Jurnal Hortikultura Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 20874855 / 26142872
Current Publisher: Institut Pertanian Bogor (10.29244)
Total articles ≅ 163
Filter:

Latest articles in this journal

Arief Hartono, Desi Nadalia, Siti Lathifah Husnul Khuluq
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 190-199; doi:10.29244/jhi.10.3.190-199

Abstract:
One of the efforts that can be done so that the fertilization of phosphorus (P) accommodate the P needs of big red chili is by conducting soil analysis and determine the critical level of P in the soil related to the yield. The objective of this research was to determine the critical level of P for big red chili in Java Island. Soil samples were collected from 19 locations in Java Island. The soil P before planting of 19 locations was determined by three methods of P extraction namely Bray 1, Olsen, and Mehlich III. After soil P analyses, big red chili was planted in a pot containing 500 g of soil (oven-dry weight) from 19 locations where each location had 4 rates of P fertilization. The rates of P fertilization applied were 0, 55, 110, and 220 kg ha-1 P2O5. Urea and KCl were applied with the rate of 110 kg ha-1 and 180 kg ha-1 respectively as basal fertilizers. Plant biomass was harvested after the age of 4 weeks after planting. The effect of P fertilizer on growth parameters was evaluated using analysis of variance. The critical level of soil P was determined by the Cate and Nelson method. The results showed that P fertilization had a significant effect on plant height, fresh weight and dry weight of plants. Fertilization treatment of 220 kg ha-1 P2O5 resulted in the highest responses to plant growth parameters. The correlation test results showed that Bray 1, Olsen and Mehlich III extraction methods significantly and positively correlated with plant dry weight. The Olsen extraction method showed the highest correlation with plant dry weight (r=0.665). The critical levels of P in the soil for big red chili in Java determined by Bray 1, Olsen, and Mehlich III extraction methods, were 15 ppm, 40 ppm, and 50 ppm, respectively. Keywords: Bray 1, Cate and Nelson, extraction method, Mehlich, Olsen, soil analysis
Yusnita Sari, Sobir, Muhamad Syukur, Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 145-153; doi:10.29244/jhi.10.3.145-153

Abstract:
Peningkatan ukuran umbi bawang merah lokal dengan kolkisin dapat meningkatkan produktivitas dan preferensi konsumen terhadap bawang merah lokal Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh nilai LC50 benih bawang merah terhadap kolkisin serta menduga beberapa parameter genetik karakter agronomi populasi putatif mutan bawang merah generasi M1V2 hasil induksi poliploid dengan kolkisin. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan terpisah. Percobaan pertama yaitu induksi poliploid TSS bawang merah dengan 5 konsentrasi kolkisin (0%, 0.25%, 0.5%, 0.75% dan 1%) bertujuan untuk memperoleh nilai LC50 dan mutan putatif bawang merah. Percobaan kedua yaitu pendugaan parameter genetik beberapa karakter agronomi populasi (28 galur) mutan putatif bawang merah Trisulagenerasi M1V2 hasil induksi poliploid dengan kolkisin untuk menduga berbagai parameter genetik. Rancangan augmented digunakan baik pada penanaman percobaan pertama maupun percobaan kedua. Nilai LC50 TSS bawang merah varietas Trisula terhadap kolkisin sebesar 0.65%. Nilai heritabilitas berbagai karakter agronomi pada mutan putatif generasi M1V2 berkisar antara rendah sampai tinggi (11.13 – 83.39%). Tingkat ploidi seluruh populasi M1V1 bersifat mixoploid dan pengelompokkan pada mutan putatif generasi M1V2 dengan analisis kluster bersifat acak. Hal ini mengindikasikan bahwa induksi poliploid dengan kolkisin pada TSS bawang merah bersifat acak. Kata kunci: heritabilitas, kolkisin, LC50, mixoploid, poliploid
Ria Rif’Atunidaudina, Sobir, Awang Maharijaya
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 161-172; doi:10.29244/jhi.10.3.161-172

