Journal of Public Health Research and Community Health Development

Journal Information
ISSN / EISSN : 2580-0140 / 2597-7571
Current Publisher: Universitas Airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 62
Filter:

Latest articles in this journal

Weni Tri Purnani
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 130-136; doi:10.20473/jphrecode.v4i2.15418

Abstract:
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan yodium yang dibutuhkan tubuh untuk membuat hormon yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan. Garam beryodium yang digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) mengandung sebanyak 30-80 ppm. Tujuan penelitian untuk mengetahui Hubungan Antara Penggunaan Garam Beryodium Dengan Pertumbuhan Dan Perkembangan Pada Balita.Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasional dengan pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu balita yang ada di Puskesmas Campurejo berjumlah 93, dengan teknik simple random sampling diperoleh sampel sebanyak 40 responden. Instrument yang digunakan yaitu alat ukur iodium tes, alat ukur (timbangan, pengukur tinggi badan), tabel Z dan KPSP. Hasil penelitian kemudian dianalisa menggunakan Uji Spearman Rho. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa P value adalah 0,000 < α (0,05) Ho ditolak yaitu ada hubungan antara penggunaan garam beryodium dengan pertumbuhan dan berdasarkan uji statistic spearmen’rho nilai P value < α (0,05) didapatkan P value adalah 0,002 maka Ho ditolak artinya ada hubungan antara garam beryodium dengan perkembangan balita. Disarankan agar orang tua mampu memberikan nutrisi khususnya pemberian garam beryodium yang sesuai pada balita agar dapat mencegah terjadinya gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan
Rahmah Amalina
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 122-129; doi:10.20473/jphrecode.v4i2.21545

Abstract:
Construction is one of the highest industries in contributing to work accident rates. Unsafe act is the cause of 73% of work accidents. One way to prevent unsafe act is through safe behavior implemented by management and workers themselves. This study aims to determine the correlation between the safety climate with unsafe act. This research uses quantitative analytic methods with cross sectional design study. Data was analyzed using chi-square with a sample of 88 people selected by purposive sampling method. The results showed that the proportion of respondents who frequently perform unsafe acts was 33%. In bivariate analysis showed there were a relevant relationship between the dimensions of management safety empowerment (OR 2.455; 95% CI 1.06-5.87), worker’s safety priority and risk non-acceptance (OR 2.679; 95% CI 1.05- 6,83) and the dimensions of safety communication, learning and trust in co-worker’s safety competence (OR 2,500; 95% CI 1.05-5.91) with unsafe act. Workers who have a good perception of a safety climate rarely take unsafe actions.
Pinesa Rachma Andani
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 88-98; doi:10.20473/jphrecode.v4i2.14460

Abstract:
Saat ini telah terjadi pergeseran usia seorang remaja putri mengalami mentruasi untuk pertaman kali atau menarche dini. Semakin muda usia menarche sebaiknya diimbangi dengan kesiapan remaja baik secara psikologis maupun pengetahuan tentang menstruasi dan personal hygiene menstruasi yang memadai. Saat menstruasi organ seksual menjadi lebih sensitif sehingga rentan terkena infeksi. Sehingga sangat penting melakukan tindakan personal hygiene menstruasi dengan baik dan benar. Tingkat pengetahuan dan sikap cenderung mempengaruhi tindakan seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap tindakan personal hygiene menstruasi pada siswi SDN Kertajaya Kota Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Responden dalam penelitian ini diambil dengan metode total sampling dan diperoleh jumlah responden sebanyak 78 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara. Diperoleh hasil 66,7% responden memiliki pengetahuan yang baik, 60,3% persen responden memiliki sikap baik dan 79,5% responden memiliki tindakan baik. Kesimpulan dari penelitian ini, ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap terhadap tindakan personal hygiene menstruasi pada siswi SDN Kertajaya Kota Surabaya.
Eti Vera Asmaningrum, Dani Nasirul Haqi
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 157-165; doi:10.20473/jphrecode.v4i2.23394

