JURNAL SAINTIS

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-7783 / 2580-7110
Current Publisher: UIR Law Review (10.25299)
Total articles ≅ 43
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Afni M Yulandra, Rona Muliana, Firdaus
Published: 29 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 27-34; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4779

Abstract:
[IN] Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rencana teknopolitan di Kabupaten Pelalawan, mengidentifikasi implementasi rencana teknopolitan di Kabupaten Pelalawan dan merumuskan strategi pengembangan teknopolitan di Kabupaten Pelalawan. Metode penelitian yang digunakan deduktif kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode pengumpulan data dengan observasi, telaah pustaka dan wawancara. Adapun pemilihan responden yang diwawancara adalah dengan cara purposif sampling. Setelah melakukan penelitian, didapat kesimpulan bahwa dalam masterplan Teknopolitan Pelalawan direncanakan akan dikembangkan menjadi 7 zona, yakni zona pendidikan, zona riset, zona industri, zona perumahan, zona sarana dan pelayanan umum, zona perdagangan dan jasa, dan zona lindung dan konservasi. Pengembangan kawasan teknopolitan yang terdiri dari 7 zona telah memasuki tahap awal perkembangan dimana pada tahapan ini telah dibangun kawasan pendidikan berupa sekolah tinggi teknologi pelalawan (ST2P) dan lembaga riset yang meneliti bibit kelapa sawit dan klinik kelapa sawit (PPKS). Sementara progres lainnya adalah mulai dibangunnya sarana prasarana seperti jalan menuju dan dalam kawasan teknopolitan yang telah dibuka dan diperkeras. Untuk zona lindung dan konservasi juga telah disiapkan bibit untuk pembangunan kebun raya. Sedangkan untuk zona lainnya masih dalam tahap perencanaan. Adapun strategi dalam pengembangan teknopolitan selanjutnya adalah memaksimalkan kinerja ST2P sebagai pusat inovasi yang nantinya menginkubasi perusahaan pemula dalam industri hilir kelapa sawit dan memberikan layanan bisnis dan teknologi kepada UMKM yang sudah ada.
Nugraha Bintang Wirawan, Siska Apriwelni
Published: 29 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 35-46; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4832

Abstract:
[EN] Lampung, a province where Institut Teknologi Sumatera (ITERA) is located, is an area that has a high level of seismicity. This research takes a case study of the Building E ITERA which has a dilatation building concept. Due to dilatation, inter-buildings have the risk of collisions because of earthquake loads. The purpose of this study is to determine the value of joint displacement in adjacent buildings when given a dynamic load of Time History and determine whether the adjacent buildings experience a pounding effect. A Time History earthquake load data that has been matched with the Lampung region response spectrum by software is applied to the model of Building E. Building E is modeled according to the as built drawing data and the results of field checking. Structure is analyzed using software. The results of the study showed that the structure of the Building E which was loaded by Loma Prieta earthquake that has been matched would experience inter-building collisions. Further research using earthquake record data taken in areas within certain radius from ITERA is need to be conducted to obtain more accurate results.
Gopal Adya Ariska, Yohanna Lilis Handayani, Bambang Sujatmoko
Published: 29 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 11-18; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4753

