Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Journal Information
ISSN / EISSN : 2085-9937 / 2598-1242
Current Publisher: Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat (10.30959)
Total articles ≅ 344
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 141-157; doi:10.30959/patanjala.v12i2.595

Abstract:
This article discusses the entertainment world of the Minangkabau people in the Dutch colonial epoch. The world of entertainment is constructed using the historical method through the collection of written sources particularly contemporary newspapers and is equipped with books in the form of memoirs and autobiographies. The data obtained are then criticized and synchronized to produce historiography. The results show that the entertainment that developed in Minangkabau is identified into two namely traditional entertainment and modern entertainment. The traditional entertainment is entertainment that has been passed down from the Minangkabau culture, while modern entertainment is entertainment influenced by the West.Artikel ini menjelaskan tentang dunia hiburan masyarakat Minangkabau pada masa kolonial Belanda. Dunia Hiburan dikontruksi menggunakan metode sejarah melalui pengumpulan sumber-sumber tertulis terutama koran-koran yang terbit sezaman serta dilengkapi dengan buku- buku berupa memoar dan autobiografi. Data yang diperoleh kemudian dikritisi dan dikronologikan sehingga menghasilkan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hiburan yang berkembang di Minangkabau terpola menjadi dua yakni hiburan tradisional dan hiburan modern, dimana hiburan tradisional merupakan hiburan yang telah turun temurun dari budaya masyarakat Minangkabau, sedangkan hiburan modern merupakan hiburan pengaruh Barat.
Arief Dwinanto
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 309-311; doi:10.30959/patanjala.v12i2.681

Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 293-308; doi:10.30959/patanjala.v12i2.644

Abstract:
Masyarakat nelayan di Kabupaten Lampung Selatan sebagian besar berasal dari tanah Jawa yang datang ke Lampung dengan berbagai cara. Salah satunya melalui program transmigrasi yang dilakukan sejak zaman penjajahan. Selain melakukan aktivitas sebagai nelayan, aktivitas budaya juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nelayan tersebut, salah satunya adalah Ruwat Laut. Setelah dilaksanakan selama bertahun-tahun, Ruwat Laut berganti nama menjadi Syukuran Laut. Perubahan nama tersebut menjadi hal menarik untuk diteliti. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil yang diperoleh adalah bahwa pergantian nama dari Ruwat Laut menjadi Syukuran Laut disebabkan kekurangan dana dan perbedaan persepsi antara adat masyarakat dari tanah Jawa dengan adat masyarakat Lampung. Syukuran Laut dilakukan dengan meniadakan tahapan tradisi yang dianggap menjadi penyebab Ruwat Laut tidak terlaksana, yaitu pelarungan kepala kerbau, pertunjukan wayang golek, dan berbagai jenis kegiatan yang membutuhkan dana cukup besar.The fishermen communities in South Lampung Regency were once mostly the Javanese who migrated to settle in Lampung in various ways. One of those was through the transmigration program since the colonial era. It was one rewarding way in which many of those have migrated since the era. In addition to doing their activities as the fishermen, they have also carried on their cultural activities as a part of their fishermen life community, that is, Ruwat Laut. After being carried out for years, Ruwat Laut was renamed Syukuran Laut. The name change is interesting for a research. The study was conducted by using a descriptive method with qualitative approach. The studies reveal that the change name was due to lack of funding and perceptual difference between customs of Java and customs of Lampung. Syukuran Laut is carried out without those traditions that once prevented Ruwat Laut, namely buffalo head offering, puppet show, and various types of activities with substantial funds.
Tisna Prabasmoro, Trisna Gumilar, Ladinata Ladinata
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 243-259; doi:10.30959/patanjala.v12i2.598

