Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences

Journal Information
ISSN / EISSN : 25492934 / 25492942
Current Publisher: Politeknik Negeri Jember (10.25047)
Total articles ≅ 50
Filter:

Latest articles in this journal

Siti Nurhidayah, Dona Setia Umbara
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 15-21; doi:10.25047/agriprima.v3i1.136

Abstract:Padi hitam merupakan pangan fungsional yang baik dikonsumsi bagi penderita penyakit degeneratif karena kandungan antosianin dan antioksidannya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan karakter agronomi pada 5 aksesi (PH3, PH4, PH5, PH7, dan PH8) padi hitam asal Tasikmalaya. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor yaitu aksesi padi hitam. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan uji lanjut Duncan taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa aksesi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, panjang malai, panjang daun bendera, jumlah gabah isi, dan jumlah gabah hampa. Aksesi PH5 (asal Indihiang) memiliki keragaan terbaik dari aksesi lainnya yaitu memiliki panjang daun bendera 29.9 cm, umur panen 104 hari setelah tanam dan jumlah gabah total 215 butir per malai dibandingkan dengan varietas Inpari 32 dan Situbagendit
Mohammad Irvan Muttaqien, Dwi Rahmawati
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 42-53; doi:10.25047/agriprima.v3i1.94

Abstract:Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan pasang surut yang mengandung cekaman salinitas (NaCl) dengan menggunakan karakter varietas yang toleran. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dari bulan Agustus sampai Desember 2017 di desa Kreongan, kecamatan Patrang, Kabupaten Jember . Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok non factorial (RAK) dengan 1 faktor dan 4 ulangan. Perlakuan varietas yang digunakan adalah Inpari 42 (V1), IPB 3S (V2), IR64 (V3), Ciherang (V4), Mekongga (V5), IR66 (V6), Sintanur (V7). Hasil penelitian pada tanah yang mengandung cekaman salinitas (NaCl) 5303,45 ppm menunjukkan bahwa karakter kualitatif semua varietas sesuai dengan deskripsi varietas sedangkan karakter kuantitatif menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata pada tinggi tanaman vegetatif, dan berpengaruh sangat nyata pada tingkat toleransi tanaman, tinggi tanaman generatif, panjang daun bendera, panjang malai, jumlah gabah per malai, jumlah gabah bernas, bobot 1000 butir, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, produksi per hektar, potensi hasil per hektar, daya berkecambah, kecepatan tumbuh serta keserempakan tumbuh benih. Hasil menunjukkan bahwa Varietas Sintanur menunjukkan hasil terbaik pada produksi per hektar, potensi hasil dan kualitas benih. Inpari 42, IPB 3S, IR64, Ciherang, mekongga, Sintanur adalah varietas toleran dan IR66 cukup toleran.
Atika Romalasari, Enceng Sobari
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 36-41; doi:10.25047/agriprima.v3i1.158

Abstract:Selada merupakan salah satu sayuran daun yang digemari oleh masyarakat. Selada biasanya dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai lalapan. Peningkatan dan potensi budidaya selada menuntut adanya teknik budidaya yang efisien. Produksi suatu tanaman dengan sistem hidroponik erat kaitanya dengan ketersediaan larutan nutrisi. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi ilmiah tentang pertumbuhan dan hasil selada (Lactuca sativa L.) pada nutrisi berbeda secara hidroponik. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu jenis larutan nutrisi yaitu larutan nutrisi AB mix 1, larutan nutrisi AB mix 2 dan larutan nutrisi silika. Hasil penelitian yang diperoleh menyatakan bahwa larutan perbedaan sumber nutrisi memberikan pengaruh yang sangat nyata pada pertumbuhan tanaman dilihat dari karakter tinggi tanaman dan dan pengaruh nyata pada jumlah helai daun. Adanya pengamatan pH dan TDS menggambarkan ketersediaan hara yang dapat terserap pada sumber nutrisi yang digunakan. Penggunaan larutan nutrisi AB mix 1 dan larutan nutrisi AB mix 2 dinilai lebih efisen dialam mempegaruhi produksi selada dibandingkan penggunaan larutan nutrisi silika.
Rosita Meliyana, Rudi Wardana, Mochamad Syarief
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 30-35; doi:10.25047/agriprima.v3i1.143

