Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits

Journal Information
ISSN / EISSN : 1978-0893 / 2714-7916
Total articles ≅ 41
Filter:

Latest articles in this journal

Aulia Devi
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 293-312; doi:10.24042/al-dzikra.v14i2.6438

Abstract:
The purpose of this study is to describe the methodological study of hadith criticism. The research method is used with the approach of library study through the source of the library from various sources of literature about the methodology of the study of hadith criticism. Then analyzed and presented the data findings objectively. The result of this study is that the criticism of matan hadith is an attempt to research the hadith that is sahīh, in order to know if the hadith is maqbūl or mardūd. As for the steps are: Matan research reviewed from the quality of his isnay, researching the editor of the matan that is as good as it is, researching the content of matan and the latter is concluding the results of matan research. Then there are two methods of criticism that have been used from classical times to modern times, namely the muqāranah method and the mu'āradhah method. This method has been applied by the companions and tabi'in. This shows that criticism of hadith is necessary to be done with the aim of avoiding forgery against the hadith. AbstrakTujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang metodologis studi kritik matan hadits. Metode penelitian yang digunakan dengan pendekatan studi pustaka melalui sumber pustaka dari berbagai sumber literatur tentang metodologis studi kritik matan haditst. Kemudian dianalisis dan disajikan hasil temuan data secara objektif. Hasil dari penelitian ini yaitu kritik matan hadits adalah suatu upaya kegiatan penelitian terhadap matan-matan hadits yang sanad-nya sahīh, dalam rangka untuk mengetahui apakah hadits tersebut maqbūl ataupun mardūd. Adapun langkah-langkahnya yaitu: Penelitian matan yang ditinjau dari kualitas sanad-nya, meneliti redaksi matan yang semakna, meneliti kandungan matan dan yang terakhir adalah menyimpulkan hasil penelitian matan. Kemudian ada dua metode kritik matan yang sudah dipakai sejak zaman klasik hingga zaman modern, yaitu metode muqāranah dan metode mu’āradhah. Metode inilah yang sudah diterapkan oleh para sahabat dan para tabi’in. Hal demikian menunjukkan bahwa kritik matan hadits sangat perlu untuk dilakukan dengan tujuan agar menghindari pemalsuan terhadap matan hadits. Kata Kunci: Matan, Langkah dan Metode.
Imam Mustofa
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 271-292; doi:10.24042/al-dzikra.v14i2.6578

Abstract:
This paper examines the contextualization of the understanding of hadiths related to the leadership of the Quraysh tribe, where a problem arises how this hadith text intersects with the sociological and socio-cultural realities of modern society today and Islam has spread throughout the world and each country has already spread. Building and agreeing on a leadership system. This study is a normative literature study where the data comes from literature, books, books and articles related to the hadith study. Sources or studies of references are analyzed with content analysis using language, hadith, history and sociological approaches. Based on this study, the author can conclude that the hadith about the leadership of the Quraysh tribe textually states that the leadership of the Quraysh, however, needs a contextual understanding of the spirit and substance of the hadiths about the leadership of the Quraysh tribe that must be practiced and continue to carry out maqas} syari 'ah ah that is in it such as justice, truth, and protection. Abstrak Tulisan ini mengkaji kontekstualisasi pemahaman hadits-hadits yang terkait dengan kepemimpinan dari suku Quraisy, dimana muncul sebuah persoalan bagaimana teks hadits ini bersinggungan dengan realitas sosiologis dan sosi-kultur masyarakat modern saat ini dan Islam sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan masing-masing negara sudah membangun dan menyepakati sistem kepemimpinan.Kajian ini merupakan kajian normatif kepustakaan di mana datanya berasal dari literatur, kitab, buku dan artikel yang berkaitan dengan kajian hadits tersebut.Sumber atau kajian dari referensi-refrensi dianalisa dengan analisa konten menggunakan pendekatan bahasa, ilmu hadits, sejarah dan sosiologis. Berdasarkan kajian tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa hadits tentang kepemimpinan dari suku Quraisy secara tekstual memang menyatakan bahwa kepemimpinan dari kaum Quraisy, akan tetapi perlu pemahaman secara kontekstual dengan spirit dan substansi hadits-hadits tentang kepemimpinan dari suku Quraisy harus diamalkan serta tetap menjalankan maqas}id syari’ah ah yang ada didalamnya seperti keadilan, kebenaran, dan pengayoman. Kata Kunci:Al-Aimmah, Qurasy, Kontekstualisasi Pemahaman Hadits.
Winceh Herlena, Muads Hasri
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 205-220; doi:10.24042/al-dzikra.v14i2.7010

