Journal of Pharmaceutical And Sciences

Journal Information
EISSN : 2656-3088
Current Publisher: Universitas Tjut Nyak Dhien (10.36490)
Total articles ≅ 37
Filter:

Latest articles in this journal

Fauziah Fauziah, Adyani Maulinda, Azmalina Adriani
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 77-84; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.47

Abstract:
Salah satu sediaan kosmetika yang telah menjadi kosmetika utama bagi para wanita adalah lipstik. Lipstik yang digunakan harus terbebas dari cemaran terutama cemaran logam berat seperti timbal (Pb). Persyaratan kandungan cemaran logam berat timbal (Pb) dalam kosmetik menurut BPOM RI Nomor Hk.03.1.23.07.11.6662 Tahun 2011, tidak melebihi nilai ambang batas sebesar 20 mg/kg atau 20 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam berat timbal (Pb) dalam sediaan lipstik yang beredar di Kota Banda Aceh secara spektrofotometri serapan atom. Populasi dalam penelitian ini yaitu sampel lipstik yang dijual dikota Banda Aceh, pengambilan sampel lipstik dilakukan dengan metode random sampling, sebanyak lima sampel lipstik. Hasil penelitian diperoleh kadar timbal bertutut-turut pada sampel kode sampel 1 yaitu 6,83 mg/kg, sampel 2 yaitu 0,12 mg/kg, sampel 3 yaitu 0,72 mg/kg, sampel 4 yaitu 2,99 mg/kg dan sampel 5 yaitu 1,2 mg/kg. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari lima sampel lipstik keseluruhannya memenuhi persyaratan, nilai ambang batas cemaran logam berat timbal (Pb) dalam sampel masih dibawah 20 mg/kg atau 20 ppm.
Athaillah Athaillah, Ugi Diana Lestari
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 93-99; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.51

Abstract:
This research is aimed to find out the extract activity dried simplisia of garlic (Allium sativum L.) as an antibacterial which is capable to inhibiting growth of Bacillus cereus bacterium, to find out the alkaloid secondary of metabolites, flavonoid, tannin and saponin that contained in dried extract of garlic and to find out a concentration that has the most antibacterial activity which is capable to inhibiting growth of Bacillus cereus bacterium. Garlic was extracted by maceration method using a solvent ethanol 96%. After the extract obtaned, then phtochemical screening and standardization test. Thickening technique by evaporation used vacum rotary evaporator until thick extarct was obtained. Antibacterial activity thest by using disk diffusion method. This research was used seven concentrations which were 20% (b/v), 30% (b/v). 40% (b/v), 50% (b/v), 60% (b/v), 80% (b/v)and100% (b/v). The result of phytochemical screening test, ethanol extract garlic (Allium sativum L.) positive contained compound alkaloid, flavonoid, saponin and tannin. Standardization of power simplisia fulfill the requirements set by Depkes RI 2000. The result of activity test of optimum antibacterial was obtained inhibitory power with the number 27 mm on 40% (b/v) concentration. This proves that garlic (Allium sativum L.) have antibacterial affects against Bacillus cereus bacterium
Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, Salman Sulaiman
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 64-76; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.44

Abstract:
Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang sangat popular. Sediaan tablet dapat dibuat dengan berbagai cara, diantaranya dengan metode kempa langsung, granulasi basah, granulasi kering, fast melt granulation, dan foam granulation. Masing-masing metode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Metode kempa langsung memiliki kelebihan pada prosesnya yang cepat yaitu hanya membutuhkan proses pencampuran dan pengempaan. Tidak semua bahan aktif dapat langsung dikempa karena memiliki kelemahan pada sifat alirnya yang jelek dan tidak kompresibel. Proses kempa langsung memerlukan bahan tambahan atau eksipien yang disebut filler-binder. Artikel review ini akan mendiskusikan tentang perkembangan eksipien untuk pembuatan tablet secara kempa langsung. Saat ini banyak eksipien kempa langsung yang ditawarkan di pasar, dengan berbagai keunggulannya. Eksipien tersebut merupakan material co-processed yang dikembangkan dari material asal yang tidak dapat digunakan untuk eksipien kempa langsung. Berbagai co-processing yang dilakukan pada akhir akan menghasilkan material baru yang memiliki sifat-sifat yang lebih baik. Dengan tersedianya berbagai jenis eksipien kempa langsung, maka formulator memiliki pilihan yang beragam untuk diaplikasikan dalam formula yang dirancang. Hal ini akan memberikan keleluasaan dalam memilih eksipien untuk diaplikasikan pada berbagai zat aktif sehingga akan menghasilkan sediaan yang bermutu.
Yuska Noviyanty Noviyanty, Herlina Herlina, Cahyan Fazihkun
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 100-105; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.52

