Buletin Penelitian Sistem Kesehatan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-2935 / 2354-8738
Total articles ≅ 218
Current Coverage
DOAJ
ESCI
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Tri Bayu Purnama, Rahayu Sakinah Pasaribu, Kaaf Wajiah Siregar, Eka Githa Roszaliya
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 318-326; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.4553

Abstract:
More than two million children suffer from malnutrition and more than 7 million children under the age of 5 suffer from stunted growth. Nutritional status is important as it is a risk factor for morbidity and mortality. The role of mothers is required to monitor the nutritional status of young children during the COVID-19 pandemic. This study aims to determine the role of mothers in monitoring the nutritional status of young children during the COVID-19 pandemic. In this study, a qualitative approach was used to describe maternal activities in monitoring infant nutritional status during the pandemic. Data collection was carried out through in-depth interviews using a questionnaire as an interview guide. The whistleblower research was conducted in Medan City with up to 4 people as an area with a high COVID-19 prevalence rate and with Sibolga City with up to 6 whistleblowers as a comparison city with a low COVID-19 prevalence in North Sumatra province. This study found that the whistleblowers still had not implemented the COVID-19 prevention protocol, e.g. B. by not cleaning items frequently touched with disinfectants because they did not have disinfectant, did not feel the need to be cleaned regularly and lacked knowledge. Most of the whistleblowers had given their young children balanced diets during the COVID-19 pandemic, but some of the whistleblowers found restrictions on eating vegetables and fruits.Abstrak Lebih dari dua juta anak menderita gizi buruk dan lebih dari 7 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting. Status gizi penting karena merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kesakitan dan kematian. Peran ibu dibutuhkan untuk memantau status gizi pada balita selama pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ibu terhadap pemantauan status gizi balita pada masa pandemi COVID-19. Pendekatan kualitatif digunakan pada penelitian ini untuk mendeskripsikan kegiatan yang dilakukan oleh ibu dalam pemantauan status gizi bayi pada masa pandemi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dengan menggunakan kuesioner sebagai panduan wawancara. Informan penelitian dilakukan pada Kota Medan sebanyak 4 orang sebagai daerah dengan tingkat penyebaran COVID-19 yang tinggi dan Kota Sibolga sebanyak 6 informan sebagai kota pembanding dengan penyebaran COVID-19 rendah di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menemukan bahwa informan masih belum menerapkan protokol pencegahan COVID-19 seperti tidak membersihkan barang-barang yang sering disentuh dengan disinfektan dikarenakan tidak punya disinfektan, tidak merasa perlu untuk dibersihkan secara berkala, dan kurangnya pengetahuan. Sebagian besar informan sudah memberi balita makanan gizi seimbang di masa pandemi COVID-19 tetapi ditemukan keterbatasan dalam konsumsi sayur dan buah pada beberapa informan.
Dodi Satriawan
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 308-317; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.4341

Abstract:
The stunting condition is characterized by the growth of childrens who are slow and fail to reach normal height. Some of the causes of stunting include household access to sanitation and drinking water sources, initiation of early breastfeeding, exclusive breastfeeding, full immunization, household income, and household access to nutritious food. Basically, to make it easier to see the characteristics of the factors that cause stunting under five in Indonesia, it can be done through group formation. The formation of this group is based on the similarity of the characteristics of the factors causing stunting under five in each province in Indonesia. This study aims to classify provinces in Indonesia based on the causes of stunting. The source of the data used is secondary data from the Ministry of Health and BPS in 2017. Clustering was carried out using the ward method cluster analysis. The clustering results are four groups with different characteristics. The 1st group consisting of 4 provinces is a group with a very high stunting factor. The 2nd group of 16 provinces was a group with a high stunting factor. The 3rd group consisting of 8 provinces was a group with a moderate stunting factor. The 4th group consisting of 6 provinces is a group with a low stunting factor.Abstrak Kondisi stunting ditandai dengan pertumbuhan anak-anak yang lambat dan gagal mencapai tinggi badan normal. Beberapa faktor penyebab stunting antara lain akses rumah tangga terhadap sanitasi dan sumber air minum, inisiasi menyusui dini, pemberian ASI eksklusif, pemberian imunisasi lengkap, pendapatan rumah tangga, serta akses rumah tangga terhadap makanan bergizi. Pada dasarnya untuk mempermudah melihat karakteristik faktor penyebab balita stunting di Indonesia dapat melalui pembentukan kelompok. Pembentukan kelompok ini didasarkan pada kesamaan karakteristik faktor penyebab balita stunting pada setiap provinsi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan provinsi di Indonesia berdasarkan faktor penyebab stunting. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dari Kementerian Kesehatan dan BPS tahun 2017. Pengelompokan dilakukan dengan menggunakan analisis cluster metode ward. Hasil pengelompokan adalah empat kelompok dengan karakteristik yang berbeda-beda. Kelompok pertama beranggotakan 4 provinsi yang merupakan kelompok dengan faktor stunting sangat tinggi. Kelompok kedua beranggotakan 16 provinsi yang merupakan kelompok dengan faktor stunting tinggi. Kelompok ketiga beranggotakan 8 provinsi yang merupakan kelompok dengan faktor stunting sedang. Sedangkan kelompok keempat beranggotakan 6 provinsi yang merupakan kelompok dengan faktor stunting rendah.