Abstract:
Marriage requires sufficient mental, social, and material readiness to build a household. However, the Al-Qur'an calls for marriage even in a state of poverty.This contradicts the present context which requires preparedness before marriage. This paper aims to explore further the recommendations for marriage in QS. An-Nur: 32 with a few questions. First, what did QS. An-Nur: 32 mean to order marriage even though he was in poverty?. Second, what is the significance of QS. An-Nur: 32 is contextualized in the present context?. This research will use the theory of hermeneutics ma'na cum maghza which was popularized by Sahiron Syamsuddin. This research concludes that the recommendation to marry in a destitute state is not the main purpose of QS.An-Nur: 32, but rather as a liberator for slaves, a recommendation to respect those who cannot afford it, as well as a recommendation to marry for those who are able. AbstrakPernikahan membutuhkan kesiapan mental, sosial, dan materi yang cukup untuk membangun rumah tangga. Namun al-Qur’an berkata lain, al-Qur’an menyerukan untuk menikah meskipun dalam keadaan fakir. Hal ini tentu saja mengalami kontradiksi dengan konteks sekarang yang mengharuskan kesiapan sebelum pernikahan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut anjuran menikah dalam QS. An-Nur: 32 dengan beberapa pertanyaan. Apa maksud dan tujuan QS. An-Nur: 32 memerintahkan menikah meskipun dalam keadaan fakir? kemudian bagaimana signifikansi dari QS. An-Nur: 32 dikontekstualisasikan dalam konteks sekarang? Untuk menjawab rumusan masalah di atas, penelitian ini akan menggunakan teori hermeneutika ma’na cum maghza yang dipopulerkan oleh Sahiron Syamsuddin. Dari penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa anjuran menikah dalam keadaan fakir bukanlah maksud dan tujuan utama dari QS. An-Nur: 32, melainkan sebagai pembebas bagi para budak dan hamba sahaya, anjuran untuk lebih menghargai orang-orang yang tidak mampu, serta anjuran menikah bagi yang telah mampu. Kata Kunci: Q.S. An-Nur, Menikah, Maghza.
Izza Royyani, Aziza Kumalasari
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 313-332; doi:10.24042/al-dzikra.v14i2.6307

Abstract:
This article tries to review the understanding of Qs. Al-Hajj verses 40 and QS. Muhammad verse 7. From the verse quotation literally, Allah will reward those who help Him, concerning helping Allah Is this illustrated here as a favor to ordinary people? When should God need help? So it is necessary to emphasize the phrase ".... people who help His religion ..." in some classical and modern interpretations of the literature, so as to get a comprehensive description of the verse. In addition, this study uses the ma'na cum maghza approach initiated by Sahiron Syamsudin, the author tries to explore the meaning to be conveyed in the verse, both literally (ma'na) and its significance (maghza) in this modern era, so that a new discourse is formed to achieve peace in religion for the sake of mutual benefit in the midst of a plural society. The author gets the substance that what is meant to help God is about the delivery of truth, understanding pluralism in religion and enforcement of the teachings of Islam.AbstrakArtikel ini mencoba untuk meninjau ulang pemahaman atas Qs. Al-Hajj ayat 40 dan QS. Muhammad ayat 7. Dari kutipan ayat tersebut secara literalis Allah akan memberikan imbalan bagi siapa yang menolong-Nya, perihal menolong Allah disini apakah diilustrasikan sebagai tolong-menolong pada manusia biasa? Kapan sekiranya Allah perlu ditolong? Sehingga perlu untuk menegaskan kalimat “....orang yang menolong agama-Nya....” dalam beberapa literatur kitab tafsir klasik dan modern, sehingga mendapatkan deskripsi ayat yang komprehensif. Selain itu penelitian ini menggunakan pendekatan ma’na cum maghza yang digagas oleh Sahiron Syamsudin. Penulis mencoba menelusuri makna yang hendak disampaikan dalam ayat tersebut, baik secara literal (ma’na) dan signifikansinya (maghza) pada era modern ini, sehingga terbentuk wacana baru untuk mencapai perdamaian dalam beragama demi kemaslahatan bersama di tengah-tengah masyarakat plural. Penulis mendapatkan substansi bahwa yang dimaksud menolong Allah adalah perihal penyampaian kebenaran, paham pluralisme dalam beragama dan penegakkan terhadap ajaran-ajaran agama Islam.Kata Kunci: QS. Al-Hajj: 40, QS. Muhammad: 7, Ma’na cum Maghza.
Nurun Najmatul Ulya
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 179-204; doi:10.24042/al-dzikra.v14i2.6318

