Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits

Journal Information
ISSN : 19780893
Total articles ≅ 20
Filter:

Latest articles in this journal

Azzam Nur Wahid
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 209-238; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4379

Abstract:AbstrakTulisan ini mengkaji dan meneliti seberapa jauh akurasi mufassir dalam membaca teks dan konteks terkait fenomena bahr dan temuan-temuan baru yang masih banyak menyimpan misteri. Fokus penelitian ini lebih kepada pendekatan sains terhadap korelasi ayat-ayat ilmiah terhadap penemuan modern. Dalam penelitian banyak mengkorelasikan temuan modern dengan keabsahan al-Qur’an sebagai kitab suci. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisis dengan kajian pustaka (library research) dalam mengungkap ayat-ayat ilmiah berdasarkan pandangan para mufassir dengan dipadukan beberapa teori ilmiah para ilmuwan modern. Prosedur penelitian ini mengambil bentuk maudhui dalam mengurai ayat-ayat ilmiah terhadap penemuan modern. Berdasarkan ayat-ayat yang dikaji, menyatakan bahwa I’jaz al-Qur’an terkait fenomena bahr menghasilkan beberapa temuan yang senada dengan persuasi al-Qur’an seperti nikmat lu’lu’ wa marjan, segala sesuatu yang hidup bermuara dari air, Maraj al-Bahraîni dalam fenomena sains.Kata Kunci: I’jaz Al-Qur’an; Fenomena sains bahr
Nur Yamin
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 239-260; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4520

Abstract:AbstrakItsmun adalah istilah yang digunakan dalam al-Qur’an yang dipakai sebagai istilah dosa, yang mempunyai makna perbuatan-perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Itsmun dengan kata lain adalah sebutan atas tindakan yang menghambat tercapainya (terwujudnya) kebaikan. Itsmun di dalam al-Qur’an digunakan untuk menyebutkan sebuah pelanggaran yang memiliki efek negatif terhadap diri sendiri dan masyarakat. Maka itsmun dikatakan dosa apabila perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang telah merugikan diri sendiri dan orang lain. Itsmun dalam pemaknaannya banyak disampaikan oleh kalangan sufi, khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat yang terkait dengan Itsmun. Imam Al-Alusi merupakan tokoh mufassir klasik yang ternama, khususnya pada kalangan ulama tasawuf yang menggunakan tafsir aliran sufistik isyari. Pemikiran Al-Alusi dalam tafsir Rûh al-Ma’ânî tidak terlepas dari kiprah beliau dalam konteks idiologi beliau mengenai prihal aqidah. Adapun mengenai penafsiran beliau tentang ayat-ayat itsmun, Al-Alusi tidak terlepas dari kesufiannya dalam pemikirannya. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif analitis yang pokok kajiannya pada kitab tafsir Rûh al-Ma’ânî. Dengan menggunakan metode tersebut, peneliti mendapati secara umum Al-Alusi menyatakan bahwa itsmun adalah orang yang banyak dosa, orang kafir, kebohongan, serta dalam setiap ayat mengandung makna yang melawan Allah dan Rasul, serta memiliki efek negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Adapun solusi yang diberikan terhadap orang yang berbuat dosa yaitu dengan cara bertaubat kembali kepada petunjuk Allah dan menjauhi semua larangannya serta tidak mengulangi perbuatan dosa lagi.Kata Kunci: Itsmun, Tafsir Isyari, Imam al-Alusi
Maulidi Ardiyantama
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 187-208; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4411

Abstract:AbstrakTulisan ini mengkaji dan meneliti penafsiran Tantawi Jauhari dan Fakhr al-Din al-Razi pada ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena laut dalam tafsîrnya. Fenomena yang sangat menarik ini mulai banyak temuan-temuan baru masa kini tentang lautan yang masih banyak menyimpan misteri. Dalam penelitian ini terdapat dua kajian fokus, yaitu mengenai penafsiran Tantawi Jauhari dan Fakhr al-Din al-Razi tentang fenomena laut, dengan menfokuskan pada QS. al-Rahman 19-20, QS. al-Furqan:53, QS. al-Thur: 6 serta mengkolerasikan dengan konteks masa kini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-komparatif dengan kajian pustaka (library research) yang mengacu pada data primer Tafsîr al-Jawahir dan Tafsîr Mafatihul Ghaib. Berdasarkan ayat-ayat yang dikaji, menyatakan bahwa fenomena laut dalam penafsiran kedua tokoh sesuai dengan konteks masa kini diantaranya ialah ditemukannya perbedaan jenis flora dan fauna dan dari adanya bara api di dasar laut dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik masa depan dengan memanfaatkan perbedaan temperatur laut tersebut.Kata Kunci: Kauniyyah, Laut, Tafsîr al-Jawahir, Tafsîr Mafatihul Ghaib.
Alim Sofiyan
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 155-186; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4395