Abstract:
Cowpea (Vigna unguiculata ssp unguiculata), yardlong bean (Vigna unguiculata ssp sesquipedalis), Bambara groundnut (V.subterranea), lima bean (Phaseolus lunatus), bush bean (P. vulgaris), jack bean (Canavalia ensiformis), velvet bean (Mucuna pruriens) and winged bean (Psophocarpus tetragonolobus) are the important pod vegetable of the legume crop in Indonesia. These crops have a high economic and nutritional value. Its dry seeds are rich in proteins just like soybeans that can support human health and future food supply. The genetic diversity among different pod vegetables is not very well known. The objectives of this research were to determine the genetic relationships among different pod vegetable species based on ISSR markers. 32 accessions were analyzed by 11 ISSR primers. The result showed that the ISSR marker generated 80 DNA band with the polymorphism rate of 100% and the informative primers were PKBT 3 and PKBT 6. The result of cluster analysis and PCA analysis grouped all 32 accessions of the vegetable pod into eight clusters, indicating that the majority of the accession of a given species tend to group. Gower's similarity coefficient among all accessions varied from 0.425 to 0.988, and from 0.444 to 0.700 at the species level. The ISSR markers revealed the close relatedness between V. subterranea - C. ensiformis species, while the greatest distance was found between the P. vulgaris - M. pruriens species. Such a determination of relatedness is useful for a better understanding of the relationships among different pod vegetable species, which are generally considered to be a complex group with high phenotypic variability. Keywords: clustering, genetic distance, polymorphism, pulses, similarity coefficient
Umi Haryati, Deddy Erfandi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 200-213; doi:10.29244/jhi.10.3.200-213

Abstract:
Tanah di lahan kering merupakan lahan yang terdegradasi. Oleh karena itu diperlukan perbaikan kualitas tanah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mulsa dan bahan pembenah tanah dalam memperbaiki sifat fisik dan kimi tanah serta kaitannya dalam meningkatkan produksi bawang merah. Penelitian aplikasi mulsa dan pembenah tanah pada pertanaman bawang merah dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni musim tanam (MT) 2016 di Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah (Split Plot Design) dengan 3 ulangan. Main plot adalah jenis mulsa yaitu: Tanpa mulsa (M-0), Mulsa plastik (M-1), dan Mulsa jerami (M-2) sedangkan sub-plot adalah: 1) Teknologi petani (B-1), 2) B-1+ NPK rekomendasi (B-2), 3) B-1 + 5 t ha-1 Dolomit (B-3), 4) B-1 + 5.0 5 t ha-1 Biochar (B-4), 5) B-1 + 5 5 t ha-1 Dolomit + 5.0 5 t ha-1Biochar (B-5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mulsa dan pembenah tanah memperbaiki sifat fisika tanah (retensi air, porositas dan agregasi tanah). Selain itu memperbaiki sifat kimia tanah (pH, Ca2+, K+, Ca-dd, K-dd, KB). Ada interaksi antara musa dan pembenah tanah terhadap hasil umbi bawang merah. Hasil umbi 18.35 t ha-1 didapatkan pada perlakuan mulsa plastik dengan teknologi petani dtambah 5 t ha-1 dolomit yang meningkatkan hasil sampai 57.8% dibandingkan kontrol, tanpa mulsa dengan teknologi petani. Kata kunci : hasil umbi, sayuran tropis, sifat fisika tanah, sifat kimia tanah
Alfa Sada Saputra, Suprihati, Endang Pudjihartati
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 214-221; doi:10.29244/jhi.10.3.214-221

Abstract:
Phosphate and or potassium nutrients are limiting factors for the formation of flowers and seeds of viola (Viola cornuta L). The purpose of this study was to determine the effect of limiting nutrients on the number of flowers and yield by viola female plants. Research was carried out in June to August 2018 in farm of PT. Selektani Horticulture, Magelang. This research was approach using Minus One Elements Technique with 5 treatments, that is Tropical Sub Standard, Tropical Modification, -P, -K, -PK repeated 5 times therefore 25 units of experiment were tested. The results were analyzed of variance at 95% accuracy. DMRT at 5% level of probability was used to know the difference between treatments. The observed parameters includes number of flowers, number of pods, pod weight, pod dry weight, net dry seed, number of seeds per pod. In terms of quality of seed includes germination rate (DB), speed of germination (KCT) and simultaneity of germination (KST). This study showed that P and K nutrients were the limiting factors for flower and seed production of viola. Without P and K nutrients, plants only produce the number of flowers, number of pods, productivity and germination respectively 76.62%, 73%, 57.95% and 53% compared to Standard Sub Tropical treatments. Keywords: minus one element technique, ornamental plant, P and K elements, seed production
Endang Gunawan, Anas D. Susila, Atang Sutandi, Edi Santosa
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 173-181; doi:10.29244/jhi.10.3.173-181

