Buletin Penelitian Sistem Kesehatan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-2935 / 2354-8738
Current Publisher: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (10.22435)
Total articles ≅ 178
Current Coverage
ESCI
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Maretalinia Maretalinia, Elvi Juliansyah, Suyitno Suyitno, Aris Yulianto, Dyah Suryani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 38-45; doi:10.22435/hsr.v24i1.3544

Abstract:
Tobacco use is one of the predicting factors of non-communicable diseases. In 2003, cigarette consumption was the main factor contributing to 4.9 million deaths in developing countries. In 2020, Bureau of Statistics Indonesia reported 31.5% of Indonesian population were tobacco users. Particularly, in West Kalimantan province, more than one-fourth of men are smokers. Specifically, in the working area of Sungai Durian Primary Healthcare Center, third-fourth of men are smokers. This study was conducted to examine the relationship between Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) with tobacco use. This cross-sectional study employed 218 respondents of 4,321 male population. The predicting factors in this study were knowledge, attitude, and practice. The statistical test was done using univariate, bivariate (Chi-Square), and multivariate (binary logistic regression) analyses. The bivariate analysis test showed that knowledge and practice were significantly associated with tobacco use. Regarding the multivariate analysis results, practice was the strongest factor affecting tobacco use (AOR= 4.25, CI 95% (1.93 – 9.36)), and the second strongest factor was knowledge (AOR= 2.46, CI 95% (1.00 – 6.04)). Tobacco use in the working area of Sungai Durian Primary Healthcare Center was mostly affected by practice. Primary healthcare centers as the nearest healthcare facility in the community need to improve health education and decrease tobacco consumption. A tobacco control can be implemented by banning smoking indoors to reduce smoking behavior. Abstrak Penggunaan tembakau merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular. Pada tahun 2003, konsumsi rokok merupakan penyebab utama kematian 4,9 juta penduduk di negara berkembang. 31,5% penduduk Indonesia adalah pengguna tembakau berdasarkan data tahun 2000. Secara khusus di Provinsi Kalimantan Barat, lebih dari satu per empat laki-lakinya adalah perokok, dan secara lebih khusus lagi, tiga per empat laki-laki usia 20-30 tahun di wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian adalah perokok. Studi ini dilakukan untuk menguji hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap penggunaan tembakau. studi cross-sectional ini melibatkan 180 perokok di antara 4,321 total populasi laki-laki. Faktor prediksi pada studi ini yaitu: pengetahuan, sikap, dan praktik. Uji statistik telah dilakukan yaitu uji tunggal, ganda (Chi-Square), dan multivariabel (binary logistic regression). Uji ganda menemukan bahwa pengetahuan dan perilaku secara signifikan berhubungan dengan penggunaan tembakau. Lebih jauh, berdasarkan hasil multivariabel, perilaku merupakan pengaruh terbesar (AOR= 4,25, CI 95% (1,93 – 9,36)) dan diikuti dengan pengetahuan (AOR= 2,46, CI 95% (1,00 – 6,04)). Penggunaan tembakau di wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian sebagian besar dipengaruhi oleh perilaku. Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan terdekat butuh menyelenggarakan pendidikan kesehatan untuk menurunkan konsumsi tembakau. Pengendalian tembakau yang diimplementasikan dengan larangan merokok di dalam ruangan sangat penting untuk mengurangi kebiasaan merokok.
