Gorontalo Journal of Public Health

Journal Information
ISSN / EISSN : 26145057 / 26145065
Current Publisher: Universitas Gorontalo (10.32662)
Total articles ≅ 23
Filter:

Latest articles in this journal

Moh. Rivandi Dengo, Idjrak Mohamad
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 162-169; doi:10.32662/gjph.v2i2.746

Abstract:
The coverage of Antenatal Care (ANC) visits in Gorontalo District during the last three years is as follows: the first visit of the pregnant women in 2015 reached 90%, the visit in the following year in 2016 decreased to 76%, and the visit in 2017 reached 89,86%. This research aims to find out the factors related to the decrease of Antenatal Care in accordance with the decrease in the Antenatal Care visits in the first contact of pregnant women checking K-1 in the working area of Community Health Center Bongomeme Gorontalo District in 2018. The population of the current research was all pregnant women listed in Kohort pregnant women book in the Community Health Center Bogomeme in 2018 there were 163 pregnant women participated. The research design used was a cross sectional study approach. The obtained data were subsequently examined using chi-square test by referring to p value < 0,005. The research results shown that the parity variable of the pregnancy has p value of 0,038, pregnant women knowledge has p value of 0,012, and pregnant women job has p value of 0,000. Thus, this variable has a parity of pregnancy, knowledge of pregnant women and occupation of pregnant women has a relationship with antenatal visits (K-1), while family support variables with p value of 0.478 means that this variable has no relationship with antenatal visits (K-1). The conclusion was the parity, pregnant women knowledge, and pregnant women occupation have the significant relationship with the antenatal care visits (K-1), while the family support has no significant relationship with antenatal visits (K-1). The pregnant women should maintain the pregnancy spacing, maintain the pregnancy health, and increase their knowledge.Cakupan kunjungan Antenatal Care (ANC) di Kabupaten Gorontalo selama tiga tahun terakhir adalah cakupan kunjungan pertama ibu hamil (K-1) tahun 2015 mencapai 90%, pada tahun berikutnya tahun 2016 terjadi penurunan yaitu 76% dan pada tahun 2017 mencapai 89,86%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan Antenatal Care pada kontak pertama pemeriksaan ibu hamil K-1 pada Wilayah Kerja Puskesmas Bongomeme Kabupaten Gorontalo tahun 2018. Adapun populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu hamil tercatat di buku kohort ibu hamil Puskesmas Bongomeme tahun 2018 yaitu sebanyak 163 orang ibu hamil. Desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan cross sectional study. Data yang diperoleh kemudian dilakukan uji statistic chi square dengan melihat nilai p value < 0,005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variable paritas kehamilan dengan nilai p value 0,038, pengetahuan ibu hamil nilai p value 0,012, dan pekerjaan ibu hamil nilai p value 0,000. Artinya variabel paritas kehamilan, pengetahuan ibu hamil dan pekerjaan ibu hamil memiliki hubungan dengan kunjungan antenatal (K-1). Sedangkan variabel dukungan keluarga nilai p value 0,478 ini berarti variabel dukungan keluarga tidak memiliki hubungan...
Inne Soesanti
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 154-161; doi:10.32662/gjph.v2i2.738

