Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 0216-1192 / 2541-4054
Total articles ≅ 127
Filter:

Latest articles in this journal

Sri Widowati, Nur Asni, Farida Nuraeni
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 17, pp 95-107; doi:10.21082/jpasca.v17n2.2020.95-107

Abstract:
Nasi kuning instan menjadi salah satu alternatif menu sarapan pagi karena memiliki waktu penyajian yang singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan formula terbaik produk nasi kuning instan dengan waktu rehidrasi yang optimum dan menentukan karakteristik fisikokimia produk nasi kuning instan. Faktor yang diuji adalah formulasi bumbu (kontrol dengan menggunakan bumbu instan, formula A menggunakan 1 paket bumbu nasi kuning, formula B menggunakan 1,25 paket bumbu nasi kuning dan formula C menggunakan 1,50 paket bumbu nasi kuning) dan kadar amilosa beras (rendah, sedang dan tinggi). Hasil uji analisis one way anova menunjukkan bahwa antara formulasi dan kadar amilosa beras berbeda secara nyata dari karakteristik fisikokimia nasi kuning instan (p<0,05). Formula dan nasi kuning instan yang terpilih adalah formula 1,25 paket bumbu nasi kuning dari beras Sintanur dengan kadar amilosa rendah adalah waktu rehidrasi 4,59 menit, rendemen 90,23%, volume pengembangan 30,89%, daya serap air 49,68%, densitas kamba 0,62 g/mL, nilai °Hue diatas 90%, dan nilai kekerasan 74,03%. Produk ini mengandung kadar air 8,07%, abu 3,35%, protein 9,19%, lemak 2,08%, karbohidrat 76,32%, dan kadar pati 64,11 %. Formulation, Characterization, and Optimization of the Rehydration of Yellow Rice Instant.Instant yellow rice is an alternative to breakfast because it has a short testing time. The purpose of this study was to produce the best formula for instant yellow rice products with optimum rehydration time and determine the physicochemical characteristics of instant yellow rice products. Factors tested were seasoning formulations (control using instant seasoning, formula A using 1 package of yellow rice seasoning, formula B using 1,25 package of yellow rice seasoning and formula C using 1,50 packages of yellow rice seasoning) and amylose content of rice (low, medium and high). One way ANOVA analysis results showed that between the formulation and amylose content of rice was significantly different from the physicochemical characteristics of instant yellow rice (p <0,05). The formula and instant yellow rice selected were formula 1,25 package of yellow rice seasoning from Sintanur rice with low amylose content, rehydration time 4,59 minutes, yield 90,23%, development volume 30,89%, water absorption 49,68%, kamba density 0,62 g/mL , the ° Hue value is above 90%, and the hardness value is 74,03%. This product contains 8,07% water content, 3,35% ash, 9,19% protein, 2,08% fat, 76,32% carbohydrate, and 64,11% starch content.
