Jurnal Pharmascience

Journal Information
ISSN / EISSN : 2355-5386 / 2460-9560
Total articles ≅ 126
Filter:

Latest articles in this journal

Dewita Rinowati, Hidayaturrahmah Hidayaturrahmah
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 83-87; doi:10.20527/jps.v8i1.8468

Abstract:
Sumber energi dan biomarker terhadap kondisi fisiologis ikan dipengaruhi oleh faktor kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil glukosa pada ikan gelodok (Periopthalmodon schlosseri) di Desa Tanipah dan Desa Kuala Lupak, Kabupaten Barito Kuala sebagai sumber pengetahuan. Metode yang digunakan adalah GOD-PAP yaitu penetapan glukosa darah dari sampel serum dan plasma secara enzimatik menggunakan Glukosa Oksidase Para Amino Phenazone menghasilkan warna merah yang diukur dengan fotometer. Hasil yang didapatkan kadar glukosa rata-rata ikan gelodok dari pengambilan Desa Tanipah didapatkan 45,87 ± 13,6 mg/dL Pengambilan di Desa Kuala Lupak rata-rata kadar glukosa sebesar 49,75 ± 27,6 mg/dL. Glukosa ikan gelodok yang didapatkan dari kedua desa tersebut berada dibatas normal kadar glukosa darah pada ikan. Kata Kunci: Glukosa, darah, ikan gelodok, GOD-PAP, glikogen Energy sources and biomarkers of fish physiological conditions are influenced by blood glucose levels. This study aimed to determine the glucose profile of the jellyfish (Periopthalmodon schlosseri) in Tanipah Village and Kuala Lupak Village, Barito Kuala Regency as a source of knowledge. The method used is GOD-PAP namely the determination of blood glucose from serum and plasma samples enzymatically using Glucose Oxidase The Amino Phenazone produces a red color as measured by a photometer. The results obtained by the average level of glucose in Mudskipper from the taking of Tanipah Village were 45.87 ± 13.6. Taking in the village of Kuala Lupak the average glucose level was 49.75 ± 27.6 mg / dL. Mudskipper fish glucose obtained from the two villages is within the normal limits of blood glucose levels in fish.
Nurul Izzah Al Kamaliah, Noor Cahaya, Siti Rahmah
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 111-124; doi:10.20527/jps.v8i1.8599

Abstract:
Kalsium diberikan kepada pasien gagal ginjal kronik (GGK) stadium akhir untuk menangani kondisi abnormalitas metabolisme mineral dan tulang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik pasien GGK pengguna kalsium. Jenis penelitian deskriptif, pengambilan data secara retrospektif di poliklinik sub spesialis ginjal hipertensi RSUD Ulin Banjarmasin. Kriteria inklusi subyek penelitian adalah pasien gagal ginjal kronik (stage 1-5) yang menerima kalsium usia ≥17 tahun dan kriteria eksklusi merupakan penderita dengan catatan medik yang kurang sempuran/tidak ditemukan. Sejumlah 313 subyek penelitian diambil data dan dianalisa secara deskriptif. Hasil dan kesimpulan didapatkan karakteristik berupa usia (tahun) 17-25 (1,92%), 26-35 (7,03%), 36-45 (21,41%), 46-55 (37,38%), 56-65 (25,24%) dan >65 tahun (7,03%); jenis kelamin laki-laki (51,76%), perempuan (48,24%); penyakit utama gagal ginjal kronik stage 5 (100%); penyakit penyerta hipertensi (44,40%), hipertensi + 1 penyakit penyerta (30,99%), hipertensi + 2 penyakit penyerta (15,01%), hipertensi + 3 penyakit penyerta (2,88%), hipertensi + 4 penyakit penyerta (0,32%), diabetes melitus (1,60%), anemia, dispepsia, hiperurisemia, CVA dan BPH (0,32%), tanpa penyakit penyerta (2,88%) lama menjalani pengobatan 65 (7.03%) years old; male gender (51.76%), female (48.24%); the main cause of stage 5 chronic kidney disease (100%); comorbidities of hypertension (44.40%), hypertension+1comorbidities, hypertension+2comorbidities (15.01%), hypertension+3comorbidities (2.88%), hypertension+4comorbidities (0.32%), diabetes melitus (1.60%), anemia, dispepsia, hiperurisemia (0.32%), without commorbidities (2.88%); long suffered < years (92.01%) and ≥ 5 years (7.99%); the calcium used is calcium carbonate (99.68%) and combination of calcium carbonate and calcium lactate (0.32%); frequency of calcium consumption 3 x 1 (99.36%), 2 x 1 (0.32%), and 3 x 2 (0.32%); administration time of 7 days (2.24%), 10 days (1.28%), 15 days (0.32%) and 30 days (96.17%), with side effects (5.75%) and without side effects (94.25%); the accompanying drugs used antihypertensive (ARB, CCB, diuretic, BB), antidiabetic, antihyperlipidemia, antiplatelet, antiangina, analgesic-antipyretic, corticosteroid, respiratory system drugs, digestive system, endocrine system, respiratory system drugs, blood disorders, antihistamine, anti-pirai, antibiotic, vitamin and mineral.
Sutomo Sutomo, Norijatil Hasanah, Arnida Arnida, Agung Sriyono
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 101-110; doi:10.20527/jps.v8i1.10275

