ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika

Journal Information
ISSN / EISSN : 2460-9587 / 2614-7017
Total articles ≅ 132
Filter:

Latest articles in this journal

Riya Wulandari, Angelia Timara, Emi Sulistri, Sumarli Sumarli
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 283-290; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.5173

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Role Playing berbantuan media video terhadap hasil belajar kognitif siswa pada materi bunyi. Penelitian dilaksanakan di SD Swasta Torsina III Singkawang. Jenis penelitian yaitu penelitian kuantitatif dengan metode quasi experimental, dalam bentuk Nonequivalent Pre-test and Post-test Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Torsina III Singkawang. Sampel diambil menggunakan teknik non probability dengan jenissampling jenuh. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes berupa tes objektif materi bunyi dan teknik non tes berupa angket respon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan hasil belajar ranah kognitif antara siswa yang diterapkan model pembelajaran role playing berbantuan media video dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran langsung; (2) Penggunaan model pembelelajaran role playing berbantuan media video berpengaruh tinggi terhadap hasil belajar kognitif siswa; (3) Respon siswa positif terhadap model pembelajaran role playing berbantuan media video pada kategori baik. Kata kunci: model pembelajaran role playing; media video; hasil belajar kognitif. ABSTRACT This study aims to determine the effect of the video media-assisted Role Playing learning model on students' cognitive learning outcomes on sound material. The research was conducted at Torsina III Private Elementary School, Singkawang. The type of research is quantitative research with quasi-experimental method, in the form of Nonequivalent Pre-test and Post-test Control Group Design. The population in this study were all fourth grade students of SD Torsina III Singkawang. Samples were taken using a non-probability technique with saturated sampling type. The data collection technique used a test technique in the form of an objective test of sound material and a non-test technique in the form of a response questionnaire. The results showed that: (1) there were differences in cognitive domain learning outcomes between students who applied the role playing learning model assisted by video media and students who received direct learning; (2) The use of role playing learning models assisted by video media has a high effect on students' cognitive learning outcomes; (3) Positive student responses to the video-assisted role playing learning model in the good category. Keywords: role playing learning model; video media; cognitive learning outcomes.
Muktya Pramadanti, Subiki Subiki, Alex Harijanto
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 318-326; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.5842

Abstract:
ABSTRAK Memanfaatkan teknologi dapat mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran, salah satunya dapat menciptakan pembelajaran yang bervariatif dan meningkatkan motivasi belajar sehingga akan mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian N. Nieveen yang terdiri dari tahap pendahuluan, pengembangan, dan penilaian. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui validitas dan efektifitas media pembelajaran fisika materi gerak parabola agar dapat dinyatakan layak untuk digunakan. Tempat penelitian dilakukan di SMAN 3 Bondowoso pada kelas X MIPA. Hasil data yang diperoleh menggunakan instrumen tes berupa lembar instrumen validitas, soal pre-test, dan post-test. Teknik analisis data menggunakan validitas ahli, validitas audience, dan persamaan N-Gain. Hasil rata-rata validitas oleh 2 validator ahli media sebesar 90,4% dinyatakan sangat valid dan validator ahli pengguna sebesar 92,18% dinyatakan sangat valid. Hasil efektivitas pada uji lapangan sebesar 87,27% dapat dinyatakan sangat efektif dan nilai N-Gain sebesar 83,27% sehingga dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka media pembelajaran fisika menggunakan smartphone dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) layak untuk digunakan. Kata kunci: media pembelajaran; smartphone; pendekatan STEM. ABSTRACT Technology can promote the achievement of learning goals, one of which can create varied learning and increase motivation to learn so that it will affect students' learning outcomes. This study uses N. Nieveen's research design which consists of preliminary, development and evaluation stages. The aim of this study is to determine the validity and effectiveness of physics learning materials for parabolic motion material so that it can be declared usable. The research site was carried out at SMAN 3 Bondowoso in class X Science. Data results obtained using test instruments in the form of instrument validity cards, pre-test and post-test questions. The data analysis technique uses expert validity, audience validity and the N-Gain equation. The results of the mean validity by 2 expert media validators of 90.4% were declared very valid and 92.18% of the expert user validators were declared very valid. The results of the efficiency in the field test of 87.27% can be said to be very efficient and the N-Gain value of 83.27%, which places it in the high category. Based on the results of the study, it is possible to use physics learning materials using a smartphone with a STEM (science, technology, engineering and mathematics) approach. Keywords: multimedia learning; smartphone; approach STEM.
Nurul Azmi, Asrizal Asrizal, Fatni Mufit
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 291-298; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.5940