Indrie Ambarsari , Retno Endrasari, Restu Hidayah
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 17, pp 108-116; doi:10.21082/jpasca.v17n2.2020.108-116

Abstract:
Produk sereal sarapan menjadi salah satu pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan sarapan masyarakat modern yang ingin serba cepat dan praktis. Sayangnya, sebagian besar produk sereal sarapan yang tersedia di pasaran terbuat dari bahan-bahan impor yang sulit dikembangkan di Indonesia. Jagung, jali, dan sorgum merupakan komoditas serealia lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku produk sereal sarapan. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrisi dan sifat sensoris dari produk sereal sarapan yang dikembangkan dari komoditas serealia lokal, serta memperoleh informasi terkait jenis serealia yang paling tepat untuk digunakan sebagai bahan baku produk sereal sarapan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat taraf perlakuan, yaitu: sereal sarapan jagung, sereal sarapan jali, sereal sarapan sorgum utuh, dan sereal sarapan gandum sebagai kontrol perlakuan. Masing-masing perlakuan mendapatkan empat kali ulangan. Dalam rangka meningkatkan kualitas produk akhir maka proses produksi sereal sarapan melibatkan proses fermentasi sereal. Variabel yang diamati meliputi kadar air, protein, lemak, karbohidrat, energi total, serat pangan, dan tingkat kesukaan berdasarkan uji sensoris. Data hasil pengujian dianalisis dengan menggunakan one way ANOVA pada taraf signifikansi 5% dan apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test. Hasil kajian menunjukkan bahwa serealia lokal seperti sorgum, jagung dan jali sesuai untuk dikembangkan sebagai bahan baku produk sereal sarapan. Produk sereal sarapan berbahan baku tepung sorgum terfermentasi menghasilkan produk akhir dengan kandungan gizi tertinggi, yaitu kandungan protein 11,31 %, lemak 7,12 %, karbohidrat 78,61 %, energi total 230,14 kkal/100 g, dan serat pangan total 27,23 %. Meskipun demikian, karakteristik sensoris sereal sarapan sorgum, khususnya menyangkut warna dan tekstur, masih perlu ditingkatkan. Nutritional and Sensory Quality of Breakfast Cereal Based-on Corn, Coix, and Sorghum FlakesBreakfast cereal could be the right choice to fulfill modern society's breakfast needs that prioritize the practicality and quickness. Unfortunately, the breakfast cereals available in the market are generally made from imported materials that were difficult to cultivate in Indonesia. Corn, coix, and sorghum are local Indonesian cereals that could be developed as a raw material for breakfast cereals. This study was performed to evaluate the nutritional and sensory properties of breakfast cereals made from local Indonesian cereals, as well as to determine the most suitable raw material of breakfast cereals. The experimental design used was a completely randomized design with four-level treatments, i.e., corn-based product, sorghum-based product, coix-based product, and wheat-based product as a control treatment, with four replication for each treatment. In order to optimize the quality of end-products, fermentation was applied in the production process. The variables observed included moisture content, protein, lipid, carbohydrate, total energy, dietary fiber, and preference level based on sensory analysis. The data were analyzed using one-way ANOVA with a significance level of 5%, and if there were a significant difference between treatments, it would be continued with the Duncan Multiple Range Test. The results showed that local cereals such as sorghum, corn, and coix are suitable to be developed as raw material for breakfast cereals. Breakfast cereal based on fermented sorghum flour has the highest nutritional values among the cereals sample, precisely 11.31% protein, 7.12% lipid, 78.61% carbohydrate, 230 kcal/100g total energy, and 27.23% dietary fiber. However, sorghum breakfast cereals' sensory characteristics still needed to be improved, especially for its color and texture.
Setyadi Gumaran, Nfn Sutrisno, Evi Savitri Iriani
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 17, pp 77-87; doi:10.21082/jpasca.v17n2.2020.77-87

Abstract:
Pelapisan nanokomposit dapat meningkatkan karakteristik fisik, mekanis serta fungsional dari bahan pelapis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelapisan nanokomposit dengan berbagai polimer (gelatin dan kitosan) yang ditambahkan seng oksida dan beeswax untuk menjaga kualitas salak pondoh selama penyimpanan. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan emulsi beeswax dan NP-ZnO dapat menurunkan nilai WVTR dari 25.6 menjadi 13.75 g/m2jam. Penambahahan beeswax dan NP-ZnO juga dapat merubah sifat antimikroba film kitosan dan gelatin. Aplikasi nanokomposit mampu menurunkan kehilangan berat salak pondoh selama penyimpanan dibandingkan dengan kontrol salak pondoh (P <0,05). Kontrol salak memiliki nilai penurunan susut bobot tertinggi sebesar 18,57% sedangkan salak dengan perlakuan WC3 dan WG3 memiliki nilai 12,72% dan 13,92%, persentase kerusakan sebesar 76,19% pada hari ke 28 penyimpanan. Aplikasi pelapisan nanokomposit juga mampu mempertahankan kekerasan dan persen tingkat kerusakan selama penyimpanan. Application of nanocomposite based on Chitosan and Gelatin to maintain quality of Salacca fruit. (Salacca edulis Reniw).Nanocomposite coating could enhance the physical and mechanical characteristic as well as functional of material coatings. This research aimed to determine the application of nanocomposite coating with various polymers (gelatin and chitosan) which added zinc oxide and beeswax to maintain the quality of salak pondoh during storage. The result showed that the addition of beeswax emulsion and ZnO-NPs significantly decreased WVTR value from 25.6 to 13.75 g/m2 hours. The addition of beeswax emulsion and ZnO-NPs also changed the antimicrobial properties of chitosan and gelatin films Aplication of nanocomposite coating was able to decrease the weight loss of salak pondoh during storage compared to salak pondoh control (P <0.05). Salak control has the largest weight loss value of 18.57% while salak with WC3 and WG3 treatment has a value of 12.72% and 13.92%, percentage of decai has value 76.19% on 28 days storage. Application of nanocomposite coating are also able to maintain quality such as firmness and percentage of decay during storage.
