Pi: Mathematics Education Journal

Journal Information
ISSN / EISSN : 25975161 / 25976915
Current Publisher: University of Kanjuruhan Malang (10.21067)
Total articles ≅ 24
Filter:

Latest articles in this journal

Filda Febrinita, Wahyu Dwi Puspitasari, Sabitul Kirom
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 88-97; doi:10.21067/pmej.v2i2.3592

Abstract:Modul merupakan salah satu bahan ajar yang dapat digunakan untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan dosen pengajar statistika dan mahasiswa prodi teknik informatika, dosen masih menggunakan bahan ajar berupa buku teks. Penyajian materi pada buku teks terkadang masih sulit dipahami mahasiswa. Namun, untuk mendapatkan buku teks yang lebih bagus pun, membutuhkan biaya yang relatif mahal. Oleh karena itu, perlu adanya bahan ajar yang memaparkan materi dengan jelas dan mudah dimengerti sehingga memudahkan mahasiswa dalam mempelajari statistika. Berdasarkan hal tersebut, dilakukanlah penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan modul matakuliah statistika yang terintegrasi dengan Excel dan SPSS menggunakan pendekatan kecerdasan linguistik, yang memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif. Prosedur pengembangan produk mengikuti model pengembangan 4-D dari Thiagarajan tetapi pada penelitian ini tahapan yang digunakan adalah pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop). Hasil penelitian menunjukkan nilai dari validasi ahli adalah 2,4 sehingga modul memenuhi kriteria valid. Hasil observasi keterlaksanaan modul adalah 2,54 sehingga modul memenuhi kriteria praktis. Sedangkan untuk nilai tes akhir, 78% mahasiswa memperoleh nilai 75 ke atas. Selain itu, 61,6% mahasiswa menyatakan setuju dan 34,9% mahasiswa menyatakan sangat setuju terhadap penggunaan modul dalam pembelajaran. Tercapainya ketuntasan belajar dan adanya respon positif tersebut menunjukkan bahwa modul memenuhi kriteria afektif. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa modul yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif.
Nurlaili Wahyuni, Lutfiyah Lutfiyah, Taufik Taufik, Chairul Fajar Tafrilyanto
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 74-87; doi:10.21067/pmej.v2i2.3371

Abstract:Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). dimana dalam setiap siklus terdiri dari 4 komponen yaitu planning (perencanaan), acting (tindakan), observing (observasi) dan reflecting (refleksi). Rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan pertama siklus I sebesar 2,95 dengan kategori Baik sedangkan pada siklus II sebesar 3,46 dengan kategori Baik. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II di atas menunjukkan adanya peningkatan rata-rata aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan metode tritawa sebesar 0,51. Rata-rata respon siswa pada pertemuan pertama siklus I sebesar 82,32% dengan kategori Positif sedangkan pada siklus II sebesar 87,52% dengan kategori Positif . Hasil angket respon siswa pada siklus I dan siklus II di atas menunjukkan adanya peningkatan rata-rata angket respon siswa dalam pembelajaran menggunakan metode tritawa sebesar 5,20%. Tes hasil belajar siswa pada pertemuan pertama siklus I sebesar 60, dari 25 siswa terdapat 12 siswa dinyatakan tuntas dengan persentase ketuntasan sebesar 48% sedangkan pada siklus II rata-rata tes hasil belajar sebesar 80,84, dari 25 siswa terdapat 22 siswa dinyatakan tuntas dengan persentase ketuntasan sebesar 88%. Rata-rata dan persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II di atas menunjukkan adanya peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 20,84 dan persentase ketuntasan sebesar 40%.
Sri Hariyani, Niswatul Hamidah, Rahaju Rahaju
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 54-61; doi:10.21067/pmej.v2i2.3212

Abstract:Prestasi belajar matematika siswa masih rendah, salah satu penyebab menurunnya prestasi belajar siswa yaitu metode konvensional yang kontinu sehingga siswa merasa bosan dan cenderung pasif dalam pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut, guru menggunakan metode dan model pembelajaran yang bervariatif selama mengajar. Dalam penelitian ini, guru menggunakan model pembelajaran jigsaw. Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIB sebanyak 24 anak, terdiri atas 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian pada siklus 1 yaitu: (1) siswa gaduh pada saat pembagian kelompok; (2) ada siswa yang mendominasi kegiatan mengerjakan tugas dalam kelompok; (3) peneliti kurang bisa mengalokasikan waktu; (4) beberapa siswa yang tidak presentasi kurang memperhatikan presenter dan berbicara dengan temannya; dan (5) beberapa siswa kurang percaya diri saat mengikuti tes. Hasil analisis tes siklus 1 menunjukkan bahwa siswa yang tuntas belajar sebanyak 19 siswa dari 24 siswa, sehingga prosentase siswa yang tuntas belajar sebesar 79,10% dan prosentase siswa yang tidak tuntas belajar sebesar 20,90% dengan nilai rata-rata kelas 73,5. Hasil tes analisis siklus 2 menunjukkan bahwa siswa yang tuntas belajar sebanyak 22 siswa dari 24 siswa, sehingga prosentase siswa yang tuntas belajar sebesar 91,67% dan prosentase siswa yang tidak tuntas belajar sebesar 8,33% dengan nilai rata-rata kelas.
I Ketut Suastika, Dyah Triwahyuningtyas
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 98-103; doi:10.21067/pmej.v2i2.3629

