Jurnal Akuatiklestari

Journal Information
EISSN : 2598-8204
Published by: Jurnal Akuatiklestari (10.31629)
Total articles ≅ 44
Filter:

Latest articles in this journal

Dwi Cahya Oktaviyani, , Jumsurizal Jumsurizal
Published: 30 November 2021
Jurnal Akuatiklestari, Volume 5; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v5i1.3079

Abstract:
Tujuan penelitian adalah mengetahui kepadatan, pola sebaran dan struktur komunitas teripang di Perairan Desa Penaga Dan Desa Berakit Kabupaten Bintan Kepulauan Riau. Penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling. Penenentuan area dengan metode Belt Transect dan penangkapan menggunakan metode Swept Area. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teripang yang ditemukan diperairan Desa Penaga dan berakit terdapat 7 jenis yaitu H.impatiens, H.vagabunda, H. scabra, A.miliaris, H.atra, H.coluber, Phyllophorus sp. Kepadatan jenis tertinggi di perairan Desa Penaga berada pada spesies Phyllophorus sp. dengan nilai kepadan yakni 714 ind/ha sedangkan pada perairan Desa Berakit H.coluber dengan nilai kepadan yakni 647 ind/ha. Kondisis perairan di Desa Penaga dan Desa Berakit masih memenuhi baku mutu sehingga mendukung kehidupan Teripang. Nilai indeks Keanekaragaman pada Desa Penaga diperoleh nilai 0.99, sedangkan di Desa Berakit indeks keanekaragaman diperoleh nilai 1.57. Keseragaman Teripang di perairan Desa Penaga diperoleh nilai 0.71 dan Desa Berakit diperoleh nilai 0.97. Dominansi Desa Penaga diperoleh nilai 0.299 dan Desa Berakit diperoleh nilai 0.218. menunjukkan tidak ada spesies yang mendominansi. pola sebaran Desa Penaga dengan nilai 1.714 dan Desa Berakit dengan nilai 1.145, kedua lokasi memiliki pola sebaran mengelompok.
Jamaludin Jamaludin,
Published: 30 November 2021
Jurnal Akuatiklestari, Volume 5; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v5i1.2513

Abstract:
Mugilidae merupakan jenis ikan belanak yang dominan di beberapa perairan Indonesia dan larvanya banyak dijumpai di perairan pantai dekat muara-muara sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang dan bobot ikan betina dan jantan di Perairan Sei Ladi Kelurahan Kampung Bugis Kota Tanjungpinang. Metode Penelitian dilakukan melalui survei lapang dan pengumpulan data primer yang dilakukan dengan cara mengambil sampel ikan Belanak, data yang diperoleh berupa data panjang total dan bobot Ikan Belanak. Hasil penelitian pertumbuhan panjang dan bobot pada ikan belanak di perairan Sei Ladi memiliki nilai b=0,0032 pada ikan belanak jantan yang berarti memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif karena lebih kecil dari 3 (b<3), dan pada ikan betina di peroleh nilai b=0,0621 yang menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negatif karena nilai b nya kurang dari 3 (b<3).
Edo Edo,
Published: 30 November 2021
Jurnal Akuatiklestari, Volume 5; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v5i1.2514

Abstract:
Ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang secara sistematik hidup di air dan termasuk pada Filum Chordata dengan karakteristik memiliki insang yang berfungsi untuk mengambil oksigen terlarut dari air dan sirip digunakan untuk berenang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas ikan di perairan Sei Ladi Kelurahan Kampung Bugis Kecamatan Tanjungpinang Kota Provinsi Kepulauan Riau. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lokasi, wawancara dan identifikasi ikan. Data yang di ambil dalam praktik lapang ini adalah data primer dan sekunder. Hasil penelitian yang diperoleh dengan nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh sebesar 1,94, maka keanekaragaman ikan di Sei Ladi ini termasuk dalam kategori sedang, nilai indeks keseragaman (E) spesies ikan di perairan Sei Ladi sebesar 0,88 mendekati 1 yang berarti masing-masing spesies relatif sama, nilai indeks dominansi (C) spesies ikan di perairan Sei Ladi sebesar 0,17 yang berarti tidak terdapat suatu spesies ikan yang mendominansi di perairan tersebut.
Jumiah Jumiah, , Tri Apriadi
Published: 30 November 2021
Jurnal Akuatiklestari, Volume 5; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v5i1.3674

