Jurnal Agritechno

Journal Information
ISSN / EISSN : 1979-7362 / 2656-2413
Published by: Hasanuddin University, Faculty of Law (10.20956)
Total articles ≅ 71
Filter:

Latest articles in this journal

Andi Muhammad Akram Mukhlis, Nurul Fadhilah
Jurnal Agritechno pp 8-17; https://doi.org/10.20956/at.v14i1.412

Abstract:
Untuk mempelajari pengaruh pengeringan terhadap biji lada putih diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang kinetika pengeringan. Kinetika pengeringan bahan dapat dijelaskan melalui model matematika yang biasanya digunakan untuk memperkirakan waktu pengeringan bahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model matematika pengeringan yang tepat untuk pengeringan spouted bed lada putih dengan perlakuan preheating gelombang mikro. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengering spouted bed yang dirancang untuk skala laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa biji lada putih basah yang diperoleh dari perkebunan rakyat di kabupaten Enrekang provinsi Sulawesi Selatan dengan umur kira-kira 8-9 bulan setelah pembungaan. Lada putih langsung dimasukkan ke dalam ruang pengeringan spouted bed untuk perlakuan non-preheating sedangkan untuk perlakuan preheating lada disimpan dalam wadah kemudian dimasukkan ke dalam oven microwave terlebih dahulu selama 2 menit. Selama proses pengeringan, beberapa parameter untuk analisis pengeringan diukur. Terdapat tujuh model matematika pengeringan berbeda yang dievaluasi. Dalam penentuan model matematika yang paling sesuai, diperlukan validasi model melalui metode statistika. Metode statistik yang digunakan adalah analisis korelasi, uji chi-square (χ2) tereduksi dan analisis root mean square error (RMSE). Berdasarkan hasil analisis, model Weibull memenuhi kriteria untuk dijadikan model terbaik dengan koefisien korelasi r (0,99990) adalah yang tertinggi serta dan nilai χ2 (0,00001) serta nilai RMSE (0,00385) adalah yang terendah. Dengan demikian, model Weibull dapat digunakan untuk memprediksi waktu dan kadar air pengeringan.
Sumartini Sumartini, Nirmala Efri Hasibuan, Sellen Gurusmatika
Jurnal Agritechno pp 26-35; https://doi.org/10.20956/at.v14i1.400

Abstract:
Kendala yang sering dihadapi pada pembuatan produk spreads seperti shortening adalah sulitnya menghasilkan produk dengan titik leleh yang diharapkan. Interesterifikasi kimiawi dianggap lebih murah, sederhana, mudah dikontrol, suhu yang digunakan tidak terlampau tinggi sehingga memperkecil kemungkinan terbentuknya asam lemak trans. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik profil thermal dan melting point dari shortening melalui dua modifikasi lipid yang berbeda, blending (NIE) dan interesterifikasi kimiawi (CIE). Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 10 rasio perlakuan untuk mengetahui karakteristik leleh shortening menggunakan DSC (Differential Scanning Calorimetry). Hasil penelitian menunjukkan nilai melting point berada dalam kisaran leleh suhu (40-49°C). Berdasarkan Karakteristik Thermal rasio 90/5/5 (CIE 4) dan 80/10/10 (CIE 3) memiliki 3 dan 4 puncak titik leleh yang yang rendah. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa melting point dan profil thermal interesterifikasi kimiawi lebih rendah jika dibandingkan blending, hal ini membuktikan bahwa intereterifikasi kimiawi mampu menciptakan lemak shortening baru dengan plastisitas tertentu dan memberikan karakteristik leleh sesuai dengan shortening komersial.
Mukmin Mukmin, Junaedi Muhidong, Abdul Azis
Jurnal Agritechno pp 18-25; https://doi.org/10.20956/at.v14i1.399

