Journal of Pharmaceutical And Sciences

Journal Information
EISSN : 2656-3088
Published by: Universitas Tjut Nyak Dhien (10.36490)
Total articles ≅ 43
Filter:

Latest articles in this journal

Salmah Handayani Lubis, Muharni Saputri, Nikmatul Hasanah
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 41-52; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i2.64

Abstract:
Teh kombucha merupakan tinggi antioksidan dan mampu membantu menurunkan kadar trigliserida dengan cara meningkatkan aktivitas enzim lipoprotein lipase yang dapat bekerja memecah trigliserida. Studi sebelumnya mengatakan bahwa daun jati belanda (Guazuma ukmifolia, Lamrk) mampu menurunkan kadar lipid darah karena kandungan tanin dan mucilago yang mampu mengurangi absorpsi lemak. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui efek pemberian teh kombucha daun jati belanda mampu menurunkan angka trigliserida (TGD) darah tikus putih jantan. Metode penelitian ini berupa eksperimental meliputi pengumpulan bahan, pembuatan simplisia, skrining fitokimia, fermentasi kombucha daun jati belanda, evaluasi mutu sediaan, pengujian kadar trigliserida pada tikus dengan teknik Elektrode-Based Biosensor. Penelitian ini dibagi menjadi 5 (lima) kelompok yaitu: P1; P2; P3, P4 dan P5, pemberian obat dan dilakukan secara oral kepada 25 ekor tikus yang telah diinduksi menggunakan kuning telur 80% dan propiniltiourasil (PTU 0,2%). Penelitian ini dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol positif simvastatin 0,025% diberikan sebanyak 1,44 ml (P1); kontrol negatif kombucha tanpa sampel (blanko) diberikan sebanyak 3,6 ml (P2); kelompok perlakuan teh kombucha daun jati belanda berturut-turut 100 ml/gBB diberikan sebanyak 1,8 ml (P3); 150 ml/gBB diberikan sebanyak 2,7 ml (P4); 200 ml/gBB diberikan sebanyak 3,6 ml (P5). Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok perlakuan 200 ml (P5) pada hari ke-7 sampai hari ke-15 terjadi penurunan angka TGD dari 246,8 mg/dL menjadi 93 ml/dL dengan persentase penurunan trigliserida diperoleh 37,68%, dimana hasil ini mendekati angka kontrol positif (P1) dari 238,6 mg/dL menjadi 84 mg/dL dengan persentase penurunan trigliserida diperoleh 35,20%. Pada pengujian kadar trigliserida pada kelompok percobaan, didapatkan hasil yang berbeda pada tiap kelompok percobaan. Hasil pengujian kadar trigliserida yang di dapatkan, selanjutnya dilakukan uji statistika berupa non parametrik dengan menggunakan metode khurskal wallis, dari hasil pengujian didapatkan hasil p=0.098 (p=0,05) yang menunjukan bahwa data terdistribusi secara normal
Yenni Sri Wahyuni, Yopi Rikmasari, Rizka Maulidiah
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 21-28; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i1.60

Abstract:
Edible film strips merupakan lapisan tipis oral yang mudah saja diletakkan di lidah atau jaringan mukosa mulut yang akan langsung basah karena air liur kemudian akan cepat terdisintegrasi dan larut. Jus herbal kombinasi digunakan sebagai zat aktif yang dibuat menjadi bentuk sediaan padatan untuk meningkatkan masa simpan dari jus. Edible film strips membutuhkan polimer pembentuk film salah satunya yaitu pati kentang (Solanum tuberosum L). Edible film strips dari pati mempunyai kelemahan mudah sobek sehingga perlu penambahan plasticizer yaitu sorbitol. Variasi konsentrasi sorbitol yang digunakan yaitu 0,4%, 0,7%, dan 1%. Dilakukan evaluasi organoleptis, kerapuhan, susut pengeringan, pH, dan disintegrasi. Hasil penelitian edible film strips jus herbal kombinasi menggunakan variasi konsentrasi sorbitol sebagai plasticizer memberikan hasil dapat dibuat menjadi sediaan edible film strips serta pati kentang dapat dijadikan polimer dalam pembuatan edible film strips jus herbal kombinasi
Reqgi First Trasia
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 29-33; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i1.61

