Journal of Pharmaceutical And Sciences

Journal Information
EISSN : 2656-3088
Current Publisher: Universitas Tjut Nyak Dhien (10.36490)
Total articles ≅ 31
Filter:

Latest articles in this journal

Muhammad Gunawan, Muharni Saputri, Suci Indah Sari
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 42-50; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.43

Abstract:
Disfungsi seksual merupakan suatu keadaan yang mengalami kesulitan dalam berhubungan seksual. Disfungsi seksual meliputi disfungsi ereksi, impotensi, ejakulasi dini dan gangguan hasrat (libido). Pengatasan gangguan seksual salah satunya dengan menggunakan afrodisiaka. Afrodisiaka merupakan semacam zat perangsang yang dapat meningkatkan gairah seks. Salah satu buah yang memiliki efek afrodisiaka yaitu buah semangka, tepatnya pada lapisan putih pada kulit yang mengandung sitrulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi afrodisiaka dan jumlah dosis yang efektif dari ekstrak etanol albedo (mesocarp) semangka (EEAS) terhadap mencit dengan menggunakan ICC (Introducing, Climbing and Coitus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan 30 ekor mencit dan dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I (kontrol negatif) CMC 0,5 %; kelompok II (kontrol positif) jamu pasak bumi; kelompok III; IV;V EEAS dengan dosis 7; 13; dan 27 g/kgBB. Pemberian pada mencit secara oral dan dihitung intensitas ICC. Intensitas ICC dianalisis secara statistik menggunakan metode One Way ANOVA dan uji Post-Hoc Duncan menggunakan SPSS 24.0. Hasil uji statistik intensitas ICC antara kelompok jamu pasak bumi dan EEAS menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan nilai α > 0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa EEAS berpotensi sebagai afrodisiaka pada mencit dengan dosis yang paling efektif sebesar 13 g/kgBB.
Vriezka Mierza, Sudewi Sudewi
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 50-57; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.45

Abstract:
Kapulaga lokal (Amomum compactum Sol. ex Manton) mampu menghambat pertumbuhan cendawan dan senyawa sineol. kapulaga lokal yang bersifat sebagai anticendawan dan mengandung antibakteri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol buah kapulaga yang diformulasikan menjadi sediaan obat kumur yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutanspada konsentrasi tertentu. Adapun metode dari penelitian ini adalah dengan menggunakan pengujian aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans dari sediaan obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga.Sediaan dievaluasi stabilitas fisik penyimpanan selama 4 minggu, uji pH dan pengujian antibakteri. Seluruh sediaan obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga yang dibuat memiliki bentuk fisik yang baik dan stabil pada penyimpanan selama 4 minggu, tidak memiliki pH yang sesuai dan hasil uji aktivitas antibakteri sedian obat kumur ekstrak etanol buah kapulaga dengan konsetrasi ekstrak 2%, 4%, dan 6% pada Streptococcus mutans, menghasikan diameter daya hambatnya berurut-turut 8,42 mm; 9,03 mm; dan 9,48 mm, sedangkan Staphylococcus aureus diameter daya hambatnya secara berurutan 12 mm, 11 mm, dan 10 mm. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak etanol buah kapulaga dapat diformulasikan menjadi obat kumur dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 6% yang memiliki daya hambat kategori sedang terhadap bakteri Streptococcus mutans dan memiliki daya hambat kategori kuat terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Shinta Putri Larasati, Nina Jusnita
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 33-41; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.38

Abstract:
Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat. Kurkumin dari kunyit diketahui mempunyai senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai antioksidan tetapi kelarutan dan bioavailabilitasnya rendah. Untuk memperbaiki sifat tersebut, maka dibuatlah kunyit (Curcuma longa L.) dalam formulasi baru berbentuk nanoemulsi. Penelitian ini menggunakan metode homogenisasi inversi suhu 30°C dan 10°C. Konsentrasi ekstrak yang digunakan sebanyak 30% dan Tween 3% sebagai emulsifier. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran partikel nanoemulsi pada pembuatan suhu 30°C memiliki ukuran lebih kecil yaitu 18,1 nm. Aktivitas antioksidan dari sediaan nanoemulsi ekstrak kunyit memiliki IC50 sebesar 31,16% dan 32,11%. Hasil ini lebih besar dibanding ekstrak yaitu sebesar 30,01%. Sediaan nanoemulsi ekstrak kunyit stabil pada penyimpanan 40°C serta kelarutannya meningkat
Ridho Asra, Rusdi Rusdi, Riri Nofrianti
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 22-32; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.37

