Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2442-2606 / 2548-611X
Total articles ≅ 139
Filter:

Latest articles in this journal

Joko Prayitno, Rahmania Admirasari Darmawan, Joko Prayitno Susanto, Rudi Nugroho
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 137-154; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4612

Abstract:
Review of Virus Inactivation Technologies for Covid-19 Pandemic Control SARS-CoV-2 virus inactivation is one of global concerns in alleviating the spread of Covid-19. The applications of virus inactivation technologies are mainly based on the knowledge of virus characteristics, its persistence on material surfaces, and environmental factors impairing its structure. Current virus inactivation methods are mostly employing chemicals dan physical treatments such as hydrogen peroxide, hypochlorite solutions, and UV light. In this paper, we discuss three current virus inactivation technologies for reducing the spread of Covid-19, i.e., room disinfection, surface disinfection, and personal protective equipment (PPE) decontamination technology. Room disinfection technology, particularly room with poor ventilation or closed air circulation, employs the combination of UV light treatment with filters. Surface disinfection technologies utilize the spraying or fogging of disinfectant solutions, and PPE decontamination technologies utilize UV light or chemical treatments to inactivate the virus. Further development and application of these technologies will help the national effort in controlling the spread of Covid-19. Inaktivasi virus SARS-CoV-2 merupakan salah satu upaya global untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Aplikasi teknologi inaktivasi virus ini banyak bersandar pada pengetahuan mengenai karakteristik dan daya tahan virus ini pada permukaan benda dan hal-hal yang merusak struktur virus tersebut. Metode inaktivasi virus yang banyak digunakan adalah perlakuan dengan bahan kimia dan perlakuan secara fisik yaitu dengan menggunakan larutan disinfektan hidrogen peroksida, larutan hipoklorit dan sinar UV. Dalam tulisan ini, peluang aplikasi teknologi inaktivasi virus SARS-CoV-2 yang dibahas adalah teknologi disinfeksi ruangan, disinfeksi permukaan benda dan dekontaminasi alat pelindung diri. Teknologi disinfeksi ruangan khususnya pada ruangan tertutup dengan ventilasi yang kurang baik atau resirkulasi udara tertutup adalah dengan menggunakan kombinasi perlakuan sinar UV dengan filter. Teknologi disinfeksi permukaan benda menggunakan teknik penyemprotan atau pengkabutan larutan disinfektan, sedangkan teknologi dekontaminasi alat pelindung diri dilakukan dengan perlakuan sinar UV atau dengan bahan kimia. Pengembangan dan aplikasi lanjut dari teknologi inaktivasi virus ini akan membantu upaya nasional dalam penanggulangan penyebaran Covid-19.
Diah Anggraini Wulandari, Muhammad Safaat
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 124-136; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4503

Abstract:
Review: The Role of Nanoparticles in Inhibiting the Growth of the Plasmodium Parasite Causing Malarial Disease Malaria is a health problem in Indonesia with the most cases in eastern parts of Indonesia. This study provides an overview of the potential of nanoparticles in inhibiting malaria vectors and the growth of Plasmodium parasites that causes malaria based on the latest literature as reference materials and future research ideas. Nanoparticle can be synthesized using three methods i.e. physical, chemical and biological synthesis. The use of nanoparticles with biological method is highly recommended because they are practicable, environmentally friendly, non-toxic, and easy to reproduce compared to physico-chemically synthesized nanoparticles. Nanoparticles synthesized from several plants can inhibit the growth of Plasmodium parasites with IC50 3–78 g mL–1. This activity is classified as high to moderate in inhibiting the growth of the Plasmodium parasite that causes malaria. The mechanism of inhibition of Plasmodium growth is by increasing the pH of food vacuole due to the reaction of nanoparticles with Ferriprotoporphyrin IX. The high pH in the food vacuole will interfere with metabolic activity by inhibiting the activity of aspartate and cysteine ??protease enzymes so that the parasites will die. Malaria merupakan masalah kesehatan yang dihadapi Indonesia khususnya di beberapa wilayah timur Indonesia. Kajian ini memberikan gambaran potensi nanopartikel dalam menghambat vektor malaria maupun pertumbuhan parasit Plasmodium penyebab malaria berdasarkan literatur terbaru sebagai bahan acuan maupun ide-ide penelitian di masa mendatang. Nanopartikel dapat disintesis menggunakan tiga metode yaitu fisika, kimia dan biologi. Penggunaan nanopartikel dengan metode biologi sangat direkomendasikan karena lebih mudah diterapkan, ramah lingkungan, bersifat non-toksik, dan mudah diperbanyak dibandingkan dengan nanopartikel yang disintensis dari fisiko-kimia. Nanopartikel yang disintesis dari beberapa tanaman dapat menghambat pertumbuhan parasit Plasmodium dengan IC50 3–78 g mL–1. Aktivitas ini tergolong tinggi hingga sedang dalam menghambat pertumbuhan parasit Plasmodium penyebab malaria. Mekanisme penghambatan pertumbuhan Plasmodium dengan cara meningkatkan pH vakuola makanan akibat reaksi nanopartikel dengan feriprotoporpirin IX. Tingginya pH pada vakuola makanan akan mengganggu aktivitas metabolisme dengan cara menghambat aktivitas enzim aspartat dan sistein protease sehingga parasit akan mati.
Hamiyawati Qoimatu Dini Alfaruqi, Nosa Septiana Anindita, Arif Bimantara
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 114-123; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4554

