Journal of Public Health Research and Community Health Development

Journal Information
ISSN / EISSN : 2580-0140 / 2597-7571
Current Publisher: universitas airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 46
Filter:

Latest articles in this journal

Ronggo Yudo Wicaksono
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 1, pp 39-47; doi:10.20473/jphrecode.v1i1.20455

Abstract:
Risk Management K3 merupakan suatu upaya untuk mengelola risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) untuk mencegah terjadinya kecelakaan secara sistematis dan terstruktur dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan kegiatan risk management pada engine room Kapal Feri Selat Madura II Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dan merupakan penelitian cross sectional berdasarkan waktu penelitiannya. Objek penelitian ini berfokus pada engine room, dengan populasi seluruh pekerja engine room yang berjumlah 6 orang. Data primer didapatkan melalui hasil observasi dan wawancara yang kemudian dianalisis secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada engine room terdapat 25 jenis bahaya dengan 5 bahaya termasuk dalam kategori risiko tingkat tinggi atau risiko yang tidak dapat diterima, 20 bahaya merupakan risiko tingkat sedang atau risiko dapat ditolerir, dan 5 bahaya merupakan risiko tingkat rendah atau risiko yang dapat diterima. Upaya pengendalian yang diterapkan adalah pengendalian secara teknik engineering, administratif dan penyediaan Alat Pelingdung Diri (APD). Pengendalian yang paling efektif adalah pengendalian dalam bentuk pemasangan safety device pada mesin, dengan nilai sebesar 90%. Berdasarkan penilaian risiko sisa, masih terdapat 6 bahaya dengan tingkat risiko sedang.Kesimpulan penelitian ini adalah, dari total 25 macam bahaya pada engine room Kapal Feri Selat Madura II Surabaya , 20% diantaranya termasuk kedalam bahaya dengan tingkat risiko tinggi atau tidak dapat diterima, namun pengendalian yang diterapkan rata-rata memiliki nilai 90%, maka dari itu 76% bahaya dengan kategori risiko tinggi atau tidak dapat diterima dapat diturunkan menjadi kategori dapat diterima.
Rr. Vigna Maya Kosha, Indriati Paskarini
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 1, pp 30-38; doi:10.20473/jphrecode.v1i1.20454

Abstract:
PT. Charoen Pokphand Indonesia, Krian yaitu merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pakan ternak yang memiliki tingkat risiko kebakaran yang tinggi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari pelaksanaan sistem pencegahan kebakaran di PT. Charoen Pokphand Indonesia, Krian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Informan dari penelitian ini yaitu antara lain terdiri dari dua puluh lima orang informan yang terdiri dari lima manager, lima supervisior, lima Safety, Health and Environment (SHE) dan sepuluh tim tanggap darurat. Variabel dalam penelitian ini atara lain adalah kebijakan manajemen, organisasi dan prosedur, identifikasi bahaya kebakaran, pembinaan dan pelatihan, sarana proteksi kebakaran aktif dan pasif, inspeksi kebakaran, pengendalian bahaya/ pencegahan, Terdapat Kebijakan manajemen dan sudah disosialisasikan kepada seluruh karyawan. Organisasi dan prosedur sudah terlaksana sesuai dengan tugas masing-masing. Identifikasi bahaya kebakaran menggunakan matriks risiko yang menunjukkan termasuk risiko kebakaran tinggi. Pembinaan dan pelatihan sudah diberikan kepada karyawan secara rutin. Sarana proteksi kebakaran aktif dan pasif sudah ada dan dalam keadaan dapat dipakai. Proses inspeksi kebakaran sudah dilakukan secara rutin. Upaya pengendalian/ pencegahan sudah terbentuk dan sudah dilakukan secara rutin. Penerapan sistem pencegahan kebakaran atau pra kebakaran bernilai sangat baik karena telah memuat semua elemen yang harus dijalankan dalam mengelola bahaya kebakaran.
Aprillinardi Mahdi Putra Prasetya
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 1, pp 48-60; doi:10.20473/jphrecode.v1i1.20456

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah penerapan SMK3 PT. Indopherin Jaya telah sesuai dengan PP No. 50 Tahun 2012. Penelitian ini bersifat deskriptif . Subjek pada penelitian ini adalah pihak yang berwenang dalam penerapan SMK3 yakni anggota departemen P2K3L perusahaan sebanyak 8 orang. Data diperoleh dengan cara wawancara dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Indopherin Jaya telah memiliki kebijakan dan komitmen K3. Perumusan perencanaan berdasarkan identifikasi potensi bahaya. Pemantauan dan evaluasi telah dilakukan menurut ketentuan perundangan. Peninjauan dan peningkatan kinerja SMK3 juga sudah dilakukan secara rutin dan berkesinambungan. . PT. Indopherin Jaya sudah menerapkan 95% dari semua kriteria pada penilaian penerapan SMK3 menurut PP No. 50 Tahun 2012.
Ayik Mirayanti Mandagi
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 1, pp 1-12; doi:10.20473/jphrecode.v1i1.20451