Abstract:
The mangosteen peel (Garcinia mangostana L.) contains anthocyanin pigments, which has an important role in coloring. This study aims to determine the physicochemical properties of mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) with two methods, which is an examination with UV-Vis and FTIR spectrophotometry. Then the extract was characterized, identified, and analyzed for its stability against temperature, pH, and applied as a coloring agent in the formulation of pharmaceutical preparations (tablets). The results showed that the yield of mangosteen peel extract obtained 13.0975 %, drying losses 5.2822 %, total ash content 14.488 %, acid insoluble ash content 0.684 %, water-soluble extract content 29.58 %, extract content dissolved in ethanol 37.78 %, total anthocyanin content with λmax = 367 nm which is = 9.58 mg / 100 g and with λmax = 289 nm which is = 52.43 mg / 100 g. In this study, the anthocyanin pigment content in mangosteen peel extract cannot be used as an alternative to natural dyes for pharmaceutical preparations (tablets).
Ridho Asra, Rina Desni Yetti, Desi Ratnasari, Nessa Nessa
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 14-21; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.35

Abstract:
Umbi bit merah (Beta vulgaris L.) mengandung senyawa betasianin 5-O-beta-glikosida yang memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antioksidan. Pada penelitian ini telah dilakukan uji antioksidan dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.) diekstraksi dengan metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) menggunakan pelarut air dan dikeringkan dengan metode freeze drying selama 48 jam. Pengujian betasianin dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dimana diperoleh nilai Rf = 0,7166 dan panjang gelombang 535 nm yang dianalisis dengan metode spektofotometri UV-Vis. Spektrum FT-IR menunjukan bahwa isolat mengandung gugus-gugus fungsi yang identik dengan betasianin standar (Sigms Alderich). Betasianin diperoleh dalam ekstrak umbi bit merah dengan kadar sebesar 98,6474 %. Umbi bit merah stabil pada suhu 40 °C dan pada pH 5. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylylhydrazyl) dengan panjang gelombang 515,50 nm. Hasil penelitian ini menunjukan adanya aktivitas antioksidan dari umbi bit merah (Beta vulgaris L.) dengan nilai IC50 21,8878 µg/mL dibandingkan dengan nilai IC50 vitamin C 7,1099 µg/mL. dapat disimpulkan bahwa umbi bit merah memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat (antioksidan tinggi
Ifora Ifora
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 7-13; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.33

Abstract:
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap kerusakan jaringan yang dimediasi oleh enzim siklooksigenase-2 (COX-2). Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun malur (Brucea javanica (L.) Merr.) dan daya hambatnya terhadap enzim COX-2. Hewan yang digunakan pada penelitian ini ialah tikus putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu dosis 250 mg/kg BB, dosis 500 mg/kg BB, pembanding (Celecoxib), kontrol positif dan kontrol negatif. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan cara menginduksi telapak kaki tikus dengan karagen kemudian diukur volume udemnya menggunakan pletismometer dan pengukuran daya hambat COX-2 menggunakan microplate readers. Hasil uji analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun malur dosis 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg BB memiliki aktivitas antiinflamasi secara signifikan (p < 0,05). Dosis 500 mg/kg BB memiliki daya hambat terhadap COX-2 secara signifikan (p < 0,05) sedangkan dosis 250 mg/kg BB tidak memiliki daya hambat terhadap COX-2 secara signifikan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun malur memiliki efek antiinflamasi pada dosis 250 mg/kg BB dan 500 mg/kg BB dan daya hambat terhadap COX-2 pada dosis 500 mg/kg BB.
Yuska Noviyanty, Asri Mei Linda
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 1-6; doi:10.36490/journal-jps.com.v3i1.34

Abstract:
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman obat didunia. Wilayah hutan tropis indonesia memiliki keanekaragaman hayati tettinggi ke-2 didunia setelah Brazil. Tanaman senduduk (Melastoma malabathricum L) merupakan salah satu bahan alami yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada ekstrak etanol bunga senduduk (Melastoma malabathricum L). Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% selama 7 hari. Ekstraksi yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator. kandungan metabolit sekunder diidentifikasi dengan reaksi warna flavonoid diuji dengan reagen Mg dan HCL, alkaloid diuji dengan mayer, dragendrof, dan wagner saponin diuji dengan reaksi busa, tanin diuji dengan reagen Fecl3 dan triterpenoid/steroid diuji dengan reaksi asam asetat anhidrat. Kemudian dilakukan uji penegasan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukan adanya perubahan warna yang positif ditunjukkan dengan adanya mengandung flavonoid, tannin, dan saponin, dan berdasarkan hasil uji penegasan uji kromatografi lapis lipis (KLT) didapatkan hasil positif flavonoid, tannin, dan saponin.
Kasta Gurning, Dameria Siahaan, Iksen Iksen
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 49-54; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.28