Abstract:
Molecular Studies on Probiotic of Human Breast Milk in the Synthesis of Exopolysaccharide (EPS) The glucosyltransferase (gtf) gene has an important role in exopolysaccharide (EPS) synthesis in probiotic bacteria. The EPS produced is associated with the adhesion ability of bacteria to the intestinal mucosa. Therefore, the gtf gene can be used as a parameter in the selection of potential probiotic through a molecular approach. This study was conducted to determine the presence of the gtf gene in probiotic from human breast milk using PCR technique. The methods in this study include the following: reculture of probiotic isolates, DNA isolation, amplification of the 16S rRNA gene using universal primers (pA and pB), amplification of specific LAB primers (LABfw and LABrv), specific primary design for the gtf gene, and the amplification of the gtf gene. The results of 16S rRNA gene amplification using universal primers obtained the amplicons of 500-1,000 bp in size. The results of amplification using specific LAB primers obtained an amplicon of about 700 bp in all isolates. The results of amplification of the gtf gene using a specific primer produced an amplicon of 325 bp in all isolates. Based on this study, it was concluded that 16 probiotic isolates from human breast milk were proven to have the gtf gene. Gen glukosiltransferase (gtf) memiliki peran penting dalam sintesis eksopolisakarida (EPS) pada bakteri probiotik. EPS yang diproduksi berhubungan dengan kemampuan adhesi bakteri pada mukosa usus. Oleh karena itu, gen gtf dapat dijadikan sebagai salah satu parameter dalam seleksi probiotik potensial melalui pendekatan molekuler. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya gen gtf pada probiotik asal air susu ibu (ASI) menggunakan teknik PCR. Metode pada penelitian ini meliputi: reculture isolat probiotik, isolasi DNA, amplifikasi gen 16S rRNA menggunakan primer universal (pA dan pB), amplifikasi primer spesifik BAL (LABfw dan LABrv), desain primer spesifik untuk gen gtf dan amplifikasi gen gtf. Hasil amplifikasi gen 16S rRNA menggunakan primer universal diperoleh amplikon berukuran antara 500-1.000 bp. Adapun hasil amplifikasi menggunakan primer spesifik BAL diperoleh amplikon berukuran sekitar 700 bp pada seluruh isolat. Hasil amplifikasi gen gtf menggunakan primer spesifik menghasilkan amplikon berukuran sekitar 325 bp pada seluruh isolat. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 16 isolat probiotik asal ASI terbukti memiliki gen gtf.
Darlina Yusuf, Devita Tetriana, Tur Rahardjo, Teja Kisnanto, Yanti Lusiyanti, Dyah Erawati, Nastiti Rahajeng
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 105-113; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4598

