Journal of Aquaculture Science

Journal Information
ISSN / EISSN : 2550-0910 / 2579-4817
Total articles ≅ 51
Filter:

Latest articles in this journal

Sri Warastuti
Journal of Aquaculture Science, Volume 6, pp 58-67; doi:10.31093/joas.v6i1.140

Abstract:
Ikan baung merupakan salah satu jenis ikan lokal yang pertumbuhannya lambat. Salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ikan baung dapat dilakukan dengan pemberian probiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis penambahan probiotik yang optimum untuk pembesaran ikan baung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, tiga pengulangan dan satu kontrol. Dosis probiotik dijadikan sebagai perlakuan, dimana perlakuan A menggunakan 2 ml/kg, perlakuan B 4 ml/kg, perlakuan C 6 ml/kg, perlakuan D 8 ml/kg dan kontrol tidak diberikan probiotik. Pakan komersial diberikan secara ad satiasi dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari. Pengamatan dilakukan selama dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D 8 ml/kg memberikan pertumbuhan berat mutlak dan rasio konversi pakan terbaik. Sementara untuk variabel tingkat kelangsungan hidup ikan baung tidak memberikan pengaruh yang nyata bagi semua perlakuan.
Tholibah Mujtahidah, Usman Siswanto, Sri Hidayati, Abdul Qadir Jailani
Journal of Aquaculture Science, Volume 6, pp 12-23; doi:10.31093/joas.v6i1.125

Abstract:
Identifikasi Sebaran Ikan Beong (Hemibagrus nemurus) Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) di aliran sungai Progo Magelang ini merupakan proses pengumpulan database untuk mengetahui pola sebaran ikan beong serta menentukan sumber daya ikan beong dengan bantuan SIG dan dituangkan berupa peta zonasi sumberdaya ikan sehingga dapat membantu dalam upaya domestikasi yang bermuara pada budidaya komoditas perairan endemik. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi sebaran ikan beong, menentukan status sumber daya ikan beong berdasarkan data keragaman untuk melihat potensi yang ada serta menggambarkannya dalam bentuk peta zonasi sumberdaya ikan di Sungai Progo. Metode Penelitian yang dilakukan adalah metode survei dengan pendekatan SIG dan data yang disajikan berupa analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan beong (H. nemurus) di aliran sungai Progo banyak ditemukan di daerah dengan substrat lempung berpasir pada kedalaman 2 m yaitu di daerah Ngeluwar. Sebaran ikan beong (H. nemurus) di sungai Progo cenderung terdistribusi secara merata, karena secara kondisi habitat sungai Progo menunjang kehidupan ikan beong (H. nemurus).
Yudha Lestira Dhewantara
Journal of Aquaculture Science, Volume 6, pp 24-37; doi:10.31093/joas.v6i1.135

Abstract:
Kepiting bakau S. serrata merupakan komoditas yang memiliki prospek tinggi untuk dibudidayakan. Budidaya yang dilakukan di Indonesia belum intensif dan padat tebarnya rendah karena adanya ancaman kematian kepiting akibat kanibalisme. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan perbandingan pertumbuhan kepiting jantan dan betina dalam sistem resirkulasi sehingga dapat meningkatkan produktivitas kepiting bakau. Penelitian ini akan dilaksanakan dari bulan November 2019 sampai Juni 2020 di Laboratorium Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Satya Negara Indonesia dan Uji darah dilakukan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar- Bogor. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan dan masing-masing lima ulangan. Perlakuan terdiri atas :Perlakuan A: kepiting jantan ; Perlakuan B: kepiting betina; C: Kontrol. Benih yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 5 ekor untuk setiap perlakuan dengan lima kali ulangan dengan kepadatan 5 ekor setiap wadah pemeliharaan (galon). Pakan yang diberikan adalah pakan ikan selar Atule mate yang dipotong kecil-kecil. Ikan selar tersebut berasal dari Muara Angke, Jakarta Utara Pakan diberikan dengan frekuensi 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kepiting bakau scylla spp jantan dan betina secara resirkulasi mengasilkan kinerja produksi terbaik pada perlakuan betina wadah pemeliharaan yaitu dengan nilai tingkat kelangsungan hidup 53,33%, laju pertumbuhan mutlak 3,76 g, dan lebar karapas 3,44 mm.
Hipit Putri Apriasih, Ana Sofia, Latif Dwi Cahyo, Salsabila Nurdini Sakinah, Zenobia Anisa, Eric Armando, Tholibah Mujtahidah, Ayuningtyas Ayuningtyas
Journal of Aquaculture Science, Volume 6, pp 68-75; doi:10.31093/joas.v6i1.146

