Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika

Journal Information
ISSN / EISSN : 2621-8151 / 2621-8135
Published by: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu (10.34081)
Total articles ≅ 76
Filter:

Latest articles in this journal

Dwi Ratna Kusumaningdyah, Arif Wicaksono
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 4, pp 1-22; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i1.225

Abstract:
Kekerasan terhadap perempuan telah menjadi bagian dari sejarah manusia. Akibatnya terjadi tindakan diskriminatif terhadap perempuan dan hal ini menempatkan perempuan dalam posisi subordinasi jika diperhadapkan dengan kedudukan seorang laki-laki dalam struktur kemasyarakatan. Menghadapi situasi seperti ini, acap kali gereja tidak mengungkapkan suara keadilan untuk menyejajarkan posisi perempuan dengan laki-laki. Jika diskursus ini dilihat dalam kerangka hak azasi manusia, maka hal ini dapat dipandang sebagai bentuk pelanggaran hak azasi manusia karena kedudukan perempuan telah didegradasi dari hakikatnya yang sejajar dengan laki-laki. Artikel ini hendak menyoroti tentang kekerasan yang dialami oleh perempuan sebagai bentuk pelanggaran hak azasi manusia. Dengan menggunakan metode fenomenologi yang dilengkapi dengan analisis dan interpretasi tekstual terhadap beberapa bagian Alkitab, dihasilkan sebuah rekomendasi bagi gereja untuk bertindak dalam menyuarakan keadilan bagi perempuan. Gereja harus menjadi pendamping dan sekaligus menjadi agen perubahan terhadap tindakan kekerasan bagi perempuan, yang merupakan bagian langsung dari pelanggaran hak azasi manusia.
Osian Orjumi Moru
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 4, pp 78-98; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i1.198

Abstract:
Konflik sosial merupakan hal yang wajar dalam suatu proses sosial. Konflik sosial merupakan ciri khas yang menunjukan bahwa suatu masyarakat sedang mengalami proses perubahan secara dinamis. Konflik sosial yang ditata secara baik akan menghasilkan dampak yang baik, sebaliknya jika tidak maka konflik akan berakhir dengan kekerasan dan perpecahan. Hal inilah yang ditunjukan dalam kisah konflik yang tercatat dalam 1 Raja-raja 12:1-19. Kisah tersebut merupakan gambaran utuh dari peristiwa konflik yang tidak tertata dengan baik. Akibatnya, terjadilah kekerasan dan revolusi sosial yang berdampak luas bagi seluruh masyarakat Israel. Berdasarkan konsep dasar tersebut, maka tulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan yang komprehensif tentang sebab, bentuk dan akibat dari peristiwa konflik dalam kisah 1 Raja-raja 12:1-19. Tulisan ini juga bertujuan untuk menjelasan tentang relevansi kekinian yang dapat dipelajari dari kisah konflik sosial dalam 1 Raja-raja 12: 1-19. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosio-historis melalui studi kepustakaan untuk menghasilkan suatu kesimpulan penelitian terhadap kisah 1 Raja-raja 12:1-19. Hasil penelitian terhadap topik “Israel dan konflik sosial” menunjukan bahwa tindakan penindasan, ekploitasi dan diskriminasi diduga telah menjadi faktor utama penyebab terjadinya konflik sosial dan perpecahan masyarakat Israel.
Eka Nur Cahyani, Hendi Hendi
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 4, pp 99-116; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i1.171

Abstract:
Di abad ke-21 yang serba cepat, Gereja umumnya dilihat dari perspektif perusahaan. Model bisnis dengan fungsi sebagai manajer tampaknya lebih unggul daripada model alkitabiah dengan fungsi sakramental. Banyak gereja yang pindah jauh dari terminologi keimamatan, dan telah mengusulkan prinsip-prinsip lain yang tidak alkitabiah dalam menyeleksi calon imam. Gereja dalam merekrut calon imam harus mengutamakan fungsi sakramental yang juga diimbangi dengan fungsi manajemen. Penulis mensintesa ide dari buku Six Books on the Priesthood sebagai buku yang menjadi landasan teori dalam membahas kemuliaan jabatan seorang imam dalam menjalankan pelayanan pastoral bagi kaum awam. Tujuannya adalah memberikan alternatif kepada Gereja dalam merekrut calon iman. Hasilnya adalah Chrysostom menekankan kemuliaan jabatan keimamatan dan membutuhkan kualifikasi khusus, penumpangan tangan dan nafas suci, yang tidak diberikan oleh semua orang. Pertama, seorang imam memengang fungsi sakramental. Kedua, seorang imam adalah pelayanan seperti malaikat. Ketiga, seorang imam harus berkarakter seperti Kristus. Keempat, seorang imam atau gembala adalah pelayanan yang sangat sulit. Jabatan seorang imam adalah mulia sebab berhubungan dengan altar, tempat suci pengorbanan dan wewenang untuk mengikat dan melepaskan seperti teladan dari Sang Gembala Agung Yesus Kristus.
Jakson Sespa Toisuta
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 4, pp 23-42; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i1.178

