Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences

Journal Information
ISSN / EISSN : 25492934 / 25492942
Current Publisher: Politeknik Negeri Jember (10.25047)
Total articles ≅ 60
Filter:

Latest articles in this journal

Kaamaliaa Anisya Sari Utami, Fnu Damanhuri
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 26-33; doi:10.25047/agriprima.v4i1.353

Abstract:
Bemisia tabaci merupakan hama utama kedelai Edamame. Pestisida nabati berpotensi mengendalikan Bemisia tabaci berbahan aktif flovonoid, polifenol, tanin, saponin, citronella, dan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektifitas Insektisida, Populasi, Intensitas Serangan Bemisia tabaci, Berat polong dan Jumlah polong Edamame. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2019 di desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember dengan membandingkan lahan Konversi Organik dan Konvensional. Data dianalisis menggunakan uji non parametrik menggunkan SPSS 15. Berdasarkan hasil uji efikasi insektisida terhadap Bemisia sp., diperoleh hasil bahwa konsentrasi insektisida kombinasi 15% memberikan hasil terbaik dengan kematian rataan 83,33%. Populasi pada perlakuan konversi organik yaitu 4,887 ekor per rumpun dan populasi pada perlakuan konvensional yaitu 2,364 per rumpun. Intensitas serangan pada perlakuan konversi organik yaitu 0,054% dan pada perlakuan konvensional yaitu 0,055%. Pada teknik budidaya konversi organik berat polong yaitu 46,96 g per rumpun dengan jumlah polong 26,50 buah dan pada teknik budidaya konvensional berat polong yaitu 52,72 g per rumpun dengan jumlah polong 30,02 buah.
Fnu Nurhasnita, Fnu Yaherwandi, Siska Efendi
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 6-17; doi:10.25047/agriprima.v4i1.347

Abstract:
Kelapa sawit adalah salah satu komoditas pertanian yang mempunyai peran penting dalam subsektor perkebunan di Indonesia. Tanaman kelapa sawit dapat diserang oleh berbagai hama dimulai dari pembibitan hingga tanaman yang telah dibudidayakan di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari hama utama pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Sembilan Koto Kabupaten Dharmasraya. Penelitian dilaksanakan di Nagari Koto IV Nan Dibawah, Silago dan Banai selama 3 bulan yaitu dari bulan September sampai November 2018. Penelitian dilakukan menggunakan metode Porposive Random Sampling di kebun kelapa sawit rakyat umur 2-5 tahun dengan luas areal ± 1 ha. Pengambilan serangga dilakukan dengan koleksi secara langsung. Pengamatan hama dilakukan satu kali dua minggu. Serangga yang didapat dipisahkan berdasarkan fungsionalnnya. Serangga yang tergolong hama diidentifikasi dilaboratorium Bioekologi Serangga Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas dan Laboratorium Tanah dan Tanaman Kampus III Unand Dharmasraya. Serangga hama yang ditemukan pada penelitian sebanyak 20 spesies, 9 famili dan 4 ordo. Hama paling banyak ditemukan adalah Bothrogonia ferugenia. Persentase serangan tertinggi terdapat di Nagari Silago dengan kerusakan serangan sebesar 88,33%, dan Intensitas kerusakan hama yaitu 9,60 %.
Dewi Widhia Wati, Fnu Djenal
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 45-54; doi:10.25047/agriprima.v4i1.319

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mendapatkan konsentrasi Ammonium nitrat dan sukrosa yang optimal untuk menghasilkan umbi mikro yang besar dengan waktu pembentukan umbi yang lebih cepat dan berat basah umbi mikro tinggi. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan dari Januari hingga April 2019 di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Politeknik Negeri Jember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, 9 perlakuan dan 3 ulangan. Taraf faktor N yaitu 825 mg/L, 1650 mg/L dan 2475 mg/L, sedangkan taraf faktor S yaitu 60 g/L, 75 g/L dan 90 g/L dengan perlakuan kombinasi N1S1, N1S2, N1S3, N2S1, N2S2, N2S3, N3S1, N3S2, N3S3. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan kemudian diuji lebih lanjut dengan menggunakan DMRT 5%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan konsentrasi NH4NO3 terbaik untuk parameter kedinian umbi dan jumlah umbi yaitu 825 mg/L, sedangkan konsentrasi NH4NO3 terbaik untuk parameter tinggi tanaman, diameter umbi dan bobot umbi adalah 1650 mg/L. Konsentrasi sukrosa terbaik untuk kedinian umbi mikro yaitu 75 g/L. Interaksi nitrogen dan sukrosa yang terbaik untuk parameter kedinian umbi mikro adalah perlakuan 825 mg/L NH4NO3 dan 75 g/L sukrosa.
Aqidatul Izzah, Fnu Iswahyudi, Kelik Perdana Windra Sukma
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 1-5; doi:10.25047/agriprima.v4i1.349