Abstract:
Matoa (Pometia pinnata) merupakan salah satu tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik di Kalimatan dan diketahui mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai obat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan standardisasi berdasarkan parameter spesifik dan nonspesifik dari simplisia dan ekstrak. Pengambilan sampel daun P. pinnata dilakukan pada tiga tempat tumbuh yaitu Desa Pemuda, Kebun Raya Banua, dan Tahura Sultan Adam. Metode standardisasi yang digunakan mengacu pada Farmakope Herbal Indonesia dan Parameter Standar Umum Ekstrak. Pengamatan organoleptik simplisia yaitu berwarna hijau muda, rasa pahit, berbau khas. Pengamatan mikroskopik menunjukkan adanya dinding sel, floem, xilem, stomata, dan inti sel. Kadar sari larut etanol (19,07-19,27)%; kadar sari larut air (20,93-21,17)%; susut pengeringan (6,17-6,23)%; kadar abu total (4,63-4,73)%; kadar Pb (0,014-0,022) ppm; kadar Cd (0,014-0,015)ppm; dan kadar Hg
Khoerul Anwar, Farida Istiqamah, Samsul Hadi
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 53-64; doi:10.20527/jps.v8i1.9085

Abstract:
Akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Indonesia sebagai aprodisiaka. Ekstraksi akar tumbuhan ini dilakukan dengan berbagai pelarut yang salah satunya menggunakan etanol 70%. Pemilihan pelarut ini dilakukan untuk memperoleh kandungan zat berkhasiat semaksimal mungkin yang ditandai dengan rendemen yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu dan waktu ekstraksi optimum pada proses ekstraksi akar E. longifolia dengan pelarut etanol 70%. Metode OFAT (One Factor at The Time) digunakan pada uji pendahuluan dan metode RSM (Response Surface Methodology) digunakan pada desain eksperimen dengan bantuan software MINITAB 17. Penelitian dilakukan menggunakan 13 titik perlakuan dengan kombinasi suhu dan waktu yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik optimum rendemen ekstraksi akar E.longifolia sebesar 4,07% diperoleh pada suhu 51,8oC dan waktu 12,13 jam dengan nilai D (desirability) sebesar 0,92. Uji validasi model RSM menunjukkan keakuratan sebesar 97,76%. Model persamaan regresi yang menggambarkan pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap rendemen akar E. longifolia adalah Y = - 70,1 + 2,536X1 + 1,387X2 – 0,02389X12 – 0,0464X22 – 0,00500X1X2. Kata Kunci: Eurycoma longifolia Jack., Suhu dan Waktu Ekstraksi, Metode RSM, Etanol 70%The root of the pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) has long been used as a traditional medicine by the Indonesian people as an aphrodisiac. Extraction of plant roots is carried out with various solvents, one of which uses ethanol 70%. The selection of this solvent was carried out to obtain the maximum possible active metabolite content which is characterized by high yield. This study aims to determine the optimum extraction temperature and time in the root extraction process of E. longifolia with 70% ethanol as solvent. The OFAT (One Factor at The Time) method was used in the preliminary test and the RSM (Response Surface Methodology) method was used in the experimental design with the help of MINITAB 17 software. The study was conducted using 13 treatment points with different combinations of temperature and time. The results showed that the optimum yield point of E. longifolia root extraction was 4.07% at a temperature of 51.8°C and extraction time of 12.13 hours with D (desirability) value of 0.92. The validation test of the RSM model shows an accuracy of 97.76%. The regression equation model that describes the effect of temperature and extraction time on the root yield of E. longifolia is Y = - 70.1 + 2.536X1 + 1.387X2 – 0.02389X12 – 0.0464X22 – 0.00500X1X2.
Dwi Rizki Febrianti, Rakhmadhan Niah, Novia Ariani
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 94-100; doi:10.20527/jps.v8i1.9108

