Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan

Journal Information
ISSN / EISSN : 20855842 / 25280759
Current Publisher: universitas airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 271
Filter:

Latest articles in this journal

Imra Imra, Mohammad Fadnan Akhmadi, Diana Maulianawati
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 49-54; doi:10.20473/jipk.v11i1.11911

Abstract:AbstrakKalsium dan fosfor merupakan unsur yang penting yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan. Tulang bandeng diketahui memiliki kandungan kalsium dan fosfor yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui proksimat dan kandungan kalsium dan fosfor pada crackers yang difortifikasi dengan tepung tulang ikan bandeng. Fortifikasi crackers tepung tulang ikan bandeng menggunakan 4 perlakuan yakni presto, kukus, segar dan kontrol. Analisis proksimat meliputi kadar air, kadar abu, lemak, protein dan karbohidrat menggunakan metode AOAC (2005) dan analisis kandungan fosfor dan kalsium menggunakan metode AAS. Kandungan kalsium dan fosfor crakers tepung tulang masing-masing berkisar 88916-119730 mg/kg dan 2,2 mg/kg - 7,4 mg/kg. Nilai proksimat meliputi kadar air 12,26 – 14,42%, kadar abu 16,12 – 21,67%, protein 0,626 – 7,304%, lemak 4,0 – 4,8% dan karbohidrat 37,64 – 41,88%. Fortifikasi tepung tulang bandeng meningkatkan nilai proksimat, kalsium, dan fosfor pada crackersAbstractCalcium and phosphorus are important elements needed for development and growth. Milkfish is known to have high calcium and phosphorus content. The aim of study was to determine the proximate, and the content of calcium and phosphorus in crackers fortification with milkfish bone flour. Cracker fortification with milkfish bone flour consists of four treatments were presto, steamed, fresh and control. Proximate analysis includes water, ash, fat, protein and carbohydrates using the method (AOAC 2005) and analysis of phosphorus and calcium content using the AAS method. Calcium and phosphorus content bone flour crackers range respectively 88916-119730 mg/kg and 2.2 mg/kg – 7.4 mg/kg. Moisture content 12.26 – 14.42%, ash content 16.12 – 21.67%, protein 0.626- 7.304%, fat 4.0 – 4.8% and carbohydrates 37.64 – 41.88%. Fortification of milkfish flour increases the proximate, calcium, and phosphorus value in crackers.
Vina Violita, Muslim Muslim, Mirna Fitrani
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 21-27; doi:10.20473/jipk.v11i1.10866

Abstract:AbstrakPenetasan telur ikan merupakan hasil dari embriogenesis hingga embrio keluar dari cangkangnya. Aktivitas embrio dipengaruhi oleh faktor dari luar dan dalam cangkang. Salah satu faktor dari luar yaitu pH air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui derajat penetasan dan lama waktu menetas telur ikan betok (A. testudineus) yang diinkubasi pada media dengan pH berbeda. Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Budidaya Perairan, Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya. Metoda penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan P1 (pH 5±0,2), P2 (pH 6±0,2), P3 (pH 7±0,2), P4 (pH 8±0,2) dan P5 (pH 9±0,2). Parameter yang diamati yaitu persentase telur menetas, lama waktu penetasan dan parameter kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pH 7±0,2, pH 8±0,2 dan pH 9±0,2 memberikan hasil persentase telur menetas dan lama waktu penetasan telur yang tidak berbeda nyata.AbstractThe hatching of fish eggs is the result of embryogenesis until the embryo out from the shells. Embryos activities are influenced by external and internal factors. One of the external factors is the Power of Hydrogen (pH). The purpose of this study is to determine the hatching rate and incubation time of climbing perch (Anabas testudineus) incubated on different pH of the medium. The research had been conducted in Aquaculture Laboratory, Department of Aquaculture, Agriculture Faculty, Sriwijaya University. The research method used a completely randomized design with five treatments and three replications. The treatments were P1 (pH 5±0.2), P2 (pH 6±0.2), P3 (pH 7±0.2), P4 (pH 8±0.2) and P5 (pH 9±0.2). Parameters that had been observed were the eggs percentage of hatching, incubation time and water quality parameters. The results showed that pH 7±0.2, pH 8±0.2 and pH 9±0.2 have no significant difference on hatching percentage and incubation time of climbing perch.
Nurus Samsiyah, Anita Dewi Moelyaningrum, Prehatin Trirahayu Ningrum
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 43-48; doi:10.20473/jipk.v11i1.11058