Abstract:AbstrakArtikel ini meneliti tentang ayat-ayat yang ada hubungannya dengan psikologis. Penelitian ini fokus dalam pembahasan terhadap emosi primer dalam surat Yusuf. Adapun ayat-ayat yang berkaitan dengan psikologis sangat banyak sekali, akan tetapi peneliti memfokuskan dalam kajian psikologis yang berkaitan dengan emosional manusia, dimana banyak ditemukan ayat-ayat yang bersentuhan langsung dengan emosi dalam surat Yusuf. Untuk memudahkan dalam penelitian ini, maka peneliti merumuskan pokok permasalahan yakni, bagaimana cara yang diajarkan Allah swt. dalam mengendalikan emosi dalam surat Yūsuf serta apa saja hikmahnya dalam surat Yūsuf. Penelitian ini termasuk dalam penelitian pustaka (library research) dengan menfokuskan pada interpretasi ayat yang berkaitan dengan psikologis, sehingga peneliti menggunakan metode content analysis dan interpretasi. Sehingga ditemukan bahwa cara mengendalikan emosi yang ada dalam Surat Yūsuf adalah dzikrullah, Al-‘Afw, dan Sabar, yang harus selalu kita pegang sebagai kunci kesuksesan dan keberhasilan serta kemenangan dalam menjalani setiap kehidupan.Kata Kunci: Emosi, Al-Qur’an, Surat Yūsuf
Machin Muqaddam
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 11, pp 125-154; doi:10.24042/al-dzikra.v11i2.4393

Abstract:AbstrakArtikel ini mengkaji tentang keindahan sebuah ayat-ayat al-Qur’an yang di kaji dari sudut pandang ilmu balagah. Penulis ingin meneliti sebuah karya yang mengkaji tentang balagah yaitu kitab I’rābu Al-Qur’ān al-Karīm wa Bayānuhu karya Muhyiddin ad-Darwis. Dalam kitab tersebut banyak ditemukan ayat-ayat al-Qur’an yang secara khusus kajiannya tentang balagah, sehingga keindahan ayat-ayat al-Qur’an sangat terlihat dan itulah salah satu bukti bahwa kemukjizatan al-Qur’an dari aspek bahasa sangat terbukti dan belum ada yang menandinginya mulai sejak al-Qur’an turun sampai sekarang. Dan banyak yang berpendapat bahwa aspek kemukjizatan al-Qur’an terletak pada unsur kebahasaannya, selain itu pada setiap arti kata dalam ayat tersebut merupakan sebuah keindahan tersendiri yang terdapat dalam al-Qur’an, lebih-lebih hal tersebut dibahas oleh Muhyiddin ad-Darwis. Dalam artikel ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif (library research) yang berfokus pada kitab I’rābu Al-Qur’ān al-Karīm wa Bayānuhu sebagai kajian utamanya. Dan hasilnya bahwa keindahan dalam setiap arti kata yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an merupakan suatu keindahan tersendiri dan membuktikan bahwa itulah mukjizat al-Qur’an dari aspek balagahnya dalam bentuk tasybih, majaz dan isti’arah.Kata kunci: Keindahan, Balagah, Kebahasaan, Mukjizat.
Siti Mariyatul Kiptiyah
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 27-54; doi:10.24042/al-dzikra.v13i1.2970

