Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen

Journal Information
ISSN / EISSN : 2722-7553 / 2722-7561
Total articles ≅ 25
Filter:

Latest articles in this journal

Djoys Anneke Rantung, Daniel Ronda
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 3, pp 30-42; https://doi.org/10.25278/jitpk.v3i1.654

Abstract:
Abstrak Artikel ini membahas mengenai Eklesiologi Kristologi dalam Ibadah Online. Masalah yang penulis angkat adalah adanya anggapan bahwa eksistensi Kristologi tidak dirasakan dalam ibadah online; berbeda dari ibadah tatap muka. Metode yang penulis pakai adalah metode kualitatif dengan pendekatan refleksi teologis. Kesimpulan dari artikel ini adalah ibadah bukan hanya akan menggetarkan hati jika dilakukan di gedung gereja seperti biasanya. Pemaknaan, pengenalan dan perjumpaan dengan Kristus dapat dialami juga dalam ibadah-ibadah online dan tak terbatas pada gedung gereja. Kristus terus dimaknai sebagai Tuhan yang mahahadir dan tidak melihat tempat serta tak terbatas ruang dan waktu. Abstract This research discusses Christological Ecclesiology in Online Worship. The main problem author raises is the assumption that the existence of Christology is not felt in online worship; different from face-to-face worship. The method that the author uses in this article is the qualitative method with a thological reflection approach. The conclusion is thatworship will not only thrill if it is carried out in a church building. Meaning and encounteringwith Christ can also be experienced in online services and not limited to church buildings. Christ continues to be interpreted as th Omnipresence God; without focus on space and time.
Andre Malau, Andrew Scott Brake
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 3, pp 1-17; https://doi.org/10.25278/jitpk.v3i1.632

Abstract:
Abstrak Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan makna gambar Allah menurut Kejadian 1:26-28 dan implikasinya terhadap pengembangan Artificial Intelligence. Adapun metode penulisan yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan metode hermeneutik. Adapun metode hermeneutik yang dugunakan ialah hermeneutik terhadap Alkitab sebagai salah satu komponen teologi dalam mempelajari penafsiran Alkitab. Dari hasil analisis yang penulis lakukan didapati makna manusia sebagai gambar Allah adalah kemuliaan dari Allah kepada manusia dalam tanggung jawab menjadi wakil Allah di dunia. Pengajaran tentang gambar Allah dalam Kejadian 1:26-28 sangat menolong manusia untuk melihat kembali harkat martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang diberi tugas untuk berkuasa atas dunia ini. Konsep manusia sebagai gambar Allah sangat relevan sebagai sikap kritis terhadap perkembangan AI yang mengancam harkat dan martabat manusia. Abstract The purpose of writing this scientific paper is to explain the biblical study of the image of God according to Genesis 1:26-28 and its implications for the development of Artificial Intelligence. The writing method used is qualitative analysis with hermeneutic method. The meaning of man as the image of God is the noble task of man by being God's representative on earth. Humans receive a mandate from God to regulate life in a good direction, including in the development of Artificial Intelligence technology. Some of the implications that can be drawn from the changes are: The development of Artificial Intelligence should not deprive people of jobs. God gave the mandate to humans to rule over life, not over machines. The life of this world requires humans who are able to give moral judgment while machines to the highest level will not be able to have moral abilities. Second, the development of Artificial Intelligence should not be aimed at sexual gratification because Allah only created men and women to enjoy sexual relations and reproduce. Third, the development of Artificial Intelligence must not endanger human dominance because there is a risk in the occurrence of programming errors. Artificial Intelligence acts deviate from human desires and is detrimental to life.
Roy Kambey
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 3, pp 18-29; https://doi.org/10.25278/jitpk.v3i1.577

