Jurnal Akuatiklestari

Journal Information
EISSN : 2598-8204
Current Publisher: Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (10.31629)
Total articles ≅ 0
Filter:

Articles in this journal

Khairul Hafsar
Jurnal Akuatiklestari, Volume 1, pp 8-12; doi:10.31629/.v1i2.2288

Abstract:
Tanjungpinang memiliki ekosistem mangrove seluas kurang lebih 1.300 Ha, namun 100 Ha diantaranya rusak akibat penebangan dan penimbunan untuk pemukiman dan industri yang menyebabkan banjir disejumlah wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi ekosistem mangrove di Perairan Sei Carang, Kota Tanjungpinang. Kondisi mangrove dilihat dengan mengukur kerapatan jenis, kerapatan relatif jenis, frekuensi jenis, frekuensi relatif jenis, dan indeks keanekaragaman. Jenis – jenis mangrove yang tumbuh di Perairan Sei Carang terdiri dari Rhizophora sp., Bruguiera sp., Avicennia sp., dan Sonneratia sp. Kawasan ini didominasi oleh jenis mangrove Rhizophora sp, yang merupakan jenis mangrove yang paling banyak ditemui. Kerapatan jenis mangrove di Perairan Sei Carang yang paling tinggi sampai dengan yang paling rendah adalah sebagai berikut yaitu Rhyzophora sp. 3000 individu/Ha, Bruguiera sp. 983 individu/Ha, Avicennia sp. 283 individu/Ha dan Sonneratia sp. 133 individu/Ha. Jenis Rhyzophora sp. merupakan jenis mangrove yang paling tinggi tingkat kerapatannya dan Sonneratia sp. merupakan jenis mangrove yang paling rendah tingkat kerapatan jenisnya. Rata-rata kerapatan jenis mangrove di Perairan Sei Carang sebesar 1100 individu/Ha yang menunjukkan bahwa kerapatan jenis masuk ke dalam kriteria sedang dan hal ini menunjukkan kondisi mangrove masih dalam keadaan baik. tingkat keanekaragaman jenis mangrove yaitu 0,8786 (H
Mulyadi, Tri Apriadi, Dedy Kurniawan
Jurnal Akuatiklestari, Volume 1, pp 24-31; doi:10.31629/.v1i2.2293

Abstract:
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran fragmen yang berbeda terhadap pertumbuhan karang Acropora millepora dengan teknik transplantasi untuk mendapatkan ukuran fragmen optimal. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan November 2017 sampai Februari tahun 2018 di Perairan Banyan Tree Lagoi Kabupaten Bintan. Media tranplantasi yang digunakan adalah balok persegi panjang dalam bentuk bagan persegi empat. Ukuran Fragmen karang Acropora millepora diberi 5 perlakuan yaitu 2 cm, 4 cm, 6 cm, 8 cm, 10 cm, dengan 5 kali pengulangan. Pertumbuhan mutlak pada fragmen 2 cm, 4 cm, 6 cm, 8 cm dan 10 cm sebesar 0,63 cm, 0,93 cm, 1,47cm, 2,10 cm dan 1,10 cm. Laju pertumbuhan pada fragmen 2 cm, 4 cm, 6 cm, 8 cm, dan 10 cm sebesar 0,21cm, 0,31cm, 0,49 cm, 0,70 cm, 0,36 cm. Analisis data dengan uji One-Way ANOVA menunjukkan pertumbuhan mutlak tinggi dan laju pertumbuhan tinggi karang Acropora millepora terdapat pengaruh yang nyata terhadap perlakuan ukuran fragmen yang berbeda (p
Ilham Haryoko, Winny Retna Melani, Tri Apriadi
Jurnal Akuatiklestari, Volume 1, pp 1-7; doi:10.31629/.v1i2.2287

