Jurnal Rekayasa Mesin

Journal Information
ISSN / EISSN : 14116863 / 25407678
Current Publisher: Politeknik Negeri Semarang (10.32497)
Total articles ≅ 31
Filter:

Latest articles in this journal

Dhimas Satria, Rina Lusiani, Erni Listijorini, Aswata Aswata, Yogi Hermawan
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 33-41; doi:10.32497/jrm.v15i1.1839

Abstract:
Energi fosil yang terbatas menuntut untuk mengembangkan teknologi yang menggunakan energi alternatif, salahsatu teknologi yang sesuai adalah mesin stirling karena merupakan teknologi pembakaran luar yang dapat memanfaatkan sumber kalor yang tersedia, termasuk di dalamnya adalah biomassa yang merupakan sumber energi yang melimpah dan mudah didapatkan. Penelitian ini merupakan inovasi desain dari penelitian terkait mesin stirling sebelumnya, yaitu dengan membuat sudut fasa menjadi 180o, dengan tujuan untuk mengurangi pengaruh gravitasi pada saat silinder dingin terkompresi, karena sudut fasa yang sekarang digunakan (90o) memiliki kekurangan yaitu silinder dinginnya yang tegak lurus ke atas, sehingga proses kompresinya melawan gravitasi.Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui performa dari mesin stirling tipe alpa inovasi desain berbasis biomassa ini. Sedangkan metode yang digunakan menggunakan metode Schmidt yaitu salah satu metode perhitungan isothermal untuk mesin stirling. yang berdasarkan pada ekspansi isothermal dan kompresi dari gas ideal. Hasil penelitian menghasilkan efisiensi thermal dari mesin stirling adalah 51%. Kemudian pengaruh perbedaan temperatur panas dengan tempertur dingin yang menunjukkan bahwa semakin besar delta temperatur semakin besar pula kerja outputnya, dan pengaruh rasio volume yang menunjukkan semakin besar rasio volume semakin besar pula kerja outputnya.
Nur Islahudin, Helmy Rahadian, Pramudi Arsiwi
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 51-58; doi:10.32497/jrm.v15i1.1723

Abstract:
Paper ini ingin mengetahui pengaruh titik didih solvent dari komponen material cat terhadap nilai transfer efficiency (TE) proses pengecatan menggunakan spray atomisasi pada pengecatan produk berbahan plastik. Pemilihan jenis solvent saat ini masih berorientasi pada harga dan kemampuan melarutkan solvent terhadap material cat. Dalam aplikasi proses pengecatan selain membutuhkan daya larut, material cat harus dapat menghasilkan kualitas spray atau atomisasi yang baik saat proses pengecatan. Atomisasi pengecatan yang baik dapat dilihat dari jumlah overspray yang terjadi saat proses pengecatan. Overspray yang terjadi pada proses pengecatan akan mempengaruhi kualitas hasil dari proses pengecatan. Salah satu cara untuk menghitung overspray proses pengecatan dapat dilakukan dengan cara mengukur nilai transfer efisiensi dari proses pengecatan. Nilai TE merupakan cara untuk menghitung jumlah material cat yang melapisi permukaan produk dibandingkan dengan jumlah total material cat yang dibutuhkan untuk proses pengecatan sehingga jumlah overspray dapat diketahui dari hasil pengukuran nilai TE. Salah satu parameter dari solvent yang sangat erat hubungan nya dengan overspray adalah titik didih solvent. Dari hasil pengujian awal diperoleh bahwa solvent butyl acetate dan butyl cellocove mempunyai daya larut (solubility) baik terhadap jenis cat Nitrocellulose (NC). Hasil pengujian destilasi dua jenis solvent menunjukan bahwa butyl acetate mempunyai nilai titik didih rendah dan butyl cellosove mempunyai titik didih medium. Selanjutnya hasil perhitungan nilai TE kedua jenis solvent ini diperoleh hasil bahwa solvent butyl cellosove mempunyai nilai TE lebih baik (20,2%) dibandingkan nilai TE solvent butyl acetate (16,0%). Hal ini menunjukan bahwa solvent dengan titik didih medium mempunyai nilai TE yang lebih baik dari solvent dengan titik didih rendah.
Otong Jaelani, Heri Suripto
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 42-50; doi:10.32497/jrm.v15i1.1742