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis pengaruh model problem based learning ditinjau dari motivasi belajar fisika, 2) menganalisis pengaruh model problem based learning ditinjau dari keterampilan proses sains siswa, 3) menganalisis pengaruh model problem based learning terhadap motivasi belajar dan keterampilan proses sains siswa ditinjau dari tingkatan kelas, dan 4) menganalisis pengaruh model problem based learning terhadap motivasi belajar dan keterampilan proses sains siswa ditinjau dari materi pembelajaran. Jenis penelitian yang diterapkan pada penelitian ini adalah meta analisis. Hasil dari penelitian ini yaitu : 1) model pembelajaran problem based learning memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar fisika siswa SMA dengan rata-rata effect size 0,73 kategori sedang, 2) model pembelajaran problem based learning memberikan pengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa dengan effect size 0,62 kategori sedang, 3) model pembelajaran problem based learning memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar dan keterampilan proses sains fisika pada tingkatan kelas X, XI dan XII dengan effect size 0,86 kategori tinggi, 0,47 kategori sedang dan 0,28 kategori sedang, dan 4) model pembelajaran problem based learning memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar dan keterampilan proses sains pada materi listrik dinamis dengan effect size 2,02 kategori tinggi. Kata kunci:Problem Based Learning; Motivasi; Keterampilan Proses Sains. ABSTRACT This study aims to 1) analyze the effect of the problem based learning model in terms of motivation to learn physics, 2) analyze the effect of the problem based learning model in terms of students' science process skills, 3) analyze the effect of the problem based learning model on students' learning motivation and science process skills in terms of from the grade level, and 4) analyzing the effect of the problem based learning model on students' learning motivation and science process skills in terms of learning materials. The type of research applied in this study is a meta-analysis. The results of this study are: 1) the problem based learning model has an influence on the motivation to learn physics for high school students with an average effect size of 0.73 in the medium category, 2) the problem based learning model has an effect on students' science process skills with an effect size 0.62 medium category, 3) problem based learning learning model has an influence on learning motivation and physics science process skills at the level of class X, XI and XII with an effect size of 0.86 high category, 0.47 medium category and 0.28 category medium, and 4) the problem based learning model has an influence on learning motivation and science process skills on dynamic electrical material with an effect size of 2.02 in the high category. Keywords: Problem Based Learning; Motivation; Science Process Skills.
Rahmiati Darwis, Muhammad Rizal Hardiansyah
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 271-277; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.5514

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penerapan laboratorium virtual PhET terhadap motivasi belajar IPA siswa pada materi gerak lurus. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen dengan jenis quasi eksperimen yang menggunakan desain posttest only control group. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Negeri Ambon tahun ajaran 2020/2021 dengan sampel yaitu kelas VIII4 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII5 sebagai kelas kontrol yang ditentukan dengan teknik sampling yaitu simple random sampling. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner motivasi belajar IPA siswa yang berisi 46 butir pernyataan (22 butir pernyataan positif dan 24 butir pernyataan negatif). Data hasil pengisian angket motivasi dianalisis dengan uji hipotesis t-test one way menggunakan spss 26. Hasil pengujian hipotesis diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan motivasi belajar siswa antara siswa yang belajar IPA menggunakan praktikum laboratorium virtual PhET dengan siswa yang belajar IPA secara konvensional. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan laboratorium virtual PhET memberikan pengaruh motivasi belajar IPA siswa yang lebih baik pada materi gerak lurus.  Kata kunci: Laboratorium virtual; Simulasi PhET; Motivasi belajar; Gerak lurus ABSTRACT This research aimed to know the effect of using virtual laboratory PhET towards students’ motivation in learning science on linear motion. This research is quasy experimental research that uses posttest only control group design. The population of this research is all grade VIII students of MTs Negeri 1 Ambon in the academic year 2020/2021 and the sample of this research is grade VIII4 as experimental group and VIII5 as control group that determined by simple random sampling technique. The instrument that used to collect the data is questionnaire of students’ motivation in learning science which have 46 items (22 positive questions and 24 negative questions). The data The data were processed in the percentage and analysed by statistical formula of t-test by SPSS 26. The result of t-test shows that Sign. 0000 < 0,05, it mens that there is a significant difference effect of students’ motivation in learning science on the linear motion. Therefore, it can be concluded that implementation of virtual laboratorial PhET has positive effect towards students’ motivation in learning science on the linear motion.  Keywords: virtual laboratory; PhET simulation; Motivation in learning; Linear motion
Elvi Suryanti, Asrizal Asrizal, Fatni Mufit
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 305-312; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.5959