Abstract:Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan e-modul berbasis inkuiri untuk matakuliah Pembelajaran Geometri pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Tahapan pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahapan pengembangan Plomp meliputi: investigasi awal, prototipe, dan asesmen. Pada tulisan ini, peneliti hanya fokus pada pemaparan hasil dari investigasi awal. Investigasi awal dilakukan pada prodi PGSD di kampus yang berafiliasi PGRI di Jawa Timur. Hasil yang diperoleh pada investigasi awal: (1) materi yang disajikan pada pembelajaran geometri meliputi materi bangun datar dan materi bangun ruang, (2) pembelajaran yang dilaksanakan didominasi oleh dosen, (3) ada bahan ajar yang digunakan sebagai pegangan, namun masih belum menggunakan e-modul, (4) bahan ajar yang digunakan masih belum memberikan porsi yang cukup untuk mahasiswa menemukan konsep.
Astri Siti Sadiah, Elsa Komala, Rani Sugiarni
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 69-73; doi:10.21067/pmej.v2i2.3367

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menjawab apakah setelah penerapan model pembelajaran Probing Prompting dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa di kelas VII SMP Al-Azhary Cianjur. Metode yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen dengan bentuk desain The Nonequivalent Pretes-Postes Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Al-Azhary. Melibatkan sampel sebanyak 41 siswa yang berasal dari dua kelas dipilih melalui teknik purposive sampling. Kelas VII-A sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-B sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes berupa pretes dan postes untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika dan non tes berupa angket skala sikap. Analisis data kuantitatif dalam penelitian ini menggunakan SPSS 20. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa Pencapaian dan Peningkatan kemampuan pemhaman konsep matematika yang menggunakan model pembelajaran Probing Prompting lebih baik daripada peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika yang menggunakan model pembelajaran biasa. Dengan kategori peningkatan tinggi, Sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Probing Prompting sebagian besar positif.
Gilang Azwardi, Rani Sugiarni
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 62-68; doi:10.21067/pmej.v2i2.3335

Abstract:Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjawab apakah setelah penerapan model LAPS-Heuristic(Logan Avenue Problem Solving) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi trigonometri di kelas X SMA Negeri 1 Cibeber. Jenis penelitian kuantitatif tipe Quasi Experimen dengan bentuk Design The Nonequivalent Prettest-Posttest Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPA SMAN 1 Cibeber. Adapun penelitian ini dipilih sebanyak 2 kelas dari 3 kelas melalui teknik purposive samplingdan melibatkan sampel sebanyak 53 orang yang berasal dari dua kelas yang pilih. Kelas X IPA 2 dipilih sebagai kelas eksperimen yang memperoleh pembelajaran dengan model LAPS-Heuristik dan kelas X IPA 1 dipilih sebagai kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran biasa. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan instrument berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dan kuisioner sikap siswa. Pengolahan data hasil penelitian ini menggunakan software SPSS versi 20. Berdasarkan hasil analisis data penelitian kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan menggunkan model pembelajaran LAPS-Heuristic lebih baik di bandingan menggunakan model pembelajaran biasa. Sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model LAPS-Heuristic(Logan Avenue Problem Solving)sebagian besar positif. Katakunci: Model LAPS-Heuristic; Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis.
Gogot Dwi Yulianto, I Ketut Suastika, Trija Fayeldi
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 7-13; doi:10.21067/pmej.v2i1.2810