Abstract:
Penetapan rekomendasi dosis kalium (K) berdasarkan uji tanah untuk tanaman tomat pada tanah Andisol belum banyak dikaji di Indonesia. Penelitian diawali dengan pembuatan status hara K tanah di Kebun Percobaan IPB Pasirsarongge Cianjur dilanjutkan dengan uji korelasi di rumah plastik PKHT IPB Tajur Bogor pada Desember 2015 sampai Mei 2016. Tujuan penelitian adalah menetapkan metode ekstraksi K terbaik bagi tanaman tomat di tanah Andisol. Status K tanah dibuat dengan larutan kalium sulfat (K2SO4) sebesar 0, ¼X, ½X, ¾X, dan X dimana X adalah 413.4 kg K ha-1 sebagai dosis K maksimum yang ditambahkan untuk mencapai kadar K maksimum dalam larutan tanah. Larutan K2SO4 disiram merata pada bedengan tanah dan diinkubasi selama 4 bulan. Ekstraksi K tanah menggunakan 5 metode yaitu: Bray 1 (HCl 5N), HCl 25%, Morgan Wolf (NaC2H3O2.3H2O), Mechlich (HCl 0.05N + H2SO4 0.025N) dan NH4OAc (NH4OAc, pH 7). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respon tinggi tanaman, bobot kering biomas, kandungan K tanaman terhadap tingkat status hara K tanah. Pola respon kuadratik ditunjukkan pada tinggi tanaman umur 6 dan 7 minggu setelah tanam, dan bobot kering total. Metode ekstraksi K Andisols terbaik untuk tomat adalah NH4OAc dengan nilai koefisien korelasi (r): 0.75. Kata kunci: biomas, K2SO4, metode ekstraksi, NH4Oac, status K
Nurul Aini, Wiwin Sumiya Dwi Yamika, Luqman Qurata Aini, Nur Azizah, Elok Sukmarani
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 182-189; doi:10.29244/jhi.10.3.182-189

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh rhizobakteri pada pertumbuhan, klorofil dan kandungan allicin tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) dalam kondisi salin. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca di Agrotechnopark Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Malang-Indonesia yang dilaksanakan mulai bulan Februari hingga Juni 2018. Strain rhizobakteri yang digunakan terdiri dari isolat-isolat bakteri toleran salin berasal dari tanah salin di pesisir Lamongan, Jawa Timur, Indonesia dengan kode isolat SN13 (Streptomyces sp.), SN22 (Bacillus sp.) and SN23 (Corynebacterium sp.). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan petak terbagi (split plot), terdiri dari kondisi salin sebagai petak utama dan konsentrasi bakteri toleran salin sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang diinokulasi bakteri mempunyai bobot kering akar yang sangat nyata lebih tinggi (22.10 - 30%), jumlah klorofil (mencapai 26.03%) lebih tinggi dibandingkan tanpa inokulasi, tetapi memiliki allicin pada umbinya lebih rendah. Aplikasi bakteri toleran salin dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman dalam kondisi salin. Kondisi salin menurunkan baik pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, namun meningkatkan kandungan prolin. Peningkatan konsentrasi prolin pada daun merupakan respon fisiologis dari tanaman bawang merah pada kondisi salin. Kata kunci: allisin, klorofil, prolin, salinitas, umbi
Eny Rokhminarsi, Darini Sri Utami, Begananda
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 154-160; doi:10.29244/jhi.10.3.154-160

