Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2442-2606 / 2548-611X
Total articles ≅ 127
Filter:

Latest articles in this journal

Karyanti Karyanti, Teuku Tajuddin, Hayat Khairiyah, Tati Sukarnih, Gemilang Rahmadara, Nurul Fitri Hanifah, Yayan Rudiyana, Sayuri Kitagawa, Farida Rosana Mira, Hirohisa Saga
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 1-11; doi:10.29122/jbbi.v8i1.4715

Abstract:
The availability of high-quality seeds is now a necessity. This is due to a government program to replace oil palm trees in smallholder plantations with high quality seeds. An efficient protocol to produce a large number of embryos is needed. To increase the number of embryogenic callus production, the callus proliferation experiment was carried out through suspension culture. This study aimed to examine the proliferation ability of embryogenic callus from three different oil palm clones, in several repeated subcultures. Liquid MS media added with 1 ppm 2.4-D and 0.1 ppm NAA were used. Embryogenic callus was weighed by 0.1 - 0.2 g, transferred into the liquid media, shaking at 60-80 rpm and 27 ºC for 8 weeks without light. Continues subcultures were repeated up to 7 times. The results showed that the growth rate of embryogenic callus increased in the third and fourth subcultures and then decreased in subsequent subcultures. It also revealed that the entire embryogenic callus from the first subculture up to seventh subculture still has the ability to regenerate into new plants. These results indicate that oil palm embryogenic callus can be proliferated by suspension culture with a limit up to the fourth subculture. Ketersediaan benih kelapa sawit berkualitas saat ini merupakan kebutuhan karena adanya program pemerintah untuk menggantikan tanaman sawit di kebun-kebun petani. Salah satu cara vegetatif yang dapat dilakukan adalah meningkatkan jumlah kalus embriogenik yang dihasilkan melalui pengembangan kultur suspensi. Penelitian ini bertujuan mengkaji kemampuan proliferasi kalus embriogenik dari tiga klon kelapa sawit, pada beberapa kali subkultur yang berulang. Media cair MS dengan penambahan 1 ppm 2,4-D dan 0,1 ppm NAA digunakan untuk memperbanyak 0,1–0,2 g kalus embriogenik, dikocok pada 60-80 rpm dan suhu 27 ºC tanpa cahaya selama 8 minggu. Subkultur berulang dilakukan hingga 7 kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kemampuan proliferasi kalus dipengaruhi oleh genotip tanaman induk. Rata-rata kalus embriogenik dapat meningkat pada subkultur ke-3 dan ke-4 dan semakin menurun pada subkultur selanjutnya. Kalus embriogenik hasil proliferasi subkultur pertama hingga ke-7 dapat tumbuh menjadi calon tanaman baru. Hasil ini menunjukkan bahwa kalus embriogenik kelapa sawit dapat diperbanyak dengan kultur suspensi pada batas sampai subkultur ke-4.
Saly Amaliacahya Aprilian, Firdayani Firdayani, Susi Kusumaningrum
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 296-303; doi:10.29122/jbbi.v7i2.3092

