Jurnal Sain Peternakan Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 1978-3000 / 2528-7109
Total articles ≅ 376
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

N. E. Kharisa, R. Hartanto, D.W. Harjanti
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 327-332; doi:10.31186/jspi.id.15.3.327-332

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian suplemen dan antiseptik teat dipping temulawak terhadap konsumsi pakan dan produksi susu sapi laktasi penderita mastitis subklinis. Materi penelitian adalah 12 ekor sapi perah Friesian Holstein (FH) penderita mastitis subklinis, laktasi ke 3-5 dan bulan laktasi ke 5-6 dengan rata-rata bobot badan 466,49±44,99 (CV = 9,75%) kg dan produksi susu awal 6,90±2,70 (CV = 39,34%) liter. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 3 kelompok yang didasarkan produksi susu yaitu rendah, sedang dan tinggi. Perlakuan yang diterapkan yaitu T0 = tanpa perlakuan, T1 = Pakan basal + suplemen temulawak 1% kebutuhan BK, T2 = Pakan basal + antiseptik teat dipping temulawak dan T3 = Pakan basal +suplemen temulawak 1% kebutuhan BK + antiseptik teat dipping temulawak. Parameter penelitian ini yaitu konsumsi bahan kering pakan dan produksi susu. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) pada taraf signifikasi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi BK dan produksi susu. Simpulan dari penelitian adalah pemberian suplemen 1% kebutuhan BK dan antiseptik teat dipping temulawak belum mampu meningkatkan konsumsi BK dan produksi susu sapi perah laktasi penderita mastitis subklinis.
F. Lopi, R.L. Ulrikus, F. M. S. Telupere
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 308-314; doi:10.31186/jspi.id.15.3.308-314

Abstract:
Penelitiaan ini telah dilakukan untuk mengetahui nilai ekonomi substitusi jagung lokal dalam ransum komersial ayam F1 hasil silangan pejantan lokal yang berbeda strain dengan ras petelur Isa Brown. Silangan ini menghasilkan 72 ekor ayam yang digunakan sebagai materi penelitian. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan desain menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor pola 3x2 yakni: 3 faktor strain pejantan (pejantan Sabu >< Isa Brown = Saras, Bangkok >< Isa Brown = Bakoras dan Legund >< Isa Brown = Leguras) dan 2 faktor pakan (pakan komersial 100% = P1 dan pakan komersial 70% + 30% jagung lokal = P2). Kombinasi kedua faktor ini menghasilkan 6 kombinasi perlakuan yakni: ayam Saras diberi pakan P1 (SP1), ayam Saras diberi pakan P2 (SP2), ayam Bakoras diberi pakan P1 (BP1), ayam Bakoras diberi pakan P2 (BP2), ayam Leguras diberi pakan P1 (LP1) dan ayam Leguras diberi pakan P2 (LP2). Variabel nilai ekonomi dalam penelitian ini adalah indeks performa (IP) dan income over feed and chick cost (IOFCC). Data yang diperoleh dilakukan analisis ragam, apabila berpengaruh nyata (P
D. A. Iyai, M. Sagrim, S. Pakage, A. G. Murwanto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 242-250; doi:10.31186/jspi.id.15.3.242-250

Abstract:
The aim of this research was to characterize swine farming system performances tethered under different agro-ecological zones in Papua. The field study was done in Manokwari regency and involved six districts, i.e. Nothern Manokwari district, Eastern Manokari District, Western Manokwari district, Warmare district, Prafi district and Masni district. Respondents chosen were guided by local extensions, originated from 15 villages. Participatory situation analysis (PSA) was employed to approach swine farmers by using questionnaire. Swine body weights of swinelets and growers were weighed except for mature swine, body lengths and hearth girths were measured using tape. Herd number, number of swinelets, adult swine were recorded. A one-way analysis of variances was used. All data were entered in Excel and analyzed using SPPS version 10.0.. The findings shown that interaction between education and keeping systems occur on work hours and ages. Effect of education is significant on experience, location, and ethnic. In keeping systems, effect is real on experience, work hours, location, and ethnic. Interaction do not significant exist in number of swine including see middle man, visited consumer, litter size, number of farrowing and income sources.
S. A. Putri, E. Suprijatna, L.D. Mahfudz
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 287-293; doi:10.31186/jspi.id.15.3.287-293