Abstract:
(ID) Hidrologi suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) rumit untuk diprediksi karena kekurangan data dan membutuhkan biaya yang mahal. Pada penelitian ini mengambil lokasi di sub DAS Rokan Hulu stasiun Pasir Pengaraian yang hampir setiap tahun terjadi banjir. Perencanaan dan pengolahan sumber daya air di suatu wilayah daerah aliran sungai sangat penting, maka dari itu perlunya mengetahui karakteristik suatu DAS. Perencanaan dan pengolaan sumber daya air memerlukan data debit aliran yang lengkap. Pada sub DAS ini data hujan, data debit dan data klimatologi menggunakan periode data sepuluh tahun yaitu dari tahun 2008-2017. Pemodelan hidrologi dilakukan pendekatan dengan beberapa metode, salah satunya metode soil moisture accounting di program HEC-HMS yang mana metode tersebut mensimulasikan suatu pergerakan air pada vegetasi, permukaan tanah dan di bawah permukaan tanah. Penyusunan periode kalibrasi dan verifikasi disusun dalam sembilan skema yang diharapkan mampu menghasilkan hasil yang paling optimal. Sembilan skema untuk Kalibrasi dan Verifikasi ini menggunakan metode objective function yaitu percent error in discharge volume. Skema yang paling optimal adalah skema VII (7 tahun kalibrasi 3 tahun Verifikasi), dengan nilai verifikasi 10,1%”Baik” dan Kalibrasi 0,0% “Sangat Baik”. (EN) The hydrology of a watershed is difficult to predict because of the lack of data and requires high costs. In this study taking location in the Rokan Hulu sub-watershed, Pasir Pengaraian station Almost every year flooding occurs. Planning and management of water resources in a watershed is very important and therefore it is necessary to know the characteristics of the watershed. Planning and management of water resources require complete data. in this sub-watershed rainfall data, discharge data and climatology data use a ten-year data period from 2008-2017. Hydrological modeling is approached with several methods, one of them is soil moisture accounting method in the HEC-HMS program where the method simulates a movement of water on vegetation, soil surface and below ground level. The preparation of the calibration and verification periods arranged in nine schemes is expected to produce the most optimal results. The nine schemes for Calibration and Verification use the objective function method, which is the percentage error in discharge volume. The most optimal scheme is the scheme VII (7 years calibration 3 years Verification), with a verification value of 10.1% "Good" and Calibration 0.0% "Very Good".
Siska Apriwelni, Nugraha Bintang Wirawan
Published: 29 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 61-68; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4846

Abstract:
(ID) Penelitian ini membahas pengaruh kuat tekan beton mutu tinggi dengan memanfaatkan limbah fly ash dan limbah kaca. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kuat tekan beton pada masing-masing variasi, mengetahui persentase campuran beton untuk menghasilkan kuat tekan maksimum, dan mengetahui apakah fly ash dan serbuk kaca efektif digunakan secara bersamaan sebagai bahan campuran beton. Komposisi fly ash terdiri dari 5 variasi yaitu persentase 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%. Sedangkan untuk komposisi serbuk kaca terdiri dari 2 variasi yaitu persentase 5% dan 10%. Jumlah benda uji 30 buah silinder berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dengan 3 benda uji untuk setiap variasi. Perencanaan campuran beton menggunakan SNI 03-2834-2000 yang dimodifikasi. Pengujian kuat tekan diuji pada umur beton 28 hari. Beton dengan fly ash 0% dan serbuk kaca 10% memiliki kuat tekan paling tinggi dibandingkan dengan beton dengan tambahan fly ash, yaitu 46,77%. Selain itu, dapat disimpulkan bahwa semakin bertambahnya jumlah persentase serbuk kaca yang digunakan menunjukkan bahwa kuat tekan beton semakin bertambah juga. Penambahan fly ash pada campuran beton mempengaruhi kuat tekan beton yang dihasilkan. Pada variasi fly ash 0% memiliki kuat tekan tertinggi baik pada saat campuran serbuk kaca 5%dan 10%. Variasi fly ash 15% adalah kondisi optimum campuran beton dengan kuat tekan beton yaitu 43,31 Mpa. Kedua limbah ini dapat dikombinasikan dan dimanfaatkan dengan baik dan digunakan dalam pembuatan beton mutu tinggi. (EN) This study discusses the effect of high quality concrete by utilizing fly ash and glass waste. The purpose of this study is to determine the compressive strength of concrete in each variation, to determine the contribution of concrete to produce compressive strength, and to find out that fly ash and glass powder are effectively used in full as a concrete admixture. Fly ash composition consists of 5 variations, namely the percentage of 0%, 5%, 10%, 15%, and 20%. While for the composition of glass powder consists of 2 variations, namely the percentage of 5% and 10%. The number of specimens is 30 cylinders with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm with 3 specimens for each variation. Concrete mixture planning using SNI 03-2834-2000 was developed. Compressive strength testing on concrete age 28 days. Concrete with 0% fly ash and 10% glass powder have the highest compressive strength compared to concrete with additional fly ash, which is 46.77%. In addition, it can increase the amount of glass powder addition that is used to show the concrete compressive strength is increasing as well. The addition of fly ash in the concrete mixture has an effect on the compressive strength of the concrete produced. In the variation of 0% fly ash has the highest compressive strength when the glass powder mixture of 5% and 10%. The 15% fly ash variation is the optimal concrete mixture with compressive strength of 43.31 MPa. These two wastes can be combined and utilized properly and are used in making high quality concrete.
Firman Syarif, Gian Mahadika Davino, Muhammad Ferry Ardianto
Published: 29 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 47-52; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4809

