Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika

Journal Information
ISSN / EISSN : 2477-3514 / 2614-0055
Published by: Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika (10.30870)
Total articles ≅ 30
Filter:

Latest articles in this journal

Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 59-68; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i2.7387

Abstract:
Abstrak Wanita dan kecantikan merupakan dua hal yang saling berhubungan erat, ibarat dua sisi mata uang. Citra cantik telah demikian meresap dan diterima nyaris tanpa resistensi oleh masyarakat. Media terutama iklan mempunyai peran besar dalam mengkonstruksi citra cantik. Bahkan kini muncul tren fashion hijab dimana berisi wanita-wanita muslimah berhijab yang tetap tampil modis dan fashionable. Tren fashion hijab ini dimanfaatkan oleh pelaku industri kecantikan khususnya kosmetik seperti Wardah untuk meluncurkan produk kosmetiknya dengan melekatkan sensibilitas agama dalam produknya. Wardah muncul dengan mengusung wacana kosmetik halal sehingga mampu menggaet konsumen dari kalangan wanita muslim berhijab untuk percaya menggunakan produk kosmetiknya. Iklan kosmetik Wardah pun menampilkan Dewi Sandra sebagai selebriti berhijab untuk menambah kesan Islami pada produk Wardah. Pemilihan Dewi Sandra sebagai brand ambasador Wardah ternyata mampu merepresentasikan citra muslimah berhijab yang modis dan fashionable. Hal ini terlihat dalam iklan Wardah Exclusive Series versi Dewi Sandra di Paris. Adegan yang ditampilkan dalam iklan tersebut memperlihatkan bahwa wanita muslim berhijab dapat tampil modis dan fashionable dengan gaya berpakaian sesuai trend fashion yang tengah populer. Baudlillard menjelaskan fenomena ini dengan mengatakan bahwa masyarakat ini telah teracuni oleh tanda dan dari segala macam jenis produksi massa. Kondisi ini memicu masyarakat untuk selalu berdandan, selalu tampil modis dan fashionable (dandy) dalam setiap interaksi sosialnya. Wanita muslim berhijab kini terjebak dalam lautan panggung yang tidak bisa memisahkan mana yang riil dan tidak rill karena mereka berpenampilan layaknya public figure dalam setiap kesempatan. Kata kunci: Cantik, kosmetik halal, wanita muslim AbstractWomen and beauty are two things that are closely interrelated, like two sides of a coin. Beautiful images have been so pervasive and accepted almost without resistance by the public. Media, especially advertising, has a big role in constructing beautiful images. Women's fashion and lifestyle are not separated from the affairs of the canti. Even now there is a hijab fashion trend which contains Muslim women wearing hijab who still look fashionable and fashionable. This hijab fashion trend is used by beauty industry players, especially cosmetics such as Wardah to launch their cosmetic products by attaching religious sensibility in their products. Wardah came up with a halal cosmetics discourse that was able to attract consumers from Muslim women wearing hijab to believe in using their cosmetic products. Wardah cosmetics commercials also feature Dewi Sandra as a hijab celebrity to add an Islamic impression to Wardah products. The selection of Dewi Sandra as ambasador brand Wardah'swas able to represent the image of a fashionable and fashionable Muslim hijab. This can be seen in the Wardahadvertisement by Exclusive Series Dewi Sandra in Paris. Baudlillard explains this phenomenon by saying that this society has been poisoned by signs and from all kinds of mass production. This condition triggers people to always dress up, always look fashionable and fashionable (dandy) in every social interaction. Muslim women wearing hijab are now trapped in a sea of stage that cannot separate what is real from real because they look like public figures at every opportunity.Key word: beauty, halal cosmetics, muslim women
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 107-120; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i2.7234