Abstract:
Tanaman tomat membutuhkan hara untuk pertumbuhannya, salah satunya kalsium. Kalsium merupakan makronutrien penting untuk petumbuhan sel dan buah. Pada penelitian ini pupuk kalsium yang diaplikasikan pada tanaman tomat dalam bentuk nano-kalsium dengan 3 fasa yang berbeda, yaitu aragonit, kalsit dan vaterit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaplikasian dari ketiga fasa tersebut dan konsentrasi nano kalsium yang berbeda terhadap produksi tomat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kadur Kabupaten Pamekasan. Tanaman tomat ditanam pada polibag dan disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri dari penggunaan tiga fasa nano kalsium (Aragonit, Kalsit dan Vaterit) dan dosis penggunaan (0,25; 0,5; dan 0,75 gram/tanaman). Masing-masing perlakuan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas indeks daun dan berat total buah. Data di analisis menggunakan Anova dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan fasa nano kalsium, dosis dan interaksi keduanya menurunkan jumlah daun dan indeks luas daun.
Rochmathul Ummah, Lilik Mastuti, Siti Humaidah
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 71-82; doi:10.25047/agriprima.v4i1.322

Abstract:
Limbah daun cengkeh berlimpah dan telah dimanfaatkan menjadi minyak. Minyak daun cengkeh adalah salah satu produk minyak atsiri unggulan di Indonesia dan kebutuhan minyak daun cengkeh terus meningkat setiap tahun. Tetapi seringkali rendemen minyak yang dihasilkan rendah. Perbedaan pencacahan daun cengkeh merupakan alternatif untuk meningkatkan rendemen minyak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dari perbedaan pencacahan daun cengkeh terhadap hasil minyak atsiri dan mencari perlakuan terbaik dalam menghasilkan rendemen minyak tertinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Pakan dan Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian Politeknik Negeri Jember. Dilaksanakan dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial. Faktor yang digunakan yaitu perbedaan pencacahan dengan 3 taraf perlakuan yang terdiri dari daun utuh (P1), cacahan besar (P2), cacahan kecil (P3) dan 9 ulangan menggunakan penyulingan uap dan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan pencacahan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil minyak atsiri pada parameter kuantitatif. Pada parameter kualitatif, perbedaan pencacahan menghasilkan rendemen bahan tertinggi yaitu cacahan kecil, warna minyak yang banyak dihasilkan adalah cokelat kekuningan dan kuning kecokelatan, serta kadar eugenol semua perlakuan sesuai SNI. Eugenol tertinggi adalah perlakuan daun utuh. Perlakuan terbaik untuk menghasilkan rendemen minyak tertinggi adalah perlakuan dengan cacahan kecil.
Liska Aningrum, Fnu Herlinawati
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 83-93; doi:10.25047/agriprima.v4i1.352

Abstract:
Keanekaragaman arthropoda merupakan hal penting dalam pengelolaan hama, karena didalamnya mencakup herbivore, predator, dan parasioid yang menentukan teknik pengelolaan hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekargaman arthropoda herbivor dan predator tanaman kedelai Edamame pada teknik budidaya konversi organik dan konvensional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2019 di desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember dengan membandingkan dua lokasi berbeda. Lokasi pertama yaitu budidaya kedelai Edamame konversi organik yang menggunakan pestisida nabati kombinasi, pupuk organik padatan. Lokasi kedua yaitu lahan teknik budidaya konvensional menggunakan pupuk anorganik dan pestisida sintetik. Analisa data menggunakan uji non parametrik statistik menggunakan perangkat lunak SPPS versi 25,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbivora pada budidaya konversi organik terdapat 4 ordo, 9 famili, 14 spesies, 2426 individu dan predator 6 ordo, 8 famili, 8 spesies, 831 individu, Indeks Diversitas (H’) yaitu 1,18, Indeks Dominansi (C) yaitu 0,53, jumlah polong 26,500, dan untuk berat polong yaitu 46,960 g. Sedangkan pada budidaya konvensional menunjukkan herbivora terdapat 4 ordo, 9 famili, 15 spesies, 1622 individu, dan predator 6 ordo, 10 famili, 11 spesies, 730 individu, Indeks Diveritas (H’) yaitu 1,52, Indeks Dominansi (C) yaitu 0,38, jumlah polong 30,020, dan berat polong yaitu 52,720 g.
Aditya Ardianto, Siti Humaida
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 34-44; doi:10.25047/agriprima.v4i1.323

