Journal of Public Health Research and Community Health Development

Journal Information
ISSN / EISSN : 2580-0140 / 2597-7571
Current Publisher: Universitas Airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 54
Filter:

Latest articles in this journal

Gurdani Yogisutanti , Nuryanti Irawati, Neti Sitorus
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 52-60; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.15637

Abstract:
Latar Belakang: Gangguan muskuloskeletal banyak dikeluhkan oleh penjahit yang bekerja di perusahaan dengan lama bekerja yang berkisar antara 6-8 jam per hari dan posisi statis. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan status gizi, masa kerja, dan sikap kerja dengan gangguan muskuloskeletal pada penjahit yang bekerja di suatu perusahaan di Kota Bandung. Metode: Metode penelitian menggunakan pendekatan cross sectional, melibatkan 30 orang penjahit sebagai responden yang diambil secara total sampling. Pengukuran status gizi dengan bantuan timbangan berat badan dan microtoise, untuk sikap kerja diukur menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan gangguan muskuloskeletal menggunakan Nordic Body Map (NBM). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengeluhkan gangguan muskuloskeletal, sikap kerja yang berisiko dan status gizi dalam kategori gemuk. Responden yang mengalami keluhan muskuloskeletal dengan masa kerja kurang dari 5 tahun. Dapat disimpulkan bahwa keluhan muskuloskeletal berhubungan dengan status gizi (p=0,001), masa kerja (p=0,000), dan sikap kerja (p=0,000). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar penjahit mengalami gangguan muskuloskeletal dan sikap kerja yang berisiko, oleh karena itu perlu dilakukan peregangan setiap 4 jam sekali pada saat bekerja dan perlu melakukan senam punggung setiap hari sebelum tidur.
Moh Alimansur, Elfi Quyumi
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 81-87; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.21792

Abstract:
Latar Belakang: Penyakit Covid-19 merupakan penyakit yang mudah menular, sehingga dengan cepat bisa menjangkiti banyak orang. Memperlambat penyebaran virus corona (COVID-19) adalah jalan keluar mengakhiri pandemi. Masyarakat dan pihak non-pemerintah dapat berpartisipasi dalam berbagai bentuk kerelawanan dalam penanggulangan bencana dan pengurangan risiko. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang upaya pencegahan penularan COVID-19 terhadap kepatuhan relawan covid dalam upaya pencegahan penularan COVID19. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional, besar sampel 105 orang relawan covid di Kota Kediri, dengan metode simple random sampling dengan analisa data menggunakan analisis Chi Square test menggunakan software SPSS 19. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar relawan covid memiliki pengetahuan yang cukup tentang upaya pencegahan penularan COVID-19. Hampir seluruhnya dari relawan covid tidak patuh dalam menjalankan upaya pencegahan penularan COVID-19. Hasil uji Chi-square test menunjukkan adanya hubungan pengetahuan upaya pencegahan dengan kepatuhan dalam pencegahan COVID-19 pada relawan covid yang ditunjukkan dengan nilai p-value = 0,00 < α = 0,05. Kesimpulan: Pengetahuan yang kurang tentang upaya pencegahan penularan COVID-19 akan berdampak pula pada penurunan kepatuhan relawan covid dalam mencegah penularan COVID-19. Perlu adanya edukasi, aturan dan penyediaan alat pelindung diri bagi relawan covid dalam pencegahan penularan COVID-19.
Jihan Adella Iyik Be
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 1-13; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.14397