Abstract:
Jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) have health benefits as an antimicrobial. The leaves contain flavonoids, tannins, saponins which act as antimicrobials. The purpose of this study was to study the potential antibacterial activity of ethanol extract of jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) On the bacteria Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi. This research conducted with an experimental method that included the collection and processing of samples, the examination of the simplicia characterization and phytochemical screening. The concentration of jackfruit leaf ethanol extract. Used was at a concentration of 500 mg mL, 400 mg/mL, 300 mg/mL, 200 mg/mL, 100 mg/mL, 100 mg/mL, 50 mg/mL , 25 mg/mL, 10 mg/mL 30 mg/ml chloramphenicol and blanks. Using the disk diffusion method to measure the clear zone against the bacteria Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi. Antimicrobial inhibition of ethanol extract of jackfruit leaves against Staphylococcus aureus bacteria at a concentration of 500 mg/mL has a strong antibacterial inhibition with a diameter of 10.8 mm. The bacteria Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, and Salmonella typhi at a concentration of 500 mg/mL have inhibitory power, 9.2 mm, 9.6 mm, and 8.8 mm in the medium category. Positive control chloramphenicol has powerful antibacterial inhibition with an inhibition zone diameter of 28.6 mm.
Siti Maimunah, Rita Marthalena Zega, Alfi Sapitri
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 55-62; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.29

Abstract:
The shampoo is a dosage material used as a hair cleanser and epicarp head, especially the problem of dandruff caused by fungus. Kaffir lime has the content of essential oils, flavonoids and tannins are efficacious as an antifungal. The purpose of this study was to test the shampoo of kaffir lime and to know its inhibitory power to growth of Microsporum gypseum fungus. The type of this research is experiment with using agar diffusion method. Samples studied were epicarp juice of lime and mesocarp of kaffir lime with concentration respectively 10%, 20%, 30%, 40%, 50%. Shampoo dosage evaluation tests include inhibitory test, organoleptic test, pH test, high foam test and wetting test. The results showed that the lime mesocarp juice had inhibitory at 10% (13,09 mm) concentration, 20% (14,9 mm) concentration, 30% (18,52 mm) concentration, 40% concentration (20,86 mm ) and a concentration of 50% (22.53 mm). While the results of epicarp water of lime juice have a weak inhibitory power with a concentration of 10% (5,66 mm), Concentration of 20% (7,09 mm), concentration of 30% (8,09 mm), concentration of 40% (10,19), and concentration of 50% (11,36). Effective concentration on the preparation of shampoo preparations is the concentration of 20% and 30% of the lime juice mesocarp juice. The results of the evaluation test of two anti-dandruff shampoo formulations meet the requirements of a good shampoo and have respective inhabitants of F1 (20%) has a resistance of 14,54 mm and F2 (30%) has a resistance of 19,12 mm. Both dosage preparations are anti-dandruff.
Rahma Yulia, Rika Putri, Rino Wahyudi
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 2, pp 43-48; doi:10.36490/journal-jps.com.v2i2.25

Abstract:
Telah dilakukan Studi Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan Antibiotik Di Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi. Kurangnya pengetahuan terkait penggunaan antibiotik dapat menyebabkan ketidaktepatan akan penggunaan antibiotik itu sendiri. Ketidaktepatan ini dapat menimbulkan permasalahan kesehatan berupa resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan antibiotik. Alat pengumpul data menggunakan kuesioner dengan metode deskriptif dan cara pengambilan responden dengan teknik Accidental Sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 orang dengan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Data dianalisi dengan menggunakan program komputer. Berdasarkan hasil data penelitian tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa 17 orang (17%) responden memiliki pengetahuan yang kurang, 60 orang (60%) responden memiliki pengetahuan cukup dan sebanyak 23 orang (23%) memiliki pengetahuan baik. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan antibiotik berada dalam kategori cukup. Dengan demikian peningkatan pengetahuan terhadap penggunaan antibiotik perlu lebih ditingkatkan, salah satunya adalah meningkatkan peran petugas kesehatan terutama apoteker untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dengan cara komunikasi, memberikan informasi dan edukasi (KIE) terhadap penggunaan antibiotik.
Back to Top Top