Abstract:
Abstrak Kepemimpinan sangat penting bagi setiap institusi, tidak terkecuali gereja. Disfungsi dari kepemimpinan dalam gereja memang dapat membuat gereja tidak bertumbuh dan mati. Namun ada juga masalah lain dalam kepemimpinan gereja yang kadang tidak disadari, yaitu apa sebenarnya fungsi utama kepemimpinan dalam gereja? Untuk itu gereja perlu melihat kembali ke dalam alkitab untuk mengetahui rancangan Pendirinya tentang fungsi kepemimpinan dalam gereja. Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan kebenaran tentang fungsi kepemimpinan dalam gereja berdasarkan Efesus 4:11-16 dan implikasi teologis dan praktis dari ajaran tersebut. Metode penelitian yang dipakai adalah penelitian kualitatif yang bersifat penelitian literatur dengan menggunakan metode hermeneutik Alkitab. Setelah meneliti Efesus 4:11-16 maka dapat disimpulkan bahwa fungsi utama kepemimpinan dalam gereja bukanlah untuk melakukan seluruh pekerjaan pelayanan, melainkan untuk memperlengkapi semua orang kudus, yaitu setiap anggota jemaat, supaya mereka mampu dan memadai untuk melakukan pekerjaan pelayanan, baik kepada sesama orang percaya maupun kepada dunia. Dengan demikian maka tubuh Kristus akan dibangun sehingga menghasilkan kesatuan iman dan menjadi dewasa sampai mencapai kepenuhan Kristus, yaitu gereja menjadi perwakilan Kristus di dunia ini. Abstract Leadership is very important for every institution, including the church. Disfunctional leadership in the church actually can make the church stagnant and then die. However, there is another problem in church leadership that sometimes out of sight, namely, what is the main function of church leadership? The church need to go back to the Bible to find out the design of its Builder about the main function of church leadership. The aim of this study is to explain the truth about the function of church leadership according to Ephesians 4:11-16, and its theological and practical implication. This article used qualitative method in the form of literature research which used biblical hermeneutics. Having made some research of Ephesians 4:11-16, it can be said that the main function of the church leadership is not to do all the ministries, but to equip all the saints, i.e. every church member, so that they are able and sufficient to minister, both to the church and to the world. Then, the body of Christ shall built herself up to attain the unity of faith and to the measure of the stature of the fullness of Christ, i.e. the church become Christ’s representative in the world.
Febriyanti Siramba
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 3, pp 58-73; https://doi.org/10.25278/jitpk.v3i1.651

Abstract:
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil Pastoral Konseling guru PAK sebagai upaya menanggulangi hambatan pertumbuhan iman siswa di SMA Negri 4 Manado. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan penelitian ini dilaksanakan di SMA Negri 4 Manado. Data di peroleh melalui wawancara dan studi dokumentasi. Dari hasil analisis data diperoleh indikasi bahwa (1) Pastoral Konseling guru PAK sebagai upaya menanggulangi hambatan pertumbuhan iman siswa. (2) Faktor-faktor penghambat pertumbuhan iman siswa, yaitu pergaulan, teknologi, kurang perhatian orangtua, dan stigma orangtua. (3) Upaya Pastoral Konseling guru PAK yaitu: Pertama, pengembalaan dan konseling; kedua, membangun sinergitas dengan orangtua; ketiga, membangun koordinasi atau kerjasama antara kedua belah pihak. Dari hasil temuan tersebut maka direkomendasikan pertama bagi guru PAK untuk dapat membimbing dan menolong siswa yang bermasalah di sekolah, mencari tahu akar masalah, mendidik dengan hati sehingga membangun jiwa murid. Kedua, orangtua melakukan kerjasama dengan guru PAK untuk menghilangkan hal-hal yang menghalangi Pertumbuhan Iman siswa dan supaya Pertumbuhan Iman di Sekolah tidak terhambat. Ketiga bagi pihak Sekolah agar dapat memperhatikan dan tidak mengabaikan Pastoral Konseling bagi siswa karena ini hal yang penting bagi spiritual siswa. Abstract This study aims to determine the results of Pastoral Counseling for PAK teachers as an effort to overcome barriers to student faith growth at SMA Negeri 4 Manado. The method used in this research is qualitative and this research was conducted in SMA Negeri 4 Manado. Data were obtained through interviews and documentation studies. From the results of data analysis, there are indications that (1) Pastoral Counseling for PAK teachers is an effort to overcome barriers to student faith growth. (2) The inhibiting factors for the growth of students' faith, namely association, technology, lack of parental attention, and parental stigma. (3) Pastoral Efforts for Counseling PAK teachers, namely: First, pastoral care and counseling; second, building synergy with parents; third, build coordination or cooperation between the two parties. From these findings, it is recommended first for PAK teachers to be able to guide and help students who have problems at school, find out the root of the problem, educate with heart so as to build students' souls. Second, parents cooperate with PAK teachers to eliminate things that hinder students' Faith Growth and so that Faith Growth in Schools is not hampered. Third, for the school to pay attention and not ignore Pastoral Counseling for students because this is important for students' spirituality.
Hans Lura,
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 3, pp 43-57; https://doi.org/10.25278/jitpk.v3i1.529

