Journal of Pharmaceutical And Sciences

Journal Information
EISSN : 2656-3088
Published by: Universitas Tjut Nyak Dhien (10.36490)
Total articles ≅ 63
Filter:

Latest articles in this journal

Ovalina Sylvia Br. Ginting, Putri Rahmah
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 5, pp 12-20; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v5i1.73

Abstract:
Daun lidah buaya (Aloe vera (L) Burm.F.) dan daun sirihl (Piper betle L.) merupakan tanaman alam yang mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. Kandungan antrakuinonnya memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis bakteri penyebab jerawat. Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan ekstrak lidah buaya dan daun sirih diaplikasikan dalam bentuk sediaan gel dengan menggunakan variasi konsentrasi geliing agent CMC-Na 2,5%, 2%, 3% dan 5%. Penelitian ini bersifat eksperimental murni bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi zat aktif terhadap sifat fisik gel antijerawat. Ekstraksi daun lidah buaya dan daun sirih dilakukan dengan menggunakan metode maserasi menggunakan etanol 80%. Gel dibuat dalam lima formula dengan menggunakan konsentrasi zat aktif yang berbeda. Evaluasi yang dilakukan terhadap stabilitas fisika dan kimia gel antara lain (organoleptis, pH, homogenitas dan daya sebar) selama 21 hari. Uji stabilitas dilakukan pada suhu ruangan 27±20C selama 21 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing formula sediaan gel dengan kombinasi ekstrak lidah buaya dan daun sirih dikatakan kurang stabil pada suhu ruang dikarenakan terjadi kenaikan pada parameter uji daya sebar tanpa mempengaruhi perubahan pH.
Salman Salman, Meutia Indriana
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 5, pp 1-11; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v5i1.90

Abstract:
Grapes (Vitis vinifera L.) belong to the family Vitaceae. The color of the fruit varies. There are red, green and purple. The color of this wine contains anthocyanin dyes that can be used as natural dyes to replace synthetic dyes, the colors they contain are pretty intensive, so the researchers aimed to make lipstick formulations using natural dyes from grape skins. The lipstick formulation consisted of Cera alba, lanolin, vaseline alba, cetyl alcohol, oleum ricini, carnauba wax, propylene glycol, titanium dioxide, oleum rosae, butylhydroxytoluene, tween 80, and nipagin, as well as the addition of grape skin extract with a concentration of 15 %, 20%, 25%, 30%, and 35%. Tests on the preparations made include inspection of homogeneity, melting point, lipstick strength, stability test against changes in shape, color, and odor during 30 days of storage at room temperature, smear test, pH examination, and irritation test preference test (Hedonic test). From the research results, grape skin extract can be formulated into lipstick preparations with pink to dark red colors. Lipstick preparations with grape skin extract as a dye are pretty stable, homogeneous, melting point 59°C, have good lipstick strength, pH ranges from 3.7 to 3.9 (close to the pH of the lip skin) are easy to apply with an even color, and do not irritate. Irritation the preparation preferred by 30 panelists was preparation with a concentration of 25%.
Vriezka Mierza, M. Pandapotan Nasution, Dwi Suryanto
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 60-68; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i2.74

Abstract:
Kekebalan bakteri terhadap antibiotik menyebabkan angka kematian semakin meningkat. Dalam menghadapi masalah tersebut, dilakukan penelitian-penelitian, salah satunya dengan memanfaatkan bahan-bahan obat alam seperti umbi bawang sabrang (Eleutherine palmifolia Merr.) famili Iridaceae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi sisa dari ekstrak etanol umbi bawang sabrang (Eleutherine palmifolia Merr.) terhadap bakteri gram positif dan bakteri gram negatif serta mengetahui golongan senyawa kimianya. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol dan dilanjutkan dengan fraksinasi secara berturut-turut menggunakan pelarut n-heksan dan etilasetat, sehingga diperoleh fraksi sisa. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro dengan metode difusi agar menggunakan pencadang logam pada konsentrasi 20 mg/ml, 10 mg/ml dan 5 mg/ml terhadap bakteri gram positif (Bacillus pumilus ATCC 7061, Bacillus subtilis ATCC 6633, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) ATCC 25923, Micrococcus luteus ATCC 9341, Propionibacterium acne ATCC 6918, Staphylococcus aureus ATCC 29737, Staphylococcus epidermidis ATCC 12228) dan bakteri gram negatif (Klebsiella pneumoniae ATCC 10031, Escherichia coli ATCC 10536, Salmonella thypi ATCC 29213). Analisis golongan senyawa kimia fraksi sisa dilakukan dengan teknik skrining fitokimia. Fraksi sisa dari ekstrak etanol umbi bawang sabrang memiliki aktivitas antibakteri pada seluruh bakteri uji. Golongan senyawa kimia yang terdapat pada fraksi sisa ekstrak etanol umbi bawang sabrang adalah alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, antrakuinon glikosida, tanin, triterpenoid, steroid.
Salman Salman, Meutia Indriana
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 69-73; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i2.75