Abstract:
Seluruh dunia tergoncang akibat munculnya pandemi Covid-19. Tidak terkecuali dunia pendidikan. Sekolah dan kampus akhirnya ditutup dan diharuskan belajar dari rumah secara online sebagai salah satu cara memutus rantai penyebaran Covid-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dosen dalam mengatasi permasalahan pembelajaran jarak jauh secara online terhadap mahasiswa di Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar pada masa pandemi Covid-19. Metode penelitian, deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan wawancara, observasi dan analisis dokumentasi. Responden sebanyak 8 orang dosen, data wawancara di transkrip secara verbatim kemudian dianalisa dan disimpulkan. Hasil penelitian didapatkan tiga tema, yaitu: Pertama; ditetapkan platform WhatsApp Grup sebagai media utama yang digunakan dalam proses belajar online, karena dianggap lebih sederhana, efisien dan hemat biaya bagi mahasiswa yang mayoritas di daerah yang sulit terjangkau signal internet. Kedua; beberapa dosen siap membantu mahasiswa dengan menyalurkan dana dalam jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhan kuota internet mahasiswa, memberikan pendampingan motivasi belajar dengan terus membangun komunikasi yang bersahabat dengan mahasiswa melalui whatsapp group diluar jam perkuliahan. Ketiga; harapan dari dosen kepada mahasiswa adalah mahasiswa bisa membangun konsep belajar mandiri (Self Regulated Learning) untuk mengembangkan pengetahuan, karakter dan kerohaniannya (aspek kognitif, afektif dan psikomotorik) sekalipun jauh dari kontrol dan pengawasan dosen secara langsung.
Yohanes Parapat, Mark Phillips Eliasaputra
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 4, pp 43-59; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i1.184

Abstract:
Pandemi Covid-19 memberikan persoalan baru bagi gereja dalam melaksanakan misinya, khususnya terhadap kelompok terdampak ekonomi. Artikel ini bertujuan mengusulkan strategi misi sesuai Amanat Agung, di era pascapandemi atau “the new normal”. Studi menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pengumpulan data dilakukan dengan kajian literatur. Dengan pemahaman dan persiapapan untuk pelaksanaan misi sesuai Amanat Agung secara holistik, pemanfaatan teknologi serta sumber daya manusia militan yang berkomitmen, gereja dapat melakukan panggilan misinya dengan efektif, khususnya kepada kelompok yang terdampak pandemi Covid-19 secara ekonomi, baik pekerja maupun pengusaha. Pandemi Covid-19 memunculkan tantangan sekaligus peluang bagi gereja menjalankan panggilan misinya dan menghasilkan buah bagi Tuhan.
Timotius Haryono, Attilovita Attilovita
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 4, pp 60-77; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i1.126

Abstract:
Aluk To Dolo merupakan agama leluhur yang memengaruhi pandangan hidup bagi orang Toraja. Kebanyakan penganut Aluk To Dolo telah beralih untuk memeluk agama Kristen namun masih ada yang bertahan. Berdasarkan hal tersebut pewartaan kabar keselamatan memerlukan usaha kreatif agar dapat menjangkau seluruh penganut Aluk To Dolo. Jembatan komunikasi yang tepat diperlukan untuk mengatasi hal tersebut. Aluk To Dolo memiliki ajaran Puang Tomanurun Tamboro Di Langi’ dan Eran Di Langi yang mirip dengan prinsip kabar keselamatan. Oleh karena itu, Puang Tomanurun Tamboro Di Langi’ dan Eran Di Langi dapat digunakan untuk jembatan komunikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian preskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model komunikasi kabar keselamatan berdasarkan Injil Yohanes 4:1-42 yang menggunakan jembatan komunikasi Puang Tomanurun Tamboro Langi’ dan Eran Di Langi ’bagi penganut Aluk To Dolo di Tana Toraja. Hasil penelitian ini adalah model komunikasi Yesus Tomanurun Tomboro Langi’ untuk mengomunikasikan kabar keselamatan kepada penganut Aluk To Dolo di Tana Toraja.
Eny Suprihatin
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 4, pp 117-139; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i1.153

Abstract:
Dunia berkembang sangat cepat. Berbagai media sosial hadir dan bersaing untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu cinta dan harga diri (Abraham Maslow). Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan mengadakan survei terhadap data yang sudah ada dan menggali teori-teori yang telah berkembang sehubungan dengan kebutuhan dasar manusia dan media sosial, serta analisis teks terhadap Roma 12:2. Tujuan penelitian ini sebagai kontekstualisasi Roma 12:2 dalam memberikan rambu-rambu bagi orang Kristen yang mengaktualisasikan diri di media sosial. Dari hasil pembahasan ditarik kesimpulan bahwa kontekstualisasi Roma 12:2 dalam dunia digital: Pertama, menjadi pertimbangan moral dalam bermedia sosial yaitu tidak serupa dengan dunia. Kedua, sebagai pertimbangan mental. Orang Kristen memercayai dicipta segambar dan serupa dengan Allah. Sebagai orang yang telah mengalami pembaruan budi tidak perlu mencitrakan diri dengan cara salah dalam memenuhkan kebutuhan aktualisasi diri. Ketiga, mendorong perubahan motivasi dalam bermedia sosial. Orang percaya menjadikan apa yang baik, berkenan dan sempurna sebagai motivasi dalam bermedia sosial. Keempat, menjadi pertimbangan etika dalam mengaktualisasikan diri di dunia digital. Dalam konteks saat ini, dunia digital dan media sosial adalah suatu keharusan. Roma 12:2 memberikan teguran keras: "Jangan menjadi seperti dunia." Orang Kristen memang hidup di dunia, tetapi perilaku dunia tidak boleh memasuki kehidupannya. Orang Kristen yang matang tahu memilih dan berbuat baik, yang menyenangkan Allah dan sempurna.
Yunianto Yunianto, Hani Rohayani
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 4, pp 140-157; https://doi.org/10.34081/fidei.v4i1.243

