Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 02161192 / 25414054
Current Publisher: Jurnal Informatika Pertanian (10.21082)
Total articles ≅ 96
Filter:

Latest articles in this journal

Rahmawati Nurdjannah, Sarah Anita Apriliani, Sri Widowati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 106-114; doi:10.21082/jpasca.v15n2.2018.106-114

Abstract:Mayoritas masyarakat Indonesia menyukai beras dengan tekstur pulen yang memiliki kandungan amilosa rendah dan cenderung memiliki Indeks Glikemik (IG) tinggi. Respon glikemik beras selain dipengaruhi oleh sifat fisiko-kimianya, dipengaruhi juga oleh proses pengolahan, penyimpanan, ratio komponen amilosa dan amilopektin pada pangan, indeks gelatinisasi dan ukuran partikel pati, komponen pangan lain, dan asam-asam organik. Proses pratanak terbukti mampu menurunkan nilai indeks glikemik pada beras gabah kering giling (GKG), namun belum pernah dilakukan pada Gabah Kering Panen (GKP), bila dilihat dari kadar airnya dapat mempercepat proses perendaman,dan menghemat biaya produksi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-April 2016. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Litbang Pasca Panen. Bahan baku yang digunakan adalah GKP dan GKG dari varietas Inpari 24 (beras merah). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah bahan baku (GKP dan GKG) dan faktor kedua adalah lama perendaman (3 dan 4 jam). Parameter analisa yang dilakukan adalah mutu fisik beras, proksimat, serat pangan, gula total, pati, amilosa, daya cerna pati, serat kasar dan Indeks Glikemik. Hasil penelitian menunjukkan mutu fisik beras pra tanak dari bahan baku GKP yang direndam selama 4 jam memiliki kadar beras kepala yang lebih tinggi (92,86%) dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Beras pratanak yang berasal dari GKP dan GKG yang direndam selama 4 jam memiliki nilai Indeks Glikemik yang sama yaitu 62 yang lebih rendah dari bahan baku (IG GKP: 84, IG GKG: 72). Reducing Glycemic Index on Parboiled Rice with Raw Material from Freshly Harvested PaddyThe majority of Indonesian people liked the rice with a fluffier texture that has a low amylose content and tend to have the Glycemic Index (GI) high. Besides rice glycemic response is influenced by the physic-chemical properties, influenced also by the processing, storage, component ratio of amylose and amylopectin in food, gelatinization index and particle size starch. Parboiled process is proven to reduce the glycemic index value of dried paddy (DP), but it has never been done on wet paddy (WP). The study was conducted in February-April 2016. The research was conducted at the Laboratory of the Indonesian Center for Agricultural Postharvest Research and Development. The raw materials used are DHR and DMR of Inpari 24 (brown rice). The study was conducted on a laboratory scale with a completely randomized factorial design of three replications. The first factor is the raw material (DHR and DMR) and the second factor is the soaking time (3 and 4 hours). Parameter analysis performed is physical quality rice, proximate, dietary fiber, total sugar, starch, amylose, starch digestibility, crude fiber, color and the Glycemic Index. Results showed physical quality of rice parboiled of raw materials DHR soaked for 4 hours had levels higher head rice (92.86%) compared to...
Kun Tanti Dewandari, Gazali Sofwan, Herawan T
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 99-105; doi:10.21082/jpasca.v15n2.2018.99-105