Laras Putri Wigati, Sutrisno Suro Mardjan, Emmy Darmawati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 17, pp 68-76; doi:10.21082/jpasca.v17n2.2020.68-76

Abstract:
Penanganan pascapanen adalah hal penting yang perlu diperhatikan oleh seluruh aktor di suatu rantai pasok hingga sampai ke tangan konsumen. Evaluasi penerapan penanganan pascapanen sesuai standard operating procedure (SOP) perlu dilakukan agar dapat menemukan pada tahap-tahap mana saja yang perlu diperbaiki sehingga mutu produk lebih dapat terjaga. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi penanganan dan penerapan SOP pascapanen tomat, serta mengidentifikasi permasalahan penanganan pascapanen tomat yang dihadapi oleh aktor. Aktor yang terlibat pada rantai pasok adalah petani, pengepul, pedagang eceran dan konsumen. Metode pemilihan responden awal menggunakan purposive sampling yakni pemilihan petani di Desa Perbawati, Sukabumi dan dibedakan menjadi tiga tipe petani berdasarkan luas lahan yang dimiliki. Pemilihan responden selanjutnya menggunakan metode snowball sampling hingga responden akhir yakni konsumen. Penerapan SOP diperoleh dari wawancara dan observasi lapang. Parameter yang digunakan adalah membandingkan penanganan pascapanen yang dilakukan oleh aktor dan dibandingkan dengan SOP yang telah disusun oleh Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian dan dilakukan perhitungan persentase kesesuaian dan upaya perbaikan yang diperlukan. Pada penelitian ini didapatkan kesesuaian penerapan SOP sebesar 54,44% dan diperlukan perbaikan sebesar 45,56%. Hal ini menunjukkan kesesuaian antara SOP dan pelaksanaan di lapang pada tingkat petani, pengepul, maupun pedagang eceran kondisi lingkungan panas menjadikan produk terpapar sinar matahari secara langsung serta kebersihan yang kurang dijaga membuat kualitas produk mudah menurun. Study Implementation of Standard Operating Procedure on Post-Harvest Tomato and Problems Faced by Actors in the Supply Chain.Postharvest handling is an important part that needs to be considered by actors in a supply chain until it reaches consumers. Evaluation of the implementation of postharvest handling according to the standard operating procedure (SOP) needs to be done to be able to find at what stages need to be improved so the product quality can be maintained well. This study aimed to identify the handling and the SOP implementation postharvest tomatoes, also identify the problems of handling postharvest tomatoes faced by the actors. The actors involved in the supply chain are farmers, collectors, retailers, and consumers. The first actors as respondents selected by the purposive sampling method were farmers in Perbawati Village, Sukabumi, and divided into three types of farmers based on the area of land they have. The next respondents selected by the snowball sampling method to the consumer as final respondents. The application of SOP obtained from interviews and real observations. The parameters used were comparing postharvest handling carried out by the actors and compared with SOP that has been published by the Directorate of Vegetable and Postharvest Cultivation and Medicinal Plants, Directorate General of Horticulture, Ministry of Agriculture and calculating the percentage of suitability and the percentage of improvement needed. In this study, the suitability of SOP implementation was 54.44% and 45.56% improvement was needed. These results showed the compatibility between the SOP and the implementation in the field at the level of farmers, collectors, and retail that high temperature of environmental conditions made the product exposed to direct sunlight and low maintained hygiene made the quality of the product easy to decrease.