Abstract:
Toddler stunted problems describe the existence of chronic nutritional problems, ranging from the womb to the age of 2 years. This study aims to describe the eating patterns stuntted the toddlers in Pasongsongan Village. This study was used qualitative approach. The informants was determined by purposively, with informants were grandmothers or mothers who have grandchildren or stunting children, traditional healer/herbalist, posyandu cadre, public community. Data collection using interview and observation techniques. The result was showed stunted toddlers who were given food in the porridge form until the age of one year, rice cake and soup without side dishes and vegetables. These foods were given on the grounds that the intestine of the child was not strong in receiving rough food. Animal foods were given a compilation of 12 months selected children classified as late. Sea fish was given after the child can walk, with the reasons toddlers can get infection intestinal worms. Wormy myth was very trusted by the informants, that cause most of them not give sea fish to their children before the age of one years. Practices to give food with high carbohydrate water and low protein dense. The conclusion was the lack of protein sources such as egg, sea fish, and chicken in both quality and quantity can be a factor that cause stunting in the children under two years old. The suggestions for the children under two years old must be given food sources of protein, and given information for the mother about knowledge the benefits of consuming fish for children under the age of two years.Masalah balita pendek menggambarkan adanya masalah gizi kronis, mulai dari dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola makan anak baduta pendek di Desa Pasongsongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penentuan informan secara purposive, dengan informan adalah nenek atau ibu yang mempunyai cucu atau anak baduta yang stunting, dukun/pembuat jamu, kader posyandu dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dengan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan anak baduta stunting diberikan makanan berupa bubur sampai usia satu tahun, lontong dan kuah tanpa lauk dan sayur, makanan-makanan tersebut diberikan dengan alasan usus anak belum kuat menerima makanan yang kasar. Makanan hewani diberikan ketika anak berusia 12 bulan tergolong terlambat. Ikan laut diberikan setelah anak bisa berjalan, dengan alasan takut anak terkena cacingan. Mitos cacingan sangat dipercaya oleh para informan, sehingga banyak yang tidak memberikan ikan laut kepada anaknya sebelum usia satu tahun. Pemberian makanan lebih banyak mengandung karbohidrat dan air serta rendah protein. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kurangnya pemberian sumber protein seperti telur, ikan laut, dan daging ayam baik secara kualitas maupun kuantitas dapat menjadi faktor yang menyebabkan stunting pada anak baduta. Saran yang diberikan bahwa anak di bawah...
Sunarti Hanapi, Nuryani Nuryani, Rahmawaty Ahmad
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 146-153; doi:10.32662/gjph.v2i2.751

Abstract:
Based on Indonesian Basic Health Research 2018Vitamin A capsule coverage for children 6-59 months reached 53.1%. Based on Department of Health Gorontalo district Vitamin A capsule coverage in work area of Asparaga community health center reached 80%. The research aims at investigating association of giving vitamin A toward toddler. This research used observational analytic method with cross sectional study approach. This research was conducted in February until April with total of samples were 262 children 6-59 mount and respondents were toddler mother. The technique of collecting samples was using purposive sampling technique and the technique of data collection was using questionnaire. The technique of data analysis was chi square test. The findings reseacrh was found that the giving of vitamin A on toddler was 126 (48,1%) and not giving vitamin A was 136 (51,9%) toddlers, low mothers knowledge 63,4%, active cadre 28,2%, active participation toddlers 5,0%. Base on analysis bivariate indicated that sufficient knowledge of mothers 67,7% of the toddlers were given vitamin A and chi square test showed knowledge of p value = 0,000, the role of active cadres 82,4% of the toddlers were given vitamin A with p value = 0,000 and the activity of toddlers visiting community health center / Posyandu 100% of the toddlers were given vitamin A with p value = 0,000. It was concluded that the mothers knowledge factor, the role of cadres and the activity of toddlers visiting Community Health Center and Posyandu were related to the provision of viramin A in the toddlers. It was recommended for mothers of toddlers to explore more information regarding the importance of providing vitamin A to toddlers, and to be active partisipation in Community Health Center / Posyandu activities.Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 cakupan kapsul vitamin A pada anak 6-59 bulan mencapai 53,1%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo cakupan pemberian vitamin A di Wilayah Kerja Puskesmas Asparaga mencapai 80%. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui sejumlah faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada balita. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Penelitian ini dilakukan pada Februari sampai April dengan jumlah sampel 262 balita umur 6-59 bulan dengan ibu balita sebagai responden. Pengambilan sampel dengan tekhnik purvosive sampling dan pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner, analisis menggunaka chi square test. Hasil penelitian didapatkan pemberian vitamin A pada balita sebanyak 126 (48,1%) dan tidak diberikan vitamin A sebanyak 136 (51,9%) balita, pengetahuan ibu kurang 63,4%, keaktifan kader 28,2%, keaktifan kunjungan balita 5,0%. Berdasarkan hasil uji bivariat menunjukkan pengetahuan ibu cukup 67,7% anak balita diberikan vitamin A chi square test menunjukkan pengetahuan p value = 0,000, peran kader aktif 82,4% balita diberikan vitamin A dengan p value = 0,000, dan keaktifan kunjungan...
Firdausi Ramadhani, Ririh Yudhastuti, Sri Widati
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 139-145; doi:10.32662/gjph.v2i2.584