Abstract:Salah satu bahan alam yang kaya akan antioksidan adalah minyak sawit merah seperti karoten, tokoferol dan tokotrienol. Enkapsulasi adalah suatu teknologi untuk melindungi komponen bioaktif (polifenol, mikronutrien, enzim, dan antioksidan) dari lingkungan yang merugikan dan untuk mengontrol rilis target yang dituju dengan menyalut menggunakan bahan tertentu. Tujuan penelitian ini menghasilkan beads kalsium alginat yang mengandung nanoemulsi minyak sawit merah serta karakterisasinya. Beads dihasilkan dengan metode gelasi ionik antara natrium lginat dengan penaut silang kalsium klorida. Variasi konsentrasi natrium alginate meliputi 1% (formula 1), 2% (formula 2), 3% (formula 3) dan 4% (formula 4). Beads yang dihasilkan untuk formula 1 dan 4 berbentuk tidak terlalu bulat cenderung gepeng dan berekor, sedangkan formula 2 dan 3 berbentuk bulat gepeng dan berwarna orange-orange tua. Ukuran rata- rata formula 1 dan 3 adalah sebesar 710-1180 μm, formula 2 dan 4 berturut-turut adalah 50:50 pada ukuran 500-710 dan 710-1180 μm dan >1180 μm. Kadar air beads yang dihasilkan berkisar antara 5%-10%. Beads yang dihasilkan kembali daya mengembang berturut- turut untuk formula 1dan 2, formula 3 dan 4 adalah 3 kali, 2,5 kali dan 1,5 kali dari bobot awal. Kandungan karoten dalam keempat formula yaitu, 9,802%, 2,462%, 1,106% dan 0,150%. Efisiensi penjerapan dari keempat formula yaitu 9,8005%, 2,461%, 1,108% dan 0,1485%. Pada uji pelepasan secara in vitro dalam medium asam klorida 0,1N pH 1,2 dan medium dapar fosfat pH 7,4 rata-rata karoten terlepas pada menit ke 15 sedangkan dapar fosfat pH 6 rata-rata karoten terlepas pada menit ke 30 dan 60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah formula I dengan kandungan karoten paling tinggi yaitu sebesar 9,802% Preparation And Characterization Of Calcium Alginate Beads Containing Red Palm Oil Nanoemulation (Elaeis Guineensis Jacq.) By Ionic Gelation MethodOne of the natural materials containing rich antioxidants is red palm oil such as carotenes, tocopherols and tocotrienols. Encapsulation is a technology used to protect a material by coating it using certain material. The objective of this study is to produce calcium alginate beads containing red palm oil nanoemultion and its characterization. The process of producing beads was by using ionic gelation method, with varying concentrations of sodium alginate 1% (formula 1), 2% (Formula 2), 3% (Formula 3) and 4% (formula 4), with cross-linker calcium chloride. The shapes of beads produced for formula 1 and 4 were not too round, tended to be flattened and caudate, while formula 2 and 3 were flattened round and dark orange. The average sizes of formula 1 and 3 were equal to 710-1180 μm, formula 2 and 4 were respectively 50:50 on the size of 500-710 and 710-1180 μm and > 1180 μm. The resulting beads water content ranged from 5% -10%. The expandig power of beads reproduced were repsectively formula 1 and 2, formula 3 and 4 were 3 times, 2.5 times...
Engki Zelpina, Trioso Purnawarman, Denny Widaya Lukman
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 73-79; doi:10.21082/jpasca.v15n2.2018.73-79

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi mengetahui keberadaan Salmonella sp. pada daging ayam suwir bubur serta rekomendasi agar aman dan layak untuk dikonsumsi. Penelitian ini merupakan kajian lapang cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pedagang bubur ayam yang berada (radius 100 meter) di lingkar kampus Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor. Penelitian dilakukan melalui wawancara, observasi, dan pengujian laboratorium. Sampel pada penelitian ini diambil dari 15 pedagang bubur ayam, setiap pedagang diambil sampel sebanyak 3 kali ulangan, total sampel adalah 45. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (fisher exact test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan keberadaan Salmonella enteretica serovars Enteritidis dalam daging ayam suwir bubur ayam sebanyak 6,66% (3/45) dan terdapat hubungan antara asal daging ayam dan keberadaan Salmonella Enteritidis. (p value=0,022 dan CC=0,577). This study was aims to conducted studies to determine the presence of Salmonella sp. in shredded chicken meat of chicken porridge and recommendations for safe for consumption. A cross sectional study approach was used in this study. The population in this study was all chicken porridge seller which located in radius of 100 m around of the campus area Bogor Agricultural University, Dramaga, Bogor. The research was done through interview, observation and laboratory examination. The samples in this study were 15 chicken porridge seller with repeated for three times and total number of samples were 45. The data were analyzed by univariat and bivariate (fisher exact test). The results of this study showed the presence of Salmonella Enteritidis in 6.66% (3/45) of shredded chicken meat chicken porridge and there was a relationship between the origin of chicken meat and the presence of Salmonella Enteritidis (p value = 0.022 and CC = 0.577).
Nfn Sarastuti, Usman Ahmad, Nfn Sutrisno
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 63-72; doi:10.21082/jpasca.v15n2.2018.63-72