Abstract:AbstrakKualitas garam sangat ditentukan oleh perlakuan dan penanganan yang diberikan pada saat pra produksi, proses produksi maupun pasca produksi. Kontaminan Pb dalam garam dapat bersumber dari lingkungan perairan laut sebagai bahan baku, tanah sebagai media / tempat produksi garam dan lingkungan udara dimana proses produksi garam berlangsung di lahan terbuka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kadar logam berat timbal (Pb) dalam garam di Kabupaten Pamekasan. Jenis penelitian ini adalah jenis deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian melalui observasi dan wawancara. Hasil observasi menunjukkan bahwa rata-rata kadar logam berat timbal (Pb) di Kabupaten Pamekasan masih di bawah batas maksimum yang telah ditentukan dalam SNI 3556-2010 dan SNI 7387-2009 yaitu
Ria Retno Manik
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 77-80; doi:10.20473/jipk.v11i1.12027

Abstract:AbstrakIkan sidat merupakan ikan konsumsi penting. Khamir laut (marine yeast) merupakan organisme seluler dari golongan jamur, bersifat kemoorganotrof, bereproduksi seksual dengan spora dan aseksual dengan pertunasan atau pembelahan. Percobaan ini menggunakan substitusi (A) 0% khamir laut (B) 5% khamir laut utuh (C) 5% khamir laut dipecah dan (D) 5% khamir laut direduksi. Data dianalisis menggunakan uji sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil terbaik pada perlakuan D menunjukkan retensi lemak 24,88% dan daya cerna energy 69,74%. AbstractEel is an important consumption fish. Marine yeast (cellular yeast) is a cellular organism of the fungal group, which is chemoorganotrophic, reproduces sexually with spores and asexual with spreading or cleavage. This experiment uses substitution (A) 0% sea yeast (B) 5% whole sea yeast (C)5% broken sea yeast and (D) 5% reduced sea yeast. Data were analyzed by using Analysis of Variance (ANOVA) and followed by the Smallest Significantly Difference Test (LSD). The best results on treatment D showed fat retention of 24.88% and energy digestibility of 69.74%.
Khoeruddin Wittriansyah, Soedihono Soedihono, Dodi Satriawan3
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 34-42; doi:10.20473/jipk.v11i1.12458

