Jurnal Rekayasa Mesin

Journal Information
ISSN / EISSN : 1411-6863 / 2540-7678
Published by: Politeknik Negeri Semarang (10.32497)
Total articles ≅ 119
Filter:

Latest articles in this journal

Carli Carli, Hartono Hartono, Daryadi Daryadi, Sunarto Sunarto, Ali Sai'In
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 133-138; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3484

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dalam pembuatan alat bantu untuk memotong strip plat yang menggunakan mesin tekuk hidrolik, dimana pemotongan pelat yang tebal biasanya menggunakan mesin potong hidrolik “Promecam” atau dengan cara dipotong manual dengan gergaji, tentunya hal itu tidak efisien karena memerlukan waktu yang lebih lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan solusi berupa alat bantu untuk proses pemotongan dengan memanfaatkan sarana mesin tekuk hidrolik yang ada di laboratorium pemesinan. Mesin tekuk hidrolik memberi banyak kemungkinan untuk membuat pekerjaan inovasi yang sangat sederhana. Metode penelitian eksperimental yang dilakukan yaitu, melakukan perhitungan awal sesuai dengan data yang ada pada mesin tekuk hidrolik maupun mesin potong hidrolik, lalu menyiapkan peralatan yang digunakan untuk membuat alat bantu pemotong strip plat. Hasil penelitian eksperimental ini adalah asesoris mesin tekuk hidrolik berupa alat potong strip plat untuk mendukung mempersiapkan benda kerja pengelasan bagi mahasiswa jurusan teknik mesin Polines,
Agus Slamet, Febrianto Suryo Saputro, Wahyu Isti Nugroho, Zaenal Abidin
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 179-188; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3461

Abstract:
Proses pengujian kebocoran komponen gate valve di workshop PT Pertamina Refinery Unit IV Cilacap menggunakan hydrotest. Pengujian hydrotest dilakukan secara konvensional memerlukan waktu rata-rata selama 22,15 menit. Salah satu penyebabnya adalah proses hydrotest pada gate valve adanya pemasagan blind flange yang harus diikat dengan mur dan baut berjumlah 16 pasang. Tujuan penelitian ini membuat rancang bangun mesin uji katup horizontal guna menurunkan waktu proses hydrotest pada gate valve ukuran 3-8” kelas 150 minimal 25% dari metode konvesional. Menguji unjuk kerja rancang bangun alat uji katup horizontal untuk mengetahui perbedaan waktu proses proses hydrotest untuk gate valve kelas 150 ukuran”3-8”. Metode penelitian ini melalui perancangan dan pembuatan mesin melalui berdasarkan tinjaun pustaka, pengujian unjuk kerja mesin dengan membandingkan metode konvenesional. Rekayasa Mesin Uji Katup Horisontal Guna Mengurangi Waktu Proses Hydrotest Pada Gate Valve Ukuran 3” – 8” Kelas 150 berfungsi mampu mengurangi waktu proses hydrotest dengan dimensi 800 mm x 750 mm x 1015 mm dengan tekanan maksimal 30 bar. Terjadi penurunan waktu proses hydrotest antara metode konvensional dan menggunakan alat uji katub horizontal pada pengujian gate valve ukuran 5”-8” dengan penurunan waktu 25,4 sampai 39,3 %. Mempercepat waktu pengujian rata-rata yang dibutuhkan proses hydrotest dengan menggunakan mesin uji katup horizontal dibandingkan dengan metode konvensional 27,41%
Rafael Prakosa N, Paulus Wisnu Anggoro, Antonius Tony Yuniarto
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 21-30; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.2897