Abstract:
Based on data from Bangkalan District health profile in 2010, total DHF cases were 709 cases. In 2011 there was a decline in cases, namely 226 people and one person died. In 2012 there was a surge in 397 cases and six people were declared dead (Bangkalan District Health Profile 2010-2012). Bangkalan District Health Office has sought various programs to deal with dengue cases. This study aims to determine the knowledge and implementation of the Eradication of Mosquito Nests. Using qualitative methods with a case study approach. Data collection was carried out during the period of April-June 2017. The population is in part of the community living in Kamal Sub-district. Data was collected through interviews with housewives from Kamal Village, community leaders and Puskesmas officers. From the results of the study it was found that public knowledge about 3M Plus DHF and PSN was still low. Communities are more familiar with fogging and larvacide to combat dengue than the 3M Plus PSN program. The low implementation of 3M Plus PSN and the lack of information on 3M Plus DBD and PSN. As a recommendation, the relevant parties should immediately take strategic and technical steps in implementing the 3M Plus PSN as the main approach in DHF control. Facilitating partnerships between communities and the government and seeking community participation in tackling DHF through PSN mobilization activities. Expanding access to information about 3M Plus DHF and PSN, not only in schools but also covering all levels of society.Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten Bangkalan tahun 2010 kasus DBD total penderita sebanyak 709 kasus. Pada tahun 2011 sempat mengalami penurunan kasus yaitu dengan jumlah 226 penderita dan satu orang dinyatakan meninggal. Pada tahun 2012 kembali mengalami lonjakan yaitu 397 kasus dan enam orang dinyatakan meninggal (Profil Kesehataan Kabupaten Bangkalan 2010-2012). Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan sudah mengupayakan berbagai program untuk mengatasi kasus DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan selama periode Bulan April-Juni 2017. Populasinya sebagian masyarakat yang tinggal di Kecamatan Kamal. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan ibu rumah tangga Desa Kamal, tokoh masyarakat dan petugas Puskesmas. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pengetahuan masyarakat tentang DBD dan PSN 3M Plus masih rendah. Masyarakat lebih mengenal fogging dan larvasida untuk menanggulangi DBD daripada program PSN 3M Plus. Rendahnya pelaksanaan PSN 3M Plus dan minimnya informasi mengenai DBD dan PSN 3M Plus. Sebagai rekomendasi, sebaiknya pihak terkait segera mengambil langkah strategis dan teknis dalam pelaksanaan PSN 3M Plus sebagai pendekatan utama dalam pengendalian DBD. Memfasilitasi kemitraan antara masyarakat dan pemerintah serta mengupayakan partisipasi masyarakat dalam menanggulangi DBD...
Ayu Ghalda, Nazhif Gifari, Nadiyah Nadiyah
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 170-178; doi:10.32662/gjph.v2i2.737

Abstract:
Physical fitness is the ability of a person body to do a day work without feeling significant fatigue, that the body has a reserve of energy to overcome the excessive workload. The purpose of this study was to determine the relationship between hydration knowledge, hydration status, body composition, hemoglobin level with physical fitness in gymnastics athletes. This study was design a cross sectional study at GOR Raden Inten East Jakarta. Independent variables were hydration knowledge, hydration status, body composition (percent of body fat) and hemoglobin level, while the dependent variable was physical fitness. The statistical test used in this study was the spearman correlation test, because the dependent variable in this study was abnormally distributed. The results of this study were that there was no significant relationship between hydration knowledge and physical fitness (r = 0.181; p > 0.05), there was no significant relationship between hydration status and physical fitness (r = -0,440; p = 0,052), there was no relationship significant between body composition (percent of body fat) and physical fitness (r = 0,351; p > 0.05), and there was a significant relationship between hemoglobin level and physical fitness (r = 0,600; p < 0.05). The conclusion in this study, there was a significant relationship between hemoglobin level and physical fitness.Kebugaran jasmani merupakan kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan sehari-hari tanpa merasakan kelelahan yang cukup berarti, sehingga tubuh itu sendiri memiliki cadangan energi untuk mengatasi beban kerja yang berlebih. Tujuanpenelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan hidrasi, status hidrasi, komposisi tubuh, kadar hemoglobin dengan kebugaran pada atlet senam. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan di GOR Raden Inten Jakarta Timur. Variabel independen yaitu pengetahuan hidrasi, status hidrasi, komposisi tubuh (persen lemak tubuh)dan kadar hemoglobin, sedangkan variabel dependen yaitu kebugaran. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi spearman, karena variabel dependen pada penelitan berdistribusi tidak normal. Hasil dari penelitian yaitu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan hidrasi dan kebugaran (r=0,181; p>0,05), tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status hidrasi dan kebugaran (r=-0,440; p>0,05), tidak terdapat hubungan yang signifikan antara komposisi tubuh dan kebugaran (r=0,351; p>0,05) dan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dan kebugaran (r=0,600; p
Ade Heryana, Erlina Puspitaloka Mahadewi, Iyan Ayuba
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 92-109; doi:10.32662/gjph.v0i0.462