Abstract:
Biduri plants (Calotropis gigantea L) are used as medicinal plants, namely as cough and anti-allergic medicines. Research conducted by (Suchita Siggn. 2014) shows the presence of glycoside compounds, saponins, alkaloids, flavonoids, and tannins. then the researchers are interested in carrying out research on the identification and determination of saponin levels from the extract of the baby root (Calotropis gigantea L) by the Gravimetri method. Qualitative test was carried out by inserting 500 mg of biduri root extract (Calotropis gigantea L) into a test tube, then adding 10 ml of hot water, shaking vigorously for 10 seconds and adding HCL, then a quantitative test was carried out using the gravimetric method. Based on the results of research that has been carried out the extract of the betel root (Calotropis gigante L) positive containing saponin compounds with saponin content is 2.6% with a weight of 1.16 gram saponins using the gravimetric method
Reqgi First Trasia
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 58-63; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.41

Abstract:
Skabies merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Pada tahun 2017, WHO memasukkan skabies ke dalam daftar neglected tropical disease. Pengobatan skabies saat ini masih mengalami kendala karena kesalahan pemilihan obat. Sulitnya penegakan diagnosis skabies menyebabkan obat yang diresepkan pun tidak tepat. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membahas jenis-jenis skabisida yang dapat digunakan serta meninjau kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Skabies dapat diobati dengan skabisida, seperti sulfur presipitatum, gama benzen heksaklorida, benzil benzoat, krotamiton, permetrin, ivermektin, dan terapi herbal. Dari beberapa skabisida tersebut, permetrin adalah obat yang paling banyak digunakan karena efikasinya yang lebih tinggi. Artikel ini diharapkan dapat menjadi acuan para klinisi dalam memilih skabisida yang tepat bagi penderita.
M. Rifqi Efendi, Mesa Sukmadani Rusdi, Fitria Anisa
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 85-92; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i2.42

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur endofit yang terdapat pada daun dan rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) serta menguji aktivitas antibakterinya. Isolasi jamur endofit dilakukan dengan kultivasi dan subkultivasi jamur yang tumbuh dari daun dan rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) yang sebelumnya telah disterilkan pada media potato dextrose agar (PDA). Identifikasi jamur endofit dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis terhadap morfologinya. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi agar. Dari daun dan rimpang kencur diperoleh lima isolat jamur endofit yang diidentifikasi sebagai Torulla sp. (KG001), Mucor sp. (KG002), Fusarium sp. (KG003), Geotricum sp. (KG004), dan Drechslera sp. (KG005). Tiga ekstrak etil asetat jamur endofit Torulla sp. (KG001), Fusarium sp. (KG003), dan Drechcera sp. (KG005) memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus and Vibrio cholera) dan Gram negatif (Bacillus subtilis and Eschericia coli) pada konsentrasi 3.75 %. Jamur endofit yang memiliki aktivitas antibakteri kuat (diameter hambat 10-20 mm) adalah Torulla sp. (KG001) dan Drechslera sp. (KG005). Sedangkan, jamur endofit yang memiliki aktivitas antibakteri sedang (diameter hambat 5-10 mm) adalah ekstrak etil asetat jamur Fusarium sp. (KG003). Aktivitas antibakteri terbesar ditunjukkan oleh ekstrak etil asetat isolat jamur Drechslera Sp. dengan diameter hambat 16 mm terhadap bakteri uji Vibrio cholera.
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 7-13; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.33

Abstract:
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap kerusakan jaringan yang dimediasi oleh enzim siklooksigenase-2 (COX-2). Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun malur (Brucea javanica (L.) Merr.) dan daya hambatnya terhadap enzim COX-2. Hewan yang digunakan pada penelitian ini ialah tikus putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu dosis 250 mg/kg BB, dosis 500 mg/kg BB, pembanding (Celecoxib), kontrol positif dan kontrol negatif. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan cara menginduksi telapak kaki tikus dengan karagen kemudian diukur volume udemnya menggunakan pletismometer dan pengukuran daya hambat COX-2 menggunakan microplate readers. Hasil uji analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun malur dosis 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg BB memiliki aktivitas antiinflamasi secara signifikan (p < 0,05). Dosis 500 mg/kg BB memiliki daya hambat terhadap COX-2 secara signifikan (p < 0,05) sedangkan dosis 250 mg/kg BB tidak memiliki daya hambat terhadap COX-2 secara signifikan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun malur memiliki efek antiinflamasi pada dosis 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg BB dan daya hambat terhadap COX-2 pada dosis 500 mg/kg BB.
Ridho Asra , Rina Desni Yetti, Desi Ratnasari, Nessa Nessa
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 14-21; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.35