Abstract:
Abstrak Pandemi COVID-19 memaksa manusia di dunia ini entah secara pribadi, keluarga atau komunitas luas untuk hidup dalam ekstra luar biasa memproteksi kesehatan. Gereja pun dipaksa untuk memberikan pandangan dan kajian teologis tentang pandemi COVID-19. Metode yang digunakan penulisan ini yaitu metode kualitatif dengan menekankan pendekatan analitis argumentatif, reflektif naratif dan deskriptif terhadap fenomena penderitaan dan pandemi COVID-19. Tujuan tulisan ini yaitu memberi kajian reflektif teologis terhadap fenomena penderitaan dan pandemi COVID-19, serta menyatakan tanggung jawab orang percaya dalam rangka mengedukasi masyarakat menghadapi penderitaan dan pandemi COVID-19. Hasil kajian ini yaitu dari perspektif iman Kristen, penderitaan atau bencana memiliki makna transendental. Hal itu terkuak dalam jalan penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus, ketika Dia berkata “sudah selesai” (Yohanes 19:30). Sehingga dengan iman kepada Yesus Kristus orang percaya bisa meretas pengharapan dalam penderitaan atau bencana, termasuk pandemi COVID-19. Meneladani Kristus menjalani penderitaan akan membuat orang bertumbuh lebih kuat dan memiliki spiritualitas yang baru.
Abstract COVID-19 pandemic forced people in this world, whether personally, with family or in the broader community, to live in extraordinary health protection. The Church was forced to provide theological views and studies on the COVID-19 pandemic. This study aimed to provide a reflective theological survey of the phenomenon of suffering and the COVID-19 pandemic and express the responsibility of believers to educate the community in facing misery and the COVID-19 pandemic. The method used in this study was a qualitative method that emphasises an argumentative, narrative and descriptive-analytical approach to the suffering phenomenon and COVID-19 pandemic. From the perspective of the Christian faith, suffering or disaster has transcendental meaning. It was revealed in Jesus' journey of suffering, death, and resurrection when He said, "It is finished" (John 19:30). So that with faith in Jesus Christ, believers can hack hope in suffering or disaster, including the COVID-19 pandemic. Following Christ’s example of suffering will make people grow better, stronger, and have a new spirituality.
Johana Betris Tumbol
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 2, pp 97-123; https://doi.org/10.25278/jitpk.v2i2.609

Abstract:
Masalah dalam penelitian ini adalah pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh generasi Z? Sebab generasi ini adalah generasi native. Ketika mereka lahir, smartphone dan internet menyambut mereka. Generasi ini menghabiskan waktu 7 jam sehari dengan smartphone. Mereka mudah mengakses dan mengkonsumsi informasi dengan sekali klik. Mereka sudah jauh dari gereja. Tujuan penelitian ini untuk menemukan pemimpin yang memiliki kriteria SMART bagi generasi Z. Pemimpin yang bisa menggembalakan mereka sampai mencapai kedewasaan penuh di dalam Kristus dan mengerjakan tujuan Allah dengan sukacita dalam hidup mereka.. Metode yang digunakan adalah metode survey kepada generasi Z yang lahir di antara tahun 1995-2012. Hasil survey ditabulasi dan dianalisis meggunakan analisis deskriptif. Ditemukan bahwa generasi Z, 90-100% menginginkan pemimpin mereka memiliki kriteria: Spirituality, Morality, Active, Responsible dan Transparace (SMART). SMART mewakili kriteria rohani, psikologi, sosiologi, dan ketrampilan seorang pemimpin. The problem in this research is what kind of leader is needed by Generation Z? Because this generation is the native generation. When they were born, smartphones and the internet welcomed them. This generation spends 7 hours a day with smartphones. They easily access and consume information with one click. They were far from the church. The purpose of this study is to find leaders who have SMART criteria for generation Z. Leaders who can shepherd them to reach full maturity in Christ and work on God's purposes with joy in their lives. SMART represents the spiritual criteria, psychology, sociology, and skills of a leader. The method used is a survey method to generation Z who were born between 1995-2012. The survey results were tabulated and analyzed using descriptive analysis. It was found that 90-100% of Generation Z wanted their leaders to have the following criteria: Spirituality, Morality, Active, Responsible and Transparency (SMART).
Fenti Yusana
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 2, pp 140-153; https://doi.org/10.25278/jitpk.v2i2.495