Abstract:
Analyses of DNA Damage in the Patient’s Lymphocyte Cells Post-Radiotherapy Radiotherapy given in high doses to kill cancer cells can also induce DNA damage in surrounding normal cells. The radiation dose is divided into smaller doses called fractionation to decrease the effect of radiation on normal tissue. For this reason, it is necessary to monitor the peripheral blood lymphocytes to evaluate the patient's DNA damage. The alkaline comet test is a simple and sensitive technique for detecting DNA instability. This study involved 11 patients who underwent radiotherapy up to 20 Gy, and 11 healthy subjects as controls. This study aims to see how much DNA damage is caused by a 20 Gy fractionated radiation dose in patients with various cancers. The results showed that the mean frequency of damaged cells in patients was 80.54 ± 12.52% with a mean comet tail length of 49.98 ± 12.93 µm. There was a significant difference in both the frequency of damaged cells and the mean value of the comet tail length against the control group (p < 0.001). It was concluded that high doses of radiation can cause DNA damage to peripheral blood lymphocytes. Radioterapi yang diberikan dalam dosis tinggi untuk mematikan sel kanker juga dapat menginduksi kerusakan DNA pada sel normal di sekitarnya. Dosis radiasi dibagi menjadi dosis yang lebih kecil yang disebut fraksinasi untuk menurunkan efek radiasi pada jaringan normal. Untuk itu perlu pemantauan pada limfosit darah tepi untuk mengevaluasi kerusakan DNA pasien. Uji komet alkali merupakan teknik yang sederhana dan sensitif untuk mendeteksi ketidakstabilan DNA. Penelitian ini melibatkan 11 pasien yang menjalani radioterapi hingga 20 Gy, dan 11 subyek sehat sebagai kontrol. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar kerusakan DNA akibat dosis radiasi fraksinasi 20 Gy pada pasien dengan variasi kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata frekuensi sel yang rusak pada pasien 80,54 ± 12,52% dengan rerata panjang ekor komet 49,98 ± 12,93 µm terdapat perbedaan nyata baik pada frekuensi sel yang rusak maupun nilai rerata panjang ekor komet terhadap kelompok kontrol (p < 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa radiasi dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan DNA sel limfosit darah tepi.
Irnia Nurika, Faudina Nurin Nisa', Nurul Azizah, Sri Suhartini
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 89-104; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4500

Abstract:
Optimization of Vanillin Extraction Conditions from Lignocellulose Degradation of Sugarcane Bagasse using the Response Surface Method (RSM) Sugarcane bagasse is an agricultural waste containing lignocellulose and has the potential to be processed into high-value chemicals such as vanillin. The degradation of sugarcane bagasse lignocellulose can be carried out biologically by the white rot fungus Phanerochaete chrysosporium. This study aims to obtain optimal extraction conditions in the form of ethyl acetate solvent volume and extraction time, using the response surface method (RSM). Two optimized factors were the volume of ethyl acetate (71.72; 80; 100; 120; and 128.28 mL) and the extraction time (35.16; 60; 120; 180; 204.84 minutes). The response variables were the concentration (%) and yield of vanillin (µg g–1). The research on the optimization of the response of vanillin levels and vanillin yield was carried out at 14 days incubation with the highest average total soluble phenol (TSP) value of 0.101 mg g–1. The optimal condition of ethyl acetate volume of 109.730 mL with an extraction time of 137.302 minutes was predicted to produce vanillin levels and yields of 0.0078% and 8.9089 g g–1, respectively, with an accuracy value of 93.4%. Based on the verification results, the optimal vanillin concentration and yield were 0.0077% and 8.9805 g g–1, respectively. Bagas tebu merupakan limbah pertanian yang mengandung lignoselulosa dan berpotensi diolah menjadi bahan kimia bernilai tinggi seperti vanillin. Degradasi lignoselulosa bagas tebu dapat dilakukan secara biologis oleh jamur pelapuk putih Phanerochaete chrysosporium. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kondisi ekstraksi optimal berupa volume pelarut etil asetat dan lama waktu ekstraksi, menggunakan response surface method (RSM). Dua faktor yang dioptimasi adalah volume etil asetat (71,72; 80; 100; 120; dan 128,28 mL) dan lama waktu ekstraksi (35,16; 60; 120; 180; 204,84 menit). Variabel respons adalah kadar (%) dan yield vanillin (µg g–1). Penelitian optimasi respons kadar vanillin dan yield vanillin dilakukan pada inkubasi 14 hari dengan nilai total soluble phenol (TSP) rata-rata tertinggi 0,101 mg g–1. Kondisi optimal volume etil asetat 109,730 mL dengan waktu ekstraksi 137,302 menit diprediksi menghasilkan kadar dan yield vanillin sebesar 0,0078% dan 8,9089 µg g–1 dengan nilai ketepatan 93,4%. Berdasar hasil verifikasi, konsentrasi dan yield vanillin yang optimal masing-masing adalah 0,0077% dan 8,9805 µg g–1.
Rudiyanto, Darda Efendi, Erwin Al-Hafiizh, Tri Muji Ermayanti
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 14-24; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4092