Abstract:Fokus penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah berdasarkan langkah Polya dan penyebab kesalahan siswa dalam melakukan pemecahan masalah matematika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah studi kasus. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP PGRI 4 Kalipare Malang. Prosedur pengumpulan data menggunakan tes untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah, wawancara untuk mengetahui penyebab kesalahan siswa, dan validasi untuk memvalidasi tes. Hasil dari penelitian ini yaitu (1) hasil validasi soal dari validator yaitu soal valid dan dapat digunakan dengan sedikit revisi, (2) hasil tes menunjukkan tingkat 1 terdapat 13 siswa, tingkat 2 terdapat 3 siswa, tingkat 3 terdapat 5 siswa dan tingkat 4 terdapat 1 siswa. Kesimpulan penelitian ini yaitu siswa dibagi menjadi 4 tingkatan kemampuan pemecahan masalah menurut langkah Polya yaitu tingkat 1 tidak mampu menyelesaikan langkah pemecahan masalah Polya sama sekali, tingkat 2 siswa hanya mampu memahami masalah, tingkat 3 siswa mampu memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian dan melaksanakan rencana penyelesaian, dan tingkat 4 siswa mampu melaksanakan 4 langkah pemecahan masalah Polya.Beberapa penyebab kesalahan siswa yaitu siswa tidak memahami materi dan teknik menyelesaikan soal, kurang konsentrasi, tidak membuat kesimpulan akhir, dan kurang teliti.
Rizky Ambar Setyomurni, Ridho Pratama Putra, Luluk Qomariyah
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 1-6; doi:10.21067/pmej.v2i1.2536

Abstract:Trend in International Mathematics and Science Study (TIMMS) yang dilansir oleh Puspendik tahun 2015 menyatakan bahwa secara umum siswa Indonesia lemah di semua aspek konten maupun kognitif, baik untuk matematika dan sains. Inovasi media pembelajaran akan memberikan dampak yang berbeda pada peserta didik dengan semakin berkembangnya teknologi sehingga dapat membuat proses pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan interaktif. Adanya bantuan komputer dan teknologi informasi, maka kualitas pendidikan dapat meningkat dan mempermudah siswa dalam menerima pelajaran. Rendahnya pengetahuan generasi saat ini akan budaya nusantara menjadikan budaya kita sering diakui oleh negara lain. Game menjadi salah satu upaya dalam mengenalkan budaya nusantara dan juga ilmu pengetahuan para pemainnya. Ide ini mengangkat berbagai level yang sesuai dengan indikator pencapaian yang berdasarkan pada KI dan KD yang tertera pada silabus. Rumusan masalah yakni mengenai bagaimana pengembangan game serta penerapannya dalam pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah ADDIE (analysis, design, development, implemetation, evaluation). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan angket. Hasil penilaian oleh ahli materi dan media terhadap game yakni diperoleh rata-rata 82% sedangkan hasil respon guru dan peserta didik diperoleh rata-rata 78.5%. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa game layak digunakan dengan pengembangan metode ADDIE dan layak untuk diterapkan sebagai media pembelajaran
Junita Sari, Fanny Hayati
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 14-25; doi:10.21067/pmej.v2i1.2838

Abstract:Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemahman konsep matematis siswa terlihat pada gejala berikut, yaitu siswa kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang sedikit berbeda dari contoh yang diberikan dan siswa kesulitan menerapkan konsep dalam soal cerita. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi kubus dan balok. Metodologi yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 30 orang siswa SMPN 3 Rambah Samo. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) tes kemampuan pemahaman konsep matematis; (2) observasi;(3) Wawancara (4) dokumentasi. Hasil penelitian dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa menunjukkan 82,9%. Dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemampuan pemahaman konsep matematis siswa sehingga guru diharapkan dapat merancang kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa pada indikator memberikan contoh dan non contoh dari konsep serta indikator menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur tertentu.
Dewi Wijayanti, Evi Widayanti
Pi: Mathematics Education Journal, Volume 2, pp 34-39; doi:10.21067/pmej.v2i1.2925

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat berpikir kritis siswa SMP dalam memecahkan masalah matematika melalui soal open ended. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan di kelas VIII-B yang berjumlah 24 siswa di SMP Muhammadiyah 17 Surabaya bulan mei pada semester genap tahun ajaran 2017/2018. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa: subjek S1 dapat memberikan empat jawaban yang berbeda dan benar, sehingga berdasarkan Tingkat Berpikir Kritis siswa berkemampuan matematika tinggi termasuk dalam kategori kritis. Subjek S2 mampu memberikan tiga jawaban yang berbeda dan benar, sehingga berdasarkan Tingkat Berpikir Kritis siswa berkemampuan matematika sedang termasuk dalam kategori cukup kritis. Sedangkan Subjek S3 hanya bisa memberikan satu jawaban yang berbeda dan benar, sehingga berdasarkan Tingkat Berpikir Kritis siswa berkemampuan matematika rendah termasuk dalam kategori tidak kritis.