Jurnal Teknik Pengairan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2086-1761 / 2477-6068
Published by: Brawijaya University (10.21776)
Total articles ≅ 86
Filter:

Latest articles in this journal

Yosi Asterina Maharani, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pengairan, Dwi Priyantoro, Ussy Andawayanti
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 151-164; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.07

Abstract:
Universitas Brawijaya merupakan kampus yang terus melakukan pembangunan. Pembangunan ini berdampak pada berkurangnya daerah resapan air. Dikarenakan tata kelola air yang kurang baik, maka terjadilah genangan di beberapa titik. Under Drain Box Storage (UB – Drain) merupakan salah satu alternatif bangunan dengan konsep drainase berwawasan lingkungan/ ekodrainase yang berfungsi mereduksi limpasan dan upaya konservasi air tanah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi saluran drainase di kawasan kampus UB, sehingga didapatkan lokasi penempatan UB – Drain yang tepat untuk mereduksi limpasan. Dalam merencanakan UB – Drain, diperlukan beberapa analisis baik dari aspek hidrologi maupun aspek hidrolika. Hujan rancangan dihitung dengan metode Log Pearson tipe III, dengan Q5 sebesar 122,84 mm/hari dan debit limpasan dihitung dengan metode Rasional Modifikasi. Evaluasi drainase yang dilakukan berdasarkan kapasitas saluran eksisting dan sistem sirkulasi jaringan drainase dengan membandingkan tinggi muka air/head, serta nilai travel time saluran. Hasilnya, didapatkan 19 dari 27 saluran dalam kondisi tidak dapat menampung dan mengalirkan air dengan baik. Dengan menerapkan UB-Drain pada beberapa ruas saluran drainase di kawasan kampus UB, maka volume limpasan dan genangan yang tereduksi sebesar 63% dan 75% dalam satu kali hujan dengan kala ulang 5 tahun.
Setyawan Purnomo, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil, Gusfan Halik, Yeny Dhokhikah, Radiah Ulil Absari, Anindya Salsa
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 92-103; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.02

Abstract:
Kekeringan yang terjadi di wilayah utara Kabupaten Lumajang berdampak terhadap kerawanan ketersediaan air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian bencana kekeringan dan merancang strategi penyediaan air bersih di wilayah utara Kabupaten Lumajang. Pennilaian bencana kekeringan menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) dengan input data curah hujan mulai dari tahun 2000 sampai 2019. Sebaran ancaman bencana kekeringan dianalisis secara spasial berbasis sistem informasi geografis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks kekeringan (SPI-12) memiliki kesesuaian dengan kondisi kekeringan yang terjadi di lapangan. Kesesuaian indeks kekeringan dianalisis berdasarkan data jumlah pengiriman (dropping) air bersih ke lokasi penelitian. Kekeringan ekstrem terjadi pada bulan September 2018 dengan nilai indeks kekeringan (SPI-12) sebesar -2,33, kondisi ini memiliki kesesuaian dengan kondisi kekeringan di lapangan yang ditunjukkan dari jumlah dropping air. Strategi mitigasi dampak kekeringan dalam penyediaan air bersih diantaranya: membangun embung atau waduk untuk menampung air hujan di Kecamatan Ranuyoso dan Randuagung, sedangkan strategi penyediaan air bersih di Kecamatan : Padang, Klakah, Kedungjajang dan Gucialit dilakukan dengan memanfaatkan potensi air tanah atau sumur bor.The drought that occurred in the northern region of Lumajang regency impacts the reduced availability of clean water. This study aims to assess drought disasters and determine strategies for providing clean water supply in the northern region of Lumajang Regency. Drought assessment using Standardized Precipitation Index (SPI) with precipitation data from 2000 to 2019. The drought outputs were spatially plotted using geographic information systems. The results showed that the drought index (SPI-12) complies with drought conditions that occur in the field. The suitability of the drought index is analyzed based on the number of deliveries (dropping) of clean water to the site or location. Extremely dry occurred in 2018, with the highest index value (SPI-12) of -2.33 in September 2018. This condition has conformity to the drought conditions in the field indicated by the amount of dropping water. Drought mitigation strategies in providing clean water include building retention basins or reservoirs to accommodate rainwater in Ranuyoso and Randuagung subdistricts. Meanwhile, the strategy of providing clean water in Padang, Klakah, Kedungjajang, and Gucialit subdistricts is carried out by utilizing the potential of groundwater or drill wells.
Ennisa Dzisofi Amelia, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pengairan, Sri Wahyuni, Donny Harisuseno
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 127-138; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.05

