Jurnal Agritechno

Journal Information
ISSN / EISSN : 1979-7362 / 2656-2413
Current Publisher: Hasanuddin University, Faculty of Law (10.20956)
Total articles ≅ 42
Filter:

Latest articles in this journal

Miftahul Jannah, Junaedi Muhidong, Mursalim Mursalim
Jurnal Agritechno pp 34-41; doi:10.20956/at.v13i1.251

Abstract:
Cengkeh (Syzygium aromaticum), termasuk dalam famili Myrtaceae dan merupakan salah satu tanaman rempah asli Indonesia yang berasal dari Kepulauan Maluku. Penanganan pasca panen cengkeh di tingkat petani masih dilakukan dengan cara manual, salah satunya pemisahan bunga dari tangkainya yang masih menggunakan tangan. Bunga dan tangkai cengkeh perlu dipisahkan karena mempunyai harga dan mutu yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya lekat bunga cengkeh terhadap tangkainya dan karateristik fisik (dimensi, berat dan kadar air) bunga cengkeh pada varietas Zanzibar, Si-Putih dan Si-Kotok. Daya lekat dimaksudkan sebagai gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan bunga cengkeh dari tangkainya agar dapat menjadi acuan dan referensi dasar dalam perancangan alat pemisah bunga cengkeh dari tangkainya atau alat processing lainnya. Penelitian ini menggunakan sampel bunga cengkeh varietas Zanzibar, Si-Putih dan Si-Kotok berdasarkan warna bunga (tingkat kematangan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daya lekat yang diperoleh bunga cengkeh varietas Si-Kotok sebesar 0.22 kg, varietas Zanzibar sebesar 0.17 kg dan varietas Si-Putih sebesar 0.15 kg. Dari sisi warna, daya lekat bunga cengkeh warna merah sebesar 0.22 kg, warna merah hijau sebesar 0.17 kg dan warna hijau sebesar 0.16 kg. Daya lekat bunga cengkeh tidak memiliki korelasi yang konsisten dengan parameter sifat fisik bunga cengkeh.
Kaslam Kaslam, Salengke Salengke, Helmi A. Koto
Jurnal Agritechno pp 16-23; doi:10.20956/at.v13i1.228

Abstract:
Produksi jagung di Indonesia cukup tinggi, yaitu 18.364.430 ton dengan total luas panen 4.131.676 ha dan produktivitas sebesar 41,18% (BPS, 2010). Salah satu jenis jagung yang potensial dan banyak dikembangkan adalah jagung pulut. Jenis jagung ini sangat cocok dalam pembuatan emping jagung karena memiliki kandungan amilopektin tinggi (>80%). Emping jagung pulut banyak diproduksi oleh industri skala kecil hingga menengah sebagai produk makanan ringan. Permasalahan yang kemudian terjadi adalah penanganan pasca produksi, emping jagung memiliki kemampuan penyerapan air yang tinggi sehingga saat digoreng, tidak mekar dengan sempurna sehingga kurang enak dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji persamaan sorpsi isotermi emping jagung yang memberikan perkiraan kadar air keseimbangan yang paling mendekati kadar air keseimbangan terukur. Dengan menggunakan suhu 25˚C, 30˚C dan 35˚C dengan kombinasi RH 40%, 60% dan 80%, penelitian ini menunjukkan bahwa Persamaan Henderson memberikan perkiraan perilaku sorpsi isotermi emping jagung pulut yaitu pada kondisi suhu 30˚C lebih mendekati hasil percobaan dan juga pada suhu 35˚C. Sedangkan Persamaan Chung & Pfost paling baik menggambarkan perilaku sorpsi isotermi pada suhu 25˚C. Selain itu, Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kerapuhan (daya patah) emping jagung pulut pada berbagai beberapa kondisi penyimpanan. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi RH lingkungan maka Nilai daya patah semakin tinggi pula. Kata kunci : Kadar air keseimbangan, Sorpsi isotermi, emping jagung pulut.
Ansar Ansar, Diah Ajeng Setiawati, Murad Murad, Baiq Sulasi Muliani
Jurnal Agritechno pp 1-7; doi:10.20956/at.v13i1.227

Abstract:
Briket merupakan salah satu biomassa bahan bakar alternatif sebagai pengganti energi fosil. Untuk menghasilkan briket yang berkualitas tinggi dibutuhkan alat cetak yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perlakuan yang terbaik pada pembuatan briket dari tempurung kelapa. Pembuatan briket dilakukan dengan menggunakan 4 variasi pemompaan, yaitu 4, 6, 8, dan 12 kali. Parameter yang diamati adalah kekerasan, persentase kehancuran, kadar air, dan nyala api briket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket tempurung kelapa yang paling baik terdapat pada perlakuan pemompaan 12 kali dengan kekerasan 27,7 kg/cm2, persentase kehancuran 18,50%, kadar air 4,55% dan nyala api 112,61 menit. Sedangkan kualitas paling jelek diperoleh pada pemompaan 4 kali dengan kekerasan 16,5 kg/cm2, persentase kehancuran 43,36%, kadar air 7,92%, dan nyala api 111,34 menit.
Arif Faisol, Budiyono Budiyono, Indarto Indarto, Elida Novita
Jurnal Agritechno pp 8-15; doi:10.20956/at.v13i1.242