Abstract:
Tanaman iles-iles (Amorphophallus muelleri) merupakan jenis umbi-umbian dengannilaipotensial ekonomi yang cukuptinggi. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi keakuratan model Page dalam menduga moisture ratio umbi iles-iles (Amorphophallus muelleri)yang berbentuk irisan selama proses pengeringan lapisan tipis. Penelitian dilakukan dengan menggunakan suhu pengeringan 45oC dan 55 oC dengan ketebalan sampel iles-iles 1.0 cm dan 0.5 cm. Kecepatan udara pengeringan digunakan sebesar 1.0 m/s. Parameter pengamatan yang digunakan berat sampel selama proses pengeringan dan waktu pengeringan. Sehingga diperoleh hasil seperti pola penurunan kadar air, pola penurunan moisture rasio, nilai konstanta pengeringan Model Page, dan evaluasi kinerja Model Page yang menggambarkan hubungan antara nilai prediksi dan nilai observasi moisture ratio yg menghasilkan persamaan regresi tanpa intersept dengan nilai R2 yang mendekati 1.0, maka Model Page yang diperoleh dianggap baik dalam melakukan prediksi moisture ratio umbi iles-iles. Adapun nilai R2 yaitu 0.998, nilai Chi-squared yaitu 5.202x10-2 dan nilai RMSE yaitu 0.006. Selisih nilai R2, Chi-squared, dan RMSE antara berbagai penelitian yg dilakukan terdahulu dengan penelitian ini yg relatif sangat kecil mengindikasikan bahwa kinerja Model Page pada penelitian ini juga cukup baik.
Sitti Aisah, Mursalim Mursalim, Samsuar Samsuar
Jurnal Agritechno pp 42-50; https://doi.org/10.20956/at.v14i1.389

Abstract:
Marketing of seaweed is still in the form of dried seaweed, but in fact the quality of the dried seaweedthat is sold by farmers has not met the standards required by the seaweed processing industry. One ofthe efforts that can be made to improve the quality of dried seaweed is by optimizing drying, namelyby adjusting the thickness and reversal frequency. Pile thickness of will determine the length of timedrying is carried out, while the frequency of reversal will determine the spread of heat that occurs inthe seaweed pile. The aim of this study was to determine the drying speed in seaweed Gracilaria spdrying and quality of dried sweaweed. The study was conducted with two treatments, namely pilethickness of 12, 16 and 20 cm and treatment of reversal frequency with an interval of 3 hours, 4 hoursand 5 hours. The parameters observed in this study were a decrease in water content, drying rate, andsensory test. The results showed that the drying of Gracilaria sp seaweed with a thicknessof 12 cm with a reversal frequency of each 3-4 hours is the best treatment in terms of color / brightnessand good texture with a drying rate of 0.462 kg H2O/kg solids hour.
Muhammad Tahir Sapsal, Muhammad Fadlian, Salengke Salengke
Jurnal Agritechno pp 51-56; https://doi.org/10.20956/at.v14i1.415

Abstract:
Alat tanam benih langsung atau yang biasa disingkat ATABELA telah umum digunakan pada budidaya padi di Indonesia. Salah satu masalah yang sering terjadi pada penggunaan alat ini yaitu, tidak konsistennya jumlah benih yang dikeluarkan. Disamping itu benih yang dikeluarkan biasanya lebih dari tiga benih, sehingga dapat menimbulkan persaingan dalam proses pertumbuhannya. Oleh karena itu perlu dikembangkan alat tanam benih langsung yang dosis benihnya presisi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang aplikator alat tanam benih padi langsung dengan penjatuhan benih memanfaatkan tekanan vakum. Tujaun lainnya yaitu mengetahui tekanan yang dapat dihasilkan serta kecepatan maju yang dibutuhkan untuk menghasilkan tekanan vakum yang. Langkah awal dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi tekanan yang dibutuhkan untuk memindahkan benih, kemudian membuat rancangan alat berdasarkan data tekanan tersebut. Pengujian dilakukan menggunakan motor DC sebagai pengganti putaran roda untuk mengetahui kecepatan maju yang dibutuhkan untuk memperoleh tekanan yang dibutuhkan. Kadar air dari benih yang digunakan 22.71 % dan tekanan yang dibutuhkan 97 kPa (4 kPa di bawah tekanan standar atmosfer) kecepatan maju yang dibutuhkan 2.5 m/s sehingga perlu dilakukan modifikasi pada perbandingan pulley roda dan poros penggerak.
Bertha Ollin Paga', Reniana Reniana
Jurnal Agritechno pp 36-41; https://doi.org/10.20956/at.v14i1.409