Abstract:
Informasi evaporasi waduk penting untuk mengetahui signifikansi kehilangan air akibat evaporasi yang mencapai 90-95% dari total kehilangan air di waduk. Permasalahan yang sering dihadapi pada data evaporasi adalah minimnya ketersediaan data. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, satelit GLDAS-2.1 dan CFS-V2 memiliki kemampuan dalam mengestimasi evaporasi di permukaan. Satelit tersebut memiliki resolusi spasial dan temporal yang tinggi, jangkauan wilayahnya luas, data near realtime dan terekam secara kontinyu, akses cepat dan ekonomis. Namun, suatu data satelit dapat dimanfaatkan apabila memiliki koherensi yang kuat dengan data observasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi kesesuaian data evaporasi satelit GLDAS-2.1 dan CFS-V2 terhadap data evaporasi pengamatan dan merekomendasikan satelit mana yang tepat dalam mengestimasi evaporasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif ketersediaan data evaporasi di Waduk Wonorejo. Evaluasi yang dilakukan pada studi ini menggunakan analisa statistika di Stasiun Geofisika Wonorejo. Hasil kalibrasi data pada satelit GLDAS-2.1 dan CFS-V2 menghasilkan faktor koreksi dengan bentuk persamaan regresi polinomial. Pada tahap validasi terkoreksi nilai RMSE, NSE, R dan KR menunjukkan hasil yang lebih baik yang awalnya sebesar 21% sebelum terkoreksi naik menjadi 79% setelah terkoreksi. Satelit GLDAS-2.1 menjadi satelit yang direkomendasikan karena menghasilkan nilai NSE dan R2 yang jauh lebih baik dengan persentase sebesar 100% jika dibandingkan CFS-V2.Reservoir evaporation information is important to determine the significance of water loss due to evaporation which reaches 90-95% of the total water loss in the reservoir. The problem that is often faced with evaporation data is the lack of data availability. To overcome these problems, the GLDAS-2.1 and CFS-V2 satellites have the ability to estimate evaporation on the surface. The satellite has a high spatial and temporal resolution, wide-area coverage, near real-time data and recorded continuously, fast accessibility, and economical. However, satellite data can be used if it has a strong coherence with the observation data. The purpose of this research is to evaluate the suitability of the evaporation data from the GLDAS-2.1 and CFS-V2 satellites to the observational evaporation data and to recommend which satellite is appropriate for estimating evaporation so that it can be used as an alternative to the availability of evaporation data in the Wonorejo Reservoir. The evaluation carried out in this study uses statistical analysis at the Wonorejo Geophysical Station. Results of data calibration on the GLDAS-2.1 and CFS-V2 satellite produce a correction factor in the form of a polynomial regression equation. At the validation stage, the RMSE, NSE, R, and KR values showed better results that were initially 21% before being corrected, increasing to 79%. GLDAS-2.1 is still being recommended compares with CFS-V2, because it produces much better NSE and R2 values with precentage of 100%.
Andi Setyo Pambudi, Evaluasi Dan Pengendalian Pembangunan Daerah Direktorat Pemantauan, Setyo Sarwanto Moersidik, Mahawan Karuniasa, Kampus Depok Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 104-115; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.03

