ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika

Journal Information
ISSN / EISSN : 24609587 / 26147017
Total articles ≅ 44
Filter:

Latest articles in this journal

Hidayatul Aini, Sutrio Sutrio, Aris Doyan
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 188-195; doi:10.31764/orbita.v6i1.1629

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran perolehan konsep berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah dan pemahaman konsep fisika peserta didik kelas XI MIA MAN 1 Mataram. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan desain penelitian non-equivalent control group design. Subjek dari penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIA 1 sebanyak 37 peserta didik sebagai kelas eksperimen dan kelas XI MIA 2 sebanyak 38 peserta didik sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberi perlakuan berupa model pembelajaran perolehan konsep berbasis masalah sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan berupa pembelajaran konvensional. Tes uraian digunakan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah fisika peserta didik berjumlah 5 butir soal dan tes pilihan ganda untuk mengukur pemahaman konsep fisika peserta didik sebanyak 10 butir soal yang sudah diuji validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukarannya. Hipotesis penelitian diuji menggunakan uji MANOVA. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,00. Taraf signifikan yang digunakan ialah 0,05 maka dapat dikatakan 0,00 < 0,05 yang artinya bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran perolehan konsep berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah dan pemahaman konsep fisika peserta didik kelas XI MIA MAN1 Mataram. Kata kunci: model pembelajaran perolehan konsep berbasis masalah; kemampuan pemecahan masalah; pemahaman konsep. ABSTRACTThis study aims to determine the effect of the learning model of problem-based concept acquisition on problem solving abilities and understanding of physics concepts of students of class XI MIA MAN 1 Mataram. This research is a quasi-experimental with a non-equivalent control group design. The subjects of this study were 37 XI MIA 1 students as experimental class and 38 MIA 2 XI students as control class. The experimental class given treatment problem-based concept learning model while the control class given treatment conventional learning. Description test is used to measure the students 'physical problem-solving abilities totaling 5 items and multiple choice tests to measure students' understanding of physics concepts by 10 items that have been tested for validity, reliability, distinguishing power and degree of difficulty. The research hypothesis was tested using the MANOVA test. The results of the hypothesis test showed a significance value of 0.00. Significant level used is 0.05, it can be said to be 0.00
Yuli Hartawati, Ahmad Harjono, Ni Nyoman Sri Putu Verawati
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 181-187; doi:10.31764/orbita.v6i1.1515

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh model learning cycle 5E terhadap kemampuan berpikir kritis siswa fisika kelas X, (2) mengetahui pengaruh gaya belajar terhadap kemampuan berpikir kritis siswa fisika kelas X, (3) menentukan interaksi antara model learning cycle 5E dan gaya belajar pada kemampuan berpikir kritis fisika siswa kelas X. Jenis penelitian ini adalah quasi exsperiment dengan desain penelitian pre-test dan post-test control group design. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas X, dan sampel dipilih dengan teknik cluster random sampling dan ditentukan kelas X MIA 1 sebagai eksperimen dan kelas X MIA 3 sebagai kontrol. Kelas eksperimen menggunakan model learning cycle 5E dan kelas kontrol menggunakan model konvensional. Data kemampuan berpikir kritis dikumpulkan dengan tes esai yang terdiri dari 10 pertanyaan dan data kemampuan gaya belajar dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 30 pertanyaan. Data post-test diuji untuk abnormalitas dan homogenitas dan selanjutnya dengan pengujian hipotesis menggunakan analisis varian dua arah. Hasil uji hipotesis menunjukkan jika sig
Farizah Yulianti, Sutrio Sutrio, Hairunisyah Sahidu
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 173-180; doi:10.31764/orbita.v6i1.1611