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan aditif pakan berupa kulit singkong dan bakteri asam laktat terhadap pemanfaatan protein ransum ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini 144 ekor ayam broiler umur 10 hari unsexed dengan bobot rata-rata 198,59±5,82 g. Ransum yang diberikan mengandung protein 18,9% dan energi metabolis 3.044,9 Kkal. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), 4 perlakuan dan 6 ulangan, setiap unit percobaan diisi 6 ekor ayam. Perlakuan yang diterapkan adalah aditif pakan sebagai berikut T0: ransum basal; T1: ransum basal + 50 ml/kg; T2: ransum basal + 100 ml/kg; T3: ransum basal + 150 ml/kg. Parameter yang diamati meliputi konsumsi protein, kecernaan protein, retensi nitrogen dan massa protein daging. Data hasil penelitian dianalisis ragam dengan uji F dilanjutkan uji Duncan pada probabilitas 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan aditif pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi protein, kecernaan protein, retensi nitrogen dan massa protein daging. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan aditif pakan berupa kulit singkong dan bakteri asam laktat s/d 150 ml/kg pakan belum mampu meningkatkan pemanfaatan protein ransum ayam broiler.
E. Triyannanto, A. S. Arizona, Rusman Rusman, E. Suryanto, R. O. Sujarwanta, Jamhari Jamhari, I. Widyastuti
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 265-272; doi:10.31186/jspi.id.15.3.265-272

Abstract:
Sate ayam merupakan produk olahan daging tradisional yang diminati masyarakat luas namun memiliki daya simpan yang rendah. Ready-to-eat (RTE) sate ayam diproduksi dengan menggunakan metode sterilisasi pada temperature 121°C selama 45 menit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bahan pengemas, pengaruh lama penyimpanan produk pada suhu ruang. Sampel sate ayam dikemas dengan kemasan polyethylene dan retort pouch. Masing-masing sampel diuji pada minggu 0, 2, 4, 6, dan 8. Parameter yang diamati adalah kualitas fisik (pH, daya ikat air -DIA, dan keempukan) and TPC (Total Plate Count). Data kualitas fisik dan mikrobiologi dianalisis dengan rancangan acak lengkap pola faktorial. Perbedaan rerata diuji dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test. Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Hasil analisis statistik terhadap kualitas fisik dan mikrobiologi menunjukkan bahwa perlakuan masa simpan pada suhu ruang memberikan pengaruh nyata pada nilai rata-rata (P
A. Badrussalam, Isroli Isroli, T. Yudiarti
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 273-279; doi:10.31186/jspi.id.15.3.273-279

Abstract:
Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan aditif kunyit terhadap bobot relatif organ pencernaan ayam kampung super.Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 September 2017 sampai 10 November 2017 di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Ayam kampung super yang digunakan dalam penelitian yaitu Day Old Chick (DOC) yang diproduksi oleh PT. Tirto Hartono, Sleman, Yogyakarta sebanyak 200 ekor. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap, dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan, sehingga ada 25 unit percobaan, setiap 1 pen diisi 8 ekor ayam kampung super. Perlakuan yang digunakan adalah : T0 = Ayam kampung super tanpa diberi aditif kunyit, T1 = Ayam kampung super diberi aditif perasan air kunyit dalam air minum 1:3, T2 = Ayam kampung super diberi aditif tepung kunyit dalam ransum 0,5%, T3 = Ayam kampung super diberi aditif fermentasi ampas kunyit dalam ransum 0,5%, T4 = ayam kampung super diberi aditif ampas kunyit dalam ransum 0,5%. Parameter yang diamati adalah bobot relatif organ pencernaan. Apabila uji keragaman berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian aditif kunyit terhadap bobot relatif organ pencernaan pada ransum ayam kampung super berpengaruh nyata (P
T. N. I. Koni, T. A. Y. Foenay
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 333-338; doi:10.31186/jspi.id.15.3.333-338

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan karbohidrat mudah larut sebagai aditif terhadap kandungan tanin, bahan kering protein kasar dan lemak kasar silase kulit pisang. Metode eksperimen digunakan dalam penelitian ini dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan lima ulangan. Tiga perlakuan adalah (P0) silase kulit pisang tanpa aditif; (P1) silase kulit pisang dengan penambahan bekatul 5%; (P2) silase kulit pisang dengan penambahan tapioka 5%. Parameter yang diukur adalah tanin, bahan kering, dan kadar protein kasar. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan jika berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dedak padi 5% dan tapioka 5% menurunkan tanin masing-masing 41% dan 43% tanin bila dibandingkan dengan silase tanpa aditif,peningkatan kandungan protein sebesar 19,7% dan 46,4% dan peningkatan kadar lemak kasar sebesar 6,95% dan 33,3% bila dibandingkan dengan silase tanpa aditif.
Nasrullah Nasrullah, Isroli Isroli, Sugiharto Sugiharto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 315-319; doi:10.31186/jspi.id.15.3.315-319