Abstract:
Penelitian mengenai eksistensi Bacillariophyceae dan Chlorophyceae dilakukan di Perairan Sei Timun, Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Eksistensi Bacillariophyceae dan Chlorophyceae di Perairan Sei Timun. Penelitian ini dilakukan dengan metode Random Sampling sebanyak 30 titik pengamatan di Perairan Sei Timun. Analisis data fitoplankton menggunakan indeks similaritas Bray-Curtis. Analisis kualitas air menggunakan indeks similaritas Canberra. Hasil penelitian menunjukan kelimpahan rata-rata fitoplantkon di Perairan Sei Timun mencapai 21299,4 sel/L. Kelimpahan rata-rata tertinggi pada kelas Bacillariophyceae yaitu genera Pleurosigma sp. sebesar 1701,4 sel/L dan kelimpahan rata-rata terendah yaitu pada genera Rhizoselenia sp. sebesar 799,1 sel/L, sedangkan kelimpahan rata-rata tertinggi pada kelas Chlorophyceae yaitu pada genera Mougeotia sp. sebesar 4276,6 sel/L dan kelimpahan rata-rata terendah yaitu pada genera Micrasterias sp. sebesar 302,2 sel/L. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keberadaan fitoplankton kelas Bacillariophyceae sebanyak 4 genera dan Chlorophyceae sebanyak 8 genera di Perairan Sei Timun.
Siti Hidayani, Tri Apriadi, Dedy Kurniawan
Jurnal Akuatiklestari, Volume 1, pp 32-37; doi:10.31629/.v1i2.2294

Abstract:
Penelitian mengenai hubungan Copepoda sebagai indikator keberadaan Hippocampus sp. telah dilakukan di Perairan Desa Sebong Pereh. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan keberadaan Copepoda sebagai indikator keberadaan Hippocampus sp. di Perairan Desa Sebong Pereh. Penelitian ini dilakukan dengan metode random sampling sebanyak 31 titik menggunakan transek 5 x 5 m untuk kepadatan Hippocampus sp. dan untuk mengambil sampel Copepoda menggunakan planktonnet secara statis sebanyak 100 L. Hasil penelitian ditemukan tiga spesies Hippocampus sp. yaitu dengan nilai kepadatan H. comes 670 ind/Ha, H. kuda 530 ind/Ha, dan H. mohnikei 400 ind/Ha. Kelimpahan Copepoda ditemukan 9 spesies dari 3 ordo yaitu dengan kelimpahan pada Naupli sp. 3380 ind/m3, Acartia sp. 1450 ind/m3, Acrocalanus sp. 480 ind/m3, Lucicutia sp. 6100 ind/m3, Calanus sp. 1450 ind/m3, Oithona sp. 680 ind/m3, Tisbe sp. 4450 ind/m3, dan Microsetella sp. 870 ind/m3. Berdasarkan analisis PCA nilai kelimpahan Copepoda tidak memiliki hubungan terhadap kepadatan kuda laut di Perairan Desa Sebong Pereh. Hal ini menunjukkan Copepoda tidak bisa dijadikan sebenuhnya sebagai indikator keberadaan kuda laut di Perairan Desa Sebong Pereh.
Nurul Fitri, Fitria Ulfah, Tri Apriadi
Jurnal Akuatiklestari, Volume 1, pp 13-23; doi:10.31629/.v1i2.2289

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekologis dan ekonomis kerang bulu (Anadara antiquata) dan potensi ekonomis pemanfaatan Kerang bulu (A. antiquata) di Desa Sebong Pereh Bintan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2018. Metode yang digunakan untuk mengambil sampel kerang bulu adalah Random sampling sebanyak 30 titik diperairan Desa Sebong Pereh Bintan. Teknik wawancara yang digunakan adalah Snowball sampling (bola salju), dimana responden yang dibutuhkan untuk peneliti pemula adalah minimal 30 orang. Pemanfaatan ekonomis Kerang bulu (A. antiquata) menggunakan rumus CPUE dan menghitung nilai manfaat langsung Kerang bulu (A. antiquata) di desa Sebong Pereh Bintan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kelimpahan Kerang bulu (A. antiquata) di desa Sebong Pereh berkisar 5700 ind/ha dan kelimpahan Kerang bulu (A. antiquata) di desa Sebong Pereh Bintan tergolong sedang. Kondisi perairan di desa Sebong Pereh masih memenuhi baku mutu sehingga mendukung kehidupan Kerang bulu (A. antiquata). Total rata-rata hasil tangkapan berkisar 509,75 kg/minggu dengan rata-rata 51 trip/minggu. Pendapatan rata-rata nelayan Kerang bulu (A. antiquata) berkisar Rp. 339.833,-/bulan atau jika diakumulasikan berkisar Rp. 4.078.000,-/tahun. Penelitian lanjutan diperlukan terkait dengan analisis pertumbuhan Kerang bulu dengan data panjang berat, kajian stok kerang bulu (A. antiquata), dan pemanfaatan Kerang bulu (A. antiquata) pada saat musim teduh.
Dedy Kurniawan Kurniawan
Jurnal Akuatiklestari, Volume 1, pp 7-14; doi:10.31629/akuatiklestari.v1i1.274

Back to Top Top