Abstract:
Sub DAS Lesti yang secara keseluruhan berada di Kabupaten Malang adalah sub DAS terluas dari hulu DAS Brantas yang berperan paling besar dalam memberikan kontribusi debit air sungai yang berdampak ke bagian hilir di Waduk Sengguruh. Kondisi terkini sebaran limpasan permukaan di Sub DAS Lesti berbasis data hujan dan penggunaan lahan terkini belum banyak dikupas oleh pengambil kebijakan. Informasi sebaran dan proporsi limpasan permukaan pada wilayah DAS menjadi hal yang menarik dikaji lebih lanjut dalam rangka memberikan pertimbangan upaya konservasi DAS. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung limpasan permukaan dan sebarannya sebagai landasan pengambil kebijakan menentukan lokasi prioritas upaya konservasi pada Sub DAS Lesti. Metode analisis yang digunakan adalah kuantitatif yang dimulai dari uji konsistensi data hujan, deleniasi batas DAS, perhitungan hujan rancangan dan juga perhitungan debit limpasan permukaan sampai menggambarkannya secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 kecamatan di Sub DAS Lesti, wilayah yang perlu dipertimbangkan sebagai lokasi prioritas konservasi dari sudut pandang besarnya debit limpasan permukaan adalah Kecamatan Tirtoyudo, Kecamatan Dampit dan Kecamatan Bantur, Kecamatan Ampelgading serta sebagian wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan yang berbatasan dengan Kecamatan Dampit.The Lesti sub-watershed, which is entirely in Malang Regency, is the widest sub-watershed of the upstream Brantas watershed, which has the biggest role in contributing river flow which impacts downstream in the Sengguruh Reservoir. The current condition of surface runoff distribution in Lesti Sub-watershed is based on the latest data on rain and land use, which has not been widely discussed by policy makers. Information on the distribution and proportion of surface runoff in watershed areas is interesting to study further in order to give consideration to watershed conservation efforts. This study aims to calculate surface runoff and its distribution as a basis for policy makers to determine priority locations for conservation efforts in the Lesti sub-watersheds. The analytical method used is quantitative, which starts from the consistency test of rain data, watershed boundary deleniation, calculation of design rainfall and also calculation of surface runoff discharge to describe it spatially. The results showed that from 12 sub-districts in Lesti Sub-watershed, the areas that need to be considered as priority conservation locations from the point of view of surface runoff discharges are Tirtoyudo subdistrict, Dampit Subdistrict and Bantur Subdistrict, Ampelgading Subdistrict and parts of Sumbermanjing Wetan Subdistrict bordering Dampit Subdistrict.
I Putu Gustave Suryantara Pariartha, Universitas Udayana Studi Teknik Sipil, I Kadek Dika Arimbawa, Mawiti Infanteri Yekti
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 116-126; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.04

Abstract:
Pembangunan waduk muara yang berlokasi di Tukad Unda merupakan pembangunan dalam tahap perencananaan. Waduk muara dibangun sebagai infrastruktur mitigasi bencana prasarana pengendali banjir. Perkiraan pembangunan waduk muara dari tahun 2020 sampai dengan tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mencari debit banjir rencana pada DAS Tukad Unda sebagai pertimbangan dalam pembangunan tersebut. Dalam penelitian ini digunakan dua metode untuk mencari debit banjir rencana, diantaranya metode perhitungan HSS Nakayasu dan metode model HEC-HMS. Debit banjir rencana yang dihitung menggunakan perhitungan HSS Nakayasu pada kala ulang 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun mempunyai debit puncak (Qp) sebesar 478.70 m3/dt, 649.33 m3/dt, 763.08 m3/dt, 910.01 m3/dt, 1019.02 m3/dt, dan 1128.03 m3/dt. Sedangkan debit banjir yang dihitung dengan metode HEC-HMS pada kala ulang 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun mempunyai debit puncak (Qp) sebesar 514,3 m3/dt, 697,6 m3/dt, 819,8 m3/dt, 977,7 m3/dt, 1094,8 m3/dt, dan 1211,9 m3/dt. Parameter yang ditemukan melalui program HEC-HMS adalah initial abstraction sebesai 99,987 mm, curve number sebesar 35,018, dan impervious sebesar 16 %. The construction of estuary reservoir located in Unda River is a development in the planning stage. Estuary reservoirs are built as disaster mitigation infrastructure for flood control. The construction of estuary reservoir is planned from 2020 to 2022. This research aims to find the flood design discharge of Tukad Unda watershed plan as consideration in the construction development. In this study, two methods were used to calculate the flood design discharge such as the HSS Nakayasu calculation method and the HEC-HMS model method. Flood design discharge calculated using HSS Nakayasu calculation at 5 years, 10 years, 20 years, 25 years, 50 years, and 100 years have peak discharge (Qp) respectively are 478.70 m3/s, 649.33 m3/s, 763.08 m3/s, 910.01 m3/s, 1019.02 m3/s, and 1128.03 m3/s. While flood discharge calculated by HEC-HMS method at 5 years, 10 years, 20 years, 25 years, 50 years, and 100 years have peak discharge (Qp) respectively are 514.3 m3/s, 697.6 m3/s, 819.8 m3/s, 977.7 m3/s, 1094.8 m3/s, and 1211.9 m3/s. The parameters found through the HEC-HMS program are an initial abstraction of 99,987 mm, a curve number of 35,018, and an impervious of 16%.
Delivean Rakha Dermawan, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pengairan, Evi Nur Cahya, Dian Sisinggih
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 139-150; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.06