Abstract:
Daun Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B & K) merupakan salah satu tumbuhan endemik Kalimantan Selatan. Secara turun temurun digunakan sebagai obat tradisional Dayak Meratus sebagai obat diare, demam, dan malaria. Tanaman ini dicurigai memiliki nilai antioksidan tinggi karena mengandung metabolit skunder fenolik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun E. inulifolium serta nilai IC50-nya. Penelitian ini menggunakan metode DPPH dengan instrumen spektofotometri UV-vis dengan panjang gelombang 517 nm. Dari hasil perhitungan dan replikasi nilai IC50 yang didapat sebesar 38,9 ppm. Ekstrak daun E. inulifolium memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dalam meredam radikal bebas. Kata Kunci: Daun, Potensi Antioksidan, Endemik, IC50, Ekstrak Etanol, Fenolik Kumpai Mahung (Eupathorium inulifolium H.B & K) leaves are one of the endemic plants of South Kalimantan. From generation to generation it is used as a traditional medicine for Dayak Meratus as a medicine for diarrhea, fever, and malaria. This plant is suspected of having high antioxidant value because it contains phenolic secondary metabolites. The purpose of this study was to determine the antioxidant activity of the methanol extract of E. inulifolium leaves and its IC50 value. This study used the DPPH method with spectophotometer UV-vis instrument at wavelength of 517 nm. From the calculation and replication, the IC50 value obtained is 38.9 ppm. E. inulifolium leaf extract has very strong antioxidant activity in reducing free radicals.
Zahra Hasna Fadhilah, Farid Perdana, Raden Aldizal Mahendra Rizkio Syamsudin
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 31-44; doi:10.20527/jps.v8i1.9122

Abstract:
Katekin merupakan senyawa bioaktif dengan kerangka flavan-3-ol dan menjadi senyawa utama penentu mutu serta dapat memberikan rasa pahit yang khas pada teh. Senyawa turunan katekin yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan paling kuat dan melimpah yaitu epigalokatekin galat. Tujuan dari review artikel ini yaitu untuk mengetahui kandungan senyawa katekin dan epigalokatekin galat sebagai antioksidan pada berbagai jenis teh berdasarkan nilai IC50.Metode penulisan review artikel ini dilakukan dengan mencari serta menganalisis studi pustaka dari beberapa jurnal yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan pada berbagai jenis teh dengan penelusuran terhadap senyawa katekin, khususnya epigalokatekin galat. Hasil review menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan pada pengolahan jenis teh seperti teh hijau, teh oolong, dan teh hitam memiliki perbedaan yang cukup signifikan yang dapat dilihat dari kandungan senyawa katekin dan EGCG dimana semakin besar kandungan senyawa tersebut, maka aktivitas antioksidannya semakin tinggi. Selain itu, tingginya aktivitas antioksidan dapat dilihat dari nilai IC50. Semakin rendah nilai IC50, maka aktifitas antioksidan akan semakin tinggi. Teh hijau terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi diantara teh lainnya dengan kandungan katekin sebesar 10,04% dan epigalokatekin galat sebesar 3,28% serta nilai IC50 yang paling rendah yaitu 58,61 µg/mL. Kata Kunci: Katekin, Teh Hijau, Teh Oolong, Teh Hitam, Antioksidan Catechins are bioactive compounds with a flavan-3-ol structure and become a major determinant of quality compounds and can give a distinctive bitter taste of tea. Catechin derivative compounds that have the antioxidant activity as the strongest and abundant are epigallocatechin gallate. The purpose of this article review was to determine the content of catechins and epigallocatechin gallate compounds as an antioxidant in various types of tea based on the IC50 value. The method of writing of this article review was carried out by searching and analyzing literature studies from several journals related to antioxidant activity in various types of tea by tracing catechin compounds, especially the epigallocatechin gallate. The results of the review showed that the antioxidant activity in the processing of types of tea such as green tea, oolong tea, and black tea has significant differences which could be seen from the content of catechins and EGCG compounds where the greater the content of the compounds, the higher the antioxidant activity. Also, the high antioxidant activity can be seen from the IC50 value. The lower the IC50 value, the higher the antioxidant activity. Green tea shows to have the highest antioxidant activity among other teas with a catechin content of 10.04% and an epigallocatechin gallate of 3.28% and the lowest IC50 value of 58.61 µg/mL.
Eko Prasetyo, Naelaz Zukhruf Wakhidatul Kiromah, Titi Pudji Rahayu
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 75-82; doi:10.20527/jps.v8i1.9200