Abstract:
Latar Belakang: Tim Lintas Fungsi merupakan metode yang efektif dalam organisasi. Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya menerapkan tim lintas fungsi dalam manajemen rumah sakitnya. Dengan menggunakan metode tim lintas fungsi organisasi berusaha untuk meningkatkan koordinasi dan rentang integrasi, meningkatkan waktu pengembangan teknologi dan mengurangi tingkat ketidakpastian. Permasalahan yang diangkat yaitu belum optimalnya kinerja Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya dengan rata-rata BOR masih dibawah 60%, kunjungan rawat jalan masih belum mencapai target (10%-20%), serta penurunan pemanfaatan penunjang medik sebesar 12,4% pada tahun 2011. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Dimensi Seleksi Tim Lintas Fungsi terhadap Relational Coordination di Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya tahun 2012. Metode: Penelitian dilakukan di RS Muhammadiyah Surabaya dengan desain penelitian observasional deskriptif. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian cross sectional. Responden adalah anggota dari 12 Tim Lintas Fungsi di RS Muhammadiyah Surabaya sebanyak 29 responden. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara. Hasil: Hasil dari penelitian ini yaitu pemilihan staf dari masing-masing unit kerja untuk menjadi anggota Tim Lintas Fungsi di Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya secara keseluruhan dipilih oleh manajemen. Sebesar 58,33% pelaksanaan seleksi tim lintas fungsi mengindikasikan relational coordination yang kuat. Kesimpulan: Disimpulkan seleksi tim lintas fungsi yang baik dapat mempengaruhi terjalinnya Relational Coordination yang kuat.
Salshabiyla Naura Almamira Cukarso, Chahya Kharin Herbawani
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 71-80; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.20810

Abstract:
Background: The Javanese community is one of the largest ethnic groups in Indonesia. This culture influences people's behaviour in daily life, including maternal care. Some people still believe in traditional myths and practices related to pregnancy. Even it can threaten the pregnancy. Purpose: This systematic review aims to describe the behaviour of people related to practices and beliefs in Javanese culture. Method: This review used a systematic review method. A systematic and relevant search for scientific articles through Google Scholar with a publication period between 2010-2020. Result: There are still many people who obey the traditional beliefss that has no scientific basis. They hope by believing this can make the pregnancy run smoothly and avoid unwanted events. Conclusion: Traditional beliefs and practices have positive and negative impacts on pregnant women. Health workers must provide evidence-based interventions or health education about pregnancy to the community to prevent behaviour that is contrary to health values and can be harmful to the mother and fetus. Information about pregnancy care is not only conveyed to pregnant women but can also be shared with her husband or parents.
Ayu Fitri Lestari
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 14-27; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.14971

Abstract:
Latar Belakang: Pembinaan dan pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan salah satu upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang ditujukan kepada peserta didik (usia sekolah). Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Tim Pembina UKS Pusat ternyata masih cukup banyak sekolah yang belum melaksanakan UKS secara baik dan benar. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian dengan menganalisis pelaksanaan program UKS di sekolah. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan pelaksanaan program UKS di MA Al-Qodiri VIII Kelir, Metode: Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi berdasarkan pendekatan sistem. Pengambilan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara mendalam. Wawancara mendalam dilakukan kepada empat informan, yaitu Guru Pembina UKS, dua orang Kader Kesehatan Remaja, dan pemegang Program UKS di Puskesmas setempat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Program UKS di MA-Al-Qodiri menurut komponen pendekatan sistem berupa input, proses dan outputnya masih dalam kategori cukup. Lebih dari 50% indikator keberhasilan dalam Program UKS di MA Al-Qodiri sudah terlaksana atau terpenuhi. Diantaranya indicator sumber daya manusia, sarana, kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Masih terdapat banyak beberapa kekurangan dalam pelaksanaan program UKS di masing-masing komponen menurut pendekatan sistem, begitu pula pada sub komponennya. Kesimpulan: Oleh karena itu, perlu ada beberapa perbaikan dalam pelaksanaan Program UKS yang diusulkan dan dilaksanakan sesuai dengan analisis permasalahan yang dilakukan.
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 61-70; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.15954

