CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy

Journal Information
ISSN / EISSN : 1978-8223 / 2621-5748
Published by: Mataram University (10.29303)
Total articles ≅ 21
Filter:

Latest articles in this journal

Uswatun Hasanah, Tarmizi Tarmizi, Meidiwarman Meidiwarman
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 80-89; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.215

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan teknik pengendalian yang lebih baik, guna mengurangi serangan hama Lalat Bibit Ophiomyia phaseoli Try. pada tanaman kedelai. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan, setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 12 petak perlakuan. Perlakuan-perlakuan yang digunakan adalah K0 (Tanpa pelakuan), K1 (Penutup tanah), K2 (Seed treatment), K3 (Pupuk Hayati). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis of variance (Anova) pada taraf 5%. Apabila siginificant (berbeda nyata) dilakukan uji lanjut menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Selanjutnya dilakukan regresi linier sederhana menggunakan Minitab 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pengendalian menggunakan seed treatment berpengaruh nyata terhadap populasi hama dan tingkat kerusakan tanaman. Populasi hama lalat bibit O. phaseoli Try. berpengaruh nyata terhadap tingkat kerusakan tanaman. ABSTRACT The aim of this study was to compare better control techniquesin order to reduce pest attacks of bean fly Ophiomyia phaseoli Try. on soybean plants. This study used an experimental method. The experimental design used was Randomized Complete Block Design (RCBD) with 4 treatments, each treatment was repeated 3 times, so that 12 treatment plots were obtained. The treatments used are K0 (without treatment), K1 (ground cover), K2 (seed treatment), K3 (biological fertilizer). Result of data observation were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at the level of 5%. Honestly Significant Difference (HSD) Test at the level of 5% was carried out on significant results (significantly different). Furthermore, simple linear regression was performed using Minitab 17. The results of the study showed that the technical control using seed treatment had a significant effect on pest populations and plant attack rates. Population of bean fly O. phaseoli Try. were significantly affect the level of attack to plants.
Muliadi Muliadi
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.249

Abstract:
[email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk kandang ayam dan dosis pupuk hayati ekstragen yang tepat sebagai upaya pengembangan tanaman okra (Abelmoschus esculentus) secara organik. Percobaan dilaksanakan mulai Maret sampai dengan Juni 2018 di lahan pertanian desa Pijot Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan adalah metode ekperimental dengan percobaan di lapangan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah Faktor kedua adalah pupuk kandang ayam dengan 4 taraf dosis yaitu 0 kg/plot, 7,5 kg/plot, 9,5 kg/plot, 11,5 kg/plot. pupuk hayati ekstragen dengan 4 taraf dosis yaitu 0 ml/tanaman, 9,3 ml/tanaman, 13,8 ml.tanaman, 18,6 ml/tanaman. Terdapat 16 kombinasi perlakuan dan 48 petak percobaan. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, apabila berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk kandang ayam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif terutama pada laju pertambahan diameter batang tanaman dan pertumbuhan generatif. Pupuk hayati ekstragen berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Disarankan untuk melakukan penelitian pada dosis pupuk kandang ayam untuk budidaya okra adalah 9,5 kg/plot atau sama dengan 25 ton/ha karena berbeda nyata dengan dosis 0 kg/plot, namun berbeda tidak nyata dengan dosis 7,5 kg/plot dan 11,5 kg/plot pada penelitian ini, sedangkan dosis pupuk hayati ekstragen disarankan melakukan penelitian lebih lanjut karena tidak adanya pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Kata kunci: Okra, pupuk hayati ekstragen, pupuk kandang ayam
Karwati Zawani
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 1-8; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.244

Abstract:
Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian hibridisasi antar spesies melon bulat kuning dengan blewah lonjong lokal. Dalam penelitian tahap ketiga ini dilakukan evaluasi generasi F3 dari hasil hibridisasi tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan informasi ciri kualitatif dan kuantitatif buah keturunan F3. Benih untuk keperluan penelitian ini dipilih hasil seleksi dari populasi tanaman keturunan F2 yaitu: (1) benih dari buah dengan karakter kulit berjaring, daging buah warna oranye; (2) benih dari buah dengan karakter kulit buah beralur bergaris, daging buah warna oranye dan (3)benih yang diambil dari buah dengan karakter kulit mulus, daging buah warna putih hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah keturunan F3 mempunyai ciri yang bervariasi. Bobot buah berkisar antara 0,282 kg dan 1,3 kg dengan tingkat kemanisan berkisar antara 2-4 brix. Dari pengamatan kualitatif diketahui bahwa ada buah yang masih membawa ciri masing-masing tetua, ada yang merupakan penggabungan sifat kedua tetua, dan ada yang menunjukkan ciri yang benar-benar baru. Seleksi lanjutan masih dilakukan untuk mendapatkan buah dengan ciri yang baik secara kuantitas dan kualitas.
Sukartono Sukartono
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 9-19; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.247