Abstract:
Abstrak Menyebarnya budaya populer Korea ke Indonesia menyebabkan timbulnya tindakan konsumtif di kalangan penggemarnya. Termasuk mahasiswa FKIP Untirta yang juga tidak lepas dari pengaruh gelombang Korea tersebut. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pembentukan konsep diri mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang menggemari budaya populer Korea. Budaya populer Korea yang dimaksud adalah drama Korea dan musik K-Pop. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan tenik observasi, wawancara terstruktur dan mendalam, serta dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari lima belas mahasiswa penggemar budaya populer Korea yang terbagi menjadi tiga karakteristik yaitu penggemar drama Korea, penggemar musik K-pop, serta penggemar drama Korea dan musik K-pop. Hasil penelitian menunjukan bahwa mahasiswa penggemar budaya populer Korea melakukan tindakan konsumsi berupa makanan, pakaian, riasan dan merchandise K-pop. Dalam pikiran (Mind), penggemar budaya populer Korea memberikan pemaknaan terhadap drama Korea dan musik K-pop sebagai hiburan dan impian. Sebagai diri (Self) yang terbagi menjadi aku (I) dan diriku (Me), penggemar budaya populer Korea melakukan tindakan yang spontan seperti melakukan fanwar dan terkontrol dengan cara memikirkan kembali tindakan yang telah dilakukannya. Di masyarakat (Society) yaitu lingkungan kampus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, penggemar budaya populer Korea berinteraksi dengan sesama penggemar maupun non-penggemar. Kata kunci: Mahasiswa, Budaya Populer Korea, Konsep Diri. Abstract The spread of popular Korean culture to Indonesia has led to the emergence of consumptive actions among fans. Including FKIP Untirta students who are also not free from the influence of the Korean wave. This study aims to describe Forming of Self-Concept of College Student are Fans of Korean Popular Culture at the Faculty of Teacher Training and Education Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. The Korean popular culture in question is Korean drama and K-Pop music. This type of research uses a qualitative descriptive method. The technique of collecting data uses observation, structured and in-depth interviews, and documentation. The subject of the study consisted of fifteen students fans of Korean popular culture who were divided into three characteristics, namely fans of Korean drama, K-pop music fans, and fans of Korean drama and K-pop music. The results showed that students of Korean popular culture carried out consumption actions in the form of food, clothing, makeup and K-pop merchandise. In Mind, fans of Korean popular culture give meaning to Korean drama and K-pop music as entertainment and dreams. As Self which is divided into I and Me, fans of Korean popular culture take spontaneous actions such as doing fanwar and being controlled by rethinking the actions they have taken. In Society, namely the environment of the Teacher Training and Education Faculty of Sultan Ageng Tirtayasa University, fans of Korean popular culture interact with fellow fans and non-fans.Keywords: Students, Korean Popular Culture, Self-Concept.
Sastra Juanda, , Hardiyanti Hardiyanti
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 79-88; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i2.7385

Abstract:
Artikel ini merupakan hasil peneltian yang menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses pendidikan moral melalui berbagai tradisi kesantrian di pesantren salafiyah Al-Fathaniyah.Berdasarkan data yang dihimpun yang telah dianalisis, terdapat beberapa temuan, diantaranya (1) Pondok Pesantren Al-Fathaniyah menanamkan proses pendidikan moral kepada santri melalui berbagai tradisi kesantrian yang dijalankan oleh seluruh elemen masyarakat pesantren yang menjadi cerminan dalam mengaplikasikan visi dan misi lembaga pesantren.(2) Setiap tradisi kesantrian yang dijalankan mengandung nilai-nilai pendidikan moral didalamnya. Beberapa tradisi kesantrian yang masih dijalankan, yaitu: mengaji kitab kuning, gotong royong mendirikan bangunan maupun membersihkan pesantren, ziarah ke makam ulama, peringatan hari besar Islam, muhadharah, marhabanan, makan dalam satu wadah, memakai kain sarung dan menggunakan penyebutan Mamang dan Bibi santri.
, Reva Febrianti
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 69-78; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i2.7384