Abstract:
Latar Belakang: ISPA masih menjadi masalah utama penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia. Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA diantaranya: asap rokok, umur anak, berat badan lahir, status gizi kurang, tidak memberikan ASI, riwayat imunisasi yang tidak lengkap, dan pemberian vitamin A. ISPA masih menjadi masalah utama kunjungan balita pelayanan kesehatan di Desa Tlatah, Purwosari, Bojonegoro. Purpose: Menentukan Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA Pada Bayi Usia 0-2 Tahun Di Desa Tlatah, Purwosari, Bojonegoro. Metode: Jenis Penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Sampel penelitian berjumlah 34 responden dari 42 responden yang mempunyai bayi usia 0-2 tahun. Hasil: Hasil penelitian ini dengan uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan antara paparan asap rokok anggota keluarga dan status gizi anak dengan kejadian ISPA pada bayi usia 0-2 Tahun Di Desa Tlatah, Purwosari, Bojonegoro dengan nilai (p=0,001; RR=6.353; 95%CI=1.008-40.056) dan (p=0,000; RR=0.391; 95%CI=0.235-0.651). Kesimpulan: Oleh karena itu, diharapkan anggota keluarga memperhatikan kondisi anak dengan tidak melakukan perilaku yang tidak sehat sehingga keluarga dapat meningkatkan derajat kesehatan anak dan anggota keluarga lainnya.
S.Km. Rezania Asyfiradayati
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 99-106; doi:10.20473/jphrecode.v4i2.18568

Abstract:
Tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian global. Secara global sekitar 10,0 juta orang terkena penyakit TB pada tahun 2017 sebesar 5,8 juta orang dewasa, 3,2 juta perempuan dan 1,0 juta anak. Pada tahun 2018 diketahui bahwa berdasarkan survei prevalensi TB Paru Anak di Wilayah DKK Surakarta terjadi peningkatan. Penelitian ini dilakukan pada seluruh penderita TB paru anak yang datanya terekap di Dinas Kesehatan Surakarta pada triwulan tiga dan masih mengalami pengobatan dengan jumlah 46 kasus dan dilakukan dengan metode case control dengan perbandingan 1:1 sehingga melibatkan 92 sampel. Beberapa faktor yang perlu diteliti adalah riwayat kontak serumah, paparan asap rokok anggota serumah dan pemberian ASI eksklusif. Hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara faktor riwayat kontak serumah, faktor paparan asap rokok dan ASI eksklusif dengan masing-masing p value (0,00), (0,09) dan (0,03) dengan kejadian TB paru anak di wilayah kerja DKK Surakarta.Kata Kunci: Anak, faktor risiko, tuberkulosis.
Hannisa Yanuar Utama
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 107-121; doi:10.20473/jphrecode.v4i2.21559

Abstract:
Background: Hazard reporting card is a tool used to identify hazards and risks in the workplace. Based on data obtained by researcher, the filling of hazard reporting cards at oil and gas company X, there are only about 30% - 75%, the reason is because employees often forget to fill in, while all employees are required to fill cards every month. Purpose: The purpose of this study is to analyze the possibility of whether the electronic reminder method can be used to increase the number of employee participation in filling out hazard reporting cards. Methods: This study uses a literature review study. Results: The results of the study in 21 journals showed that there were 15 journals successfully applying the reminder method and there were 6 journals stating there were positive responses from respondents towards the application of the electronic reminder method. Conclusion: The conclusion of this research is that this method can be recommended to be applied in the HSE field of the office in the oil and gas company X.
Ayu Sekar Pawening, Dani Nasirul Haqi
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 137-143; doi:10.20473/jphrecode.v4i2.22862

Abstract:
Background: Hypertension or also known as high blood pressure is one of the major health problems in society especially in developing countries like Indonesia. As happened in Tlatah Village, Purwosari, Bojonegoro, hypertension case reached 3rd highest cases that reported in reports of village health service visits in 2019 with so many factors cause hypertension where these factors are divided into modified factor and cannot be changed factor. Purpose: This aimed of this study was to determine the risk factors that associated with the incidence of hypertension in Tlatah Village, Purwosari District, Bojonegoro Regency. Methode: This type of research was a descriptive analytic analysis with a cross-sectional study design. The population in this study was the entire population of 557 people and the sample was taken using simple random sampling technique of 83 people. Result: The results of the analysis showed that the variable which was statistically significant and had a significant relationship was the variable of exercise habits with p-value
Anisa Nur Kholipah, Inge Dhamanti
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 144-156; doi:10.20473/jphrecode.v4i2.23230