Khairun Nisa’Il Hulwah, Wahyu Pudji Nugraheni, Andi Sari Bunga, Kurnia Sari, Pujiyanto Pujiyanto, Budi Hidayat
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 57-67; doi:10.22435/hsr.v24i1.3707

Abstract:
The incidence of injury increased from 7.5% to 9.2% (2007-2018). The proportion of injuries due to traffic accidents in Indonesia is 2.2% and the highest is at 15-24 years of age at 4.9%. Total per capita alcohol consumption is expected to increase in Indonesia by 2025. The behavior of consuming alcoholic beverages increases the risk of traffic accidents. This study aimed to determine the relationship and the magnitude of the risk of alcohol consumption behavior with the incidence of injuries caused by traffic accidents in people aged >10 years in Indonesia. This research was a quantitative study using univariate, bivariate, and multivariate analysis. The multivariate results of the study showed a significant relationship between alcohol consumption and injuries caused by traffic accidents with OR 2.436 (95% CI: 1.233 - 4.811) after being controlled by other variables, namely age, sex, education, occupation, area of residence and island of domicile. Male group had a significant relationship with OR 1.204 (95% CI: 1.131 - 1.282), higher education was significantly associated with OR 1.953 (95% CI: 1.783 - 2.138), work was significantly associated with OR 1.230 (95% CI: 1.138 - 1.329) ), living in urban areas was significantly associated with OR 1.176 (95% CI: 1.104 - 1.253) and domicile in Sulawesi Island was significantly associated with OR 1.811 (95% CI: 1.580 - 2.077). The age variable is not significant. Alcohol consumption is the variable that has the greatest influence on injuries caused by traffic accidents. Interventions need to be focused on population groups who are more at risk in formulating health policies and programs to reduce the incidence of injuries caused by traffic accidents. Abstrak Kejadian cedera meningkat dari 7,5% menjadi 9,2% (2007-2018). Proporsi cedera akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia sebesar 2,2% dan paling tinggi pada usia 15-24 tahun sebesar 4,9%. Total konsumsi alkohol per kapita diperkirakan meningkat di Indonesia tahun 2025. Perilaku mengonsumsi minuman beralkohol meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan besaran risiko perilaku konsumsi minuman beralkohol dengan kejadian cedera disebabkan kecelakaan lalu lintas pada penduduk usia >10 tahun di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil multivariat penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara konsumsi minuman beralkohol dengan cedera disebabkan kecelakaan lalu lintas dengan OR 2,436 (95% CI: 1,233 – 4,811) setelah dikontrol oleh variabel lain yaitu variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, wilayah tempat tinggal dan pulau domisili. Kelompok laki-laki berhubungan bermakna dengan OR 1,204 (95% CI:1,131 – 1,282), pendidikan tinggi berhubungan bermakna dengan OR 1,953 (95% CI: 1,783 – 2,138), bekerja berhubungan bermakna dengan OR 1,230 (95% CI: 1,138 – 1,329), tinggal di perkotaan berhubungan bermakna dengan OR 1,176 (95% CI: 1,104 – 1,253) dan domisili di Pulau Sulawesi berhubungan bermakna dengan OR 1,811 (95% CI: 1,580 – 2,077). Variabel umur tidak signifikan. Variabel konsumsi alkohol adalah variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap cedera disebabkan kecelakaan lalu lintas. Perlu fokus intervensi terhadap kelompok penduduk yang lebih berisiko dalam merumuskan kebijakan dan program kesehatan untuk menurunkan kejadian cedera disebabkan kecelakaan lalu lintas.