Abstract:
Secara tradisional bunga kecombrang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, di antaranya masuk angin, sakit telinga, pembersih darah, mengobati luka yang bernanah dan menghilangkan bau badan. Penyakit telinga, luka bernanah dan bau badan ada kemungkinan disebabkan oleh berbagai bakteri, sehingga ada kemungkinan bunga kecombrang yang telah digunakan secara tradisional untuk mengobati penyakit ini dikarenakan mempunyai aktivitas sebagai anti bakteri balk terhadap Gram positif maupun Gram negatif, sehingga perlu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk memastikan adanya aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini meliputi pengumpulan bunga kecombrang, identifikasi tumbuhan, pembuatan simplisia, fitokimia, pembuatan ekstrak bunga kecombrang secara perkolasi dengan penyari etanol 96%, dan pengujian aktivitas antibakteri secara in vitro dengan metode difusi dengan cetak lubang (punch hole) pada medium Mueller Hinton Agar, clan digunakan Ampisilin sulfat 20 µg/ml sebagai kontrol terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa. Skrining fitokimia menunjukkan adanya golongan senyawa yang sama yaitu alkaloid, flavonoida, steroida, glikosida dan minyak atsiri. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol bunga kecombrang yang sangat balk terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Escherichia coli, dan kurang balk terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa.
Meutia Indriana, Salman Salman
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 74-80; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i2.76

Abstract:
Recently, there have been hundreds of lip color cosmetics on the market in various colors. However, not all lip colors are safe to use. Without realizing it, there are lip dyes that contain dyes that are dangerous and are prohibited because they can cause irritation to the skin and respiratory tract. Therefore, it is better to use natural dyes. One of the sources of natural dyes is the fruit of kesumba. Extracts from simplicia of kesumba seeds were made by percolation using 96% ethanol as a solvent. The lipstick formulation formula consists of Cera alba, vaseline alba, lanolin, carnauba wax, cetyl alcohol, oleum ricini, propylene glycol, titanium dioxide, butylhydroxytoluene, tween 80, rose oil (oleum rosae), and nipagin, as well as the addition of kesumba seed extract with concentrations of 15%, 17.5%, 20%, 22.5%, and 25%. Tests on the preparations made included examination of the melting point, homogeneity, lipstick strength, stability test against changes in shape, color, and odor during 30 days of storage at room temperature, smear test, and pH examination, and irritation test preference test (Hedonic test). The results of the research that the extract of the kesumba fruit seed can be formulated in lipstick preparations with a light yellow to dark maroon color. The formulation of the kesumba seed extract in the lipstick preparation shows that the preparation is relatively stable homogeneous, the melting point is 58°C, has a good lipstick strength, the pH ranges from 6.3 to 5.7 (according to the pH of the skin) easy to apply with an even color. , does not irritate, so it is safe to use; the pretty preferred preparations are preparations 2, 3, and 4, namely the formula with extracts of kesumba seeds with concentrations of 17.5%, 20%, and 22.5%.
Robiatun Rambe, Ratih Paramitha, Ernawaty Ginting, Mita Yusmira Lestari Caniago
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 111-116; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v5i1.56

Abstract:
Daun saga (abrus precatorius Linn) memiliki kandungan flavonoid, tanin, triterpenoid yang mampu memberikan efek antibakteri.Penelitian ini bertujuan untuk membuat salep dari ekstrak daun saga (abrus precatorius Linn) dan uji efektivitas sediaan salep terhadap pengobatan luka pada kulit kelinci. Pembuatan salep ekstrak daun saga yang telah memenuhi syarat dan diujikan pada hewan uji kelinci sebanyak 5 ekor dengan perlakuan, dasar salep berlemak (kontrol negatif), gentamicin salep (kontrol positif), ekstrak daun saga 10%, 20% dan 30%. Semua kelinci disayat sepanjang 1,5cm dan diberikan sediaan salep ekstrak daun saga sebanyak 0,2 mL. Luka diolesi tiga kali sehari dengan salep yang diuji.Pengamatan luka dilakukan setiap hari selama 8 hari.Hasil penelitian menunjukkan formulasi salep ekstrak daun saga memenuhi persyaratan uji salep menurut Farmakope Indonesia edisi III.Luka sayat yang dioleskan salep ekstrak daun saga mengalami penyempitan luka, membentuk keropeng dan menutup luka mulai hari ke 3.
Reqgi First Trasia
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 101-104; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i2.65