Abstract:
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan eksperimen murni sebagai metode penelitian dengan desain posttest only control group design. Sebelum melakukan penelitian peneliti mempersiapkan instrument tes terlebih dahulu, dimana instrument tes ini diberikan kepada kelas yang lebih tinggi, setelah itu dilanjutkan dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Setelah tes dinyatakan valid dan reliabel, kemudian dilanjutkan dengan uji normalitas dan uji homogenitas. Setelah data dinyatakan normal dan homogen, maka dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji-t. Dari hasil hipotesis menggunakan uji-t diperoleh nilai t hitung < t tabel, yaitu sebesar 0.000 F-tabel 3.98.   Kata Kunci : Cooperative Learning, Jigsaw, Hasil Belajar
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 89-106; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i2.7383

Abstract:
Abstrak   Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi pendidikan dalam hal ini adalah penyebab anak putus sekolah dan dampak setelah mengalami putus sekolah serta mencari makna pendidikan bagi anak yang telah mengalami putus sekolah di kawasan industri kota Cilegon. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara terstruktur, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari lima orang anak yang mengalami putus sekolah dengan kriteria yang telah ditentukan yaitu anak putus sekolah pada jenjang SMA/Sederajat yang bertempat tinggal di kota Cilegon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab anak putus sekolah terbagi ke dalam dua bagian yakni, faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal disebabkan oleh dua hal. Pertama, faktor lingkungan yang disebabkan oleh menurunnya motivasi anak untuk bersekolah karena terbawa temannya untuk membolos. Dan kedua, faktor ekonomi yang membuat anak terpaksa berhenti sekolah dan memilih bekerja untuk membantu orang tua dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Sedangkan faktor internal yakni faktor sakit. Anak memiliki kondisi fisik lemah yang mempengaruhi daya tahan tubuhnya sehingga tidak dapat bersekolah. Dampak yang dirasakan anak setelah mengalami putus sekolah merasa kecewa kepada dirinya sendiri dan merasa menyesal karena telah mengecewakan orang tuanya. Rendahnya pendidikan membuat anak mengalami kesulitan terutama dalam mencari pekerjaan karena tidak memiliki ijazah. Selain itu, berkurangnya interaksi anak dengan teman-teman dan orang-orang sekitar sehingga lebih sering menganggur di rumah dan tidak melakukan kegiatan yang bermanfaat. Anak-anak yang mengalami putus sekolah memaknai pendidikan merupakan hal yang penting dengan alasan yang berbeda-beda menurut sudut pandangnya masing-masing.  Kata-kata Kunci: Anak Putus Sekolah; Kondisi Pendidikan; Makna Pendidikan; Faktor Penyebab  Abstract  The objective of this research was to describe the condition of education. In this case, the researcher found out the causes of why the children dropped of school, the effect after their dropped of school, and also to find out the meaning of education for the children who dropped of school in the industrial area of Cilegon. This research used qualitative of descriptive method. The collection of data technique were the structured interview, observation, and documentation. The sample of this research was consisted of five childrens dropped of school with the determined criterion was senior high school that was lived in Cilegon. The result showed that the factors caused the children dropped out was divided into two parts, that were the external and internal factors. External factor was caused by two things. The first, enviromental factor it can reduced the childrens motivation to go to school, because they were followed their friends to truant in the school. The second, factor of economy. It made the children should stopped from the school and chose to work to help their parents for their daily needs. Meanwhile, the internal factor was sick. The children had work physical which influenced their immune. It made the children was disappointed and regretted not only to themselves but also to their parents, because the children can not go to school. The lack education made the children difficulties in finding the job, because they have no graduate certificate in other hand, the minimalization of childrens interaction with the other so that made them unemployed and did not do something useful in their home. The children who dropped of school considered the education was important in different reasons based on their own perspectives. Keywords: Dropout Children; Educational Condition; Meaning of Education
, Sastra Juanda, Jedah Nurlatifah
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 35-46; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i1.7382

