Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika

Journal Information
ISSN / EISSN : 2621-8151 / 2621-8135
Published by: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu (10.34081)
Total articles ≅ 93
Filter:

Latest articles in this journal

Sabda Budiman, Enggar Objantoro
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 5, pp 92-114; https://doi.org/10.34081/fidei.v5i1.304

Abstract:
Tindakan memelihara lingkungan hidup secara intensif dan berkelanjutan menjadi hal utama yang perlu dilakukan. Pemeliharaan lingkungan hidup juga tidak terlepas dari peran serta orang Kristen, terkhusus mahasiswa teologi selaku calon pemimpin di gereja dan masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Simpson Ungaran juga perlu memiliki kesadaran yang baik dalam hal memelihara lingkungan hidup. Tujuan penulisan dalam penelitian ini yaitu: “Untuk mengetahui tingkat kesadaran mahasiswa dalam memelihara lingkungan hidup berdasarkan perspektif ekoteologi di STT Simpson Ungaran.” Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang penulis lakukan, terlihat bahwa kesadaran mahasiswa memelihara lingkungan hidup berdasarkan perspektif ekoteologi di STT Simpson Ungaran dikategorikan baik dengan persentase 88,79%. Kesadaran mahasiswa memelihara lingkungan hidup yang baik juga terlihat dari kesadaran dalam aspek pemahaman yang memperoleh persentase 91,50% dengan kategori sangat baik, kesadaran dalam aspek pemanfaatan yang memperoleh persentase 87,80% dengan kategori baik, dan kesadaran dalam aspek pelestarian yang memperoleh persentase 90,21% dengan kategori baik.
Timothy Soegijanto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 5, pp 115-131; https://doi.org/10.34081/fidei.v5i1.305

Abstract:
Makalah ini dilatarbelakangi pandangan dari kalangan tertentu (khususnya kalangan ateis) bahwa agama Kristen tidak ilmiah, bahkan anti-ilmiah, terutama berkaitan dengan asal mula terjadinya alam semesta. Secara umum terdapat dua pandangan tentang asal mula alam semesta dan asal usul makhluk hidup, yaitu pandangan naturalisme dan pandangan kreasionisme. Di kalangan Kristen (yang berpandangan kreasionisme) masih terdapat tiga pandangan, yaitu: kreasionis bumi muda, evolusi teistik, dan kreasionis bumi tua yang menolak teori evolusi. Makalah ini disusun untuk menjawab pertanyaan: Pandangan manakah yang paling tepat untuk direkomendasikan (khususnya terkait dengan perkembangan temuan sains kontemporer)? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan metode riset literatur, mengumpulkan dan menguraikan pokok-pokok pikiran dari ketiga pandangan beserta kekuatan dan kelemahannya. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan dari ketiga pandangan tersebut dilakukan dari perspektif sains dan teologi penciptaan, dan diakhiri dengan kesimpulan dan jawaban atas pertanyaan makalah. Sebagai kesimpulan, penulis menyimpulkan bahwa pandangan kreasionis bumi muda dan evolusi teistik mempunyai posisi lemah dan sulit dipertahankan dan merekomendasikan pandangan kreasionis bumi tua.
Esti R. Boiliu
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 5, pp 58-74; https://doi.org/10.34081/fidei.v5i1.279