Abstract:
Kekeringan merupakan salah satu bencana alam di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa Provinsi Papua Barat memiliki ancaman kekeringan yang sedang hingga tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kekeringan di Provinsi Papua Barat menggunakan data Global Precipitation Measurement (GPM) dan metode Standardized Precipitation Index (SPI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2019 di Papua Barat tidak terjadi kekeringan meteorologis, hanya beberapa wilayah di Kabupaten Kaimana yang agak kering pada SPI bulan Januari – Maret 2019. Secara umum data GPM dan metode SPI memiliki akurasi yang cukup baik dalam menggambarkan tingkat kekeringan meteorologis di Provinsi Papua Barat dibandingkan dengan analisis data hujan dan peta tingkat kekeringan yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sehingga data GPM dan metode SPI dapat digunakan untuk memantau tingkat kekeringan di Provinsi Papua Barat khususnya pada kawasan pertanian.
Muhammad Tahir Sapsal, Samsuar Samsuar
Jurnal Agritechno pp 51-56; doi:10.20956/at.v13i1.249

Abstract:
Kebutuhan jagung mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Peningkatan kebutuhan tersebut tentunya harus dibarengi dengan peningkatan produksi jagung, salah satunya dengan pemenuhan kebutuhan hara tanaman selama pertumbuhan. Perlu pengaplikasian pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman (pemupukan presisi) agar dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. Namun demikian belum tersedianya aplikator pemupukan presisi tanaman jagung menjadi kendala. Penilitan ini diharapkan mampu memberikan desain unit penjatah presisi untuk pupuk granular pada budidaya tanaman jagung. Unit penjatah dibuat menggunakan motor DC 24 V 200 rpm dan dikontrol menggunakan modul Arduino mega. Penjatahan menggunakan rotor dengan volume 26.52 cm3/rotasi. Pengontrolan menggunakan PID. Pupuk yang digunakan adalah pupuk NPK. Hasil pengujian menunjukkan bahwa system dapat mengontrol penjatahan pupuk dengan koefisien determinisasi sebesar 96 %. Dan dapat menjatah pupuk NPK hingga 2 ton/ha.
Owend Paul Letelay, Adriana Hiariej, Anneke Pesik
Jurnal Agritechno pp 24-33; doi:10.20956/at.v13i1.243

Abstract:
Pisang Tongka Langit dengan tandan buah menjulang ke atas memiliki karakter morfologi yang bervariasi diantaranya ukuran buah (panjang dan pendek), warna daging buah (kuning sampai oranye) dan warna kulit pisang yang berbeda (kuning, oranye kekuningan, oranye kemerahan, merah kecoklatan, dan oranye kecoklatan) yang mengindikasikan adanya kandungan beta karoten. Tujuan penelitian untuk menganalisis kandungan beta karoten dan vitamin pada kulit dan daging buah pisang Tongka Langit menggunakan metode High Performance Liquid Chromatography. Hasil analisis kandungan beta karoten tertinggi pada daging buah panjang sebesar 65,33 mg/100 dan terendah pada daging buah pendek 22,31 mg/100g. Vitamin A yang terbanyak terdapat pada kulit buah pendek 2260,63 mg/100g dan kulit buah panjang memiliki nilai yang paling rendah. Nilai kandungan Vitamin B yang tertinggi terdapat pada kulit buah panjang sebesar 0,11 mg/100g dan yang terendah pada daging buah panjang dan kulit buah pendek sebesar 0,09 mg/100g. Vitamin C yang terbanyak terdapat pada daging buah panjang sebesar 28,48 mg/100g, dan yang terendah pada kulit buah panjang 11,99 mg/100g. Vitamin E yang tertinggi terdapat pada kulit buah panjang sebesar 0,41 mg/100g dan yang terendah terdapat pada daging buah pendek sebesar 0,21 mg/100g, sedangkan vitamin D tidak ditemukan pada semua sampel.
Nunik Lestari, Samsuar Samsuar, Ervi Novitasari, Khaidir Rahman
Jurnal Agritechno pp 57-70; doi:10.20956/at.v13i1.250