Abstract:
Karies pada anak prasekolah masih menjadi masalah kesehatan gigi masyarakat dengan prevalensi mencapai 90% dan keparahan cukup tinggi di berbagai daerah. Penelitian bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan keparahan karies pada anak prasekolah. Penelitian ditujukan untuk pengembangan program kesehatan gigi mulut di puskesmas di Surabaya. Penelitian berjenis analitik dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data dengan pemeriksaan karies gigi dan kebersihan mulut, dan wawancara menggunakan kuesioner. Pemilihan populasi melalui skrining siswa PAUD dan TK kelas A diperiksa ada tidaknya karies sebanyak 509 anak, diperoleh populasi yaitu 460 anak. Melalui penyamplingan diperoleh sampel 104 anak. Variabel terikat yaitu keparahan karies. Variabel bebas yaitu tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan pengasuh, frekuensi konsumsi kariogenik, menyikat gigi, kebersihan mulut, kebiasaan minum susu botol, dan kontrol ke dokter gigi. Hasil menunjukkan faktor yang berhubungan dengan keparahan karies yaitu tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan pengasuh, frekuensi konsumsi kariogenik, menyikat gigi, kebersihan mulut, kebiasaan minum susu botol, dan kontrol ke dokter gigi. Kesimpulan yaitu faktor determinan yang berhubungan dengan keparahan karies meliputi tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan pengasuh, frekuensi konsumsi kariogenik. Faktor dominan yaitu frekuensi konsumsi kariogenik.
Yazid Albustomi, Denny Ardyanto W.
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 1, pp 22-29; doi:10.20473/jphrecode.v1i1.20457

Abstract:
Tingginya intensitas kebisingan yang terjadi pada area kerja akan menimbulkan gangguan kesehatan seperti perubahan tekanan darah dan ganguan pendengaran. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian kohort. Populasi penelitian ini diambil sesuai dengan syarat inklusi yang telah ditentukan, sehingga diperoleh populasinya 36 orang (20 orang pada area >85dBA dan 16 orang di area ≤85dBA). Sampel diambil dengan menggunakan teknik stratified random sampling, sehingga sampel di peroleh sebesar 25 orang.Hasil penelitian terlihat bahwa intensitas kebisingan di area STMC sebesar 90,17 dBA (area selatan) dan 89,67 dBA (area utara). Intensitas pada area SHE sebesar 62,57 dBA serta pada area main office sebesar 60,97 dBA. Hasil analisis perubahan tekanan darah sistole sebelum dan setelah bekerja di area STMC menunjukkan bahwa nilai p = 0,001 < 0,05 serta pada area SHE dan main office menunjukkan bahwa nilai p = 1,000 > 0,05. Hasil analisis perubahan tekanan darah diastole sebelum dan setelah bekerja menunjukkan bahwa nilai p = 0,014 < 0,05 serta pada area SHE dan main office menunjukkan bahwa nilai p = 1,000 > 0,05. Kesimpulannya adalah terdapat perbedaan tekanan darah sistole dan diastole sebelum dan setelah bekerja pada pekerja yang terpapar bising di area STMC serta tidak ada perbedaan tekanan darah sistole dan diastole sebelum dan setelah bekerja pada pekerja yang terpapar bising di area SHE dan main office.
Anda Desi Puspita, Noeroel Widajati
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 1, pp 13-21; doi:10.20473/jphrecode.v1i1.20452

Abstract:
Lingkungan kerja di bagian Injection Moulding 1 PT.X Sidoarjo memiliki iklim kerja yang panas. Iklim kerja yang panas tersebut berasal dari panas yang dihasilkan oleh mesin produksi yang jumlahnya banyak. Iklim kerja yang panas menyebabkan pekerja terasa panas, banyak mengeluarkan keringat dan dapat mengakibatkan terjadinya dehidrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari iklim kerja dan tingkat dehidrasi pada pekerja shift pagi bagian Injection Moulding 1 PT.X Sidoarjo. Penelitian ini termasuk penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional. Alat yang digunakan untuk mengukur iklim kerja yaitu heatstress monitor Questemp 36 dan tingkat dehidrasi menggunakan pemeriksaan berat jenis urin. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu total populasi sebanyak 31 pekerja yang telah memenuhi kriteria inklusi yaitu dalam kondisi sehat, tidak mempunyai penyakit ginjal dan diabetes mellitus, dan tidak sedang haid atau diare. Data yang diperoleh diolah secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan iklim kerja bagian Injection Moulding 1 tertingggi sebesar 29.50C (melebihi NAB) dan 24 pekerja mengalami pre dehidrasi. Terdapat hubungan yang lemah antara iklim kerja dengan tingkat dehidrasi (koefisien 0,204). Saran kepada perusahaan untuk menambahkan garam elektrolit pada air minum pekerja dan meningkatkan fasilitas untuk mengakses air minum serta menganjurkan pekerja mengkonsumsi air minum secara teratur dan memberikan edukasi kepada pekerja tentang kebutuhan cairan tubuh untuk lingkungan kerja panas.
Dwi Indica Danida
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 3, pp 79-87; doi:10.20473/jphrecode.v3i2.15177