Abstract:AbstrakTulisan ini membahas tentang bagaimana kisah Qabil dan Habil di dalam Al-Qur’an (S. Al-Ma’idah [5]: 27-31) dikaji secara hermeneutis. Dalam kisah ini Qabil diceritakan telah membunuh Habil, adiknya, sebab hanya persembahan Habil yang diterima oleh Tuhan, sementara persembahannya tidak diterima. Kajian ini dilakukan dengan tiga alasan. Pertama, penulis ingin mengangkat kembali kajian kisah dalam Al-Qur’an yang dianggap telah ‘final’, sehingga belakangan sepi peminat bila dibanding dengan kajian ayat-ayat sosial kemasyarakatan dan hukum. Kedua, penulis hendak merekonstruksi pemahaman terhadap kisah tersebut yang selama ini hanya dipahami sebagai kisah orang-orang terdahulu_dalam lingkup waktu dan tempat tertentu_dan untuk itulah cukup diyakini kebenarannya saja. Padahal, yang ditonjolkan kisah bukanlah semata-mata unsur benar atau tidaknya, melainkan pesan-pesan terdalamnya. Ketiga, alasan metodologis, di mana kajian tentang kisah terdahulu lebih banyak dilakukan dengan pendekatan historis, sehingga tidak lagi memperhatikan nilai-nilai universalnya, bahwa Al-Qur’an shalih li kulli zaman wa makan. Untuk itulah, penulis meminjam Hermeneutika Hans-Georg Gadamer sebagai pisau analisis dengan memfokuskan pada teori horizontverschmelzung (penggabungan horizon). Teori tersebut membantu dalam memahami kisah Qabil dan Habil dengan melibatkan horizon pembaca dan horizon teks. Dengan teori tersebut, makna kisah Qabil dan Habil bukan lagi tentang kisah pembunuhan pertama di dunia yang telah berlalu, melainkan dapat ditarik signifikansi maknanya yang universal-kontemporer, yaitu tentang konflik antar manusia dan solusinya.
Misbahul Wani
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 71-94; doi:10.24042/al-dzikra.v13i1.2077

Abstract:Pemuda adalah aset terpenting dalam sebuah Negara, bangsa, dan Agama. Karena pemuda bukan hanya sekedar harapan regenerasi, akan tetapi adalah bibit-bibit yang akan meneruskan sebuah peradaban hingga datangnya akhir zaman. Jika kita lihat pada kenyataan pemuda saat ini, pemuda Islam mulai kehilangan spirit berjuang, spirit belajar, padahal, sadar maupun tidak disadari (secara otomatis) pemudalah yang akan meneruskan sebuah perjuangan-perjuangan Islam kedepannya. Zaman yang dinamis bukan menjadi alasan untuk mundur, akan tetapi menjadi sebuah alasan untuk bangkit dan mendalami Al-Qur’an dan Sunnah dengan lebih tepat dan bijak lagi. Karena kita juga meyakini bahwa sunnah mengandung pancaran dan teladan dari baginda Agung Nabi Muhammad saw yang sudah terjamin dan menjadi orang terpercaya dalam lingkungan masyarakatnya di mekkah. Secara garis besar, dalam artikel ini akan mencoba menjelaskan bagaimana pentingnya pendidikan orang tua terhadp terbentuknya pemuda. Dalam kesempatan ini penulis mengangkat kisah Luqman yang kerap memberikan wejangan pada anaknya. Selanjutnya kami menjelaskan bagaimana perhatian Nabi terhadap para kaum muda, serta dampak positif dan negatifnya. bagi pemuda. Dengan metode penelitian kualitatif dan pendektan fenomenologi, kami akan jelaskan sebagai berikut:
Eko Zulfikar
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 1-26; doi:10.24042/al-dzikra.v13i1.3666