Abstract:AbstrakEmerita sp. dapat diolah kitosan sebagai alternatif bahan pengawet ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas kitosan Emerita sp. dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk pada ikan sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengawet alternatif. Sampel Emerita sp. diperoleh dari pesisir pantai Widarapayung,Cilacap. Karakteristik kitosan Emerita sp. dianalisa melalui uji FTIR dan uji proksimat. Aktivitas kitosan Emerita sp. sebagai pengawet ikan, dianalisa melalui uji organoleptik dan uji Total Plate Count (TPC). Ikan belanak direndam dalam larutan kitosan Emerita sp. pada konsentrasi 0,5%, 1,5%, dan 2%. Lama waktu perendaman yaitu 15 menit, 30 menit dan 60 menit. Pengamatan kemunduran mutu dilakukan pada jam ke 0, 10, 15 dan ke 24. Kontrol menggunakan asam asetat 1% dengan perendaman selama 15 menit. Hasil penelitian menunjukkan Nilai Derajat Deasetilisasi (DD) kitosan Emerita sp. adalah 92,5%. Hasil terbaik uji organoleptik ditunjukan pada kosentrasi kitosan 0,5 % dengan lama perendaman selama 60 menit dibandingkan kontrol. Uji (TPC) menunjukkan ikan dengan perendaman kitosan Emerita sp. 2% selama 60 menit, memiliki jumlah bakteri lebih rendah (2,7x106) daripada kontrol (3,2 x106). Bedasarkan hasil uji TPC dan Organoleptik, kitosan Emerita sp. memiliki aktivitas penghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga dapat digunakan sebagai alternatif bahan pengawet.AbstractEmerita sp. can be processed into chitosan as an alternative to fish preservatives. The purpose of this study was to determine chitosan from Emerita sp. in inhibiting the growth of decomposing microorganisms in fish so it can be used as alternative preservatives. Emerita sp. was obtained from the coast of Widarapayung, Cilacap. Characteristics of chitosan from Emerita sp. was analyzed through FTIR profileand proximate content. The activity of chitosan from Emerita sp. as a fish preservative, analyzed through organoleptic and total plate count (TPC) test. Bluespot mullet fish was soaked in chitosan from Emerita sp. at concentrations of 0.5%, 1.5%, and 2%. Soaking process took was 15, 30 and 60 minutes. Observations on fish decay was conducted at the hour of 0, 10, 15 and 24. Control used 1% of acetic acid with soaking process for 15 minutes. The results of the study showed that the degrees of deacetylization (DD) chitosan from Emerita sp. is 92.5%. The best results of organoleptic were shown on 0.5% chitosan concentration with 60 minutes soaked time compared to controls. TPC shows fish with the soaking process in chitosan Emerita sp. 2% for 60 minutes, having a lower number of bacteria (2,7x106) than the control (3,2 x106). Based on the results of the TPC and organoleptic test, chitosan Emerita sp. has activity inhibiting the growth of microorganisms so that it can be used as an alternative preservative.
Jumiati Jumiati, Dewi Ratnasari, Achmad Sudianto
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 55-61; doi:10.20473/jipk.v11i1.11914

Abstract:AbstrakKerupuk cumi saat ini cukup banyak diminati masyarakat di semua kalangan karena kandungan gizi cumi yang tinggi terutama kandungan proteinnya yaitu 17,9 g/100 g cumi segar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu kerupuk cumi (Loligo sp.) yang terbaik dengan penambahankunyit(Curcuma domestica) yang berbeda. Analisis yang dilakukan meliputi: analisa proksimat (kadar : air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat), dan uji Total Plate Count (TPC Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat perlakuanyaitu: tanpa pemberian ekstrak kunyit (O) , pemberian dosis 12,5% (A), 15% (B) dan 17,5% (C) masing-masing enam ulangan. Hasil analisa uji proksimat, penggunaan ekstrak kunyit pada pembuatan kerupuk cumi berpengaruh nyata terhadap mutu kerupuk cumi dengan pemakaian ekstrak kunyit terbaik yaitu: dosis kunyit 12,5% (kadar air : 9,622%), dosis kunyit 17,5% ( kadar lemak: 4,765%), dosis kunyit 17,5% (kadar protein : 18,112%), dosis kunyit 12,5% (kadar karbohidrat : 68,253%), dan dosis kunyit 12,5% (kadar abu: 1,278%). Penggunaan ekstrak kunyit berpengaruh sangat nyata terhadap TPC pada kerupuk cumi, perlakuan yang paling baik adalah perlakuan C dengan nilai TPC sebesar 28.350 koloni/ gram. Penggunaan esktrak kunyit sebagai bahan anti bakteri pada proses pembuatan kerupuk cumi mampu menghambat aktivitas bakteri dan mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. AbstractSquid crackers are currently quite popular with people in all circles because of the high nutritional content of squid, especially the protein content of 17.9 g / 100 g of fresh squid. This study aims to determine the quality of the best squid crackers (Loligo sp.) by adding different turmeric (Curcuma domestica). The analysis carried out included: Proximate analysis (levels: water, ash, fat, protein, and carbohydrates), and Total Plate Count (TPC) tests. This study used an experimental method, completely randomized design (CRD), with 4 treatments without the administration of turmeric extract (O), dosing 12.5% (A), 15% (B) and 17.5% (C) respectively 6 repetitions. The results of the proximate test analysis, the use of turmeric extract on the making of squid crackers had a significant effect on the quality of squid crackers with the use of the best turmeric extract: 12.5% turmeric dose (moisture content: 9.622%), 17.5% turmeric dose ( fat content: 4.765%), turmeric dosage 17.5% (protein content: 18.112%), 12.5% turmeric dose (carbohydrate level: 68.253%), and 12.5% turmeric dose (ash content: 1.278%). The use of turmeric extract has a very significant effect on TPC on squid crackers, the best treatment is treatment C with a TPC value of 28,350 colonies / gram. The use of turmeric extract as an anti-bacterial ingredient in the process of making squid crackers is able to inhibit bacterial activity and has a fairly high nutrient content.
Siti Alfaniatur Rokhmah, Yuyun Suprapti, Miftachul Munir
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 70-76; doi:10.20473/jipk.v11i1.11913