Ratna Dwi Wulandari, , Ratu Matahari, Nikmatur Rohmah, Hana Krismawati
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 275-285; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.4913

Abstract:
 Maternal and child health is one of factors that indicate the community health status. The study  analyzes the relationship between the input of midwives and doctors on the performance of maternal and child health services. This study usesan ecological analysis approach. The population is  42 districts/cities in Papua Island . In addition ,this study analyzes K4, childbirth in health care facilities, and KN1 as the dependent variable. The analysis usesa scatter plot with a linear fit line as a determinant. The study results  a very high variation amongdistricts/cities, both the input variable and maternal and child health performance. Spatially, the lowest input of midwives and doctors is more likely to the Central Mountain region. It showed the higher the input of midwives and doctors, the higher the K4 performance. The higher the input of midwives and doctors, the higher the delivery performance at health service facilities. In addition, The higher the input of midwives and doctors is the higher the performance of KN1. The midwife's input has a more significant effect than the doctor's input for all maternal and child health performance. The study concludes that the input range for midwives and doctors in Papua Island is very extensive. The input of midwives and doctors is positively related to the performance of maternal and child health services in Papua Island. K4 is the factor that is least carried out, both by midwives and doctors.Abstrak Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan status kesehatan masyarakat di suatu wilayah. Studi ditujukan untuk menganalisis hubungan antara input tenaga bidan dan dokter pada kinerja pelayanan kesehatan ibu dan anak di Pulau Papua. Studi dilakukan dengan pendekatan analisis ekologi. Populasi studi adalah seluruh kabupaten/kota di Pulau Papua (42 kabupaten/kota). Selain input tenaga bidan dan tenaga dokter sebagai variabel independen, studi ini menganalisis K4, persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan, dan KN1, sebagai variabel dependen. Analisis memanfaatkan scatter plot dengan garis fit linier sebagai penentu. Hasil studi menunjukkan variasi yang sangat tinggi antar kabupaten/kota, baik pada variabel input tenaga maupun pada kinerja kesehatan ibu dan anak. Secara spasial input tenaga bidan dan dokter yang paling rendah cenderung di wilayah Pegunungan Tengah. Semakin tinggi input tenaga bidan maupun tenaga dokter, semakin tinggi pula kinerja K4 di kabupaten/kota tersebut. Semakin tinggi input tenaga bidan maupun tenaga dokter, maka semakin tinggi pula kinerja persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah tersebut. Semakin tinggi input tenaga bidan maupun tenaga dokter, maka semakin tinggi pula kinerja KN1 di area tersebut. Lebih lanjut, input tenaga bidan memiliki efek yang lebih bermakna dibanding input tenaga dokter untuk seluruh kinerja kesehatan ibu dan anak. Studi menyimpulkan bahwa rentang input tenaga bidan dan dokter di Pulau Papua sangat lebar. Input tenaga bidan dan tenaga dokter berhubungan secara positif dengan kinerja pelayanan kesehatan ibu dan anak di Pulau Papua. K4 merupakan faktor yang paling kurang dilakukan, baik oleh tenaga bidan maupun tenaga dokter.