Abstract:
Pada pengujian model fisik pelimpah Bendungan Pomalaa, peredam energi model seri 4 yang memiliki elevasi dasar +41,00 m telah mampu meredam energi aliran dengan baik pada debit Q100th, Q1000th, dan QPMF, namun perlu dicoba alternatif desain peredam energi yang lebih efektif dan efisien. Metode yang digunakan adalah simulasi model numerik berbasis Computational Fluid Dynamics (CFD), kemudian hasilnya akan diverifikasi dengan model fisik menggunakan Brier-Skill Score (BSS). Setelah itu, dilakukan alternatif desain berupa variasi elevasi dasar peredam energi, yaitu +42,00 m; +43,00 m; dan +44,00 m, kemudian dipilih model terbaik sebagai rekomendasi dari hasil simulasi. Hasil verifikasi model numerik menggunakan BSS menunjukkan bahwa model numerik cukup mampu untuk merepresentasikan model fisik. Hasil simulasi terbaik adalah peredam energi dengan elevasi dasar +42,00 m dengan efisiensi peredaman pada Q100th, Q1000th, dan QPMF berturut-turut sebesar 93,846%, 85,915%, dan 83,201%. Kemudian pada debit Q100th, Q1000th, dan QPMF di bagian hilir memiliki nilai bilangan Froude 0,770, 0,995, dan 1,472.In the physical model testing Pomalaa Dam spillway, the series 4 energy dissipator which has a base elevation of +41,00 m has been able to dissipate the flow energy well at the Q100y, Q1000y, and QPMF, but it is necessary to try alternative designs that more effective and efficient. The method used is a numerical model simulation using an application based on Computational Fluid Dynamics (CFD), then the result will be verified with physical model using Brier-Skill Score (BSS). After that, an alternative design was carried out in the form of a variation in the base elevation of the energy dissipator, that are +42,00 m; +43,00 m; and +44,00 m, then the best model is selected as a recommendation from the simulation result. The result of the verification of the numerical model using BSS show that numerical model is quite capable of representing the physical model. The best simulation result is an energy dissipator with a base elevation of +42,00 with efficiency of energy dissipation at Q100y, Q1000y, and QPMF respectively 93,846%, 85,915%, and 83,201%. Then Q100y, Q1000y, and QPMF at the downstream have Froude number value respectively 0,770, 0,995, and 1,472.
Ekarapi Tirta Babba, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pengairan, Lily Montarcih Limantara, Widandi Soetopo
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 186-196; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.10