Abstract:
The article discusses the interpretation of Surat al-Najm Nicolai Sinai by using the literature review method. The article aims to explain the background of the interpretation, the methods used, to the form of interpretation produced by Nicolai Sinai. As a way to find out the characteristics of the interpretation of Surah al-Najm Sinai compared to the interpretations of other exegete, the article also examines the interpretations made by other exegete on Surah al-Najm, both classical and contemporary. The study concludes that the background to Nicolai Sinai's interpretation of surah al-Najm is to voice his opinion on the debates of scholars about the verse gharaniq and to discuss in more detail the verses that explain the encounter of the Prophet Muhammad with Allah. The following are Sinai's conclusions about Surah al-Najm that differ from the interpretation produced by exegetes. 1) the 7th verse of Surah al-Najm clearly says that the Prophet Muhammad met with Allah; 2) verses 23 and 26 to 32 are parenthetical paragraphs for the structure and content are not following the unity of the verse; 3) Satan verses or gharaniq verses are not part of revelation. The Sinai's study was published in the Journal of Qur'anic Studies in 2011 with the title An Interpretation of Surah al-Najm (QS.53). AbstrakTulisan ini membahas interpretasi surat al-Najm Nicolai Sinai dengan menggunakan metode kajian pustaka. Tujuan kajian ini adalah hendak memaparkan latar belakang interpretasi, metode yang digunakan, hingga bentuk interpretasi yang dihasilkan oleh Nicolai Sinai. Tulisan ini juga mengkaji penafsiran yang dilakukan oleh mufassir lain terhadap surat al-Najm, baik klasik maupun kontemporer untuk mengetahui ciri khas interpretasi surat al-Najm Sinai dengan para mufassir lain. Kajian ini mendapatkan kesimpulan bahwa latar belakang interpretasi Nicolai Sinai terhadap surat al-Najm adalah untuk menyuarakan pendapatnya terhadap perdebatan para sarjanawan tentang ayat gharaniq dan untuk membahas lebih detail ayat yang menjelaskan tentang berjumpanya Nabi Muhammad dengan Tuhan. Kesimpulan Sinai terhadap surat al-Najm yang berbeda dari penafsiran yang selama ini dilakukan oleh mufassir adalah: 1) ayat ke-7 surat al-Najm jelas mengatakan bahwa Nabi Muhammad bertemu dengan Tuhan, Sang Penutur Wahyu; 2) Ayat k3 23 dan 26 hingga 32 merupakan ayat sisipan karena secara struktur dan konten tidak sesuai dengan kesatuan surat; 3) Ayat setan atau ayat gharaniq bukan bagian dari wahyu. Kajian Sinai ini dimuat dalam Journal of Qur’anic Studies pada tahun 2011 dengan judul An Interpretation ofSurah al-Najm (QS.53).Kata Kunci: Interpretasi, Surat al-Najm, Nicolai Sinai
Muttaqein Ahmad
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 333-358; doi:10.24042/al-dzikra.v14i2.7442