Abstract:
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Model discovery learning terhadap penguasaan konsep dan pengetahuan fisika SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah meta-analisis. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan perhitungan nilai effect size untuk setiap artikel. Berdasarkan meta analisis yang dilakukan, dapat dinyatakan bahwa hasil penelitian ini yaitu : 1) pengaruh model discovery learning terhadap penguasaan konsep dan pengetahuan fisika SMA ditinjau dari tahun terbit artikel memberikan efek yang Sangat Tinggi terdapat pada tahun 2017,2018, dan 2020 dengan masing-masing rata-rata effect size yaitu 1,6; 1,15; dan 1,62. 2) pengaruh model discovery learning terhadap penguasaan konsep dan pengetahuan fisika SMA ditinjau dari tingkatan kelas memberikan efek Sangat Tinggi terdapat pada kelas XI dengan rata-rata effect size 1,25. 3) pengaruh discovery learning terhadap penguasaan konsep fisika SMA memberikan efek Sangat Tinggi terdapat pada artikel keenam (J6) dengan nilai effect size 2,38. 4) pengaruh discovery learning terhadap pengetahuan fisika SMA memberikan efek Sangat Tinggi terdapat pada artikel kesepuluh (J10) dengan nilai effect size 3,95. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model discovery learning terhadap penguasaan konsep dan pengetahuan fisika SMA. Kata kunci:Discovery Learning; Penguasaan Konsep; Pengetahuan. ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of the discovery learning model on mastery of high school physics concepts and knowledge. The method used in this research is meta-analysis. The data analysis technique in this study uses the calculation of the effect size value for each article. Based on the meta-analysis carried out, it can be stated that the results of this study are: 1) the effect of the discovery learning model on mastery of concepts and knowledge of high school physics in terms of the year the article was published gave a Very High effect in 2017,2018, and 2020 with each the average effect size is 1.6; 1.15; and 1.62. 2) the influence of the discovery learning model on the mastery of concepts and knowledge of high school physics in terms of grade level gives a very high effect in class XI with an average effect size of 1.25. 3) the effect of discovery learning on mastery of high school physics concepts gives a Very High effect found in the sixth article (J6) with an effect size value of 2.38. 4) the effect of discovery learning on high school physics knowledge gives a very high effect in the tenth article (J10) with an effect size value of 3.95. This shows that there is an influence of the discovery learning model on the mastery of high school physics concepts and knowledge. Keywords: Discovery Learning; Concept Mastery; Knowledge.
Yuyun Setyawati, Sudarti Sudarti, Albertus Djoko Lesmono
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 299-404; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.5369