Abstract:
Perkembangan revolusi industri 4.0 menimbulkan pergeseran ke arah teknologi digital yang memungkinkan otomatisasi di semua bidang untuk mencapai hasil yang efisien dan efektif termasuk penurunan pertumbuhan iman dan moral setiap orang, khususnya para kaum muda akibat perkembangan industri 4.0. Artikel ini mengungkapkan dampak dari perkembangan era revolusi industri 4.0 terhadap iman dan moral para kaum muda serta pada bagian akhir dijelaskan mengenai implikasinya terhadap Pendidikan Agama Kristen masa kini. Tujuan dari penulisan artikel untuk memberikan pemahaman mengenai tantangan-tantangan dari era revolusi industri 4.0 dan dampaknya terhadap pertumbuhan iman dan moral bagi para kaum muda. Hasil dari artikel untuk melihat bagaimana sumbangsih Pendidikan Agama Kristen dalam menguatkan kembali moral kaum muda yang merosot akibat perkembangan teknologi dengan mengarahkan mereka kepada nilai-nilai ajaran Kristus agar kemerosotan pertumbuhan iman dan moral kembali menjadi lebih baik di tengah-tengah era industri 4.0 ini. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalan kualitatif dengan melakukan pendekatan literatur yang kemudian dapat dianalisis untuk menjelaskan dan memberikan solusi sebagai implikasi Pendidikan Agama Kristen untuk meningkatkan kembali pertumbuhan iman dan moral kaum muda di di era revolusi industri 4.0.
Nadia Illsye Tular, Jefri Susanto Manik
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 5, pp 40-57; https://doi.org/10.34081/fidei.v5i1.228

Abstract:
Artikel ini berisi pembahasan tentang penerapan Pendidikan Perdamaian bagi remaja sebagai upaya pencegahan terjadinya konflik antar umat beragama khususnya di indonesia yang memiliki berbagai Agama. Begitu banyak Agama yang ada di Indonesia sehingga seringkali terjadi konflik sosial atau konflik antar umat beragama sehingga mengakibatkan hilangnya rasa damai dalam masyarakat. Dengan demikian, dibutuhkan suatu pencegahan yang sedapat-dapatnya mampu menyelesaikan konflik tersebut. Remaja yang merupakan generasi penerus bangsa tentunya harus dibekali sejak dini mengenai Pendidikan Perdamaian sehingga remaja menyadari bagaimana mereka harus bersikap dalam menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini yaitu metode penelitian kualitatif melalui penelitian pustaka. Hasil dari penulisan artikel ini yakni ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan pendidikan perdamaian bagi remaja ialah seperti: melakukan edukasi kepada remaja; melibatkan remaja dalam dialog antar agama; menanamkan konsep alkitabiah mengenai perdamaian; serta menyusun kurikulum pembelajaran yang memuat pendidikan perdamaian.
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 5, pp 132-150; https://doi.org/10.34081/fidei.v5i1.307

Abstract:
Media Sosial seakan telah menjadi kebutuhan masyarakat saat ini. Seiring perkembangan Teknologi Informasi mendorong masyarakat masuk dalam Digital Culture yang telah mengubah gaya hidup mereka. Sehubungan dengan berkomunikasi, saat ini masyarakat lebih menyukai menggunakan media sosial dari pada media konvensional. Sebab media sosial dianggap sebagai medium yang dapat menyampaikan informasi dengan cepat. Selain mereka juga meyakini bahwa media sosial juga dapat mendekatkan interaksi antar individu dan juga dalam sebuah kelembagaan Benarkah demikian? Penelitian ini dilatar belakangi dengan masalah penelitian berikut: Bagaimanakah persepsi para Pejabat GBIS terhadap penggunaan media sosial sebagai medium interaksi di lingkungan organisasi dan gereja lokal? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah menjelaskan persepsi para Pejabat GBIS terhadap penggunaan media sosial sebagai medium interaksi di lingkungan organisasi dan gereja lokal. Penelitian ini menggunakan metode Library Research dan Survei. Adapun responden dalam penelitian ini adalah para pejabat Gereja Bethel Injil Sepenuh seluruh Indonesia. Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa media sosial relevan sebagai medium interaksi di lingkungan antar pejabat GBIS dan gereja lokal. Signifikansi dari penelitian ini adalah diharapkan menjadi trigger bagi para pejabat GBIS untuk memaksimalkan penggunaan media sosial dalam lingkup organisasi sinode dan di dalam gereja lokalnya masing-masing.
Edwin Gorat, Bartolomeus Diaz Nainggolan, Stimson Hutagalung, Rolyana Ferinia Pintauli
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 5, pp 75-91; https://doi.org/10.34081/fidei.v5i1.302