Abstract:
This article examines the principles of the Qur'an related to the environment by continuing to pay attention to relationships with God and social beings, and to pay attention to the conservation of the surrounding environment. This article uses a thematic method by exploring exegetical books with various verses and interpretations of the environment. The results of this study indicate that there are six principles of the Qur'an related to the environment: 1) the principle of tauhid, the principle that nature and the environment are part of the mark of God's rudeness, 2) humans as caliph on earth, 3) the principle of trust (amanah), 4) the principle of justice , 5) the principle of harmony and 6) the principle of balance. This proves that the Qur’an teaches compatibility between spiritual and scientific paths. These six principles can also become the foundation for preventing environmental crises based on the Qur'an. AbstrakArtikel ini akan mengkaji tentang prinsip-prinsip al-Qur’an terkait lingkungan dengan terus memperhatikan relasional dengan Tuhannya dan makhluk sosial, serta mereka juga harus memperhatikan konservasi lingkungan sekitarnya. Artikel ini menggunakan metode tematik dengan menelusuri kitab-kitab tafsir dengan berbagai ayat dan penafsiran tentang lingkungan. Dari hasil penelitian, dapat ditemukan enam prinsip yang terkait lingkungan yaitu prinsip tauhid, prinsip bahwa alam dan lingkungan bagian dari tanda kebasaran Allah, manusia sebagai khalifah di bumi, prinsip amanah, keadilan dan prinsip keselarasan dan keseimbangan. Hal itu membuktikan bahwa al-Qur’an mengajarkan adanya kesesuaian antara jalan ruhani dan ilmiah. Keenam prinsip itu juga dapat menjadi pondasi dalam mencegah krisis lingkungan yang berlandaskan al-Qur’an.Kata Kunci: Konservasi Lingkungan, Wawasan dan Ayat Ekologi.
Muhammad Yasin Akhmad, Suhandi M. Ag
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 221-238; doi:10.24042/al-dzikra.v14i2.6503

Abstract:
This research discusses the history of isra'iliyyat in the tafsir book and what is the law of narrating isra'iliyyat. While in the isra'iliyyat narration there is difference whether it is permissible or not and how the isra'iliyyat narration is contained in the tafsir books. The method used in this research is qualitative literature study (Library Research). The results show that the history of Isra'iliyyat is in accordance with Islamic syari'at, then the truth of Israiliyyat can be recognized and allowed to narrate it. Otherwise if it is contrary to Islamic law, it considered unthrue and may not be narrated, but this is allowed if the position has been explained in the interpretation. On the other hand, if there is no information in the Islamic Sharia regarding the content of israiliyyat, then the step that must be chosen is tawaquf, which is not punishing whether it is true or not. AbstrakPenelitian ini membahas tentang riwayat isra’iliyyat dalam kitab tafsir serta bagaimana hukum meriwayatkan isra’iliyyat. Dimana dalam periwayatan isra’iliyyat terdapat perbedaan apakah boleh atau tidak serta bagaimana periwayatan isra’iliyyat yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif studi pustaka (Library Researh). Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa riwayat Isra’iliyyat tersebut sesuai dengan syari’at Islam, maka dapat diakui kebenarannya dan diizinkan untuk meriwayatkannya, sedangkan jika bertentangan dengan syari’at Islam maka didustakan dan tidak boleh diriwayatkan, namun diperbolehkan jika dijelaskan kedudukannya. Adapun jika belum ada keterangan sesuai atau tidaknya dengan Syari’at Islam maka tawaquf di dalamnya, yaitu tidak menghukumi benar atau tidaknya.Kata Kunci: Riwayat Israiliyyat, Tafsir al-Qur’an, Asal usul dan Hukumnya.
Mukhlish Rahman
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 239-270; doi:10.24042/al-dzikra.v14i2.6887