Abstract:
Kulit durian merupakan bagian tanaman yang pernah diteliti sebelumnya dan mempunyai aktivitas farmakologi sebagai antioksidan. Kulit durian mengandung metabolit sekunder yaitu flavonoid, tanin dan alkaloid. Kulit durian diekstrak menggunakan pelarut etanol 70% dengan metode sokletasi. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode pengukuran penangkapan radikal bebas oleh 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Vitamin C digunakan sebagai kontrol positif dengan nilai IC50 5,63 ppm dan ekstrak etanol sebesar 204,33 ppm. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit durian tidak memiliki aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Kata Kunci: Durian, Sokletasi, DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil), antioksidan, IC50 Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) have been studied previously and reported to have phramacological activity that has the potential to be antioxidant. The durian fruits peels, contained secondary metabolite, namely flavonoids, tannin and alkaloid. Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) were extracted with ethanol 70% with soxletation method. The antioxidant activity of extracts were evaluated by 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) free radical scavenging activity assay. Vitamin C was used as standard with IC50 5,63 ppm and the ethanol eztracts showed IC50 204,33 ppm. This study provided that Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) cannot inhibit free radical usimg the DPPH method.
Mia Cahya Lestari, Raisya Hasina, Ni Made Amelia Ratnata Dewi
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 23-30; doi:10.20527/jps.v8i1.9444

Abstract:
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang diderita oleh pasien usia lanjut (geriatri) dengan persentase kejadian terbanyak yaitu sebesar 57,6%. Hipertensi pada pasien geriatri dapat disebabkan karena penurunan fungsi organ, sehingga akan lebih rentan terkena penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pola pemberian antihipertensi serta kesesuaian pengobatan hipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB tahun 2017. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan metode pendekatan observasional secara retrospektif terhadap pasien hipertensi di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB. Pengambilan data dilakukan dengan metode Total sampling terhadap 97 pasien geriatri. Data yang diperoleh dari bagian rekam medik dan resep ditabulasi dengan software microsoft excel. Setelah dilakukan penelitian didapatkan bahwa terapi untuk hipertensi didominasi oleh obat dengan dua kombinasi yaitu amlodipin dan valsartan (88%). Obat tunggal didominasi oleh amlodipin (75%). Kesesuaian peresepan dilihat dari dosis dan frekuensi terapi antihipertensi telah sesuai 100% dengan pedoman pengobatan, namun jenis obat yang digunakan hanya mencapai 99% dilihat dari pemberian kombinasi 3 antihipertensi dengan kombinasi golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (captopril) dan golongan Angiotensin Receptor Blocker (candesartan) yang menimbulkan potensi interaksi mayor dan efek samping (1%). Kata Kunci: Hipertensi, Geriatri, Pola Pemberian Obat. Hypertension is a disease that affects geriatric with the highest percentage of incidence was 57.6%. Hypertension in geriatric patients can be caused by decreased organ function, so they are more susceptible to disease. The purpose of this study was to describe the pattern of antihypertensive drugs also the appropriateness of hypertension therapy in geriatric patients. This study was held in the inpatient Installation of the NTB Provincial Hospital in 2017. The design of this study was descriptive by collecting data retrospectively on 97 geriatric patients. The data obtained from the medical record and prescription sections were processed using Microsoft Excel software. The result showed that the therapy for hypertension was dominated by combination drugs which consist of amlodipine and valsartan (88%) and single drugs were dominated by amlodipine (75%). The appropriateness of prescription was seen from the dosage and frequency in the main therapy (hypertension) was 100% according to the treatment guidelines, but the type of drug that used was only 99% which seen from the giving combination of 3 antihypertensive drugs of Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor (captopril) and Angiotensin Receptor Blocker (candesartan) groups which caused interactions major and side effects (1%).
Khurin In Wahyuni, Martina Kurnia Rohmah, Herni Setyawati
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 132-143; doi:10.20527/jps.v8i1.9720

