Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits

Journal Information
ISSN / EISSN : 19780893 / 27147916
Total articles ≅ 25
Filter:

Latest articles in this journal

Jon Pamil, Akmal Munir, Rian Vebrianto
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 157-170; doi:10.24042/al-dzikra.v13i2.4292

Abstract:
The Quran is the Holy book that is a revelation from God to guide humanity. The Quran has many chapters and verses concerning sciences. This study aimed to explore the content of the Quran using exegesis and all of its components as the main tools to comprehend the Quran. This was a qualitative historic-factual study based on the notion of Tommy Dazwir Paja Putra regarding the scientific miracle of chapters and verses numbers of the Quran. The results show that the numbers of the chapters and verses regarding humans (the prophets and their followers, devout persons, and the ungodly) or things in nature indicate of object location or the object properties. In conclusion, the Quran has scientific signs related to the various branch of sciences such as geography, astronomy, biology, chemistry, archeology, history, paleontology, and other sciences. AbstrakAl-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah swt sebagai pedoman hidup umat manusia. Salah satu kandungan al-Qur’an adalah berkaitan tentang ilmu pengetahuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali kandungan-kandungan al-Qur’an yang menjadi pedoman kehidupan. Oleh karenanya, ilmu tafsir dengan segala perangkatnya merupakan ilmu utama untuk dapat memahami kandungan al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat historis-faktual, terhadap pemikiran tokoh Tommy Dazwir Paja Putra tentang kemukjizatan ilmiah nomor urut surat dan ayat al-Qur’an. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa al-Qur’an manakala berbicara tentang objek-objek di alam seperti objek manusia (para Nabi dan kaumnya, orang-orang shaleh dan orang-orang durhaka), maupun benda-benda di alam, maka ternyata nomor ayat dan nomor surat tersebut sebahagian memberi petunjuk tentang lokasi objek dan sebahagian lagi memberi petunjuk tentang sifat-sifat objek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an mengandung isyarat ilmiah yang terkait dengan banyak cabang ilmu seperti geografi, astronomi, biologi, kimia, arkeologi, sejarah palentologi dan sebagainya. Kata Kunci: Al-Qur’an, Nomor Ayat, Nomor Surat, Kemukjizatan ilmiah.
Muhammad Luthfi Dhulkifli
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 113-136; doi:10.24042/al-dzikra.v13i2.3640

Abstract:
Amongst some orientalist of Qur’anic studies, Arthur Jeffery was one of the controversial figures for the idea of a critical edition of the Qur’an. For Jeffery, the Qur’an existed today is unreasonable and its arrangement is clearly haphazard. One of his critical argument is surah al-Fatihah which indicated not originally part of the Qur’an. His work “the variant readings of the Fatihah” showed some peculiar nature of al-Fatiha with the evidence of two Fatihah different versions. Jeffery’s variants study is a polemical argument as its contradicts to the Muslim scholar arguments. For Muslim scholars, al-Fatihah is an integrated part of Qur’an. Therefore, this article will analyze Jeffery’s argument on al-Fatihah through a descriptive-analytic method. Based on historical, language, and qira’ah study, Jeffery’s argument is incorrect. In addition, Jeffery failed to show the existence of his evidence of variant of al-Fatihah.Keywords: Critic; Controversy; Fatiha; Muslim; the Qur’an AbstrakDiantara sekian banyak para orientalis pengkaji al-Qur’an, Arthur Jeffery merupakan salah satu sosok yang paling kontroversial dengan gagasannya untuk membuat al-Qur’an edisi kritis. Menurut Jeffery, al-Qur’an yang ada saat ini sangat tidak jelas dan susunannya dilakukan secara sembarangan. Salah satu bagian yang Jeffery kritisi adalah surat al-Fatihah yang dianggap bukan bagian dari al-Qur’an. Dalam tulisannya yang berjudul the variant readings of the Fatihah, dia menunjukkan kejanggalan dalam surat al-Fatihah dengan menunjukkan bukti dua variasi surat al-Fatihah yang berbeda. Kajian ini mengundang polemik karena bertentangan dengan pandangan para sarjana Muslim yang menganggap al-Fatihah sebagai bagian penting dari al-Qur’an. Tulisan ini akan menganalisasi pandangan Jeffery terhadap surat al-Fatihah melalui metode deskriptif-analitis. Melalui kajian historis, kebahasaan, dan ilmu qira’at, argumen skeptis Jeffery terhadap al-Fatihah terbantahkan. Ditambah lagi, Jeffery tidak mampu membuktikan keberadaan variasi surat al-Fatihah yang dia yakini. Kata Kunci: al-Fatihah; al-Qur’an; Kontroversi; Kritik; Muslim
Rudy Irawan
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 171-194; doi:10.24042/al-dzikra.v13i2.4164