Abstract:
Malaria is still a health problem in Indonesia. Treatment of malaria often encounters obstacles. Resistance to various malaria drugs in some areas causes an increase in morbidity and mortality due to malaria. Rational use of malaria drugs that are still effective and available is important. Therefore, this article will review the use of combination therapy in the treatment of malaria in Indonesia. The purpose of using combination therapy is to increase the efficacy of treatment and slow down the occurrence of resistance to each component in the drug. From this article, it can be concluded that artemisinin-based combinations using artemisinin derivatives are still effective for use as combination therapy against malaria. This combination can be a fixed combination or co-administered. The drugs that can be combined are 4-aminoquinoline, antifolate, 4-quinoline-methanol, artemisinin and its derivatives, antibiotics, and atovaquone-proguanil. It is hoped that the combination of these drugs can still be used for a long period of time, remain safe, effective and affordable by the community.
Salman Salman, Muharni Saputri, Ika Mustika
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 12-20; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i1.57

Abstract:
Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman yang disebabkan oleh rangsangan yang kuat atau merusak, jika dibiarkan dapat mempengaruhi rutinitas sehari-hari. Nyeri dapat ditangani dengan analgetika. Salah satu tumbuhan yang diduga mempunyai efek analgetik adalah daun mahkota dewa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek analgesik dan dosis dari ekstrak etanol daun mahkota dewa, serta untuk mengetahui keefektifan Ekstrak Etanol Daun Mahkota Dewa sebagai analgesik dengan metode geliat. Penelitian dimulai dengan pengumpulan dan pengolahan daun mahkota dewa menjadi ekstrak etanol menggunakan metode maserasi, kemudian penelitian dilanjutkan dengan pengujian aktivitas analgesik secara in vivo pada 25 ekor mencit yang telah di induksi nyeri menggunakan asam asetat 1%. Mencit yang telah diinduksi tersebut dibagi menjadi lima kelompok perlakuan, dimana kelompok pertama sebagai kontrol negatif diberikan CMC 0,5%, pada kelompok kedua sebagai kontrol positif diberikan asam mefenamat 500 mg, sedangkan pada kelompok ketiga, keempat dan kelima yang merupakan kelompok perlakuan ekstrak, diberikan ektrak etanol daun mahkota dewa dengan dosis berturut-turut sebesar 0,25 g/kgBB; 0,50 g/kgBB; 0,75 g/kgBB. Parameter pengukuran efektivitas dari ekstrak yang digunakan dalam penelitian ini meliputi jumlah geliat, persentase daya analgesik dan persentase efektivitas analgesik. Hasil penelitian menunjukkan kelompok kontrol positif memiliki persentase daya analgesik yang tertinggi dengan jumlah 59,9%. Pada EEDMD 0,75 g/kg BB memperoleh 55,5%. EEDMD dosis 0,25 g/kg BB memperoleh 46,33%. dan EEDMD dosis 0,50 g/kg BB jumlah 55,06%. Hasil persen efektivitas menunjukkan pada EEDMD 0,75 g/kgBB mempunyai persen efektivitas tertinggi yaitu 92,65%, sedangkan pada EEDMD 0,25 g/kg BB yaitu 77,29% dan pada EEDMD 0,50 g/kg BB yaitu 91,91%. Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan ANOVA didapatkan hasil ekstrak etanol daun mahkota dewa dosis 0,75 g/kg BB mempunyai aktivitas analgesik mendekati asam mefenamat 500 mg.
Misrahanum Misrahanum, Syarifah Dhea Almunawwarah, Hira Helwati, Hilda Maysarah, Sadli Sadli
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 4, pp 1-11; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v4i1.58

