Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan

Journal Information
ISSN / EISSN : 20855842 / 25280759
Current Publisher: universitas airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 277
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Ating Yuniarti, Nasrullah Bai Arifin, Muhammad Fakhri, Anik M. Hariati
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 51-58; doi:10.20473/jipk.v11i2.15250

Abstract:Bacillus is a species widely used as a probiotic in the aquaculture industry. The Bacillus spores have more advantages than their vegetative ones, and an addition of minerals such as calcium, magnesium, and manganese can improve the spore production. The purpose of this study was to determine the effect of different sources of manganese on the production and sporulation efficacy of B. subtilis SB3. The sources of manganese used in this study were manganese chloride (MnCl2) and manganese sulfate (MnSO4) at the concentration of 10 mM. Media without manganese supplementation was used as a control. The results showed that there was a significant effect of different manganese sources on the spore production of B. subtilis SB3. The highest spore production was found in media with MnCl2 supplementation with the total spore of 8.77 x 107 spores. mL-1. However, spore production with MnSO4 supplementation was still higher (22.7%) compared to that without manganese supplementation. The decrease in spore production with MnSO4 supplementation was possible due to the sulfate inhibition. The high spore production in media with MnCl2 supplementation was also preceded by the high production of vegetative cells from B. subtilis SB3 (2.54 x 108 cells. mL-1). The results indicated that manganese could stimulate both vegetative cell growth and its spores. The highest sporulation efficacy (35%) was also achieved in media with MnCl2 supplementation. On the other hand, the germination rate of B. subtilis SB3 spores was not influenced by manganese supplementation.Abstrak Bacillus adalah species yang banyak digunakan sebagai probiotik pada industri akuakultur. Dalam bentuk spora, species ini lebih banyak mempunyai kelebihan dibandingkan dalam bentuk vegetatifnya dan peningkatan produksi sporanya dapat dilakukan dengan penambahan mineral seperti kalsium, magnesium dan mangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sumber mangan yang berbeda terhadap produksi dan efisiensi sporulasi B. subtilis SB3 indigenous akuatik. Sumber mangan yang dipakai dalam penelitian ini adalah mangan klorida (MnCl2) dan mangan sulfat (MnSO4) sebanyak 10 mM dan sebagai kontrol digunakan media tanpa suplementasi mangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata penggunaan sumber mangan yang berbeda terhadap produksi spora. Produksi spora tertinggi didapatkan pada media dengan suplementasi MnCl2 sebanyak 8,77 x 107 spora. mL-1. Sedangkan produksi spora dengan suplementasi MnSO4 juga masih lebih tinggi (22,7%) dibandingkan tanpa suplementasi magan. Penurunan produksi spora pada media dengan penambahan mangan sulfat diduga karena adanya penghambatan oleh sulfat. Tingginya produksi spora pada media dengan suplementasi MnCl2 sebelumnya juga didahului dengan tingginya produksi sel vegetatif dari B. subtilis SB3 (2,54 x 108sel. mL-1). Hal ini menunjukkan bahwa mangan dapat menstimulasi baik pertumbuhan sel vegetatif dan sporanya. Efisiensi sporulasi tertinggi...