Rukmini Rukmini, Lusi Kristiani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 68-78; doi:10.22435/hsr.v24i1.3843

Abstract:
One of the health efforts that have the opportunity to improve the health status of the elderly is traditional health services (Yankestrad). This paper aims to describe the use of Yankestrad among the elderly in Indonesia. The data source in this analysis is Riskesdas 2018, a research conducted by the Ministry of Health with the elderly (≥60 years) as the analysis unit. Data were analyzed descriptively. The results showed that the use of Yankestrad in the elderly was 37.0% and self-medication with traditional medicine was 17.3%. Young elderly people mostly use Yankestrad (37.9%), while self-medication with traditional medicine are dominated by elderly women (18.3%) in rural areas (19.5%). The use of Toga in the elderly in Indonesia (31.9%), mostly women (33.3%) in rural areas (36.3%). The most common types of Yankestrad used by the elderly were manual skills, potions, and homemade potions. Male elderly (55.5%) in urban areas (56.5%) used more prepared ingredients, while female elderly (43.6%) in rural areas (46.5%) preferred homemade ingredients. Older people with low expenditure levels tend to take advantage of prepared ingredients or homemade ingredients, while high expenditures tend to take advantage of manual skills. Traditional healers (98.2%) are the type of yakestrad used mostly by the elderly. In conclusion, Yankestrad in Indonesia is mostly used by the elderly, therefore it has the potential to be developed as an alternative model of health services for the elderly. Given the high interest of the elderly with Yankestrad and the use of traditional healers, it is necessary to provide Yankestrad facilities, especially in Puskesmas with traditional health workers who are able to provide safe and quality health services to the elderly. Abstrak Salah satu upaya kesehatan yang berpeluang meningkatkan status kesehatan lansia adalah pelayanan kesehatan tradisional (Yankestrad). Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemanfaatan Yankestrad pada penduduk lansia di Indonesia. Sumber data dalam analisis ini adalah Riskesdas 2018. Riset yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dengan unit analisis lansia (≥60 tahun). Analisis data secara deskriptif. Hasil menunjukkan, pemanfaatan Yankestrad pada lansia 37,0% dan upaya sendiri dengan obat tradisional 17,3%. Lansia muda terbanyak memanfaatkan Yankestrad (37,9%), sedangkan upaya sendiri dengan obat tradisonal didominasi lansia perempuan (18,3%) di perdesaan (19,5%). Pemanfaatan Toga pada lansia di Indonesia (31,9%), terbanyak perempuan (33,3%) di perdesaan (36,3%). Jenis Yankestrad terbanyak dimanfaatkan lansia adalah keterampilan manual, ramuan jadi dan ramuan buatan sendiri. Lansia laki-laki (55,5%) di perkotaan (56,5%) lebih banyak memanfaatkan ramuan jadi, sedangkan lansia perempuan (43,6%) di perdesaan (46,5%) lebih menyukai ramuan buatan sendiri. Lansia dengan tingkat pengeluaran rendah cenderung memanfaatkan ramuan jadi atau ramuan buatan sendiri, sedangkan pengeluaran tinggi cenderung memanfaatkan ketrampilan manual. Penyehat tradisional (98,2%) adalah jenis tenaga terbanyak dimanfaatkan lansia. Kesimpulan, Yankestrad di Indonesia lebih banyak dimanfaatkan oleh lansia, oleh karena itu berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif model pelayanan kesehatan bagi lansia. Rekomendasi, mengingat tingginya minat para lansia dengan Yankestrad dan pemanfaatan penyehat tradisional, maka diperlukan penyediaan fasilitas Yankestrad khususnya di Puskesmas dengan tenaga kesehatan tradisional yang mampu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas bagi para lansia.
Hendrik Edison, Olwin Nainggolan
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 46-56; doi:10.22435/hsr.v24i1.3579

Abstract:
Insomnia and hypertension are very common and often coexist. There is evidence to suggest that the increase in the prevalence of hypertension in the past decade may be related to an increase of the prevalence of insomnia and with a decrease in sleep duration caused by modern lifestyles. The purpose of this study was to look at the association and magnitude of risk of insomnia with hypertension. This study used secondary data from the 2014 Indonesia Family Life Survey (IFLS5) with respondents ≥19 years old. Conceptual framework with a risk factor model approach. Insomnia disorders are the main independent variable, and hypertension is the main dependent variable. Confounding variables are age, overweight and sex. Association of insomnia disorders to hypertension was analyzed using multiple logistic regression analysis with the significance of P value 0.05; OR: 0.937 (95% CI 0.873-1.006). The variables associated with the risk of hypertension were age ≥ 40 years old