Abstract:
Ikan guppy saat ini banyak diminati karena memiliki variasi warna yang menarik seperti warna merah, biru, kuning. Kandungan karotenoid yang ada pada paprika merah dan bayam merah mampu meningkatkan kecerahan warna ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan paprika merah dan bayam merah terhadap warna ikan guppy. Metode yang digunakan adalah RAL 3 perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Data penelitian kemudian dianalisis menggunakan aplikasi Adope Photoshop dengan mengamati perubahan warna yang terjadi sebelum dan sesudah perlakuan dengan menggunakan color libraries. Penelitian ini menghasikan terlihatnya atau meningkatnya persentase warna biru dan ungu pada ikan guppy. Hal ini berkaitan dengan adanya karoten yang berikatan dengan protein dan menghasilkan karotenoprotein. Dari ketiga perlakuan didapatkan hasil perubahan warna yang paling menonjol adalah perlakuan1 (penambahan paprika). Pada perlakuan 1 terdapat perubahan warna yang signifikan pada warna biru dengan kode 732-0 dari 0% menjadi 11,9%, sedangkan pada perlakuan 2 (penambahan bayam) kode warna 732-0 berubah dari 0% menjadi 5,88%, perlakuan 3 (kontrol) berubah dari 1,21 % menjadi 0,6 %. Terlihatnya warna ungu dengan kode 728-0 pada perlakuan 1 dari 0% menjadi 2,36% pada perlakuan 2 dari 0% menjadi 0,22% dan pada perlakuan 3 warna ungu tidak keluar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa yang paling berpengaruh terhadap warna ikan guppy adalah paprika kemudian bayam dan yang terakhir adalah pakan tanpa perlakuan.
Rizki Dwi Akbar
Journal of Aquaculture Science, Volume 6; doi:10.31093/joas.v6i1.149

Ayuningtyas Ayuningtyas, Muhammad Tri Aji
Journal of Aquaculture Science, Volume 6, pp 1-11; doi:10.31093/joas.v6i1.124

Abstract:
Infeksi parasit pada budidaya ikan dapat memicu terjadinya infeksi primer akibat penurunan imunitas ikan sehingga memudahkan mikroorganisme lain baik bakteri maupun virus untuk masuk ke dalam tubuh ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menghitung prevalensi dan intensitas parasit yang ditemukan di tambak lele kelompok tani ikan "Mino Ngremboko" di Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo. Penelitian ini menggunakan metode kerokan dengan menelaah insang, lendir dari kulit, sirip dan saluran pencernaan pada benda kaca yang kemudian diamati secara mikroskopis menggunakan mikroskop cahaya perbesaran 10-40x. Parasit yang ditemukan adalah ektoparasit yang terdiri dari 6 spesies; Trichodina sp., Tetrahymena sp., Gyrodactylus sp., Dinoflagelata, Epistylis sp., dan Dactylogyrus sp. Tidak ditemukan parasit dari kelompok endoparasit dan hematozoa. Prevalensi tertinggi adalah Dactylogyrus sp. dengan angka prevalensi 54% dan terendah adalah Dinoflagella dengan angka prevalensi 10%. Intensitas parasit tertinggi dan terendah adalah Epistylis sp. (18,0 ind./ ikan terinfeksi) dan Dactylogyrus sp. (2,8 ind./ ikan yang terinfeksi), masing-masing. Dapat disimpulkan bahwa tingkat infeksi parasit pada tambak kelompok pembudidaya ikan berada pada tingkat normal/biasa berdasarkan kriteria prevalensi William dan Bunkley.Kata kunci: Ikan lele, Identifikasi Parasit, Prevalensi, Intensitas, Mino Ngremboko.
Abdul Qadir Jailani, Tholibah Mujtahidah
Journal of Aquaculture Science, Volume 6, pp 38-47; doi:10.31093/joas.v6i1.136