Abstract:
Room attendant and public area attendant’s job involved in repetitive activities and awkward posture that can cause uncomfortable ergonomic situation and can lead to musculoskeletal disorder. The aim of this research is to see the relation of work posture with musculoskeletal complaints on room attendant and public area attendant workers in Hotel Kartika Chandra especially on janitorial worker that cleans glasses, toilets and carpets. This research is using cross-sectional design approach which have been done in February until June 2019. Total sampling is used to determine the samples of all the population of room attendant and public area attendant workers in Hotel Kartika Chandra with 42 respondents as the samples. And the result shows that the majority of respondents having musculoskeletal issuereach 57,1%. Bivarat analysis shows that there is a correlation between work posture on musculoskeletal complaints. Therefore, it is necessary to adjust work tools that are in accordance with worker anthropometry and work stations and education about good and correct work ergonomics. Keywords: Ergonomic, musculoskeletal complaints, public area attendant, room attendant, work posture
Made Nita Sintari
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 3, pp 108-119; doi:10.20473/jphrecode.v3i2.13419

Abstract:
Background: Malcolm Baldrige method has been widely used to assess institutional performance. However, data obtained from the assessment are still visualized in the form of tables. This kind of visualization for rendering data is less interesting and makes readers difficult to interpret the data. Aims: This study presented some recommendations for data visualization in various forms, such as charts and diagrams to facilitate data interpretation. Methods: This study utilized Microsoft Excel 2007 software to create charts. The data used as an example for analysis was the performance assessment using Malcolm Baldrige method at Muhammadiyah Gresik Hospital in June 2012. Results: The results of this study reported that by using Malcolm Baldrige method, the data could be visualized in forms of bar charts, radar charts, and pie charts. Conclusion: To conclude, performance assessment can be visualized not only in tables but also charts and diagram that have a more visual presentation.Keywords: Charts, performance, Malcolm Baldrige, visualization
Peni Kistijani Samsuria, Indranila Kustarini Samsuria
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 3, pp 120-127; doi:10.20473/jphrecode.v3i2.15010

Abstract:
Pendahuluan: Latar belakang: RNA untai ganda (dsRNA), siRNA, miRNA, RNAi, menginduksi metilasi DNA pada tumbuhan dan dalam sel mamalia, termasuk manusia. Kini RNAi menjadi prinsip dalam pengobatan kanker sekarang dan di masa depan. Masalah: Metilasi pulau CpG dan pengulangan DNA CGG merupakan kasus prevalensi tinggi di hutan hujan tropis, tetapi sampai sekarang terabaikan. Prinsip kehati-hatian dalam efek lingkungan harus diambil oleh para pembuat keputusan dan pemegang kebijakan. Tujuan: Mengetahui efek pembungkaman gen terhadap lingkungan. Hipotesis: RNAi menyebabkan hipermetilasi. Metode: Quasi ‘Systematic Review’ dengan Analisis Bayesian. Hasil: Menggunakan mesin pencari Science Direct, 935 referensi tertangkap ditambah 11 referensi yang sudah direkam dalam pustaka Mendeley, dan setelah menyaring abstrak atau judul, 920 dikeluarkan dengan duplikasi yang tidak relevan baik dianalisis dengan jaringan Bayesian terbaru untuk menjawab hipotesis. Menyaring teks lengkap dari 18, kemudian 16 teks lengkap dipilih. 28 teks lengkap diperiksa dan periksa kembali dengan meta-analisis RNA-metilasi menggunakan Science Direct (12 referensi). Diskusi: Sebuah teknik CpG-siRNA telah mempertahankan hipermetilasi pulau CpG, digunakan secara luas dalam terapi tanaman dan kanker untuk menstabilkan gen yang terbungkam.Kesimpulan: Pengaruh teknik pembungkaman gen terhadap lingkungan harus diketahui secara luas oleh pemegang kebijakan dan pengambil keputusan. Keywords: Hipermetilasi, Pulau CpG, RNAi, Pembungkaman gen, Budidaya ikan
Asrining Pangastuti
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 3, pp 70-78; doi:10.20473/jphrecode.v3i2.12827

Abstract:
Latar Belakang: Menurut WHO anemia pada ibu hamil adalah bila kadar hemoglobin 0,05) dan cakupan pemberian tablet Fe (p-value > 0,05) dengan prevalensi anemia ibu hamil. Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara cakupan ANC dan cakupan pemberian tablet Fe dengan prevalensi anemia ibu hamil. Kejadian anemia pada ibu hamil dipengaruhi banyak faktor lain seperti status gizi dan kepatuhan ibu dalam konsumsi tablet Fe.
Back to Top Top