Abstract:
Latar belakang: Penyediaan pelayanan kesehatan mental sangat diperlukan mengingat pentingnya peran tenaga kesehatan dalam menangani Covid-19 serta tingginya beban psikologis tenaga kesehatan selama melayani pasien. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rekomendasi pelayanan kesehatan mental bagi tenaga kesehatan pada masa pandemi Covid-19. Metode: Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah literature review. Artikel didapatkan melalui database Google Scholar, Science Direct dan Pubmed yang dipublikasikan pada tahun 2020. Hasil penelitian: Berdasarkan hasil analisis artikel, terdapat berbagai masalah kesehatan mental dan rekomendasi guna menangani masalah tersebut pada tenaga kesehatan. Rekomendasi tersebut dikelompokkan menjadi tujuh upaya kesehatan mental yang terbagi dalam tahap response, recovery, dan mitigation pada disaster risk management. Kesimpulan: Berdasarkan tahap disaster risk management, tahap response membutuhkan upaya identifikasi risiko masalah kesehatan mental, pengaturan shift kerja dan pemberian dukungan tangible untuk mencegah dampak buruk pandemi bagi tenaga kesehatan. Upaya recovery dapat dilakukan dengan memberikan dukungan psikologis, dan reward. Upaya mitigation untuk mengurangi risiko masalah kesehatan mental dapat dilakukan dengan menyusun healthcare system preparedness dan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan.Kata Kunci: Pelayanan Kesehatan Mental, Tenaga Kesehatan, Covid-19
, Nuryanti Irawati, Neti Sitorus
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 52-60; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.15637

Abstract:
Latar Belakang: Gangguan muskuloskeletal banyak dikeluhkan oleh penjahit yang bekerja di perusahaan dengan lama bekerja yang berkisar antara 6-8 jam per hari dan posisi statis. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan status gizi, masa kerja, dan sikap kerja dengan gangguan muskuloskeletal pada penjahit yang bekerja di suatu perusahaan di Kota Bandung. Metode: Metode penelitian menggunakan pendekatan cross sectional, melibatkan 30 orang penjahit sebagai responden yang diambil secara total sampling. Pengukuran status gizi dengan bantuan timbangan berat badan dan microtoise, untuk sikap kerja diukur menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan gangguan muskuloskeletal menggunakan Nordic Body Map (NBM). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengeluhkan gangguan muskuloskeletal, sikap kerja yang berisiko dan status gizi dalam kategori gemuk. Responden yang mengalami keluhan muskuloskeletal dengan masa kerja kurang dari 5 tahun. Dapat disimpulkan bahwa keluhan muskuloskeletal berhubungan dengan status gizi (p=0,001), masa kerja (p=0,000), dan sikap kerja (p=0,000). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar penjahit mengalami gangguan muskuloskeletal dan sikap kerja yang berisiko, oleh karena itu perlu dilakukan peregangan setiap 4 jam sekali pada saat bekerja dan perlu melakukan senam punggung setiap hari sebelum tidur.
Moh Alimansur, Elfi Quyumi
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 81-87; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.21792

Abstract:
Latar Belakang: Penyakit Covid-19 merupakan penyakit yang mudah menular, sehingga dengan cepat bisa menjangkiti banyak orang. Memperlambat penyebaran virus corona (COVID-19) adalah jalan keluar mengakhiri pandemi. Masyarakat dan pihak non-pemerintah dapat berpartisipasi dalam berbagai bentuk kerelawanan dalam penanggulangan bencana dan pengurangan risiko. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang upaya pencegahan penularan COVID-19 terhadap kepatuhan relawan covid dalam upaya pencegahan penularan COVID19. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional, besar sampel 105 orang relawan covid di Kota Kediri, dengan metode simple random sampling dengan analisa data menggunakan analisis Chi Square test menggunakan software SPSS 19. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar relawan covid memiliki pengetahuan yang cukup tentang upaya pencegahan penularan COVID-19. Hampir seluruhnya dari relawan covid tidak patuh dalam menjalankan upaya pencegahan penularan COVID-19. Hasil uji Chi-square test menunjukkan adanya hubungan pengetahuan upaya pencegahan dengan kepatuhan dalam pencegahan COVID-19 pada relawan covid yang ditunjukkan dengan nilai p-value = 0,00 < α = 0,05. Kesimpulan: Pengetahuan yang kurang tentang upaya pencegahan penularan COVID-19 akan berdampak pula pada penurunan kepatuhan relawan covid dalam mencegah penularan COVID-19. Perlu adanya edukasi, aturan dan penyediaan alat pelindung diri bagi relawan covid dalam pencegahan penularan COVID-19.
Back to Top Top