Medical Technology and Public Health Journal

Journal Information
ISSN / EISSN : 2549-189X / 2549-2993
Current Publisher: Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (10.33086)
Total articles ≅ 93
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Ake Langingi, Sudirman Sudirman, Grace I. V. Watung
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 121-126; doi:10.33086/mtphj.v4i2.1757

Abstract:
Masa lanjut usia merupakan masa dimana disebut dengan istilah penuaan (proses terjadinya tua) yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya. Masa lansia rentan dengan hipertensi. Ini tentunya berdampak pada resiko mengalami gangguan kesehatan salah satunya penyakit yang sering dijumpai pada lansia yaitu hipertensi. Tujuan penelitian: mengetahui hubungan perilaku dan jarak fasilitas kesehatan dengan pemanfaatan posyandu lansia di desa muntoi Timur, Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow. Metode penelitian: jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lanjut usia di Desa Muntoi, sedangkan sampel juga sebanyak 40 lanjut usia. Hasil: Berdasarkan hasil uji kolerasi antara variabel perilaku dan jarak fasilitas dengan pemanfaatan posyandu lansia menggunakan uji Chi Square, menunjukan terdapat hubungan antara perilaku dengan pemanfaatan posyandu lansia di Puskesmas Passi Barat (p=0,000); ada hubungan jarak fasilitas kesehatan dengan pemanfaatan posyandu lansia (p=0,000). Kesimpulan: Variabel perilaku, Jaminan kesehatan dan jarak fasilitas posyandu lansia berdampak positif terhadap pemanfaatan posyandu lansia di Desa Muntoi kecamatan Passi barat. Lansia yang wajib mengikuti posyandu lansi di desa Muntoi sebagian besar 60% berumur ≥ 69 tahun dan 40% lainnya telah berumur 60-68 tahun. Sebagian besar lansia tidak dapat mengakses posyandu lansia apabila memiliki jarak yang ≥ 500 M dari tempat tinggalnya. Saran: Diharapkan bagi penyedia dan pelaksana layanan kesehatan lansia agar memberi dukungan mobilisasi kepada setiap lansia di desa Muntoi agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien, demi terciptanya drajat kesehatan lansia yang lebih baik.
Novvy Anggraenny
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 191-201; doi:10.33086/mtphj.v4i2.845

Abstract:
Hipertensi dapat disebabakan oleh perilaku merokok. Jumlah konsumsi rokok di Indonesia merupakan yang terbanyak ketiga di seluruh dunia dan sekitar 225.700 orang yang telah meninggal diakibatkan penyakit karena konsumsi tembakau di tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku merokok dan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik pada awak kapal diwilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Palangkaraya bulan November 2018. Penelitian ini adalah penelitian jenis observasional analitik yang menggunakan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini menggunaka semua populasi awak kapal pada bulan November 2018 di kantor induk wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Palangkaraya. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menghitung nilai Prevalance Ratio. Hasil penelitian ini menyebutkan sebesar 77,80% subyek memiliki perilaku merokok, subyek yang mempunyai tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg adalah 20,3% dan subyek memiliki tekanan darah distolik ≥ 90 mmHg adalah 14,8 %. Hasil PR untuk perilaku merokok adalah 2,8; jumlah rokok yang dikonsumsi ≥11 batang/hari adalah 2,0; jumlah rokok 1-10 batang/hari adalah 4,0; hasil tersebut menyatakan ada hubungan antara perilaku merokok dengan tekanan darah sistolik. Hasil PR untuk perilaku merokok adalah 2,0, jumlah rokok yang dikonsumsi ≥11 batang/hari adalah 1,5; jumlah rokok 1-10 batang/hari adalah 2,6; hasil tersebut menyatakan ada hubungan antara perilaku merokok dengan tekanan darah distolik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perilaku merokok berhubungan dengan nilai tekanan darah sistolik dan tekanan darah distolik, perilku merokok berpotensi menigkatnya risiko memiliki tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg.
Merry Sunaryo, Muslikha Nourma Rhomadhoni
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 171-180; doi:10.33086/mtphj.v4i2.1635