Abstract:
Sekolah memiliki sanksi berjenjang bagi warganya yang tidak dapat mentaati peraturan tersebut sesuai dengan tingkat pelanggaran siswa. Sanksi sangat penting diterapkan bagi siswa agar tetap pada jalur yang sesuai dengan ketentuan sekolah.prosedur. Penelitian ini telah berusaha mendeskripsikan implementasi sanksi berjenjang yang diterapkan bagi siswa yang melanggar tata tertib di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Cibeber Lebak. Prosedur penelitian yang dipakai adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan pedoman observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) sanksi berjenjang bagi siswa pelanggar tatakrama dan tata tertib di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Cibeber lemah dalam implementasinya. Ditunjukkan dengan banyaknya kasus pelanggaran yang tidak mendapatkan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggaran. (2) hal yang melatarbelakangi yaitu: perilaku siswa yang sudah menjadi habitus dalam melanggar sehingga sulit dirubah dan dihilangkan. Lemahnya tindakan sekolah dalam memberikan sanksi kepada siswa yang melanggar, adanya pengaruh kultur siswa dan masyarakat sekitar, pengaruh jabatan siswa di sekolah, pengaruh relasi siswa dengan guru, dan pengaruh ekonomi siswa.
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 47-58; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i1.7202

Abstract:
Abstrak  Tujuan penelitian ini untuk menginformasikan strategi eksistensi pencak silat bandrong di tengah industri kebudayaan. Ini dilakukan dengan mencaritahu bagaimana pencak silat bandrong dapat menjadi representasi budaya lokal dan menjalani reproduksi sosial di masyarakat, dinamika perkembangan bandrong hingga akhirnya eksistensi bandrong di dalam masyarakat Banten modern. Penelitian ini menggunakan mix methods, dengan teknik embedded konkuren. Metode kuantitatif dilekatkan atau disarangkan ke dalam metode yang lebih dominan (metode kualitatif). Kriteria pemilihan informan terbagi menjadi 3: (1) penggiat Pencak Silat Bandrong dan memiliki jabatan di organisasi; (2) penggiat pencak silat yang tidak memiliki jabatan organisasi,dan ; (3) bukan penggiat pencak silat dan bukan dari organisasi independen. Strategi Eksistensi Pencak Silat Bandrong di tengah industri kebudayaan dapat ditemukan pada hal-hal berikut. Pertama, sejarah dan nilai nilai berupa keagamaan atau religiusitas, nilai kebudayaan, dan nilai sosial atau kepedulian terhadap masyarakat menjadi cerminan keterlekatan Bandrong dengan perkembangan masyarakat lokal. Kondisi ini menjadikan Bandrong dapat dilihat sebagai representasi budaya lokal Banten. Kedua, dalam dinamika perkembangan bandrong terbentuk organisasi formal pencak silat bandrong struktural yang mendukung eksistensi dan juga ekspansi bandrong di masyarakat. Ketiga, terdapat dua jenis bandrong; struktural dan kultural, dimana kedua nya saling bersinergi yang mendukung perkembangan pencak silat bandronbg. Keempat, bandrong dapat bertahan dan tidak sepenuhnya masuk dalam arus industri kebudayaan namun tetap memperkuat eksistensinya di masyarakat. Seperti dengan reproduksi sosial bandrong melalui pendidikan formal, informal, non formal maupun melalui lembaga pemerintahan. Kata-kata Kunci: pencak silat bandrong; kultural; struktural; industri budaya. Abstract The purpose of this study is to inform the strategy of the existence of pencak silat bandrong in the midst of the cultural industry. This is done by finding out how pencak silat bandrong can be a representation of local culture and undergoing social reproduction in the community, the dynamics of bandrong development until finally the existence of bandrong in modern Banten society. This research uses mix methods, with concurrent embedded techniques. Quantitative methods are embedded or nested into more dominant methods (qualitative methods). Criteria for selecting informants is divided into 3: (1) activists of Pencak Silat Bandrong and have positions in the organization; (2) pencak silat activists who do not have organizational positions, and; (3) not a pencak silat activist and not from an independent organization. The Existence Strategy of Pencak Silat Bandrong in the middle of the culture industry can be found in the following matters. First, history and values in the form of religion or religiosity, cultural values, and social values or concern for the community are a reflection of Bandrong's attachment to the development of local communities. This condition makes Bandrong can be seen as a representation of the local culture of Banten. Secondly, in the dynamics of bandrong development a formal organization of structural bandrong pencak silat was formed that supported the existence and expansion of the bandrong in society. Third, there are two types of bandrong; structural and cultural, where the two work together to support the development of pencak silat bandronbg. Fourth, bandrong can survive and not fully enter the flow of the culture industry but still strengthen its existence in society. As with bandrong social reproduction through formal, informal, non-formal education or through government institutions.Keywords: pencak silat bandrong, cultural, structural, cultural industry.
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 25-34; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i1.7389