Abstract:
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif tertinggi ke-enam di dunia, dimana prevalensi diabetes semakin meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung konsumtif dan minim aktifitas fisik. Diabetes Mellitus ditandai dengan kenaikan gula darah karena kelainan insulin, resistensi insulin atau bisa juga keduanya. Salah satu upaya untuk penanganan dan pencegahan timbulnya peningkatan DM tipe 2 adalah dengan pemberian edukasi menggunakan media booklet. Edukasi merupakan penyampaian pesan kesehatan kepada kelompok atau individu dengan tujuan memperoleh pemahaman dan peningkatan kualitas hidup yang ditandai dengan penurunan HBA1c yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman, kualitas hidup dan perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah pemberian edukasi dengan media booklet terhadap pasien DM tipe 2 di Sidoarjo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Random Control Trial Design. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juni sampai Oktober 2020 dengan sampel 60 pasien. Pengukuran pemahaman menggunakan kuesioner DKQ Quessioner, perubahan perilaku menggunakan kuesioner DQOL sedangkan penetapan kadar HBA1c dengan alat tes gula darah. Hasil analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan uji Mann Whitney dimana terdapat perbedaan yang signifikan antara, pemahaman, kualitas hidup serta kadar gula darah HBA1c sebelum dan sesudah edukasi. Pada hasil uji Spearman’Rank’s kelompok intervensi diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,586 dengan signifikansi 0,001 untuk pemahaman dengan HBA1c, hasil pemahaman dengan kualitas hidup diperoleh korelasi dengan nilai 0,552 dan p= 0,002. Pada uji korelasi antara HBA1c dengan kualitas hidup diperoleh nilai -0,434, sedangkan signifikansi diperoleh p=0,017, Hal ini menunjukan hubungan antara variable didapat korelasi sedang. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulan bahwa terdapat efektivitas edukasi terhadap pemahaman, A1c dan kualitas hidup. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Edukasi, Pemahaman, Kualitas Hidup, Kadar HBA1C, Kualitas Hidup Diabetes Mellitus (DM) is one of the sixth highest degenerative diseases in the world, the prevalence of diabetes is increasing in line with changes in people's lifestyles that tend to be consuming and minimal physical activity. DM is characterized by an increase in blood sugar due to insulin disorders, insulin resistance or both. One of the efforts to handle and prevent an increase in type 2 diabetes is trough education using booklet media. Education is the delivery of health messages to groups or individuals to gain understanding and improve the quality of life, marked by a better decrease in HBA1c. This study used a Random Control Trial Design. This study aims to determine the understanding, quality of life and differences in blood sugar levels before and after giving education with booklet media to type 2 DM patients in Sidoarjo. This study was conducted from June-October 2020 with a sample of 60 patients. Measurement of understanding using the DKQ Quessioner questionnaire, behavior change using the DQOL questionnaire while HBA1c levels using a blood sugar test kit. The results of quantitative analysis were carried out using the Wilcoxon Signed Rank Test and the Mann Whitney test, from these results there were significant differences between, understanding, quality of life and blood sugar levels of HBA1c before and after education. While the results of the Spearman 'Ranks test for the intervention group obtained a correlation coefficient of -0.586 with a significance of 0.001 for understanding with HBA1c, the results of understanding with quality of life obtained a correlation with a value of 0.552 and p = 0.002. In the correlation test between HBA1c and quality of life, the value -0.434, while the significance was p = 0.017, and this shows the relationship between variables obtained moderate correlation. From this research, there is educational effectiveness on understanding, A1c and quality of life.
Adella Adella, Noor Cahaya, Siti Rahmah
Jurnal Pharmascience, Volume 8, pp 7-22; doi:10.20527/jps.v8i1.8598