Suharto Anwar, Sri Saadiyah L, Ahmad Syakib
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 245-251; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.3407

Abstract:
Cerebal Palsy is a non progressive neuromuscular dysfunction in the form of muscle tone abnormalities which results in postural tone disorders in the form of spasticity, especially the legs, coordination disorders, sitting and standing balance, road disturbances that cause sufferers with daily functional impairment. The purpose of this study is to determine the effect of Kinesio taping and Bobath exercises for increasing the ability to balance standing and decrease the spasticity of the patient's limbs. This type of research is a pre-experiment with one group pre-test-post test design. Held at the Special School and the Makassar Disability Children Education Foundation from July to October 2019, with a sample of 49 cerebral palsy patients. Standing balance data were obtained using a Pediatric balance scale and limb spasticity data were obtained using the Asworth scale. Paired sample T Test Results obtained p value = 0.006 for spasticity and standing balance with p = 0.000 after being given Kinesio taping and bobath exercises. The conclusion of the study was that kinesio taping and bobath exercises had no significant effect on leg spasticity and there was a significant effect on the sitting balance of cerebral palsy patients. It is hoped that these two methods can be used in cerebral palsy patients who experience impaired sitting balance.Abstrak Cerebal Palsy adalah kelainan fungsi neuromuscular non progresif berupa abnormalitas tonus otot yang mengakibatkan gangguan tonus postural berupa spastisitas terutama tungkai, gangguan koordinasi, keseimbangan duduk dan berdiri, gangguan jalan yang menyebabkan penderita terganggu fungsionalnya sehari-hari. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh Kinesiotaping dan Bobath exercises terhadap peningkatan kemampuan keseimbangan berdiri dan penurunan spastisitas tungkai pasien. Jenis penelitian ini adalah pre - experiment dengan desain pretest – post test one group. Dilaksanakan di Sekolah luar Biasa dan Yayasan Pendidikan Anak Cacat Makassar mulai bulan JulisampaiOktober2019, dengan sampel penelitian sebanyak 49 pasien cerebral palsy. Data keseimbangan berdiri di peroleh menggunakan Pediatric balance scale dan data spastisitas tungkai diperoleh menggunakan skala asworth. Hasil Uji Paired sample T Test diperoleh nilai p = 0.006 untuk spastisitas dan keseimbangan berdiri dengan p = 0.000 setelah diberikan Kinesio taping dan bobath exercises. Kesimpulan penelitian bahwa kinesio taping dan bobath exercises tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada spastititas tungkai dan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap keseimbangan duduk pasien cerebral palsy. Dengan demikian diharapkan kedua metode ini dapat digunakan pada pasien cerebral palsy yang mengalami gangguan keseimbangan berdiri.
Sri Handayani, Syarifah Nuraini, Rozana Ika Agustiya
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 265-274; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.4619

Abstract:
Early marriage is still a severe problem in Indonesia. One out of nine women in Indonesia is married before eighteen.  It occurs almost in all overprovinces in Indonesia. There are 23 provinces where the prevalence of early marriage is higher than the national  data. This article aims to determine factors that cause early marriage in several ethnic groups in Indonesia. This study reviews the Ethnographic Health Research book series in the Lampung, Sasak and Bugis ethnic groups. Pierre Bourdieu’stheory was used to analyze the phenomenon of early marriage. Bourdieu divides this theory of social practice into three interrelated parts: habitus, arena, and capital. The existence of customary rules, patriarchal systems, modernization and applicable formal laws, namely marriage laws, affect the habitus of early marriage actors. Weak economic, cultural and social capital also encourages individuals to marry earlier. In conclusion, the relationship between habits, The involvement of the capital owned by adolescent  or their families influences the decision to have an early marriage. The prevention of early marriage needs mutual interactions by both  structural and cultural conditions of the community. The role of traditional and religious leaders also needs to be optimized in preventing early marriage. It is also necessary to strengthen the implementation of the law that regulates the minimum age for marriage.AbstrakPernikahan dini masih menjadi masalah yang serius dihadapi oleh Indonesia. Satu dari sembilan perempuan di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Pernikahan dini hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Terdapat 23 provinsi dengan prevalensi pernikahan dini lebih tinggi dari angka nasional. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab pernikahan dini pada beberapa etnis di Indonesia. Kajian literatur dari buku seri Riset Etnografi Kesehatan pada etnis Lampung, Sasak dan Bugis dipilih menjadi metode pada artikel ini. Untuk menganalisis fenomena pernikahan dini digunakan teori praktik sosial oleh Pierre Bourdieu. Bourdieu membagi teori praktek sosial ini menjadi tiga bagian yang saling berkaitan, yaitu: habitus, arena dan modal. Adanya aturan adat, sistem patriarki, modernisasi dan hukum formal yang berlaku yaitu undang-undang perkawinan mempengaruhi habitus pelaku pernikahan dini. Lemahnya modal ekonomi, kultural dan sosial juga turut mendorong individu melakukan pernikahan dini. Kesimpulan dari analisis tersebut adalah relasi antara habitus, arena dengan melibatkan modal yang dimiliki oleh remaja atau keluarganya mempengaruhi keputusan  untuk melakukan pernikahan dini. Upaya pencegahan pernikahan dini perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi struktur dan budaya masyarakat. Peran tokoh adat dan tokoh agama juga perlu dioptimalkan dalam mencegah pernikahan dini. Penguatan implementasi undang-undang yang mengatur batas minimum usia menikah juga perlu dilakukan.
