Jurnal Medik Veteriner

Journal Information
ISSN / EISSN : 26157497 / 2581012X
Current Publisher: universitas airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 51
Filter:

Latest articles in this journal

Suryaningrum Suryaningrum, Faisal Fikri
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2, pp 145-151; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.145-151

Abstract:Seekor anjing ras Pomeranian, bernama Kino, berumur tiga tahun, dan berjenis kelamin jantan, datang ke klinik dengan keadaan mata kanan telah menggelap, terdapat koloni larva, dan berbau busuk. Berdasarkan anamnesis dari pemilik anjing dan hasil dari pemeriksaan fisik, hewan didiagnosa mengalami ophtal myasis. Tindakan yang diambil untuk menangani kasus ini adalah tindakan operatif enukleasi bulbi. Terapi sistemik pasca tindakan operasi dengan memberikan Dexamethasone dan Ceftriaxone injeksi intra muskularis, serta pemberian terapi per oral menggunakan kombinasi obat: Methylprednisolon, Ketoprofen, Adona, Cefadroxil, dan Heptasan. Proses pemulihan anjing membutuhkan waktu 14 hari.
Ricky Eka Sucita, Iwan Sahrial Hamid, Faisal Fikri, Muhammad Thohawi Elziyad Purnama
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2, pp 119-126; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.119-126

Abstract:Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) secara topikal dapat mempercepat kepadatan kolagen pada penyembuhan luka insisi tikus putih (Rattus norvegicus). Sebanyak 20 ekor tikus jantan dibagi secara acak menjadi lima kelompok, yakni: kontrol negatif (K-) yang diberi basis salep, kontrol positif (K+) yang diberi salep povidone iodine 10%, kelompok perlakuan (P1; P2; P3) yang diberi salep ekstrak kayu secang 6.5%; 15%; 30%. Perlakuan diberikan pada daerah luka secara topikal sekali sehari selama 14 hari. Data hasil skoring histopatologi diuji dengan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Kepadatan kolagen luka insisi kelompok P1 berbeda signifikan dengan kelompok P2, P3, K-, dan K+, dan tidak ada kelompok yang berbeda secara signifikan selain itu. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan rata-rata kepadatan kolagen pada kelompok P1 adalah dosis optimal.
Nadya Amanda Chaerunissa, Vivi Oktaviana, Agus Sunarso, Aditya Yudhana, Kusnoto Kusnoto
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2, pp 96-100; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.96-100

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi helminthiasis yang menyerang kuda di kelompok kesenian “Jaran Kencak” di Desa Patoman, Banyuwangi. Pemeriksaan helminthiasis dilakukan dengan mengambil sampel feses setelah kuda defekasi dan didapatkan sebanyak 11 sampel feses. Tahapan pemeriksaan menggunakan metode natif sederhana di Laboratorium Instrument FKH Unair Banyuwangi. Hasil yang didapatkan 1 (9.09%) dari 11 sampel positif ditemukan larva saluran cerna pada kuda berjenis sandel berumur 20 tahun. Berdasarkan penelitian dari deteksi heminthiasis kuda adalah sebagai upaya penanganan kasus infeksi parasit cacing baik sesama jenis hewan maupun yang beresiko zoonosis terhadap manusia dalam hal ini terutama pemilik kuda.
Wahyu Dwi Katmono, Shabrina Fauzia Prayoga, Vivi Oktaviana, Faisal Fikri
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2, pp 140-144; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.140-144

Abstract:Sanca kembang (Phyton reticulatus) merupakan reptil yang banyak dipelihara oleh masyarakat. Pemeliharaan Phyton reticulatus banyak diminati karena motif dari kulit dan ular ini mudah beradaptasi. Managemen pemeliharaan yang kurang baik dapat mengakibatkan infestasi caplak yang dapat merusak motif kulit Phyton reticulatus. Phyton reticulatus didapatkan dari Banyuwangi Reptile Community yang dimanfaatkan sebagai hewan peliharaan di Banyuwangi, Jawa Timur. Berdasarkan laporan pemilik, diduga ular ini terinfestasi caplak. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeteksi ektoparasit dari Phyton reticulatus yang dipelihara dan dimanfaatkan dengan tujuan sebagai hewan eksotik. Caplak yang didapatkan dari sanca kembang kemudian dilakukan pemeriksaan menggunakan pembuatan preparat dengan teknik sediaan utuh (whole mount). Berdasarkan hasil pemeriksaan berhasil ditemukan caplak dari genus Amblyomma.
Dwi Putri Indriyani, Wiwiek Tyasningsih, Ratih Novita Praja
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2, pp 83-88; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.83-88

Abstract:Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan Salmonella kontaminasi pada sapi potong yang disembelih di Rumah Potong Hewan (RPH) Banyuwangi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging sapi yang diambil pada Januari 2018 yang disembelih di RPH Banyuwangi. Penelitian ini mengambil 25 gram musculus paha dari daging sapi digunakan sebagai sampel dan jumlah sampel adalah 32 sampel daging sapi yang diambil dari pemotongan sapi di RPH Banyuwangi. Hasil uji isolasi dan identifikasi menggunakan IMVIC menunjukkan bahwa 3.1% sampel positif Salmonella spp. sedangkan persentase sampel negatif Salmonella spp. adalah 96.9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan hasil sampel positif 3.1% menunjukkan adanya Salmonella spp. ini bisa jadi karena RPH Banyuwangi sebagai tempat pengambilan sampel memiliki sanitasi yang lebih baik sehingga tingkat kontaminasi yang terjadi tidak terlalu tinggi.
Laila Nur Hayati, Wiwiek Tyasningsih, Ratih Novita Praja, Sri Chusniati, Maya Nurwartanti Yunita, Prima Ayu Wibawati
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2, pp 76-82; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.76-82