Abstract:AbstrakTulisan ini mencoba melakukan eksplorasi terhadap karya tafsir tabi’in, Muja>hid bin Jabar. Dalam mengindentifikasi keberadaan tafsir Mujahid, paling tidak terdapat dua sumber penafsiran yang digunakan pengarang dalam menafsirkan al-Qur’an; (1) sumber bi al-ma’tsur, yakni berdasarkan pada penjelasan al-Qur’an sendiri, berdasarkan hadis Nabi, pendapat sahabat, dan israiliyyat; (2) sumber bi al-ra’yi, yakni berdasarkan ijtihad sang mufassir. Sementara dalam menjelaskan al-Qur’an, metode yang diusung Mujahid adalah metode ijmali, yakni menafsirkan ayat al-Qur’an dengan bahasa yang ringkas, padat, dan tidak panjang lebar. Di samping itu, Mujahid juga menggunakan metode muqaran meskipun hanya relatif sedikit. Untuk corak penafsirannya, tafsir Mujahid tidak sampai pada corak disiplin ilmu tertentu, hanya sebatas kental dengan nuansa penafsiran dari gurunya – Ibn ‘Abbas, meskipun dalam beberapa penafsiran terdapat corak fiqhi dan kalami dengan kapasitas yang sangat sedikit. AbstractThis paper tries to explore the work of tafsir tabi’in, Mujahid bin Jabar. In identifying the existence of Mujahid, interpretation there are at least two sources of interpretation used by the author in interpreting the Qur’an; (1) the source of bi al-ma’tsur, that is based on the Qur’an’s own explanation, in addition to the prophetic traditions, opinions of prophet’s companion, and also israiliyyat (2) the source of bi al-ra’yi, based on the ijtihad of the interpreter. While in explaining the Qur’an, the method that Mujahid carried is the ijmali method, which is to interpret the verses of the Qur’an in a brief language, solid, and not lengthy, also using the muqaran method although only slightly. For his interpretive style, Mujahid’s interpretation does not extend to any particular discipline, only limited with the feel of interpretation of his teacher – Ibn ‘Abbas, although in some interpretations there is a fiqhi and kalami pattern with very little capacity.
M. Dani Habibi
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 95-112; doi:10.24042/al-dzikra.v13i1.3944

Abstract:This article is about interpretation QS. Al-Baqarah: 190-193. The verse is the basis of terrorism in Indonesia. The development of terrorism in Indonesia continues to grow, especially the movement have a foundation you want to change Indonesia into an Islamic state ideology. Terrorism and radicalism can not be separated from the Qur’an as the basic foundation for jihad in Allah. Jihad not war and hostile to one another. We know that each of the Qur'an must have moral ideas and moral message that can be developed in the community. With Maghza Cum Ma'na approach in interpreting the Qur'an. Al-Baqarah: 190-193, the author wants to reveal the contextual meaning behind the verses that could be implemented by the general public.AbstrakArtikel ini berisi tentang Penafsiran QS. Al-Baqarah : 190-193. Ayat adalah tersebut menjadi dasar pelaku terorisme di Indonesia. Perkembangan terorisme di Indonesia terus berkembang terutama gerakan tersebut mempunyai dasar ingin menganti ideologi Indonesia menjadi negara Islam. Gerakan terorisme dan radikalisme tidak terlepas dari Alquran sebagai landasan dasar untuk jihad dijalan Allah. Jihad tidak perang dan saling bermusuhan satu sama lain. Kita ketahui bersama bahwa setiap dalam Alquran pasti mempunyai ide moral dan pesan moral yang dapat dikembangkan di masyarakat. Dengan pendekatan Ma’na Cum Maghza dalam menafsirkan QS. Al-Baqarah : 190-193, penulis ingin mengungkap makna kontekstual dibalik ayat sehingga dapat diterapkan oleh masyarakat pada umumnya.Kata Kunci : Dalil Terorisme, Fitnah, Interpretasi, Ma’na Cum Maghza, QS. Al-Baqarah : 190-193
Supardi Supardi
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits, Volume 13, pp 55-70; doi:10.24042/al-dzikra.v13i1.3900

Abstract:ABSTRAK Artikel ini fokus pada kajian penafsiran tentang kenabian pendiri Ahmadiyah yaitu Mirza Ghulam Ahmad Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisa proses penafsiran yang dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad berikut pokok-pokok pemikirannya yang dianggap keluar dari Islam mainstream. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif agar dapat menyajikan data secara lebih detail dan mendalam. Dari studi ini, diperoleh hasil bahwa proses penafsiran Mirza Ghulam Ahmad dipengaruhi oleh faktor sosial-politik yang berkembang di masanya. Penafsirannya tentang konsep kenabian sangat berseberangan secara diametral terhadap teologi ortodok Keywords: Proses, Penafsiran, Konflik Sosial