Abstract:
Suplemen kalsium banyak digunakan oleh pasien yang menderita kanker dengan terapi hormonal di poliklinik sub spesialis bedah onkologi RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik berupa umur dan jenis kelamin pasien yang menerima suplemen kalsium, jenis kanker, obat lain yang diberikan bersama pemberian kalsium, jenis suplemen kalsium, frekuensi pemberian kalsium, lama pemberian kalsium dan penggunaan suplemen kalsium dari lama pemberian kalsium dan obat terapi hormonal yang digunakan di poliklinik sub spesialis bedah onkologi RSUD Ulin Banjarmasin. eksperimental deskriptif adalah jenis penelitiannya serta pengambilan datanya dengan retrospektif menggunakan sumber cacatan medik pada tahun 2018. Data Populasi digunakan dengan kriteria inklusi adalah pasien kanker usia >18 tahun, menerima suplemen kalsium dan kriteria eksklusi yaitu penderita kanker dengan informasi catatan medik yang kurang lengkap/tak ditemukan. Total jumlah populasi yang digunakan adalah 55 pasien. Hasil dan kesimpulan penelitian didapatkan karakteristik berdasarkan usia pada rentang 26-35 tahun (1,81%), 36-45 tahun (10,91%), 46-65 tahun (43,64%), 56-65 tahun (40,00%) dan >65 tahun (3,64%); jenis kelamin perempuan (100%); jenis kanker berupa kanker payudara (98,18%) dan kanker tiroid (1,82%); obat lain yang diberikan bersama pemberian kalsium adalah obat golongan hormonal, kemoterapi sitotoksik, analgesik, H2 Blocker, ACE Inhibitor, Antihistamin, Bifosfonat, Analog vitamin D serta multivitamin lainnya; jenis suplemen kalsium yang didapat yaitu kalsium karbonat (100%); frekuensi pemberian kalsium 1x sehari 500 mg (100%); lama pemberian kalsium selama 7 hari (1,82%), 15 hari (1,82%), 20 hari (1,82%), 21 hari (1,82%), 30 hari (92,72%) dan penggunaan suplemen kalsium dari lama pemberian kalsium dan obat terapi hormonal yang digunakan adalah 7, 15, 20 dan 21 hari dengan jumlah pasien masing-masing 1 pasien terapi hormonal yang digunakan yaitu letrozole dan 30 hari dengan jumlah pasien 51 terapi hormonal yang digunakan yaitu letrozole, anasrozole, tamoxifen, goserelin acetate, megestrol acetate, dan levothyroxine. Kata Kunci: Suplemen, Kalsium, Onkologi, Hormonal, Kanker Calcium supplements are widely used by patients who suffer cancer with hormonal therapy at oncology surgery sub specialist polyclinic at Ulin Regional Public Hospital Banjarmasin. The research aims to describe the characteristics of the age and gender of patiens who receive calcium supplements, types of cancer, other drugs given with calcium, types of calcium supplements, frequency of calcium administration, duration of calcium administration and the use of calcium supplements from the duration of calcium administration and hormonal therapy drugs used at oncology surgery sub specialist polyclinic at Ulin Regional Public Hospital Banjarmasin. The research type is non-experimental descriptive and the data retrieval is taken restropective by using medical record as the source in 2018. The population data used with inclusion criteria are patients who suffer cancer with the age of > 18 years old, consumed calcium supplements and the exclusion criteria are patients with incomplete / not found medical record. The total population used are 55 patients. The research result and conclusion shows that the characteristics based on age is between 26-35 years old (1,81%), 36-45 years old (10,91%), 46-65 years old (43,64%), 56-65 years old (40,00%) and > 65 years old (3,64%); female (100%); types of cancer in the form of breast cancer (98,18%) and thyroid cancer (1,82%); other drugs given with calcium are hormonal medicine groups, cytotoxic chemotherapy, analgesic, H2 Blocker, ACE Inhibitor, Antihistamine, Bisphosphonates, Vitamin analogues D and other multivitamins; types of calcium supplements obtained is calcium carbonate (100%); frequency of calcium administration is 1 x 500 mg (100%) each day and duration of calcium administration is 7 days (1,82%), 15 days (1,82%), 20 days (1,82%), 21 days (1,82%), 30 days (92,72%) and the use of calcium supplements from the duration of calcium administration and hormonal therapy drugs used were 7,15,20 and 21 days with 1 patient each of hormonal therapy used letrozole and 30 days with 51 patients using hormonal therapy letrozole, anasrozole, tamoxifen, goserelin acetate, megestrol acetate, dan levothyroxine.
Back to Top Top