Eko Kuncoro Pramono
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 17, pp 88-94; doi:10.21082/jpasca.v17n2.2020.88-94

Abstract:
Penentuan tingkat kematangan buah pisang cavendish biasanya dilakukan secara manual dengan membandingkan warna kulit buah pisang dengan bagan warna standar. Hal ini mempunyai kekurangan yaitu tidak konsisten dan sangat subyektif tergantung dari keahlian operator. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan hasil pengukuran tingkat kematangan buah pisang cavendish yang lebih akurat, mudah dan tidak merusak (non destruktif). Pengukuran kematangan buah pisang dilakukan berdasarkan faktor reflektansi cahaya, yaitu cahaya hijau (500-560 nm), jingga (580-610 nm), dan merah (600-650 nm) yang diperoleh dari LED. Sebuah spektrofotometer pada rentang spektrum 350-700 nm digunakan sebagai pembanding dalam penelitian ini, dengan sumber cahaya berasal dari lampu halogen untuk dapat memenuhi rentang panjang gelombang pada spektrofotometer. Hasil terbaik didapatkan dari pengukuran nilai reflektansi dengan cahaya merah (600-650 nm), dimana didapatkan nilai reflektansi sebesar 30%-39%, 39%-49%, 49%-59%, 59%-67% dan di atas 67% untuk tingkat kematangan 2,3,4,5 dan 6. Pengujian dengan menggunakan 71 sampel pada tingkat kematangan 2 sampai dengan 6 menghasilkan pengukuran 55 benar (77%), 11 kurang matang satu tingkat (16%) dan 5 lebih matang satu tingkat (7%). Sistem pemindaian (scanning) pada seluruh permukaan kulit pisang atau penggunaan citra kamera digital juga dapat dilakukan untuk meningkatkan akurasi hasil pengukuran. Measurement of Cavendish Banana Ripeness Stage Based on LED Light ReflectanceThe determination of the ripeness stage of cavendish bananas is usually done manually by comparing banana peels with a standard color chart. This has the disadvantage of being inconsistent and very subjective depending on the expertise of the operator. This research was conducted to obtain the results of the measurement of the ripeness stage of cavendish banana which is more accurate, easy and not destructive. The ripeness stage measurement of banana was based on the light reflectance factor, which were green light (500-560 nm), orange (580-610 nm), and red (600-650 nm) obtained from the LEDs. A spectrophotometer in the spectrum range 350-700 nm was used as a comparison in this study, with light sources coming from halogen lamps to be able to meet the wavelength range of the spectrophotometer. The best results were obtained from the measurement of reflectance values with red light, where the reflectance values were 30%-39%, 39%-49%, 49%-59%, 59%-67% and above 67% for the maturity level of 2, 3 , 4, 5 and 6. Testing using 71 samples at maturity level 2 to 6 resulted in a prediction of 55 correct (77%), 11 less mature one level (16%) and 5 more mature one level (7%). A scanning system on the entire surface of a banana peel or the using image of digital camera can also be done to improve the accuracy of the measurement results.