Abstract:
(ID) Indonesia memiliki persentase area rawa dan gambut yang sangat besar. Kurang lebih 30% lahan di Indonesia adalah daerah rawa/gambut. Di Pulau Sumatera, Provinsi dengan lahan gambut terluas yaitu Provinsi Riau dengan luas ± 4, 04 juta Ha atau 56, 1% dari luas total lahan gambut di Sumatera. Siak merupakan salah satu kabupaten di Riau yang memiliki daerah gambut yang cukup luas. Keberadaan daerah gambut ini menyebabkan pengembangan infrastruktur di Desa Suak Merambai menjadi terhambat karena tingkat kesulitan yang tinggi dalam proses konstruksi di daerah rawa. Beberapa metode perbaikan tanah telah diterapkan pada tanah gambut berupa perbaikan tanah secara fisik, mekanis maupun kimia. Salah satu metode perbaikan tanah yang mulai berkembang saat ini adalah Bio Grouting. Bio Grouting telah dikembangkan sebagai teknologi perbaikan tanah baru yang sistem kerjanya seperti semen pada beton sehingga mampu mengikat partikel tanah melalui bantuan aktivitas biologi. Bio Grouting ini dapat meningkatkan sifat mekanik (kekuatan, kekakuan, kohesi, gesekan), menurunkan permeabilitas bahan berpori, memperkuat atau memperbaiki dan memodifikasi sifat fisik dan mekanik tanah. Sistem kerja Bio Grouting adalah pengendapan Calcite oleh induksi microbiology, microbially induced calcite precipitation (MICP), yang dilakukan oleh bakteri penghasil enzim urease. Teknik microbially induced calcite precipitation (MICP) / Bio Grouting ini akan coba diterapkan pada tanah gambut sehingga dapat memperbaiki sifat permeabilitas dari tanah gambut. Melalui penelitian ini diharapkan permasalahan kontruksi diatas tanah gambut dapat diminimalisir dan menjadi salah satu solusi yang ramah lingkungan yang bisa membantu pengembangan infrastruktur di Desa Suak Merambai Kecamatan Bungaraya Kabupaten Siak Provinsi Riau. (EN) Indonesia has a very large percentage of swamp and peat area. About 30% of the land in Indonesia is swamp / peat. On the island of Sumatra, the province with the most extensive peatlands is Riau Province with an area of ​​± 4, 04 million Ha or 56.1% of the total area of ​​peatlands in Sumatra. Siak is one of the regencies in Riau which has quite extensive peat areas. The existence of this peat area causes the development of infrastructure in the Village of Suak Merambai to be hampered due to the high level of difficulty in the construction process in the swampy area. Several soil improvement methods have been applied to peat soils in the form of physical, mechanical or chemical soil improvements. One method of soil improvement that is starting to develop now is Bio Grouting. Bio Grouting has been developed as a new soil improvement technology that works like cement on concrete so that it can bind soil particles through the help of biological activities. Bio Grouting can improve mechanical properties (strength, stiffness, cohesion, friction), reduce permeability of porous materials, strengthen or improve and modify the physical and mechanical properties of the soil. The work system of Bio Grouting is the deposition of Calcite by induction of microbiology, microbially induced calcite precipitation (MICP), which is carried out by the bacteria producing the urease enzyme. This microbially induced calcite precipitation (MICP) / Bio Grouting technique will try to be applied to peat so as to improve the permeability of peat soil. Through this research, it is expected that construction problems on peatlands can be minimized and become one of the environmentally friendly solutions that can help infrastructure development in Suak Merambai Village, Bungaraya District, Siak Regency, Riau Province.
Muhammadiya Rifqi, Heni Fitriani
Published: 29 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 19-26; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4072