Abstract:
Ketersediaan air bagi tanaman pertanian sangat fluktuatif yang dipengaruhi oleh musim, lokasi sumber air, serta usaha-usaha konservasi air. Penyediaan air bagi lahan pertanian dapat diusahakan dengan pemberian irigasi, yang dimana dalam pemberian air irigasi pada lahan harus mengetahui laju infiltrasinya agar tidak terjadi run-off. Infiltrasi merupakan bagian yang penting dalam siklus hidrologi maupun dalam proses pengalihragaman hujan menjadi aliran di sungai. Pengukuran laju infiltrasi dilakukan dengan banyak metode salah satunya adalah dengan metode pengukuran langsung yaitu menggunakan Double Ring Infiltrometer dan dengan metode Horton. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui laju infiltrasi yang terjadi di kebun percontohan Fateta Unipa. Metode yang akan digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif. Pengukuran laju infiltrasi di lapangan dilakukan pada 1 (satu) titik dengan 3 (tiga)kali ulangan. Pengolahan data dilakukan dengan 2 (dua) teknik pengolahan, yaitu dengan metode pengolahan data hasil pengukuran lapang secara langsung dan pengolahan data dengan menggunakan Model Horton. Setelah itu dilakukan perbadingan antara hasil pengukuran langsung dengan hasil pengukuran menggunakan model Horton. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh bahwa laju infiltrasi pada lokasi penelitian, baik dengan infiltrasi maupun model horton adalah masing-masing sebesar 39,7 mm/menit dan 21,7 mm/menit. Laju infiltrasi dari dua metode tersebut tidak berbeda siqnifikan.
Nanda Ikhtiar Muti, Dian Purbasari
Jurnal Agritechno pp 1-7; https://doi.org/10.20956/at.v14i1.364

Abstract:
Pengolahan wortel pasca panen di Indonesia masih sebatas diolah menjadi bahan utama sup atau sayur cap cay dan kadang diblender untuk diminum sebagai jus dan saat ini masih ada yang mencoba membuat tepung dari wortel. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu perbandingan wortel dan air serta lama waktu penggilingan. Tahapan pengukuran sifat keteknikan yaitu dimulai dari penyiapan bahan baku, pencucian, pemotongan, pemurnian, kemudian dilakukan pengukuran sifat keteknikan. Sifat keteknikan yang diukur adalah viskositas, total padatan, densitas, warna, dan konduktivitas termal. Perbandingan wortel dan air yang digunakan masing-masing adalah 3: 1 (450 gr: 150 ml), 2: 1 (400 gr: 200 ml), dan 1: 2 (200 gr: 400 ml) untuk lama waktu pemakaian yaitu 150 detik, 210 detik, dan 270 detik. Analisis data menggunakan uji statistik ANOVA dua arah dengan dua faktor yang mempengaruhi yaitu perbandingan wortel dan air serta lama waktu pakai. Nilai viskositas berkisar antara 1697,78 cP hingga 4661,44 cP. Nilai total padatan berkisar antara 3,11% sampai 7,20%. Nilai kepadatan berkisar dari 1,004 g / ml hingga 1,015 g / ml. Nilai indeks warna L berkisar antara 34,33 hingga 42,77. Nilai indeks warna berkisar antara -1,06 hingga 6,44. Nilai indeks warna b berkisar antara 12,65 hingga 26,95. Nilai konduktivitas termal berkisar antara 0,577 W / m.K hingga 0,682 W / m.K. Semakin banyak proporsi wortel dalam larutan haluskan, semakin tinggi nilai viskositas, total padatan, massa jenis, dan indeks warna L, a, dan b. Sedangkan nilai konduktivitas termal tidak berpengaruh terhadap perbandingan wortel dan air. Pada perlakuan waktu pemurnian tidak berpengaruh terhadap nilai total solid, nilai indeks warna L, a, dan b. Namun, hal itu mempengaruhi nilai densitas dan viskositas puree wortel. Semakin lama waktu penggilingan, semakin besar nilai viskositas dan densitasnya.
Irwan T, Junaedi Muhidong, Iqbal
Jurnal Agritechno pp 127-134; https://doi.org/10.20956/at.v13i1.346