Abstract:
Makanan adalah salah satu simbol yang dapat secara menonjol merepresentasi identitas pribadi dan kelompok dan membentuk keunikan serta rasa kebersamaan dan keterikatan anggota dalam kelompok yang lebih besar. Masing-masing individu meleburkan diri mereka ke dalam komunitas dan masyarakat dengan mengupayakan (re)konstruksi diri. Artikel ini berhipotesis bahwa pendukung Persib—yang secara umum dikenal dengan nama bobotoh—terus-menerus mencari cara baru untuk dapat mengekspresikan identitas mereka. Menggunakan kajian-kajian identitas yang berhubungan dengan persepsi akan tempat atau a sense of place, budaya kuliner, ruang fisik, pilihan dan gaya hidup, artikel ini membahas peran rumah makan yang berhubungan dengan Persib, dan menyoroti kemungkinan implikasi dari kegiatan makan bobotoh di rumah makan-rumah makan tersebut. Berfokus pada bagaimana Pawon Sunda Buhun Bobotoh dan 1933 Dapur dan Kopi—dua tempat makan dengan keunikan berbeda—turut me(re)konstruksi identitas bobotoh, artikel ini berargumen bahwa bobotoh juga mengandalkan kegiatan mengonsumsi makanan yang terkait dengan Persib/bobotoh untuk mengekspresikan, memelihara dan bahkan memperkuat identitas pribadi dan kolektif mereka. Food is a symbol that can prominently represent personal and group identity and form uniqueness and a sense of bonding among members of a larger group. Individuals conform themselves to communities and society through self-(re)constructing efforts. The article hypothesizes that Persib’s supporters—commonly known as bobotoh—have continuously sought new ways to express their identity. Employing identity theories related to a sense of place, culinary culture, physical space, choices, and lifestyle, the article examines the roles of Persib-related eateries and highlights the possible implications of bobotoh’s dining out. Focusing on how Pawon Sunda Buhun Bobotoh and 1933 Dapur dan Kopi—two significantly different eating places—contribute to bobotoh’s self identity (re)construction, the article argues that bobotoh also rely on consuming food as a Persib/bobotoh-related activities to express, retain and even strengthen their personal and collective identity.
Rismawidiawati Rusli
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 211-226; doi:10.30959/patanjala.v12i2.617

Abstract:
Artikel ini bertujuan untuk menulis sejarah pembentukan Kabupaten Luwu Utara dari perspektif aktor yang terlibat pada proses pembentukan tersebut. Tulisan ini menggunakan metode sejarah, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pembentukan Kabupaten Luwu Utara bukan hanya sekali ini muncul, tapi keinginan tersebut sudah sejak lama diperjuangkan. Usaha tersebut dimulai sejak 1959, diulang kembali pada 1966, dan akhirnya pada 1999 Kabupaten Luwu Utara terbentuk. Pembentukan Luwu Utara adalah berkat perjuangan masyarakat Luwu Utara yang terdiri dari berbagai unsur, unsur mahasiswa yang tergabung pada Forum Komunikasi Mahasiswa Luwu Utara, unsur masyarakat biasa bahkan unsur pemerintah. Cepatnya proses pembentukan Luwu Utara pada 1999 ini berkat politik lobbying yang dilakukan oleh Ryass Rasyid yang memiliki kedekatan khusus dengan Lutfi A. Mutty (Dirjen PUOD). Alasan Utama pembentukan Kabupaten Luwu Utara tidak hanya dikarenakan pertimbangan desentralisasi, demokratisasi dan good governance, serta kalkulasi ekonomis namun juga karena kepentingan aktor-aktor dibaliknya. The study aims to reveal the history of the formation of the North Luwu District based on the perspective of the actors who were directly involved in the formation process. This research, which uses the historical method, shows the results of the research that the efforts to form the North Luwu District have been pursued for a long time. The effort, which had been started since 1959, was re-submitted in 1966, and finally in 1999 the North Luwu District was successfully formed. The formation of North Luwu District was the result of support from the North Luwu communities which consisted of various elements, such as elements of students who were members of the North Luwu Student Communication Forum, elements of societies, and even elements of the government. The process of formation the North Luwu District in 1999 proceeded rapidly because of political lobbying approached by Ryass Rasyid towards Director General for PUOD Lutfi A. Mutty. The main reasons behind the formation of the North Luwu District was not only due to the considerations of decentralization, the democratization and the good governance, as well as the economic calculations but also because of the interests of the actors behind it.
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 195-209; doi:10.30959/patanjala.v12i2.643

