Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Journal Information
ISSN / EISSN : 20859937 / 25981242
Current Publisher: Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat (10.30959)
Total articles ≅ 332
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Edi Setiadi Putra, Dedy Ismail
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 37-52; doi:10.30959/patanjala.v12i1.557

Abstract:
Penelitian ini mengungkap makna dan fungsi Bebegig Sukamantri, suatu karnaval rakyat yang berpotensi menjadi ikon budaya masyarakat Sunda di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Bebegig Sukamantri dilestarikan oleh masyarakat desa setelah mengalami perubahan fungsi dan makna seiring perkembangan zaman. Studi tentang Bebegig Sukamantri masih jarang tetapi cukup sering ditampilkan dalam tulisan media sosial. Dalam memahami makna dan fungsi Bebegig Sukamantri, penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dalam bentuk teknik triangulasi yang merujuk pada penggunaan berbagai metode atau sumber data untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang fenomena sosial budaya yang berkembang di masyarakat. Berbagai data primer diperoleh dari proses observasi, wawancara, dan partisipasi subjek. Sekitar 54 bentuk topeng diidentifikasi memiliki karakter unik dan berbeda serta dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori karakter Raksasa-Détya-Dénawa yang merupakan visualisasi dari jenis makhluk astral yang dikenal dalam budaya Sunda kuno. The study reveals the meaning and function of a Bebegig Sukamantri. Also known as a festival of traditional dance performance, it has a potential of becoming an outstanding Sundanese cultural icon in Ciamis Regency, West Java. After its function and meaning has changed over time, Bebegig Sukamantri is preserved by the the village community. The study on Bebegig Sukamantri has attracted few researchers. However, it appears frequently on social media. To understand the meaning and function of Bebegig Sukamantri, the qualitative methods with triangulation method data has been used. Triangulation refers to the use of multiple methods or data sources in qualitative research to develop a comprehensive understanding of social-cultural phenomenon. Various primary data collection methods involved the process of observation, interviews, and subject participation. Research identified 54 masks. Each consists of unique and different characters. The masks are subsequently categorized into three character, namely Raksasa – Détya – Dénawa. Those visualize the astral creatures known in ancient Sundanese culture.
Sukamto Sukamto, Nina Herlina Lubis, Kunto Sofianto
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 1-17; doi:10.30959/patanjala.v12i1.514

Abstract:
Artikel ini meneliti sikap Kristen Calvinis terhadap agama-agama yang ada di Batavia pada abad ke-XVII. Dengan menggunakan Metode Sejarah, didapat beberapa kesimpulan: (1) VOC hanya mengakui satu agama yang sah (publieke kerk) yaitu Kristen Calvinis, (2) Dengan menggunakan VOC, sikap Kristen Calvinis terhadap komunitas Katolik Roma sangat tegas, banyak pastor Katolik Roma yang dipenjara. Untuk membatasi perpindahan penduduk Batavia ke Gereja Katolik Roma, dibuat peraturan bahwa sakramen Katolik Roma (Baptisan) dianggap tidak sah secara hukum dan tidak bisa dijadikan sebagai syarat pernikahan, (3) Islam dan Kong Hu Cu di Batavia tidak diakui sebagai agama resmi, namun karena secara politik dan ekonomi mereka kuat, VOC menjadi sangat berhati-hati dalam membuat kebijakan-kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan hidup keagamaan mereka.The article presents the findings of the research of Calvinistic Christianity’s attitude towards the other religion groups in Batavia during the 17th century. By using the Historical Method, the conclusions are obtained as follows: (1) The VOC recognized exclusively the Calvinistic Christianity as the only legitimate religion (publieke kerk), (2) The Calvinistic Christianity manipulated the VOC to behave strict towards the Roman Catholics so that many Roman Catholic priests were consequently imprisoned. To prevent the Batavia citizens from embracing the Roman Catholics, the Calvinistic Christianity had the Roman Catholic's sacrament of Baptism considered as as not legally valid by the VOC so that it could not fulfill the marriage requirements, (3) Meanwhile, Islam and Confucianism in Batavia remained unrecognized as official religions. However, their political and economic influence forced the VOC to be very careful in decision-making, especially concerning their religious lives.
Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 119-122; doi:10.30959/patanjala.v12i1.609

Abstract:
Tinjauan Buku: Art, Trade, and Cultural Mediation in Asia
Zainal Arifin
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 69-85; doi:10.30959/patanjala.v12i1.591