Abstract:
Banyak di antara pasangan muda dari suku Dayak Ngaju yang telah hamil terlebih dahulu sebelum menikah karena kesalahmengertian atau ketidakpahaman penerapan acara hakumbangauh (lamaran). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari relevansi apakah kondisi hubungan berpacaran yang negatif setelah melakukan lamaran sesuai dengan Matius 5:27-28 atau tidak sesuai dan bagaimana relevansi perilaku pernikahan berdasarkan Alkitab dan berdasarkan budaya.Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kualitatif yang dibarengi dengan studi pustaka, dengan menggunakan studi penafsiran Alkitab, serta mengumpulkan data melalui buku-buku serta artikel yang berkaitan dengan budaya hakumbangauh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktik hidup serumah dan berhubungan seks selain pernikahan sangat kontras dengan matius 5:27-28 Yesus menyatakan perzinaan bukan hanya terjadi saat laki-laki dan perempuan yang tidak terikat pernikahan melakukan hubungan seks akan tetapi perzinaan terjadi dimulai dari pikiran. Penerapan acara hakumbangauh (lamaran) dalam pernikahan secara adat sesungguhnya tidaklah buruk jika norma dan aturan-aturan serta kekudusan pernikahan tetap dijaga dengan baik, akan tetapi jika banyaknya syarat dan uang yang dibutuhkan untuk acara pernikahan adat maka ini memberikan peluang kepada pasangan muda yang akan menikah untuk melakukan praktik hidup serumah dan berhubungan seks di luar nikah. Karna itu pernikahan adat jika dibicarakan dan dijalankan dengan baik maka masih relevan dengan konsep pernikahan masa kini.
Measy Zinsky Imanuela Pang, Sally Ingrid Kailola, Roy Imbing
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 5, pp 22-39; https://doi.org/10.34081/fidei.v5i1.224

Abstract:
Radikalisme menjadi suatu momok yang menakutkan dan sering terjadi terutama dalam konteks masyarakat majemuk. Radikalisme sering dilakukan oleh kelompok atau komunitas tertentu yang sering mengatasnamakan agama. Radikalisme sering muncul karena pemahaman mereka orang atau komunitas tertentu sudah dibentuk dengan ideologi yang keliru kemudian melahirkan paham radikal, sehingga juga melahirkan pribadi juga komunitas yang tidak berkarakter. Seringnya aksi radikal dikaitkan dengan agama, sehingga peran agama terlebih pendidikan Agama termasuk di dalamnya PAK menjadi upaya penting dalam pencegahan radikalisme. Bertolak dari hal tersebut tujuan penulisan artikel ini yaitu untuk memahami peran PAK dalam pencegahan radikalisme untuk mendukung penguatan komunitas yang berkarakter dan untuk mengetahui model Pembelajaran yang cocok diterapkan sebagai bentuk pencegahan radikalisme. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan studi kepustakaan, maka diperoleh hasil bahwa pendidikan Agama Kristen lewat PAK formal yang dilaksanakan di sekolah dan non-formal yang dilakukan di gereja dan keluarga serta dengan menerapkan model Pembelajaran PAK Multikultural dapat menjadi upaya dalam mencegah radikalisme untuk mendukung penguatan komunitas yang berkarakter.
Joseph Christ Santo, Yonatan Alex Arifianto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 5, pp 1-21; https://doi.org/10.34081/fidei.v5i1.212