Abstract:Cercospora arachidicola merupakan patogen yang menyebabkan penyakit bercak daun pada tanaman kacang tanah. Serangan penyakit bercak daun pada tanaman kacang tanah dapat menurunkan hasil akibat patogen yang menyerang pada saat pengisian polong. Penggunaan pestisida sintetik dalam pengendalian penyakit tanaman dapat menimbulkan efek residu yang membahayakan lingkungan. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut diperlukan upaya perlindungan tanaman dengan penggunaan pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efikasi ekstrak daun kemangi terhadap penyakit bercak daun (Cercospora arachidicola) pada tanaman kacang tanah. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2017 sampai Februari 2018 di lahan percobaan Desa Baratan, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember dan laboratorium perlindungan tanaman Politeknik Negeri Jember. Penelitian mengunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial 5 perlakuan dengan (P0) fungisida sintetik 1 ml/liter, ekstrak daun kemangi 25 % (P1), ekstrak daun kemangi 50% (P2), ekstrak daun kemangi 75 % (P3), dan ekstrak daun kemangi 100 % (P4) . Hasil uji anova pada penelitian menunjukkan bahwa efikasi ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) terhadap penyakit bercak daun (Cercospora arachidicola) pada tanaman kacang tanah tidak berbeda nyata pada parameter intensitas serangan, jumlah polong, berat basah polong, dan berat kering polong kacang tanah. Peningkatan serangan Cercospora arachidicola berdampak dalam pengurangan hasil panen kacang tanah pada uji korelasi.
Nafa Novika Listianti, Wahyu Winarno, Iqbal Erdiansyah
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 81-85; doi:10.25047/agriprima.v3i1.142

Abstract:Keberadaan hama walang sangit (L. acuta) sebagai hama utama tanaman padi menyebabkan produksi padi rendah. Pengendalian walang sangit yang biasanya menggunakan insektisida sintetik dinilai kurang efektif karena hama telah resisten terhadap insektisida sintetik. Upaya pengendalian walang sangit (L. acuta) dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan yang berasal dari organ tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menekan aktivitas serangan hama walang sangit (L. acuta). Jalan Parangtritis, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember merupakan tempat pelaksanaan penelitian. Penelitian ini disusun dengan RAK (Rancangan Acak Kelompok) Non Faktorial, menggunakan tiga perlakuan dan diulang sembilan kali. Perlakuan meliputi P0 (insektisida sintetik bahan aktif deltametrin 1 ml/liter), P1 (konsentrasi ekstrak daun pepaya 55%), dan P2 (konsentrasi ekstrak daun pepaya 75 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 (konsentrasi 75 % ekstrak daun pepaya) mampu menekan intensitas serangan walang sangit (L. acuta) pada pengamatan minggu ke 3 dan ke 4 dengan rata-rata intensitas serangan 26,31 % sampai 23,17 %. Selain itu, pada perlakuan P2 (75 % ekstrak daun pepaya) berpengaruh pada persentase bulir bernas per sampel dengan rerata 38,09 % dan berat padi per sampel dengan rerata 7,11 gram.
Eka Renitasari, Titien Fatimah, Abdul Madjid
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 62-70; doi:10.25047/agriprima.v3i1.132