Abstract:
Rahman is a contemporary Islamic thinker who intensely studies the Qur’an. According to him, the Qur'an appears in the historical horizon and is faced with a socio-historical background, the most appropriate question to get the Qur'an is historical approach. Rahman uses Double Movements’s method in his interpretation, which is a historical investigation that encompasses the text in the past to get its moral ideal which will be contextualized in contemporary society. This method or strategy is its protector and sword. On one hand this method proves how revelation has launched history. On the other hand, he will use the Qur'an as a normative standard to negate local traditions as well as religious practice values that involve norms derived from the Qur'an and sunnah. This study uses descriptive-analytical methods to discuss and further analyze the contextual methods offered by Rahman. The conclusion that can be drawn from this approach is an approach to the Koran by undertsanding its historical situation, both before and during the revelation, then draw the moral-ideal from that revelation, and project it in the present context. In projecting the ideal morals into the present context, the Mufassir must direct his attention to the goal of the Qur'an (moral ideal) as a unified whole, so that it will bring up for a concrete world view (weltanschaung). In essence, the contextualization of the ideal morals will result in the formulation of the ethics of the Qur'an that is able to support and develop the integrity of individuals and collectives in contemporary society.AbstrakRahman merupakan pemikir Islam kontemporer yang intens mengkaji al-Qur’an. Menurutnya, al-Qur’an muncul dalam horizon sejarah dan berhadapan dengan latar belakang sosio-historis, maka pendekatan yang paling tepat untuk memahami al-Qur’an adalah kesejarahan (historical approach). Metode yang digunakan dalam penafsirannya adalah Double Movement, yaitu investigasi sejarah yang melingkupi teks pada lampau untuk mengambil ideal moralnya yang akan dikontekstualisasikan dalam masyarakat kontemporer. Metode ataupun strategi ini merupakan pelindung dan pedangnya. Di satu sisi metode tersebut menunjukkan bagaimana wahyu telah membuka sejarah. Di sisi lain, ia akan menggunakan al-Qur’an sebagai standar normatif untuk meniadakan tradisi-tradisi lokal juga nilai-nilai praktik agama yang mengganggu norma-norma yang diperoleh dari al-Qur’an dan sunnah. Kajian ini menggunakan metode deskriptif-analitis untuk mengeksplorasi dan menganalisa lebih lanjut metode kontekstual yang ditawarkan Rahman. Kesimpulan yang bisa diambil dari pendekatan yang dimaksud adalah suatu pendekatan terhadap al-Qur’an dengan memahami situasi kesejarahan, baik sebelum maupun dimasa pewahyuan, untuk kemudian menarik ideal-moral dari wahyu tersebut, dan memproyeksikannya dalam konteks kekinian. Dalam memproyeksikan ideal moral terhadap konteks kekinian, mufassir harus mengarahkan perhatianya pada tujuan al-Qur’an (ideal-moral) sebagai suatu keseluruhan yang utuh, sehingga akan memunculkan suatu pandangan dunia (weltanschaung) yang konkret. Secara garis besar, kontekstualisasi atas ideal moral tersebut akan menghasilkan suatu rumusan etika al-Qur’an yang mampu melindungi dan mengembangkan integritas para individu dan kolektif dalam masyarakat kontemporer.Kata Kunci: Fazlur Rahman, Kontemporer, Kontekstual, Metode Penafsiran
Hanifatul Asna
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 137-156; doi:10.24042/al-dzikra.v13i2.4448