Ulung Jantama Wisha, Gunardi Kusumah
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 29-39; doi:10.20473/jipk.v11i2.13289

Abstract:Submarine Groundwater Discharge (SGD) has been found in the North Lombok Island. This phenomenon is strongly related to the watershed from Rinjani Mountain permeated in the form of underwater seepages. The largest seepage was observed in Krakas Beach. The emergence of these seepages may affect water quality and nutrient pollution in the surrounding by which the distribution is mainly induced by the tidal current regime. This study aimed to determine the influence of tidal current on low-temperature groundwater distribution and to analyze the environmental issues resulted from this phenomenon. Flow model and statistical analysis were employed to determine the transport pattern of SGD. The tidal current moved southwestward during the high tidal condition ranging from 0-0.15 cm/s. While tidal current flowed northeastward during the low tidal condition ranging from 0-0.3 cm/s. The temperature fluctuation follows the changes of surface elevation around SGD in which the correlation value between those two parameters reached 63 percent. This proves that the cold-water transportation depends on the fluctuation of tidal current (tidal pumping), resulting in the imbalanced ecosystem, especially during the high tidal condition when a greater water mass transport takes place.AbstrakKeluaran Air Tanah Lepas Pantai (KALP) telah ditemukan di utara Pulau Lombok. Fenomena ini sangat dipengaruhi oleh daerah aliran air Gunung Rinjani yang meresap dalam bentuk rembesan bawah air. Rembesan terbesar diketahui berada di Pantai Krakas. Kemunculan rembesan ini mungkin berdampak pada kualitas perairan dan polusi nutrien di sekitarnya yang mana distribusinya sangat dipicu oleh pengaruh arus pasang surut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari arus pasang surut terhadap distribusi air dingin dan menganalisis masalah lingkungan akibat dari kondisi tersebut. Arus pasang surut bergerak menuju barat daya saat kondisi pasang berkisar antara 0-0,15 cm/s, sedangkan arus pasang surut bergerak menuju timur laut pada kondisi surut berkisar antara 0-0,32 cm/s. Fluktuasi suhu mengikuti perubahan elevasi muka air di lokasi KALP dimana nilai korelasi dari kedua parameter tersebut mencapai 63 persen. Hal ini membuktikan bahwa transpor air dingin bergantung pada fluktuasi arus pasang surut, menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem, khususnya pada kondisi pasang ketika mekanisme transpor masa air yang lebih besar sedang berlangsung.
Awaludin Awaludin, Yulma Yulma
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 92-99; doi:10.20473/jipk.v11i2.13162

Abstract:Physalis angulata is a garden plant that has been widely used as a medicinal plant by the community. This plant contains secondary metabolites that can be used as medicine and nutrition enhancement. This study aims to identify the secondary metabolite compounds and their toxicity to the post-larva (PL) survival rate in tiger prawns. This study was conducted in several stages (1). P. angulata extraction using ethanol, (2) P. angulata GCMS test, (3) The identification of the secondary metabolites from P. angulata (4) LC50 test (Lethal Concentration 50) and (5) Data analysis. Based on the results of GCMS analysis, it was indicated that P. angulata contained the secondary metabolite compounds, including phenols, steroids, fatty acids, terpenoids, benzenes, and alkaloids. It is concluded that the compounds contained are presumed to be beneficial for prawn farming development in terms of disease prevention, growth acceleration, and egg quality improvement. Meanwhile, the toxicity test results by using tiger prawn larvae for 48 hours revealed that the safe concentration level used for prawn development by utilizing the cutleaf groundcherry extract was at 13.1 mg/l.AbstrakPhysalis angulata merupakan tumbuhan pekarangan yang telah banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat oleh masyarakat. Tumbuhan ini diduga memiliki metabolit sekunder yang dapat dimanfaatkan sebagai obat dan peningkatan nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi senyawa metabolik sekunder dan toksisitasnya terhadap sintasan post larva (PL) udang windu. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan (1). Ekstraksi P. angulata dengan menggunakan etanol, (2) Uji GCMS P. angulata, (3) Identifikasi metabolit sekunder dari P. angulata (4) Uji LC50 (Lethal Concentration 50) dan (5) Analisis data. Berdasarkan hasil analisis GCMS menunjukkan bahwa P. angulata mengandung metabolit sekunder golongan senyawa antara lain fenol, steroid, asam lemak, terpenoid, benzene dan alkaloid. Senyawa- senyawa yang terkandung tersebut diduga dapat dijadikan sebagai pengembangan budidaya udang pada penanggulangan penyakit, percepatan pertumbuhan dan peningkatan kualitas telur. Sedangkan hasil uji toksisitas dengan menggunakan larva udang windu selama 48 jam menunjukkan bahwa konsentrasi aman yang dapat digunakan untuk pengembangan udang dengan memanfaatkan ekstrak ciplukan dengan konsentrasi 13,1 mg/l.