with OR: 5,246 (95% CI 4,885-5,598) and overweight with OR: 2,112 (95% CI 1,985-2,269). In this study, age and overweight contributed 18.9% to the incidence of hypertension. Abstrak Insomnia dan hipertensi sangat umum dan sering kali berdampingan. Bukti menunjukkan bahwa peningkatan prevalensi hipertensi dalam dekade terakhir kemungkinan terkait dengan peningkatan prevalensi insomnia dan penurunan durasi tidur yang disebabkan oleh gaya hidup modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan dan besaran risiko insomnia terhadap hipertensi. Penelitian ini menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey tahun 2014 (IFLS5) dengan responden berumur ≥19 tahun. Kerangka konsep dengan pendekatan model faktor risiko. Gangguan insomnia merupakan variabel independen utama, dan hipertensi adalah variabel dependent utama. Variabel perancu adalah umur, kelebihan berat badan (overweight) serta jenis kelamin. Untuk melihat hubungan gangguan insomnia dengan hipertensi menggunakan analisis regresi logistik berganda dengan kemaknaan P value < 0,05. Prevalensi penderita insomnia umur ≥19 tahun di Indonesia berdasarkan data IFLS5 adalah sebesar 43,7%. Analisis ini menunjukkan bahwa insomnia tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi P>0,05; OR: 0,937 (95% CI 0,873-1,006). Variabel yang berhubungan dengan risiko hipertensi adalah umur ≥ 40 tahun dengan OR: 5,246 (95% CI 4,885-5,598) serta overweight dengan OR: 2,112 (95% CI 1,985-2,269). Pada penelitian ini umur dan overweight memberikan kontribusi terhadap kejadian hipertensi sebesar 18,9%.
Sri Handayani, Suharmiati Suharmiati, Karlina Karlina, Yurika Fauzia Wardhani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 1-10; doi:10.22435/hsr.v24i1.3406

Abstract:
In 2017 and 2018 the Center for Humanities and Health Management conducted health interventions research in Tugu and Rancapinang Village, Cimanggu District, Pandeglang Regency. This research is motivated by the maternal and child health problems that are still experienced in Pandeglang Regency. Intervention research was carried out using a community empowerment method where paraji and kokolot as agents of change to improve childbirth in health facilities. This research uses a qualitative approach with a participatory action research (PAR) method. Data collection methods have used in-depth interviews, focus group discussions, and observations. Paraji and kokolot empowerment model to increase childbirth in health facilities are quite relevant to be implemented because it is following the problem of the presence of pregnant women giving birth at home. In terms of effectiveness, this model is more effectively implemented in Tugu village than in Rancapinang Village because the characteristics of the area and the people of the two villages are different. The sustainability of this model is questionable because it is not yet integrated with the local health service system. As a suggestion, modifying this model according to the social and cultural characteristics of the local community is necessary. Increasing effectiveness in this model is needed to have a strong partnership between paraji, kokolot as agents of change, village midwives, and local facilitators. This model must also be integrated with the local health service system so that sustainability can be realized. Abstrak Pada tahun 2017 dan 2018 Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan melaksanakan riset intervensi kesehatan di Desa Tugu dan Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang. Riset ini dilatarbelakangi oleh masalah kesehatan ibu dan anak yang masih dialami oleh Kabupaten Pandeglang. Riset intervensi dilakukan dengan metode pemberdayaan masyarakat di mana paraji dan kokolot sebagai agen perubahan untuk meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode participatory action research (PAR). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan observasi. Model pemberdayaan paraji dan kokolot dalam upaya meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan cukup relevan diimplementasikan karena sesuai dengan permasalahan masih adanya ibu hamil yang melahirkan di rumah. Dari segi efektivitas model ini lebih efektif dilaksanakan di Desa Tugu dibandingkan di Desa Rancapinang karena karakteristik wilayah dan masyarakat kedua desa berbeda. Sustainabilitas model ini dipertanyakan karena belum terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan setempat. Sebagai saran, perlu adanya modifikasi dalam model intervensi ini yang disesuaikan dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat. Untuk meningkatkan efektivitas model ini memerlukan kemitraan yang kuat antara paraji dan kokolot sebagai agen perubahan dengan bidan desa dan pendamping lokal. Model ini juga harus terintegrasi dengan sistem kesehatan lokal sehingga sustainabilitas dapat tercapai.
