Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika

Journal Information
ISSN / EISSN : 26218151 / 26218135
Current Publisher: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu (10.34081)
Total articles ≅ 60
Filter:

Latest articles in this journal

Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika; doi:10.34081/fidei

Abstract:
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Arif Wicaksono, Hendro Hariyanto Siburian
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 62-87; doi:10.34081/fidei.v3i1.115

Abstract:
Kesetaraan Gender antara pria dan wanita adalah masalah yang masih sering diperdebatkan hingga saat ini. Keterlibatan perempuan dalam pelayanan juga masih menuai pro dan kontra di kalangan gereja. Beberapa gereja ada yang menyetujui keterlibatan perempuan dalam peribadatan, namun sebagian gereja masih merasa keberatan akan hal itu. Melihat akan hal ini penulis melalukan penelitian ini dengan menelaah teks 1 Timotius 2:9-15. Metodologi yang penulis gunakan dalam menelaah teks tersebut eksegesis tekstual dengan memerhatikan latar belakang surat, gramatikal dan konteks. Metode ini sangat baik digunakan untuk menguraikan teks tersebut. Dengan menggunakan metode ini diharapkan, pembaca dapat memahami apa yang dimaksudkan Paulus dalam teks1 Timotius 2:9-15 berkaitan dengan Perempuan dan Peribadatan. Pada dasarnya Paulus menulis surat bukan ditujukan untuk memisahkan derajat status sosial antara laki-laki dan perempuan, melainkan justru Paulus sangat menghargai harkat dan martabat perempuan.
Novita Indriani Rorong, Dicky Dominggus
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 88-109; doi:10.34081/fidei.v3i1.97

Abstract:
Kekerasan telah menjadi sebuah tindakan yang lumrah dan biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Kekerasan disebabkan oleh banyak faktor, namun penulis menyoroti bahwa media elektronik yang menyuguhkan film, game, dan musik yang mengandung unsur kekerasan telah memberikan kontribusi besar untuk menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan dalam kehidupan manusia. Artikel ini merupakan sebuah studi untuk membangun pedoman etis sebagai pegangan hidup setiap orang Kristen. Pedoman etis ini merupakan sebuah solusi untuk menjawab permasalahan mengenai budaya kekerasan dalam media elektronik yang terjadi dalam kehidupan manusia di era globalisasi dewasa ini. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Adapun hasil dari penelitian ini adalah budaya kekerasan dapat diatasi dengan menerapkan prinsip kasih sebagai nilai tertinggi di dalam kehidupan seseorang. Selain itu, setiap orang perlu mengembangkan sikap moral dalam kehidupannya seperti menghargai manusia sebagai ciptaan Allah yang serupa dan segambar dengan Allah, memiliki kasih terhadap sesama, dan memiliki pengendalian diri dalam segala hal.
Kalis Stevanus
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 1-19; doi:10.34081/fidei.v3i1.119

Abstract:
Tulisan ini hendak menjelaskan mengenai konsep penginjilan, yang terdiri dari enam pokok bahasan, yaitu: landasan teologis penginjilan, pengertian penginjilan, hakikat penginjilan, motivasi penginjilan, pentingnya penginjilan dan terakhir tujuan penginjilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan penyajian deskriptif. Penginjilan adalah memberitakan tentang karya Kristus yang sudah mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga (1 Korintus 15:3-4). Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia. Dengan demikian, disimpulkan bahwa penginjilan tetap relevan dan mutlak dilakukan dengan bijak serta tulus oleh setiap pengikut Kristus dengan tujuan supaya setiap orang dapat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan beroleh keselamatan. Keselamatan harus diterima secara pribadi, artinya respon yang diberikan bersifat pribadi terhadap berita Injil.
Syelin Umur
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 37-61; doi:10.34081/fidei.v3i1.68