Friyuanita Lubis, Ratih Ida Adharini, Eko Setyobudi
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 19-28; doi:10.20473/jipk.v11i2.13927

Abstract:The food habit is one of the important information used in the fisheries resource management. This study aimed to determine food preferences, index of preponderance, and trophic level of shortfin scad (D. macrosoma) captured from the southern waters of Gunungkidul Yogyakarta, Indonesia. A total of 325 fish samples were collected from March to September 2018. Each fish sample was measured in total length, body weight, determined its sex, and then dissected. The digestive tract was measured in total length then the gut contents were preserved in 5% formaldehyde to observe the type of food composition. The results showed that shortfin scad was carnivorous fish (relative gut length = 0.47) with the diet composing of fish (84.15%), phytoplankton (8.91%), zooplankton (4.47%), and snipping shrimp (3.19%). The molecular identification showed that the main fish species eaten by shortfin scad was Cololabis saira (Scomberesocoidae).AbstrakKebiasaan pakan ikan merupakan salah satu informasi penting yang digunakan dalam manajemen sumberdaya perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi pakan, indeks bagian terbesar dan tingkat trofik ikan layang deles (D. macrosoma) yang ditangkap dari Perairan Gunungkidul. Total 325 sampel ikan layang deles dikumpulkan selama bulan Maret sampai dengan September 2018. Setiap sampel ikan diukur panjang total, berat tubuh, ditentukan jenis kelaminnya kemudian dilakukan pembedahan. Saluran pencernaan diukur panjangnya, kemudian isi lambung ikan diawetkan dalam formalin 5% untuk diamati komposisi jenis makanannya. Analisis data meliputi panjang usus relatif, frekuensi kejadian, indeks bagian terbesar, dan tingkat trofik ikan layang deles. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan layang deles bersifat karnivora (panjang usus relatif = 0,47) dengan komposisi jenis makanan utama adalah ikan (84,15%). Makanan pelengkap layang deles adalah fitoplankton (8,91%), sedangkan zooplankton (4,47%) dan potongan udang (3,19%) merupakan makanan tambahan. Berdasarkan identifikasi molekuler, spesies ikan yang menjadi makanan utama ikan layang deles adalah Cololabis saira (Scomberesocoidae).
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 100-109; doi:10.20473/jipk.v11i2.12607

Abstract:Small-medium enterprises “Bintang Kertasada” is the mackerel fish crackers industry in Sumenep which generates solid and liquid waste, negatively affecting the environment. Therefore, a strategy in reducing the volume of waste produced and its impacts is the implementation of cleaner production and further determined through this present study. A method of AHP (Analytical Hierarchy Process), followed by feasibility study through BEP (Break Event Point), PP (Payback Periode), B/C Ratio (Benefit-Cost Ratio), NPV (Net Present Value), and IRR (Internal Rate of Return) analysis were performed. This study demonstrated that the best alternative was processing fish skin into crackers that was attributed by the AHP score of 0.565. Furthermore, the financial feasibility analysis indicated that the production of fish scale crackers was feasible, indicated by the BEP of IDR 4,412 with 27,617 units produced, PP of 11 months, B/C ratio of 1.2, NPV of IDR 23,176,128, -, and IRR of 27.12%. Overall, the processing solid waste of fish skin into crackers was the best alternative with the most financial feasibility.AbstrakUD. Bintang Kertasada-Sumenep merupakan salah satu industri pengolahan kerupuk amplang yang menghasilkan limbah padat dan cair. Selama ini, limbah yang dihasilkan sudah ditangani secara optimal namun tidak pada limbah padat kulit ikan. Produksi Bersih merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan mengurangi jumlah sumber daya dan limbah hasil samping produksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui alternatif terbaik penerapan produksi bersih di UD. Bintang Kertasada-Sumenep dan mengetahui kelayakan finansial dari alternatif terbaik tersebut. Alternatif penerapan produksi bersih yang digunakan adalah kerupuk kulit ikan, keripik kulit ikan crispy, kulit ikan goreng berbalut telur asin, minyak kult ikan, gelatin dan lem kulit ikan. Penentuan alternatif terbaik dilakukan dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Parameter kelayakan finansial menggunakan perhitungan BEP (Break Event Point), PP (Payback Periode), B/C Ratio (Benefit Cost Ratio), NPV (Net Present Value), dan IRR (Internal Rate of Return). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa alternatif terbaik yakni mengolah limbah padat kulit ikan menjadi kerupuk dengan nilai bobot sebesar 0,565. Analisis Kelayakan finansial menunjukkan bahwa produksi kerupuk kulit ikan layak untuk dilakukan dengan perolehan BEP harga sebesar Rp. 4.412, BEP produksi sebanyak 27.617 kemasan, PP selama 11 bulan, B/C Ratio 1,2, NPV sebesar Rp 23.176.128, dan IRR sebesar 27,12%.
Okto Supratman, Tati Suryati Syamsudin
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 72-81; doi:10.20473/jipk.v11i2.13112

Abstract:Dog Conch (Strombus turturella) has an essential economic value in Bangka Belitung Islands. Allegedly, the population of Dog Conch is decreasing due to overexploitation. The purpose of this study is to provide information related to the distribution of long frequency, growth pattern, age group, recruitment time estimation and life table of Dog Conch. This research took place on the coast of Tukak Village and Anak Air Island, Bangka Belitung Islands. Samples of Dog Conch were taken using 3x3 m2 square. The shell length of Dog Conch found ranged between 18.18 to 77.49 mm, consisting of three age groups. Asymptotic length value (L∞), growth coefficient (K) and theoretical age on zero-length (t0) were 83.94 mm, 0.79/year and -0.152 sequentially. In the first year, Dog Conch grows to 50.18 mm and slows down when it grows older until it is 13 years old. The proportion of high mortality rate was at 1 to 2 years old and 3 to 4 years old or in adult individuals, while the highest life expectancy rate was in the age group of 0-1-year old or young individuals. It indicated that the high mortality rate was in the group in which people use to consume or sell in the marketsAbstrakSiput gonggong (Strombus turturella) memiliki nilai ekonomis penting di Kepulauan Bangka Belitung. Diduga populasi siput gonggong semakin menurun akibat dari eksploitasi berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi terkait distribusi frekuensi panjang, pola pertumbuhan, kelompok umur, estimasi waktu rekruitmen dan tabel hidup siput gonggong. Lokasi penelitian berada di Pesisir Desa Tukak dan Pulau Anak Air, Kepulauan Bangka Belitung.Pengambilan sampel siput gonggong dilakukan dengan menggunakan kuadrat 3x3 m2. Panjang cangkang siput gonggong yang ditemukan berkisar antara 18.18 s.d 77.49 mm yang terdiri atas 3 kelompok umur. Nilai panjang asymptotic (L∞), koefisien pertumbuhan (K) dan umur teoritis ketika panjang sama dengan nol (t0) adalah 83.94 mm, 0.79/tahun dan -0.152 secara berurutan. Pada tahun pertama siput gonggong mengalami pertumbuhan, mencapai 50.18 mm dan melambat ketika umur semakin tua hingga umur 13 tahun. Proporsi laju kematian tinggi terdapat pada umur 1 s.d 2 tahun dan 3 s.d 4 tahun atau pada individu dewasa, sedangkan nilai harapan hidup tertinggi terdapat pada kelompok umur 0-1 tahun atau individu muda. Hal ini menunjukkan bahwa kematian tertinggi terdapat pada kelompok umur yang telah diambil oleh masyarakat untuk dikonsumsi dan dijual ke pasaran.