Eka Fitria Sari, Faihatul Mukhbitin, Ernawaty Ernawaty
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 11-19; doi:10.22435/hsr.v24i1.2991

Abstract:
Head of Surabaya City Health Department Decree No.440/19547/436.3/2016 is based on Indonesian Minister of Health Decree No.HK.02.02/MENKES/514/2015. The regulation explains the need for the management of 195 clinical diagnoses in primary health facilities because it is related to the primary health facilities' capability to handle 195 clinical diagnoses. The RRNS achievement table in January-May 2017 shows that primary care clinics were primary health facilities that occupy the unsafe zone (RRNS>5%) namely 16.68% in Surabaya City. The research objective is to analyze the primary care clinics' capability in Surabaya City to handle the 195 clinical diagnoses. This research used a descriptive cross-sectional design in four primary care clinics with 20 people sampled. The results showed that all clinics had not been able to provide complete services. Clinical doctors had good capabilities in accordance with the Head of Surabaya City Health Department Decree No.440/19547/436.3/2016 but were not supported by the completeness of supply following the Indonesia Minister of Health Decree No.HK.02.02/MENKES/514/2015. In conclusion, only 65 (≤33%) clinical diagnoses can be handled properly with the imbalance between the doctors' capabilities and completeness of supply. This research suggests the regulation makers must also review the primary care clinics' capability to provide supplies and clinics can determine the right cost-containment strategy to handle 195 clinical diagnoses. Abstrak SK Kadinkes Kota Surabaya No.440/19547/436.3/2016 didasari oleh Kepmenkes RI No.HK.02.02/MENKES/514/2015. Peraturan yang menjelaskan tentang kebutuhan penatalaksanaan penanganan 195 diagnosis klinis di FKTP karena berkaitan dengan kemampuan FKTP melakukan penanganan. Tabel pencapaian RRNS bulan Januari-Mei 2017 menunjukkan klinik pratama merupakan jenis FKTP yang paling banyak menempati zona tidak aman (RRNS>5%) yakni 16,68% di Surabaya. Penelitian bertujuan menganalisis kemampuan klinik pratama di Kota Surabaya dalam menangani 195 diagnosis klinis. Penelitian menggunakan desain crosssectional deskriptif di empat klinik pratama dengan sampel 20 orang. Hasil menunjukkan semua klinik yang diteliti belum mampu menyediakan pelayanan secara lengkap. Dokter klinik memiliki kemampuan yang baik sesuai SK Kadinkes Kota Surabaya No.440/19547/436.3/2016 tetapi tidak didukung dengan kelengkapan supply yang dibutuhkan sesuai Kepmenkes RI No.HK.02.02/MENKES/514/2015. Kesimpulannya, diagnosis klinis yang dapat ditangani dengan baik hanya sebanyak 65 (≤33%) dengan hambatan ketidakseimbangan antara kemampuan dokter dan kelengkapan supply. Penelitian ini menyarankan pembuat kebijakan juga meninjau kemampuan klinik dalam menyediakan supply dan klinik dapat menentukan strategi cost containment yang tepat untuk menangani 195 diagnosis klinis.