Abstract:
Latar belakang dan karakteristik setiap umat sungguh beragam. Dan seorang pastor atau gembala memikul tanggung jawab untuk melayani atau menggembalakan mereka. Seorang pastor harus memiliki mata yang tajam dan strategi yang tepat untuk melayani umat yang sangat beragam. Kecakapan seorang pastor diperlukan dalam pelayanan penggembalaan. Artikel ini akan mengupas atau menguraikan strategi pelayanan pastoral yang diajarkan oleh Bapa Gereja yang bernama Gregorius Agung. Gregorius Agung menekankan setiap pastor harusnya bisa melihat dan melayani kebutuhan spiritual yang berbeda dari setiap umat. Gregorius Agung mengajarkan pentingnya nasihat-nasihat spiritual yang berbeda sesuai dengan karakter dan kondisi umat yang dilayani. Ada 11 kualifikasi dan 40 strategi bagi para pastor menggembalakan umatnya dengan spirit kerendahan hati seperti teladan dari Sang Gembala Agung Yesus Kristus.
Agus Kriswanto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 20-36; doi:10.34081/fidei.v3i1.74

Abstract:
Sejak awal pembentukannya, warga Gereja Injili di Tanah Jawa bergumul untuk merespons tantangan bernegara dan berbudaya Jawa. Di satu pihak ada kelompok warga yang ingin menjaga kemurnian iman Mennonite dengan menekankan pemisahan antara urusan gereja dan negara, serta menjauhkan diri dari pengaruh budaya; di pihak lain ada kelompok warga yang ingin memberi ruang yang besar bagi keterlibatan bernegara dan berbudaya. Dengan demikian, terjadi kebingungan dalam menyikapi hubungan antara gereja dan negara serta budaya. Tulisan ini bermaksud mengangkat persoalan tentang upaya warga Gereja Injili di Tanah Jawa untuk dapat memberi ruang keterlibatan bernegara dan berbudaya, sambil tetap memelihara identitas iman Mennonite yang diwarisinya. Metode yang digunakan dalam rangka menjawab permasalahan tersebut adalah metode analisis-deskriptif. Analisis dilakukan terhadap materi historis yang merepresentasikan pergulatan sosial-budaya yang dialami oleh warga Gereja Injili di Tanah Jawa.
Sonny Eli Zaluchu
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 144-159; doi:10.34081/fidei.v3i1.109

Abstract:
Kehidupan Simson adalah sebuah studi kepemimpinan yang menarik untuk dikaji. Selama dua puluh tahun menjadi hakim Israel, Simson tampil dengan kekuatan supernatural Allah yang tak tertandingi. Tetapi, awal yang baik itu tidak berakhir dengan tuntas. Simson memerlihatkan kelemahan karakter, dekadensi moral dan pembangkangan terhadap aturan kenaziran yang seharusnya ditaatinya. Simson jatuh ke dalam pelukan berbagai wanita kafir dan kekuatannya hilang akibat rayuan maut Delila. Simson mengira dirinya masih dipakai Tuhan, tetapi kenyataannya berakhir di penggilingan. Penelitian ini merupakan autobiography research yang berfokus pada kehidupan Simson. Framing yang dipergunakan di dalam analisis adalah pendekatan kepemimpinan (leadership). Temuan memerlihatkan bahwa Simson menekankan tipe kepemimpinan personalized charismatic leader. Pengalaman kepemimpinan Simson memberikan dua basis lingkungan yang seharusnya ada di ruang lingkup seorang pemimpin. Pertama basis sosial. Pemimpin yang berada di dalam basis sosial yang baik akan mendapat dukungan moral, emosi dan strategi dari orang-orang yang ada disekitarnya. Melaluinya pemimpin menjalani kekuasannya tidak otoriter, tidak mutlak dan egaliter. Basis kedua adalah lingkungan rohani. Panggilan pelayanan harus diimbangi dengan kehidupan rohani yang kuat. Hanya dengan cara ini seorang pemimpin tetap berada di dalam panggilannya, mengutamakan panggilan dan menjalaninya dengan takut akan Tuhan. Kepemimpinan memang selalu membawa hal-hal korup. Tetapi jika kedua basis ini secara ketat menempel seorang pemimpin, sebesar apapun kekuasaan yang dimilikinya, tetap tidak dapat diselewengkan tanpa diketahui dan dievaluasi.
Nitis Harsono
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 110-125; doi:10.34081/fidei.v3i1.95