Marina Hasan, Nor Azri Shah Norhan, Wahidah Wahab, Anur Abdalah Nagi Melad, Kismiyati Kismiyati, Mohd Fazrul Hisam Abd Aziz, Norainy Mohd Husin, Mohd Ihwan Zakariah
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 11-18; doi:10.20473/jipk.v11i2.15713

Abstract:A study on the toxicity of herbicides was investigated with emphasis on behaviour and histopathological effects. Ametryn commonly used to control weeds in the paddy field. The effect of ametryn on fish especially Monopterus albus was unknown. This study aims to determine the acute toxicity of ametryn and its effects on the behaviour of the eels. The adult M. albus were exposed to 0, 0.75, 1.5 and 3.0mg/L of ametryn for 96 hours under laboratory conditions. The eels showed symptoms of abnormal behaviour responses during the exposure which are agitated behaviour, respiratory distress, and abnormal nervous behaviour. Mortality was increased by increasing the concentration of ametryn. This present study showed the effect of ametryn on kidney tissue changes. Hemorrhage and distribution of hemosiderin, hydropic degeneration, granular degeneration, tubular necrosis, narrowing tubular lumen and necrosis were major histopathological effects that occurred during the exposure to ametryn. In conclusion, ametryn is very sensitive to Monopterus albus. In lower concentration, they showed changes in behaviour and effect their organs. AbstrakStudi tentang toksisitas herbisida yang diamati dengan penekanan pada perilaku dan dampak histopatologis. Ametryn biasanya digunakan untuk mengawal rumpai di sawah padi. Kesan ametryn pada ikan terutama belut tidak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan toksisitas akut ametryn dan dampaknya terhadap perilaku belut. M. albus dewasa terpapar pada 0, 0.75, 1,5 dan 3,0mg / L ametryn selama 96 jam pada kondisi laboratorium. Belut menunjukkan gejala respons perilaku abnormal selama paparan yaitu gelisah, gangguan pernapasan, dan perilaku saraf abnormal. Kematian meningkat seiring meningkatnya konsentrasi ametryn. Penelitian ini menunjukkan dampak ametryn pada perubahan jaringan ginjal. Perdarahan dan distribusi hemosiderin, degenerasi hidropik, degenerasi granular, nekrosis tubular, penyempitan lumen tubular dan nekrosis adalah dampak histopatologis utama yang terjadi selama paparan ametryn. Kesimpulannya, ametryn sangat sensitif terhadap Monopterus albus. Dalam konsentrasi rendah, belut menunjukkan perubahan perilaku dan kesan pada organ.
Suadi Suadi, Ratih Ineke Wati, Nakagawa Mitsuhiro
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 1-10; doi:10.20473/jipk.v11i2.15733

Abstract:Microfinance institutions (MFIs) is a worldwide movement. This study aims to describe the key conditions in the rapid development of community-owned MFIs, namely LPD (Lembaga Perkreditan Desa/Village Credit Institution), through case study in LPD Kedonganan Village, Badung Regency of Bali. This village was selected for few reasons i.e. the shifting of people livelihood from fishery-based to tourism-related livelihood, the well-manage of coastal commons for fishery, tourism spot, and religious-related activities. Data collection was conducted through several visits during 2007 to 2018. This research adopted qualitative approach through observation and depth-interview with local leaders, MFI managers and users to discover their perspective about the MFI. Secondary data was also collected from various reports of LPD Kedonganan. The study showed that LPD was established, owned, and managed by the community through a custom village. LPD distributed credits to various components of the society and business including tourism and fisheries-related business, in and out of village territory, and to male and female customers, with various types, scales, and sectors. The healthy financial performance of the institution was clearly depicted by its rapidly growing profit and equity, and its low percentage of a non-performing loan for more than three decades. The better growing LPD has attracted various socio-economic investments in the grass root, for example a collective-owned and managed seafood restaurant. Overall, the study identified that the community had made such successful and sustainable collective-owned resource arrangement. The arrangement had been evolved and built by sharing rules linked to community values, customs and faith. As a result, the emerging institutions had