Abstract:
Provinsi Lampung adalah salah satu cerminan wilayah multikultural yang ada di Indonesia. Multikultural yang ada di wilayah Lampung tidak bisa dilepaskan dari terbukanya komunitasnya dalam menerima kehadiran etnis lain di wilayahnya, yang tertuang dalam nilai-nilai budaya piil pesenggiri yang mereka miliki. Akan tetapi, piil pesenggiri pula sering diklaim sebagai penyebab konflik yang sering melibatkan orang Lampung. Ini menunjukkan ada paradoks cara pandang dalam memahami piil pesenggiri sebagai identitas orang Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualittif dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi, yang ditujukan untuk membantah klaim bahwa konflik yang sering terjadi di wilayah Lampung, disebabkan karena menguatnya piil pesenggiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa piil pesenggiri sebagai identitas, justru mampu menciptakan harmoni dengan etnis lain. Melalui kasus komunitas Lampung di Way Kanan, mekanisme politik pengorganisasian identitas (politik identitas) tersebut, komunitas Lampung justru mampu menguatkan identitas piil pesenggiri-nya, sekaligus mampu menciptakan harmoni di tengah masyarakatrnya. Lampung Province is a reflection of multicultural region in Indonesia. Multiculturalism in the region is related to the openness of the community in accepting the presence of other ethnic groups in the region. The principle of openness is contained in the values of the piil pesenggiri as as a part of their culture. But on the other hand, the piil pesenggiri was also often claimed as a cause of conflict involving frequently Lampungnese. This situation ilustrated the existence of paradoxes of perspective in understanding the piil pesenggiri as Lampung people's identity. The research employs a qualitative approach with interview and observation data collection techniques. The research purposes is to obtain findings to refute the claims of the piil pesenggiri as trigger of frequent conflict in Lampung. The results of the study demonstrates the facts contradicting the claims. The piil pesenggiri as identity actually was even able to create harmony with other ethnic groups. In the case of the Lampungnese community in Way Kanan, through the political mechanism of organizing identity (politics of identitiy), the Lampungnese community was able to strengthen the identity of the piil pesenggiri while at the same time being able to create harmony in the community.
Yuzar Purnama
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 53-67; doi:10.30959/patanjala.v12i1.566

Abstract:
Orang Sunda cenderung dikenal sebagai masyarakat yang tinggal di pedalaman/dataran tinggi. Masyarakat Sunda adalah salah satu etnis yang ada di Nusantara, dan termasuk etnis kedua terbesar jumlah penduduknya setelah etnis Jawa. Masyarakat Sunda dapat dikatakan merupakan penduduk yang tinggal di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Ciri umum masyarakat Sunda adalah berbahasa Sunda dan memiliki budaya Sunda. Penelitian ini ingin membuktikan, apakah benar orang Sunda itu perantau? Artikel ini membatasi objek penelitian pada carita pantun Sunda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan carita pantun, dapat diperoleh kesimpulan bahwa para tokoh utama dalam cerita melakukan perjalanan (merantau) dengan berbagai tujuan, yaitu mencari wilayah untuk mendirikan kerajaan baru, mencari pendamping hidup (istri), menyelamatkan dari penculikan, dan peperangan untuk memperluas kekuasaan kerajaan. Sundanese tend to be known as people living in hinterland as well as highland region. They are an ethnic group native to Indonesia. As ethnic group, they are Indonesia's second most populous ones, after the neighboring Javanese. They have traditionally been concentrated in the provinces of West Java and Banten. Their general characteristics include Sundanese language and culture. The research aims to prove whether Sundanese carried on a wanderer tradition. The journal focuses on Carita Pantun as its research object. A descriptive analytic with a qualitative approach has been used as the basic method of the research. In reference to Carita Pantun, it leads to a conclusion that the main characters in Carita Pantun wander for purposes, that is, managing to establish a new kingdom, looking for a life companion, escaping from kidnappers, and serving a war of expanding empire.
Musa Pelu, Hieronymus Purwanta
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 19-35; doi:10.30959/patanjala.v12i1.539

Abstract:
Demografi multikultural membuat Surakarta rapuh secara sosial dan juga rentan terhadap konflik etnis, terutama di antara orang Tionghoa dan Jawa. Sebagian besar konflik disebabkan oleh persaingan ekonomi yang mengakibatkan kekecewaan dan kecemburuan sosial di antara kelompok etnis Jawa terhadap etnis Tionghoa. Berdasarkan permasalahan tersebut, pertanyaan penelitian yang diajukan adalah model interelasi multi-etnis apa yang dapat mengakhiri konflik? Untuk menjawab pertanyaan, penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan tiga langkah, yaitu studi pendahuluan, pengembangan model dan evaluasi model. Studi pendahuluan dilakukan untuk mengumpulkan informasi komprehensif terhadap konflik etnis dengan menggunakan metode wawancara mendalam. Tahap pengembangan model dilakukan dengan menyusun model interelasi multi-etnis. Tahap terakhir adalah evaluasi. Hasil dari penelitian ini membuktikkan model interelasi multietnis dengan pendekatan budaya dan hubungan yang harmonis antara Tionghoa dan Jawa mendukung kegiatan ekonomi di Surakarta, khususnya bidang industri dan perdagangan. Due to its multicultural demographics, Surakarta is socially fragile and also vulnerable to ethnic conflict, especially between Chinese and Javanese. Economic competition results in most conflicts that lead to a situation of social disappointment and social jealousy among the Javanese ethnic groups towards the Chinese. Based on these problems, the research question raised is what multi-ethnic interaction model can conclude the conflict? To answer the question, this research employs a Research and Development (R&D) approach with three steps, namely a preliminary study, model development and model evaluation. The preliminary study was conducted to gather comprehensive information on ethnic conflicts using in-depth interviews. The model development stage was carried out by developing a multi-ethnic interaction model. The last step is evaluation. The results of this study proved that the multi-ethnic interaction model with a cultural approach and harmonious relations between the Chinese and Javanese could support economic activities in Surakarta, especially in the fields of industry and trade.
Trisna Awaludin Harisman, Rd Muhammad Mulyadi, Widyo Nugrahanto
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 103-117; doi:10.30959/patanjala.v12i1.528

