Journal of Aquaculture Science

Journal Information
ISSN / EISSN : 25500910 / 25794817
Total articles ≅ 30
Filter:

Latest articles in this journal

Lutfi Hamzan Wari
Journal of Aquaculture Science, Volume 5, pp 127-137; doi:10.31093/joas.v5i1.83

Abstract:
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies ikan air tawar yang banyak di budidayakan di daerah – daerah yang memiliki ketersedian air tawar dalam jumlah yang besar. Dalam usaha budidaya ikan nila sering terjangkit adanya penyakit ikan yang tidak jarang menggagalkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan sehingga mengakibatkan kematian pada ikan yang dibudidayakan (gagal panen). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon pemberian ekstrak daun mimba (Azadiracta indicida) pada sistem imun dan pertumbuhan ikan nila. Ikan diberi ekstrak daun mimba yang ditambahkan ke dalam pakan selama 45 hari pada wadah kontainer ukuran 54cm x 37cm x 29cm masing-masing 10 ekor/wadah dengan volume 20 liter. Penelitian dilakukan dalam 5 perlakuan, kontrol + (Pakan komersil dan diinfeksi Aeromonas hydrophila 106cfu/ml sebanyak 0,1 ml/ekor), kontrol - (pakan komersil infeksi bakteri), P1 (pakan dicampur 0,5% ekstak daun mimba dan diinfeksi bakteri), P2 (1% ekstrak dan diinfeksi), P3 (2% ekstrak dan diinfeksi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun mimba dengan dosis 1% mampu mempertahankan SR sebesar 100%, meningkatkan jumlah eritrosit ikan nila sebesar 15,0×105 sel/ml dan leukosit sebesar 15,0×104 sel/ml dan haemoglobin sebesar 6,0% dari total sel darah yang terdapat pada P4 yang berperan dalam sistem imun ikan nila. Berdasarkan hasil penelitian ini, ekstrak daun mimba dapat digunakan pada budidaya ikan nila sebagai imunostimulan karena dapat meningkatkan kelangsungan hidup, sel darah merah, sel darah putih dan haemoglobin.
Muh Sulaiman Dadiono, Liga Insani
Journal of Aquaculture Science, Volume 5, pp 119-126; doi:10.31093/joas.v5i1.82

Abstract:
Pembenihan kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus) skala rumah tangga merupakan salah satu penyumbang peningkatan produksi benih kerapu nasional. dengan adanya pembenihan kerapu skala rumah tangga permintaan akan benih kerapu bisa terpenuhi serta meningkatkan perekonomian masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pembenihan kerapu macan skala rumah tangga yang meliputi penyediaan pakan, penetasan telur, pengelolaan kualitas air, pemanenan, Hatching Rate (HR) dan Survival Rate (SR). Metode pengambilan data dengan cara wawancara, observasi dan partisipasi aktif. Hasil observasi terkait pembenihan dimulai dengan penyediaan pakan alami hingga proses pemanenan benih berukuran 2,7-3 cm. Hatching Rate (HR) mencapai 80% dan Survival Rate (SR) mencapai 20%. Benih yang dihasilkan sebanyak 120.000 ekor/siklus. Hasil panen benih sebanyak 24.000 ekor/siklus. Kata kunci: Pembenihan, Kerapu Macan, Epinephelus fuscogutattus, Skala Rumah Tangga
Muchtar Muchtar, Mochammad Farchan, Mugi Mulyono
Journal of Aquaculture Science, Volume 5, pp 170-185; doi:10.31093/joas.v5i1.90

Abstract:
Prospek usaha budidaya udang ditambak saat ini masih menjadikan kegiatan usaha yang menguntungkan. Namun demikian peningkatan produksi harus diikuti dengan penerapan teknologi yang berkelanjutan. Pembukaan lahan baru dan pengelolaan lahan yang sudah ada (eksisting) tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, social dan ekonomi. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menentukan strategi pengembangan budidaya udang berkelanjutan di kawasan pesisir Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan bulan Juli sampai dengan Oktober 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai dengan pengumpulan data secara observasi, focus grup diskusi (Focus Group Discussion), wawancara dan studi lapang di kawasan pesisir Kota Tegal. Jumlah pembudidaya target penelitain adalah 16 orang dari tiga kecamatan diantaranya Kecamatan Margadana, Kecamatan Tegal Timur dan Kecamatan Tegal Barat Analisa data dilakukan secara deskriptif dan analisis SWOT ( Strenght, weaknes, opportunity, threat) . Berdasarkan hasil analisis SWOT kekuatan (S) yang paling berpengaruh terhadap pengembangan budidaya udang adalah ketersediaan teknologi (0,60), kelemahan (W) terbesar saluran inlet dan outlet (0,10), peluang (O) paling besar kebutuhan pasar udang (0,80) sedangkan ancaman (T) terbesar adalah abrasi (0,10). Berdasarkan matriks SWOT didapat peringkat alternatif strategi pengembangan. Mulai dari stategi SO (3,28), WO (2,99), ST (0,69) dan WT (2,40). Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan nilai pada matrik IFAS diperoleh nilai total faktor internal sebesar 2,86 dan EFAS diperoleh nilai total faktor eksternal sebesar 2,69 maka berdasarkan perhitungan skor pada Matrik IFAS dan EFAS dengan dimasukkan ke internal dan eksternal usaha budidaya udang vaname di Kawasan pesisir Kota Tegal berada dalam posisi sel (segmen) V dan pada fase ini usaha akan mengalami pertumbuhan dan stabilitas produksi. Pada kondisi tersebut sinyalemen nya adalah usaha budidaya udang di pesisir Kota Tegal berada pada kondisi yang relatif stabil dengan jumlah volume dan nilai produksi yang semakin meningkat dengan komoditas andalan udang vaname. Kesimpulannya adalah pengembangan budidaya udang vaname dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan pasar dan penerapan aplikasi teknologi budidaya yang ramah lingkungan.
Suciyono Suciyono
Journal of Aquaculture Science, Volume 5; doi:10.31093/joas.v5i1.101