Abstract:
Industri kreatif adalah industri yang menggunakan kreativitas, keterampilan untuk menciptakan lapangan kerja dengan memanfaatkan daya kreatif dan daya cipta individu. Perkembangan industri kreatif di Indonesia cukup pesat dan kini banyak bermunculan industri kreatif baru. UMKM Putri 21 merupakan salah satu contoh industri kreatif yang membuat produk makanan berupa mie instan dari tepung Mocaf (Modified Cassava). Beberapa permasalahan efisiensi produksi masih terjadi pada UMKM Putri 21, salah satu contohnya adalah melonggarnya Foundational Bolt pada mesin Spinner akibat getaran yang ditimbulkan oleh motor listrik. Penelitian ini membahas penggunaan Finite Element Analysis (FEA) khususnya simulasi Natural Frequency dan Harmonic Response sebagai alat bantu untuk mendesain ulang mesin Spinner sehingga dapat mengurangi resiko Melonggarnya Foundational Bolt mesin Spinner. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan desain mesin yang paling optimal bagi UMKM dengan menggunakan metode FEA. Desain awal mesin UMKM Spinner akan dianalisa terlebih dahulu dengan simulasi Natural Frequency dan Harmonic Response menggunakan Software SOLIDWORK 2018, kemudian hasil simulasi tersebut akan dijadikan dasar untuk Redesign sehingga didapatkan beberapa alternatif. Beberapa penelitian sebelumnya telah melakukan finite element analysis pada mesin spinner akan tetapi simulasi yang dilakukan adalah simulasi statis, peneliti belum menemukan simulasi dinamis khususnya getaran pada mesin spinner. Metode simulasi dinamis peneliti tambahkan dengan mengambil referensi dari mesin lain yang memiliki permasalahan getaran lain. Hasil redesain mesin akan disimulasikan kembali untuk memastikan alternatif tersebut memiliki performa yang lebih baik dari desain awal dan menemukan alternatif desain yang paling optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alternatif desain mesin Spinner dengan rangka bawah Hollow Profile Steel merupakan alternatif desain yang paling optimal dengan nilai Natural Frequency 167 Hz dan Displacement terbesar sebesar 0,0025 mm. Desain dikatakan paling optimal karena berhasil mengubah nilai Displacement menjadi 20 kali lebih kecil dari desain awal dan menggeser nilai Natural Frequency menjauhi nilai Working Frequency yaitu 0-120 Hz.
Boni Sena, Bobie Suhendra, Fauzun Fauzun
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 121-132; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3201

Abstract:
Distribusi transfer kalor yang seragam pada bagian moulding dari mesin rubber press sangat penting untuk menghasilkan hasil moulded produk yang berkualitas terbaik. Pada kenyataannya, transfer kalor pada moulding dari mesin rubber press tidak terdistribusi secara seragam. Oleh karena itu, transfer kalor pada moulding dari mesin perlu dievaluasi. Sebagian besar penelitian sebelumnya hanya mempertimbangkan transfer kalor secara konduksi pada moulding sementara itu tidak ada studi yang menginvestigasi transfer kalor secara konvensi dan radiasi yang hampir terjadi pada seluruh tipe mesin rubber press dengan tipe moulding yang terbuka. Metode elemen hingga digunakan untuk menganalisis distribusi temperatur berdasarkan transfer kalor secara konduksi dan metode analitik dipakai untuk menghitung transfer kalor secara radiasi dan konveksi pada moulding dari mesin rubber press. Hasil dari metode elemen hingga menunjukkan bahwa temperatur tinggi hanya terjadi pada bagian boundary sementara bagian pusat dari moulding menunjukkan temperatur yang lebih rendah. Temperatur pada bagian boundary bervariasi sebesar 124.3 oC, 124.4 oC, 124.5 oC, 124.8, 125.3 oC, 126.5 oC, 129.2 oC, dan 134.8 oC. Transfer kalor secara konveksi dan radiasi pada moulding sebesar 13.3 kW dan 68.23 kW. Perbedaan antara pengukuran langsung dan simulasi menggunakan metode elemen hingga diakibatkan adanya asumsi steady state pada model simulasi. Penelitian selanjutnya sebaiknya mempertimbangkan kondisi transient pada transfer kalor secara konduksi dan view factor yang lebih bervariasi pada transfer kalor secara konveksi dan radiasi.
Arka Dwinanda Soewono, Widharto Widharto, Marten Darmawan
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 75-84; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3041