Abstract:
ABSTRAK Globalisasi menjadi hal yang sudah pasti tidak bisa setiap orang hindari. Kemajuannya begitu cepat terutama dalam segi majunya perkembangan tekonologi. Setiap individu, harus memiliki kemampuan untuk mempersiapkan diri terutama dalam menghadapi pengaruh negatif dari globalisasi. Ketika globalisasi bisa di manfaatkan dengan baik dan bijaksana, maka hal ini akan membawa kemajuan yang positif, terutama dalam bidang pendidikan. Kemajuan dalam bidang teknologi, menuntut keterampilan yang tinggi bagi pendidik khususnya, terutama dalam memanfaatkan teknologi pada saat proses pembelajaran. Pendidikan IPS mampu mengembangkan kemampuan sosial di lingkungan masyarakat, terutama di tengah-tengah arus globalisasi yang semakin meningkat. Pendidikan IPS juga membekali kemampuan peserta didik untuk bisa memecahkan berbagai macam permasalahan sosial baik dalam lingkungannya maupun yang terkait dengan isu-isu global. Kata Kunci: Pendidikan, IPS, Globalisasi
Kanita Khoirun Nisa
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 1-12; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i1.7380

Abstract:
Abstrak  Pengembangan pariwisata oleh masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Artikel ini berbicara tentang Pengembangan Desa Wisata di Desa Wisata Panusupan yang diawali dengan kemunculan wisata religi yang belum dikembangkan secara maksimal. Desa Panusupan mulai dirintis untuk menjadi desa wisata yaitu pada tahun 2009 dan diresmikan menjadi Desa Wisata pada tahun 2014. Setelah diresmikan menjadi desa wisata pada tahun 2014, Desa Panusupan mengalami berbagai perubahan Pengembangan yang dilakukan di Desa Wisata Panusupan ini berbasis CBT, dimana pengelolaannya ialah masyarakat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Adapun informan yang terlibat adalah Kepala Desa Panusupan, Pokdarwis Ardi Mandala Giri, Komunitas Lokal. Sedangkan instrument yang digunakan yaitu menggunakan sumber data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata di Desa Panusupan terbagi menjadi dua yaitu pariwisata sebelum adanya community based tourism dan pariwisata sesudah adanya community based tourism. Pariwisata sebelum CBT dikenal dengan wisata religi, makam Syekh Jambu Karang pada tahun 2009 – 2014. Sedangkan, pariwisata sesudah adanya CBT yakni pada tahun 2015 – 2018. Pariwisata sesudah adanya CBT di Desa Panusupan sangat beragam, yakni wisata petualangan, wisata Rumah Pohon, wisata Puncak Batur, wisata Sendaren, wisata Jembatan Cinta hingga wisata Batu Gilang Green Park. Selanjutnya, dengan adanya pariwisata berbasis CBT di Desa Panusupan menimbulkan kemanfaatan positif dalam bidang ekonomi dan sumber daya alam yang masih terjaga keasliannya. Temuan selanjutnya yaitu tentang proses perkembangan pariwisata di Desa Panusupan yang berbasis masyarakat. Proses perkembangan pariwisata CBT di Desa Panusupan meliputi adanya partisipasi masyarakat, kelembagaan masyarakat, organisasi dan pengelolaan. Kata-kata Kunci: pariwisata; komunitas; pariwisata berbasis masyarakat; partisipasi. Abstract The development of tourism by the community aims to improve the welfare of the community. This article talks about the Development of a Tourism Village in the Panusupan Tourism Village, which began with the emergence of religious tourism that has not yet been fully developed. Panusupan Village was initiated to become a tourism village in 2009 and was formalized as a Tourism Village in 2014. After being inaugurated as a tourism village in 2014, Panusupan Village underwent various changes in development. . The research method used in this study is qualitative with an ethnographic approach. The informants involved were the Head of Panusupan Village, Pokdarwis Ardi Mandala Giri, Local Community. While the instruments used are primary and secondary data sources.The results showed that tourism in Panusupan Village was divided into two, namely tourism before the existence of community based tourism and tourism after the existence of community based tourism. Tourism before CBT was known as religious tourism, the tomb of Sheikh Jambu Karang in 2009 - 2014. Meanwhile, tourism after the CBT was in 2015 - 2018. Tourism after the CBT in Panusupan Village was very diverse, namely adventure tourism, tree house tourism, tourism Batur Peak, Sendaren tour, Love Bridge tour to Batu Gilang Green Park tour. Furthermore, the existence of CBT-based tourism in Panusupan Village has led to positive benefits in the fields of economy and natural resources that are still maintained its authenticity. The next finding is about the process of tourism development in the community-based Panusupan Village. The process of CBT tourism development in Panusupan Village includes community participation, community institutions, organization and management. Keywords: tourism; community; community-based tourism; participation.
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika, Volume 5, pp 13-24; https://doi.org/10.30870/hermeneutika.v5i1.7381