Abstract:
The enhancement of patient’s visit to hospital led to the increasing of length of queue particularly at registration division. This condition made the long duration of waiting time for patients. Hospital’s management should manage the patients queue especially for the period of bottle neck condition. This operation research reviewed the patients queue at existing outpatient registration service system and proposed the optimal system based on queuing theory and trade-off analysis of cost of service and cost of waiting. Cross-sectional data applied to collect the patient’s arrival rate, service time for every server, waiting cost, and queue related behavior. Result of this study suggested that existing system was non-steady state system and not optimum based on trade-off analysis. Patients who came at least 08.00 am should serve with 2 servers of queue number service, and 6 servers of outpatient registration. Whereas patients who came after 08.00 am should serve with 1 servers of queue number service, and 2 servers of outpatient registration. This study recommended the range of patient’s arrival and service rate that the describe viability of optimum system. This study suggested hospital’s management should be focus on manage the patient arrival at early morning with applied the suitable queue management technology to controlling the registration waiting line.AbstrakPeningkatan kunjungan pasien ke rumah sakit menyebabkan antrian pasien khususnya pada pelayanan rawat jalan bertambah. Kondisi ini menyebabkan waktu tunggu pelayanan menjadi lama. Manajemen rumah sakit sebaiknya mengelola antrian pasien terutama pada pelayanan yang mengalami hambatan (bottle neck). Penelitian operasional ini bertujuan mengkaji antrian pasien pada sistem pelayanan pendaftaran rawat jalan dan merekomendasikan sistem yang optimal berdasarkan analisis dengan teori antrian dan trade-off antara biaya pelayanan dengan biaya menunggu per pasien. Pengumpulan data secara potong lintang untuk mengetahui tingkat kedatangan pasien, tingkat pelayanan tiap loket pelayanan, dan perilaku pasien saat mengantri. Hasil penelitian menunjukkan sistem pelayanan yang ada saat ini dalam kondisi tidak steady state dan tidak optimum berdasarkan analisis trade-off. Direkomendasikan untuk mengoperasikan 2 loket pengambilan nomor antrian dan 6 loket pendaftaran rawat jalan bagi pasien yang datang sebelum jam 08.00, serta mengoperasikan 1 loket pengambilan nomor antrian dan 2 loket pendaftaran rawat jalan bagi pasien yang datang setelah jam 08.00. Pada studi ini peneliti juga merekomendasikan rentang tingkat kedatangan pasien dan tingkat pelayanan yang dapat diterapkan untuk sistem yang optimal. Disarankan agar manajemen rumah sakit memfokuskan pengelolaan kedatangan pasien dan antrian pasien pada pagi hari, dengan menerapkan teknologi pengelolaan atrian yang sesuai.
A.Meryam Susanti, Sri Darmawati, Endang Tri Wahyuni Maharani
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 132-138; doi:10.32662/gjph.v2i1.482