Abstract:
Gula merupakan salah satu komoditas perdagangan penting pada masa kolonial Belanda. Hasil yang berlimpah tidak diimbangi dengan ketersediaan angkutan barang. Minimnya volume angkut dan lamanya waktu tempuh merupakan permasalahan yang dihadapi pengusaha gula. Pengembangan moda transportasi kereta api menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. Daya angkut besar dengan waktu tempuh yang lebih cepat menjadi kelebihannya. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan peranan kereta api dalam pengangkutan gula ke pelabuhan di Karesidenan Cirebon. Metode yang dipergunakan, deskriptif analisis. Data dikumpulkan melalui kegiatan studi pustaka dan pengamatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan, jalur kereta api di Karesidenan Cirebon merupakan bagian dari jalur Semarang – Cirebon yang dibangun oleh NV. SCS. Tinggalan perkeretaapian di jalur tersebut menunjukkan terdapat persimpangan ke pabrik gula dari stasiun terdekat. Kesimpulan, pembangunan perkeretaapian di Cirebon pada awalnya ditujukan sebagai angkutan komoditas gula. Sugar was one of the important trade commodities during the Dutch occupation. The abundant production of sugar disproportionated to the availability of freight transportation. Its consequences, the sugar company was hampered by both the low volumes and and the slow journey time of transported goods. As a result, the development of modes of transport was the solution needed. It would provide the solution based on the maximum payload and highest average speeds. The purpose of this study is to describe the role of railways in transporting sugar industry to the port in the Cirebon Residency. The research method used in the study is descriptive analysis. Research data were derived from library study, and field observations. The results of the study have shown that the railway line in Cirebon Residency was actually a part of the Semarang - Cirebon railway line built by NV. SCS. The disused railroad indicate clearly that there was an intersection to the sugar company from the nearest train station. It concluded that the railway construction in Cirebon was initially intended as the sugar transportation.
, Ai Yeni Yuliyanti, ,
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 227-242; doi:10.30959/patanjala.v12i2.636

Abstract:
Indonesia is very famous for its rich culture. Cirebon as one of the districts in West Java is also very thick with its culture. This article discusses one of the cultures in Kedungsana Village Cirebon, the phenomenon of ritual slametan Memitu. The purpose of this study is to examine the practice of ritual slametan Memitu carried out by Kedungsana community together with its theological dimensions. The research subjects were the community of Kedungsana Village, Plumbon District, Cirebon Regency. The process of collecting data through direct observation and to get deep information in interviews, we use a purposive sampling technique. The results of the study found that the purpose of carrying out the ritual slametan Memitu was as a manifestation of gratitude for all the favors that had been given from the "Invisible Power" and also the hope of the smooth birth process. Express gratitude and the request is addressed to those considered to have the power to determine the smooth process of birth. In ritual slametan Memitu, there are theological dimensions that can be identified as belief in Invisible Substance and values for living in harmony together among residents of Kedungsana Village community. The theological dimensions in the earth alms ritual have been developed in such a way as to be in line with the development of social reality.Indonesia sangat terkenal dengan kekayan kebudayannya. Cirebon sebagai salah satu kabupaten di Jawa Barat juga sangat kental dengan budayanya. Artikel ini membahas salah satu budaya di Desa Kedungsana Cirebon yaitu fenomena tradisi ritual slametan Memitu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti praktek ritual Memitu yang dilakukan oleh masyarakat Kedungsana bersama dengan dimensi-dimensi teologisnya. Subjek penelitian adalah komunitas masyarakat Desa Kedungsana Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon. Proses pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung, untuk pendalaman dilakukan wawancara dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ditemukan bahwa tujuan dilaksanakannya ritual slametan Memitu adalah sebagai manifestasi syukur atas segala nikmat yang telah diberikan dari “Kekuatan Tak Terlihat” dan juga pengharapan kelancaran proses kelahiran. Ungkapan rasa syukur dan permohonan tersebut ditujukan kepada yang diyakini memiliki kekuatan untuk menentukan kelancaran proses kelahiran. Dalam ritual slametan Memitu terdapat dimensi-dimensi teologi yang dapat diidentifikasi sebagai kepercayaan terhadap Zat Yang Gaib dan nilai-nilai untuk hidup rukun berdampingan antar-warga masyarakat Kelurahan Kedungsana. Dimensi-dimensi teologis dalam ritual sedekah bumi ini telah dikembangkan sedemikian rupa agar sejalan dengan perkembangan realitas sosial.
Budimansyah Budimansyah, ,
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 123-139; doi:10.30959/patanjala.v12i2.596