Ratna Dwi Wulandari, Agung Dwi Laksono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 20-30; doi:10.22435/hsr.v24i1.3038

Abstract:
East Java Province, which is dominated by Javanese and Madurese, has a community with cultural characteristics that consider having a large number of children will many fortunes. This study aimed to analyze the relationship of parity on the use of contraceptives in women of childbearing age in East Java. The study used data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey. The population was women of reproductive age (15-49 years) in East Java. By using stratification and multistage random sampling obtained 5,593 respondents. In addition to the use of contraceptives and parity, other variables were the type of residence, age group, level of education, work status, marital status, socioeconomic status, and health insurance ownership. Determination of influence using binary logistic regression. The results showed that parity was one of the determinants of contraceptive use in East Java. Multiparous women of childbearing age were 4.114 times higher than primiparous women for contraception. Women in the 15-19 age group were 8.413 times more likely to use contraception than the 45-49 year age group. While women in the age group 40-44 years have the possibility of 2.209 times. Women with an elementary-junior high school education were 3.931 times more likely than those without school to use contraception. While those with tertiary education are likely 4.957 times compared to those not in school. Poor women were 1.525 times more likely than the poorest to use contraception. It could be concluded that parity was one of the determinants of contraceptive use in women of childbearing age in East Java Province. Abstrak Provinsi Jawa Timur didominasi oleh suku Jawa dan Madura. Kedua suku memiliki karakter pandangan budaya tentang jumlah anak yang banyak, yaitu banyak anak, banyak rejeki. Penelitian ditujukan untuk menganalisis hubungan paritas terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada wanita usia subur di Jawa Timur. Penelitian menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Populasi adalah wanita usia subur (15-49 tahun) di Jawa Timur. Dengan menggunakan stratification and multistage random sampling didapatkan 5.593 responden. Selain pemakaian alat kontrasepsi dan paritas, variabel lain yang adalah tipe tempat tinggal, kelompok umur, tingkat pendidikan, status bekerja, status perkawinan, status sosioekonomi, dan kepemilikan asuransi kesehatan. Penentuan pengaruh menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paritas merupakan salah satu determinan pemakaian alat kontrasepsi di Jawa Timur. Wanita multipara kemungkinan 4,114 kali lebih tinggi dibanding wanita primipara untuk memakai alat kontrasepsi. Wanita pada kelompok umur 15-19 tahun memiliki kemungkinan 8,413 kali dibanding kelompok umur 45-49 tahun untuk memakai alat kontrasepsi. Sementara wanita pada kelompok umur 40-44 tahun memiliki kemungkinan 2,209 kali. Wanita berpendidikan SD-SLTP kemungkinan 3,931 kali dibanding yang tidak sekolah untuk memakai alat kontrasepsi. Sedang yang berpendidikan perguruan tinggi kemungkinan 4,957 kalidibanding yang tidak sekolah. Wanita miskin kemungkinan 1,525 kali dibanding yang paling miskin untuk memakai alat kontrasepsi. Dapat disimpulkan bahwa paritas merupakan salah satu determinan pemakaian alat kontrasepsi pada wanita usia subur di Provinsi Jawa Timur.
Zulfaa Rif’At Fauziyyah, Solikhah Solikhah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 24, pp 31-37; doi:10.22435/hsr.v24i1.2986

Abstract:
Hypertension is a silent killer that is still a health concern globally including in Indonesia. Consumption of fast foods that contain a high level of natrium, fat, sodium, sugar and MSG can be one of the causes of hypertension. Therefore, this research aimed at exploring the relationship between fast food consumption and hypertension in Indonesian. This research used cross-sectional design with secondary data from Indonesian Family Life Survey 5 (2014-2015). The sampling scheme in this study is based on the 1st IFLS survey scheme, which was stratified based on provinces and urban and rural areas. Samples were taken randomly at the household level. 13 provinces were chosen which represented 83% of the total population and reflected the cultural and socio-economic diversity of the Indonesian people. Data analysis uses multivariate logistic regression. Out of 12,105 respondents those who majority of participants consumed fast foods (73%). Multivariate logistic regression analysis showed that fast food consumption did not have any significant relationship with hypertension (AdjOR = 1.02; Cl 95% = 0.65-1.61; p > 0.05). However, males and respondents who worked were significantly associated with hypertension. Fast food consumption patterns did not correlate to hypertension among Indonesian. However, people need to pay attention to fast food overconsumption in order to be prevented from having hypertension. Future research is needed with other methods in such case-control by adding various risk factors of hypertension. Abstrak Hipertensi merupakan silent killer yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Konsumsi makanan cepat saji yang mengandung tinggi natrium, tinggi lemak, tinggi sodium, tinggi gula dan MSG menjadi penyebab kejadian hipertensi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi hubungan pola konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesia. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari The Indonesian Family Live Survey gelombang 5 (IFLS-5). Skema pengambilan sampel dalam survei ini didasarkan pada skema pengambilan survei IFLS gelombang 1, yang dilakukan secara bertingkat berdasarkan propinsi dan wilayah perkotaan dan pedesaan. Sampel diambil secara acak pada skala rumah tangga. Terpilih 13 propinsi sebagai sampel yang merepresentasikan 83% dari total populasi serta mencerminkan keanekaragaman budaya serta sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Analisis data menggunakan multivariate regresi logistik. Dari 12.105 responden, mayoritas responden sering mengkonsumsi makanan cepat saji (73%). Analisis multivariat menunjukan bahwa orang yang sering mengkonsumsi makanan cepat saji tidak berhubungan secara signifikan terhadap kejadian hipertensi (AdjOR = 1,02; CI 95% = 0,65-1,61; p>0,05). Namun responden berjenis kelamin laki-laki dan yang bekerja secara signifikan berhubungan dengan hipertensi. Pola konsumsi makanan cepat saji tidak berhubungan terhadap kejadian hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesia. Meskipun begitu konsumsi makanan cepat saji berlebih perlu menjadi perhatian bagi masyarakat agar terhindar dari hipertensi. Diharapkan ada pembuktian hubungan antara makanan cepat saji dengan hipertensi dengan metode lain seperti case control dengan menambahkan berbagai variabel-variabel lain yang kemungkinkan merupakan faktor risiko terhadap kejadian hipertensi.
Sefrina Werni, Rosita Rosita, Nita Prihartini
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 23, pp 228-236; doi:10.22435/hsr.v23i4.3209

Abstract:
Midwifery education graduates ideally work as midwives. This study explored the relationship between characteristics and suitability the field of work graduates of DIII midwifery study program in 2019. This study applied a cross-sectional design with a quantitative approach. The population was graduates in 4 DIII midwifery study programs in West Java and the sample whose access the google form as many as 442 respondents. Google forms distributed by email, Facebook, and WhatsApp group graduates within one month. The dependent variable was the suitability the field of work graduate. In contrast, the independent variables were characteristics of graduate (the status of the study program, age, marital status, year of graduation, the value of IPK, and additional education after graduation). Analysis of data used chi-square. The results showed 10.2% of midwifery study program graduates worked not as midwives, 37.8% of them said that salary was the reason they did outside the midwife profession and another 15.6% expressed no interest as midwives. The results of the bivariate analysis showed that marital status and IPK at graduation had a significant relationship with the suitability of the graduate work field (p <0.005). The commitment of graduates as midwives is the main focus to enhance midwifery professionalism. The existence of graduates whose work outside the midwife profession along with their reasons provided information on the need for strengthening midwife salary standards based on labour regulations. Abstrak Lulusan pendidikan kebidanan idealnya bekerja sebagai bidan. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2019 untuk menilai hubungan antara karakteristik dengan kesesuaian bidang kerja lulusan prodi DIII kebidanan. Penelitian menggunakan desain penelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif. Populasi adalah lulusan di 4 prodi DIII kebidanan di Jawa Barat dan sampel adalah yang mengakses google form. Total sampel sebanyak sebanyak 442 responden. Google form yang disebarkan melalui email, facebook, dan whatsapp group lulusan dalam jangka waktu 1 bulan. Sebagai variabel terikat adalah kesesuaian bidang kerja lulusan, variabel bebas adalah karakteristik lulusan (status program studi, umur, status pernikahan, tahun lulus, nilai IPK, dan pendidikan tambahan setelah lulus). Data dianalisis menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 10,2% lulusan prodi DIII kebidanan bekerja bukan sebagai bidan, 37,8% diantaranya menyampaikan bahwa gaji merupakan alasan mereka bekerja di luar profesi bidan dan 15,6% lainnya menyatakan tidak berminat sebagai bidan. Hasil analisis bivariat memperlihatkan status pernikahan dan IPK saat lulus memiliki hubungan yang bermakna dengan kesesuaian bidang kerja lulusan (p<0,005). Komitmen lulusan sebagai bidan merupakan fokus utama untuk meningkatkan profesionalisme bidan. Keberadaan lulusan yang bekerja di luar profesi bidan beserta alasannya memberikan informasi perlunya penetapan standar gaji bidan dengan berpedoman pada aturan ketenagakerjaan.