Abstract:
The Qur’an as the first source of reference for Muslims who are always relevant in every time and place, must have an informative meaning. It can undergo meaningful transformation in line with changing times. In the time of the Prophet, the word gulūl was understood by taking war booty before it was distributed. Wherwas current context war like during the time of the Prophet is no longer happening, it is necessary to re-interpret what the meaning of gulūl along with how to contextualize the use of the word in the Qur’an especially in the QS. Ali Imrān: 161. By using the Hermeneutic approach, this specifically borrows Abdullah Saeed’s Contextual theory in understanding the meaning of gulūl in the Qur’an especially QS. Ali Imrān; 161, then an interpretation can be produced between them; first, in the initial context gulūl was a form of betrayal, like taking the spoils of war. Secondly, in the current context gulūl can be understood with broad meanings of betrayal such as being unsafe and taking things secretly even though he has the right part of the thing. This can be described as corruption both material and time. The essence of Q.S Ali Imrān: 161, it can be interpreted a leader is not possible and should not do gulūl (acts of cheating). This verse shows the existence of protection values. AbstrakAl-Qur’an sebagai sumber rujukan pertama umat muslim yang selalu relevan dalam setiap waktu dan tempat, pastilah mempunyai makna informatif dan dapat mengalami transformasi pemaknaan seiring dengan perubahan zaman. Pada zaman Nabi, kata gulūl dipahami dengan mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan. Sedangkan pada konteks sekarang, perang seperti pada masa Nabi sudah tidak lagi terjadi. Oleh karenanya, perlu adanya interpretasi ulang apa makna gulūl serta bagaimana kontekstualisasi penggunaan kata tersebut dalam al-Qur’an khususnya pada QS. Ali Imrān: 161. Dengan menggunakan pendekatan Hermeneutika, khususnya meminjam teori Kontekstual Abdullah Saeed dalam memahami makna gulūl dalam al-Qur’an khususnya QS. Ali Imrān ayat 161, maka dapat dihasilkan interpretasi di antaranya; pertama, dalam konteks awal gulūl merupakan bentuk pengkhianatan, seperti mengambil harta rampasan perang. Kedua, dalam konteks saat ini gulūl dapat dipahami dengan makna khianat secara luas seperti tidak amanah dan mengambil sesuatu secara sembunyi-sembunyi meskipun dia mempunyai bagian hak dari benda tersebut. Hal ini dapat digambarkan seperti korupsi secara materi maupun waktu. Adapun intisari QS. Ali Imrān: 161, dapat diartikan seorang pemimpin tidak mungkin dan tidak seharusnya melakukakan gulūl (tindak kecurangan). Ayat ini menunjukkan adanya nilai-nilai perlindungan/protectional values.Kata Kunci: Gulūl, Hermeneutika, Kontekstual, QS. Ali Imrān: 161
Fauzan Fauzan, Imam Mustofa, Masruchin Masruchin
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 195-228; doi:10.24042/al-dzikra.v13i2.4168

Abstract:
As a holy book, al-Qur'an has function as a law and a way of life for Muslims. In this context, Muslims in modern times have problem in understanding the whole contents of the Qur’an. Therefore, exegetes formulate a method of understanding the Qur'an in line with certain themes or so-called the Maudlu'i interpretation method. This article aims to describe the Maudlu'i interpretation, the problems of the Maudlu'i interpretation, and examples of the Maudlu'i interpretation. This literature review use descriptive qualitative method. The results of the study indicate that the interpretation of Maudlu'i is a method of interpretation that seeks to explain the contents of the Qur'an based on a particular theme. There are three focuses of Maudlu'i interpretation that developed in the 20th century, namely the Maudlu'i method of interpretation which focuses on terminology, the Maudlu'i method of interpretation which focuses on themes or topics in the Qur’an, and the Maudlu'i method of interpretation which focuses on one particular chapter in the Qur’an. Regardless of the dynamics of strengths and weaknesses, Maudlu'i interpretation is more suitable with the living conditions of modern-day Muslims. This study reveal that the Maudlu'i method of interpretation plays an important role in understanding the content of the Qur'an. AbstrakSebagai kitab suci, al-Qur’an berfungsi sebagai undang-undang dan pedoman hidup umat Islam. Dalam konteks ini, umat Islam pada zaman modern seringkali kesulitan dalam memahami isi al-Qur’an secara keseluruhan. Oleh karena itu, para ahli tafsir kemudian merumuskan sebuah metode memahami al-Qur’an sesuai dengan tema-tema tertentu atau yang disebut sebagai metode tafsir Maudlu’i. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan tentang Tafsir Maudlu’i, problematika tafsir Maudlu’i, dan contoh tafsir maudlu’i. Kajian pustaka ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa tafsir Maudlu’i merupakan metode tafsir yang berusaha menjelaskan isi kandungan al-Qur’an berdasarkan tema tertentu. Metode tafsir yang berkembang pada abad 20 tersebut dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tafsir maudlu’i yang fokus pada terminologi, tafir maudlu’i yang fokus pada tema atau topik dalam al-Qur’an, dan tafsir maudlu’i yang fokus pada satu surat tertentu dalam al-Qur’an. Terlepas dari dinamika kelebihan dan kekurangannya, tafsir Maudlu’i lebih sesuai dengan kondisi kehidupan umat Islam zaman modern ini. Hasil kajian menyimpulkan bahwa metode tafsir Mau’dlu’i memiliki peran penting dalam memahami isi kandungan al-Qur’an. Kata Kunci: Metode Mauḍu’ī, Tafsir dan Aplikatif.
Nur Yamin
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 239-260; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4520