Abstract:
Studi In Silico Senyawa Turunan Sefalosporin dalam Menghambat Aktivitas Bakteri Pseudomonas aeruginosa Infeksi yang diakibatkan oleh bakteri gram-negatif, seperti Pseudomonas aeruginosa telah menyebar luas di seluruh dunia. Hal ini menjadi ancaman terhadap kesehatan masyarakat karena merupakan bakteri yang multi-drug resistance dan sulit diobati. Oleh karena itu, pentingnya pengembangan agen antimikroba untuk mengobati infeksi semakin meningkat dan salah satu yang saat ini banyak dikembangkan adalah senyawa turunan sefalosporin. Penelitian ini melakukan studi mengenai interaksi tiga dimensi (3D) antara antibiotik dari senyawa turunan Sefalosporin dengan penicillin-binding proteins (PBPs) pada P. aeruginosa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklarifikasi bahwa agen antimikroba yang berasal dari senyawa turunan sefalosporin efektif untuk menghambat aktivitas bakteri P. aeruginosa. Struktur PBPs didapatkan dari Protein Data Bank (PDB ID: 5DF9). Sketsa struktur turunan sefalosporin digambar menggunakan Marvins Sketch. Kemudian, studi mengenai interaksi antara antibiotik dan PBPs dilakukan menggunakan program Mollegro Virtual Docker 6.0. Hasil yang didapatkan yaitu nilai rerank score terendah dari kelima generasi sefalosporin, di antaranya sefalotin (-116.306), sefotetan (-133.605), sefoperazon (-160.805), sefpirom (-144.045), dan seftarolin fosamil (-146.398). Infections caused by gram-negative bacteria, such as Pseudomonas aeruginosa, have been spreading worldwide. It is a threat to public health because of its multi-drug resistance and difficulty to treat. Therefore, the demand for developing antimicrobial agents to treat infections is increasing. One of them that is currently under development is cephalosporin derivative compounds. This research studied the three-dimensional (3D) interaction between antibiotics from cephalosporin derivatives and penicillin-binding proteins (PBPs) in P. aeruginosa. This study aimed to clarify whether the cephalosporin derivatives were effective in inhibiting the activity of P. aeruginosa. The PBPs structure was obtained from the Protein Data Bank (PDB ID: 5DF9). The structural sketch of the cephalosporin derivative was drawn using the Marvins Sketch, whereas the study on the interaction between antibiotics and PBPs was carried out using the Mollegro Virtual Docker 6.0 program. The results showed the lowest rerank score from five cephalosporin derivatives, namely cephalotin (-116,306), cephotetan (-133.605), cephoperazone (-160.805), cephpirome (-144.045), and cephtaroline fosamil (-146.398).
Resa Sri Rahayu, Indriati Ramadhani, Masrukhin Masrukhin, Indira Riastiwi, Apriliana Dyah Prawestri, Yeni Yuliani
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 234-249; doi:10.29122/jbbi.v7i2.4381

Abstract:
Konfirmasi Mikroba Endofit Penyebab Kontaminasi pada Kultur Jaringan Kangkung (Ipomoea aquatica Forssk.) Tanaman kangkung secara alami bersimbiosis dengan mikroba endofit, yang berpotensi menjadi kontaminan pada kultur jaringan kangkung karena berada di dalam jaringan dan sulit dijangkau saat proses sterilisasi eksplan. Tujuan penelitian ini adalah mengonfirmasi mikroba endofit penyebab kontaminasi pada kultur jaringan kangkung ‘Tetraploid’ sehingga dapat menjadi informasi awal untuk metode sterilisasi yang efektif. Sebanyak 14 sampel kontaminan pada media tanam kultur jaringan kangkung diisolasi dan diidentifikasi secara molekuler berdasarkan gen 16S rDNA untuk bakteri, daerah D1/D2 dari gen LSU rRNA untuk khamir, dan daerah ITS dari gen rDNA untuk jamur. Keragaman jenis mikroba yang teridentifikasi dibandingkan dengan keragaman jenis mikroba endofit dari jaringan tanaman kangkung yang ditanam pada media kultur jaringan tidak terkontaminasi mikroba, media kultur jaringan terkontaminasi mikroba, media tanam campuran tanah steril dan tidak steril, serta kangkung yang didapatkan dari pasar. Hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa khamir endofit dari kelompok Ustilaginaceae (basidiomycetous yeast) yang berasal dari jaringan tanaman kangkung sama dengan jenis kontaminan yang mengontaminasi media kultur jaringan kangkung ‘Tetraploid’. Khamir dari kelompok Ustilaginaceae (basidiomycetous yeast) tersebut juga merupakan mikroba paling dominan yang mengontaminasi media tanam kultur jaringan kangkung ‘Tetraploid’. Keywords: Ipomoea aquatica, kultur jaringan, mikroba endofit, morfologi, pohon filogeni Water spinach in nature lives in symbiosis with endophytic microbes, which have the potential to become contaminants in water spinach tissue culture because they are difficult to eliminate during the explant sterilization process. This study aimed to confirm endophytic microbes that cause contamination in the tissue culture of 'Tetraploid' water spinach so that it can provide initial information for an effective sterilization method. Fourteen contaminant samples in water spinach tissue culture media were isolated and identified molecularly based on the 16S rDNA gene for bacteria, the D1/D2 region of the LSU rRNA gene sequences for yeast, and ITS region of the rDNA gene for mold. The diversity of microbial species identified was compared with the diversity of endophytic microbial types from water spinach plant tissue grown on sterile tissue culture media, microbially contaminated tissue culture media, sterile and non-sterile soil mixed planting media, and water spinach obtained from the market. The results confirmed that endophytic yeast from Ustilaginaceae group (basidiomycetous yeast) derived from water spinach plant tissue was the same type of microbe that contaminated the 'Tetraploid' water spinach tissue culture media. The results gave new information that yeast from the Ustilaginaceae (basidiomycetous yeast) group was the most dominant microbe contaminating water spinach ‘Tetraploid’ tissue culture media. This group is endophytic yeast that lives within Ipomoea aquatica tissues.
Hanifah Rahmi, Hariyanti, Rina Putri Ariyanti, Devi Wulandari
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 194-202; doi:10.29122/jbbi.v7i2.3994