Abstract:
Konsumsi energi listrik di dalam gedung perkantoran dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasional dapat berjalan dengan normal. Kebutuhan energi listrik untuk bangunan harus dioptimalkan berdasarkan parameter Intensitas Konsumsi Energi (IKE). Kebutuhan energi listrik paling besar pada gedung perkantoran pada umumnya dipakai oleh sistem tata udara sehingga diperlukan perhatian khusus dalam hal optimalisasi pemakaian energi listrik pada komponen sistem pendingin. Mempertimbangkan bahwa hasil perhitungan IKE gedung Wisma Slipi termasuk dalam kategori boros, penelitian in bertujuan untuk melakukan audit energi sistem pendingin udara sentral pada gedung tersebut. Hasil perhitungan Intensitas Konsumsi Energi bangunan adalah 19,11, yang dapat dikategorikan sebagai boros. Hasil audit sistem tata udara menemukan bahwa chiller tidak lagi beroperasi dalam kondisi optimal dengan COP berkisar antara 2,5 dan 3,0 dikarenakan umur peralatan yang sudah 28 tahun. Demikian pula Air Handling Unit and Chilled Water Pump juga menunjukkan tanda-tanda penurunan kinerja karena keausan. Oleh karena itu, audit energi merekomendasikan chiller untuk diganti dengan model yang lebih baru karena menggunakan persentase energi tertinggi. Berdasarkan hasil analisis, peluang penghematan energi dari penggantian unit chiller adalah sebesar 30,6% dengan Break Even Point (BEP) sekitar 4,8 tahun.
Deddy Chrismianto, Aldy Sabat Tindaon, Eko Sasmito Hadi
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 67-74; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3023

Abstract:
Kapal pengawas perikanan memiliki jumlah armada yang kurang dalam melakukan tugasnya untuk keberlangsungan kedaulatan wilayah perairan Indonesia yang aman dari para pelaku Illegal fishing. Penggunaan tipe lambung Small Waterplane Area Twin Hull (SWATH) dipilih karena tipe kapal ini memiliki luasan bidang garis air yang minimum sehingga memiliki tahanan kapal yang rendah dan memaksimalkan stabilitas kapal dengan kecepatan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kapal pengawas perikanan dengan tipe lambung SWATH. Metode perancangan yang digunakan adalah menggunakan kapal pembanding dan melakukan analisa performa kapal dari segi hambatan kapal, serta analisis pengaruh variasi komponen lambung SWATH terhadap nilai hambatan. Hasil desain kapal pengawas perikanan didapatkan ukuran utama kapal dan dimensi lambung SWATH yaitu LOA 33,6 m, LPP 26 m, lebar 7,4 m, sarat 2 m, tinggi 7 m, panjang gondola 29,7 m, jarak antar gondola 5,4 m, panjang nose 3 m, tinggi nose 1,1 m dan kecepatan 24 knot. Penerapan lambung SWATH dapat mengurangi nilai hambatan kapal sebesar 17,34%. Untuk analisa olahgerak kapal dan stabilitas kapal didapatkan bahwa kapal SWATH memiliki hasil yang baik dan memenuhi kriteria yang di persyaratkan.
Sunarto Sunarto, Hartono Hartono, Carli Carli, Daryadi Daryadi, Bambang Tjahjono, Trio Setiyawan
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 139-150; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3496

Abstract:
The furniture industry is an industry that processes raw materials or semi-finished materials from wood, rattan and other natural raw materials into finished products that are ready for use and have higher added value. There are many furniture industries spread across Indonesia, with quite large centers located in Jepara, Sukoharjo, Surakarta, Klaten, and others. Along with the development of industrial technology, making work becomes more efficient and easier. Therefore, it is necessary to apply technology in the industrial world in Indonesia, especially in the furniture industry. The current technology commonly applied to the furniture industry is the CNC milling machine. The use of this CNC machine aims to solve problems in the production of wood carving crafts or furniture, such as mass products that cannot be the same and product processing time that cannot be ascertained. Besides, the use of this CNC machine can reduce cycle times and increase the work efficiency of the furniture industry. Based on this information, we had the idea to make this CNC milling machine to support the progress of the Indonesian furniture industry. During the manufacturing of this CNC machine, we carried out theoretical research and field surveys. The research stages we carried out were identification of needs, problem formulation, synthesis, analysis, evaluation and presentation. Based on these results, it was found that the workable raw material had a maximum dimension of 40 × 40 [cm], a maximum feed rate of 192 [mm/min], a maximum spindle rotating speed of 12,000 [rpm] and a cutting velocity of 75.4 [m/min].
Mochamad Muzaki, Imam Mashudi, Muhammad Fakhruddin, Abdul Muid Anwar, Rake Aji Nugraha Paranata, Gading Wiganata
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 59-66; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3020