Abstract:
This paper talks about the tradition of reading the Koran for pregnant women, which has been a hereditary culture in society. The letters read during the procession vary, but the most frequently chosen ones are the letters of Yūsuf, Maryam, and Yāsīn. The tradition of reciting the Koran to pregnant women is later transformed and adapted to the digital world in the online media YouTube. In which in the uploaded content, it contains the reading of the Koran which in the traditions of the local community is often the choice to read. Therefore, this paper focuses on three problem formulations, first, how is the sacredness of the Koran in the digital world? Second, how is the tradition of reading the Koran for pregnant women in the community? And third, can this tradition be replaced by digital media? The research method is descriptive analytical method by describing the social phenomena that occurs. The approach is a historical-critical approach, by analyzing what are the factors that cause the phenomenon of the tradition of reading the Koran pregnant women to emerge, then it is digitally adapted into the You Tube media. The results of the research that the author gets is that with the rapid development of the times, it does not make the tradition of reading the Koran for pregnant women disappear or be abandoned, but instead this tradition can be transformed and adapted into a digital version.Although, the transformation is only limited to the physical form of reading the al-Qur'an, from the point of view of selecting the letter, it appears that it really adapts the local cultural traditions. The transformation of the tradition of reading the Koran for pregnant women into digital form, in this case You Tube media cannot replace traditions or culture such as mitoni, four months, etc. Because it contains elements of mutual cooperation between communities, which cannot be replaced by online media. AbstrakTulisan ini berbicara tentang tradisi membaca al-Qur’an untuk ibu hamil yang telah menjadi budaya turun temurun di tengah masyarakat. Adapun surat-surat yang dibaca ketika dalam prosesi tersebut bervariasi, tetapi yang paling sering menjadi pilihan adalah surat Yūsuf, Maryam, dan Yāsīn. Tradisi membacakan al-Qur’an untuk ibu hamil kemudian dalam perkembangannya bertransformasi dan diadaptasi ke dunia digital dalam media online YouTube. Dimana dalam konten-konten yang diunggah, berisi bacaan al-Qur’an yang dalam tradisi masyarakat lokal sering menjadi pilihan untuk dibaca. Maka dari itu Tulisan ini berfokus kepada tiga rumusan masalah, yaitu pertama, bagaimana sakralitas al-Qur’an di dunia digital ?. Kedua, bagaimana tradisi pembacaan al-Qur’an untuk ibu hamil di tengah masyarakat?, dan ketiga, apakah tradisi tersebut dapat digantikan dengan media digital? Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis dengan mencoba untuk mendeskripsikan fenomena sosial yang terjadi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis, dengan menganalisa apa saja faktor yang menyebabkan fenomena tradisi bacaan al-Qur’an untuk ibu hamil muncul, kemudian diadaptasi secara digital ke dalam media You Tube. Hasil penelitian yang penulis dapatkan adalah dengan perkembangan zaman yang pesat, tidak membuat tradisi membaca al-Qur’an untuk ibu hamil menghilang atau ditinggalkan, namun sebaliknya tradisi tersebut dapat bertransformasi dan diadaptasi ke dalam versi digital. Walaupun, transformasinya hanya sebatas bentuk fisik dari membaca al-Qur’an, namun dari segi pemilihan surat tampak bahwa benar-benar mengadaptasi tradisi budaya lokal. Tranformasi tradisi membacakan al-Qur’an untuk ibu hamil ke dalam bentuk digital, dalam hal ini media You Tube tidak dapat menggantikan tradisi atau budaya seperti mitoni, empat bulanan, dan lain sebagainya Karena di dalamnya mengandung unsur gotong royong antar masyarakat, yang tidak dapat digantikan dengan media online. Kata Kunci: Al-Qur’an, Digital, Ibu Hamil, Sakralitas, Tradisi.
Endrika Widdia Putri
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 23-42; doi:10.24042/al-dzikra.v14i1.5463