contributed remarkable roles to rural socio-cultural and economic development and showed the opportunity to enhance some cooperative behaviors for sustainable governance of resources and rural livelihood. AbstrakLembaga keuangan mikro (LKM) telah menjadi gerakan yang mendunia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor keberhasilan pengelolaan LKM berbasis masyarakat, yaitu LPD (Lembaga Perkreditan Desa), melalui studi kasus di LPD Desa Kedonganan, Kabupaten Badung Bali. Desa ini dipilih karena beberapa alasan antara lain terjadi pergeseran cepat sumber penghidupan masyarakat dari berbasis perikanan (sektor primer) ke pariwisata (sektor tersier), desa mampu mengelola sumberdaya milik bersama di pesisir secara baik untuk kegiatan perikanan, tempat wisata, dan kegiatan terkait keagamaan/budaya. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa kunjungan selama tahun 2007 hingga 2018. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara mendalam dengan para pemimpin lokal, manajemen LPD, dan pengguna untuk memahami perspektif mereka tentang LKM. Data sekunder juga dikumpulkan dari berbagai laporan LPD Kedonganan. Penelitian ini menunjukkan...
Andi Kurniawan, Muhammad Imam Syafi’I, Gatot Ardian, Abdul Aziz Jaziri, Abd. Aziz Amin, Budiyanto Budiyanto, M. Amenan, Lutfi Ni’Matus Salamah, Wahyu Budi Setiawan
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11; doi:10.20473/jipk.v11i2.13480

Abstract:One of the biggest challenges in sea salt production is unpredictable and unsuitable weather. Sea salt production process is very depended on the evaporation rate of sea salt production and it will be stopped in the rainy season. One of the alternative strategies to solve this problem is the application of greenhouse salt crystallization in sea salt production. This study aims to develop the technology to produce sea salt in the rainy season by applying Continuously Dynamic Mixing Method (CDM) in the Greenhouse Sea Salt Tunnel (GST). The application of CDM in the GST is an original innovation developed by the researchers of this study. Environmental parameters analyzed in the present study were daily temperatures, wind speed, evaporation rate, humidity, and Baumé scale value. The quality of the produced sea salt was evaluated from the water and NaCl content. The results of this study indicate that the application of the CDM method in GST makes the sea salt production from the raw water materials (± 2° Be) can be conducted in the rainy season. The optimum water and NaCl content of the produced sea salt is 98.05 % and 7 %, respectively. The production of sea salt for one cycle (15 days) in this study is 300 kg/GST-Crystallization (44 m2). According to the results, the CDM method in the GST technology may improve the production of the sea salt in the rainy season and allow it to produce sea salt throughout the year.AbstrakSalah satu tantangan terbesar dalam produksi garam adalah kondisi cuaca yang tidak menentu ataupun tidak mendukung proses pengkristalan garam. Proses pembuatan garam yang sangat tergantung pada laju evaporasi membuat produksi garam akan berhenti pada musim hujan. Strategi pengoptimalan laju evaporasi dengan menggunakan rumah kristalisasi garam berkembang menjadi salah satu alternatif metode untuk mengatasi permasalahan tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi produksi garam di musim hujan dengan menerapkan metode Continuously Dynamic Mixing (CDM) pada rumah kristalisasi berbentuk Greenhouse Salt Tunnel (GST). Penerapan metode CDM dalam teknologi GST merupakan inovasi teknologi yang dikembangkan khusus oleh peneliti dalam studi ini. Parameter lingkungan yang diteliti terdiri dari suhu harian (air dan udara), kecepatan angin, laju penguapan, kelembaban udara dan nilai skala Baumé dari air bahan baku garam. Kualitas produksi garam dievaluasi berdasarkan kandungan air dan kandungan NaCl. Hasil penelitian ini mengindikasikan kalau penerapan metode CDM pada GST membuat produksi garam yang dimulai dari air muda (± 2° Be) dapat dilakukan pada musim hujan. Garam yang dihasilkan berwarna putih dengan kandungan NaCl dan kadar air, secara berturut-turut, adalah 98.05 % dan 7 %. Hasil produksi garam per siklus produksi dalam musim hujan (15 hari) sebesar 300 kg/GST-Kristalisasi (luasan 44 m2). Berdasarkan hasil penelitian, metode CDM pada teknologi GST membuat produksi garam pada musim hujan sehingga produksi garam...