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang pembredelan surat kabar Pikiran Rakjat pada 1965 setelah munculnya peraturan bagi pers untuk berafiliasi dengan partai atau organisasi politik tertentu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah kritis yang terdiri dari empat tahapan kerja: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada awal tahun 1965, kegiatan pers surat kabar Pikiran Rakjat sempat diberhentikan oleh pemerintah disebabkan terlambatnya surat kabar ini untuk terlibat dalam aktivitas politik. Pada 24 Maret 1966 atas dorongan Pangdam Siliwangi para wartawan yang di wakili Sakti Alamsyah sepakat untuk melakukan kerjasama untuk menerbitkan surat kabar Angkatan Bersenjata Edisi Jawa Barat. Belum setahun surat kabar ini terbit, Kementeriaan Penerangan mencabut kembali peraturan tentang afialiasi dalam dunia politik. Kondisi ini menyebabkan pada 24 Maret 1967 surat kabar Angkatan Bersenjata Edisi Jawa Barat berubah nama menjadi Harian Umum Pikiran Rakjat dibawah pemimpin umum redaksi yaitu Sakti Alamsyah. The purpose of this study is to determine the background to the banning of the Pikiran Rakjat Newspaper in 1965. The ban came after the government issued a regulation of requiring the press to be affiliated with certain political parties or organizations. This study uses a critical historical research method consisting of four stages of work, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results of this study show evidence that in the beginning of 1965 the government banned the newspaper because it was considered too late to engage in political activity. At the instigation of Commander of Military Regional Command/Siliwangi, it was on 24 March 1966 that journalists represented by Sakti Alamsyah agreed to cooperate in publishing Angkatan Bersenjata Newspaper West Java edition. However, when it was not yet a year old, the Ministry of Information revoked the regulations on obligating the press to affiliate with the political world. It was on March 24, 1967 that Angkatan Bersenjata Newspaper West Java edition consequently changed its name to Harian Umum Pikiran Rakjat and was operated under the editor-in-chief Sakti Alamsyah.
Sri Haryati Putri, Gusti Asnan, Muhammad Nur
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 87-101; doi:10.30959/patanjala.v12i1.553

Abstract:
Tulisan ini membahas tentang beragam budaya atau tradisi lokal yang dilakukan oleh masyarakat pesisir. Tradisi yang dilakukan selalu berhubungan dengan kehidupannya sebagai seorang nelayan dan umumnya dilakukan di tepi pantai, tidak jauh dari tempat aktivitas sehari hari. Menggunakan metode penelitian kebudayaan, tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas akan budaya maritim yang dimiliki oleh masyarakat pesisir di Nagari Airhaji. Budaya yang konon berasal dari zaman nenek moyang masih dilaksanakan hingga kini oleh masyarakat nelayan di Nigari Airhaji. Kebiasaan tersebut menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat pesisir di nagari Airhaji yang membedakannya dengan masyarakat daerah Darek atau daerah pedalaman lainnya. Dengan adanya budaya bahari, dapat turut melestarikan kebudayaan atau tradisi lokal, juga dapat membuat masyarakat peduli dan menjaga kekayaan alam, karena semua budaya atau tradisi yang dipraktikkan selalu berhubungan dan bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur dan menghormati laut dengan beragam ritual yang telah dilakukan. The paper discusses on how coastal communities to carry out their traditions. The traditions always related to the lives of fishermen. They usually carried those out in foreshore. The paper uses research methods such as Cross-Cultural Research Methods for the reason that the maritime cultural life of Nagari Airhaji coastal communities could be more widely known. The fishermen community in Nagari Airhaji keep managing to carry the maritim culture out as their heritage. It characterizes the coastal community of Nagari Airhaji and distinguishes them from the Darek communities and the other inland areas communities. The existence of maritime culture, which is always purposed to express gratitude and to honor the sea through variuous ritulas, has encouraged positively the preservation of culture and tradition and also has driven the community to consider and protect more the natural resources.
Muhamad Adji, Lina Meilinawati Rahayu
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 11, pp 381-398; doi:10.30959/patanjala.v11i3.523

