Journal of Livestock and Animal Health

Journal Information
ISSN / EISSN : 2655-4828 / 2655-2159
Published by: Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (10.32530)
Total articles ≅ 32
Filter:

Latest articles in this journal

Rikardo Silaban, Angelia Utari Harahap
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 15-20; https://doi.org/10.32530/jlah.v4i1.317

Abstract:
Produksi limbah pelepah tanaman salak Sidimpuan (Salacca sumatrana Becc) dipandang potensial dalam penyediaan pakan alternatif untuk ternak ruminansia. Selain itu, cemaran limbah tersebut dapat menurunkan metabolisme hara tanah untuk pertumbuhan tanaman induk. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi produksi biomassa nutrisi limbah pelepah tanaman salak setelah difermentasi dengan menggunakan kapang pelapuk putih (Phanerochaete chrysosporium). Produksi bahan baku segar limbah diperoleh setelah menggiling pelepah salak utuh dan dilanjutkan dengan proses fermentasi dengan memanfaatkan inokulan lignin degradator dan dilanjutkan dengan analisa proksimat di Laboratorium Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jambi. Kapang spesies Phanerochate chrysosporium masing-masing 0%, 10%, 15% dan 20% diinokulasikan kedalam substrtat konsentrat kasar limbah pelepah tanaman salak. Penelitian menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 10 ulangan. Parameter penelitian meliputi nutrisi kadar air, bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan fraksi serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan inokulan sampai 20% berpengaruh nyata (P
Rajab Rajab, Bercomien J. Papilaya, Tria F. K. Dewi
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 21-26; https://doi.org/10.32530/jlah.v4i1.357

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status populasi kerbau lokal didasarkan pada struktur populasi dan laju silang dalam per generasi. Survey dilakukan pada dua desa yang masih memelihara kerbau di Kecamatan Waeapo, dan pengambilan data dengan metode sensus terhadap semua peternak kerbau. Variabel yang diamati meliputi struktur populasi, populasi aktual, populasi efektif dan laju silang dalam per generasi. Hasil penelitian menunjukkan populasi kerbau yang terdapat di Kecamatan Waeapo sebanyak 374 ekor dengan komposisi berikut anak jantan 8,56% ; anak betina 7,49% (1,14 : 1), muda jantan 11,5% ; muda betina 10,96% (1,05 : 1), dan dewasa jantan 18,72% ; dewasa betina 42,78% (1 : 2,29). Ukuran populasi aktual kerbau lokal adalah 230 ekor, dengan ukuran populasi efektif sebesar 194 ekor. Laju silang dalam (inbreeding) per generasi adalah 0,26%. Mengindikasikan bahwa belum terjadinya tekanan silang.
Arief Arief, Elly Roza, Bonica Oktaviona
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 7-14; https://doi.org/10.32530/jlah.v4i1.316

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aspek teknis pemeliharaan kambing Peranakan Etawa (PE) berdasarkan panduan Good Dairy Farming Practice (GDFP) di PT. Boncah Utama Kabupaten Tanah Datar. Metode yang digunakan adalah survey dan observasi langsung di Usaha Peternakan kambing PE PT Boncah Utama dan analisis laboratorium. Sebaanyak 15 ekor kambing PE diberi perlakuan dengan menerapkan Good Milking Practices (GMiP). Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Peubah yang diamati adalah total plate count dan evaluasi aspek teknis pemeliharaan menggunakan kuisioner yang berpedoman pada pelaksanaan GDFP modifikasi dari metode FAO/IDF (2010) dan penghitungan kandungan total bakteri susu (Total Plate Count). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan GDFP di Peternakan Kambing PE PT Boncah Utama Kabupaten Tanah Datar sudah cukup baik dan analisis keragaman terhadap TPC menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap total plate count susu (P
Deki Zulkarnain, A Selamet Aku, Rahmatullah Rahmatullah, Laode Muh Munadi
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 1-6; https://doi.org/10.32530/jlah.v4i1.291