Abstract:
Dalam Kekristenan, pertumbuhan rohani menjadi prioritas para pemimpin gereja orang percaya maupun para pelayan. Pertumbuhan rohani tidak lepas dari tantangan, dan hal itu merupakan ujian kualitas iman dalam menghadapi tantangan. Harapan dari pertumbuhan rohani adalah orang Kristen yang dengan imannya mampu menghadapi dan mengatasi tantangan yang dihadapi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pertumbuhan rohani berdasarkan 1 Petrus 2:1-4, dan harapan yang dapat dicapai bila pertumbuhan rohani iman Kristen ini diaplikasikan dalam hidup orang percaya. Peneliti menggunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa orang-orang percaya dan pemimpin gereja harus memahami bahwa indikasi pertumbuhan rohani berdasarkan surat 1 Petrus 2:1-4 adalah hidup dalam kesucian, rasa haus dan lapar akan firman Tuhan, dan hidup bergantung kepada Tuhan dalam persekutuan. Agar pertumbuhan rohani teraplikasi dalam kehidupan orang percaya diperlukan keterlibatan gembala dan warga jemaat sebagai pengajar pertumbuhan rohani.
Damaiyanti Sinaga, Christina Dameria, Dewi Sintha Bratanata
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 4, pp 159-182; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i2.161

Abstract:
Terminal illness merupakan penyakit yang menyebabkan penderita mengalami berbagai dinamika kedukaan seperti marah, depresi, menolak bahwa ia seorang penderita dan kematian yang segera terjadi. Karena kematian bagi seorang penderita terminal illness tidak terjadi secara mendadak tetapi proses yang membuat penderita terminal illness semakin lama menjadi sekarat. Dalam proses tersebut, penderita terminal illness membutuhkan pelayanan pastoral. Selain kunjungan pastoral, HKBP juga melayankan perjamuan kudus bagi penderita terminal illnes di HKBP. Tetapi pelayanan ini dilaksanakan atas permintaan keluarga, jika mereka sudah siap untuk melepas keluarga mereka yang sakit. Ada anggapan bahwa perjamuan kudus adalah pelayanan untuk mempersiapkan kematian. Jadi, ada yang menerima dan ada yang menolak. Tulisan ini bertujuan untuk meninjau dan menganalisis makna teologis dan tujuan pelayanan perjamuan kudus bagi orang sakit di HKBP. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan studi pustaka serta analisis data dilakukan dengan analisis mengalir, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menarik kesimpulan. Dari data yang diperoleh bahwa perjamuan kudus kudus mengandung fungsi pastoral seperti menopang, menyembuhkan, dan mendamaikan dan dapat dilayankan sebagai pelayanan tanpa permintaan keluarga atau ijin keluarga. Sebab, perjamuan kudus bukan untuk melegitimasi kematian dari orang yang menerima perjamuan tersebut. Selain itu, perjamuan kudus juga dapat diberdayagunakan sebagai bentuk persekutuan yang mempersatukan keluarga. Melalui persekutuan tersebut atau kehadiran secara fisik, keluarga bisa berdoa dan membuka ruang percakapan pastoral bagi keluarga sehingga keluarga bisa satu hati berdoa bagi PTI.
Yosep Belay, Yanto Paulus Hermanto, Rivosa Rivosa
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, Volume 4, pp 183-205; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i2.204

Abstract:
Ragam teori kepemimpinan umumnya berorientasi pada pengembangan karakter, skill dan manajemen kepemimpinan dengan penekanan yang kuat pada sisi pragmatis. Berbeda dengan pendekatan teori tersebut, prinsip Alkitab menekankan pada nilai-nilai spiritualitas sebagai pondasi kepemimpinan Kristen. Signifikansi spiritualitas menjadi permasalahan sekaligus unsur fundamental bagi konsep kepemimpinan Kristen masa kini sebagaimana yang dikaji dalam tulisan ini. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan komparasi. Melalui analisis studi ini, dijumpai bahwa terdapat dua pola dasar kepemimpinan yang berbeda antara konsep Alkitab dan kecenderungan para pemimpin Kristen masa kini. Alkitab menekankan pada pondasi spiritualitas dengan visi Allah sebagai penggerak tujuan akhir, sementara gagasan kepemimpinan Kristen saat ini cenderung menggunakan teori kepemimpinan sekuler dengan penekanan yang kuat pada hal-hal pragmatis yang antroposentris sebagai tujuan akhirnya.
Back to Top Top