Abstract:
[IN] Ruas Jalan Soekarno-Hatta kota Palembang merupakan Jalan Nasional yang berkelas Jalan Arteri Primer yang dilapisi dengan perkerasan lentur (flexible pavement). Jalan yang diamati dari Simpang Empat fly over Tanjung Api-Api hingga Simpang Empat Macan Lindungan memiliki panjang 8,45 kilometer. Saat itu kota Palembang sedang menggenjot pembangunan proyek venue dan LRT guna menyukseskan perhelatan olahraga Asian games. Ruas Jalan Soekarno-Hatta Palembang digunakan sebagai aktivitas lalulintas kendaraan proyek akibatnya terjadi peningkatan volume kendaraan dan kepadatan lalulintas yang tak terkendali, sehingga dikhawatirkan berdampak pada kualitas perkerasan jalan tersebut. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kerusakan permukaan perkerasan lentur jalan dengan menggunakan metode PCI (Pavement Condition Index). Survei metode PCI dilakukan secara visual berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan jalan dengan penilaian numerik antara nol (gagal) hingga seratus (sempurna). Hasil identifikasi kerusakan permukaan jalan menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi pada ruas jalan tersebut sebanyak tujuh jenis yaitu kegemukan, amblas, keriting, pelepasan butiran, retak kulit buaya serta tonjolan dan lengkungan. Jumlah unit sampel segmen jalan yang mengalami kerusakan sebanyak 17 unit sampel dari total yang diteliti 68 unit sampel dengan nilai rata-rata PCI didapatkan sebesar 95,655 artinya jalan tersebut dengan kondisi “Sempurna”. Meskipun ruas jalan tersebut tergolong sempurna secara kondisi, akan tetapi masih terdapat kerusakan yang terjadi pada ruas tersebut, untuk itu perlu dilakukan pemeliharaan jalan pada unit sampel yang rusak sehingga dapat menjaga kualitas serta umur layak ruas jalan tersebut. [EN] The Soekarno-Hatta Road section of the city of Palembang is a classy National Road of the Primary Arterial Road that is equipped with flexible pavement. The road chosen from Simpang Empat fly over Tanjung Api-Api to Simpang Empat Macan Lindungan has a length of 8.45 kilometers. At present the city of Palembang is being promoted by a construction site and LRT project to succeed in the sporting event Asian games. The Soekarno-Hatta Palembang Road Section is used as a project vehicle traffic activity resulting in an increase in vehicle volume and uncontrolled traffic density, so it is feared to have an impact on the quality of the pavement. The purpose of this study was to identification road surface damage using the PCI (Pavement Condition Index) method. PCI survey method is carried out visually based on the type and severity level of road damage with a numerical rating between zero (failed) to one hundred (excellent). The results of identification of road surface damage showed that there were 7 types of damage that occurred on the road section namely bleeding, depression, corrugation, weathering and raveling, potholes, alligator cracking, and bumps and sags. The number of sample units of the road segment that suffered damage as many as 17 sample units of the total studied by 68 units samples with an average value of PCI obtained by 95,655, This means that the road with the condition "excellent". Even though the road is classified as excellent, but damage is still needed in that section, for this reason it is necessary to maintain the road on the damaged sample unit so that it can be used at a reasonable quality for the life of the road section.
Fiqri Fansyuri Saragih, Ari Sandhyavitri, Hendra Taufik
Published: 26 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 53-60; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4494

Abstract:
[EN] It was acknowledged that, the Hang Nadim International Airport’s aircraft movements increased significantly at recent 10 years period. The shift in aircraft dimensions and weights have raised questions whether or not the existing apron pavement dimensions are sufficient for accommodating the increase aircraft parking demands and to bear aircraft load changes. The purpose of this research is to evaluate and analyze the apron dimensions and pavement thickness at Hang Nadim Airport. This research was used two relevant methods as guidelines for calculating this apron dimension and thickness; ICAO (International Civil Aviation Organization) Anex 14 2013 and FAA (Federal Aviation Administration) 150/5320-6d. It was calculated that the apron dimension need to be expanded to 1600 m x 150 m for accommodating 31 aircraft parking in 2025 (11 units B747- 300 + 16 units B737-900 + 4 units F27). The apron thickness would be 46.2 cm of base course and 10 cm of subbase course.
Henny Herawati, Eko Yulianto, Azmeri
Published: 25 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 1-10; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4698