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Giving Question Getting Answers melalui metode eksperimen terhadap motivasi dan hasil belajar fisika peserta didik. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan posstest only control group disign. Populasi terdiri dari seluruh peserta didik kelas XI SMAN 1 Labuapi. Teknik pengambilan sample yang digunakan adalah sampling jenuh, dengan kelas XI MIA 1 sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas XI MIA 2 sebagai kelas eksperimen 2. Kelas eksperimen 1 diberi perlakuan model Giving Question Getting Answers melalui metode eksperimen sedangkan kelas eksperimen 2 diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran Giving Question Gettig Answers tanpa metode eksperimen. Instrumen motivasi belajar menggunakan angket motivasi sedangkan instrumen hasil belajar menggunakan soal pilihan ganda. Hipotesis penelitian diuji menggunakan uji Manova, hasilnya menunjukkan Nilai Sig.
Zafira Rahmatilla, Yul Ifda Tanjung
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 165-172; doi:10.31764/orbita.v6i1.2177

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan Keterampilan Proces Sains (KPS) siswa menggunakan model pembelajaran inquiry training dan pembelajaran konvensional mengenai materi pokok elastisitas dan hukum Hooke di SMA. Jenis Penelitian ini adalah quasi-experiment dengan desain two groups pretest-posttest. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Medan. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes dan observasi aktivitas KPS siswa. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan pengujian hipotesis uji t. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan KPS yang signifikan antara penerapan menggunakan model pembelajaran inquiry training dibandingkan pembelajaran konvensional dengan nilai sig. 0,000 pada taraf signifikan 0,05. Berdasarkan hasil uji N-Gain Score dengan penerapan model pembelajaran inquiry training lebih tinggi dalam meningkatkan KPS siswa sebesar 0,70 dalam kategori tinggi dibandingkan KPS siswa dengan penerapan pembelajaran konvensional sebesar 0,59 dalam kategori sedang. Kata kunci: keterampilan proses sains; model pembelajaran inquiry training. ABSTRACTThis study aims to determine the differences in Science Proses Skills (SPS) of students using inquiry training learning model and conventional learning about the subject matter of elasticity and Hooke’s law in High School. This type of research is a quasi-experimental with two groups of pretest-posttest design. The population of this research is all students of class XI MIPA in Public Senior High School 5 Medan. The sample was taken by a purposive sampling technique that consists of two groups, namely an experimental group and a control group. The data collected technique has been done by tests and observations activities SPS student. The data in this research was analyzed a hypothesis-testing t-test. The results showed significant differences in SPS between the application of using inquiry training learning models compared to conventional learning with the value of sig. was 0.000 at the significance of level 0.05. Based on the results of the N-Gain Score test with the application of the inquiry training learning model is higher in increasing SPS of the students by 0.70 in the high category compared to SPS of students with the application of conventional learning by 0.59 in the medium category. Keywords: science process skills; inquiry training learning model.
Syahrial Ayub, Kosim Kosim, I Wayan Gunada, I Nyoman Sri Putu Verawati
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 129-134; doi:10.31764/orbita.v6i1.1944