Abstract:
Bertolak dari pergumulan yang seolah tarik menarik bagi diri Gereja, oleh karena ia sadari bahwa di satu sisi bangsa ini diperhadapkan pada pergumulan yang masih belum terselesaikan, sebagaimana cita-cita para founding fathers yang tertuang dalam Mukadimah UUD 1945, yakni mewujudkan rakyat yang cerdas, sejahtera, bangsa yang berdaulat sehingga berperan dalam mewujudkan perdamaian dunia. Cita-cita tersebut menjadi konteks nasional, yakni masalah besar bangsa ini, yang sekaligus menjadi medan kehadiran Gereja. Di pihak lain, Gereja bergumul dan merasa dirinya terpisah dari bangsa ini, merasa bukan bagian dari dunia ini. Barangkali pikiran ini muncul karena merasa banyak penolakan terhadap dirinya, sehingga enggan, atau paling tidak membatasi dirinya bergaul dengan masyarakat. Tentunya bisa juga dimaklumi, penolakan terhadap kekristenan tak lepas dari sejarah. Tetapi kira-kira bisa jadi penolakan ini hanya di sebagian dari luasnya bentangan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, dan bisa jadi juga merupakan prasangka. Rasa tarik-menarik tadi adalah kesadaran akan lingkungan atau medan sekitar Gereja yang perlu mendapat perhatian dari karya Gereja. Gereja memang dipandang liyan (asing), bukan dari dunia, tetapi ia menjadi warga dunia itu. Gereja sadari bahwa ia harus hadir bagi dunia, meski di lain pihak condong lebih memerhatikan pergumulan dirinya. Teks Yeremia 29:7, menjadi acuan teologis untuk membangun dan menggugah spiritualitas Gereja menjadi karya iman yang konkrit bagi lingkungannya. Karya iman Gereja bagi lingkungan sesungguhnya turut mengatasi pergumulan bangsa, yang tak terpungkiri dengan sendirinya memberi dampak bagi kelangsungan kehadiran Gereja.
Patrecia Hutagalung
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 3, pp 126-143; doi:10.34081/fidei.v3i1.89

Abstract:
Salah satu penyebab tidak terlaksananya disiplin gereja adalah ketidaktahuan jemaat terhadap keterlibatannya dalam memulihkan sesamanya yang jatuh dalam dosa. Disiplin juga dianggap tidak menggambarkan kasih Allah dan hanya tugas dari seorang pemimpin jemaat. Hal ini berujung pada pembiaran sesama yang berdosa tanpa tindakan menegur sebagai upaya untuk pemulihan. Dalam kasus lain, disiplin ditegakkan tanpa dasar kasih, banyak gereja yang kelihatannya malah menjadi tempat praktek menghakimi. Menegur saudara seiman yang jatuh dalam dosa merupakan perintah langsung dari Tuhan Yesus. Ketika jemaat ambil bagian menerapkan disiplin gereja dengan prosedur yang Alkitabiah, jemaat sedang mengejawantahkan kasih Allah yang bertujuan untuk memulihkan. Artikel ini akan menjelaskan peran atau keterlibatan jemaat dalam disiplin gereja berdasarkan Injil Matius 18:15-20, dengan menggunakan metode studi pustaka yang akan meneliti sumber-sumber dari perpustakaan maupun artikel, penelitian terdahulu dan akan dilakukan kajian teologis berkaitan dengan Matius 18:15-20 sebagai landasan Alkitab dalam penelitian ini. Hasil penelitian akan mengemukakan bahwa jemaat memiliki keterlibatan khusus dalam terlaksananya disiplin gereja.
Kejar Hidup Laia
FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Volume 2, pp 286-302; doi:10.34081/fidei.v2i2.46

Abstract:
AbstrakKorelasi Pertumbuhan Gereja Dengan Penginjilan Yang Alkitabiah. Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang memusatkan tujuan utamanya terhadap Penginjilan. Tugas Penginjilan adalah tugas semua orang percaya tanpa terkecuali dipertajam oleh Rasul Paulus dalam Surat I Korintus 9:16 “Bahwa pemberitaan Injil adalah sebuah keharusan bukan pilihan”. Gereja yang bertumbuh memiliki beberapa faktor yang mendukungnya yakni: Kepemimpinan Gembala Sidang yang dinamis, Bebaskan kaum awam, Jangkauan Pelayanan, Keseimbangan, Homogenitas, Penginjilan , Pemuridan dan Prioritas sedangkan faktor penghambatnya adalah Gereja tidak terbeban memberitakan Injil dan Pemuridan. Takut ditolak dan dianiaya sehingga memilih untuk toleransi sampai lupa tugas amanat Agung. Gereja yang bertumbuh pasti memiliki hambatan dalam pertumbuhannya
Back to Top Top