Abstract:
Protozoal infections are still reported to be widespread in several regions around the world, especially in areas with subtropical and tropical climates, where the environment is poor in hygiene. This disease is endemic in several areas in Indonesia, both on the island of Java and outside, especially in rural areas. So far, the treatment of protozoal infections still relies on nitroimidazole antibiotics. However, there are a number of reports of resistance and treatment failure with these antibiotics. In Indonesia, there are still few articles that discuss the treatment of parasitic infections. The purpose of writing this article is to review the therapeutic options that can be used in the management of protozoal infections in Indonesia. From this review, it can be concluded that in addition to the nitroimidazole group, clefamide, amphotericin-B, oxytetracycline, trimetoprim-sulfametoxazole, paramomycin, and nitazoxanide can also be used as alternative treatments.
R. S. A Syarifah Nurul Yanti, Veren Evelyn Chandra, Vanesa - -
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 105-110; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i2.66

Abstract:
Jeruk sambal (Citrus microcarpa Bunge) merupakan tanaman yang dikenal luas oleh masyarakat Kalimantan Barat yang berpotensi mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kandung senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam air perasan buah jeruk sambal dari Desa Kalimas, Kalimantan Barat. Penelitian diawali dengan pembuatan air perasan jeruk sambal dilakukan dengan mencuci buah jeruk sambal dibawah air mengalir dan dikeringkan. Kemudian buah jeruk sambal dipotong menjadi dua bagian, diperas secara manual menggunakan tangan yang telah memakai sarung tangan steril, dan disaring sebanyak dua kali menggunakan penyaring plastik serta kertas saring steril ke dalam botol kaca. Skrining fitokimia air perasan jeruk sambal dilakukan secara kualitatif. Hasil skrining fitokimia menunjukkan air perasan jeruk sambal mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan saponin Kandungan metabolit sekunder terbanyak pada air perasan jeruk sambal adalah saponin (+++). Sedangkan pengujian steroid dan terpenoid didapati hasil negatif. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa air perasan jeruk sambal mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan saponin.
Desy Natalia Siahaan, Salmah Handayani Lubis, Muflihah Fujiko, Ernawaty Ginting, Pian Alatas Purba
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 81-92; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i2.78

Abstract:
The more incessantly the motto "back to nature" various types of plants in Indonesia are used by the community as traditional medicine. Kecibeling plants, salam and meniran herbs are one of the traditional medicinal ingredients that are often used. The potential development of the combination of kecibeling leaves, bay leaves and meniran herbs was chosen as a tea bag preparation because it is simple, cheap, and practical. The purpose of this study was to formulate a combination of kecibeling leaves, salam and meniran herbs as an antioxidant. This research was conducted by collecting fresh leaves of the kecibeling plant, salam and meniran herbs from Pematangsiantar, then used as simplicia and then formulated in teabags with varying weights. Then the formula is tested for characteristics which include water content test, pH test of the preparation, organoleptic test including hedonic test and antioxidant activity test.The results of testing the water content in each formula are 3.72%; 5.07% and 6.81%. The results of the pH test of teabag preparations from each formula were 6.7-7.Based on the results of the Hedonic test, Formula II with a weight of 0.95g was preferred by the panelists, so it was continued to be tested for activity as an antioxidant. The results of the antioxidant activity test showed that in Formula II (0.95 g) has antioxidant activity with the category "Medium".
Vina Anggina Hutasuhut
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 53-55; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i2.67

Abstract:
Percut sei tuan merupakan kecamatan dengan kejadian demam berdarah tertinggi di kabupaten Deli serdang pada tahun 2020. Lingkungan memiliki peranan penting sebagai faktor yang menyebabkan kejadian demam berdarah (WHO, 2009). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui upaya pencegahan demam berdarah melalui keberadaan larva jentik pada kontainer air dan upaya pemberantasan sarang nyamuk di kelurahan percut kecamatan percut sei tuan. Penelitian ini berjenis deskriptif. Sampel penelitian sebanyak 109 responden yang diambil berdasarkan teknik simple random sampling. Melalui hasil penelitian ini diketahui ditemukan larva jentik di 88 rumah responden. Untuk pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk dinilai belum dilaksanakan dengan aktif oleh responden. Disarankan kepada responden untuk menggalakkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Pada penelitian berikutnya disarankan melihat korelasi pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk dan keberadaan larva jentik.
Back to Top Top