Abstract:
[ID] Daerah Rawa Pinang Dalam merupakan bagian dari daerah rawa di kawasan Pinang Komplek yang berada di Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat. Tinggi muka air tanah Daerah Rawa Pinang Dalam dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Daerah Pinang Dalam diusahakan oleh penduduk sebagai lahan pertanian. Namun hasil produksi pada daerah ini belum optimal yang disebabkan oleh belum baiknya jaringan tata air, dimana sebagian besar daerah tersebut merupakan daerah genangan, sering mengalami banjir pada musim penghujan serta mengalami kekeringan pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan pengaruh hidrotopografi lahan terhadap saluran tersier, sehingga dapat diperoleh dimensi saluran tersier sesuai dengan peruntukan lahan di daerah rawa Pinang Dalam. Data primer pada penelitian ini yaitu data hidrometri dan data pasang surut, sementara data sekunder yang digunakan yaitu data hidrologi dan data topografi serta peta-peta yang diperlukan dalam analisis hidrotopografi. Data tersebut merupakan dasar dalam melakukan kajian dan analisis hidrometri dan topografi yang diperlukan untuk mengetahui hidrotopografi lahan dengan memperhatikan peruntukan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis hidrotopografi lahan di daerah rawa Pinang Dalam terdiri dari jenis hidrotopografi B, C dan D. Berdasarkan jenis hidotopografi dan peruntukan lahan, terdapat kriteria tertentu mengenai kedalaman optimum untuk saluran tersier dalam sebuah jaringan tata air. Saluran tersier yang diperuntukkan sebagai lahan perkebunan sebaiknya diupayakan untuk memiliki kedalaman yang dapat mempertahankan muka air tanah dalam kisaran 60 hingga 90 centimeter, sementara elevasi muka air untuk tanaman padi sawah dipertahankan setinggi mungkin dengan kedalaman perakaran minus (-)10 sampai dengan -30 centimeter. [EN] The Pinang Dalam swamp area is a part of Pinang Komplek swamp area which is located in Kubu Raya Regency, West Kalimantan Province. Groundwater table in Pinang Dalam swamp area is affected by tides. Pinang Dalam area is cultivated by the population as agricultural land. But the production results in this area are not optimal due to the lack of a good water system, where most of the area is inundated, often experiences floods during the rainy season and experiences drought in the dry season. This research aims to identify the type and effects of land hydrotopography on the tertiary channel, thus the dimension of tertiary channel that is suitable for the allocated land use is obtained. The primary data in this study are hydrometric and tidal data, while secondary data used are hydrological and topographic data and maps needed in hydrotopographic analysis. These data are the basis for conducting studies and analysis of hydrometry and topography needed to the hydrotopography of land while taking the land use into account. The results showed that the hydrotopographic type of land in the Pinang Dalam swamp area consisted of hydrotopographic types B, C and D. Based on the hydotopography type and land use, there are certain criteria regarding the optimum depth for tertiary channels in a water system. Tertiary canals on land allocated as plantation area should be striven to have a depth that can maintain water table in the range of 60 to 90 centimeters, while the water level elevation for lowland rice plants should be maintained as high as possible with a rooting depth of minus (-) 10 to -30 centimeters.
Sapitri Ap, Firdaus Firdaus
Published: 28 November 2019
JURNAL SAINTIS, Volume 19, pp 79-88; doi:10.25299/saintis.2019.vol19(2).3904