Abstract:
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kesiapsiagaan siswa dan guru di sekolah dasar terhadap bencana alam. Sampel penelitiannya adalah 30 siswa kelas III, 35 siswa kelas V dan 15 orang guru SD Negeri 6 Mataram. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket yang terdiri dari 5 aspek kebencanaan, yaitu (1) pengetahuan dan (2) tanda-tanda, dampak, (3) resiko dan upaya mengurangi, (4) kesiapsiagaan serta (5) prosedur dan alat pertolongan pertama pada korban. Tingkat kesiapsiagaan terhadap bencana alam bagi siswa di kategorikan cukup (69,32%), dengan rincian sangat baik (80,02%) aspek (1), baik (78,00%) aspek (2), baik (74,60%) aspek (3), kurang (56,00%) aspek (4), dan kurang (58,00%) aspek (5). Tingkat kesiapsiagaan terhadap bencana alam bagi guru di kategorikan cukup (61,71%), dengan rincian kurang (56,11%) aspek (1), kurang (49,33%) aspek (2), baik (73,33%) aspek (3), baik (79,05%) aspek (4), dan kurang (53,33%) aspek (5). Berdasarkan data dapat disimpulkan tingkat kesiapsiagaan terhadap bencana siswa dan guru di SD Negeri 6 Mataram dikategorikan kurang. Kata kunci : analisis; kesiapsiagaan; bencana; siswa dan guru; sekolah dasar. ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the level of student and teacher preparedness in primary schools against natural disasters. The research sample was 30 third grade students, 35 fifth grade students and 15 teacher for SD N 6 Mataram.Data collection is done through questionnaires consisting of 5 aspects of disaster, knowledge and signs, impacts, risks and efforts to reduce, preparedness and procedures and first aid tools for victims. The level of preparedness for natural disasters for students is categorized as sufficient (69.32%), with very good details (80.02%) aspects (1), good (78.00%) aspects (2), good (74.60%) aspects (3), less (56.00%) aspects (4) , the less category (58.00%) aspects (5). The level of preparedness for natural disasters for teachers is categorized as sufficient (61.71%), with inadequate details (56.11%) aspects (1), less (49.33%) aspects (2), good (73.33%) aspects (3), good (79.05%) aspects (4), and the less category (53.33%) aspects (5). Based on the data it can be concluded that the level of preparedness for student and teacher disasters in SD Negeri 6 Mataram is the less category. Keywords : analysis; preparedness; disaster; student and teacher; elementary school.
Richardo Barry Astro, Hamsa Doa, Hendro Hendro
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 142-149; doi:10.31764/orbita.v6i1.1858

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui prinsip dasar dan sistem kerja pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dari sudut pandang fisika sebagai upaya penyediaan dan pengembangan sumber belajar kontekstual. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasilnya ditemukan bahwa PLTMH memiliki tiga komponen utama yakni air sebagai sumber energi, turbin, dan generator. Skema konversi energi pada PLTMH yang menggunakan head adalah sebagai berikut: 1) energi potensial air dari reservoir diubah menjadi energi kinetik pada pipa pesat, 2) energi kinetik air diubah menjadi energi mekanik oleh turbin air, 3) energi mekanik diubah menjadi energi listrik oleh generator. Turbin air berdasarkan prinsip kerja dibagi atas turbin impuls dan turbin reaksi. Turbin impuls memanfaatkan perubahan momentum air sebelum dan setelah menabrak sudu turbin, sedangkan turbin reaksi memanfaatkan perbedaan tekanan pada permukaan sudu. Generator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik. Ketika rotor generator yang terkopel pada turbin berputar, kumparan konduktor akan memotong garis medan magnet sehingga timbul tegangan induksi. Kata kunci: pembangkit listrik tenaga mikrohidro; konversi energi; turbin, generator. ABSTRACTThe research aims to determine the fundamental principles and working systems of Microhydro power plants from a physical standpoint as an effort to provide and develop contextual learning resources. This study was conducted using literature, observation and interview methods. The results found that PLTMH had three main components i.e. water as energy source, turbine, and generator. The energy conversion scheme on PLTMH that uses the head is as follows: 1) The potential energy of water from the reservoir is converted into kinetic energy on the rapid pipeline, 2) water kinetic energy converted into mechanical energy by water turbine, 3) changed mechanical energy into electrical energy by generators. The water turbine based on the working principle is divided into impulse turbines and reaction turbines. The impulse turbine utilizes a change in water momentum before and after crashing the turbine's sudu, while the reaction turbine utilizes pressure differences on the surface of the Sudu. The generators work based on electromagnetic induction principles. When the rotor generator is attached to the turbine spinning, the conductor coil will cut off the magnetic field line so that the induction voltage arises. Keywords: microhydro power plant; energy conversion; turbine; generator.
Wahyu Nurhidayat, Fifi Aprilia, Depi Siti Wahyuni, Nana Nana
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 138-141; doi:10.31764/orbita.v6i1.2097