Abstract:
Meat is an important food for fulfill nutritional needs, many of meats are consumed as a source of highest quality nutrition for humans, especially as a source of protein. Papaya leaves contain the enzyme papain (a protase enzyme that can hydrolyze proteins), so that it can be used to soften meat. The purpose of this study was to look at an overview of protein profiles in five types of meat, namely goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which were soaked in papaya leaves. The protein profile of five types of meat was analyzed using the SDS-PAGE 12% method. The results showed that the control meat of goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which were not soaked in papaya leaves showed that there were many major protein bands compared to minor protein bands. Whereas in goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which have been soaked in papaya leaves, the results were different compared to the control, there were many minor protein bands. While the major bands only have 6 to 9 protein bands. Based on these results indicate that immersion with the enzyme papain contained in papaya leaves can break down peptide bonds, if it works on meat it can be broken down so the meat becomes tender and protein bands in the form of micromolecules.Daging merupakan bahan pangan yang penting dalam memenuhi kebutuhan gizi, banyak dikomsumsi sebagai sumber nutrisi yang berkualitas bagi manusia terutama sebagai sumber protein. Daun pepaya mengandung enzim papain (enzim protase yang dapat menghidrolisa protein), sehingga dapat digunakan untuk melunakkan daging. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran profil protein pada lima jenis daging yaitu daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang direndam daun pepaya. Profil protein lima macam daging dianalisis menggunakan metode SDS-PAGE 12%. Hasil penelitian menunjukkan pada daging kontrol yaitu daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang tidak direndam daun pepaya menunjukkan terdapat banyak pita protein mayor dibandingkan pita protein minor. Sedangkan pada daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang telah direndam daun pepaya menunjukkan hasil yang berbeda dibandingkan dengan kontrol yaitu pada semua daging terdapat banyak pita protein minor. Sedangkan pita mayor hanya terdapat 6 sampai 9 pita protein saja. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa perendaman dengan enzim papain yang terdapat dalam daun pepaya dapat memecah ikatan peptida, jika bekerja pada daging dapat diuraikan sehingga daging menjadi empuk, dan pita protein berbentuk mikromolekul.
Yeni Paramata, Marselia Sandalayuk
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 120-125; doi:10.32662/gjph.v2i1.390

Abstract:
Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Pada tahun 2013 berdasarkan data riset kesehatan dasar prevalensi KEK di kabupaten Gorontalo sebesar 12,5% pada wanita usia 15-49 tahun yang sedang hamil dan 15,1% pada wanita usia 15-49 tahun yang tidak hamil. Untuk mencegah risiko KEK pada ibu hamil sebelum kehamilan, wanita usia subur (WUS) sudah harus mempunyai gizi yang baik, misalnya dengan LILA tidak kurang dari 23,5 cm. Berdasarkan permasalahan diatas penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan kejadian kurang energi kronik pada wanita usia subur (15-49 tahun) di kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan di kelurahan Tilihuwa, dengan jumlah sampel sebanyak 162 WUS usia 15-49 tahun yang dipilih secara Accidental sampling. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kejadian KEK terbanyak pada kelompok Wanita Usia 15-24 tahun yaitu 13 orang (81,3%), tingkat pendidikan hanya tamatan SD yaitu 7 orang (43,8%), status pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga saja yaitu 10 orang (62,5%) dan seluruhnya yang menderita KEK tidak sedang hamil yaitu 16 orang (100%). Untuk mengurangi risiko KEK pada Wanita Usia Subur agar lebih memperhatikan kesehatan dan konsumsi makanan bergizi terutama pada kelompok usia remaja.
Erlina Puspitaloka Mahadewi, Ade Heryana, Yatmi Kurniawati, Iyan Ayuba
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 110-119; doi:10.32662/gjph.v2i1.463