Abstract:
Latar Belakang: Bahan berbahaya masih sering ditemui pada berbagai macam makanan jajanan yang beredar di masyarakat. Usus ayam dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan dan jajanan, seperti sate usus dan keripik usus. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa penerapan higine sanitasi proses produksi usus ayam dan identifikasi kandungan formalin. Metode: Metode penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Wawancara dan observasi dilakukan pada responden untuk memperoleh data. Populasi dalam penelitian ini adalah 2 pemasok besar (X dan Y) yang memasok usus ayam ke seluruh pasar di kabupaten Jember. Responden dalam penelitian ini adalah pemilik pemasok usus untuk menggali pengetahuan terhadap penggunaan bahan berbahaya pada makanan, serta para pekerja diproses produksi untuk melihat penerapan prinsip hygiene sanitasi. Pengambilan sampel dilakukan dengan Teknik Proportional random. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan 2 pemasok terhadap bahan tambahan pangan berbahaya adalah cukup, hygiene sanitasi pada saat proses produksi meliputi aspek pengolahan, penyimpanan dan pendistribusian adalah cukup. Pengetahuan personal hygiene pekerja adalah cukup sedangkan perilaku implementasi Higiene sanitasi termasuk kategori kurang. Fasilitas sanitasi rumah produksi pada ke 2 pemasok usus ayam masih termasuk kategori kurang. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 23 sampel usus ayam yang dijual di pasar trsdisional, terdapat satu sampel (4,35%) positif mengandung formalin (kode sampel PT), yang dipasok oleh pemasok X. Formalin kemungkinan ditambahkan oleh oleh pedagang.
Titin Noerhalimah
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 28-42; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.15005

Abstract:
Latar Belakang: Pada negara berkembang secara umum ada berbagai macam penyakit menular, salah satunya adalah tuberkulosis (TB). Kasus tuberkulosis seringkali terjadi di kawasan negara berkembang, terutama di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pada tahun 2017 kasus tuberkulosis mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016 yakni dari 57.247 kasus menjadi 59.833 kasus. Padahal pada tahun 2016, kasus tuberkulosis telah menurun dratis bila dibandingkan dengan tahun 2015 yakni 59.446 kasus. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penyakit tuberkulosis adalah kondisi lingkungan fisik tempat tinggal dan perilaku hidup seseorang (PHBS). Tujuan: Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis hubungan PHBS di rumah tangga dan rumah sehat dengan kejadian tuberkulosis di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2015-2017. Metode: Pada penelitian ini digunakan metode penelitian observasional dengan desain studi korelasi. Pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling pada data sekunder yang terdapat di Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2015-2017. Penelitian ini menggunakan teknik analisis yaitu uji normalitas dengan uji kolmogorov smirnov dan uji korelasi pearson. Hasil: Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa terdapat korelasi positif yang cukup kuat antara rumah tangga ber-PHBS dengan penemuan kasus tuberkulosis (p = 0,01
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 4, pp 43-51; doi:10.20473/jphrecode.v4i1.15096

Abstract:
Latar Belakang: Loket pendaftaran merupakan pelayanan pertama yang diberikan, yang dapat menentukan kepuasan pasien dan keinginan pasien untuk melanjutkan pelayanan selanjutnya. Puskesmas Pare merupakan puskesmas yang akan mengikuti serangkaian kegiatan akreditasi. Dalam serangkaian kegiatan akreditasi, dibutuhkan survei kepuasan pasien salah satu kepuasan pasien terhadap pelayanan di loket puskesmas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan loket pendaftaran di Puskesmas Pare Kabupaten Kediri. Metode: Penelitian ini merupakan dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan desain peneilitian cross sectional. Populasi yang digunakan adalah semua yang berobat dan telah mendapatkan pelayanan di loket pada waktu penelitian berlangsung, yaitu sejumlah 100 pasien. Sampel yang digunakan adalah 80 pasien yang dipilih secara random. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang berasal langsung dari pihak Puskesmas Pare. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisa univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien merasa sangat puas terhadap pelayanan loket di Puskesmas Pare. Namun, masih ada unsur yang harus dilakukan suatu upaya peningkatan dan/atau perbaikan pada unsur tersebut, yaitu unsur kenyamanan ruang tunggu. Kesimpulan: Kesimpulannya, gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan loket pendaftaran di Puskesmas Pare secara normatif sudah mencapai tingkat kepuasan ‘sangat puas’.
Ronggo Yudo Wicaksono
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 1, pp 39-47; doi:10.20473/jphrecode.v1i1.20455