Abstract:
Tujuan penelitian adalah menentukan dosis optimal pupuk mikotricho dan pengurangan dosis pupuk sintetis terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah di lahan marjinal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai September 2018. Penelitian merupakan percobaan lapang di desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, dengan jenis tanah ultisol menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Teracak (RAKLT) dengan 3 ulangan. Faktor pertama perlakuan adalah dosis pupuk mikotricho yaitu tanpa pupuk mikotricho, dosis 10 g mikoriza+10 g Trichoderma, 20 g mikoriza + 20 g Trichoderma. Faktor kedua adalah pengurangan dosis rekomendasi pupuk sintetis yaitu 0% (dosis rekomendasi = SP-36 480 kg ha-1 dikonversi menjadi pupuk SP-27 640 kg ha-1, dan pupuk susulan berupa pupuk ZA 320 kg ha-1, pupuk urea 240 kg ha-1, pupuk KCl 320 kg ha-1), pengurangan 25% dan 50%. Analisis data menggunakan analisis ragam dan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test 5%. Hasil penelitian menunjukkan (1) pemberian pupuk hayati mikotricho hingga 40 g (20 g mikoriza + 20 g Trichoderma) tanaman-1 dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai merah, (2) pengurangan dosis pupuk sintetik urea, ZA, SP27 dan KCl hingga 25% dari dosis rekomendasi menunjukkan pertumbuhan dan hasil cabai merah lebih baik dibandingkan dosis rekomendasi, (3) pemberian pupuk mikotricho dosis 40 g (20 g mikoriza + 20 g Trichoderma) dengan pengurangan 25% pupuk sintetik memberikan pertumbuhan jumlah daun, luas daun, dan jumlah cabang yang optimal serta peningkatan hasil cabai (15.4 t ha-1) sebesar 22.2% dibandingkan tanpa pupuk mikotricho dengan dosis rekomendasi (12.6 t ha-1). Pemberian pupuk mikotricho 20 g (10 g mikoriza dan 10 g Trichoderma) dan pengurangan dosis pupuk sintetik 25%, peningkatan hasil 15.8% (14.6 t ha-1) dibandingkan tanpa pupuk mikotricho dan dosis rekomendasi pupuk sintetik. Kata kunci: biopestisida, budidaya, cabai merah, pupuk hayati
Arya Widura Ritonga, Muhamad Achmad Chozin, Muhamad Syukur, Awang Maharijaya, Sobir
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 85-93; doi:10.29244/jhi.10.2.85-93

Abstract:
Informasi tentang karakter seleksi sangat diperlukan dalam suatu program pemuliaan. Genotipetomat SSH3 (suka naungan), genotipe 4974 (peka naungan) dan populasi F2 turunan hasil persilangangenotipe SSH3 x 4974 digunakan untuk menduga nilai heritabilitas, pengaruh langsung dan pengaruhtidak langsung terhadap karakter hasil tomat pada kondisi naungan paranet 50% dan tanpa naungan.Penanaman dilakukan di Kebun Percobaan PKHT-IPB Pasir Kuda pada Juli-Oktober 2016. Nilaiheritabilitas tinggi (>50%) dihasilkan oleh tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, luas daun, bobotdaun, bobot daun spesifik, bobot buah, fruit set, jumlah dan bobot buah per tanaman tomat padakondisi tanpa naungan. Nilai heritabilitas tinggi (>50%) pada naungan paranet 50%, dihasilkan olehtinggi tanaman, fruit set, jumlah dan bobot buah per tanaman. Karakter bobot buah dan jumlah buahper tanaman memiliki pengaruh langsung yang tinggi dan positif terhadap bobot buah per tanamantomat pada kondisi tanpa naungan dan naungan paranet 50%, sementara lebar dan luas daun memilikipengaruh langsung yang tinggi dan positif terhadap bobot buah per tanaman tomat hanya pada naunganparanet 50%. Karakter panjang buah, diameter buah, dan fruit set memiliki pengaruh tidak langsungyang tinggi dan positif terhadap bobot buah per tanaman pada kondisi tanpa naungan dan naunganparanet 50%, sementara tinggi tanaman memiliki pengaruh tidak langsung yang tinggi dan positifterhadap bobot buah per tanaman tomat hanya pada naungan paranet 50%. Karakter fruit set, bobot buah, dan jumlah buah per tanaman potensial dijadikan karakter seleksi untuk produktivitas tomatpada kondisi tanpa naungan. Karakter tinggi tanaman, fruit set dan jumlah buah per tanaman potensialdijadikan karakter seleksi untuk produktivitas tomat pada naungan paranet 50%.Kata kunci: fruit set, pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, toleran naungan
Eni Maftuah, Afiah Hayati
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 102-111; doi:10.29244/jhi.10.2.102-111

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Back to Top Top