Abstract:
UPSUS SIWAB adalah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan populasi sapi melalui perbaikan manajemen pemeliharaan dan reproduksi ternak. Salah satu kendala dalam pencapaian program tersebut adalah infeksi penyakit. Infestasi parasit cacing dilaporkan mampu menurunkan produktivitas ternak seperti penurunan bobot badan, daya kerja, kualitas daging, kulit, jeroan, dan terhambatnya pertumbuhan pada sapi muda serta berpotensi sebagai penular penyakit pada manusia (agen zoonosis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi cacing Fasciola hepatica (F. hepatica) pada sapi akseptor program UPSUS SIWAB di Kabupaten Muna. Sebanyak 270 sampel feses sapi dikoleksi dari sembilan kecamatan menggunakan metode random sampling. Variabel yang diamati, yaitu jenis telur cacing yang menginfestasi sapi akseptor menggunakan metode natif dan pembesaran mikroskop 100x (10x10). Selanjutnya, data dianalisis menggunakan persamaan prevalensi. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat prevalensi kejadian F. hepatica di Kabupaten Muna adalah 4,9%. Berdasarkan lokasinya, infestasi cacing F. hepatica dideteksi pada sapi akseptor yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Parigi (0,74% ; 2/270), Lasapela (0,37% ; 1/270), Kabawo (2,59% ; 7/270), Watopute (0,37% ; 1/270) dan Tangkuno Selatan (0,74% ; 2/270). Faktor yang diduga berpengaruh terhadap variasi infeksi ini adalah sistem pemeliharaan ternak, keberadaan inang perantara dan tampungan air serta metode diagnose yang digunakan pada studi ini.
Delli Lefiana, Dasrul Dasrul, Sugito Sugito, Rizki Ardyes
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 27-32; https://doi.org/10.32530/jlah.v4i1.359

Abstract:
Hiperkolesterolemia merupakan penyebab penyakit kardovaskular yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol dalam darah dan radikal bebas yang merusak sel endotel pembuluh darah. Resiko tersebut dapat diturunkan dengan pemberian vitamin, antioksidan, antikolesterol yang terkandung di dalam buah dan sayuran seperti tomat dan wortel. Tujuan dari penelitian adalah menguji pengaruh pemberian ekstrak tomat dan wortel terhadap kadar kolesterol total darah dan enzim glutation peroksidase (GPx) pada hati tikus putih hiperkolesterolemik. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih yang dikelompokkan menjadi empat perlakuan, yaitu kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan standar (KN), kelompok kontrol positif yang diberikan pakan tinggi kolesterol (KP), kelompok tikus diberikan pakan tinggi kolesterol dan ekstrak tomat 50 mg/kg bb (K I), dan kelompok tikus diberikan pakan tinggi kolesterol dan ekstrak wortel 50 mg/kg bb (K II). Sebelum perlakuan tikus diadaptasikan selama 1 minggu, perlakuan diberikan selama 45 hari. Pemicu terjadinya hiperkolesterolemia pada hewan coba disebabkan oleh pakan tinggi kolesterol yang diberikan sebelum perlakuan dengan ekstrak tomat dan wortel. Pada hari ke 45 dilakukan pengambilan darah melalui ekor untuk pemeriksaan kadar kolesterol total darah, selanjutnya tikus dieuthanasia dan diambil organ hati untuk pemeriksaan enzim GPx. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan homegenitas menggunakan uji Levene. Kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan yang nyata (P0,05) antara KN dibandingkan dengan KI dan KII. Berdasarkan hal tersebut disimpulkan bahwa pemberian ekstrak tomat 50 mg/kg bb dan ekstrak wortel 50 mg/kg bb selama 45 hari dapat menghambat peningkatan kadar kolesterol total darah dan menghambat penurunan kadar enzim GPx pada hati tikus putih hiperkolesterolemik.
Yurni Sari Amir, Prima Silvia Noor, Sujatmiko Sujatmiko, Nelzi Fati, Toni Malvin
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 61-67; https://doi.org/10.32530/jlah.v3i2.272

Abstract:
Penelitian broiler dengan pemberian tanaman obat sebagai feed additive dalam ransum berupa tepung daun salam, daun pepaya, daun jambu biji dan tepung daun miana untuk melihat pengaruhnya terhadap performa broiler. Penelitian dilakukan selama 2 bulan yang dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak dan di kandang broiler Laboratorium Produksi Ternak. Broiler yang digunakan 100 ekor umur satu hari. Pakan yang diberikan ransum adukan yang terdiri dari jagung, bungkil kedele, tepung ikan, tepung mie, minyak, top mix. Perlakuan yang diberikan adalah daun salam (Eugenia polyantha Wight), daun pepaya (Carica papaya Linn), daun jambu biji (Psidium Guava L) dan daun miana (Coleus scutellarioides) yang dijadikan tepung. Rancangan yang digunakan adalah RAL, dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu ransum adukan 100% sebagai kontrol (A), penambahan 0,5% tepung daun salam pada ransum adukan (B), penambahan 0,5% tepung daun pepaya pada ransum adukan (C), penambahan 0,5% tepung daun jambu biji pada ransum adukan (D) dan penambahan 0,5% tepung daun miana pada ransum adukan (E). Parameter penelitian adalah menghitung konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Hasil penelitian didapatkan bahwa tanaman obat sebagai feed additive dalam ransum memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum.
Ayu Lestari, Anwar Efendi Harahap, Wieda Nurwidada Haritsah Zain
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 49-53; https://doi.org/10.32530/jlah.v3i2.249