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bidoversitas iktiofauna di aliran Sungai Progo dalam menentukan tingkat keragaman ikan dan status sumberdaya ikan di sungai Progo dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling (sesuai kebutuhan penelitian) di 17 stasiun penelitian. Data yang di ambil meliputi titik koordinat, Indeks keanekaragaman (H’), Indeks kemerataan (E), Indeks dominansi (D), dan Kelimpahan relative (Kr) , serta pembuatan peta sebaran ikan sungai progo dengan Arcgis. Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks keanekaragaman (H’) menunjukkan nilai sedang dan tinggi dengan kisaran nilai 2,24 sampai 3,83, dengan komposisi hasil tangkapan terdiri dari 23 spesies dan 11 famili. Nilai indeks kemerataan (E) sungai progo berkisar antara 0,71 sampai 1,21. Berdasarkan nilai tersebut sungai progo memiliki nilai kemerataan antara spesies relatif merata atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama. Nilai indeks dominansi sungai progo berkisar antara 0,002-0,008 yaitu tidak ada spesies ikan yang mendominasi. Kelimpahan relatif (Kr) jumlah tertinggi yakni ikan balar (Barbonymus balleroides) = 0,12%, ikan melem (Osteochilus vittatus) = 0,11 %, ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) 0,09%, ikan nila (Oreochromis niloticus) 0,08%, Sedangkan terendah adalah ikan kekel (Glyptothorax platypogon) dan ikan sepat (Trichopodus trichopterus) dengan nilai 0,01%. Hasil Analisa sebaran ikan di sungai progo menunjukkan bahwa ikan banyak tersebar pada Kawasan sungai yang mempunyai karakteristik perairan yang dalam dan tenang hal ini ditunjukkan dengan jumlah hasil tangkapan pada masing-masing stasiun penelitian.
Rizki Dwi Akbar
Journal of Aquaculture Science, Volume 6; doi:10.31093/joas.v6i1.148

S.Pi. Rizal Akbar Hutagalung.
Journal of Aquaculture Science, Volume 6, pp 48-57; doi:10.31093/joas.v6i1.139

Abstract:
Ikan Baung merupakan salah satu ikan lokal Kalimantan barat yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Suplai ikan baung sebagian besarnya masih bergantung pada hasil tangkapan. Salah satu upaya memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan menyediakan benih ikan baung agar dapat dibudidaya secara berkelanjutan. Salah satu permasalahan yang timbul pada pemeliharaan larva ikan baung adalah rendahnya kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan, solusi yang paling strategis dilakukan adalah dengan menentukan jenis pakan yang tepat sesuai dengan kebiasaan makan dari larva ikan baung. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh jenis pakan alami yang paling efektif dari beberapa pakan alami yang diberikan yaitu pakan alami artemia, kutu air, cacing sutra dan tepung pellet. Sehingga dapat dimanfaatkan larva ikan baung dengan optimal dengan melihat respon kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 pengulangan. Perlakuan jenis pakan alami yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pakan artemia (A) Pakan Kutu Ait (B), Cacing sutra (C) dan Pakan Tepung Pellet (D) dan disusun secara acak. Hasil penelitian melalui analisis sidik ragam (Anova) menunjukkan bahwa semua perlakuan dapat memberikan pengaruh yang nyata bagi variabel laju pertumbuhan panjang mutlak maupun variabel tingkat kelangsungan hidup. Berdasarkan uji lanjut Tukey, perlakuan yang memberikan pengaruh laju pertumbuhan panjang mutlak terbaik adalah dari perlakuan C yakni dengan nilai pada tabulasi data panjang mutlak mencapai 9,20 cm, sedangkan perlakuan dengan pengaruh tertinggi untuk tingkat kelangsungan hidup adalah perlakuan A. Selama penelitian, kisaran parameter kualitas air cukup baik dan sudah memenuhi syarat untuk ikan baung dapat hidup dan tumbuh dengan baik yaitu suhu 24-280C, pH 7-8, DO 4-5 mg/liter, dan kadar NH3 dibawah 0,01 mg/liter.
Rizki Dwi Akbar
Journal of Aquaculture Science, Volume 5; doi:10.31093/joas.v5i2.132

Back to Top Top