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsep kalor dengan tari Mojang Priangan. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif berupa studi pustaka. Metode studi pustaka dipilih agar dapat menggambarkan hasil penelitian secara lebih jelas dan mendalam dari berbagai literatur. Subjek penelitian ini adalah para penari Mojang Priangan di Sanggar Seni Katumbiri Universitas Siliwangi. Hasil penelitian ini menggambarkan bagaimana keterkaitan antara konsep kalor sebagai salah satu konsep dalam ilmu fisika dengan seni tari yang dalam hal ini adalah seni tari Mojang Priangan. Sebagai salah satu keterkaitan yang dimaksud ialah ketika seorang penari banyak melakukan gerakan dalam waktu tertentu, maka dari hal tersebut akan menimbulkan pembakaran kalor dalam tubuh dan menghasilkan suatu energi kalor baik keluar maupun masuk dari sistem. Kata kunci: etno fisika; konsep kalor; tari mojang priangan. ABSTRACTThe purpose of this research is to analysis the relationship between the heat consept and heat transfer with Mojang Priangan dance. This research uses qualitative research method in the form of study. It choosen in order that can describe the result of research clearly and deeper from some literature. The research's subject are Mojang Priangan's dancer in Katumbiri Art, Siliwangi University. The results of this research is describe how the relationship between heat concept as a consept in Physics with dance which in this case Mojang Priangan dance. The intend relation is when a dancer doing much motion at certain time, hence of that can cause burning heat and results a heat energy both in and out of system. Keywords: etno physics; the heat consept; mojang priangan dance.
Hikmawati Hikmawati, Kosim Kosim, Aris Doyan
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 111-114; doi:10.31764/orbita.v6i1.1475

Abstract:
ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model discovery learning untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa di SMA. Jenis penelitian adalah pra-eksperimental dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas XI Minat Sains (IPA) 1 di SMAN 1 Kediri Tahun Pelajaran 2019/2020 sejumlah 35 orang. Desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pre-test dan Post-test Design. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi penerapan model discovery learning dan tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persentase penerapan model discovery learning meningkat, dari 83% menjadi 96%, yang berarti kualitas pembelajaran yang lebih baik, dan (2) hasil belajar siswa juga meningkat, dari 25 menjadi 84 dengan ketuntasan klasikal 0% menjadi 86%. Dengan demikian, model discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa di SMA. Kata kunci: discovery; hasil belajar. ABSTRACTThe purpose of this study is to describe the application of discovery learning models to improve student physics learning outcomes in high school. This type of research is pre-experimental with research subjects namely students of class XI Interest in Science (IPA) 1 at SMAN 1 Kediri in the 2019/2020 Academic Year a number of 35 people. The research design used is One Group Pre-test and Post-test Design. The instrument used in this study was an observation sheet applying the discovery learning model and learning achievement test. The results showed that: (1) the percentage of application of the discovery learning model increased, from 83% to 96%, which means better quality of learning, and (2) student learning outcomes also improved, from 25 to 84 with classical completeness of 0% to 86%. Thus, the discovery learning model can improve student physics learning outcomes in high school. Keywords: discovery; learning outcomes.
Syahrial Ayub, Joni Rokhmat, Ahmad Harjono, Wahyudi Wahyudi
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 124-128; doi:10.31764/orbita.v6i1.1957