Abstract:
Kabupaten Gorontalo mempunyai luas wilayah daratan seluas2.125,47 km2. Potensi Lahan pada tahun 2015 di KabupatenGorontalo mencapai 13.958 hektar. Bahan pangan yang ditanam diDaerah Irigasi Alopohu adalah padi, ubi kayu, jagung, ubi jalar,kacang kedelai, kacang tanah, buah dan sayuran. Tujuan penelitianini adalah mengoptimalkan air dan lahan sehingga tercapaikeuntungan yang maksimum. Metode yang dilakukan adalah ModelSine Product untuk menghitung nilai-nilai pada tabel akibat. Padapenelitian ini dilakukan dua tahap, yaitu (1) membuat (menghitung)Tabel Akibat, dan (2) menerapkan model Program Dinamik untukoptimasi alokasi air irigasi secara spasial antar petak irigasi. Programdinamik memberikan prosedur yang sistematis untuk penentuankombinasi pengambilan keputusan yang memaksimumkankeseluruhan efektivitasnya. Dengan menggunakan program dinamikdidapatkan keuntungan maksimum sebesar Rp 29.667.765.046,dimana keuntungan tersebut didapatkan dari produksi gabah sebesar6.593 ton gabah. Hasil panen tersebut dihasilkan hanya dengan luassawah sebesar 1.538 ha. Nilai perbandingan hasil panen per ha yaitukondisi eksisting (sebelum optimasi) adalah 3,90 ton/ha sedangkansetelah optimasi sebesar 4,29 ton/ha.Gorontalo Regency has a land area of 2,125.47 km2. Land potentialin 2015 in Gorontalo Regency reached 13,958 hectares. Foodstuffsgrown in the Alopohu Irrigation Area are rice, cassava, corn, sweetpotatoes, soybeans, peanuts, fruits, and vegetables. This researchaims to optimize water and land to achieve maximum profit. TheSine Product Model method is used to calculate the values in theeffect table. In this study, two stages were carried out, namely (1)creating (calculation) Effect Tables, and (2) applying the DynamicProgram model to optimize the spatial allocation of irrigation waterbetween irrigation plots. Dynamic programming provides asystematic procedure for determining the combination of decisionmaking that maximizes its overall effectiveness. By using thedynamic program, a maximum profit of Rp. 29,667,765,046 wasobtained, where the profit was obtained from the production of 6,593tons of grain. The yields were produced only on an area of 1,538 haof rice fields. The comparison value of crop yields per ha, namelythe existing condition (before optimization) is 3.90 tons/ha whileafter optimization is 4.29 tons/ha.
Ussy Andawayanti, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pengairan, Harya Muldianto, Ery Suhartanto, Widandi Soetopo
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 197-204; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.11

Abstract:
Pengoperasian dan pemeliharaan pada suatu waduk sangat penting dalam keberlanjutan fungsinya. Hal ini harus ditunjang dengan biaya pengoperasian dan pemeliharaan yang memadai. Adapun biaya pengoperasian waduk yang memadai terdiri dari biaya pengelolaan air dari pengguna air dan subsidi dari pemerintah jika diperlukan. Operasi dan pemeliharaan yang berkelanjutan harus menjaga subsidi pemerintah pada tingkat minimum, sementara pada saat yang sama harus juga mempertimbangkan kesediaan pengguna air untuk membayar. Kedua parameter subsidi dan iuran pengelolaan air ini membentuk suatu loop umpan balik yang saling bergantung dalam menentukan biaya operasi dan pemeliharaan, yang termasuk dalam fenomena dinamika sistem. Studi ini bertujuan untuk menghitung besarnya subsidi pemerintah dan besarnya iuran pengelolaan air agar mencapai pengelolaan sumber daya air yang optimal. Dengan pendekatan sistem dinamik dengan menggunakan program Powersim.. Analisis ini dilakukan di Waduk Jatigede Jawa Barat – Indonesia. Waduk Jatigede dengan volume 877 juta m3 yang digunakan untuk irigasi, pasokan air publik dan PLTA. Berdasarkan hasil simulasi agar mencapai pengolaan SDA yang optimal, didapat subsidi sebesar 0% pada kondisi normal, 0% pada kondisi basaha dan 0,88% pada kondisi kering. Adapun iuran pengelolaan air per m3 untuk PDAM Rp. 111,00, PAM Industri Rp. 175,00, Industri langsung Rp. 236,00, PLTA Rp.35.00/KWH dan subsidi Pemerintah Rp. 191.760.000,-.
Muhammad Jatmoko, Fakultas Perencanaan Infrastruktur Studi Teknik Lingkungan, Aulia Risky Adinda, Farhan Hadi Siregar, Rika Chairani Dalimunthe, Mega Mutiara Sari, I Wayan Koko Suryawan Pertama
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 165-173; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.08