Abstract:
Physic nut (Jatropha curcas Linn.) has the potential as a source of sustainable biofuels. Somatic embryo proliferation of J. curcas may cause somaclonal variations. This research aimed to investigate somaclonal variations of J. curcas somatic embryo derived-plantlet using ISSR markers. Somatic embryos of J. curcas at the globular phase were cultured on liquid MS medium supplemented with 0, 0.5, 1.0, 1.5, and 2.0 mg L-1 of 2,4-D. Parameter observed were embryos weight, embryos volume, colour, and size of embryos. After proliferation, the embryos were cultured on a germination medium until the cotyledonary phase. The results showed that proliferation of J. curcas somatic embryos was optimal, with the highest weight and volume, at MS medium added with 1 mg L-1 2,4-D.
Devit Purwoko, Teuku Tajuddin, Pramono, Rismayanti, Muhamad Farkhan Yanuar, Imastini Dinuriah, Hidayatul Arisah, Dita Agisimanto
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 57-67; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4029

Abstract:
Analysis of the Genetic Homogeneity of Apple (Malus spp.) Clones Propagated by Ex Vitro Culture Based on SSR Markers Propagation of apple plants (Malus spp.) vegetatively has the advantage of genetic homogeneity between clones and their parents. However, the possibility of cytological and off-type deviations persists during mass propagation. This study aims to analyze the genetic homogeneity of apple plants using SSR markers in ex vitro propagation techniques. Morphological observations between the parental plant and the ex vitro propagation derived clones and also among themselves did not show any differences. To analyze the genetic heterogeneity of these plants, 15 SSR primers were screened on 29 propagation clones of apple var. Anna and Manalagi. Genetic characters were scored for group analysis using Darwin 6.05. Eight SSR primers (IPA 2, IPA 3, IPA 4, 5 PA, 6 PA, 12 PA, 13 PA, and 14 PA) produced 82 clear and easily visible bands in the size range of 90-365 bp. This study successfully detected the uniformity of all band patterns from the plant samples. The SSR markers could be used to analyze the genetic stability of the ex vitro propagation of apple clones. Perbanyakan tanaman apel (Malus spp.) secara vegetatif memiliki keunggulan homogenitas genetik antara klon dengan induknya. Namun kemungkinan terjadi penyimpangan sitologi dan off type tetap ada saat perbanyakan massal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji homogenitas genetik tanaman apel menggunakan penanda SSR pada teknik perbanyakan ex vitro. Pengamatan secara morfologi antara tanaman induk dengan hasil perbanyakan secara ex vitro dan dengan sesamannya tidak menunjukkan perbedaan. Untuk menganalisis homogenitas genetik tanaman ini kami menyaring 15 primer SSR pada 29 klon perbanyakan tanaman apel varietas Anna dan Manalagi. Karakter genetik dihitung untuk analisis kelompok menggunakan Darwin 6.05. Sebanyak 8 primer SSR (IPA 2, IPA 3, IPA 4, 5 PA, 6 PA, 12 PA, 13 PA, dan 14 PA) menghasilkan 82 pita yang jelas dan mudah terlihat dalam kisaran ukuran 90-365 bp. Studi ini juga berhasil mendeteksi keseragaman pola pita semua sampel tanaman. Penanda SSR dapat digunakan untuk analisis stabilitas genetik perbanyakan ex vitro dari tanaman apel.
Yati Sudaryati Soeka, Muhammad Ilyas
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 77-88; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4296