Shela Delfia Ramadhana, Dian Fadlilati, Ahmad Fauzan Hidayatullah, Bunga Ihda Norra, Anif Rizqianti Hariz
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 297-307; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.3378

Abstract:
Covid-19 is a disease caused by the coronavirus. Since the end of 2019, WHO has reported cases of pneumonia that occurred in Wuhan, Tiongkok, which then spread to several countries including Indonesia. The number of the spread of Covid-19 is increasing day by day, the government continues to try to break the chain of the spread of Covid-19. The success of efforts to break the Covid-19 chain depends on the public's knowledge and perception of Covid-19 and its prevention efforts. This study aims to determine the perceptions and behavior of UIN Walisongo students in preventing Covid-19. This study used a quantitative descriptive research method, with a data collection instrumen in the form of a questionnaire. Data collection techniques using a google form questionnaire with 10 statements and opinions from UIN Walisongo students. The study population was all students of UIN Walisongo Semarang and as a sample were 302 students from various faculties who were selected by nonprobability sampling. The results showed 86.49% of the students of UIN Walisongo have a "very good" perception of Covid-19. Healthy behaviors carried out by UIN Walisongo students as an effort to prevent Covid-19 include: washing hands, using masks, social distancing, taking vitamins and exercising. To increase the prevention of Covid-19, it is necessary to conduct health education directly or online through social media to communicate with the public.Abstrak Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Pada akhir tahun 2019, WHO melaporkan kasus pneumonia yang terjadi di Wuhan, Tiongkok yang kemudian menyebar di beberapa negara termasuk Indonesia. Angka penyebaran Covid-19 semakin hari kian meningkat, pemerintah terus berupaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Keberhasilan upaya pemutusan rantai Covid-19 tergantung dari pengetahuan dan persepsi masyarakat terhadap Covid-19 serta upaya pencegahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan perilaku Mahasiswa UIN Walisongo dalam pencegahan Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, dengan instrument pengumpulan data berupa kuesioner. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner google form dengan 10 pernyataan serta pendapat dari mahasiswa UIN Walisongo. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa UIN Walisongo Semarang dan sebagai sampel adalah 302 mahasiswa dari berbagai fakultas yang dipilih dengan teknik nonprobability sampling. Hasil penelitian menunjukkan 86.49% mahasiswa UIN Walisongo mempunyai persepsi “sangat baik” terhadap Covid-19. Perilaku sehat yang dilakukan mahasiswa UIN Walisongo sebagai upaya pencegahan Covid-19 meliputi: cuci tangan, menggunakan masker, social distancing, mengonsumsi vitamin dan berolahraga. Untuk meningkatkan pencegahan Covid-19 perlu dilakukan penyuluhan kesehatan secara langsung atau online melalui media sosial untuk berkomunikasi dengan masyarakat.