Abstract:
ABSTRAK Roti tawar adalah sumber karbohidrat memiliki umur simpan yang sangat pendek yakni empat sampai enam hari terhitung dari proses masa produksi. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh paparan medan magnet Extremely Low Frequency (ELF) intensitas 500 µT dan 700 µT selama 60, 90, dan 120 menit terhadap pH roti tawar. Jenis penelitian yang digunakan yaitu eksperimen dengan desain penelitian Rancang Acak Lengkap (RAL). Ada dua kelompok dalam penelitian ini, yakni kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dimana kelompok kontrol yang tidak dipapari medan magnet dan kelompok eksperimen diberi paparan medan magnet. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah roti tawar sari roti kupas sebanyak 126 sisir dimana kelompok kontrol sebanyak 18 sisir roti tawar dan kelompok eskperimen sebanyak 108 sisir roti tawar yang dibagi menjadi enam kelompok yang diberi perlakukan berupa paparan medan magnet ELF dengan intensitas 500 µT dan 700 µT selama 60, 90 dan 120 menit. Teknik analisis data dilakukan menggunakan SPSS 22 dengan uji Kruskal-Wallis. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh paparan medan magnet ELF berpengaruh terhadap perubahan pH pada roti tawar. Dengan memaparkan medan magnet intensitas 500 µT lama paparan 60 menit dan 700 µT lama paparan 60 menit dapat menghambat penurunan pH roti tawar. Kata kunci: Medan Magnet ELF; Roti Tawar; pH. ABSTRACT Bread is a source of carbohydrates that has a very short shelf life of four to six days from the production process. This study aims to examine the effect of exposure to an Extremely Low Frequency (ELF) magnetic field with an intensity of 500 µT and 700 µT for 60, 90, and 120 minutes on the pH of white bread. This research uses an experimental research type with the research design used is Completely Randomized Design (CRD). There were two groups in this study, namely the control group and the experimental group where the control group was not exposed to a magnetic field and the experimental group was exposed to a magnetic field. The samples used in this study were 126 combs of peeled white bread, where the control group consisted of 18 white bread combs and the experimental group consisted of 108 white bread combs which were divided into six groups which were treated in the form of exposure to the ELF magnetic field with an intensity of 500 µT and 700 µT for 60, 90 and 120 minutes. The data analysis technique was carried out using SPSS 22 with the Kruskal-Wallis test. The results of the study stated that exposure to the ELF magnetic field had an effect on changes in pH in white bread as shown by a graphic diagram. Exposure to a magnetic field intensity of 500 µT with an exposure time of 60 minutes and 700 µT with an exposure duration of 60 minutes can inhibit the decrease in the pH of white bread. Keywords: Magnetic Field; White Bread; pH.
Syahrial Ayub, Kosim Kosim, I Wayan Gunada
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 415-422; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.6362

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tanggapan dan pendapat guru tentang pelaksanaan model pembelajaran mitigasi bencana dan upaya meningkatkannya di sekolah dasar. Penelitian dilaksanakan terhadap 12 guru SD negeri 1 Sembalun Lombok Timur, NTB. Penelitian deskriptif ini dimulai dengan menampilkan sebuah model pembelajaran mitigasi bencana tanah longsor oleh tim peneliti yang dilanjutkan dengan diskusi struktur pembelajaran mitigasi bencana yang diaplikasikan dari modeling sebelumnya. Hasil penelitian mendapatkan 5 pokok pikiran tentang pelaksanaan model pembelajaran mitigasi bencana tanah longsor, yaitu 1) mengkondisikan peserta didik menghadapi bencana alam dalam proses pembelajaran, 2) guru harus memiliki langkah yang tepat dalam memberikan pemahaman tentang bencana alam dan melakukan demontrasi langsung sehingga peserta didik memahami dengan seksama, 3) guru harus memiliki pengetahuan kebencanaan gempabumi, tsunami, tanah longsor, banjir, angin topan dan gunungapi, 4) guru memberikan contoh pembelajaran mitigasi bencana kepada peserta didik menggunakan alat bantu seperti video, alat mitigasi bencana dan lainnya, 5) pemahaman resiko/bahaya, kerentanan (kelemahan), ancaman dan kemampuan/kekuatan bencana tanah longsor. Kata kunci: teknik moderasi; implementasi model pembelajaran mitigasi bencana; sekolah dasar. ABSTRACT This study aims to reveal the responses and opinions of teachers about the implementation of the disaster mitigation learning model and efforts to improve it in primary schools. The study was conducted on 12 teachers of SD Negeri 1 Sembalun, East Lombok, NTB. This descriptive study begins by presenting a learning model for landslide disaster mitigation by the research team, followed by a discussion of the disaster mitigation learning structure applied from the previous modeling. The results of the study obtained 5 main ideas about the implementation of the landslide disaster mitigation learning model, namely 1) conditioning students to face natural disasters in the learning process, 2) teachers must have the right steps in providing an understanding of natural disasters and conducting direct demonstrations so that students understand carefully, 3) teachers must have knowledge of earthquakes, tsunamis, landslides, floods, hurricanes and volcanoes, 4) teachers provide examples of disaster mitigation learning to students using tools such as videos, disaster mitigation tools and others, 5) understanding risk/hazard, vulnerability (weakness), threat and capability/strength of landslide disaster. Keywords: moderation techniques; implementation of disaster mitigation learning model; primary school.
H. M. Yusuf As, Munawir Munawir, Lalu Syaifulbakhry
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 434-437; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.6923