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menguak tata ruang Galuh Pakwan sebagai ibukota terakhir Kerajaan Galuh, sejauhmana pola ruang kota tersebut berkaitan dengan nilai-nilai kelokalan sebagaimana tergambar dalam historiografi tradisional. Dalam penelitian ini metode sejarah akan dipergunakan sebagai fitur utama agar menghasilkan suatu hasil kajian yang komprehensif, dan menggunakan teori tata kota, serta metode deskriptif-kualitatif. Minimnya sumber terkait sejarah Galuh Pakwan, wawancara secara mendalam kepada para narasumber diharapkan bisa menjadi suatu bahan analisis historis. Berdasarkan fakta di lapangan, Galuh Pakwan sebagai ibukota kerajaan berawal dari sebuah kabuyutan. Pada masa pemerintahan Niskalawastu Kancana, kabuyutan tersebut dijadikan pusat politik dengan tetap menjalankan fungsi kabuyutannya. Seiring waktu, Galuh Pakwan menjelma menjadi sebuah kota yang tata ruangnya menunjukkan representasi dan implementasi konsep kosmologi Sunda. Galuh Pakwan terbentuk oleh pola radial-konsentris menerus, sebagai gambaran kosmologi Sunda sebagaimana terungkap dalam naskah-naksah Sunda kuna.The research is not only aimed at uncovering the spatial layout of Galuh Pakwan as the last capital of Galuh Kingdom, but also at exploring how well the relationship between the urban spatial patterns and the local values as depicted in the traditional historiography. Beside having the historical methods as the main feature to produce a comprehensive study result, the study also uses the urban planning theory, as well as the descriptive qualitative methods. The historical sources related to the history of the Galuh Pakuan are very limited. As a result, the in-depth interviews with the resource persons are expected to be appropriate as the observation material for historical analysis. Based on the facts found in the field, the Galuh Pakwan as the capital of the kingdom originated from a Kabuyutan. During the reign of Niskalawastu Kancana, Kabuyutan served as a political center while maintaining its original function as Kabuyutan. As the time passed, the Galuh Pakwan was transformed into a city whose spatial layout represented and implemented the Sundanese cosmological concept. The Galuh Pakwan was formed by a continuous radial-concentric pattern, as a description of Sundanese cosmology in the ancient Sundanese manuscript.
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 277-292; doi:10.30959/patanjala.v12i2.645