Abstract:
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis performa dan analisis ekonomi suatu sistem solar cell untuk mengoperasikan pompa air dengan metode eksperimental, desain kemiringan solar cell sangat mempengaruhi terhadap penyerapan energi panas dari matahari. Desain yang tepat dapat menaikan efisiensi energi matahari. Analisis ini meliputi perhitungan numerik dengan memvariasikan sudut kemiringan yang minimal sampai optimal yang akan digunakan. Daya energi yang dihasilkanan dalam Satuan watt peak energi matahari dikonversi dalam watt, proses terjadinya energi matahari ketika panas dalam peak diserap solar cell perhari. Energi listrik dari matahari yang di analisis ini untuk menghidupkan pompa air yang difungsikan untuk memindahkan fluida dari sungai ke persawahan. Dengan suplai energi listrik dari energi matahari sehingga pompa dapat beroperasi. Hasil eksperimen menunjukan bahwa daya modul surya mampu menghasilkan daya sebesar 2011,2626 watt. Dan perhitungan investasi energi matahari dengan umur modul solar cell selama 20 tahun menunjukan bahwa dari kedua sistem perancangan solar cell bisa di laksanakan karena IRR > 13% yaitu; IRR sistem indirect 129,89% dan IRR sistem direct 199,76%.
Asroful Anam, Muhammad Azizul Majid
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 59-65; doi:10.32497/jrm.v15i1.1832

Abstract:
Bahan bakar fosil merupakan bahan bakar alam yang tidak dapat diperbaruhi dan persediaannya akan segera habis jika digunakan secara terus menerus dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan energi. Sehingga pemanfaatan bahan bakar alternatif sebagai sumber energi baru mutlak diperlukan, terlebih bahan bakar tersebut persediaanya melimpah dan dapat diperbarui, seperti biomassa limbah industri atau limbah pertanian. Bahan bakar biomassa adalah salah satu sumber energi yang telah banyak dikembangkan dan diteliti sebagai bahan bakar pengganti batubara dengan berbagai perlakuan dan proses yaitu untuk mendapatkan jenis bahan bakar biomassa yang menyamai kualitas batubara. Penelitian ini menyuguhkan penelitian biomassa dari limbah daun tebu dengan metode densifikasi dengan penambahan perekat minyak kayu kapas. Metode densifikasi pada penelitian ini diikuti dengan metode eksperimental dengan memvariasikan ukuran serbuk daun tebu (DT) dan campuran serbuk daun dengan perekat (DTP). Variasi DT adalah 1 mm, 1.5 mm, dan 2 mm dengan DTP 200 gram : 1 gram, 200 gram : 2 gram, dan 200 gram : 3 gram. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui nilai kalor, kadar abu, dan kadar air dengan dampak penelitian yang hendak dicapai adalah limbah daun tebu bisa dijadikan sebagai bahan bakar baru terbarukan dan bisa mengurangi masalah bagi petani. Berdasarkan data hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kalor tertinggi pada DT 2 mm, yaitu 3975,01 cal/gr pada DTP 1 dan terendah pada DT 1.5 mm yaitu 2441,67 cal/gr pada DTP 2; kadar abu tertinggi pada DT 1 mm, 13,66% pada DTP 1 dan terendah pada DT 2 mm, yaitu 6,6% pada DTP 3 dan kadar air tertinggi pada DT 1 mm, yaitu 9,8% pada DTP 2 dan terendah pada DT 2 mm, yaitu 7,6% pada DTP 3. Kesimpulan penelitian ini adalah ukuran serbuk dau tebu dan variasi campuran serbuk daun tebu dengan perekat minyak biji kapas mempengaruhi karakteristik limbah daun tebu sebagai sumber energi baru terbarukan.
Lasinta Ari Nendra Wibawa
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 1-9; doi:10.32497/jrm.v15i1.1782

Abstract:
Motor roket adalah bagian penting dari roket. Motor roket bekerja menggunakan prinsip bejana tekan karena bekerja di lingkungan dengan tekanan dan suhu tinggi. Makalah ini menyelidiki tegangan von Mises yang terjadi dalam silinder berdinding tipis untuk tabung motor roket dan faktor keamanan karena pengaruh radius fillet dan ketebalan cap. Dimensi panjang silinder adalah 400 mm, diameter luar 122 mm, dan ketebalan dinding 5 mm. Radius fillet divariasikan 2, 4, 6, dan 8 mm, sedangkan ketebalan cap divariasikan 5 dan 10 mm. Silinder berdinding tipis dikenai tekanan internal konstan yaitu 6 MPa. Analisis tegangan dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan perangkat lunak Ansys Workbench 2019 R3. Perbandingan nilai tegangan hoop dan longitudinal antara perhitungan analitik dan simulasi digunakan untuk proses verifikasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ketika radius fillet dan ketebalan cap meningkat, tegangan Von Mises menurun. Material memiliki faktor keamanan lebih tinggi dari 1,25 ketika ketebalan cap 10 mm dengan radius fillet 4, 6, dan 8 mm.
Agus Slamet, Wahyu Djalmono, Yogi Prakasa, Farika Putri
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 66-74; doi:10.32497/jrm.v15i1.1834