Abstract:
Jangjingki (Oxalis corniculata L.) is a plant from Oxalidaceae that has potential as a natural antimicrobial agent. The purpose of this research is to see the antimicrobial activity of methanol extract of jangjingki against the growth of Staphylococcus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 25922, and Candida albicans ATCC 10231. The thick extract of jangjingki was obtained by the maceration method with methanol solvent. At the same time, the antimicrobial activity test on S. aureus and E. Coli bacteria was carried out using the hole diffusion method. The simplicia characterization showed 7.17% water, 9.68% of total ash, 11.67% water-soluble extract, and 9.17% of the ethanol-soluble section. At the same time, the methanol extract of jangjingki characterization showed 22.5% of water, 10.16% of total ash, 55.83% water-soluble extract, and 62.91% of the ethanol-soluble section. Phytochemical test results showed that the methanol extract of jangjingki contains alkaloids, saponins, flavonoids, tannins, and steroids. The results of the antimicrobial activity test with variations in the concentration of jangjingki methanol extract 15, 20, 30, and 40% on S. aureus and E. Coli bacteria showed growth inhibition activity of these two bacteria, the largest diameter of the inhibition zone was formed when the extract was given a concentration of 40% with a diameter of the area. Resistance of 8,07 mm and 11 mm, respectively. Meanwhile, the test results of inhibition of growth of the fungus C. Albicans by presenting variations in the concentration of jangjingki methanol extract of 5, 10, 15, and 20% could not inhibit the growth fungus C. Albicans.
Athaillah Athaillah, Ugi Diana Lestari
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 93-99; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v3i2.51

Abstract:
This research is aimed to find out the extract activity dried simplisia of garlic (Allium sativum L.) as an antibacterial which is capable to inhibiting growth of Bacillus cereus bacterium, to find out the alkaloid secondary of metabolites, flavonoid, tannin and saponin that contained in dried extract of garlic and to find out a concentration that has the most antibacterial activity which is capable to inhibiting growth of Bacillus cereus bacterium. Garlic was extracted by maceration method using a solvent ethanol 96%. After the extract obtaned, then phtochemical screening and standardization test. Thickening technique by evaporation used vacum rotary evaporator until thick extarct was obtained. Antibacterial activity thest by using disk diffusion method. This research was used seven concentrations which were 20% (b/v), 30% (b/v). 40% (b/v), 50% (b/v), 60% (b/v), 80% (b/v)and100% (b/v). The result of phytochemical screening test, ethanol extract garlic (Allium sativum L.) positive contained compound alkaloid, flavonoid, saponin and tannin. Standardization of power simplisia fulfill the requirements set by Depkes RI 2000. The result of activity test of optimum antibacterial was obtained inhibitory power with the number 27 mm on 40% (b/v) concentration. This proves that garlic (Allium sativum L.) have antibacterial affects against Bacillus cereus bacterium
Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, Salman Sulaiman
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 64-76; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v3i2.44

Abstract:
Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang sangat popular. Sediaan tablet dapat dibuat dengan berbagai cara, diantaranya dengan metode kempa langsung, granulasi basah, granulasi kering, fast melt granulation, dan foam granulation. Masing-masing metode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Metode kempa langsung memiliki kelebihan pada prosesnya yang cepat yaitu hanya membutuhkan proses pencampuran dan pengempaan. Tidak semua bahan aktif dapat langsung dikempa karena memiliki kelemahan pada sifat alirnya yang jelek dan tidak kompresibel. Proses kempa langsung memerlukan bahan tambahan atau eksipien yang disebut filler-binder. Artikel review ini akan mendiskusikan tentang perkembangan eksipien untuk pembuatan tablet secara kempa langsung. Saat ini banyak eksipien kempa langsung yang ditawarkan di pasar, dengan berbagai keunggulannya. Eksipien tersebut merupakan material co-processed yang dikembangkan dari material asal yang tidak dapat digunakan untuk eksipien kempa langsung. Berbagai co-processing yang dilakukan pada akhir akan menghasilkan material baru yang memiliki sifat-sifat yang lebih baik. Dengan tersedianya berbagai jenis eksipien kempa langsung, maka formulator memiliki pilihan yang beragam untuk diaplikasikan dalam formula yang dirancang. Hal ini akan memberikan keleluasaan dalam memilih eksipien untuk diaplikasikan pada berbagai zat aktif sehingga akan menghasilkan sediaan yang bermutu.
Fauziah Fauziah, Adyani Maulinda, Azmalina Adriani
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 77-84; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v3i2.47