Abstract:
Pada Iklim kerja dengan suhu panas berawal dari timbulnya energi yang bersumber dari panas yang masuk ke lingkungan atau tempat kerja kemudian jadi tekanan yang panas, hal tersebut menjadi beban kerja tambahan untuk pekerja. Kondisi seperti itu memengaruhi kesehatan dan energi/ stamina pekerja jika dihubungkan dengan beban kerja berat yang dikerjakan. Kondisi Iklim kerja dengan suhu panas dapat memperberat kondisi kesehatan fisik dan mental pekerja. Dampak yang sering terjadi pada pekerja akibat iklim kerja panas yaitu dehidrasi dan keluhan kesehatan lain seperti heat rash. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan pengendalian iklim kerja dengan keluhan kesehatan pada pekerja, hasil tersebut nantinya akan dibandingkan dengan nilai ambang batas sehingga dapat dijadikan dasar dalam melakukan tindakan pengendalian dalam upaya pencegahan penyakit akibat kerja pada industri. Pengukuran Iklim kerja yang dilakukan pada bagian kerja di indutri pembuatan lilin, diketahui memiliki hasil yaitu sebagian besar memiliki nilai ISBB > 30oC. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan beban kerja pada pekerja yaitu beban kerja dengan tingkatan sedang dengan waktu kerja 75% hingga 100% dengan 25% waktu beristirahat. Berdasarkan hasil rata-rata 10 titik dari ke dua bagian kerja di industri tersebut, sebagian besar nilai ISBB hasil pengukuran lebih besar dari nilai NAB yang telah ditetapkan, dengan nilai NAB 28oC. Pada keluhan kesehatan yang sering di rasakan oleh pekerja yaitu dehidrasi banyak dirasakan oleh pekerja karena pekerja yang jarang mencukupi asupan cairan atau air. Begitu pula pada keluhan heat rash, keluhan ini dirasakan para pekerja yang jarang menjaga hieginitas diri. Oleh sebab itu, perlunya pengendalian iklim kerja baik dalam lingkungannya maupun pekerjanya. Pengendalian tersebut seperti Training (pendidikan/latihan), Pengendalian tekanan panas melalui penerapan hygiene.
Farida Wahyu Ningtyias, Dian Septiawati Endariadi Endariadi, Ninna Rohmawati Rohmawati
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 146-158; doi:10.33086/mtphj.v4i2.839

Abstract:
Balita Bawah Garis Merah (BGM) merupakan hasil penimbangan berat badan balita yang dititikkan dalam kartu menuju sehat (KMS) berada di bawah garis merah. Studi pendahuluan yang telah dilakukan bahwa jumlah balita BGM di Puskesmas Mumbulsari adalah 178 balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan kejadian balita bawah garis merah (BGM) di wilayah kerja Puskesmas Mumbulsari Kabupaten Jember. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Sampel pada penelitian ini menggunakan Simple random sampling (63 balita BGM). Hasil penelitian yang telah dilakukan pada ibu/pengasuh balita yang meliputi karakteristik balita adalah 41,3% (12-24 bulan), 55,6% perempuan, 71,4% tidak BBLR, karakteristik ibu meliputi pendidikan ibu 96,8% tamat SD/MI/SMP/MTS, 76,2% tidak bekerja, 79,4% pengetahuan cukup, karakteristik keluarga 98,4% ayah bekerja, pendapatan keluarga 98,4% (
Beri Setiawan, Akhmad Fauzan, Norfai
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 134-145; doi:10.33086/mtphj.v4i2.1633