Abstract:AbstrakKetidakpastian pendapatan yang diperoleh oleh kepala keluarga sebagai nelayan di masyarakat pesisir mendorong anggota rumah tangga yaitu istri dan anak bekerja agar dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peranan istri nelayan dalam meningkatkan perekonomian rumah tangga dan seberapa besarkah kontribusi perempuan di dalam rumah tangga. Metode penelitian menggunakan metode survei. Pengambilan responden dilakukan secara purposive sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Pengambilan data diikuti dengan identifikasi responden istri nelayan yang mempunyai aktifitas dalam membantu mencari nafkah, kuisioner berisi aktifitas istri nelayan dan kontribusi pendapatan dari hasil kuisioner kemudian data ditabulasi berdasarkan aktifitas dan pendapatan dilanjutkan analisa data. Hasil dari penelitian ini bahwa 30 responden istri nelayan menunjukkan berpenghasilan high income group (> Rp. 900.000,-/bulan) sebanyak 23 (76,66%) dan berpenghasilan midle income group (Rp.450.000 – Rp.900.000/bulan) sebanyak 7 (3,33 %). Secara berurutan kontribusi istri nelayan di Desa King-king adalah berdagang (57 %), buruh karyawan (13 %), pengusaha (7 %), pembantu rumah tangga (10 %), dan serabutan (13 %). Meningkatkan peran istri dalam bekerja merupakan salah satu usaha strategis saat ini untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dan membantu mencukupi kebutuhan keluarga. AbstractThe uncertainty of income earned by family heads as fishermen in coastal communities encourages other household members, such as wives and children to work in order to help fulfill the household’s daily needs. This study aims to determine how the role of fishermen’s wife in improving household economies and how much women contribute to the household. Research methods use the survey method. The selection of respondents used purposive sampling. Data were analyzed qualitatively descriptively. Data collection was followed by identification of respondents of fishermen’s wife who had activities in helping to earn a living, questionnaires containing activities of fishermen’s wife and contribution of income from questionnaires then data tabulated based on activities and income followed by data analysis. The results of this study show that 30 respondents of fishermen’s wives showed a high-income group (> Rp. 900,000 / month) of 23 (76.66%) and a middle-income income group (Rp.450,000 - Rp.900,000 / month) of 7 (3.33%). Sequentially the contribution of fishermen’s wives in King-king Village is to trade (57%), employee labor (13%), entrepreneurs (7%), housemaids (10%), and odd jobs (13%). Increasing the wife’s role in work is one of the current strategic efforts to increase household income and help meet family needs.
Syahrial Syahrial, Neneng Purwanti, Herlina Adelina Meria Uli Sagala, Nur Atikah, Yulina Sari, Bayu Oktavian, Novhitasari Simbolon
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 9-20; doi:10.20473/jipk.v11i1.10770