Abstract:
Artikel ini bertujuan menunjukkan bagaimana minum kopi sebagai tradisi dan gaya hidup ditampilkan dalam karya sastra. Objek penelitian ini adalah cerpen berjudul “Filosofi Kopi” karya Dee (Dewi Lestari). Cerpen ini membicarakan budaya minum kopi pada masyarakat urban dan masyarakat rural di Indonesia. Dalam artikel ini digunakan teori representasi Stuart Hall. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) cerpen “Filosofi Kopi” menampilkan budaya minum kopi dalam dua representasi, yaitu kopi sebagai gaya hidup dan kopi sebagai tradisi. (2) Representasi minum kopi sebagai gaya hidup diperlihatkan dari cara kaum urban memproduksi citra tertentu melalui aktivitas minum kopi. Sementara itu, minum kopi sebagai tradisi diperlihatkan dari cara masyarakat rural memaknai kopi sebagai bagian yang melekat dalam kehidupan keseharian mereka yang sederhana. Teks cerpen ini juga menunjukkan keberpihakan secara ideologis terhadap citra minum kopi sebagai tradisi, sebagai wacana yang perlu disuarakan di tengah masifnya citra minum kopi sebagai gaya hidup. This article aims to show how drinking coffee as a tradition and lifestyle is featured in literary works. The object of this research is a short story entitled "Philosophy of Coffee" by Dee (Dewi Lestari). This short story discusses the culture of drinking coffee in both urban and rural communities in Indonesia. Using Stuart Hall's theory of representation with descriptive analytical method the results of the study concluded that: (1) the short story "Philosophy of Coffee" displays the culture of drinking coffee in two representations, namely coffee as both a lifestyle and a tradition. (2) Representation of drinking coffee as a lifestyle is shown in the way urbanites produce certain images through coffee drinking activities. Meanwhile, drinking coffee as a tradition is shown by the way rural people interpret coffee as an inherent part of their simple daily lives. The text of this short story also shows ideological leaning towards the image of drinking coffee as a tradition, as a discourse that needs to be voiced in the midst of the massive image of drinking coffee as a lifestyle.
Samsudin Samsudin, Nina Herlina Lubis
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 11, pp 483-498; doi:10.30959/patanjala.v11i3.522

Abstract:
Kemajuan yang dicapai oleh negara Barat dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi, berakar pada trilogi liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Atas dasar itulah, beberapa tokoh Islam Indonesia ingin memajukan umatnya dengan trilogi tersebut. Dalam perjalanannya, tokoh Islam seperti Nurcholish Madjid dan Ulil Abshar menuai kritik dari Rasjidi dan Atiyan Ali. Puncaknya adalah ketika MUI mengeluarkan fatwa mengharamkan Islam liberal. Bagaimana gambaran sejarah masuk Islam liberal di Indonesia? Mengapa terjadi polemik Islam liberal di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, metode yang digunakan adalah metode sejarah, meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, sejarah Islam liberal di Indonesia terbagi ke dalam empat tahap, yaitu: Tahap awal ketika masih menyatu dengan pemikiran neo-modernisme. Kedua, pembentukan enam paradigma Islam liberal. Ketiga adanya kritik dan evaluasi pemikiran Islam liberal. Kemudian sebab terjadinya polemk pemikiran Islam liberal disebabkan oleh perbedaan paradigma berfikir dan metodologi memahami ajaran Islam dalam melihat realitas yang terjadi di masyarakat pada masa kontemporer. The progress achieved by Western countries in the fields of science, technology and economics is rooted in liberalism, pluralism and secularism. For this reason, some Indonesian Muslim intellectuals want to reform their people accordingly. However, in working with these modern ideas, the polemics arose as those Muslim scholars such as Nurcholish Madjid and Ulil Abshar were criticized by Rasyidi and Atiyan Ali. This caused the MUI to issued a fatwa forbidding Liberal Islam. This study addressed two questions: How did liberal Islam come to Indonesia? Why did liberal Islam polemic occur in Indonesia? The method employed in this study is historical method which is comprised of heuristics, criticism or analysis, interpretation, and historiography. The result of the study shows that the history of liberal Islam in Indonesia was developed into four stages. First, when the thought of liberal Islam was still integrated with neo-modernism. Second, the establishment of six liberal Islam paradigms. Third, the emergence of criticism and evaluation toward it. Fourth, the polemic of liberal Islamic thought was caused by different paradigms and methodology in understanding the teaching of Islam that is compatible with the needs of contemporary society.
Back to Top Top