Abstract:
Umbi bit merah (Beta vulgaris L.) mengandung senyawa betasianin 5-O-beta-glikosida yang memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antioksidan. Pada penelitian ini telah dilakukan uji antioksidan dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.) diekstraksi dengan metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) menggunakan pelarut air dan dikeringkan dengan metode freeze drying selama 48 jam. Pengujian betasianin dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dimana diperoleh nilai Rf = 0,7166 dan panjang gelombang 535 nm yang dianalisis dengan metode spektofotometri UV-Vis. Spektrum FT-IR menunjukan bahwa isolat mengandung gugus-gugus fungsi yang identik dengan betasianin standar (Sigms Alderich). Betasianin diperoleh dalam ekstrak umbi bit merah dengan kadar sebesar 98,6474 %. Umbi bit merah stabil pada suhu 40 °C dan pada pH 5. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylylhydrazyl) dengan panjang gelombang 515,50 nm. Hasil penelitian ini menunjukan adanya aktivitas antioksidan dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.) dengan nilai IC50 21,8878 µg/mL dibandingkan dengan nilai IC50 vitamin C 7,1099 µg/mL. dapat disimpulkan bahwa umbi bit merah memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat (antioksidan tinggi
Ridho Asra, Rusdi Rusdi, Riri Nofrianti
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 22-32; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.37

Abstract:
The mangosteen peel (Garcinia mangostana L.) contains anthocyanin pigments, which has an important role in coloring. This study aims to determine the physicochemical properties of mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) with two methods, which is an examination with UV-Vis and FTIR spectrophotometry. Then the extract was characterized, identified, and analyzed for its stability against temperature, pH, and applied as a coloring agent in the formulation of pharmaceutical preparations (tablets). The results showed that the yield of mangosteen peel extract obtained 13.0975 %, drying losses 5.2822 %, total ash content 14.488 %, acid insoluble ash content 0.684 %, water-soluble extract content 29.58 %, extract content dissolved in ethanol 37.78 %, total anthocyanin content with λmax = 367 nm which is = 9.58 mg / 100 g and with λmax = 289 nm which is = 52.43 mg / 100 g. In this study, the anthocyanin pigment content in mangosteen peel extract cannot be used as an alternative to natural dyes for pharmaceutical preparations (tablets).
Muhammad Gunawan, Muharni Saputri, Suci Indah Sari
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 42-50; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.43

Abstract:
Disfungsi seksual merupakan suatu keadaan yang mengalami kesulitan dalam berhubungan seksual. Disfungsi seksual meliputi disfungsi ereksi, impotensi, ejakulasi dini dan gangguan hasrat (libido). Pengatasan gangguan seksual salah satunya dengan menggunakan afrodisiaka. Afrodisiaka merupakan semacam zat perangsang yang dapat meningkatkan gairah seks. Salah satu buah yang memiliki efek afrodisiaka yaitu buah semangka, tepatnya pada lapisan putih pada kulit yang mengandung sitrulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi afrodisiaka dan jumlah dosis yang efektif dari ekstrak etanol albedo (mesocarp) semangka (EEAS) terhadap mencit dengan menggunakan ICC (Introducing, Climbing and Coitus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan 30 ekor mencit dan dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I (kontrol negatif) CMC 0,5 %; kelompok II (kontrol positif) jamu pasak bumi; kelompok III; IV;V EEAS dengan dosis 7; 13; dan 27 g/kgBB. Pemberian pada mencit secara oral dan dihitung intensitas ICC. Intensitas ICC dianalisis secara statistik menggunakan metode One Way ANOVA dan uji Post-Hoc Duncan menggunakan SPSS 24.0. Hasil uji statistik intensitas ICC antara kelompok jamu pasak bumi dan EEAS menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan nilai α > 0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa EEAS berpotensi sebagai afrodisiaka pada mencit dengan dosis yang paling efektif sebesar 13 g/kgBB.
Back to Top Top