Abstract:
Analysis of Protease and Lipase Fractionation Originated from the Digestive Tract of Vannamei Shrimp (Litopenaeus vannamei) Vannamei shrimp is a fishery commodity with a high consumption value, so it has an impact of high shrimp waste in the form of head and skin. The digestive tract connected to the head of the vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) contains digestive enzymes, including proteases and lipases. This study aims to obtain the protein fraction that has the highest protease and lipase activity. The separation method used was centrifugation followed by precipitation using ammonium sulfate salt and dialysis. The dialysate was purified by gel filtration chromatography at a volume retention of 10 drops per tube. The proteolytic and lipolytic enzyme activity of the fraction was measured using a spectrophotometer. The results showed that fraction 102 had the highest protease activity value of 96.3924 U / mL, while fraction 100 had the highest lipase activity of 531.07 U / mL. This study showed that in the digestive tract of vaname shrimp, protease and lipase activity increased with the level of purity. Keywords: digestive enzymes, gel filtration chromatography, lipase, protease, vannamei shrimp ABSTRAK Udang vaname merupakan komoditi perikanan dengan nilai konsumsi yang tinggi, sehingga berdampak pula dengan tingginya limbah udang yang berupa kepala dan kulit. Saluran pencernaan yang terhubung dengan kepala udang vaname (Litopenaeus vannamei) mengandung enzim pencernaan, diantaranya protease dan lipase. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan fraksi protein yang memiliki aktivitas protease dan lipase tertinggi. Metode pemisahan yang dilakukan adalah sentrifugasi dilanjutkan dengan pengendapan menggunakan garam ammonium sulfat dan dialisis. Dialisat dimurnikan dengan kromatografi filtrasi gel pada retensi volume sebanyak 10 tetes tiap tabung. Aktivitas enzim proteolitik dan lipolitik fraksi diukur menggunakan spektrofotometer. Hasil menunjukkan bahwa fraksi 102 memiliki nilai aktivitas protease tertinggi sebesar 96,3924 U mL–1, sedangkan fraksi 100 memiliki aktivitas lipase tertinggi sebesar 531,07 U mL–1. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada saluran pencernaan udang vaname terdapat aktivitas protease dan lipase yang meningkat seiring dengan tingkat kemurniannya.
Mohammad Arfi Setiawan, Mita Dewi Retnoningrum, Febriyandhi Yahya, Resa Ragil Andika, Dyan Hatining Ayu Sudarni
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 289-295; doi:10.29122/jbbi.v7i2.4194

Abstract:
Antibacterial Activity of Citrus seed (Citrus reticulata) Extract on Escherichia coli Indonesian agriculture provides a resource of medicinal plants whose potential needs to be explored in order to benefit society. One of them is the use of Siam orange seeds (Citrus reticulata) which has the potential for the production of antibacterial compounds. This study aims to test the antibacterial activity of the ethanol and n-hexane extract of orange seeds. The extract was obtained through maceration techniques using ethanol and n-hexane as solvents. The antibacterial activity test of orange seeds against Escherichia coli used the paper disc diffusion method with nutrient agar (NA) media. The concentration of orange seed extract for the determination of MIC (Minimum Inhibitory Concentration) was 0.5, 2, 8, 10, 20 mg mL-1. The results showed that the ethanol and n-hexane extract of orange seeds had antibacterial activity against E. coli. However, the ethanol extract had a higher antibacterial effect than the n-hexane orange seed extract. From the results of this study, it is hoped that the waste of orange seeds will provide beneficial contribution for pharmaceutical development. Pertanian Indonesia memiliki sumber tanaman obat yang perlu digali potensinya agar bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya pemanfaatan biji jeruk siam (Citrus reticulata) yang berpotensi menghasilkan senyawa antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan n-heksana biji jeruk. Ekstrak diperoleh melalui teknik maserasi menggunakan pelarut etanol dan n-heksana. Uji aktivitas antibakteri biji jeruk terhadap Escherichia coli menggunakan metode difusi paper disc dengan media nutrient agar (NA). Konsentrasi ekstrak biji jeruk untuk penentuan MIC (Minimum Inhibitory Concentration) adalah 0,5, 2, 8, 10, 20 mg mL-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan n-heksana biji jeruk memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli. Namun, ekstrak etanol memiliki efek antibakteri yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak biji jeruk n-heksana. Dari hasil penelitian ini, limbah biji jeruk diharapkan dapat memberikan kontribusi bermanfaat bagi pengembangan farmasi.
Ardia Ramadhani, Susy Saadah,
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 203-214; doi:10.29122/jbbi.v7i2.4146