Abstract:
Service queue is a clasically service problem at hospital. The conotation of patient queue both positive and negative. When the patients more prefer to our services, it’s a positive matter. But when patients forced to waiting the service because the length of service time, it’s a negative matter. It’s suggested that the increasing of inpatients service affected to outpatients, because doctors who served often late to outpatient services room. This condition led to patient’s unsatisfaction due to unappropriateness of service time standards. This study aimed to analyze the determinants of length of outpatient services waiting time who served by pulmonologist at general hospital Tangerang City. Qualitative design was held to get deepest information about length of pulmologist service time. Five informants were recruited i.e outpatient service coordinator, nurse, pulmonologist, and two patients who complained to length of waiting time. Result there were conditions that affected the length of service time i.e lack of nurse skill particularly in spirometre operation, inadequately amount of chair at waiting room and trobleshooting of information system, unavailable of service procedure that led to imprecise of newly patient service, working condition wasn’t support to pulomonogist service i.e inpatient service activity. It’s suggested to complete with procedure operation standard and enhance infrastructure budget to update the information system and the addition of chairs at waiting room.pelayanan rawat jalan akibat petugas terlambat datang ke poliklinik. Hal ini berdampak pada ketidakpuasan pasien karena ketidaksesuaian dari standar yang telah ditetapkan. Atas dasar itulah maka menarik untuk diadakan penelitian tentang faktor penyebab lamanya waktu tunggu pelayanan rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab lamanya waktu tunggu pasien di Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Penyakit Paru RSUD Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan mendapatkan informasi yang lebih aktual dan akurat mengenai faktor penyebab lamanya waktu tunggu di Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Paru RSUD Kota Tangerang. Informan terdiri dari informan kunci, informan utama dan informan pendukung. Gambaran penyebab lamanya waktu tunggu pelayananan di bagian Instalasi Rawat Jalan dalam pelayanan di Poliklinik Paru RSUD Kota Tangerang, yaitu: perawat masih memerlukan pelatihan dan pengembangan dalam mengoperasikan alat spirometri, fasilitas ruang tunggu yaitu kursi yang masih belum mencukupi dan program SIMRS (system infromasi manajemen Rumah Sakit) yang harus lebih baik lagi untuk menunjang kegiatan di pelayanan poliklinik paru, prosedur pemberian pelayanan masih belum lengkap, SOP (Standar Operasional Prosedur) alur pelayanan belum ditetapkan, sehingga pada pasien baru sering terjadi salah prosedur, tingginya jumlah tindakan pasien paru rawat inap menyebabkan lamanya pelayanan. Saran sebaiknya manajemen rumah sakit...
Suardi Suardi, Ana Hidayanti Mukarromah, Stalis Norma Ethica
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 126-131; doi:10.32662/gjph.v2i1.481

Abstract:
Fish is a potential source of animal protein, but has a weakness that is easy to rot. To avoid decay can be preserved by salting the fish. In this study wet salting was carried out to analyze the effect of salting on fish protein. The sample used was a type of gourami with 5 tails. 1 for the sample before salting and 4 for salting each salted at 10, 20, 30 and 40% b/v after that it was left to stand for 12 hours. The research method used was the Gel Electrophoresis method (SDS-PAGE) to determine molecular weight (MW), looking at the purity and damage of proteins in the sample. The samples of gouramy before salting showed 16 bands, 8 major bands and 8 minor ribbons. Samples of gouramy with a salt concentration of 10% b/v showed 16 bands, 7 major bands and 9 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 20% b/v showed 14 bands, 7 major bands and 7 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 30% b/v showed 10 bands, 3 major bands and 7 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 40% b/v showed 9 bands, 3 major bands and 6 minor bands. Thus it can be concluded that salting of fish can affect the gouramy protein, which is the higher the salt content added, the protein found in the fish will be denatured. The salting process of 10% b/v in gouramy meat is the most recommended salting process compared to the salting process of 20, 30 and 40% b/v.Ikan merupakan sumber protein hewani yang potensial, namun memiliki suatu kelemahan yaitu mudah membusuk. Untuk menghindari pembusukan dapat dilakukan pengawetan dengan penggaraman pada ikan. Pada penelitian ini dilakukan penggaraman basah untuk menganalisis pengaruh penggaraman terhadap protein ikan. Sampel yang digunakan adalah jenis ikan gurami sebanyak 5 ekor. 1 ekor untuk sampel sebelum penggaraman dan 4 ekor dilakukan penggaraman masing-masing digarami dengan kadar 10, 20, 30 dan 40% b/v setelah itu didiamkan selama 12 jam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Elektroforesis Gel (SDS- PAGE) untuk menentukan berat molekul (BM), melihat kemurnian dan kerusakan protein pada sampel. Pada sampel ikan gurami sebelum penggaraman menunjukkan 16 pita, 8 pita mayor dan 8 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 10% b/v menujukkan 16 pita, 7 pita mayor dan 9 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 20% b/v menunjukkan 14 pita, 7 pita mayor dan 7 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 30% b/v menunjukkan 10 pita, 3 pita mayor dan 7 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 40% b/v menunjukkan 9 pita, 3 pita mayor dan 6 pita minor. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggaraman pada ikan dapat berpengaruh terhadap protein ikan gurami yaitu makin tinggi kadar garam yang ditambahkan maka protein yang terdapat pada ikan akan terdenaturasi. Proses penggaraman 10% b/v pada daging ikan gurami merupakan proses penggaraman yang paling disarankan dibandingkan proses penggaraman 20,30 dan 40% b/v.