Abstract:
Salah satu sediaan kosmetika yang telah menjadi kosmetika utama bagi para wanita adalah lipstik. Lipstik yang digunakan harus terbebas dari cemaran terutama cemaran logam berat seperti timbal (Pb). Persyaratan kandungan cemaran logam berat timbal (Pb) dalam kosmetik menurut BPOM RI Nomor Hk.03.1.23.07.11.6662 Tahun 2011, tidak melebihi nilai ambang batas sebesar 20 mg/kg atau 20 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam berat timbal (Pb) dalam sediaan lipstik yang beredar di Kota Banda Aceh secara spektrofotometri serapan atom. Populasi dalam penelitian ini yaitu sampel lipstik yang dijual dikota Banda Aceh, pengambilan sampel lipstik dilakukan dengan metode random sampling, sebanyak lima sampel lipstik. Hasil penelitian diperoleh kadar timbal bertutut-turut pada sampel kode sampel 1 yaitu 6,83 mg/kg, sampel 2 yaitu 0,12 mg/kg, sampel 3 yaitu 0,72 mg/kg, sampel 4 yaitu 2,99 mg/kg dan sampel 5 yaitu 1,2 mg/kg. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari lima sampel lipstik keseluruhannya memenuhi persyaratan, nilai ambang batas cemaran logam berat timbal (Pb) dalam sampel masih dibawah 20 mg/kg atau 20 ppm.
Yuska Noviyanty Noviyanty, Herlina Herlina, Cahyan Fazihkun
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 100-105; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v3i2.52

Abstract:
Biduri plants (Calotropis gigantea L) are used as medicinal plants, namely as cough and anti-allergic medicines. Research conducted by (Suchita Siggn. 2014) shows the presence of glycoside compounds, saponins, alkaloids, flavonoids, and tannins. then the researchers are interested in carrying out research on the identification and determination of saponin levels from the extract of the baby root (Calotropis gigantea L) by the Gravimetri method. Qualitative test was carried out by inserting 500 mg of biduri root extract (Calotropis gigantea L) into a test tube, then adding 10 ml of hot water, shaking vigorously for 10 seconds and adding HCL, then a quantitative test was carried out using the gravimetric method. Based on the results of research that has been carried out the extract of the betel root (Calotropis gigante L) positive containing saponin compounds with saponin content is 2.6% with a weight of 1.16 gram saponins using the gravimetric method
Reqgi First Trasia
Journal of Pharmaceutical And Sciences, Volume 3, pp 58-63; https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v3i2.41

Abstract:
Skabies merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Pada tahun 2017, WHO memasukkan skabies ke dalam daftar neglected tropical disease. Pengobatan skabies saat ini masih mengalami kendala karena kesalahan pemilihan obat. Sulitnya penegakan diagnosis skabies menyebabkan obat yang diresepkan pun tidak tepat. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membahas jenis-jenis skabisida yang dapat digunakan serta meninjau kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Skabies dapat diobati dengan skabisida, seperti sulfur presipitatum, gama benzen heksaklorida, benzil benzoat, krotamiton, permetrin, ivermektin, dan terapi herbal. Dari beberapa skabisida tersebut, permetrin adalah obat yang paling banyak digunakan karena efikasinya yang lebih tinggi. Artikel ini diharapkan dapat menjadi acuan para klinisi dalam memilih skabisida yang tepat bagi penderita.
Back to Top Top