Abstract:
Abstrak Di tengah arus globalisasi yang sangat deras dimana segala bentuk hiburan dikemas secara modern dan apik. Salah satu gejala mencolok yang muncul dalam tiga dasawarsa terakhir di Indonesia adalah maraknya berbagai macam bentuk mainan (toys) dan permainan (game) yang berasal dari luar negeri. Arus ini mengalir deras dalam dasawarsa terakhir, ketika di beberapa kota besar di Indonesia muncul toko-toko yang begitu besar, namun khusus hanya menjual mainan anak-anak, terutama boneka-boneka berbagai tokoh dalam dalam film kartun. Eksistensi permainan tradisional di desa Nyangkringan kabupaten Bantul dapat terlihat dari warga desa, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, masih memainkan permainan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Ragam permainan tradisional yang dimainkan oleh warga desa Nyangkringan kabupaten Bantul cukup banyak jenisnya, antara lain sebagai berikut Gobak sodor, Bekelan, Nekeran (kelereng), Lompat tali, Dhelikan (petak umpet), Layangan, Engklek, Dakon, Jamuran, Gamparan. Faktor-faktor penyebab eksistensi permainan tradisional di desa Nyangkringan adalah peran orang tua, hemat dan praktis, ekonomis, pelestarian kebudayaan, transformasi kebudayaan dari generasi tua ke generasi muda, manfaat dan pengaruh positif terhadap perkembangan jiwa anak serta usaha dan kerjasama warga dalam melestarikan permainan tradisional. Kata kunci: budaya tradisional, permainan tradisional, manfaat  Abstract In the midst of a very heavy current of globalization where all forms of entertainment are packaged in a modern and chic manner. One striking symptom that appeared in the last three decades in Indonesia is rampant in various forms of toys(toys)and games(games)coming from abroad. These flows flowed in the last decade, when there were large shops in several major cities in Indonesia, but specifically only selling children's toys, especially dolls of various characters in cartoons. The existence of traditional games in the village of Nyangkringan, Bantul district can be seen from villagers, ranging from children to adults, still playing traditional games in everyday life. The variety of traditional games played by the residents of Nyangkringan village in Bantul district are quite various, including Gobak sodor, Bekelan, Nekeran (kelereng), Jump rope, Dhelikan (hide and seek), Layangan, Engklek, Dakon, Jamuran, Gamparan. The causes of the existence of traditional games in Nyangkringan village are the role of parents, thrifty and practical, economical, cultural preservation, a cultural transformation from the old generation to the younger generation, benefits and positive influence on children's development and efforts and cooperation in preserving traditional games. Keywords: traditional culture, traditional games, benefits
Back to Top Top