Abstract:
Kajian ini bertujuan mengungkap bagaimama wacana kuasa bekerja dalam upacara Siraman dan Ngalungsur Geni. Wacana kuasa ditelusuri dari relasi pemimpin adat (kuncen dan leluhur) dengan masyarakat Desa Dangiang. Dalam kajian ini menggunakan metode deskriptif explanatory dan teknik analisis data secara kualitatif interpretatif, yaitu mengangkat berbagai fenomena, kemudian diinterpretasi dengan teori dari Foucault tentang kekuasaan yang dikonstruksi secara positif dan tidak represif. Data yang digunakan merupakan hasil wawancara mendalam pada informan, observasi pada saat upacara berlangsung, pengambilan foto, dan studi pustaka. Hasil dari kajian ini adalah kekuasaan dalam pelaksanaan upacara Siraman dan Ngalungsur Geni, dikonstruksi secara dinamis, positif, dan tidak represif yakni kekuasaan yang terpusat pada pemimpin adat kuncen yang didistribusi pada semua warga peserta upacara. Simbol dari distribusi kekuasaan tersebut adalah semua peserta merasakan adanya keberkahan yang didapat dari doa kuncen dan air bekas cucian benda-benda pusaka milik leluhur Desa Dangiang. The research aims to reveal how the power discourse works through Siraman and Ngalungsur Geni ceremonies. The power discourse can be traced through the relationship between traditional leaders (kuncen and ancestors) and the people of Dangiang Village. The study uses descriptive explanatory methods and interpretative qualitative data analysis techniques. The researcher first raises the phenomenon to be interpreted with Foucault's theory of positive and non-repressive constructed power. The data used are the results of in-depth interviews with informants, observations during the ceremonies, photos, and literature study. The research reveals that power during Siraman and Ngalungsur Geni ceremonies has been constructed dynamically, positively, and unrepressively. The power centered on traditional leader ‘kuncen’ is even distributed to all citizens participating in the ceremonies. The distribution of power is reflected when all ceremony participants can feel both the blessings of the prayers offered by the ‘kuncen’ and the water used for washing the heirlooms belonging to the ancestors of Dangiang Village.
Lasmiyati Lasmiyati
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 261-276; doi:10.30959/patanjala.v12i2.633

Abstract:
Penelitian tentang Sugra dilakukan dengan tujuan untuk mengenang tokoh perintis tarling di Indramayu yang selama ini kurang dikenal di kalangan luas. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sejarah biografi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, studi lapangan, dan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh tarling di Indramayu dibedakan menjadi dua: tokoh perintis dan tokoh pengembang. Tokoh perintis adalah Sugra. Ia hanya menekuni kesenian tarling di wilayah Indramayu, walaupun pernah bermain tarling di Cirebon. Tokoh pengembang adalah mereka yang mampu mengembangkan kesenian tarling ke Cirebon, walaupun mereka berasal dari Indramayu. Walaupun Sugra hanya bermain tarling di Indramayu, masyarakat Indramayu tetap menganggap Sugra sebagai perintis tarling. Sugra juga mampu mengajak pemuda Kepandean untuk bermain tarling, walaupun peralatannya masih sederhana. Tugu tarling didirikan di tempat Sugra merintis kesenian tarling. Nama Sugra pun diabadikan menjadi nama gedung kesenian Mama Soegra dan rumah seni Griya Sugra.The study on Sugra was carried out with the aim of perpetuating the existence of the Indramayu tarling music pioneer for the reason of his less well-known. It used the historical methods with a biographical historical approach. The data was collected by means of interviews, field studies, and literature studies. Studies have shown that the leading figures of tarling music in Indramayu involved the pioneer and the settlers. The pioneer was Sugra. He devoted himself to his work as a tarling musician in Indramayu. Furthermore, he also promoted tarling music in Cirebon. Moreover, settlers were generally those originating from Indramayu and were considered as the key musicians in the development of tarling music in Cirebon. Despite Sugra’s stage was limited in Indramayu, the locals still consider him as the pioneer of tarling. With his simple musical instruments, he visited a group of youths in Kepandean sub-district, playing music, and conducting sing-alongs. A monument forming tarling musical performance was erected in Indramayu to his memory. His name was even continued in that of two art galleries Mama Soegra and Griya Sugra.
Back to Top Top