Abstract:
Karakterisasi Amilase dan Selulase Miselial Serta Analisis Fisikokimia Basidioma Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum) Lingzi mushroom (Ganoderma lucidum) synthesizes enzymes which have anti-hyperglycemic and anti-diabetic activities. This preliminary study aims to characterize the amylase and cellulase activities of mycelial culture, and to analyze the physicochemical compounds in the basidioma of G. lucidum InaCC F11 and G. lucidum InaCC F106. The enzymes were characterized spectrophotometrically using DNS method, and the basidioma was subjected to proximate and high performance liquid chromatography (HPLC) analysis, as well as microstructural observation using scanning electron microscope. Results showed both strains demonstrated amylase activity, but not cellulase activity. The optimum activity of amylase in G. lucidum InaCC F11 mycelial cultures was achieved on the 3rd incubation day, at pH 5.5, 35 ºC temperature, and 1.5% substrate concentration, whereas that of G. lucidum InaCC F106 on the 7th incubation day, at pH 5, 40 ºC temperature, and 1.75% substrate concentration. Dried basidioma of G. lucidum InaCC F11 contained 93.72% carbohydrates, 3.06% protein, 0.85% fat, 0.768% crude fiber, 0.54% ash, and 1.83% moisture. In addition, HPLC detected the presence of phenols (0.036%), steroids (0.014 mg 100 mL-1), and active triterpenoid compounds. Jamur lingzi (Ganoderma lucidum) mensintesis enzim yang memiliki aktivitas anti-hiperglikemik dan anti-diabetes. Studi pendahuluan ini bertujuan mengkarakterisasi aktivitas amilase dan selulase kultur miselium, serta menganalisis senyawa fisikokimia pada basidioma G. lucidum InaCC F11 dan G. lucidum InaCC F106. Enzim dikarakterisasi secara spektrofotometri menggunakan metode DNS. Basidioma dianalisis secara proksimat, menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT), serta diamati mikrostrukturnya menggunakan mikroskop elektron. Hasil menunjukkan kedua strain tersebut memiliki aktivitas amilase, dan tidak ada aktivitas selulase. Aktivitas amilase optimum pada kultur miselium G. lucidum InaCC F11 dicapai pada inkubasi hari ke-3, pH 5,5, suhu 35 ºC, dan konsentrasi substrat 1,5%, sedangkan pada kultur miselium G. lucidum InaCC F106 dicapai pada inkubasi hari ke-7, pH 5, suhu 40 ºC, dan konsentrasi substrat 1,75%. Basidioma kering G. lucidum InaCC F11 mengandung karbohidrat 93,72%, protein 3,06%, lemak 0,85%, serat kasar 0,768%, abu 0,54%, dan kadar air 1,83%. Selain itu, KCKT mendeteksi adanya fenol (0,036%), steroid (0,014 mg 100 mL-1), dan senyawa triterpenoid aktif.
Theodorus Olwyn Innation, Vincentia Irene Meitiniarti, Desti Christian Cahyaningrum
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 33-41; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4160