Abstract:
Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan tanaman nilam disebut minyak nilam. Minyak nilam berperan penting sebagai bahan baku dalam industri pewangi dan kosmetika. Indonesia setiap tahun memasok minyak nilam dari 70% - 90% kebutuhan dunia. Namun petani khawatir terhadap harga minyak nilam yang fluktuatif. Sehingga perlu upaya peningkatan rendemen minyak nilam guna menekan harga pokok produksi agar resiko kerugian dapat diminimalisir. Alternatif meningkatkan rendemen adalah dengan memperbaiki cara pengeringan nilam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan cara pengeringan nilam dan mengetahui perlakuan yang memberikan hasil terbaik terhadap minyak nilam. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Pengembangan PT. Tarutama Nusantara. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial. Faktor yang digunakan yaitu perbedaan cara pengeringan dengan 6 taraf yang terdiri dari kering angin selama 9 hari (P0), kering matahari selama 1 jam diikuti kering angin selama 9 hari (P1), kering matahari selama 2 jam diikuti kering angin selama 9 hari (P2), kering matahari selama 3 jam diikuti kering angin selama 9 hari (P3), kering matahari selama 4 jam diikuti kering angin selama 9 hari (P4), kering matahari selama 5 jam diikuti kering angin selama 9 hari (P5) dan 4 ulangan menggunakan penyulingan metode uap dan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berupa perbedaan durasi penjemuran bahan dengan sinar matahari berpengaruh nyata terhadap rendemen bahan dan berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air, volume minyak, berat minyak dan rendemen minyak nilam. Minyak nilam berwarna kuning dan kadar patchuoli alkohol semua perlakuan di atas 30% sehingga sesuai dengan SNI. Perlakuan terbaik adalah metode pengeringan kering angina selama 9 hari.
Fajar Ilham Kumara Akbar, Moch Syarief
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 64-70; doi:10.25047/agriprima.v4i1.324

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan Trichoderma spp. terhadap penyakit karat daun Phakopsora pachyrizi Syd pada tanaman kedelai Edamame. Penelitian ini dilakukan di Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, dimulai Desember 2019 sampai Maret 2020. Metode penelitian ini membandingkan dua areal tanaman Edamame dengan perlakuan berbeda dalam pengendalian penyakit karat daun. Areal pertama menggunakan Trichoderma spp. konsentrasi 108 CFU dosis 500 liter per ha, pupuk kandang kotoran sapi, dosis 5 ton per ha, mulsa jerami 5 ton per ha. Biourine 1 liter dicampur 10 liter air dengan cara disemprotkan pada tanaman. Areal kedua menggunakan fungisida berbahan aktif Metalaksil konsentrasi 2 gram/liter, dosis 500 liter per ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, KCl 100 kg/ha., pupuk daun Gandasil D. Peubah yang diamati: daya hambat Trichoderma spp tehadap pertumbuhan P.pachyrizi, intensitas serangan, jumlah dan berat polong per rumpun. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 23.0. Kesimpulan penelitian adalah: daya hambat Trichoderma spp terhadap P. a pachyrizi 106 CFU adalah 25%, 108 CFU adalah 50% dan 109 CFU adalah 75%, Intensitas serangan P. pachyrizi perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 0,70 persen, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 1,17 persen. Jumlah polong perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 20,88 polong per rumpun, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 29,76 polong per rumpun. Berat polong perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 41,66 gram per rumpun, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 51,72 gram per rumpun.
Irma Anindiyati, Dyah Nuning Erawati
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 18-25; doi:10.25047/agriprima.v4i1.340

Abstract:
Tembakau Kasturi 2 merupakan tembakau khas Jember yang memiliki produktifitas relatif tinggi. Perbanyakan secara generatif cenderung menghasilkan bibit yang kurang seragam sehingga dikembangkan dengan teknik kultur jaringan. Dalam kultur jaringan, penambahan zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh yang nyata.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi ZPT BAP terhadap induksi tunas tembakau varietas Kasturi 2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 hingga Desember 2018 di Laboratorium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 6 perlakuan yaitu penambahan BAP dengan konsentrasi 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan BAP 2 ppm merupakan konsentrasi terbaik untuk induksi tunas tembakau Kasturi 2 dengan kedinian bertunas 12,17 hari setelah inokulasi, eksplan bertunas 100%, rerata jumlah tunas 47,50 buah per eksplan dan rerata tinggi tunas 1,42 cm.
Indri Lestari, Nantil Bambang Eko Sulistyono, Antonius Dwiyono
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 4, pp 55-63; doi:10.25047/agriprima.v4i1.208

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimalisasi media pengeringan dan waktu pengeringan serbuk sari untuk pembentukan buah dan biji pada pemuliaan cabai. Penelitian ini dilakukan di PT. Aditya Sentana Agro, Malang. Diaplikasikan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah media pengeringan dengan 3 level yaitu suhu kotak pengering suhu 30 °C (M1), suhu rumah kaca suhu 32 °C (M2) dan suhu pengeringan matahari suhu 34 °C (M3). Faktor kedua adalah waktu pengeringan, yaitu 3 jam (W1), 6 jam (W2), dan 9 jam (M3). Interaksi antara pengering kotak sebagai pengeringan sedang dan waktu pengeringan 3 jam (M1W1) dapat menghasilkan prosentase pembentukan buah hingga 98%, berat fruti 12,91 g, panjang buah 13,34 cm, diameter buah 17,47 mm , jumlah biji per buah buah 66,06, dan berat biji per buah 1,26 g per biji.
Back to Top Top