3.212-220

Abstract:
Phalaenopsis amabilis (L.) Blume adalah tanaman hias “Puspa Pesona Indonesia” yang dapat ditingkatkan kualitasnya dengan teknik rekayasa genetika. Transformasi genetik dengan perantara Agrobacterium tumefaciens dan CRISPR/Cas9 digunakan dalam penelitian ini untuk pengeditan genom secara lebih spesifik dan presisi pada target sekuen gen PHYTOENE DESATURASE3 (PDS3) yaitu gen yang berperan penting pada biosintesis kloroplas. Dalam penelitian ini digunakan tanaman transforman umur 12 bulan yang ditumbuhkan dari protokorm yang telah diintegrasi dengan T-DNA pembawa konstruksi UBI::Cas9::U3::PDS3/plasmid pRGEB32. Pembuktian tanaman transforman tersebut masih mengandung konstruksi T-DNA tersebut perlu dilakukan, yaitu dengan karakterisasi secara genotipe dan fenotipe. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi P. amabilis transforman pembawa T-DNA dengan konstruksi UBI::Cas9::U3::PDS3 secara genotip dan fenotip dibandingkan dengan P. amabilis non-transforman. Karakterisasi genotipe dilakukan dengan mendeteksi integrasi T-DNA pembawa konstruksi UBI::Cas9::U3::PDS3 pada genom anggrek P. amabilis menggunakan beberapa primer yaitu HPT, Cas9, PDS3 dan trnL-F (primer kontrol internal). Analisis karakter fenotipe dilakukan dengan pengamatan morfologi dan analisis kadar klorofil menggunakan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genom anggrek P. amabilis transforman pembawa konstruksi UBI::Cas9::U3::PDS3 umur 12 bulan dapat teramplifikasi oleh semua primer. Analisis fenotipe P. amabilis transforman menunjukkan adanya perubahan warna tanaman dari hijau menjadi albino dengan kadar klorofil lebih rendah jika dibandingkan dengan P. amabilis non-transforman. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi CRISPR/Cas9 dapat digunakan untuk mengedit genom tanaman anggrek. Kata kunci: Anggrek, CRISPR/Cas9, klorofil, Phalaenopsis amabilis (L.) Blume, PHYTOENE DESATURASE 3 (PDS3), Transforman
Tri Lestari, Rion Apriyadi, Eries Dyah Mustikarini, Alif Satria, Niken Dwiyulivia Yasmin
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 149-156; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.149-156

Abstract:
Budidaya nenas di lahan pasca tambang timah memerlukan perlakuan untuk menjaga mikroklimat tanah. Salah satu perlakuan yang dapat digunakan adalah aplikasi mulsa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis mulsa untuk budidaya tanaman nenas di lahan pasca tambang timah. Penelitian dilakukan bulan Januari 2018 sampai Mei 2019, di Desa Dwi Makmur, Kecamatan Merawang, Bangka, laboratorium Agroteknologi Universitas Bangka Belitung, dan Saraswanti Indo Genetech, Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Faktor perlakuan adalah jenis mulsa yang terdiri dari tanpa mulsa (M0), Arachis pintoi (M1), Mulsa sabut kelapa (M2), Mulsa alang-alang (M3). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan berbagai jenis mulsa tidak memiliki pengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman nenas. Pemberian mulsa sabut kelapa memberikan nilai tertinggi pada pengamatan jumlah daun dan panjang akar. Mulsa Arachis pintoi memberikan nilai tertinggi pada pertambahan tinggi dan lebar tajuk tanaman. Hasil penelitian menunjukan aplikasi jenis mulsa memberikan pengaruh nyata terhadap panjang buah. Aplikasi jenis mulsa tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter lainnya. Apikasi Arachis pintoi menunjukan kandungan vitamin C tertinggi (9,83 mg) pada buah nenas. Buah nenas di lahan pasca tambang timah tidak mengandung logam Pb, Cu, Sn sehingga buah nenas aman dikonsumsi.
Duta Berlintina, Agus Karyanto, Rugayah, Kuswanta Futas Hidayat
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 110-119; https://doi.org/10.29244/jhi.11.2.110-119

Abstract:
Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu buah yang memiliki potensi cukup tinggi di pasaran dibandingkan dengan buah tropis lainnya, namun produksi manggis masih sangat rendah. Kendala utama dalam budidaya tanaman manggis yaitu lambatnya pertumbuhan tanaman manggis akibat minimnya akar–akar lateral, khususnya tanaman manggis asal biji, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mempercepat pertumbuhan seedling manggis. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan seedling manggis dengan penggunaan zat pengatur tumbuh alami ekstrak bawang merah dan ekstrak kecambah dengan frekuensi pemberian yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan Oktober 2018 hingga Maret 2019. Perlakuan disusun secara faktorial (2x3) dalam rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah jenis ekstrak bawang merah dan kecambah, sedangkan faktor kedua adalah frekuensi pemberian 1, 2, dan 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam dan dilakukan pemisahan nilai tengah dengan uji orthogonal kontras pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan organik sumber ZPT frekuensi satu kali lebih baik dalam meningkatkan bobot basah seedling manggis dibandingkan frekuensi dua atau tiga kali dengan selisih bobot 0.47 g (12.71%). Perkembangan akar seedling manggis akan meningkat apabila diberi perlakuan ekstrak kecambah dengan frekuensi satu kali, tetapi apabila yang digunakan ekstrak bawang merah maka frekuensi pemberian dua atau tiga kali.
Back to Top Top