Abstract:
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendapatkan perspektif pernikahan Kristen menurut standar Firman Allah, prinsip utama pernikahan Kristen sehingga artikel ini dapat menjadi jalan yang benar untuk membangun kembali hubungan yang sudah rusak dalam pernikahan Kristen. Panggilan membaharui komitmen dalam pernikahan Kristen adalah panggilan iman untuk memuliakan Tuhan yang memberkati pernikahan Kristen. Teks yang sengaja penulis pilih adalah Kejadian 2:24. Penulis memilihnya dikarenakan di dalamnya terdapat beberapa prinsip pernikahan yang dapat diambil. Metode yang penulis pergunakan adalah metode studi kasus. Hasil penelitian adalah perlu diadakan pastoral pra dan pasca nikah. Kedua pastoral tersebut dilakukan untuk mengingatkan suami dan istri akan prinsip penting dalam Kejadian 2:24. Pertama, melalui pastoral pra dan pasca nikah, suami dan istri mengerti dan diingatkan selalu akan pernikahan yang dikehendaki Allah adalah pernikahan monogami. Kedua, melalui pastoral pra dan pasca nikah, suami dan istri mengerti dan diingatkan bahwa mereka adalah dua pribadi yang telah menjadi satu daging (dwitunggal). Ketiga, melalui pastoral pra dan pasca nikah, suami dan istri dikuatkan untuk menjalani pernikahan sebagai persekutuan hidup. The purpose of writing this article is to get a perspective of Christian marriage according to the standards of God's Word, the main principle of Christian marriage so that this article can be the right way to rebuild the broken relationship in Christian marriage. The call to renew commitments in Christian marriages is a call of faith to glorify God who blesses Christian marriages. The text that the author deliberately chose is Genesis 2:24. The author chose it because in it there are several principles of marriage that can be taken. The method that the author uses is a case study method. The result of the research is that pre-and post-wedding pastoral care is necessary. Both pastorals are done to remind husbands and wives of an important principle in Genesis 2:24. First, through pre-and post-wedding pastoral care, husband and wife understand and are reminded that the marriage that God wants is monogamous marriage. Second, through pre-and post-wedding pastoral care, husband and wife understand and are reminded that they are two persons who have become one flesh (dwitunggal). Third, through pre-and post-wedding pastoral care, husband and wife are strengthened to live marriage as a community of life.
Aldorio Flavius Lele
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 2, pp 79-96; https://doi.org/10.25278/jitpk.v2i2.598

Abstract:
Daniel adalah salah satu tokoh Alkitab yang dikenal karena konsistensinya dalam menaati perintah Tuhan. Salah satunya adalah dengan tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja Nebukadnezar (Dan. 1:8). Ketaatan Daniel ditunjukkan melalui ketetapan hatinya kepada Tuhan yang tidak berubah sekalipun situasi dan kondisi berubah begitu drastis. Menariknya, kata Ibrani syama yang diterjemahkan “taat” dalam kitab Daniel hanya muncul sekali dalam keseluruhan kitab ini (Dan. 9:6). Meskipun demikian, sebagian besar hikayat dalam kitab Daniel memuat tema tentang ketaatan yang begitu nyaring. Hal ini nampak dalam setiap tindakan para tokoh yang mengasihi Allah secara khusus Daniel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membawa pembaca memahami dan mendalami konsep ketaatan dari sudut pandang kitab Daniel melalui pendekatan hermeneulik biblika. Berdasarkan hasil uraian dan analisis penulis tentang ketaatan menurut kitab Daniel, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut: ketaatan menurut kitab Daniel didasarkan pada pengenalan yang benar akan TUHAN, pengakuan iman dan penyangkalan diri. Dengan demikian, maka ketaatan berarti mendengarkan apa yang TUHAN katakan; menjauhi apa yang Ia larang serta melakukan dengan setia apa yang Ia perintahkan. Jadi, ketaatan berbicara tentang sebuah relasi, yakni hubungan seseorang dengan TUHAN dan doa adalah kunci untuk memulai sebuah hubungan pribadi dengan TUHAN. Kata-kata Kunci: Daniel, Ketaatan, Kitab Daniel, Makna, Relasi. Daniel is one of the biblical figures known for his consistency in terms of God's commandments. One of them is not to defile himself with the food of King Nebuchadnezzar (Dan. 1:8). Daniel's obedience was shown by remaining steadfast to God who did not change even though the situation and conditions changed so drastically. Interestingly, the Hebrew word shama which is translated simply “obedient” in Daniel appears once in the entire book (Dan. 9:6). Nevertheless, most of the stories in the book of Daniel contain the big theme of obedience so loud. This is seen in every action of the characters who represent God specifically Daniel. The purpose of this study is to understand and explore the concept of observation from the perspective of the book of Daniel through a biblical hermeneutic approach. Based on the results and the author's analysis of obedience to the book of Daniel, the conclusions obtained are as follows: obedience to the book of Daniel is based on true knowledge of God, confession of faith and self-denial. Thus, obedience means paying attention to what God says; supports what he forbids and faithfully does what he commands. So, the relationship of obedience speaks of a relationship, namely a person with God and prayer is the key to starting a personal relationship with God.
Rudy Budiatmaja
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 2, pp 124-139; https://doi.org/10.25278/jitpk.v2i2.618