Abstract:Regulasi mengenai komoditas beras yang ditetapkan oleh Pemerintah, yaitu Peraturan Menteri Perdagangan No:57/M-DAG/ PER/8/2017 tentang penetapan harga eceran tertinggi (HET) beras dan Peraturan Menteri Pertanian No.:31/Permentan/PP.130/8/2017 tentang standar mutu beras menjadi dasar pelaksanaaan kegiatan identifikasi mutu beras terhadap beras produksi gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan kelompok tani (Poktan) selaku Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM) dalam kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM). Kegiatan PUPM tersebut diselenggarakan pemerintah untuk stabilisasi harga dan pasokan beras melalui peran serta Toko Tani Indonesia Center (TTIC) sebagai lembaga distribusi beras kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kelas mutu beras yang dihasilkan LUPM dan mengevaluasi penanganan pascapanen padi di tingkat LUPM. Survey dilakukan terhadap enam responden dari populasi 80 LUPM pemasok beras ke TTIC. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi di lapangan, dan pengambilan contoh gabah dan beras berdasarkan metode SNI 19-0428-1998. Analisis mutu berdasarkan metode SNI 01-0224-1987 untuk gabah dan SNI 6128:2015 untuk beras giling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari enam beras yang diproduksi responden, tidak ada yang memenuhi persyaratan kelas mutu sesuai Peraturan Menteri Pertanian No.:31/Permentan/ PP.130/8/2017 karena kadar air yang tinggi, jumlah butir patah dan butir menir yang lebih tinggi, serta persentase beras kepala dan derajat sosoh yang lebih rendah dari persyaratan. Faktor-faktor kritis yang berpengaruh terhadap rendahnya mutu beras LUPM adalah penggunaan varietas padi jenis panjang dan ramping, metode perontokan cara gebot, kadar air gabah kering giling terlalu rendah (11.5-13.0%), ruang penyimpanan gabah lembab (RH udara 79-87%), penyimpanan gabah tanpa menggunakan alas, pengendalian mutu pengeringan dan penggilingan secara subyektif, dan teknologi mesin penggilingan padi yang masih sederhana. Analysis of rice quality and assurance system implementations in Society of Agrifood Bussiness Development ProgramRegulations on rice applied by the government, namely the Regulation of Minister of Trade No:57/M-DAG/PER/8/2017 about the highest selling price for milled rice, and the Regulation of Minister of Agriculture No:31/Permentan/PP.130/8/2017 about milled rice quality standard, has becoming legal aspects to identification of milled rice quality parameters to the rice produced by farmers group as a Society of Agrifood Bussiness Institution (LUPM) in a Society of Agrifood Bussiness Development (PUPM) program. This program held by the government for stabilization of price and supply of milled rice supported by Center of Indonesian Farmer Store (TTIC) as a distribution institution of milled rice to consumers. Te objectives of this study are to identify the quality of milled rice produced by LUPM and to evaluate the paddy postharvest handling in the LUPM. Survey was conducted on six...
Ira Mulyawanti, Tatang Hidayat, Nfn Risfaheri
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 91-98; doi:10.21082/jpasca.v15n2.2018.91-98