Abstract:
Ada orang Kristen yang mempercayai Alkitab sebagai pegangan hidup yang tidak memiliki kesalahan, namun sebagian orang Kristen memiliki keraguan akan hal tersebut. Perdebatan ini muncul setelah adanya kelompok-kelompok yang memberikan kritik kepada Alkitab, yang kemudian disebut sebagai kelompok Kritik Tinggi (Higher Criticism) dan Kritik Rendah (Lower Criticism). Dari kritik-kritik yang ditujukan kepada Alkitab ini, maka munculah keraguan dan sikap terhadap Alkitab, bahwa Alkitab memiliki kesalahan. Pada makalah ini penulis hendak memberikan paparan tentang ketidakbersalahan Alkitab atau dalam ilmu teologi lebih dikenal dengan istilah Ineransi Alkitab agar orang Kristen memiliki keyakinan yang teguh terhadap buku pengangan yang harus dipercayai yaitu Alkitab. Dalam makalah ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi pustaka. Penulis berusaha memaparkan bahwa Alkitab yang dipercayai sebagai buku pegangan orang Kristen adalah kebenaran Allah yang harus dipercayai dan diterima dengan iman.
Yosefo Gule
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 181-201; https://doi.org/10.34081/fidei.v3i2.183

Abstract:
Dalam tulisan ini, penulis akan mengkaji dan mendeskripsikan tentang konsep eduecologi dalam PAK konteks sekolah. Metode penelitian pada penulisan artikel ini adalah menggunakan metode kajian kualitatif-deskriptif dengan pendekatan library research, membaca dan membandingkan sejumlah referensi yang berhubungan dengan kajian. Pencegahan perusakan lingkungan hidup sejak dini sangatlah penting. Dalam hal ini PAK berwawasan lingkungan hidup merupakan wahana pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk mengenal Allah melalui karya ciptaanNya serta mewujudkan kedamaian di bumi melalui sikap hidup yang mengacu pada nilai-nilai eko-teosentris. Konsep eduecologi dalam PAK konteks sekolah dapat dilakukan melalui pengajaran pendidikan PAK dan fasilitas yang bias dimanfaatkan yaitu, melalui kegiatan belajar-mengajar PAK, lewat budaya sekolah, melalui kegiatan rutin di sekolah, keteladanan guru PAK, kegiatan spontan, pengkondisian lingkungan, lewat peran serta orang tua dari siswa dan peran serta gereja. Melalui PAK berwawasan lingkungan hidup, peserta didik diharapkan akan mengalami perjumpaan yang baik dan benar dengan Allah yang dikenal sebagai pencipta langit dan bumi, dipercaya dan diimaninya, serta dapat memaknai lingkungan hidup sebagai karya ciptaan Allah yang harus dikelola, dirawat dan dilestarikan.
Jetorius Gulo
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 228-245; https://doi.org/10.34081/fidei.v3i2.105

Abstract:
Konsep pemikiran dan cara pandang sebagai orang percaya harus berfokus pada anugerah/kasih karunia Allah yang diberikan secara cuma-cuma. Keselamatan orang percaya atas karya Tuhan Yesus diatas kayu salib. Anugerah memunyai konsep dasar demikian: “yang memberi tidak berkewajiban, yang menerima tidak mempunyai hak”. Sedangkan konsep “perbuatan baik” adalah “manusia mendapatkan sesuatu karena melakukan sesuatu” seperti layaknya seorang pegawai yang diupah bulanan karena melakukan pekerjaannya selama satu bulan. Kalau seseorang mentaati aturan Alkitab, kalau melakukan amal-ibadah maka orang tersebut akan mendapat pahala, itu adalah konsep “perbuatan baik”. Dimana hal tersebut menunjukkan seseorang belum sadar akan arti penebusan itu. Allah yang penuh kasih sayang terhadap manusia. Dia ingin manusia mengasihi Dia, percaya kepada Dia bagaikan seorang Bapa, mengharapkan seluruh keselamatan dan kebahagiaan hanya dari Dia. Kalau Allah mengampuni manusia yang berdosa, menganugerahkan kepada hidup, bahkan hidup kekal, tujuanNya tidak lain ialah supaya dengan penuh kasih dan percaya kembali kepadaNya.
Back to Top Top