Abstract:
Antibacterial Effect of Clove Leaf Extract (Syzygium aromaticum) against Escherichia coli and Staphylococcus aureus Escherichia coli and Staphylococcus aureus are microorganisms that cause infection. Overcoming infection using antibiotics is known to generate bacteria that are resistant to some antibiotics, hence the need of other antibacterial resources. One of the natural sources that can be utilized is clove leaf (Syzygium aromaticum). This study aims to determine the types of compounds contained in clove leaves and their inhibitory activity against E. coli and S. aureus. The study began with extraction using maceration techniques, then the separation of the compounds through ethanol, n-hexane, and ethyl acetate fractionation. Next step was the identification of secondary metabolites of clove leaf compounds using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). The results showed the ethyl acetate fraction was the most active in inhibiting the growth of E. coli and S. aureus with a minimum inhibitory value (MIC) of 10%. The most dominant compound in the ethyl acetate fraction was found to be caffeine with a content of 23.36%. Keywords: antibacterial, clove leaves, GC-MS, MIC, Syzygium aromaticum ABSTRAK Escherichia coli dan Staphylococcus aureus adalah mikroorganisme penyebab infeksi. Penanggulangan infeksi menggunakan antibiotik telah memunculkan bakteri yang resisten terhadap beberapa antibiotik sehingga perlu mencari sumber antibakteri lain. Salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan adalah daun cengkeh (Syzygium aromaticum). Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis senyawa yang terkandung dalam daun cengkeh dan aktivitas penghambatannya terhadap bakteri E. coli dan S. aureus. Penelitian diawali dengan ekstraksi menggunakan teknik maserasi, kemudian dilakukan pemisahan senyawa berdasarkan tingkat kepolaran melalui fraksinasi etanol, n-heksan, dan etil asetat. Hasil fraksinasi diujikan ke bakteri uji. Identifikasi senyawa metabolit sekunder daun cengkeh menggunakan Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat paling aktif menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus dengan nilai kadar hambat minimum (KHM) 10%. Senyawa paling dominan pada fraksi etil asetat adalah kafein dengan kadar 23,36%.
Syadwina Hamama Dalimunthe, Tatik Chikmawati, Elizabeth A. Widjaja
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 182-193; doi:10.29122/jbbi.v7i2.3229