Abstract:
Application of biochar to agriculture soils has been considered as means to improve soil quality and carbon sequiestration. Therefore, the understanding of chemical and physical properties of biochars is important to identify suitable use of biochar for improving soil fertility and carbon sequestration. Biochars were produced from phyrolizing five different feedstock from crops residues (rice straw- BPJ, rice husk- BPS, maize cobs- BJT, peanuts shell- BKC and soybean residues-BKE). Using muffle furnace heating under 400oC. The potential nutrients retention of those biochars in particular for NH4+, K+. Ca++, dan Mg++. was tested. througha leaching experiment established in Soil Physic laboratory at Faculty of Agriculure, University of Mataram . The physicochemical properties of biochars were likely varied among fives feedstocks. The biochars derived from soybean residues (BKE), peanut biomass (BKC) and maize cobs (BJT) contained higher mutrients (i.e. C, N, K, Ca and Mg) compared to biochars produced from rice straw (BJP) and rice husks (BPS). Total-C of BKE, BKC dan BJT were 51,73; 57,36 dan 53,53 % respecively. The variation of phyisicochemical properties from different biomass strongly related to different nutrient retention whenever the biochars are applied in soils. Biochars produced from legume crops biomass such as soybean and dan peanuts werethe highest nutrients retention, followed by maize cobsand rice straw biochars. Unde glass house test, the tree biochars namely BPS, BJT and BKE have similar effect on N,P, K uptake as well as to dry weight biomass.
Habiburrahman Habiburrahman HabiburRahman
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 90-102; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.251

Abstract:
This research was aimed to know the phosphorus availability in rice fields based on use intensity in Sub District of Gerung West Lombok Regency. The research conducted from February 2018 until April 2018 with 3 location criteria (Less Intensive, Intensive, Very Intensive). Method which used is descriptive method with survey technical. The results showed, the phosphorus availability on intensive rice field in all criteria location is range from high to very high containing. The land use with very intensive (3 times plant) indicate very high accumulation of nutrient P with the range 85% of the land area was researched. Correlation of using SP36/TSP with availability of P in each location criteria have a positive relationship and which have a very strong correlation ( r = 0.994) that is in Less Intensive location. Keywords : Phosphorus Availability, Intensive Rice Fields
Emi Iryani, Wayan Wangiyana, Ni Wayan Dwiani Dulur
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 59-68; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.315

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan hasil lima varietas kacang tanah antara penanaman secara tunggal dan bersama padi beras merah pada sistem aerobik, dengan melaksanakan percobaan penanaman di pot dalam rumah plastik. Percobaan ditata menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan yang ditata secara factorial, yaitu varietas kacang tanah (Biawak, Hypoma 1, Galur G300-II, lokal Wajik dan lokal Bima) dan pola tanam (secara tunggal dan bersama padi beras merah), dan setiap kombinasi perlakuan dibuat dalam 3 ulangan. Data dianalisis dengan analisis keragaman (ANOVA) dan uji Beda Nyata Jujur (Tukey’s HSD) pada taraf nyata 5%, menggunakan program CoStat for Windows ver. 6.303. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh interaksi antara pola tanam dan varietas terhadap berat berangkasan segar dan berat polong kering per rumpun, yang menunjukkan perbedaan respon antar varietas kacang tanah terhadap pola tanam. Dibandingkan dengan sistem monokrop, penanaman bersama padi signifikan menurunkan berat berangkasan segar, tetapi hanya pada varietas Hypoma-1, dan menurunkan berat polong kering, tetapi hanya pada varietas Hypoma-1 dan galur G300-II. Namun, hasil biji per rumpun secara umum tidak dipengaruhi oleh pola tanam, dan bahkan ada kecenderungan jumlah biji per rumpun lebih tinggi pada penanaman bersama padi, pada varietas Biawak dan lokal Wajik. Sebaliknya, berat 20 biji, jumlah daun dan jumlah cabang rata-rata lebih rendah, tetapi tinggi tanaman lebih tinggi, pada penanaman bersama padi dibandingkan pada sistem monokrop.
Anharil Jannah
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 38-45; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.239

Abstract:
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik, anorganik dan pupuk hayati terhadap sifat fisik tanah yang ditanami tanaman cabai merah. Percobaan ini dilaksanakan dari bulan April 2018 hingga Juli 2018. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Lengkap yang terdiri dari 8 perlakuan yaituP0 = TanpaPerlakuan (Kontrol), P1 = 100% PupukAnorganik (NPK) rekomendasi250 kg/ha, P2 = 100% PupukOrganik (KomposKrinyu) rekomendasi 10 ton/ha, P3 = 100% PupukHayati (Bio-Extrim) rekomendasi 2 liter/ha, P4 = Kombinasi 50% NPK + 50% KomposKrinyu, P5 = Kombinasi 50% NPK + 50% Bio-Extrim, P6 = Kombinasi 50% KomposKrinyu + 50% Bio-Extrimdan P7 = Kombinasi 33,3% NPK + 33,3% KomposKrinyu + 33,3% Bio-Extrim. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 24 plot percobaan. Data hasilpercobaandianalisismenggunakananalisiskeragaman (Analysis of varian)padatarafnyata 5%. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwapemberianpupuk organik, anorganik dan pupuk hayati tidak memberikan pengaruh terhadap perubahan sifat fisik tanah. Hal ini dikarenakan sifat fisik tanah tidak dapat berubah secara signifikan pada jangka waktu yang singkat. Tetapi pemberian pupuk berpengaruh pada berat berangkasan basah tanaman cabai merah.
Husnul Khotimah
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 29-37; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.253