Abstract:
Limbah daun ubi kayu dapat menjadi solusi dalam persoalan penyediaan bahan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas nutrisi yang terkandung dalam silase daun ubi kayu dengan penambahan molases dan lama penyimpanan yang berbeda. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial (3x3) dengan 3 ulangan. Faktor A adalah level penambahan molases 0%, 7%, dan 14%. Faktor B lama penyimpanan 0 hari, 14 hari, dan 28 hari. Parameter yang diukur adalah bahan kering (%), protein kasar (%), lemak kasar(%), serat kasar (%), abu (%) dan BETN (%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian level molases dan lama penyimpanan mampu menurunkan (P
Akhmad Rizaldi, Engki Zelpina
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 45-48; https://doi.org/10.32530/jlah.v3i2.273

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui total jumlah mikroba dan Coliform pada telur ayam yang dijual di Pasar Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Total Sampel adalah 20 butir, dari seluruh pedagang telur ayam yang berjumlah 5 pedagang. Pengujian jumlah total mikrob (TPC) dan Coliform pada telur menggunakan metode SNI: 2897:2008 tentang Metode Pengujian Cemaran Mikroba dalam Daging, Telur dan Susu serta Hasil Olahannya. Hasil penelitian menunjukkan TPC
Siska Adelia, Depison, Eko Wiyanto
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 54-60; https://doi.org/10.32530/jlah.v3i2.256

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fenotipe sapi Simbal jantan dan betina di Kabupaten Merangin. Metode yang digunakan yaitu survey. Teknik pengambilan sampel secara purpossive sampling. Umur I1 dan tidak dalam keadaan bunting. Jumlah sampel sebanyak 60 ekor terdiri dari 30 ekor betina dan 30 ekor jantan. Data yang dihimpun karakteristik kualitatif meliputi warna bulu dan ada tidaknya tanduk. Karakteristik kuantitatif meliputi Bobot Badan, Pertambahan Bobot Badan, Tinggi Pundak, Panjang Badan, DalamDada, Lingkar Dada, Lebar Dada, Lingkar Kanon dan Tinggi Pinggul. Karakteristik kualitatif dianalisis secara deskriptif sedangkan karakteristik kuantitatif di analisis menggunakan uji beda rata-rata (uji-t), Analisis Komponen Utama, Analisis regresi dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik kualitatif sapi Simbal jantan dan betina yaitu memiliki warna bulu dominan coklat belang putih dan bertanduk. Karakteristik kuantitatif sapi Simbal jantan dengan sapi Simbal betina berbeda nyata (P
Astri Dwyanti Tagueha
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 39-44; https://doi.org/10.32530/jlah.v3i2.261

Abstract:
Brusellosis merupakan penyakit ekonomis pada hewan yang bersifat infeksius dan mudah menyebar. Evaluasi keberadaan reaktor di titik penyebaran seperti RPH penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi reaktor brusellosis pada sapi di RPH Kota Ambon. Variabel yang diamati yaitu asal sapi, umur, jenis kelamin, dan status kebuntingan. Besaran sampel ditentukan berdasarkan rumus deteksi penyakit dengan tingkat konfidensi 95%, asumsi prevalensi 2%, dan error 0,05. Sebanyak 175 sampel darah diambil untuk pemeriksaan Rose Bengal Test (RBT) dan dikategorikan reaktor jika muncul reaksi aglutinasi pada saat pengujian. Hasil penelitian menunjukkan 10.29% sapi adalah reaktor. Diantara sejumlah sapi yang berstatus reaktor, 55.56% berasal dari Pulau Seram, 88.89% berumur > 1,5 tahun, 66.67% adalah betina, dan 75% positif bunting. Hasil ini perlu divalidasi dengan Complement Fixation Test (CFT) sehingga dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan program monitoring dan survailans secara berkelanjutan
Back to Top Top