Lucie Widowati, Ondri Dwi Sampurno, Hadi Siswoyo, Rini Sasanti, Nurhayati Nurhayati, Delima Delima
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 23, pp 246-255; doi:10.22435/hsr.v23i4.3379

Abstract:
Since the establishment of the Healthcare Social Security Agency (BPJS), there has been a low demand of patient demand for traditional medicine (TM) services in health care facilities. This study examined various aspects, situations/conditions and the potential use of TM in health facilities. Secondary sources, such as policies and regulations, and in-depth interviews, became the primary data. Those who in charge of the BPJS program was the key informant. The study focused on informants, particularly either Semarang or Surakarta. This study analysed the data, both descriptively and inductively. The aspects examined were services, the implementation of OT guarantees with BPJS, clinicians' readiness and government supports. The existence of JKN implies the use of OT to decrease dramatically. The health facilities did not fully utilise the presence of special allocation funds (DAK) and capitation arrangements. The list of TM was to contain the choices for preventive, promotive, curative, and palliative efforts either a compliment or an adjuvant. TM services involved in the path of preventive, promotive or curative actions either as an adjuvant, or complement with conventional medicine. TM financing may be from DAK, capitation funds or APBN II; however, these sources did not optimise yet. This condition happened due to the lack of political will from stakeholders, as well as the absence of standard reference for the Traditional Medicine Formulary, especially BPJS enrollment by the future. Therefore, the Ministry of Health RI has to issue a decree for health facilities obliged to provide services with traditional medicines. Abstrak Sejak dibentuknya Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS),terjadi penurunan permintaan pasien atas layanan obat tradisional di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Tujuan menganalisis berbagai aspek, situasi /kondisipemanfaatan obat tradisional dalam pelayanan di fasyankes. Mengkaji peraturan perundang-undangan dan kebijakan terkait pemanfaatan obat tradisional di fasyankes,dan melakukan wawancara mendalam dengan nara sumber relevan di fasilitas pelayanan kesehatan dan dinas kesehatan terpilih (Kota Surakarta dan Semarang). Analisis dilakukan secara deskriptif dan induktif. Terdapat lebih dari 20 peraturan perundang-undangan dan kebijakan terkait pemanfaatanobat tradisional di fasyankes.Aspek yang dikaji adalah pelayanan, implementasi jaminan OT dengan BPJS, kesiapan klinisi dan dukungan pemerintah. Adanya JKN menyebabkan penggunaan OT mengalami penurunan drastis, adanya pengaturan dana alokasi khusus (DAK) dan kapitasi, tidak dimanfaatkan fasyankes. Komite medik rumah sakit, puskesmas serta dinas kesehatan membutuhkan adanya daftar obat tradisional yang dapat digunakan di fasyankes yang ditetapkan pemerintah. Daftar obat tradisional diharapkan berisi pilihan obat tradisional untuk upaya preventif, promotif, kuratif ringan dan paliatif sebagai komplemen maupun sebagai adjuvan. Pelayanan dengan obat tradisional masuk jalur upaya preventif, promotif atau kuratif ringan baik sebagai adjuvant maupun komplemen dengan obat konvensional. Pembiayaan obat tradisional dapat dilakukan dengan DAK, dana Kapita si atau APBN II, namun belum dimanfaatkan. Kondisi ini karena kurangnya political will dari stake holder dan belum adanya acuan standar Formularium Obat Tradisional, terutama jika kemudian hari dapat dijamin oleh BPJS. Masih dibutuhkan adanya regulasi ketetapan menteri bahwa fasyankes wajib melakukan pelayanan dengan obat tradisional.
Back to Top Top