Abstract:
Passive drying is a drying mechanism that utilizes sunlight in a drying chamber with natural air flow mechanism. The tool used is direct passive solar box dryer. Direct type passive drying is a drying mechanism in a drying chamber with an air flow mechanism where direct sunlight enters the drying chamber. This study was intended to determine the pattern of decreasing water content and moisture ratio of yum (Dioscorea alata L.) and the appropriate drying model. Passive drying of yum tuber slices is done in two stages. The first drying data is used to determine the most suitable drying model (biggest R2). While the second drying data is used to validate the accuracy of the model predictions obtained. The drying process is carried out by placing the sample at the top, middle, and bottom of the drying chamber. The samples used are two types of yum namely white yum and purple yum with a size of 3x3x1 cm. The models evaluated for compatibility are Newton, Henderson & Pabis, and Page. The results of the analysis show that the Page model with the equation MR = exp (-ktn) is the most suitable model to describe the pattern of decreasing water content and moisture ratio of yum. The values ​​of the Page equation constants are obtained as follows: k = 0.187249, n = 1.17272 and R2 = 0.999403. Keywords: Yum, Drying, Drying Model, Water Content
Anugerah Fitri Amalia, Heni Sp Rahayu, Muchtar
Jurnal Agritechno pp 97-104; https://doi.org/10.20956/at.v13i2.356

Abstract:
One of the efforts to accelerate the achievement of corn self-sufficiency is the efficiency of farming through the use of agricultural machinery. The use of agricultural machinery at the farm level especially in planting and fertilizingis still scarcely done, while the availability of agricultural labor is decreasing recently. Innovations will be adopted by farmers based on its performance in the field which should be applicable and efficient. The study aims to determine the performance of seed planters as planting and fertilizing tool on dry land in Sigi Regency. The research method uses agro technical studies that measure theoretical work capacity (Kt), actual work capacity (Ka), as well as the efficiency of seed planter and tugal performance. The results shows that seed planter’s performance is higher than tugal. The seed planter has an average theoretical field capacity 1.92 ha/hour with an advanced speed of 6.42 km/hour and has an actual field capacity 0.625 ha/hour, whiletugal toolhas theoretical capacity 0.50 ha/hour with an average actual field capacity 0.167 ha/hour. However, the accuracy of the volume of seed and fertilizer fallfrom the seed planter have to be improved.
Rizki Adrianto, Damar Wiraputra, Masmulki Daniro Jyoti, Arifia Zulaika Andaningrum
Jurnal Agritechno pp 120-126; https://doi.org/10.20956/at.v13i2.359

Abstract:
Cheese is a product of milk, mostly imported from other countries. Therefore it is very important to develop using locally available materials. This study was conducted to compare the effects of a given treatment. Soft cheese composition made from cow's milk using direct pickling techniques. This research used fresh cow's milk from Lampung State Polytechnic, LAB starter from “biokul” brand and rennet as a coagulant. The treatment consisted of 2 treatments, namely making cheese with the addition of rennet and adding rennet + starter LAB. The variables measured were yield, aroma, taste, and overall appearance. The results showed that the direct acidification technique using the LAB starter is feasible for use in the process of making soft cheese from cow's milk. The advantage of this technique is that it is fast, easy and cheap. The yield and composition of soft cheese from cow's milk varies depending on the treatment at the time of cheese making. To produce soft cheese with high yield, good aroma, taste, and overall appearance, it is recommended to use the rennet + starter LAB treatment.
Back to Top Top