Abstract:
Jahe merah kaya akan kandungan antioksidan dan bahan aktif, sehingga proses pengeringannya sebaiknya dilakukan dengan menggunakan suhu rendah. Pengeringan jahe merah pada suhu rendah dapat dilakukan dengan menggunakan cabinet dryer yang sumber pemanasnya berasal dari panas terbuang kondensor AC. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji kinerja cabinet dryer dengan sumber pemanas berasal dari panas terbuang kondensor AC, pada pengeringan jahe merah, dan dengan beberapa tingkat beban pengeringan yang berbeda. Pengujian kinerja dilakukan dengan bahan jahe merah sebanyak 600, 900, dan 1200 gram yang kemudian dibagi ke dalam 6 buah rak pengering. Pengamatan dan analisis data meliputi suhu pengeringan, kelembaban udara, kadar air, laju pengeringan, panas yang digunakan untuk meningkatkan suhu bahan, panas yang digunakan untuk menguapkan air bahan, kebutuhan energi untuk proses pengeringan, serta efisiensi energi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cabinet dryer dengan sumber pemanas berasal dari panas terbuang kondensor AC mampu mengeringkan jahe merah hingga mencapai kadar air 9.24-10.71% sesuai dengan standar SNI, dengan waktu pengeringan selama 6.5-8.7 jam. Energi yang terpakai untuk mengeringkan jahe merah berkisar antara 1281.67- 2583.86 kJ. Efisiensi pengeringan yang dicapai dari tiap perlakuan berkisar antara 14.04-21.15%.
Sitti Zulaeha, Sitti Nur Faridah, Mahmud Achmad, Husnul Mubarak
Jurnal Agritechno pp 71-76; doi:10.20956/at.v13i1.255

Abstract:
Sub-DAS Bantimurung merupakan sumber air irigasi bagi masyarakat di sekitarnya dan beberapa tahun terakhir perubahan besarnya debit maksimum dan debit minimum mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi debit aliran dan mengetahui tingkat kevalidan model HEC-HMS (Hydrologic Engineering Center’s Hydrologic Modeling System) dalam memprediksi besarnya debit aliran pada Sub-DAS Bantimurung Kabupaten Maros. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang meliputi pengumpulan data di lapangan seperti : data curah hujan, debit, tekstur tanah dan penggunaan lahan serta karakteristik Sub-DAS Bantimurung. Data dianalisis menggunakan aplikasi HEC-HMS. Aplikasi ini melakukan simulasi empiris menggunakan data curah hujan, kemiringan tanah, penggunaan lahan, karakteristik tanah dan secara umum memprediksi laju debit aliran. Pemodelan HEC-HMS melakukan kalibrasi menggunakan data dari Dinas Pekerjaan Umum dengan data tahun 2006. Proses kalibrasi dan validasi model menggunakan data tahun 2014. Proses kalibrasi dan validasi menunjukkan bahwa data simulasi hasil prediksi mendekati nilai hasil pengukuran dimana nilai R2 dan NSE masing-masing adalah sebesar 0,546 dan 0,595 sedangkan hasil validasi menunjukkan nilai 0,512 dan 0,490. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model HEC-HMS cukup valid digunakan untuk memprediksi debit aliran
Suhardi Suhardi
Jurnal Agritechno pp 42-50; doi:10.20956/at.v13i1.254

Abstract:
Pengambilan airtanah secara berkelanjutan dapat dicapai jika terjadi keseimbangan antara pengambilan dan pengisian airtanah. Kemampuan akuifer dalam pelepasan airtanah yang mempengaruhi pengambilan dan pengisian airtanah tergantung pada karakteristik akuifer. Untuk itu, maka karakteristik suatu akuifer perlu diketahui agar jumlah pengambilan tidak melebihi daripada pengisian airtanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui posisi, ketebalan, jenis, hasil spesifik dan konduktifitas hidraulik akuifer serta mengidentifikasi daerah resapan sebagai sumber pengisian airtanah.dan potensi airtanah. Penelitian dilakukan dengan menginterpolasi data litologi dan pengukuran konduktivitas hidraulik akuifer dengan metode uji pemompaan. Nilai konduktivitas hidraulik diolah dengan menggunakan Solver Add Ins pada Microsoft Excel untuk mendapatkan nilai konduktivitas optimal. Sumber resapan airtanah diprediksi berdasarkan jejaring aliran data kontur muka airtanah dan potensi airtanah dihitung dengan pendekatan Darcy’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konduktivitas hidraulik pada daerah penelitian sebesar 16,13 m/hari, hasil spesifik sebesar 0,32 dengan akuifer berupa pasiran. Berdasarkan jejaring aliran, sumber resapan berasal dari sisi Barat DAS mengalir ke arah timur dengan potensi sebesar 14.517 m3/hari ≈ 168,02 lt/dt.
Andi Azizah, Abdul Waris, Muhammad Tahir Sapsal
Jurnal Agritechno pp 85-93; doi:10.20956/at.v0i0.215

Abstract:
Sistem hidroponik merupakan cara produksi tanaman yang sangat efektif. Pada umumnya pemberian nutrisi pada sistem ini tidak menyesuaikan banyak sedikitnya nutrisi yang dibutuhkan dari masa penanaman hingga waktu pemanenan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan alat ukur nutrisi berbasis fuzzy logic yang dapat digunakan pada sistem hidroponik. Pembuatan program fuzzy logic terdiri dari fuzzifikasi, aplikasi fungsi implikasi dan komposisi aturan, serta defuzzifikasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sensor memenuhi kriteria yaitu tanggapan waktunya cepat, relatif stabil, pengaruh suhu yang relatif kecil, sensitif, linear dengan nilai R2= 0.996, kesalahan pembacaan yang relatif kecil yaitu 7.75%.
Back to Top Top