Abstract:Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri yang sering menyebabkan mastitis subklinis pada Kambing Peranakan Etawah (PE) yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar akibat turunnya produksi susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi Staphylococcus aureus pada susu kambing PE pederita mastitis subklinis di Kelurahan Kalipuro, Banyuwangi. Sampel yang digunakan berupa susu kambing PE yang diambil pada bulan Desember 2018 di Kelurahan Kalipuro, Banyuwangi. Metode sampling yang digunakan yaitu metode purposive sampling dimana kriteria kandang yang menggunakan bahan baku kayu dan bambu, umur kambing PE 2-3 tahun, kambing yang aktif diperah dan terbukti positif 3 dan 4 mastitis subklinis melalui uji CMT. Sampel yag didapat sebanyak 17 kemudian dianalisis laboratorik di laboratorium mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Banyuwangi. Tahap isolasi pada media MSA dan dilanjutkan tahap identifikasi dengan menggunakan pewarnaan Gram, uji katalase, uji manitol, uji koagulase dan uji VP. Diperoleh hasil yaitu terdapat 16 (94.1%) sampel positif Staphylococcus aureus.
Adelita Putri Sevitasari, Mustofa Helmi Effendi, Prima Ayu Wibawati
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2, pp 72-75; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.72-75

Abstract:Mastitis adalah penyakit yang terjadi akibat infeksi pada kelenjar ambing. Mastitis subklinis merupakan tipe mastitis yang tidak menunjukkan gejala klinis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi mastitis subklinis pada peternakan Kambing PE dengan menggunakan metode California Mastitis Test sebagai penelitan awal untuk mendapatkan data awal kejadian kasus mastitis subklinis di Kelurahan Kalipuro, Banyuwangi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Deteksi dilakukan dengan pengambilan sampel susu pada kambing PE secara purposif dan direaksikan reagen CMT diputar secara sirkuler selama 10–15 detik. Pengamatan hasil reaksi sampel susu dan reagen ditentukan berdasarkan perubahan konsistensi dengan adanya masa pengentalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kejadian kasus mastitis subklinis sebesar 82.76%. Faktor terjadinya mastitis subklinis dapat dipengaruhi oleh manajemen perkandangan dan pemerahan peternakan, karena sanitasi dan hygiene berpengaruh pada tingkat kontaminasi bakteri.
Firman Setyawan, Tri Wahyu Suprayogi, Ragil Angga Prastiya, Tjuk Imam Restiadi, Amung Logam Saputro, Bodhi Agustono
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.101-107

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan waktu ekuilibrasi 2 jam, 3 jam, 4 jam dan 5 jam terhadap motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa Sapi Rambon sebelum pembekuan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu waktu ekuilibrasi P1 (2 jam), P2 (3 jam), P3 (4 jam) dan P4 (5 jam), satu ekor pejantan sapi rambon, dan lima kali pengulangan. Hasil analisis statistik Anova satu arah dan dilanjut uji Duncan mendapatkan hasil motilitas (P1) 76.00±2.2/3; (P2) 73.00±2.7/3; (P3) 67.00±2.7/3; dan (P4) 52.00±2.7/2. Hasil viabilitas (P1) 86.00±1.41; (P2) 78.00±2.73; (P3) 72.00±5.70 dan (P4) 57.00±2.73. Hasil abnormalitas (P1) 3.7±0.75; (P2) 3.8±0.75; (P3) 4.4±1.08 dan (P4) 5.2±0.57. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan hasil yang berbeda nyata (p
Albiruni Haryo
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.158-161

Abstract:Canine allergies has a most common symptoms occur as skin irritations : itching, scratching, digging, and gnawing at the skin, often to the point of creating open raw wounds over large areas of the body. For the confirmation diagnosis, the patient has to be checked by laboratories examination. Based on anamneses, clinical examination and laboratories, it is logical to conclude that this dog which names choky suffers toxic allergic because of toxic accumulation from his food and the prognose was fausta. The treatments which were given for the dog are changing dog food, reducing the total protein in food at least one week, dietic protein and increasing exercise, also scalling for decreasing the plack in dog teeth. Moreover, Choky was given transfer factor supplement and antihistamin with low dosage.
Khoirul Arifin, Kusnoto Kusnoto, Aditya Yudhana, Agus Sunarso, Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, Ratih Novita Praja
Published: 16 October 2019
Jurnal Medik Veteriner, Volume 2; doi:10.20473/jmv.vol2.iss2.2019.108-111

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi haemonchiasis pada kambing peranakan Etawah di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai Februari 2019 dengan menggunakan 100 sampel feses. Pemeriksaan sampel dilakukan di laboratorium Instrumen Prodi Kedokteran Hewan Universitas Airlangga PSDKU di Banyuwangi, menggunakan metode natif, sedimentasi dan apung. Data yang diperoleh dari penelitian ini disajikan secara deskriptif dan dianalisis dengan uji Chi-Square. Berdasarkan hasil pemeriksaan prevalensi haemonchiasis pada kambing peranakan Etawah adalah 15%. Disarankan agar diberikan obat cacing secara berkala dan berkesinambungan serta dilakukan pemeriksaan haemonchiasis.