Abstract:
Dusun senempek Desa Limbung berada di Kecamatan Lingga Utara Kabupaten Lingga. Dusun Senempek memiliki kekayaan sumberdaya alam yang dikatakan cukup banyak, seperti: ikan, kepiting, cumi-cumi, gamat (teripang), siput gonggong. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui rasio panjang usus siput gonggong, jenis makan dan kebiasaan makan siput gonggong, dan kondisi fisika kimia perairan yang memengaruhi keberadaan siput gonggong. Metode yang dilakukan adalah porvosive sampling sebanyak 3 stasiun. Parameter yang diukur adalah parameter fisika kimia perairan. Analisis data yang dilakukan yaitu rasio panjang usus dan panjang total siput gonggong, indeks bagian terbesar, indeks viseral somatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rasio panjang usus dan panjang total siput gonggong masing-masing sebesar 1,35, 1,06, 1,13 dan termasuk golongan omnivora. Jenis makanan siput gonggong yang ditemukan adalah detritus, mikroalga kelas Bacillariophyta, Cyanobacteria, Chlorophyta, Dinoflagellata, Cilliophora, Radiolaria, Stramenophytes, dan Foraminifera dari kelas Rotalidia. Jenis makanan yang paling banyak ditemukan didalam usus siput gonggong(Laevistrombus turturella) adalah Bacillariophyta dengan nilai indeks terbesar 54-67% sebagai makanan utama. Nilai VSI sebesar 34,75-58,54% bersifat continous feeder.
Baliyan Baliyan, ,
Published: 30 November 2021
Jurnal Akuatiklestari, Volume 5; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v5i1.3103

Abstract:
Desa Teluk Bakau, Kabupaten Bintan memiliki komunitas mangrove yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis mangrove, tutupan kanopi mangrove, dan tingkat kerusakan mangrove di Pulau Beralas Bakau. Pengamatan mangrove dilakukan dengan menggunakan metode line transek, dengan luasan area pengamatan 10 x 10 m. Hasil penelitian ditemukan 4 (empat) species mengrove yakni Rhizopora apiculata, R mucronata, Bruguiera gymnorrizha, Xylocarpus granatum. Kondisi mangrove berdasarkan kerapatan dan tutupan kanopi tergolong sedang, dengan kriteria mangrove tergolong baik. Parameter fisika – kimia perairan meliputi; suhu, Kecepatan Arus, Substrat, Salinitas, pH, dan DO masih dalam kisaran normal.
Published: 14 November 2021
Jurnal Akuatiklestari, Volume 5; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v5i1.3075

Abstract:
Siput Planaxis sulcatus merupakan spesies gastropoda yang umumnya ditemukan di daerah pasang surut (intertidal) dan perairan pantai berbatu. Spesies ini termasuk hewan herbivora yang memakan mikroalga yang tumbuh di substrat tempat hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepadatan dan pola sebaran siput Planaxis sulcatus. Penentuan titik sampling menggunakan metode random sampling yang terdiri dari 30 titik. Pengambilan data siput Planaxis sulcatus menggunakan transek kuadran 1x1 m. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kepadatan siput Planaxis sulcatus sebesar 147,37 ind/m2 dengan pola sebaran secara umum yaitu mengelompok.
Eflin Krismasia Lubis, Theresia Yesika Sinaga,
Jurnal Akuatiklestari, Volume 4, pp 47-57; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v4i2.2536

Abstract:
Ikan merupakan sumber protein hewani yang dibutuhkan oleh manusia disamping daging. Jenis ikan yang pada umumnya ditangkap untuk dijadikan konsumsi baik dalam bentuk segar maupun olahan adalah jenis ikan pelagis dan ikan demersal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis jenis ikan demersal dan ikan pelagis yang didaratkan di PPI Kijang. Metode penelitian dilakukan melalui survey lapang dan pengumpulan data primer dan sekunder yang didapatkan melalui nelayan dan petugas PPI Kijang. Hasil penelitian terdapat 7 jenis ikan demersal, diantaranya : Ikan delah (Caesio teres), Ikan kurisi (Nemipterus nemurus), Ikan pari (Neotrygon kuhlii), Ikan manyung (Netuma thalassina), Ikan lebam (Siganus guttatus), Ikan jebung (Abalistes stellaris), dan Ikan sebelah (Psettodes erumei). Untuk ikan pelagis terdapat untuk 7 jenis, diantaranya : Ikan Selar (Atule mate), Ikan Kuwe (Gnathanodon speciosus), Ikan Bulat (Carangoides plagiotaenia), Ikan Tongkol (Euthynnus affinis), Ikan Tenggiri (Scomberomorus comerson),Ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta), dan Ikan Selikur (Scomber australasicus).
Desi Safitri, Susiana Susiana, Ani Suryanti
Jurnal Akuatiklestari, Volume 4, pp 84-90; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v4i2.2488