Abstract:
ABSTRAKTelah dilakukan penelitian terhadap gempa volkanik gunung Merapi. Penelitian ini bertujuan menentukan hiposenter dan episenter gempa volkanik gunung Merapi dengan HIPO9. Analisis dilakukan dalam dua kawasan, yaitu kawasan waktu dan kawasan frekuensi. Dalam kawasan waktu ditentukan waktu tiba gempa volkanik. Dalam kawasan frekuensi diperoleh informasi tentang frekuensi sumber dan lebar pita frekuensi yang akan diloloskan. Hasil analisis mendapatkan frekuensi sumber 6 Hz dan lebar pita frekuensi 0,1 Hz. Hasil pengeplotan dengan HIPO9, episenter gempa volkanik cenderung mengumpul di sekitar puncak gunung merapi, dengan hiposenter gempa volkanik terdistribusi pada kedalaman 1200 m sampai 1300 m. Kata kunci : hiposenter; episenter; gunung Merapi; HIPO9; gempa volkanik. ABSTRACTVolcanic earthquakes of mount Merapi have been investigated. The aim of the investigation to determine the hypocenter and epicenter of the volcanic earthquake of mount Merapi by HIPO9. The analysis was carried out in two domains, the time domain and the frequency domain. The analysis in the time domain was conducted by the arrival time of volcanic earthquake. The analysis in the frequency domain was done by observing spectrum to get information on frequency of source and frequency band width passed from polarization. The analysis lead to frequency of source 6 Hz and band width of 0,1 Hz. The results of plotting with HIPO9, the epicenter of volcanic earthquakes tend to gather around the top of Mount Merapi, with the hypocenter of the volcanic earthquake distributed at a depth of 1200 m to 1300 m. Keywords: hypocenter; epicenter; mount Merapi; HIPO9; volcanic earthquake.
Wida Farhiyati, Rinarto Subroto, I Wayan Ari Makmur, Nurul Qomariyah, Rahadi Wirawan
ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi dan Aplikasi Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 150-154; doi:10.31764/orbita.v6i1.2115

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil simulasi TPS teknik 3DCRT pada kasus kanker payudara agar sesuai dengan standar yang diizinkan International Commission on Radiation Units and Measurements (ICRU). Proses TPS menggunakan program Eclipse dengan algoritma Anisotropic Analytical Algorithm. Kurva histogram dosis volume kumulatif 3DCRT dianalisis untuk mendapatkan dosis radiasi yang diterima organ at risk (OAR) paru-paru kiri, paru-paru kanan dan jantung. Hasil TPS menunjukkan dosis yang diterima OAR berada di bawah batas ambang yang ditentukan yaitu paru-paru kiri dengan mean dose 54,7 cGy yang melingkupi volume 1238,5 cm3 dan pada paru-paru kanan dosis mean dose 2113,2 cGy melingkupi volume 1474,5 cm3 serta pada jantung mean dose 96,5 cGy melingkupi volume 175,5 cm3. Simulasi TPS yang dilakukan berhasil mendapatkan data perencanaan penyinaran kasus kanker payudara yang memenuhi syarat dosis relatif yang melingkupi volume PTV yang diizinkan ICRU (volume terlingkupi 95%-107%) yaitu besarnya dosis relatif untuk target sebesar 95% yang melingkupi 95,5% volume target. Kata kunci: radioterapi, TPS, dosis, PTV, OAR. ABSTRACTThis study objective is to evaluate the simulation results of the 3DCRT technique TPS in breast cancer cases to conform to the standards permitted by the International Commission on Radiation Units and Measurements (ICRU). The TPS process uses the Eclipse program with the Anisotropic Analytical Algorithm algorithm. The 3DCRT cumulative dose-volume histogram curve was analyzed to obtain the absorbed dose received by the organ at risk (OAR) of the left lung, right lung and heart. The TPS results show that the dose received by OAR was below the prescribed threshold of the left lung with a mean dose of 54.7 cGy covering a volume of 1238.5 cm3 and to the right lung the mean dose of 2113.2 cGy surrounding the volume of 1474, 5 cm3 and at the heart the mean dose of 96.5 cGy covers a volume of 175.5 cm 3. TPS simulation carried out successfully obtained data on the planning of radiation from breast cancer cases that met the relative dosage requirements that covered the volume of PTV permitted by ICRU (95% -107% enclosed volume), that is, the relative dose for the target of 95% which covered 95.5% of the target volume. Keywords: radiotherapy, TPS, dose, PTV, OAR.
Back to Top Top