Abstract:AbstrakKajian karakteristik lingkungan dan kondisi fauna makrobentik di kawasan reboisasi mangrove Pulau Pramuka, Panggang dan Karya, Kabupaten Kepulauan Seribu telah dilakukan pada bulan April 2014. Kajian ini bertujuan sebagai data dasar dalam pengelolaan mangrove di Indonesia khsususnya pasca penanaman mangrove. Pengukuran karakteristik lingkungan dilakukan dengan cara insitu, sedangkan pengumpulan fauna makrobentik dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan (tegakan mangrove terluar) dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan. Hasil kajian memperlihatkan bahwa karakteristik lingkungan yang diukur tidak begitu berbeda antar stasiun dan juga tidak melebihi baku mutu untuk kehidupan biota laut. Sebanyak 6 spesies fauna makrobentik telah ditemukan dengan kepadatan yang bervariasi. Kepadatan tertingginya berada di Stasiun 3 (05.00 ind/m2) dan terendahnya di Stasiun 1 (02.00 ind/m2). Selain itu, fauna makrobentik Atilia (Columbella) scripta, Metopograpsus latifrons, Littoraria scabra, Saccostrea cucculata dan Cardisoma carnifex berasosiasi atau berkaitan erat dengan stasiun yang bersubstrat lanau maupun pasir. Selanjutnya parameter kualitas air yang paling menentukan distribusi dan kepadatan fauna makrobentik di kawasan reboisasi mangrove Pulau Pramuka, Panggang, dan Karya, Kabupaten Kepulauan Seribu adalah pH. AbstractThe study of the environmental characteristics and conditions of macrobenthic fauna in the mangrove reforestation area of Pramuka, Panggang, Karya, and the Seribu Islands was carried out in April 2014. This study aims at the basic data in mangrove management in Indonesia, especially after mangrove planting. Measurement of environmental characteristics is carried out by in-situ methods while collecting macrobenthic fauna by making line transects and plots drawn from the reference point (outermost mangrove stands) and perpendicular to the coastline to the mainland. The results of the study show that the measured environmental characteristics are not very different between stations and also do not exceed the quality standards for marine life. A total of 6 macrobenthic fauna species have been found with varying densities. The highest density is at Station 3 (05.00 ind/m2) and the lowest is at Station 1 (02.00 ind/m2). In addition, the macrobenthic fauna Atilic (Columbella) scripta, Metopograpsus latifrons, Littoraria scabra, Saccostrea cucculata and Cardisoma carnifex are associated or closely related to silt or sand substrates. Furthermore, the water quality parameters that most determine the distribution and density of macrobenthic fauna in the mangrove reforestation area of Pulau Pramuka, Panggang and Karya Seribu Islands District are pH.
Marina Hasan, Mohd Fazrul Hisam Abd Aziz, Kismiyati Kismiyati, Sri Subekti, Mohd Ihwan Zakariah
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 1-8; doi:10.20473/jipk.v11i1.10635