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis makanan, dan rasio panjang usus ikan sembilang pada perairan Kota Tanjungpinang yang meliputi index of preponderance dan indeks kepenuhan lambung. Lokasi sampling ditentukan berdasarkan metode purposive sampling dengan menetapkan 3 stasiun pengamatan dan 3 kali pengulangan yang dilaksanakan pada November 2018 sampai Maret 2019. Analisis data yang dilakukan yaitu rasio panjang usus dengan panjang total, indeks bagian terbesar, dan indeks kepenuhan lambung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rasio panjang usus dan panjang total masing-masing pada sembilang jantan dan betina di ketiga stasiun sebesar 1,24;1,26:1,30. Index of preponderance berkisar 34,4 – 50,2% pakan utama pada umumnya terdiri dari kelompok, kepiting, kerang, udang dan siput sehingga dapat disimpulkan ikan sembilang bersifat karnivora. Makanan pelengkap ikan sembilang dijumpai seperti detritus dan juga dari spesies Fitoplankton (Mikroalgae) yaitu Acinastrum sp. Chlorella sp. Pediastrum sp. Characium sp. Anabaena sp. Thalasionema sp. Oscillatoria sp. Ceratium sp. Peridinium sp. Navicula sp. Gyrosigma sp.
Kariska Kristina, , Aditya Hikmat Nugraha
Jurnal Akuatiklestari, Volume 4, pp 58-70; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v4i2.2468

Abstract:
Penelitian mengenai produksi serasah dan laju dekomposisi Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata telah dilakukan di Perairan Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tutupan jenis T. hemprichii dan C. rotundata, mengetahui produksi jenis T. hemprichii dan C. rotundata dan mengetahui laju dekomposisi lamun jenis T. hemprichii dan C. rotundata. Penelitian ini di lakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian tutupan lamun di Perairan Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan stasiun satu jenis T. hemprichii dengan tutupan lamun perjenis sebesar 8,51%, sedangkan C. rotundata 8,50%. Jika dilihat dari nilai total tutupan lamun sebesar 39,4% dikategorikan sedang, stasiun dua tutupan lamun perjenis T. hemprichii berkisar 6,41%, sedangakan C. rotundata berkisar 5,65% dan total tutupan sebesar 29,49%. Produksi serasah di Perairan Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan pada stasiun satu T. hemprichii dan C. rotundata mengalami kenaikan dibandingkan pada stasiun dua. Laju dekomposisi pada stasiun dua T. hemprichii dan C. rotundata mengalami laju dekomposisi lebih cepat dibandingkan stasiun satu.
Fidayat Fidayat, , Adiya Hikmat Nugraha
Jurnal Akuatiklestari, Volume 4, pp 71-83; https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v4i2.2469

Abstract:
Secara ekologis ekosistem padang lamun memiliki peranan penting pada daerah pesisir, antara lain sebagai produsen primer pada perairan dangkal, daerah pembesaran, pemijahan dan juga merupakan sumber makanan penting bagi beberapa jenis organisme. Salah satu biota asosiatif di ekosistem lamun adalah spons. Spons adalah hewan berpori yang hidup dengan cara menyaring makanannya dari air laut dan bersifat bentik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerapatan lamun, mengetahui jenis kepadatan spons, mengetahui karakter penciri lingkungan kepadatan spons, kerapatan lamun dan parameter lingkungan perairan. Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian ditemukan 6 jenis spons Cinachyra sp., Raspailia arbuscula, Dendrilla antarctica, Petrosia sp., Tetrapocillon Novaezealandiae, Cinachyrella sp. Nilai kerapatan lamun berkisar antara 181 - 312 ind/m2 dengan kategori pada setiap stasiun di kategorikan sangat rapat. Kepadatan spons sebesar 5,2 ind/m2 6 ind/m2. Indeks keanekaragaman spons berkisar antara 0 0,4, pada semua stasiun dikategorikan rendah. Hasil analis komponen utama atau PCA menunjukan stasiun satu parameter lingkungan perairan tidak memiliki kedekatan dengan kerapatan lamun dan kepadatan spons. Sedangkan pada stasiun dua kepadatan spons memiliki kedekatan dengan parameter lingkungan perairan seperti pH dan suhu, pada stasiun tiga kerapatan lamun memiliki kedekatan dengan parameter lingkungan perairan seperti salinitas dan kecerahan.
Back to Top Top