Ayu Dian Pratiwi P, Siti Nurdjanah, Tanto Pratondo Utomo
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 17, pp 117-125; doi:10.21082/jpasca.v17n2.2020.117-125

Abstract:
Pengolahan ubi kayu segar menjadi tepung merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi sifat fisiologis ubi kayu yang mempunyai umur simpan yang relatif singkat. Akan tetapi, pada umumnya tepung ubi kayu yang diproses secara tradisional dari gaplek memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan ini antara lain kurang mengembang pada tingkat proporsi yang tinggi, tekstur produk relatif keras, serta aroma apek (musty) ubi kayu kering yang terbentuk karena reaksi lanjut dari proses kerusakan fisiologi pasca panen saat penjemuran gaplek. Komponen aroma musty ini sering kali masih terbawa ketika diaplikasikan pada produk olahannya. Upaya untuk memperbaiki kualitas tepung umbi-umbian telah banyak dilakukan termasuk penggunaan panas. Blansing dalam air panas telah dilaporkan dapat memperbaiki kualitas produk kering berbasis hortikultur. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh perbedaan suhu dan lama blansing dalam terhadap sifat fisikokimia dan morfologi granula tepung ubi kayu. Metode blansing menggunakan air panas bersuhu 50C, 55C dan 60℃ selama 5 menit, 7,5 menit dan 10 menit sebelum pegeringan dan penepungan. Hasil penelitian menunjukkan suhu dan lama pemanasan berpengaruh terhadap sifat fisikokimia tepung ubi kayu. Semakin tinggi suhu dan semakin lama pemanasan menyebabkan penurunan kadar air, kadar abu, kadar amilosa, meningkatkan kelarutan dan swelling power, serta menyebabkan perubahan morfologi granula atau butiran tepung. Effect of Temperature and Heating Time During Blanching Process on Physicochemical and Morfologi Properties of Cassava FlourProcessing of fresh cassava into flour is one alternative to overcome the physiological properties of cassava which has a relatively short shelf life. However, in general, traditionally processed cassava flour has several disadvantages such as low dough development, less acceptable texture and flavor when used as main material in bakery products, as well as other food products. Many efforts to improve the quality of cassava flour have been carried out, including the use of heat treatments. Hot water pretreatment has been reported to be beneficial for improving quality of dried horticulture commodities. The purpose of this study was to evaluate the effect of temperature and length of blanching on physicochemical properties of cassava flour. The method was carried out by blanching cassava chip in hot water at 50C, 55C and 60℃ for 5,7,5 and 10 minutes before drying and milling. The results showed the temperature and duration of heating affected the physicochemical properties and granular morphology of cassava flour. The higher the temperature and the longer the blanching cause a decrease in water content, ash content, amylose content, increase solubility, increase swelling power, and slightly changed the granular structures.
Ahmad Ni’Matullah Al-Baarri , Heni Rizqiati, Mochammad Dicky Zulkharisma, Anang Mohamad Legowo, Ailsa Afra Mawarid, Widia Pangestika, Mulyana Hadipernata, Wisnu Broto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 129-136; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.129-136

Abstract:
Pencoklatan pada buah salak disebabkan oleh aktivitas enzim polifenol oksidase (PPO) yang bereaksi dengan oksigen menghasilkan o-kuinon yang membuat warna menjadi coklat, oleh karena itu adanya penghambatan kerja enzim PPO, dapat mencegah terjadinya warna coklat pada buah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi rebusan daun zaitun dalam rangka untuk mencegah terjadinya warna coklat yang dianalisis berdasarkan pada parameter penyertanya, yaitu warna, pH, gula terlarut, dan konduktivitas pada buah salak. Daun zaitun kering dilarutkan dalam air yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik berisi potongan salak. Sebagai kontrol, potongan salak disimpan dengan dan tanpa aquades. Pengamatan terhadap salak dilakukan sebanyak 7 kali selama 9 hari pada suhu kamar. Berdasarkan parameter warna, perlakuan zaitun mampu menahan warna lebih baik sebesar 28,17% pada nilai L*, 53,68% pada nilai a*, dan 27,19% pada nilai b*. pH salak dengan perlakuan zaitun dapat dijaga sehingga kenaikannya hanya sebesar 3,8% dan nilai konduktivitas hanya meningkat sebesar 18,5%. Pada parameter gula terlarut, perlakuan dengan zaitun dapat mempertahankan perubahannya sampai sebesar 4,29%. Kesimpulannya, perlakuan penambahan daun zaitun lebih baik dalam mempertahankan warna, derajat keasaman, konduktivitas dan gula terlarut pada buah salak daripada perlakuan dengan dan tanpa penambahan aquades. Application of Olive Leaves Extract (Olea europaea L.) in Vacuum Packaging to Prevent Browning on Salacca FruitBrowning occurs due to the activity of the polyphenol oxidase (PPO) enzyme that reacts with oxygen to produce O-quinone which causes the forming of brown color on fruit. One of the methods in preventing browning is the addition of antioxidant compounds from olive leaf. The purpose of this study was to determine the effect of addition olive leaf extract in the properties of color, pH, dissolved sugar, and conductivity in snake fruit with storage at room temperature. The snake fruit was cut into 1 g in size then was set with olive leaves extract in vacuum plastic container. The treatment was repeated 7 times and the storage was conducted for 9 days in room temperature. The contact with and without aquadest was also observed as control. The results indicated that the olive leaf treatment was able to hinder color changes by 28.17% in L*, while in a* and b* could be suppressed by 53.68 and 27.19%, respectively. On the pH, the increase could be suppressed by 3.8%, while on the conductivity and dissolved sugar could be inhibited by 18.5 and 4.29%, respectively. As conclusions, the addition of olive leaf was provided better effect to maintain the color, pH, conductivity, and dissolved sugar in snake fruit than those of with and without aquadest.