Abstract:
ABSTRAK Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat memberikan dukungan yang positif dalam belajar, namun dapat juga menghambat proses belajar. Hambatan-hambatan yang terjadi berakibat pada hasil belajar individu yang mengalami proses belajar tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Keadaan-keadaan tersebut berdampak pada timbulnya masalah pada proses belajar selanjutnya. Motivasi belajar siswa yang rendah akan menjadi hambatan yang sangat berarti pada proses pembelajaran, karena dapat mengakibatkan prestasi belajar siswa rendah. Oleh karena itu guru diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa disebabkan siswa kurang diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Metode pembelajaran ekspositori dan teknik drill dipercaya dapat menigkatkan motivasi belajarsehingga diharapkan dapat meningkatkan kegiatan belajar IPA Fisika untuk memperbaiki hasil belajar selanjutnya. Karena metode ekspositori dan teknik drill memberikan kesempatan peserta didik untuk lebih aktif. Oleh karena itu penulis perlu melakukan penelitian Tindakan dengan judul Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar IPA Fisika Melalui Penerapan MetodeEkspositori dan Teknik Drill Kelas XI-TBSM SMK Negeri 1 Narmada Kab. Lombok Barat Tahun pelajaran 2018-2019. Kata Kunci: ekspositori; drill; motivasibelajar; hasil belajar. ABSTRACT Factors that influence learning can provide positive support in learning, but can also hinder the learning process. The obstacles that occur result in the learning outcomes of individuals who experience the learning process not in accordance with what they want. These circumstances have an impact on the emergence of problems in the subsequent learning process. Low student motivation will be a very significant obstacle in the learning process, because it can result in low student achievement. Therefore, teachers are expected to increase students' learning motivation to improve student achievement. The low motivation and student learning outcomes are caused by the lack of opportunities for students to ask questions and express opinions. Expository learning methods and drill techniques are believed to increase learning motivation so that it is expected to increase Physics Science learning activities to improve subsequent learning outcomes. Because the expository method and drill technique provide opportunities for students to be more active. Therefore, the authors need to conduct action research with the title Improving Motivation and Learning Outcomes of Physics Sciences Through the Application of Expository Methods and Drill Techniques for Class XI-TBSM SMK Negeri 1 Narmada2018-2019 Academic year. Keywords:expository; drill; learning motivation; learning outcomes.
Dwi Pangga, Sukainil Ahzan, Habibi Habibi, A’An Hardiyansyah Putra Wijaya, Linda Sekar Utami
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 382-386; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.5552

Abstract:
ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghasilkan briket tongkol jagung sebagai alternative sumber energi yang memiliki nilai kalor yang tinggi. Briket tongkol jagung dibuat dari tongkol jagung yang sudah dikeringkan dan dihaluskan sebelumnya dengan ukuran 20 mesh. Masing-masing perlakuan dicetak dengan variasi persentase perekat tepung tapioka yaitu 5%, 10%, dan 15%. Selain variasi perekat dilakukan juga variasi tekanan pembentukannya untuk melihat komposisi terbaik yang menghasilkan nilai kalor yang tinggi dan laju pembakaran yang sesuai. Briket selanjutnya diuji nilai kalor dan laju pembakarannya dengan menggunakan alat bom calorimeter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara berturut-turut nilai kalor dan laju pembakaran briket dengan persentase komposisi perekat 5%, 10%, 15% yaitu 21,00 kJ, 22,68 kJ, 31,08 kJ, dan 12,00 gram/menit, 13,33 gram/menit, 13,50 gram/menit. Hasil terbaik dihasilkan pada komposisi persentase perekat 15% dengan nilai kalor mencapai 31,08 kJ, dan laju pembakaran 13,50 gram/menit yang tidak terlalu jauh meningkat dibandingkan dengan komposisi persentase perekat lainnya. Kata kunci: briket; tongkol jagung; nilai kalor; laju pembakaranABSTRACT The purpose of this research is to produce corn cobs briquettes as an alternative energy source that has a high calorific value. Corn cobs briquettes are made from corn cobs that have been dried and previously mashed with a size of 20 mesh. Each treatment was printed with variations in the percentage of tapioca starch adhesive, namely 5%, 10%, and 15%. In addition to variations of the adhesive, variations in the formation pressure were also carried out to see the best composition that produced a high heating value and an appropriate combustion rate. The briquettes were then tested for calorific value and rate of combustion using a bomb calorimeter. The results showed that the calorific value and burning rate of briquettes with the percentage of adhesive composition 5%, 10%, 15%, were 21.00 kJ, 22.68 kJ, 31.08 kJ, and 12.00 gram/minute, respectively. 13.33 grams/minute, 13.50 grams/minute. The best results were obtained at 15% adhesive percentage composition with a calorific value of 31.08 kJ, and a burning rate of 13.50 gram/minute which was not significantly increased compared to other adhesive percentage compositions. Keywords: briquettes; corn cobs; calorific value; combustion rate
H. M. Yusuf As, Munawir Munawir, Lalu Syaifulbakhry
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 446-450; https://doi.org/10.31764/orbita.v7i2.6926