Abstract:
Tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah secara open dumping dapat ditemukan di Pulau Nusa Lembongan, Provinsi Bali. Sampah yang ditimbun dengan proses open dumping cenderung menghasilkan dampak lingkungan, salah satu dampak tersebut adalah air lindi. Untuk mencegah dampak lingkungan maka diperlukan pengolahan lindi, salah satunya adalah dengan kolam stabilisasi. Tujuan dari studi ini adalah mengetahui luas lahan yang dibutuhkan dan prediksi effluent air limbah yang dikeluarkan dari perencanaan kolam stabilisasi. Perencanaan ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan pengolahan data secara deskriptif dari kajian literatur. Perhitungan debit air limbah dari data intensitas hujan memperlihatkan debit air lindi dapat mencapai 4.579,2 liter⁄hari dengan kualitas air lindi yang cenderung biodegradable. Unit yang dibutuhkan untuk mencapai standar minimum kualitas lindi adalah bak ekualisi, kolam anaerobik, kolam fakultatif, kolam maturase, dan anaerobic baffle reactor (ABR). Total kebutuhan lahan dari unit tersebut adalah 0,013 ha. Sedangkan kualitas effluent berdasarkan parameter utama biochemical oxygen demand (BOD) adalah 9,8 mg/L, dimana baku mutu yang disyaratkan adalah 100 mg/L.
Jordy Georgia Makunimau, Fakultas Sains Dan Teknik Studi Teknik Sipil, Dolly W. Karels, Denik Sri Krisnayanti
Jurnal Teknik Pengairan : Journal of Water Resources Engineering, Volume 12, pp 174-185; https://doi.org/10.21776/ub.pengairan.2021.012.02.09

Abstract:
Desa Bolok merupakan salah satu desa di Kabupaten Kupang yang belum terlayani oleh pelayanan penyediaan air bersih. Belum tersedianya pelayanan air bersih menjadi masalah untuk masyarakat memenuhi kebutuhan air hariannya. Penelitian ini ditujukan untuk merencanakan jaringan perpipaan air bersih agar membantu masyarakat Desa Bolok memenuhi kebutuhan air bersihnya. Jaringan perpipaan air bersih direncanakan menggunakan software Epanet 2.0 dengan perhitungan kehilangan energi menggunakan metode Hazen William. Terdapat 2 sumber air yang bisa dipakai yaitu sumur bor Taman Eden milik Desa Bolok dengan debit air 1,314 ltr/detik dan sumur bor milik PDAM Kabupaten Kupang dengan debit air 5 ltr/detik. Proyeksi penduduk pada tahun 2028 dilakukan dengan metode aritmatik, geometrik dan least square. Berdasarkan hasil uji standar deviasi dan koefisien korelasi, maka digunakan hasil proyeksi penduduk dengan metode geometrik yaitu 4075 jiwa. Hasil proyeksi penduduk ini kemudian digunakan untuk proyeksi terhadap fasilitas umum yang ada di Desa Bolok. Berdasarkan perhitungan, total kebutuhan rata-rata air Desa Bolok pada tahun 2028 adalah 5,00 ltr/detik. Pipa yang digunakan adalah galvanized iron pipe (GIP) dengan diameter berkisar antara 25 mm – 125 mm. Volume reservoir yang direncanakan adalah 90 m3 dengan ukuran panjang = 5 m, lebar = 4,5 m dan tinggi = 4 m.
Back to Top Top