Tri Isnani, Bina Ikawati, Asnan Prastawa, Zumrotus Sholichah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 252-264; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.3974

Abstract:
Bukit Menoreh is a border area of three regencies and two provinces which have malaria problems. The target to achieve and maintain the predicate as being free or has eliminated malaria was carried out byvarious control methods, either as government programs or community participations. The area itself is a Javanese cultural area in which its values are stronglyheld. This affects existing malaria control efforts. The research was conducted with a qualitative approach, held in three districts in Bukit Menoreh, each with 2 villages. The data was obtained through observations, indepth interview, and focus group discussions (FGD) with 3 groups in each village. The results showed that from the various control efforts carried out there was a culture of ‘isin’ (shame), ‘pekewuh’ (feeling of reluctant), and the influence of community leaders, especially in ‘gotong royong’ or community service activities in environmental cleanliness, health educations, and migration surveillance. The conclusion of this study is that some of these values are supportive, and some are hindering the effort to control malaria. Therefore, a special approach is needed with attention to culture. Intervention to control malaria should pay local wisdom and culture so it can be accepted and implemented.Abstrak Bukit Menoreh adalah daerah perbatasan tiga kabupaten dari dua provinsi yang merupakan daerah dengan masalah malaria. Target mencapai dan mempertahankan predikat bebas atau eliminasi malaria dilakukan dengan berbagai cara pengendalian, baik program dari pemerintah maupun peran serta masyarakat. Wilayah ini merupakan wilayah budaya Jawa yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya yang masih kuat dipegang. Hal ini berpengaruh terhadap usaha pengendalian malaria yang ada. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, di tiga kabupaten di Bukit Menoreh masing-masing diambil dua desa. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah (DKT) terhadap tiga kelompok di tiap desa. Hasil penelitian menunjukkan dari berbagai usaha pengendalian malaria terdapat budaya rasa isin (malu), rasa ewuh (sungkan), dan panut (patuh) terhadap pengaruh tokoh dalam masyarakat terutama dalam kegiatan kerja bakti atau gotong royong kebersihan lingkungan, sosialisasi, dan surveilans migrasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai tersebut ada yang mendukung dan ada yang menghambat usaha pengendalian malaria sehingga diperlukan pendekatan khusus dengan memperhatikan budaya. Kebijakan pengendalian malaria sebaiknya memperhatikan budaya lokal sehingga bisa menggunakan budaya lokal dan bisa diterima dan diterapkan.
Sri Sularsih Endartiwi, Istika Dwi Kusumaningrum
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 286-296; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.4122

Abstract:
The National Health Insurance managed by the BPJS Health to achieve Universal Health Coverage (UHC) also provides Family Planning (FP) services that are good at First-Level Health Facilities and Second Level Health Facility. One of the challenges in planning the service is not yet optimal availability, affordability, and quality of family planning services. Based on the results of observation in the health centers found participants NHI stated the quality of family planning services is still lacking, for example, related to the availability of drugs for injecting are depleted. This study aimed at researching the Quality and Sustainability of Family Planning Services in the era of national health insurance in achieving Universal Health Coverage in Yogyakarta. The research method is quantitative and qualitative research design case study. The subject of this research is JKN participants who have already been utilizing the services of Family Planning services at health centers, which amounted to 90 people. Data collection is done by giving questionnaires to 90 people acceptors and focus group discussions with the participants of the 2 people from National Population and Family Planning Board, 1 people of National Health Insurance, 2 people of FP service officers, and 3 people of FP acceptor. Qualitative Data were processed using software open code. The results of this study are the qualities that include aspects of tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy in family planning services has been done by 3 health centers consists of the health center Imogiri I, Pleret, and Banguntapan II in Bantul Regency, Yogyakarta has been good. The sustainability of family planning services should also be continued because of the passing on the financing of family planning services by BPJS Health to improve the community for the use of contraceptives to reduce the birth rate.Abstrak Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan guna mencapai Universal Health Coverage juga memberikan pelayanan Keluarga Berencana baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama maupun Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut. Salah satu tantangan dalam pelayanan KB adalah belum optimalnya ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas pelayanan KB. Berdasarkan hasil observasi di puskesmas dijumpai peserta JKN menyatakan kualitas pelayanan KB masih kurang, misalnya terkait ketersediaan obat untuk suntik yang habis. Pada waktu-waktu tertentu petugas di puskesmas tidak ada karena sedang mengikuti acara atau kegiatan di luar puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas dan keberlanjutan KB pada era JKN dalam Mencapai Universal Health Coverage di Yogyakarta. Metode penelitian adalah kuantitatif dan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Subjek penelitian ini adalah peserta JKN yang sudah pernah memanfaatkan fasilitas pelayanan Keluarga Berencana di puskesmas yang berjumlah 90 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan pembagian kuesioner kepada 90 orang akseptor KB dan FGD dengan peserta 2 orang dari BKKBN, 1 orang dari BPJS Kesehatan, 2 orang petugas pelayanan KB dan 3 orang akseptor KB. Data kualitatif diolah dengan menggunakan software open code. Hasil penelitian ini adalah kualitas yang meliputi aspek tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy pada pelayanan KB yang sudah dilakukan oleh 3 puskesmas yang terdiri dari Puskesmas Imogiri I, Pleret, dan Banguntapan II di Kabupaten Bantul Yogyakarta sudah baik. Keberlanjutan pelayanan KB juga harus dilanjutkan karena dengan ditanggungnya pembiayaan pelayanan KB oleh BPJS Kesehatan meningkatkan masyarakat untuk menggunakan alat kontrasepsi sehingga dapat menekan angka kelahiran.