Abstract:
[ID] Waste merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas. Besarnya potensi waste tentu saja akan merugikan owner ataupun kontraktor. Waste pada industri perumahan dapat mempengaruhi nilai jual rumah itu sendiri. Potensi waste material yang muncul pada proses pembangunan, penting untuk diidentifikasi dan dicari penyebabnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasikan waste pada industri konstruksi (proyek perumahan) beserta sumber penyebab waste tersebut. Penelitian bersifat kuantitative dan data primer dikumpulkan dengan bantuan instrument kuesioner. Responden yang terlibat seluruhnya adalah pengawas lapangan/penanggung jawab lapangan proyek perumahan. The Statistical Package for Social Sciences (SPSS) dan fishbone diagram digunakan sebagai alat analisis variable dan indikator penyebab waste. Secara keseluruhan, hasil identifikasi penelitian menunjukkan bahwa material yang berpotensi ditemui pada proyek pembangunan perumahan di Pekanbaru yaitu material kayu dan batu bata (berpotensi sedang), material keramik, genteng, besi beton, cat, tanah, batu, pasir dan plesteran (berpotensi rendah) dan, cardboard packaging, plastic, kaca, metal, aspal dan plafond (berpotensi sangat rendah). Terdapat beberapa variable penyebab waste. Variabel-variabel tersebut terkait dengan sumber daya yang dibutuhkan selama proses pengerjaan proyek. Sumber penyebab waste yang berkonstribusi selama proses produksi secara signifikan dipengaruhi oleh variable: alat/mesin sebesar 0.885, metode kerja sebesar 0.873, material sebesar 0.866, manpower sebesar 0.821, dan lingkungan sebesar 0.808. Satu sumber variable dapat mempengaruhi variable yang lain, sehingga sangat penting untuk memperhatikan penyebab waste agar produktivitas pekerjaan dilapangan tidak terganggu. [EN] Waste is one of the causes of low productivity. The potential of waste will certainly harm the owner or contractor. Waste in housing industry can affect the sale price of the house. The potential of material waste in construction process is important to identify and need to find its cause. The purpose of this study is to identify waste in the construction industry (housing project) along with the source of the cause of the waste. Quantitative research is conducted and primary data were collected with questionnaire as the instrument. All respondents involved were supervisor. The Statistical Package for Social Sciences (SPSS) and fishbone diagrams are used as a tool for analyzing variables and indicators of the causes of waste. Overall, the result of research identification shows that the potential material in housing construction projects in Pekanbaru, namely wood and brick material (medium potential), ceramic, roof tile, steel, paint, soil, stone, sand and plastering (low potential) and, cardboard packaging, plastic, glass, metal, asphalt and ceiling (very low potential). There are several variables that cause waste. These variables are related to the resources that needed during the construction process. The sources of waste causes that contribute during the production process are significantly influenced by variables, i.e. tools / machines at 0.885, work methods at 0.873, materials at 0.866, manpower at 0.821, and the environment at 0.808. One source of variables can affect other variables, so it is necessary to pay attention to the waste causes so that work productivity uninterrupted.
Widya Apriani, Fadrizal Lubis, Reni Suryanita, Elva Nidya Sari
Published: 28 November 2019
JURNAL SAINTIS, Volume 19, pp 71-78; doi:10.25299/saintis.2019.vol19(2).3924

Abstract:
[ID] Perencanaan struktur jembatan baja pelengkung harus memperhatikan kemampuan respon strukturnya yang rentan terhadap deteriorasi akibat fatik, ancaman gempa bumi kuat atau angin topan, khususnya diwilayah sumatera yang mempunyai resiko gempa yang tinggi. Penelitian ini fokus memprediksi struktur jembatan pelengkung baja dengan analisis repons spectra dengan bantuan software analisis struktur gempa berdasarkan SNI 1726-2012. Percepatan gempa yang diambil berasal dari beberapa kota seperti Kota Aceh, Padang, Tanjung Pinang, dan Pekanbaru yang memliki karakteristik. Hasil analisis menunjukkan respon struktur jembatan terbesar terjadi di Padang dengan nilai perpindahan sebesar 0,016267 m dan percepatan sebesar 0,0235 m. Sementara itu, respons struktur terkecil terjadi di kota tanjung pinang dengan nilai perpindahan sebesar 0,01552 m dan nilai percepatan sebesar 0,0208 m. Diharapkan dengan diketahuinya hasil prediksi kesehatan struktur jembatan dapat digunakan sebagai referensi/masukan bagi pemerintah dan pihak yang terkait dalam usaha memperbaiki jembatan dengan tepat, sehingga diharapkan dapat mencegah terjadinya keruntuhan struktur jembatan. [EN] Curved steel bridge structure planning must pay attention to the responsiveness of the structure that is vulnerable to deterioration due to fatigue, the threat of strong earthquakes or hurricanes, especially in the region of Sumatra which has a high earthquake risk. This study focuses on predicting the structure of steel curved bridges with spectral response analysis with the help of earthquake structure analysis software based on SNI 1726-2012. The earthquake acceleration taken came from several cities such as Aceh City, Padang, Tanjung Pinang, and Pekanbaru which have characteristics. The analysis shows the largest bridge structure response occurred in Padang with a displacement value of 0.016267 and acceleration of 0.0235. Meanwhile, the smallest structural response occurred in Tanjung Pinang city with a displacement value of 0.01552 and an acceleration value of 0.0208. It is expected that by knowing the results of the bridge structure health predictions can be used as a reference / input for the government and related parties in an effort to repair the bridge appropriately, so that it is expected to prevent the collapse of the bridge structure.
Back to Top Top