Abstract:Salah satu penunjang produksi tanaman karet dalam menghasilkan getah lateks adalah pengaplikasian stimulansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara klon karet dengan stimulansia terhadap produksi tanaman karet. Penelitian ini dilakukan di PTP N XII Kebun renteng Ajung Kabupaten Jember pada 26 desember 2017 – 15 Januari 2018. Penelitian ini mengguunakan Rancangan Acak Kelompok(RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah faktor klon menggunakan 4 taraf yaitu, taraf K1 (PB 260), K2 (GT 1), K3 (RRIC 100), K4 (BPM 24). Faktor kedua adalah stimulansia dengan 3 taraf yaitu, S1 (Amcotrel 10 PA), S2 (karet full), S3 (non stimulansia). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang baik ditunjukkan oleh kombinasi perlakuan antara klon RRIC 100 dengan stimulansia karet full dan kombinasi perlakuan GT 1 dengan stimulansia amcotrel 10 PA. Namun, hasil produksi getah lateks menunjukkan bahwa perlakuan kontrol lebih tinggi dari semua perlakuan stimulansia.
Reni Rahmawati, Mochamad Syarief, Fnu Jumiatun, Fnu Djenal
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 22-29; doi:10.25047/agriprima.v3i1.130

Abstract:Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya produksi kedelai yaitu serangan hama penghisap polong (Riptortus linearis). Pada penelitian ini pengendalikan hama penghisap polong pada kedelai menggunakan pestisida nabati ekstrak daun sirsak (Annona muricata). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pestisida nabati ekstrak daun sirsak terhadap intensitas serangan hama penghisap polong dan berat polong. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2018 hingga April 2018 di lahan Desa Kebonsari Kidul, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu P0 (Deltametrin 25gr/l), Ekstrak daun sirsak dengan konsentrasi : P1 (10%), P2 (30%), P3 (60%) dan P4 (90%) dengan 5 ulangan. Uji data menggunakan ANOVA (Analyze of Varians) dan uji lanjut dengan BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 perlakuan tersebut berpengaruh nyata terhadap intensitas serangan umur 63 HST dan tidak berbeda nyata pada intensitas serangan umur 56 HST,70 HST dan 77 HST dan parameter berat polong. Intensitas serangan hama penghisap polong berkorelasi negatif terhadap berat polong.
Charis Al Faiz, Nantil Bambang Eko Sulistyono
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 71-80; doi:10.25047/agriprima.v3i1.101

Abstract:Fase pembibitan tanaman kopi dengan menggunakan benih, membutuhkan waktu yang lama sampai fase kepelan yang ditandai dengan tumbuhnya 2 daun lembaga mekar, membutuhkan waktu antara 2,5 – 3,0 bulan. Pemberian H2SO4 bertujuan melunakan lapisan lignin yang sangat kuat, keras dan tebal pada kulit benih serta Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) dengan cara perendaman akan menstimulir perkecambahan benih karena akan memicu hormon pertumbuhan. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli 2017 – Oktober 2017 di rumah kaca / green house dan lahan percobaan Politeknik Negeri Jember. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor, faktor pertama terdiri dari 4 taraf yaitu (H0) tanpa pemberian H2SO4, (H1) pemberian H2SO4 10%, (H2) pemberian H2SO4 15% , (H3) pemberian H2SO4 20%. Faktor kedua terdiri dari 4 taraf, yaitu (B0) tanpa perendaman Ekstrak Bawang Merah, (B1) perendaman Ekstrak Bawang Merah 10%, (B2) perendaman Ekstrak Bawang Merah 30%, (B3) perendaman Ekstrak Bawang Merah 50%, menggunakan 3 ulangan. Data dianalisis menggunakan uji F (ANOVA) dilanjutkan dengan uji lanjut BNT 5%. Hasil dari penelitian ini menunjukan H2SO4 memberikan pengaruh sangat nyata terhadap uji vigor benih Kopi Robusta pada parameter Presentase Daya Berkecambah (%), Kecepatan Tumbuh (Kct), Potensi Tumbuh Maksimum (%) dan Indeks Vigor (%). Perendaman dengan ekstrak bawang merah memberikan pengaruhsangat nyata terhadap parameter Indeks Vigor (%),Panjang Akar (cm), Tinggi Hipokotil (cm), Rata – rata Pertambahan Tinggi Hipokotil Per-Minggu (cm) dan Waktu menjadi Kepelan (HSS). Terdapat interaksi berbeda nyata antara kedua perlakuan pada parameter Daya Berkecambah (%).
Rona Utama, Nurul Sjamsijah
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 54-61; doi:10.25047/agriprima.v3i1.100