Nurliana Cipta Apsari, Santoso Tri Raharjo
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 159-169; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i3.3069

Abstract:
People with disabilities experience discrimination for their rights. This discrimination makes them experiencing difficulties in their lives. This article explores the challenges facing people with disabilities and what services are available to the disability population in Indonesia. A literature study used to capture the phenomenon of challenges and services for the disability population in Indonesia. This study indicated that people with disabilities still experience social injustice and discrimination. These challenges demonstrate the public perception to the disability population that those were not independent or depends on the other compassion. The services are centralized in some cities so that the challenge appeared for those living in the countryside. Social workers may actively provide excellent services by considering local wisdom and commitment to social justice by fulfilling the rights of people with disabilities. In addition, they also promote the participation of the beneficiaries at all levels to fulfilment of needs.Abstrak Orang dengan disabilitas mengalami diskriminasi dalam keterpenuhan haknya. Diskriminasi dalam pemenuhan hak tersebut membuat orang dengan disabilitas kesulitan dalam kehidupannya. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan yang dihadapi orang dengan disabilitas dan layanan apa yang tersedia bagi populasi disabilitas di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan tentang fenomena tantangan dan layanan bagi populasi disabilitas di Indonesia. Hasil penelitian menemukan bahwa di Indonesia, populasi disabilitas masih mengalami ketidakadilan sosial dan diskriminasi. Tantangan tersebut menunjukkan cara pandang orang umum terhadap populasi disabilitas sebagai populasi yang tidak mandiri dan tergantung pada bantuan orang lain yang berdasar pada belas kasihan. Layanan yang tersedia bagi populasi disabilitas di Indonesia terpusat di kota-kota besar Indonesia, sehingga menjadi tantangan tambahan bagi populasi disabilitas terutama yang tinggal di pedesaan. Profesi pekerjaan sosial memberikan layanan kompeten dengan mempertimbangkan budaya yang berkembang di masyarakat, kemudian berkomitmen untuk mengusung keadilan sosial dengan mengupayakan pemenuhan hak orang dengan disabilitas, serta mempromosikan partisipasi penerima layanan di semua level usaha pemenuhan kebutuhan. .
Asep Kusnali, Teguh Dartanto
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 202-212; https://doi.org/10.22435/hsr.v24i3.4181

Abstract:
Information on the absence of basic immunization due to religious reasons and the general overview of immunization coverage among religious believers in Indonesia is still limited. This study aims to examine the relationship between parental religiosity and basic immunization status on children because there are still many children who are not fully immunized in Indonesia. This study used cross-sectional data of the Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2007 and 2014 with the unit of analysis for families having children aged 1-5 years. Our estimations using ordered logistic regression confirm that there is a relationship between religiosity on the parents' decision to perform basic immunization on their children. The differences in religiosity patterns in 2007 and 2014 illustrate changes in individual religious behavior towards the basic immunization program. These changes occur through religious social support.Abstrak Informasi tidak dilakukannya imunisasi dasar karena alasan agama masih terbatas dan gambaran cakupan imunisasi di antara pemeluk agama di Indonesia secara aktual belum dapat diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara religiositas orang tua dengan status imunisasi dasar pada anak dikarenakan masih banyaknya anak yang tidak diberikan imunisasi secara lengkap di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sumber data Indonesia Family Life Survey (IFLS) Tahun 2007 dan 2014 dengan unit analisis keluarga yang memiliki anak usia 1-5 tahun dan dianalisis menggunakan regresi ordered logistic. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara religiositas terhadap keputusan orang tua untuk melakukan imunisasi dasar pada anaknya. Perbedaan pola religiositas tahun 2007 dan 2014 menggambarkan adanya perubahan perilaku beragama individu terhadap program imunisasi dasar. Perubahan tersebut dapat terjadi melalui dukungan sosial keagamaan.
Back to Top Top