Abstract:
Okra (Abelmoschus esculentus L.) is one of horticulture crop that contain high nutrition. Growth and yield of this crop determined by genetic and environment factor especially water. The objective of this research was to know the effect of drought stress toward growth and yield of several okra genetypes. This research was undertaken in plastic house, Batu Kuta village Sub regency of Narmada using Split Plot design with drought stress as main plot and genotype as sub plot. Main plot consist of drought stress and without drought stress. Sub plot consist of Dompu genotype, Hybrid genotype, Red genotype and Long genotype. Every treatment combination was replicated three times. Result of this study showed that interaction between treatment and genotype of okra effected on canopy wet weight, canopy dry weight, plant height at 60 days after planting, number of leaf at 30, 60 and 90 days after planting, number of flower becoming fruit and number of good fruit. Treatment of okra genotype effected on almost all parameters except wet weight of root, dry weight of root and diameter of stem 30 days after planting. While, treatment of drought stress only effected on canopy wet weight and plant height at 60 and 90 days after planting. Long genotype had the best growth on the condition of drought. Red genotype had the best number of good fruit on the condition of drought stress and without drought stress.
Muhammad Suryadi, Mulyati Mulyati, I Komang Damar
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 46-58; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.260

Abstract:
ABSTRAK Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas lahan dan produksi tanaman adalah dengan mengaplikasikan pupuk hayati dan pupuk anorganik. Penelitian ini bertujuan mempelajari efektivitas dari pemberian pupuk hayati Petrobio dan pupuk anorganik NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kol bunga (Brassica oleraceea var. botrytis L.). Satu percobaan lapang dilaksanakan dari bulan April sampai dengan Juni 2017 di Desa Perian, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Perlakuan yang diuji terdiri atas dua faktor, yaitu faktor pupuk Petrobio dan faktor dosis pupuk NPK. Pupuk Petrobio (P) terdiri atas tiga aras yaitu: p0= 0 kg , p1= 30 kg , p2= 60 kg dan faktor kedua, dosis pupuk NPK (K), terdiri atas dua aras yaitu: k1= 150 kg , k2= 300 kg . Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola faktorial 3x2, masing-masing perlakuan diulangi 3 kali sehingga didapat 18 unit perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas Petrobio meningkat dengan meningkatnya dosis dibarengi dengan dosis pupuk NPKyang tinggi. Hasil terbaik didapat dari interaksi antara dosis Petrobio 60 kg dan NPK 300 kg yang menghasilkan rerata tertinggi pada berat berangkasan basah. ABSTRACT One of the ways to improve land and crop productivity is by applying biofertilizer and inorganic fertilizer. The aim of this research was to study effectivity of biofertilizer of Petrobio and inorganic fertilizer of NPK applications on growth and yield of cauliflower (Brassica oleraceea var. botrytis L.). One experiment was conducted from April to July 2017 in Perian village, sub-district of Montong Gading, East Lombok, Nusa Tenggara Barat. Treatments tested consisted of two factors, Petrobio fertilizer and NPK fertilizer. Petrobio fertilizer (P) consisted of three levels, namely: p0= 0 kg , p1= 30 kg , p2= 60 kg and the second factor, NPK fertilizer dosage, consisted of two levels, k1= 150 kg and k2= 300 kg . The treatments were arranged in a 3 x 2 factorial using Randomized Block Design with three replications. All together there were 18 experimental units tested. The results of the experiment showed that Petrobio effectivity increased with the increased of dosage following a high dosage of NPK fertilizer. The best result was achieved in an interaction of Petrobio 60 kg and NPK 300 kg that resulted in the highest of fresh weight of the crop biomass.
Muji Bptp
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy, Volume 12, pp 20-28; https://doi.org/10.29303/caj.v12i01.252

Abstract:
True Shallot Seed(TSS) is a new agricultural innovation technology as a solution to overcome the problems of shallot production in Indonesia. Many factors influence the successful of TSS production such as climate, availability of pollinator insects, quality of shallot bulbs used and various other technological components in spurring the formation of flowers and true seed yield. Vernalisation is one of the important components in the successful production of TSS. This research aim to observe growth performance and productivity of shallot growing from bulbs and viability of true seed yield based on different vernalisation period. The research consists of two stages, the first phase investigate growth variability and TSS yield by testing 4 treatments with 3 replications. The treatments were: 1) without vernalisation, 2)2 weeks vernalisation period, 3) 4 weeks vernalisation period and 4) 6 weeks vernalisation period.The experiment was conducted in East Lombok - Indonesia from May to November 2016, followed by the second phase from December 2016 to January 2017 by testing the viability of TSS produced from first phase. The results showed that 4 weeks vernalisation period gave the best growth performance as indicated by the fastest flower occurring time, largest flower diameter, and highest number of seed yield. In addition, TSS from 4 weeks vernalisation period showed the highest viability in the field.
Back to Top Top