Abstract:
AbstrakItsmun adalah istilah yang digunakan dalam al-Qur’an yang dipakai sebagai istilah dosa, yang mempunyai makna perbuatan-perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Itsmun dengan kata lain adalah sebutan atas tindakan yang menghambat tercapainya (terwujudnya) kebaikan. Itsmun di dalam al-Qur’an digunakan untuk menyebutkan sebuah pelanggaran yang memiliki efek negatif terhadap diri sendiri dan masyarakat. Maka itsmun dikatakan dosa apabila perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang telah merugikan diri sendiri dan orang lain. Itsmun dalam pemaknaannya banyak disampaikan oleh kalangan sufi, khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat yang terkait dengan Itsmun. Imam Al-Alusi merupakan tokoh mufassir klasik yang ternama, khususnya pada kalangan ulama tasawuf yang menggunakan tafsir aliran sufistik isyari. Pemikiran Al-Alusi dalam tafsir Rûh al-Ma’ânî tidak terlepas dari kiprah beliau dalam konteks idiologi beliau mengenai prihal aqidah. Adapun mengenai penafsiran beliau tentang ayat-ayat itsmun, Al-Alusi tidak terlepas dari kesufiannya dalam pemikirannya. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif analitis yang pokok kajiannya pada kitab tafsir Rûh al-Ma’ânî. Dengan menggunakan metode tersebut, peneliti mendapati secara umum Al-Alusi menyatakan bahwa itsmun adalah orang yang banyak dosa, orang kafir, kebohongan, serta dalam setiap ayat mengandung makna yang melawan Allah dan Rasul, serta memiliki efek negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Adapun solusi yang diberikan terhadap orang yang berbuat dosa yaitu dengan cara bertaubat kembali kepada petunjuk Allah dan menjauhi semua larangannya serta tidak mengulangi perbuatan dosa lagi.Kata Kunci: Itsmun, Tafsir Isyari, Imam al-Alusi
Maulidi Ardiyantama
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 187-208; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4411

Abstract:
AbstrakTulisan ini mengkaji dan meneliti penafsiran Tantawi Jauhari dan Fakhr al-Din al-Razi pada ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena laut dalam tafsîrnya. Fenomena yang sangat menarik ini mulai banyak temuan-temuan baru masa kini tentang lautan yang masih banyak menyimpan misteri. Dalam penelitian ini terdapat dua kajian fokus, yaitu mengenai penafsiran Tantawi Jauhari dan Fakhr al-Din al-Razi tentang fenomena laut, dengan menfokuskan pada QS. al-Rahman 19-20, QS. al-Furqan:53, QS. al-Thur: 6 serta mengkolerasikan dengan konteks masa kini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-komparatif dengan kajian pustaka (library research) yang mengacu pada data primer Tafsîr al-Jawahir dan Tafsîr Mafatihul Ghaib. Berdasarkan ayat-ayat yang dikaji, menyatakan bahwa fenomena laut dalam penafsiran kedua tokoh sesuai dengan konteks masa kini diantaranya ialah ditemukannya perbedaan jenis flora dan fauna dan dari adanya bara api di dasar laut dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik masa depan dengan memanfaatkan perbedaan temperatur laut tersebut.Kata Kunci: Kauniyyah, Laut, Tafsîr al-Jawahir, Tafsîr Mafatihul Ghaib.
Alim Sofiyan
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 155-186; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4395