Neri Kautsari, Etty Riani, Djamar Tf Lumbanbatu, Sigid Hariyadi
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11; doi:10.20473/jipk.v11i2.13432

Abstract:The exploitation of sandfish (Holuthuria scabra) in Saleh Bay is so far not well managed. Consequently, over-fishing and species extinction of sea cucumbers emerge. Currently, information related to the supply of sandfish (H. scabra) is very limited. The purpose of this research was to investigate the stock status of sandfish (H. scabra) based on the fishermen’s perception and fish capture information. This research was carried out in the Saleh Bay coast, Sumbawa District, West Nusa Tenggara. The method used was a semi-closed interviews with the scope of fishermen’s demography, methods, efforts and catches, and fishermen’s perception of the stock condition, conducted by a total of 39 respondents. The result of this research showed that sea cucumber fishermen consisted of male and female with a ratio of 46 : 54, age ranged between 26-59 years old, all were married; education level between unschooled to senior high school; fishermen were from Bajo tribe (37%), Bugis (25%), Samawa (5%) and Mandar (33%). Sea cucumbers were caught by hands for 5-6 weeks (1-4 hours per day), CPUE ranges between 2 to 25 kg (wet weight). The main reason for capturing sea cucumber was because of the ease of method (97%). 84% of the fishermen stated that sea cucumber stock in Saleh Bay declined. The research cocluded the fishermen on Saleh Bay assumed that sandfish (H. scabra) had decreased in stock.AbstrakEksploitasi teripang pasir (Holuthuria scabra) di perairan Teluk Saleh terus dilakukan tanpa adanya pengelolaan sehingga memacu terjadinya kelebihan tangkap dan bahkan bisa menyebabkan kepunahan spesies teripang pasir. Kurangnya ketersediaan informasi dan data terkait stok menyebabkan sulitnya pengelolaan teripang pasir (H. scabra) di perairan Teluk Saleh ke depannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui staus stok teripang pasir (H. scabra) berdasarkan persepsi nelayan dan gambaran hasil tangkapan. Lokasi penelitian yaitu di pesisir wilayah perairan Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Metode yang digunakan ialah wawancara semi tertutup dengan menggunakan kuesioner. Aspek yang dikaji dalam wawancara terdiri dari : 1) demografis nelayan; 2) metode, upaya dan hasil tangkap serta 3) persepsi nelayan terhadap kondisi stok. Responden dalam penelitian ini ialah nelayan penangkap teripang yang berada di pesisir Teluk Saleh. Jumlah responden adalah 39 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penangkap teripang pasir terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan rasio 46 : 54%, usia berkisar antara 26-59 tahun, nelayan berstatus telah menikah, tingkat pendidikan nelayan mulai dari tidak bersekolah hingga SMU, nelayan berasal dari suku Bajo (37%), Bugis (25%), Samawa (5%) dan Mandar (33%). Penangkapan teripang dilakukan menggunakan tangan, penangkapan dilakukan 5-6 minggu-1 (1–4 jam hari-1), CPUE ialah 2 hingga 25 kg (berat basah), alasan utama nelayan (97%) menangkap teripang pasir adalah kemudahan metode penangkapan, 84% nelayan...