Abstract:
Berdasarkan data dari Dirjen Minerba tahun 2019 terjadi 1 kasus kecelakaan fatality di Batu Kajang Kalimantan Timur karena kelelahan, sedangkan di PT. Hasnur Riung Sinergi tahun 2018 1 kasus kecelakaan property damage karena kelelahan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kelelahan seperti beban kerja, faktor lingkungan, individu dan faktor pekerjaan. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kelelahan kerja dengan masa kerja dan usia pada driver dump truck di PT. Hasnur Riung Sinergi Site PT. Bhumi Rantau Energi tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan teknik purposive sample. Pengolahan data menggunakan uji chi-square. Populasi pada penelitian ini sebanyak 139 orang dari driver dump truck. Tingkat kelelahan kerja dari driver dump truck yang paling banyak yaitu lelah ringan (74,1%), ditinjau dari masa kerja yang paling banyak >3 tahun sebanyak 74 orang (53,2%), ditinjau dari usia yang paling banyak yaitu >30 tahun sebanyak 90 orang (64,7%). Ada hubungan masa kerja dengan tingkat kelelahan kerja (p-value = 0,038) dan tidak ada hubungan usia dengan tingkat kelelahan kerja (p-value = 0,938). Perusahaan sebaiknya memperhatikan terkait akumulasi kelelahan, jadwal cuti karyawan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, peningkatan skill dan tidak memperkerjakan driver dump truck dalam keadaan lelah dan program kesehatan kerja terkait kelelahan dilakukan secara berkala.
Mahstika Reina Angie Yolanda
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 159-170; doi:10.33086/mtphj.v4i2.816

Abstract:
Perkembangan jumlah populasi penduduk berkategori lansia di Indonesia mampu membawa dampak negative maupun positif. Memiliki dampak positif jika penduduk kategori lansia masih aktif dan produktif serta dalam kondisi sehat. Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami perubahan-perubahan akibat proses penuaan. Salah satu permasalahan yang sering dijumpai pada lansia selain adalah permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan mental atau psikologis. Pengurangan fungsi kognitif dalam tingkat ringan sampai demensia dapat ditemukan pada orang tua dengan kelompok umur lebih dari 65 tahun sebesar 10% dan kelompok umur lebih dari 85% sebesar 50%. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Data yang digunakan merupakan data primer yang didapatkan dari 52 lansia yang memenuhi kriteria inklusi untuk penelitian ini. Pengumpulan data meliputi data karakteristik, pengukuran fungsi kognitif, status nutrisi dan aktivitas fisik. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengunakan perhitungan nilai Ratio Prevalance (RP) dan uji statistik menggunakan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia yang mengalami penurunan fungsi kognitif sebesar 38,5%. Responden berpendidikan SD, SMP dan tidak sekolah mengalami penurunan fungsi kognitif (p=0.013) dengan nilai RP=1,84. Responden yang tidak memiliki pasangan mengalami penurunan fungsi kognitif (p=0,039). Responden dengan status nutrisi normal maupun malnutrisi tidak mengalami penurunan fungsi kognitif (p=0,194). Tingkat pendidikan dan status perkawinan berhubungan secara signifikan dengan fungsi kognitif lansia. Keluarga dan tenaga kesehatan sebaiknya memberikan dukungan agar lansia tidak mengalami penurunan fungsi kognitif.
Siti Khairiah
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 238-249; doi:10.33086/mtphj.v4i2.797

Abstract:
Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak terduga saat kapan akan terjadi dengan banyaknya penyebab yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja tersebut. Salah satu penyebab terjadinya kecelakaan kerja adalah unsafe action (tindakan kerja tidak aman). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara faktor unsafe action dengan terjadinya kecelakaan kerja pada pekerja proyek konstruksi. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan rancang bangun penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 179 responden, namun dilakukan metode sampel secara random sampling dengan (α=0,05) sebanyak 122 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan hasil wawancara yang dilakukan. Variable independent yaitu unsafe action (membuang sampah sembarangan, tidak menggunakan APD, melewati batas aman, tidak mematuhi aturan, melewati batas berat angkat beban, duduk di area yag berbahaya, meletakkan barang sembarangan, bekerja sambil bergurau, kurang pengetahuan, emosi tidak stabil, perilaku tidak baik, posisi yang dipaksakan, kurangnya istirahat, pengoperasian alat tanpa izin). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor duduk dan berdiri di area yang berbahaya merupakan faktor yang memiliki risiko bahaya tinggi terjadinya kecelakaan kerja dengan persentase 64,8% dan memiliki adanya hubungan antara faktor berdiri di area yang berbahaya terhadap kecelakaan kerja. Disarankan pada perusahaan untuk terus meminimalisir penyebab terjadinya kecelakaan pada kondisi lingkungan kerja.
Rahayu Budi Utami
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 212-223; doi:10.33086/mtphj.v4i2.806