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jamu dalam ration terhadap profil darah putih dalam darah ayam petelur ditinjau dari total leukosit dan diferensial leukosit antara lain limfosit, eosinofil dan neutrofil. Materi yang digunakan adalah 40 ekor ayam petelur strain Lohmann Brown fase layer umur 40 minggu dengan lama pemeliharaan 30 hari. Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu T0 = ayam petelur tidak diberi tambahan jamu dalam ration, T1 = ayam petelur diberi tambahan jamu dalam ration 0,5%, T2 = ayam petelur diberi tambahan jamu dalam ration 1% dan T3 = ayam petelur diberi tambahan jamu dalam ration 1,5%. Parameter yang diamati adalah leukosit dan differensial leukosit antara lain heterofil, eusinofil dan limfosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jamu dalam ration tidak berpengaruh terhadap jumlah leukosit dan differensial leukosit. Perlakuan T0, T1, T2 dan T3 menunjukkan jumlah rata – rata leukosit masing – masing 31,30, 35,70, 38,00, dan 38,40 (×103/µL), limfosit masing – masing 25,10, 29,00, 30,70 dan 31,80 (×103/µL), eosinofil masing – masing 1,90, 2,20, 2,60 dan 2,80 (×103/µL), dan neutrofil masing – masing 4,00, 4,30, 4,50 dan 4,50 (×103/µL). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan jamu dalam ration ayam petelur dapat menjaga kesehatan tubuh ayam petelur yang ditandai dengan total leukosit, limfosit dan eosinofil yang tinggi namun masih dalam kondisi normal dan jumlah heterofil yang stabil.
Didik Nur Edi
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 251-258; doi:10.31186/jspi.id.15.3.251-258

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi potensi pakan untuk pengembangan ternak ruminansia di Provinsi Jawa Timur. Data yang digunakan dalam analisis adalah data sekunder dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif analitis. Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder dari dinas terkait kemudian disusun dan dianalisis menjadi informasi yang dapat dijelaskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Timur memiliki populasi ternak ruminansia (sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing dan domba) sebanyak 3.892.540 satuan ternak. Potensi pakan di Provinsi Jawa Timur adalah 16.167.651 ton bahan kering/tahun yang terdiri atas 2.217.979 ton bahan kering/tahun pakan alami (rumput) dan 13.949.672 ton bahan kering/tahun hasil samping pertanian (jerami). Daya tampung ternak mencapai 4.869.774 satuan ternak, yang berarti bahwa terdapat potensi pengembangan sebesar 977.234 satuan ternak. Nilai Indek Daya Dukung Pakan di Provinsi Jawa Timur adalah 1,3. Dapat disimpulkan bahwa potensi pakan di Provinsi Jawa Timur termasuk dalam kriteria kritis, yang berarti bahwa ternak ruminansia telah mempunyai pilihan untuk memanfaatkan sumber daya pakan tetapi aspek konservasinya belum terpenuhi.
P. Cahyani, Y.S. Ondho, D. Samsudewa
Jurnal Sain Peternakan Indonesia, Volume 15, pp 259-264; doi:10.31186/jspi.id.15.3.259-264

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pengencer tarum (Indigofera zollingeriana) dalam pengencer semen terhadap viabilitas dan tudung akrosom utuh semen kambing Peranakan Ettawa. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu semen segar pejantan kambing Peranakan Ettawa (PE) sebanyak 5 ekor yang berumur 2-4 tahun dengan bobot badan 74-92 kg. Komponen Bahan pengencer yang dipergunakan adalah pengencer semen dan larutan tarum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penambahan larutan tarum dalam pengencer semen tidak mempengaruhi viabilitas dan tudung akrosom utuh semen kambing Peranakan Ettawa (P>0,05). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah empat perlakuan yang diujicobakan memiliki kemampuan yang sama dalam mempertahankan viabilitas dan tudung akrosom utuh spermatozoa kambing Peranakan Ettawa.
Back to Top Top