Abstract:Barnacles are symbiont and harm to the crabs when they are in large numbers. They will affect the respiration, normal activity and growth of the crabs. The prevalence, mean intensity and identification of pedunculate barnacle, Octolasmis spp. on blue swimming crab, Portunus pelagicus from the coastal area of Kuala Terengganu were studied. The site specificity of the different species of Octolasmis attached was examined. The crabs were measured and weight. The crabs were euthanized by put in ice until no movement. The Octolasmis were observed from the surfaces and gills or brachial chamber. The Octolasmis were observed from each gill. The prevalence and mean intensity was calculated. The Octolasmis were preserved in 70% alcohol and mounting using glycerine jelly to make the permanent slide. A total of all 13 crabs were infested by four species of Octolasmis which is 218 Octolasmis angulata, 191 Octolasmis warwickii, 16 Octolasmis tridens and 218 Octolasmis lowei. Octolasmis angulate showed the highest prevalence (84.62%) and lowest prevalence was O. lowei (23.08%) and O. warwickii (23.08%). The barnacles were attached to the gill, carapace, abdomen and also walking legs. Barnacle occurred most frequently on the gill part by having 371 (57.70%) barnacles compared to other areas, 272 (42.30%) barnacles. The distributions of barnacle in this study suggest distal areas are more susceptible in infestation by Octolasmis spp. However, they did not show site specificity on the gill areas because it depends on the water current.AbstrakBarnacle (teritip) adalah simbion yang dalam jumlah besar akan membahayakan kepiting. Teritip tersebut berpengaruh pada pernapasan, aktivitas normal dan pertumbuhan kepiting. Prevalensi, intensitas rata-rata dan identifikasi pedunculate barnacle, Octolasmis spp. pada rajungan, Portunus pelagicus dari daerah pesisir Kuala Terengganu telah diteliti. Kekhasan lokasi dari berbagai spesies Octolasmis telah diperiksa. Kepiting telah diukur dan ditimbang. Kepiting dieuthanasi dengan cara dimasukkan kedalam es sampai tidak bergerak. Octolasmis diamati dari permukaan tubuh dan insang (branchial chamber). Octolasmis diamati pada tiap insang. Prevalensi dan intensitas rata-rata dihitung. Octolasmis diawetkan dalam alcohol 70 % dan mounting menggunakan Jeli gliserin untuk membuat slide permanen. Semua kepiting 13 ekor telah terinfestasi oleh empat spesies Octolasmis, yaitu 218 Octolasmis angulata, 191 Octolasmis warwickii, 16 Octolasmis tridens dan 218 Octolasmis lowei. Octolasmis angulate menunjukkan prevalensi paling tinggi (84,62%) dan prevalensi paling rendah adalah O. lowei (23,08%) dan O. warwickii(23,08%). Teritip menyerang insang, karapas, abdomen dan juga kaki jalan.Teritip paling sering ditemukan pada bagian insang 371 ekor (57,70%) dibandingkan pada bagian lain, 272 ekor (42,30%). Distribusi teritip pada penelitian ini menunjukkan bahwa bagian distal lebih rentan mengalami infestasi Octolasmis spp. Namun, teritip tidak...
Marcelien Djublina Ratoe Oedjoe, Felix Rebhung, Sunadji Sunadji
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Volume 11, pp 62-69; doi:10.20473/jipk.v11i1.10992

Abstract:AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi nilai tambah di antara tiga stakeholder utama pada usaha budidaya rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu pembudidaya, pedagang dan industri rumput laut telah dilakukan. Data kualitatif dan kuantitatif diperoleh lewat survei, observasi langsung, wawancara dan diskusi kelompok (Focus Group Discussion, FGD). Sampel/unit usaha budidaya rumput laut diambil secara representative dan purposive. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif disertai perhitungan Pay Back Period (PBP), Break Even Point (BEP) dan Benefit Cost ratio (B/C). Hasil menunjukkan nilai PBP = 0,72 yang berarti unit usaha dapat mengembalikan modal dalam 8 bulan. Nilai BEP per unit usaha budidaya rumput laut sebesar Rp. 3.435,77 dan BEP produksi sebesar 2.007,50 kg. Nilai B/C ratio 1.09 menunjukkan bahwa usaha rumput laut di lokasi study layak dilaksanakan. Nilai tambah pada pembudidaya sebesar Rp 3.575/kg, pedagang sebesar Rp 2.175/kg dan industri rumput laut sebesar Rp 41.000/kg. Hasil penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa pada tingkat kelayakan usaha budidaya rumput laut di NTT dewasa ini, nilai tambah tertinggi dinikmati oleh industri pengolahan rumput laut, diikuti pembudidaya dan pedagang.AbstractThis study aims to determine the distribution of value added among the three main stakeholders in seaweed farming in the Province of East Nusa Tenggara (NTT), namely the farmers, traders and seaweed industries. The study applied a qualitative and quantitative method through a survey, direct observation, and interviews. Data were representatively and purposively collected. The study used descriptive analysis, focus group discussion, and simple mathematics. Results showed that payback period was 0.72 meaning that the investment could be returned in 8 months; break-even point (BEP) per seaweed culture business unit was IDR. 3,435.77; the break-even point of production was 2,007.50 kg; benefit-cost (B/C) was 1.09 meaning that the seaweed culture was feasible to do. There were 3 successive seaweed marketing channels such as producer, collector, merchant, manufacturer, consumer, or direct delivery from producers to consumers, producer to collecting merchant, big merchant to the consumer. The added value was IDR. 3,575/kg for the seaweed farmer, IDR. 2,175/kg for big merchant, and IDR. 41,000/kg for seaweed industry.