Abstract:
The era of the industrial revolution 4.0 is an era that utilizes the sophistication of technology, artificial intelligence, and digital to create conditions that are more effective and efficient in terms of the industry for the sake of convenience for humans. However, as the times evolve, industrial changes no longer go according to the purpose created. Also, the industrial revolution which has experienced these four changes, from time to time suffered a moral decline. Departing from this, this study will examine why moral decline occurred with the development of the industrial revolution and how the contribution of the values of the Qur'an and Pancasila to the industrial revolution era 4.0. This research is library research by using the method of interpretation and data analysis to obtain a conclusion. The results of this study are that moral decline is caused by the creators and technology developers themselves who create value-free science, thus leading to the collapse of moral values and humanity. Presenting the values of the Qur'an and Pancasila in the era of the industrial revolution 4.0 will make its development have high morality and humanity. Al-Qur'an and Pancasila will control at the same time be a good and bad measure in its development. AbstrakEra revolusi industri 4.0 adalah era yang memanfaatkan kecanggihan teknologi, kecerdasan buatan dan digital untuk menciptakan kondisi yang lebih efektif dan efisien dalam hal perindustrian demi kemudahan bagi manusia. Namun, seiring berkembangnya zaman, perubahan industri tidak lagi berjalan sesuai dengan tujuannya diciptakan. Selain itu, revolusi industri yang telah mengalami empat kali perubahan ini, dari masa ke masa mengalami kemunduran moral. Berangkat dari hal tersebut, penelitian ini akan mengkaji kenapa terjadi kemunduran moral dengan seiring berkembangnya revolusi industri dan bagaimana kontribusi nilai-nilai al-Qur’an dan pancasila terhadap era revolusi industri 4.0. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode interpretasi dan analisis data sehingga didapatkan suatu kesimpulan. Adapun hasil penelitian ini yaitu kemunduran moral disebabkan oleh para pencipta dan pengembang teknologi itu sendiri yang menciptakan ilmu pengetahuan bebas nilai, sehingga mengantarkan runtuhnya nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Menghadirkan nilai-nilai al-Qur’an dan Pancasila di dalam era revolusi industri 4.0 akan menjadikan perkembangannya memiliki moralitas yang tinggi dan manusiawi. Al-Qur’an dan Pancasila akan mengontrol sekaligus menjadi ukuran baik dan buruk dalam perkembangannya. Kata Kunci: Al-Qur’an, Pancasila, Revolusi Industri 4.0
Hafizi Hafizi
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 14, pp 43-62; doi:10.24042/al-dzikra.v14i1.6047

Abstract:
The Qur’an is guidance for all human beings, the message of God revealed through various communicative styles. Qur’anic revelation to the Prophet Muhmmad is centrally discussed in the science of the Qur’an ('ulumul qur'ân) under the theme of ‘the occasion of revelation (asbâb an-nuzul). In producing law (istinbath), a Muslim jurist or exegete should not only rely on the text of the Qur’an but also the context in which it was revealed. It is significant, therefore, to examine the function of asbâb an-nuzul in the context of interpretation, using a descriptive-analytical method. It functions as follows. First, it makes Qur’anic verses more relevant to contemporary conditions. Second, by knowing the occasion of revelation, an exegete not onlyunderstand Qur’anic verses as a textual redaction but also in response to conditional needs in a given context. AbstrakAl-Qur’an adalah hidayah bagi segenap manusia, dalam menurunkan pesan kewahyuan Allah swt. menggunakan berbagai macam gaya. Diturunkannya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. melalui berbagai proses yang melatar belakanginya, dalam pembahasan ‘ulumul qur’ân, ini disebut asbâb an-nuzul, ketika mengambil istinbath hukum dalam al-Qur’an seorang mufassir tidak hanya berpatokan pada teks al-Qur’an, melainkan juga harus melihat konteks ayat ketika diturunkan. Maka perlu adanya penelitian terhadap fungsi asbab an-nuzul dengan pendekatan deskriptif-analitis. Di antara fungsi asbâb an-nuzul dalam penafsiran ialah; pertama, untuk menjadikan ayat al-Qur’an lebih relevan dengan kondisi yang dihadapinya, Kedua, dengan mengetahui asbâb an-nuzul seorang mufassir tidak hanya melihat ayat al-Qur’an sebagai redaksi akan tetapi lebih kepada tuntunan kondisi. Kata Kunci: Asbâb An-Nuzul, Fungsi, Penafsiran, Kontekstual.
Back to Top Top