Priscillia Picauly, Gilian Tetelepta
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 110-115; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.110-115

Abstract:
Buah pisang Tongka Langit adalah salah satu jenis buah lokal di Maluku yang memiliki potensi yang baik untuk kesehatan namun umur simpannya pendek. Umur simpan buah dapat diperpanjang dengan menggunakan edible coating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pati ubi kayu yang terbaik dalam pelapisan buah pisang Tongka Langit, dan mengamati perubahan fisik dan kimia selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan konsentrasi pati ubi kayu (1%, 3%, dan 5%) dan ulangan sebanyak tiga kali. Data dianalisis dengan analisis ragam dan diuji lanjut dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Parameter yang diamati yaitu kekerasan, susut bobot, total padatan terlarut dan vitamin A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pati ubi kayu berpengaruh terhadap kekerasan, susut bobot, total padatan terlarut dan vitamin A. Pada penelitian ini, konsentrasi pati 3% yang terbaik karena mampu menghambat penurunan nilai kekerasan, kenaikan nilai susut bobot dan total padatan terlarut, serta mempertahankan nilai vitamin A sehingga dapat digunakan untuk memperpanjang umur simpan pisang Tongka Langit. The Effect of Cassava Starch Edibel Coating on Quality and Shelf Life of Tongka Langit BananaTongka Langit banana is one of the local fruit in Maluku which has a good potential for human health, however has short shelf life. Use of edible coating to extend the shelf life of fruit. The aim of this research was to find out the best coating for Tongka Langit banana used different concentration of cassava starch, and observed physical and chemical changes on banana Tongka Langit characteristics during storage. This study used Completely Randomized Design (CRD) with the cassava starch concentration (1%, 3%, 5%) as treatment and repeated three times. Data analyzed by analysis of variance (ANOVA) and tested signification by Tukey. The parameter observed during the storage were hardness, weight loss, total soluble solids, and vitamin A. The result showed that the concentration of cassava starch significantly affect on hardness, weight loss, total soluble solid, and vitamin A of Tongka Langit banana. The best in this research is cassava starch concentration 3% be able to inhibit decrease of hardness, increase of weight loss and total soluble solid, and integrity vitamin A value so it can be used to extend the shelf life of Tongka Langit banana.