Abstract:
PT Indonesia Power Unit Jasa Pembangkit (UJP) Jawa Tengah 2 Adipala merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembangkitan energi listrik dengan daya uap. Untuk memenuhi kebutuhan produksi sebesar 1 x 660 MW, unit-unit pada PLTU ini bekerja secara kontinyu dan saling terhubung salah satunya yaitu Condensate Extraction Pump(CEP). Permasalahan yang ada yaitu bila terjadi kavitasi pada CEP ini sering terlambat untuk diketahui. Hal ini disebabkan karena tidak adanya sistem peringatan atau deteksi terjadinya kavitasi pada CEP. Mengingat dampak kavitasi yang sangat merugikan, mulai dari berkurangnya performa pompa hingga rusaknya komponen pompa, maka terjadinya kavitasi pada pompa ini harus dicegah. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang sebuah system alarm untuk mencegah kavitasi. Perancangan suatu program alarm saat muncul potensi kavitasi pada pompa dengan konsep dasar menggunakan Net Positive Suction Head required (NPSHr) sebagai ambang batas diharapkan dapat mencegah terjadinya kerusakan pompa akibat kavitasi. Memanfaatkan nilai NPSHr untuk mencegah kavitasi merupakan metode yang berbeda bila dibandingkan dengan penelitian lain yang menggunakan sinyal getaran. Metode penelitian meliputi, identifikasi masalah, studi pustaka, analisis perancangan, pembuatan program dan pengujian. Program dibuat menggunakan aplikasi Visual Basic. Untuk memvalidasi program bekerja sesuai perencanaan dilakukan pengujian dengan memasukkan variasi parameter berupa temperatur air dan ketinggian air sesuai data aktual dengan range masing – masing yaitu 25oC hingga 60oC dan 300 mm-1300 mm. Tekanan dalam kondensor nilainya tetap -80 kPa atau 21.325 kPa dalam tekanan absolut. Head loss dalam instalasi perpipaan dihitung nilainya didapatkan 0.7196 m. Hasil pengujian program alarm mampu mengolah nilai NPSHa dan menampilkannya dalam bentuk grafik yang fluktuatif sesuai dengan tingkat keadaannya serta alarm berbunyi saat nilai Net Positive Suction Head available(NPSHa) dibawah nilai NPSHr atau pompa beroperasi dalam kondisi kavitasi.
Ali Sai'In, Mochamad Muzaki
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 10-19; doi:10.32497/jrm.v15i1.1804

Abstract:
Las gesek merupakan salah satu teknologi pengelasan yang digunakan untuk menyambung dua material tanpa menggunakan bahan pengisi. Penyambungan benda kerja dilakukan dengan memanfaatkan gesekan dan tekanan. Pengaturan parameter proses dalam las gesek ini seperti kecepatan putar, gaya gesek, waktu gesek, gaya tempa dan waktu tempa sangat menentukan keberhasilan proses pengelasan. Penelitian dilakukan untuk mengamati pengaruh parameter proses, diantaranya kecepatan putar, gaya gesek, dan waktu gesek terhadap struktur mikro dan laju korosi pada material yang dilas dengan menggunakan las gesek. Material yang digunakan merupakan material yang mempunyai komposisi kimia yang berbeda, yaitu baja SUH 3 dan SUH 35. Pengelasan dilakukan dengan mesin las gesek tipe FW10NC. Pengamatan struktur mikro dilakukan menggunakan mikroskop optik dan SEM (Scanning Electron Microscope)-EDX. Pengujian laju korosi dilakukan dengan alat uji laju korosi sel tiga elektroda dengan bantuan software NOVA 1.8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada proses pengelasan baja SUH 3 dan SUH 35 terjadi perubahan struktur mikro dan perubahan komposisi kimia pada daerah sambungan. Persentase Cr pada kecepatan putar 2500 rpm sebesar 14.99% sedangkan pada kecepatan putar 4500 menjadi sebesar 15.82%. Perubahan parameter proses dapat mengubah laju korosi pada sambungan.
Ragil Tri Indrawati, Rina Mahmudati
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 26-32; doi:10.32497/jrm.v15i1.1828