Abstract:
Risk Management K3 merupakan suatu upaya untuk mengelola risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) untuk mencegah terjadinya kecelakaan secara sistematis dan terstruktur dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan kegiatan risk management pada engine room Kapal Feri Selat Madura II Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dan merupakan penelitian cross sectional berdasarkan waktu penelitiannya. Objek penelitian ini berfokus pada engine room, dengan populasi seluruh pekerja engine room yang berjumlah 6 orang. Data primer didapatkan melalui hasil observasi dan wawancara yang kemudian dianalisis secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada engine room terdapat 25 jenis bahaya dengan 5 bahaya termasuk dalam kategori risiko tingkat tinggi atau risiko yang tidak dapat diterima, 20 bahaya merupakan risiko tingkat sedang atau risiko dapat ditolerir, dan 5 bahaya merupakan risiko tingkat rendah atau risiko yang dapat diterima. Upaya pengendalian yang diterapkan adalah pengendalian secara teknik engineering, administratif dan penyediaan Alat Pelingdung Diri (APD). Pengendalian yang paling efektif adalah pengendalian dalam bentuk pemasangan safety device pada mesin, dengan nilai sebesar 90%. Berdasarkan penilaian risiko sisa, masih terdapat 6 bahaya dengan tingkat risiko sedang.Kesimpulan penelitian ini adalah, dari total 25 macam bahaya pada engine room Kapal Feri Selat Madura II Surabaya , 20% diantaranya termasuk kedalam bahaya dengan tingkat risiko tinggi atau tidak dapat diterima, namun pengendalian yang diterapkan rata-rata memiliki nilai 90%, maka dari itu 76% bahaya dengan kategori risiko tinggi atau tidak dapat diterima dapat diturunkan menjadi kategori dapat diterima.
Rr. Vigna Maya Kosha, Indriati Paskarini
Journal of Public Health Research and Community Health Development, Volume 1, pp 30-38; doi:10.20473/jphrecode.v1i1.20454

Abstract:
PT. Charoen Pokphand Indonesia, Krian yaitu merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pakan ternak yang memiliki tingkat risiko kebakaran yang tinggi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari pelaksanaan sistem pencegahan kebakaran di PT. Charoen Pokphand Indonesia, Krian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Informan dari penelitian ini yaitu antara lain terdiri dari dua puluh lima orang informan yang terdiri dari lima manager, lima supervisior, lima Safety, Health and Environment (SHE) dan sepuluh tim tanggap darurat. Variabel dalam penelitian ini atara lain adalah kebijakan manajemen, organisasi dan prosedur, identifikasi bahaya kebakaran, pembinaan dan pelatihan, sarana proteksi kebakaran aktif dan pasif, inspeksi kebakaran, pengendalian bahaya/ pencegahan, Terdapat Kebijakan manajemen dan sudah disosialisasikan kepada seluruh karyawan. Organisasi dan prosedur sudah terlaksana sesuai dengan tugas masing-masing. Identifikasi bahaya kebakaran menggunakan matriks risiko yang menunjukkan termasuk risiko kebakaran tinggi. Pembinaan dan pelatihan sudah diberikan kepada karyawan secara rutin. Sarana proteksi kebakaran aktif dan pasif sudah ada dan dalam keadaan dapat dipakai. Proses inspeksi kebakaran sudah dilakukan secara rutin. Upaya pengendalian/ pencegahan sudah terbentuk dan sudah dilakukan secara rutin. Penerapan sistem pencegahan kebakaran atau pra kebakaran bernilai sangat baik karena telah memuat semua elemen yang harus dijalankan dalam mengelola bahaya kebakaran.
Back to Top Top