Suciyono Suciyono
Journal of Aquaculture Science, Volume 5; doi:10.31093/joas.v5i1.113

Lailatul - Lutfiyah
Journal of Aquaculture Science, Volume 5, pp 138-148; doi:10.31093/joas.v5i1.84

Abstract:
AbstrakPakan merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya perikanan, karena berpengaruh terhadap ketahanan dan perkembangan larva. Jenis pakan yang diberikan pada larva ikan yaitu pakan buatan dan pakan alami. Salah satu jenis pakan alami yang digunakan sebagai penambah kebutuhan pakan budidaya adalah fitoplankton jenis Tetraselmis sp,. Sehingga diperlukan adanya praktik untuk mempelajari, memahami dan mempraktekan secara langsung teknik kultrur pakan alami Tetraselmis sp. skala laboatorium. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah Desember 2018 - Januari 2019. Teknik kultur terdiri atas beberapa tahapan diantaranya adalah persiapan alat dan bahan, sterilisasi, pembuatan pupuk, persiapan media, penghitungan inokulan, pemberian nutrisi, penebaran bibit dan pemeliharaan. Tetraselmis sp. memiliki empat fase pertumbuhan yang terdiri atas fase adaptasi, eksponensial, stasioner dan kematian. Tetraselmis sp. mengalami kepadatan tertinggi pada hari kesepuluh dengan rata-rata 109,87 x 104 sel/ml. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Tetraselmis sp. cukup lama. Setelah mengalami fase eksponensial, Tetraselmis sp. mengalami fase stasioner selama tiga hari dan selanjutnya menurun hingga kepadatam 65,22 x 104 sel/ml pada akhir kultur.
Rachmat Noer Soelistyoadi
Journal of Aquaculture Science, Volume 5, pp 155-169; doi:10.31093/joas.v5i1.89

Abstract:
Myxobolus koi adalah jenis parasit myxospore yang banyak menginfeksi ikan hias tawar, penyakit ini disebut juga myxobolusis. Saat ini terdapat 29 spesies Myxobolus yang telah teridentifikasi menginfeksi Cyprinus carpio, dengan 17 diantaranya menginfeksi insang, sehingga akan sulit menentukan jenis spesies Myxobolus dengan cara konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies Myxobolus yang menginfeksi ikan koi Cyprinus carpio berdasarkan analisa konvensional dan secara molekuler. Spora Myxobolus yang diperoleh dari Kabupaten Blitar secara mikroskopis memiliki ukuran panjang spora 11-14 µm dengan rata-rata 12,82 ±0,75 µm dan lebar 7-8 µm dengan rata-rata 7,09±0,84 µm, sedangkan ukuran kapsul memiliki panjang 7-8 µm dengan rata-rata 7,36 ±0,497 µm dan lebar 2-3 µm dengan rata-rata 2,64±0,49 µm n=10. Hasil elektroforesis ikan yang secara klinis terinfeksi Myxobolus koi muncul pita (band) pada 2000 bp, sequensing DNA parasit Myxobolus koi yang menginfeksi ikan koi (Cyprinus carpio) di Blitar memiliki kemiripan (percent identity) tertinggi dengan kode sampel KT.240127.1 yaitu pada Myxobolus koi yang menginfeksi ikan Rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) di Barat Daya China. Jarak genetik sampel Myxobolus koi blitar terdekat pada sampel Myxobolus koi pada ikan koi (Cyprinus carpio) dengan kode sampel FJ841887.1 dan Myxobolus koi pada ikan rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) dengan kode sampel KT240127.1. pada nilai yang sama 0,273.
Arif Habib Fasya
Journal of Aquaculture Science, Volume 5, pp 149-154; doi:10.31093/joas.v5i1.85

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur dan fekunditas ikan gurame (Osphronemus gouramy). Metode yang digunakan adalah survei dan pengamatan secara langsung. Pelaksanaan pengamatan dilakukan di Instalasi Perikanan Budidaya (IPB) Pandaan, Jawa Timur. Induk ikan gurame terbagi menjadi 3 kolam berdasarkan umurnya yaitu pada kolam A berumur 2,5 tahun, kolam B berumur 4 tahun dan kolam C berumur 8 tahun. Pengamatan dilakukan dengan cara pengambilan telur dari sarang pada masing-masing kolam kemudian dihitung secara manual. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa induk pada kolam A menghasilkan 1318 butir telur, kolam B menghasilkan 2299 butir telur dan kolam C menghasilkan 1074 butir telur.Keyword : Umur, Fekunditas, Osphoronemus gouramy
Mohammad Faizal Ulkhaq
Journal of Aquaculture Science, Volume 4; doi:10.31093/joas.v4i2.77

Abstract:
The aim of this study was to determine the type of culture container for increasing the cell density of Nitzschia and producing the hightly cell biomass. The stages of this study were sterilization of containers and media, making diatom fertilizers and agar media, culture of Nitzschia in agar medium, culture of Nitzschia in test tube, and culture of Nitzschia in glass and plastic containers. The result showed that the cell density of Nitzschia cultured in the glass container was higher than plastic containers. Further study was needed to determine the nutrient composition of Nitzschia that culture in glass containers.
Suciyono Suciyono
Journal of Aquaculture Science, Volume 4; doi:10.31093/joas.v4i2.114

Back to Top Top