Abstract:
ABSTRAK Belajar merupakan suatu kegiatan kreatif. Belajar bukan berarti hanya menyerap tetapi juga mengkonstruk pengetahuan. Belajar IPA Fisika akan optimal jika siswa terlibat secara aktif dalam membuat, bukan hanya strategi penyelesaian, tetapi juga masalah yang membutuhkan strategi tersebut.Menurut Upu ( 2003:10 ) Problem Possing dapat dilakukan secara individu atau kalsikal ( classical ), berpasangan ( in pairs ), atau secara berkelompok( groups ). Masalah atau soal yang diajukan oleh siswa secara individu tidak memuat intervensi dari siswa ini. hal ini dapat mengakibatkan soal kurang berkembang atau kandungan informasinya kurang lengkap. Soal yang diajukan secara berpasangan dapat lebih berbobot dibanding soal yang diajukan secara individu, dengan syarat terjadi kolaborasi di antara kedua siswa yang berpasangan tersebut. Jika soal dirumuskan oleh suatu kelompok kecil ( tim ), maka kualitasnya akan lebih baik dari aspek tingkat keterselesaian maupun kandungan informasinya. Kerjasama diantara siswa dapat memacu kreativitas serta saling melengkapi kekurangan mereka.Pada pembelajaran kooperatif, siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Mereka akan bekerja sebagai sebuah tim untuk memahami materi pelajaran dan meyelesaikan tugas yang diberikan. Oleh karena itu penulis perlu melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul Peningkatkan Prestasi Belajar IPA Fisika dengan Menggunakan Pendekatan Problem  Possing dengan Latar Pembelajaran Kooperatif Kelas XI-ADM.A SMK Negeri 1 NarmadaTahun Pelajaran 2017-2018. Kata Kunci:problem possing; cooperative learning; prestasi belajar. ABSTRACT Learning is a creative activity. Learning does not mean only absorbing but also constructing knowledge. Learning Science Physics will be optimal if students are actively involved in making, not only solving strategies, but also problems that require these strategies. According to Upu (2003:10) Problem Possing can be done individually or classically (classical), in pairs (in pairs), or in groups (groups). Problems or questions posed by students individually do not contain intervention from these students. this can result in less developed questions or incomplete information content. Questions posed in pairs can be more weighty than questions posed individually, provided that there is collaboration between the two students in pairs. If the questions are formulated by a small group (team), then the quality will be better in terms of the level of completion and information content. Cooperation among students can stimulate creativity and complement each other's shortcomings. In cooperative learning, students are divided into small, heterogeneous groups. They will work as a team to understand the subject matter and complete the assigned tasks. Therefore, the authors need to conduct classroom action research with the title Improving Physics Science Learning Achievement by Using a Problem Possing Approach with a Cooperative Learning Background for Class XI-ADM.A SMK Negeri 1 Narmada for the 2017-2018 academic year. Keywords: problem possing; cooperative learning; learning achievement.
Back to Top Top