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh angka beban ketergantungan, kepadatan penduduk, dan garis kemiskinan terhadap indeks gini di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari profil kesehatan Indonesia tahun 2016 dengan metode analisis menggunakan uji statistic regresi linear berganda atau Ordinary Least square (OLS). Berdasarkan hasil uji analisis didapatkan hasil bahwa angka beban keergantungan berpengaruh terhadap indeks gini dengan nilai sign sebesar 0,038, kepadatan penduduk berpengaruh terhadap indeks gini dengan nilai sign sebesar 0,017, dan garis kemiskinan berpengaruh terhadap indeks gini dengan nilai sign sebesar 0,000.
Permadina Kanah
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 203-211; doi:10.33086/mtphj.v4i2.1199

Abstract:
Status gizi merupakan keadaan yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik terhadap energi dan zat-zat gizi yang diperoleh dari asupan makanan yang dampak fisiknya dapat diukur. Status gizi dipengaruhi oleh faktor status kesehatan, pengetahuan, ekonomi, dan juga dapat dipengaruhi oleh pola konsumsi. Pengetahuan gizi yang rendah dapat penyebab timbulnya masalah gizi dan perubahan kebiasaan makan, serta pola konsumsi makanan bergizi pada masa remaja. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan pola konsumsi dengan status gizi pada mahasiswa Fakultas Kesehatan UNUSA. Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester 6 Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Prodi Gizi Fakultas Kesehatan UNUSA. Teknik pemilihan sampel dengan cara Purposive Sampling dan didapatkan jumlah sampel sebesar 79 mahasiswa. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner pengetahuan gizi, pola konsumsi dengan Food Frequency Questionnaire (FFQ), dan status gizi menggunakan pengukuran IMT. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur 21 tahun yaitu 46 mahasiswa (58,20%). Sebagian besar berjenis kelamin perempuan, yaitu 65 mahasiswa (82,30%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan, pola konsumsi dengan status gizi pada mahasiswa dimana p = 0,001 (p
Nia Astina, Akhmad Fauzan, Eddy Rahman
Medical Technology and Public Health Journal, Volume 4, pp 181-190; doi:10.33086/mtphj.v4i2.1632

Abstract:
Sampah merupakan bahan buangan padat dari aktivitas manusia, sampah sudah jadi masalah nasional dan global bukan hanya lokal. Masalah sampah timbul dengan adanya peningkatan timbunan sampah sebesar 2-4% pertahun. Pencemaran air sungai diakibatkan dari adanya pembuangan sampah yang dapat membawa dampak negatif pada kesehatan, salah satunya seperti meningkatnya penyakit diare. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam membuang sampah rumah tangga ke sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara pendidikan, pengetahuan, sikap dan ketersediaan sarana dengan perilaku membuang sampah rumah tangga ke sungai. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini semua ibu di Desa Pamarangan Kanan dengan jumlah 288 rumah tangga dan sampel sebanyak 74 responden, teknik pengampilan sampel dengan cara proportional random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dengan cara wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku membuang sampah rumah tangga di Desa Pamarangan Kanan sebagian besar kurang (60,8%). Ada hubungan pengetahuan dengan p-value 0,010, ada hubungan sikap dengan p-value 0,021, ada hubungan ketersediaan sarana dengan p-value 0,014, dan tidak ada hubungan pendidikan dengan p-value 0,634. Diharapkan kepada instansi yang terkait agar lebih aktif mengawasi dan memberikan pelayanan kebersihan lingkungan di desa-desa terpencil serta masyarakat agar selalu melakukan kegiatan pengelolaan sampah untuk kepentingan dan kenyamanan bersama.
Back to Top Top