Nurud Diniyah , Pradiska Gita Vindy Ganesha, Achmad Subagio
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 147-158; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.147-158

Abstract:
Peningkatan sifat fungsional pati dapat dilakukan dengan mengubah struktur pati menjadi lebih banyak pada bagian amorf dengan cara perlakuan fermentasi pada umbi singkong terlebih dahulu sehingga dihasilkan Mocaf. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik pati Mocaf dengan perlakuan panas dan pengaturan tingkat keasaman (pH) agar dapat digunaan dalam aplikasi yang lebih luas. Perlakuan dalam penelitian ini meliputi variasi suhu pemanasan (60, 70, 80, 90, dan 120 °C) dan pH (3, 4, 5, 6, dan 7) dan diulang sebanyak 3 kali dengan parameter pengukuran meliputi daya kembang, kelarutan, kekeruhan, viskositas pasta, bentuk granula pati, dan sineresis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu pemanasan mempengaruhi nilai daya kembang, kelarutan, viskositas, bentuk granula pati, dan sineresis Mocaf, tetapi menyebabkan penurunan tingkat kekeruhan. Sedangkan penambahan asam dapat mempengaruhi viskositas dan granula pati Mocaf. Effect of pH and Temperature Treatment on Physicochemical Properties of Mocaf (Modiffied Cassava Flour) The changes in the starch’s structure to amorphous can increase the functional characteristics of starch using the fermentation process of cassava to be known as Mocaf. The aim of this study was to determine the physicochemical properties of Mocaf’s starch due to temperature and pH processing. Treatment in this research including various of temperature (60, 70, 80, 90, and 120 °C) dan pH (3, 4, 5, 6, dan 7) in three replications with analysis of swelling power, solubility, viscosity, starch granule, and syneresis. The results of this study indicate that the heating temperature affects the value of swelling power, solubility, viscosity, starch granule, and syneresis of Mocaf, but it causes a decrease of Mocaf’s turbidity. The addition of acid may affect the viscosity and granules of Mocaf’s starch.
Andika Kuncoro Widagdo, Siti Hamidah
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 123-128; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.123-128

Abstract:
Daun kelor merupakan tanaman yang banyak ditemui di Indonesia. Tanaman ini mengandung banyak gizi, tetapi pemanfaatannya masih rendah. Agar gizi tersebut dapat dimanfaatkan maka perlu dilakukan inovasi makanan yang dapat diterima oleh masyarakat. Salah satu inovasi yang dipilih adalah samosa. Pemilihan hidangan tersebut dikarenakan rasa dari rempah dapat menutupi rasa dan aroma khas daun kelor. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui daya terima secara sensoris dan nilai gizi (energi dan ß-karoten) samosa. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 kali pengulangan pada 4 formula. Formula kontrol (F0) dan 3 formula modifikasi (F1,F2, dan F3), samosa diujikan kepada 50 panelis tidak terlatih dengan penambahan kelor sebesar 17,5%; 20% dan 22,5%. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann Whitney Test (a = 0,05). Analisis daya terima menunjukkan bahwa formula samosa daun kelor dapat diterima secara umum (rasa, aroma, tekstur, dan warna) dengan kategori suka (3) hanya pada formula F1 (penambahan daun kelor paling sedikit). Warna dan tekstur tidak berbeda nyata, sedangkan aroma berbeda nyata. Formula terbaik yang direkomendasikan yaitu F1 (daun kelor 17,5%) dengan kandungan zat gizi sebesar 164 kkal dan 604 mcg ß-karoten per 100 g. Received Power and Samosa Nutrition Substance with Addition Of Moringa olieferaMoringa leaves are plant parts that are commonly found in Indonesia. This plant contains high nutrients, but its use is still limited. To utilize these nutrients, it is necessary to innovate a food that accepted by the communities. One of the food was samosa, the choice of the dish was due to the taste of the spices that able to cover the flavor and aroma typical of moringa leaves. This research was carried out to determine the sensory reception and nutritional value (energy and ß-carotene) of samosa. The study was conducted using a completely randomized design (CRD) with six replicates on four formulas. Control formula (F0) and three modified samosas recipes (F1, F2, and F3), were tested to 50 untrained panelist with the addition of moringa were 17,5%; 20% and 22.5%. Data analysis used descriptive analysis and statistical analysis using the Kruskal Wallis test and Mann Whitney Test (a = 0.05). Analysis of acceptability indicate that samosa with F1 formula (the least addition of moringa leaves) was generally accepted (taste, aroma, texture, and color) with the category of the likes (3), Color and texture were not significantly different mean while aroma was significantly different. The best formula recommended is F1 (17,5% moringa leaves) with nutrient content of 164 kcal and 604 mcg ß-carotene per 100 g of samosa.
Back to Top Top