Abstract:
The revision of Ampelocissus was performed by observing the anatomical character of Ampelocissus leaves. The leaves were collected from 33 collection numbers of Herbarium Bogoriense (BO) and four collection numbers from Sumatra exploration. The purpose of this study is to update the information of diversity and to support species concept delimitation of Ampelocissus based on the anatomical study, especially on the sterile plant. Anatomical characters were observed on nine species and one variety of Sumatran Ampelocissus. Ampelocissus species is varied by the anatomical characters, i.e.: shape of the anticlinal wall of abaxial and adaxial epidermal cell, number of palisade layers, upper epidermal cell thickness, leaf thickness, presence of papillae on stomata neighboring cell, type, and shape of calcium oxalate crystals, also stomata position. The cluster analysis of Ampelocissus in Sumatra based on 16 anatomical characters showed the coefficient similarity in the range of 0.48 - 0.81. The research showed that the leaf anatomical characters can be used as additional characters to distinguish the species of Ampelocissus. Keywords: calcium oxalate crystals, diversity, papillae, similarity coefficient, species concept ABSTRAK Ciri Anatomi Ampelocissus (Vitaceae) di Sumatera Revisi Ampelocissus dilakukan dengan mengamati ciri anatomi daun dari marga Ampelocissus. Sebanyak 33 nomor koleksi Herbarium Bogoriense (BO) dan empat nomor koleksi hasil eksplorasi di Sumatera digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk memperbarui informasi mengenai keanekaragaman dan mendukung konsep jenis Ampelocissus berdasarkan ciri anatomi, terutama pada tumbuhan steril. Studi anatomi dilakukan pada sembilan jenis dan satu varietas Ampelocissus di Sumatera. Jenis-jenis Ampelocissus di Sumatera bervariasi pada ciri anatomi yaitu bentuk dinding antilkinal sel epidermis pada bagian abaksial dan adaksial, jumlah lapisan jaringan tiang, ketebalan sel epidermis atas, ketebalan daun, kehadiran papila, jenis dan bentuk kristal kalsium oksalat, serta posisi stomata terhadap sel epidermis pada bagian abaksial daun. Analisis pengelompokan Ampelocissus di Sumatera menggunakan 16 ciri antomi dan menghasilkan fenogram dengan koefisien kemiripan 0,48 - 0,81. Ciri anatomi daun dapat digunakan sebagai ciri tambahan yang memiliki nilai taksonomi dalam membedakan jenis-jenis Ampelocissus di Sumatera.
Wahyu Indra Duwi Fanata, Dalliyah Hadrotul Qudsiyah
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 250-258; doi:10.29122/jbbi.v7i2.4404

Abstract:
In Vitro Callus and Plant Regeneration Rate of Tarabas Rice on Several Concentrations of 2,4-D The Agricultural Research and Development Agency and the West Java Provincial Government are developing new superior varieties with Japonica rice standards, namely the Tarabas variety. However, the equivalence of somatic embryogenesis ability of Tarabas rice with original Japonica variety has not been reported. In this study, the frequency of callus regeneration of Tarabas vs Hwayoung rice varieties was compared. Induction of callus from mature embryos with several concentrations of 2,4-D showed the same extent of callus formation in both rice varieties. Callus induced by 1 ppm of 2,4-D showed the higher rate of shoot formation. On the other hand, percentage of callus formation of Tarabas rice was not affected by the increase of 2,4-D concentrations and was able to show 100% regeneration rate at the fourth week in the regeneration medium, although the shoot growth was not as fast as those from medium with 1 ppm 2,4-D. Therefore, these results suggest that Tarabas variety has a somatic embryogenesis capacity equivalent to that of japonica rice and has the potential as research objects in the field of biotechnology. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengembangkan varietas unggul baru dengan standar padi Japonica yaitu varietas Tarabas. Namun, kesetaraan varietas Tarabas dengan varietas Japonica asli dalam kemampuan embriogenesis somatik belum dilaporkan. Penelitian ini membandingkan respons kultur jaringan antara beras Tarabas dan padi Japonica varietas Hwayoung. Induksi kalus dari embrio matang dengan beberapa konsentrasi 2,4-D menunjukkan respons pembentukan kalus yang sama pada kedua varietas padi. Kalus yang diinduksi 1 ppm 2,4-D menunjukkan laju pembentukan tunas yang lebih tinggi. Di sisi lain, kalus Hwayoung yang diinduksi konsentrasi 2,4-D yang lebih tinggi menunjukkan penghambatan dalam pembentukan tunas. Di lain pihak, pembentukan kalus padi Tarabas tidak terpengaruh oleh peningkatan konsentrasi 2,4-D dan mampu menunjukkan 100% laju regenerasi tanaman pada minggu keempat di media regenerasi walaupun pertumbuhan tunas tidak secepat pada perlakuan 1 ppm 2,4-D. Karena itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa varietas Tarabas memiliki kapasitas embriogenesis somatik yang setara dengan padi japonica dan padi Tarabas mempunyai potensi sebagai obyek penelitian di bidang bioteknologi.
Dudi Hardianto
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 304-317; doi:10.29122/jbbi.v7i2.4209