Abstract:Serangan karat daun yang disebabkan Jamur Phakopsora pachyrhizi merupakan salah satu factor menurunnya produksi kedelai hingga 30 – 60%, sehingga menuntut pemuliaan untuk merakit varietas unggul baru yang tahan terhadap serangan karat daun. Penelitian ini dilakukan di lahan riset Politeknik Negeri Jember dari bulan Juni – Agustus 2017 menggunakan rancangan acak kelompok non factorial diulang 3 kali dengan 14 genotipe yang terseleksi dari generasi F2 sampai F6 yaitu (7) hasil persilangan P3P2, P2P3, RD, P2D, P3R, P2R, P3D, (4) tetua Dering, Rajabasa, Polije-2 dan Polije-3, dan varietas pembanding Wilis, Malabar dan Ringgit, apabila ada efek signifikan akan dilanjutkan analisa DMRT 5%. Parameter yang diuji nilai IWGSR (Internasional Working Group Of Soybean Rust), 3 komponen hasil (umur panen, berat 100 biji dan hasil pertanaman). Hasil tes meyatakan genotipe P3P2, P2P3, P2R, P3R, P2D, RD, dan P3D kekebal serangan karat daun dengan notasi R (Resistance), genotipe P2P3 umur panen yang genjah yaitu 68,53 HST, berat 100 biji pada genotipe RD memiliki hasil yang paling besar yaitu (14,542 gr) dan biji pertanaman genotipe P3D memiliki hasil (21,24 gr).
Erfan Dani Septia, Fitra Parlindo
Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences, Volume 3, pp 1-14; doi:10.25047/agriprima.v3i1.159

Abstract:Permintaan yang tinggi terhadap komoditas Kedelai seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat pada produk-produk olahannya. Kenyataan tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas kedelai dalam negeri. Riniarsi (2016) melaporkan bahwa produktivitas kedelai tahun 2016 bahkan mengalami penurunan sebesar 3.95% dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor yang menyebabkan penurunan produksi kedelai salah satunya karena penyakit yang disebabkan oleh virus tanaman. Seiring dengan tren pengurangan bahan kimia sintetis pada praktik budidaya tanaman, aplikasi mikroba endofit indigenous menjadi solusi alternatif dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh virus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman mikroba endofit indigenous pada berbagai bagian jaringan tanaman kedelai dan menguji virulensinya secara in vitro.Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi. Hasil eksplorasi cendawan endofit indigenous berjumlah 11 isolat dan bakteri berjumlah 3 isolat. Cendawan endofit indigenous berhasil diisolasi dari seluruh jaringan tanaman, kecuali polong. Keragaman cendawan endofit indigenous tertinggi terdapat pada jaringan akar dan batang, yaitu masing-masing berjumlah 4 isolat. Identitas cendawan endofit indigenous yang berhasil diidentifikasi antara lain adalah Fusarium sp., Verticilllum sp., Alternaria sp., Aspergillus sp., dan Penicillium sp. Adapun 6 isolat lainnya tidak dapat terindentifikasi. Bakteri endofit indigenous hanya terisolasi dari jaringan polong, akar, dan tanah. Seluruh bakteri merupakan golongan bakteri Gram negatif. Berdasarkan hasil Uji Hipovirulensi, terhadap 7 isolat cendawan endofit indigenous yang masuk dalam kategori hipovirulen dan 4 isolat lainnya bersifat virulen. Sedangkan semua isolat bakteri endofit indigenous yang diuji menunjukkan kategori virulen.