Abstract:
Permasalahan mendasar dari proses anodizing aluminium adalah hilangnya sifat konduktivitas listrik dari aluminium. Artinya aluminium akan bersifat isolatif, hal ini akan mengakibatkan terjadinya listrik statis dari aluminium untuk penggunaan aplikasi tertentu seperti pesawat terbang, komponen otomotif, ataupun komponen elektronik. Dalam penelitian ini diharapkan mendapatkan lapisan oksida dengan nilai isolator yang rendah. Dalam penelitian ini dilakukan investigasi parameter proses anodizing, dalam hal ini waktu proses dan beda potensial, untuk mendapat ketebalan lapisan oksida yang stabil, namun sifat isolatifnya rendah. Waktu proses yang dipilih adalah 25, 30, 35, 40, dan 45 menit. Sedangkan beda potensial yang dipilih adalah 7, 8, 9, 10, dan 11 Volt. Aluminium 6061 hasil anodizing dengan parameter proses tersebut selanjutnya diuji sifat isolatornya, ketebalan lapisan, dan morfologi lapisan yang terbentuk dengan menggunakan mikroskop SEM. Hasil analisis menggunakan anova dua arah menunjukkan beda potensial dan waktu proses memiliki pengaruh signifikan terhadap ketebalan lapisan film alumina yang terbentuk. Sementara itu lapisan film alumina bersifat isolatif ketika menerima tegangan sebesar 250 Volt dan bersifat konduktif ketika menerima tegangan di atas 500 Volt. Pengamatan morfologi permukaan lapisan menggunakan SEM menunjukkan lapisan pori yang terbentuk belum merata.
Muh Irfan Alfatah, Ratna Dewi Anjani, Kardiman Kardiman
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 49-58; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3018

Abstract:
Energi merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena hampir semua aktivitas manusia membutuhkan energi. Pengembangan dan implementasi energi terbarukan non Fosil harus ditingkatkan khususnya energi surya. Pembuatan mesin penggiling turubuk dirancang menggunakan penggerak motor dc 60 watt, dengan proses transmisi dan proses kerja yang cukup sederhana. Dimana pada penelitian mesin penggiling lainnya masih menggunakan mesin bensin untuk sumber tenaga nya, pada mesin penggiling yang dibuat kali ini menggunakan baterai yang disuplai dari solar cell. Proses manufaktur yang dilakukan cukup sederhana dimana proses nya adalah pengukuran, pemotongan, pengelasan, pembubutan, pengeboran dan penyelesaian berupa pelapisan. Proses pengujian dilakukan untuk mengetahui dan menghasilkan tepung yang halus dan baik dengan variasi mesh yang berbeda. Tujuan akhir dari pembuatan mesin adalah produksi turubuk menjadi tepung.. Dengan penggiling turubuk ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan kualitas hasil gilingan, serta dapat diterima dan difungsikan untuk mempermudah proses produksi pada industri rumahan. Hasil dari penelitian menunjukan total waktu yang dibutuhkan untuk membuat komponen mesin penggiling yaitu selama 84,1 menit, total biaya pembuatan sebesar Rp. 503.183, dan hasil tepung yang halus dan baik yaitu menggunakan mesh ukuran 0.5 mm dengan waktu 62 detik dan menghasilkan berat sebesar 12 gram.
Suherman Suherman, Ilmi Abdullah, Muhammad Sabri, Arridina Susan Silitonga, Bekti Suroso
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 17, pp 113-120; https://doi.org/10.32497/jrm.v17i1.3148

Abstract:
Biodiesel is biodegradable and non-toxic and has a low carbon content, high lubricity, and Biodiesel is biodegradable and non-toxic and has a low carbon content, high lubricity, and higher ash point than diesel. The purpose of this study was to obtain data on the physicochemical properties of biodiesel from waste cooking oil (WCO) produced with different amounts of catalyst in the transesterification process. Methods This research carried out a two-step process: (1) esterification with an acid catalyst (H2SO4) and (2) transesterification with an alkali catalyst (KOH). The remaining frying oil is degummed by adding 2% H3PO4. Furthermore, the esterification process was carried out by adding 2% (v/v) H2SO4 at 800 rpm for 90 minutes. The transesterification process using an alkaline catalyst (KOH) was varied from 0.7-1.5% at a temperature of 60 oC with a rotation of 800 rpm and a time of 90 minutes. In the ester/transesterification process, the ratio of methanol: oil is 1:2 (v/v). The biofuels are then tested for cetane number, flash point, density, viscosity, calorific value, and others. The results showed that the amount of wet catalyst (KOH) in the transesterification process gave a difference in the yield of WCO oil. The optimum value was obtained at the amount of 1% KOH catalyst, which was 85%.
Back to Top Top