Abstract:
AbstrakArtikel ini meneliti tentang ayat-ayat yang ada hubungannya dengan psikologis. Penelitian ini fokus dalam pembahasan terhadap emosi primer dalam surat Yusuf. Adapun ayat-ayat yang berkaitan dengan psikologis sangat banyak sekali, akan tetapi peneliti memfokuskan dalam kajian psikologis yang berkaitan dengan emosional manusia, dimana banyak ditemukan ayat-ayat yang bersentuhan langsung dengan emosi dalam surat Yusuf. Untuk memudahkan dalam penelitian ini, maka peneliti merumuskan pokok permasalahan yakni, bagaimana cara yang diajarkan Allah swt. dalam mengendalikan emosi dalam surat Yūsuf serta apa saja hikmahnya dalam surat Yūsuf. Penelitian ini termasuk dalam penelitian pustaka (library research) dengan menfokuskan pada interpretasi ayat yang berkaitan dengan psikologis, sehingga peneliti menggunakan metode content analysis dan interpretasi. Sehingga ditemukan bahwa cara mengendalikan emosi yang ada dalam Surat Yūsuf adalah dzikrullah, Al-‘Afw, dan Sabar, yang harus selalu kita pegang sebagai kunci kesuksesan dan keberhasilan serta kemenangan dalam menjalani setiap kehidupan.Kata Kunci: Emosi, Al-Qur’an, Surat Yūsuf
Machin Muqaddam
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 125-154; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4393

Abstract:
AbstrakArtikel ini mengkaji tentang keindahan sebuah ayat-ayat al-Qur’an yang di kaji dari sudut pandang ilmu balagah. Penulis ingin meneliti sebuah karya yang mengkaji tentang balagah yaitu kitab I’rābu Al-Qur’ān al-Karīm wa Bayānuhu karya Muhyiddin ad-Darwis. Dalam kitab tersebut banyak ditemukan ayat-ayat al-Qur’an yang secara khusus kajiannya tentang balagah, sehingga keindahan ayat-ayat al-Qur’an sangat terlihat dan itulah salah satu bukti bahwa kemukjizatan al-Qur’an dari aspek bahasa sangat terbukti dan belum ada yang menandinginya mulai sejak al-Qur’an turun sampai sekarang. Dan banyak yang berpendapat bahwa aspek kemukjizatan al-Qur’an terletak pada unsur kebahasaannya, selain itu pada setiap arti kata dalam ayat tersebut merupakan sebuah keindahan tersendiri yang terdapat dalam al-Qur’an, lebih-lebih hal tersebut dibahas oleh Muhyiddin ad-Darwis. Dalam artikel ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif (library research) yang berfokus pada kitab I’rābu Al-Qur’ān al-Karīm wa Bayānuhu sebagai kajian utamanya. Dan hasilnya bahwa keindahan dalam setiap arti kata yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an merupakan suatu keindahan tersendiri dan membuktikan bahwa itulah mukjizat al-Qur’an dari aspek balagahnya dalam bentuk tasybih, majaz dan isti’arah.Kata kunci: Keindahan, Balagah, Kebahasaan, Mukjizat.
Azzam Nur Wahid
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 209-238; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4379

Abstract:
AbstrakTulisan ini mengkaji dan meneliti seberapa jauh akurasi mufassir dalam membaca teks dan konteks terkait fenomena bahr dan temuan-temuan baru yang masih banyak menyimpan misteri. Fokus penelitian ini lebih kepada pendekatan sains terhadap korelasi ayat-ayat ilmiah terhadap penemuan modern. Dalam penelitian banyak mengkorelasikan temuan modern dengan keabsahan al-Qur’an sebagai kitab suci. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisis dengan kajian pustaka (library research) dalam mengungkap ayat-ayat ilmiah berdasarkan pandangan para mufassir dengan dipadukan beberapa teori ilmiah para ilmuwan modern. Prosedur penelitian ini mengambil bentuk maudhui dalam mengurai ayat-ayat ilmiah terhadap penemuan modern. Berdasarkan ayat-ayat yang dikaji, menyatakan bahwa I’jaz al-Qur’an terkait fenomena bahr menghasilkan beberapa temuan yang senada dengan persuasi al-Qur’an seperti nikmat lu’lu’ wa marjan, segala sesuatu yang hidup bermuara dari air, Maraj al-Bahraîni dalam fenomena sains.Kata Kunci: I’jaz Al-Qur’an; Fenomena sains bahr
Back to Top Top