Abstract:
Diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia. In general, diabetes is classified into type 1 diabetes mellitus (T1DM), type 2 diabetes mellitus (T2DM), gestational, and other specific diabetes. The causes of diabetes are genetic disorders and environmental. Common symptoms of diabetes include: polydipsia, polyphagia, glycosuria, polyuria, dehydration, fatigue, weight loss, reduced vision, cramps, constipation, and candida infection. Test for diagnosis of diabetes include: fasting plasma glucose test, plasma glucose test after 2 hours of 75 g oral glucose administration, the glycated hemoglobin test (HbA1C), and random blood glucose test. Prevention of T1DM is still difficult because of the limited knowledge of metabolic, genetic, and immunological processes in the development of T1DM. T2DM is prevented by lifestyle and medical intervention. Insulin is the only drug for T1DM, whereas T2DM is treated with metformin as drug’s primary choice for reducing blood glucose levels. Diabetes melitus merupakan penyakit kelainan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia. Secara umum, diabetes diklasifikasikan menjadi: diabetes melitus tipe 1 (DMT1), diabetes melitus tipe 2 (DMT2), gestasional, dan diabetes spesifik lain. Penyebab diabetes adalah kelainan genetik dan lingkungan. Gejala umum diabetes antara lain: polidipsia, polifagia, glikosuria, poliuria, dehidrasi, kelelahan, penurunan berat badan, daya penglihatan berkurang, kram, konstipasi, dan infeksi candida. Pemeriksaaan untuk diagnosis diabetes meliputi: pemeriksaan glukosa plasma saat puasa, pemeriksaan glukosa plasma setelah 2 jam pemberian glukosa oral 75 g, pemeriksaan hemoglobin terglikasi (HbA1C), dan pemeriksaan glukosa darah acak. Pencegahan DMT1 masih sulit karena terbatasnya pengetahuan proses metabolisme, genetik, dan imunologi pada perkembangan DMT1. DMT2 dicegah dengan intervensi gaya hidup dan intervensi medis. Insulin merupakan satu-satunya obat untuk DMT1, sedangkan DMT2 diobati dengan metformin sebagai pilihan utama dan non obat untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah.
Dina Khoiriyah, Taufik Maryusman, Santi Herlina
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 7, pp 280-288; doi:10.29122/jbbi.v7i2.3781

Abstract:
Effect of Banana Kefir Synbiotic on LDL-Cholesterol and HDL-Cholesterol of Metabolic Syndrome Rats Metabolic syndrome (SM) is characterized by several risk factors including dyslipidemia. This study aims to analyze the effect of kefir synbiotic produced from banana stone flour (Musa balbisiana) on LDL-cholesterol and HDL-cholesterol of metabolic syndrome rat model. The 24 Sprague Dawley rats were divided into four groups, namely negative control (healthy rats fed standard feed), positive control (metabolic syndrome rats fed standard feed), treatment I and treatment II (metabolic syndrome rats each given synbiotic kefir banana stone flour 1.8 mL/200 g mouse BW/day and 3.6 mL/200 g mouse BW/day, respectively). The intervention was carried out for three weeks. After the intervention, the levels of LDL-cholesterol in treatment I and II experienced a decrease of 44.66% and 56.94%, respectively, while the-HDL-cholesterol levels in treatment I and II experienced an increase of 104.5% and 172.71%, respectively. The biggest change occurred in treatment II. Synbiotic kefir banana stone flour improved lipid profile in metabolic syndrome rats. Sindrom metabolik (SM) ditandai dengan beberapa faktor risiko termasuk dislipidemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sinbiotik kefir tepung pisang batu (Musa balbisiana) terhadap kadar kolesterol-LDL dan kolesterol-HDL tikus model SM. Subjek menggunakan 24 ekor tikus Sprague Dawley yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kontrol negatif (tikus sehat yang diberi pakan standar), kontrol positif (tikus model SM yang diberi pakan standar), perlakuan I dan perlakuan II (tikus model SM yang masing-masing diberi sinbiotik kefir tepung pisang batu 1,8 mL/200 g BB tikus/hari dan 3,6 mL/200 g BB tikus/hari). Proses intervensi dilakukan selama tiga minggu. Setelah intervensi, kadar kolesterol-LDL perlakuan I dan II mengalami penurunan sebesar 44,66% dan 56,94%, sedangkan kadar kolesterol-HDL perlakuan I dan II mengalami peningkatan sebesar 104,5% dan 172,71%. Perubahan terbesar terjadi pada perlakuan II. Sinbiotik kefir tepung pisang batu memperbaiki profil lipid tikus sindrom metabolik.
Back to Top Top