Abstract:
Upaya menyediakan air bersih layak pakai dan konsumsi untuk pondok pesantren tradisional semakin gencar untuk dilakukan seiring dengan meningkatnya animo masyarakat memilih pondok pesantren sebagai institusi pendidikan. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ketersediaan air bersih layak pakai dan konsumsi yaitu dengan membuat alat backwash water atau dikenal dengan pencucian air baku. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui performansi alat backwash water terhadap kadar kualitas air di pondok pesantren tradisional Kabupaten Wonosobo. Metode penelitian yang digunakan ialah metode eksperimen. Objek penelitian adalah air yang disirkulasikan pada alat backwash water yang berasal dari campuran air sumur dan air sungai. Pengukuran kualitas air yang dihasilkan dari alat backwash water dilakukan dengan uji laboratorium di Balai Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performansi alat backwash water memiliki dampak positif yaitu terlihat dari peningkatan visibilitas air yang dihasilkan. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya tingkat kejernihan air serta hasil laboratorium menunjukkan bahwa air hasil backwash water berada pada batas yang diperbolehkan baik untuk parameter fisika, kimia maupun parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan yaitu kandungan mikrobiologi (E-Coli). Parameter fisika mendeteksi beberapa parameter antara lain : Bau, Total padatan terlarut (TDS), Kekeruhan, Rasa dan Warna. Sedangkan parameter kimia antara lain kandungan pH, kesadahan, alumunium, besi, nitrat, nitrit, klorine dan sulfat. Sedangkan untuk kandungan bakteri E-Coli terlihat turun sebanyak 7.94 mg/l dari sebelumnya 8.52 mg/l menjadi 0.58 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas air yang dihasilkan semakin baik.
Ikbal Ikbal, Djoko Subali
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 75-81; doi:10.32497/jrm.v15i1.1721

Abstract:
Prinsip fluida air yang dapat berpindah dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah dapat digunakan sebagai pembuatan model pompa tanpa bahan bakar. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model pompa yang dapat memindahkan air berdasarkan prinsip tekanan yang menggunakan tekanan vakum seperti ketika air minum yang masuk ke mulut melalui pipa minuman, sehingga diharapkan dapat meminimalisir penggunaan bahan bakar maupun listrik. Metode yang dilakukan adalah dengan menggunakan tanki dengan kapasitas 200 liter yang dikondisikan dalam keadaan vakum. Variabel yang digunakan adalah ketinggian inlet, sudut, debit air dan tekanan vakum. Dari hasil penelitian, media vakum mampu menyedot air pada ketinggian 1 meter, 2 meter dan 3 meter dan membentuk garis linier dengan sudut inlet 450 dan 300, dengan debit air yang juga membentuk garis linier terhadap ketinggian pada sudut 450 dan 300
Miftahrur Bin Afan, Purwantono Purwantono, Mulianti Mulianti, Bulkia Rahim
Jurnal Rekayasa Mesin, Volume 15, pp 20-25; doi:10.32497/jrm.v15i1.1823

Abstract:
Pengelasan merupakan proses penyambungan logam dengan menggunakan bahan tambah berupa elektroda. Sebelum melakukan pengelasan salah satu faktor penting yaitu perlakuan elektroda. Hal tersebut penting dilakukan terutama pada perlakuan penyimpanan elektroda tipe basic low hydrogen (E7016). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemanasan elektroda dapat menghindari retak sambungan las pada uji face bend. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengungkapkan pengaruh perlakuan suhu penyimpanan elektroda terhadap uji tekuk sambungan las. Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen, dimana penelitian dilakukan dengan memberi perlakuan pada suhu penyimpanan elektroda. Elektroda diberi perlakuan suhu penyimpanan dengan variasi 40° C, 80° C, dan 120° C selama 30 menit. Elektroda yang digunakan yaitu jenis low hydrogen (E7016) dan material sampel menggunakan pelat SS400. Sambungan las menggunakan kampuh V tunggal dan pengelasan sampel menggunakan proses shield metal arc welding. Pengujian tekuk spesimen dilakukan sesuai standar American Welding Society D1.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu penyimpanan akan menghasilkan daya tahan retak yang baik pada uji face bend dibandingkan dengan hasil pengujian root bend.
Back to Top Top