Abstract:
Reduksi Cr(VI) pada Tanah Menggunakan Microbacterium sp. Strain SpR3 dengan Bahan Pembawa Vermikompos Kromium hexavalen [Cr(VI)] adalah polutan yang berasal dari kegiatan industri. Microbacterium sp. strain SpR3 dapat digunakan sebagai agen bioremediasi Cr(VI). Kemampuan agen biologi untuk mereduksi Cr(VI) umumnya meningkat bila diinokulasi dalam media pembawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan Microbacterium sp. strain SpR3 dalam mengurangi Cr(VI) serta membandingkannya dengan kondisi ketika diinokulasi dalam media pembawa vermikompos. Pengamatan dilakukan selama tujuh hari pada tiga perlakuan yang berbeda, yakni Microbacterium sp. strain SpR3 dengan dan tanpa media pembawa vermikompos yang diinokulasi pada tanah steril yang mengandung 50 ppm Cr(VI), dan tanah steril tanpa inokulasi bakteri yang mengandung 50 ppm Cr(VI). Variabel yang diamati adalah jumlah bakteri, konsentrasi, dan kecepatan reduksi Cr(VI) oleh bakteri tersebut di dalam tanah pada T0 (hari ke-0) dan T7 (hari ke-7). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa vermikompos bisa digunakan sebagai media pembawa Microbacterium sp. strain SpR3 karena dapat meningkatkan jumlah bakteri sampai 2 × 1010 CFU g-1 di dalam tanah dan dapat mengurangi Cr(VI) dengan kecepatan 0,095 mg L-1 jam-1. Hexavalent chromium [Cr(VI)] is a pollutant originated from industrial activities. Microbacterium sp. strain SpR3 can be used as Cr(VI) bioremediation agent. The ability of bioagent to reduce Cr(VI) usually improves when inoculated in a carrier. This research aimed to assess the ability of Microbacterium sp. strain SpR3 to reduce Cr(VI) in soil and compare its ability when inoculated in vermicompost carrier. Observations were carried out for seven days on three different treatments, namely Microbacterium sp. strain SpR3 with and without vermicompost inoculated in sterile soils containing 50 ppm Cr(VI), and sterile soils containing 50 ppm Cr(VI) without bacterial inoculation. The observed variables were the number of bacteria, the concentration of Cr(VI) and the rate of Cr(VI) reduction by these bacteria in the soil at T0 (day 0) and T7 (day 7). It was concluded that vermicompost could be used as a carrier of Microbacterium sp. strain SpR3 as it could increase the number of the bacteria to 2 × 1010 CFU g-1 in soil and could reduce Cr(VI) at the rate of 0.095 mg L-1 h-1.
Karyanti Karyanti, Teuku Tajuddin, Hayat Khairiyah, Tati Sukarnih, Gemilang Rahmadara, Nurul Fitri Hanifah, Yayan Rudiyana, Sayuri Kitagawa, Farida Rosana Mira, Hirohisa Saga
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), Volume 8, pp 1-11; https://doi.org/10.29122/jbbi.v8i1.4715

Abstract:
The availability of high-quality seeds is now a necessity. This is due to a government program to replace oil palm trees in smallholder plantations with high quality seeds. An efficient protocol to produce a large number of embryos is needed. To increase the number of embryogenic callus production, the callus proliferation experiment was carried out through suspension culture. This study aimed to examine the proliferation ability of embryogenic callus from three different oil palm clones, in several repeated subcultures. Liquid MS media added with 1 ppm 2.4-D and 0.1 ppm NAA were used. Embryogenic callus was weighed by 0.1 - 0.2 g, transferred into the liquid media, shaking at 60-80 rpm and 27 ºC for 8 weeks without light. Continues subcultures were repeated up to 7 times. The results showed that the growth rate of embryogenic callus increased in the third and fourth subcultures and then decreased in subsequent subcultures. It also revealed that the entire embryogenic callus from the first subculture up to seventh subculture still has the ability to regenerate into new plants. These results indicate that oil palm embryogenic callus can be proliferated by suspension culture with a limit up to the fourth subculture. Ketersediaan benih kelapa sawit berkualitas saat ini merupakan kebutuhan karena adanya program pemerintah untuk menggantikan tanaman sawit di kebun-kebun petani. Salah satu cara vegetatif yang dapat dilakukan adalah meningkatkan jumlah kalus embriogenik yang dihasilkan melalui pengembangan kultur suspensi. Penelitian ini bertujuan mengkaji kemampuan proliferasi kalus embriogenik dari tiga klon kelapa sawit, pada beberapa kali subkultur yang berulang. Media cair MS dengan penambahan 1 ppm 2,4-D dan 0,1 ppm NAA digunakan untuk memperbanyak 0,1–0,2 g kalus embriogenik, dikocok pada 60-80 rpm dan suhu 27 ºC tanpa cahaya selama 8 minggu. Subkultur berulang dilakukan hingga 7 kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kemampuan proliferasi kalus dipengaruhi oleh genotip tanaman induk. Rata-rata kalus embriogenik dapat meningkat pada subkultur ke-3 dan ke-4 dan semakin menurun pada subkultur selanjutnya. Kalus embriogenik hasil proliferasi subkultur pertama hingga ke-7 dapat tumbuh menjadi calon tanaman baru. Hasil ini menunjukkan bahwa kalus embriogenik kelapa sawit dapat diperbanyak dengan kultur suspensi pada batas sampai subkultur ke-4.
Back to Top Top