Abstract:
Penelitian ini bertujuan melihat seberapa jauh pengaruh perilaku moral dan pendidikan karakter pada keluarga broken home terhadap kenakalan remaja serta memberikan solusi yang terbaik untuk meminimalkan kenakalan remaja untuk generasi berikutnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara singkat dan penelitian ini bersifat kualitatif berupa riset kepustakaan menggunakan metode analisis isi (content analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran orangtua termasuk keluarga yang broken home merupakan hal terpenting dalam mengedukasi masalah remaja. Melalui orangtua, remaja diberikan dasar pendidikan perilaku moral yang baik, dan pendidikan karakter untuk usia remaja sangat diperlukan saat ini. Lingkungan juga turut mendukung dalam menjadikan pribadi remaja yang cukup baik. Lingkungan tersebut bisa berasal dari lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekolah. Peran guru di lingkungan sekolah juga sangat penting dalam memberikan pembentukan perilaku moral yang baik dan pendidikan karakter yang berkepribadian yang baik dalam mencegah kenakalan remaja. Dalam penelitian ini bahwa peran orangtua dan guru atas perilaku moral dan pendidikan karakter masih sangat berpengaruh bagi keluarga broken home terhadap kenakalan remaja. This research aims to see how far the influence of moral behaviour and character education in broken home families is on juvenile delinquency and to provide the best solution to minimize juvenile delinquency for the next generation. The method used in this study is a short interview and this research is qualitative in the form of library research using content analysis methods. The results of this study indicate that the role of parents, including families with broken homes, is the most important thing in educating adolescent problems. Through parents, teenagers are given the basis for good moral behaviour education, and character education for teenagers is very much needed at this time. the environment also supports in making teenagers who are quite good. The environment can come from the neighbourhood and the school environment. The role of the teacher in the school environment is also very important in providing the formation of good moral behaviour and character education with a good personality in preventing juvenile delinquency. In this study, the role of parents and teachers on moral behaviour and character education is still very influential for broken home families against juvenile delinquency.
Meily Lunanta Kouwagam, Lita Patricia Lunanta
Jurnal Ilmu Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 2, pp 154-170; https://doi.org/10.25278/jitpk.v2i2.622

Abstract:
Anak adalah karunia yang paling berharga bagi sebuah keluarga sehingga jika anak itu mengalami kelainan dalam berperilaku, orang tua perlu mencari solusi untuk mengatasi. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan, mengungkapkan, dan mencari solusi penanganan anak yang mengalami Oppositional Defiant Disorder (ODD). Pendekatan eksplorasi digunakan dengan metode wawancara dan dokumentasi untuk mengumpulkan data agar mendukung analisis holistik dalam rangka mencapai tujuan artikel ini. Data yang dikumpulkan terdiri atas dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari seorang anak yang mengalami gangguan ODD dan dilengkapi oleh data dari orang tua, pakar yang terkait topik ini. Sedangkan data sekunder dari hasil kajian sebelumnya terhadap lima kasus. Pola perilaku mereka menunjukkan perlawanan kepada otoritas baik orang tua maupun guru di sekolah. Kelima kasus dari data dokumentasi menunjukkan perilaku yang tidak menyukai peraturan, perkembangan emosional yang tidak stabil, dan pengendalian diri yang buruk. Solusi penanganan anak yang mengalami gangguan ini adalah memberikan pelatihan kepada orang tua, orang tua membuat aturan yang diterapkan secara konsisten, orang tua memberi penghargaan, dan melibatkan seluruh anggota keluarga dengan perspektif yang sama. Artikel ini merupakan studi kasus yang tidak digeneralisasi melainkan berusaha memberikan penggambaran yang holistic terhadap kasus yang ada. Children are the most precious gift to a family. Therefore, if there is a problem with a child, parents would want to find a way to treat them. This article aimed to describe, explore and find solutions for children with oppositional defiant disorder (ODD). Interviews and documentation are used to get a holistic view of the problem. Data that are collected were primary data and secondary data. The primary data was from one child with oppositional defiant disorder and his parents along with his psychological records. Secondary data are previous cases about similar struggles in children. The result showed a pattern of oppositional behaviour to authority, to parents and teachers at school. The secondary case also showed a pattern of defiant behaviour, unstable emotional development, and low self-control. The treatment plan for oppositional defiant disorder cases included giving training for parents so they can apply consistent rules while giving positive regard and involving all family members to work in the same framework. This article is a study case that was not meant to be generalized but aimed to describe the case from various points of view, theologically and psychologically.
Back to Top Top