Abstract:Peningkatan mutu biji kakao non fermentasi dilakukan melalui proses fermentasi menggunakan starter kering dan dua jenis fermentor, yaitu tipe kotak dan rotary drum. Biji kakao non fermentasi dibasahkan terlebih dahulu dengan direndam dalam air selama 2-3 jam, kemudian ditiriskan dan ditambah substrat yang terdiri atas fruktosa:glukosa:sukrosa:asam sitrat dengan perbandingan 62 : 41 : 32 : 22,5, ditambahkan starter kering sebanyak 3% kemudian difermentasi menggunakan kotak fermentasi, fermentor rotary drum dengan pengaturan suhu dan tanpa pengaturan suhu. Penggunaan kotak fermentasi dan fermentor rotary drum menunjukkan adanya proses fermentasi yang diindikasikan dengan terjadinya peningkatan suhu dan pH. Namun, pembentukan flavor hasil fermentasi menggunakan kotak fermentasi menunjukkan hasil yang terbaik. Kandungan asam asetat diperoleh paling tinggi melalui proses fermentasi menggunakan kotak fermentasi, begitu pula komponen volatil flavor penting lainnya seperti senyawa alkohol lebih banyak ditemui dari proses fermentasi menggunakan kotak fermentasi dibandingkan dengan rotary drum. The Influences of Fermentor Type on Quality of Dried Unfermented Cocoa BeanIncreasing the quality of unfermented cocoa beans was done through fermentation process using dry starter and fermenter type rotary drum. Non fermented cocoa beans are soaked in water for 2-3 hours, then drained and added substrate consisting of fructose: glucose: sucrose: citric acid with ratio of 62: 41: 32: 22,5, added 3% dried starter then fermented using fermentation box, rotary drum fermenter 41°C and without temperature setting. The use of fermentation box and fermenter rotary drum indicate the existence of fermentation process indicated by the increase of temperature and pH. However, the formation of fermented flavor using fermentation box showed the best results. Acetic acid content was obtained by fermentation process using fermentation box, as well as other important volatile flavor components such as alcohol compounds found mostly from fermentation process using fermentation box compared with rotary drum.
Nurud Diniyah, Achmad Subagio, Riri Nur Lutfian Sari, Nugraha Yuwana
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 80-90; doi:10.21082/jpasca.v15n2.2018.80-90

Abstract:Singkong varietas manis (Cimanggu) dan pahit (Kaspro) dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan MOCAF. Ekstraksi pati MOCAF dapat dipengaruhi oleh lama fermentasi dan varietas singkong. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perbedaan lama fermentasi terhadap sifat fungsional pati dari MOCAF dengan dua varietas singkong Kaspro dan Cimanggu. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal yaitu lama fermentasi (0, 12, 24 jam) dan varietas sebagai kelompoknya (Cimanggu dan Kaspro) dengan 3 kali ulangan. Parameter yang dianalisis yaitu sifat fisik (densitas kamba dan warna), sifat kimia (kadar protein, lemak, abu dan karbohidrat) serta sifat fungsional pati MOCAF (swelling power, solubilitas, daya serap air dan daya serap minyak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi 24 jam dari singkong varietas Kaspro memiliki nilai tertinggi yaitu bulk density 0,7505±0,0158 (g/mL), swelling power 7,4516±0,1185 (g/g), solubility 1,9294±0,2456 (%), water absorption capacity (WAC) 12,0000±1,0000 (mL/g) dan oil absorption capacity (OAC) 17,6667±0,5774 (mL/g), lightness 89,9433±0,1079 dan whitness index 85,9113±0,0821 serta kadar protein, lemak, abu dan karbohidrat berturut-turut (0,6094±0,04; 0,3666±0,12; 0,1849±0,03 dan 86,0125±0,42 %). Penggunaan varietas yang berbeda sebagai bahan baku MOCAF, menunjukkan hasil bahwa singkong dengan kadar sianida tinggi juga memiliki pati lebih tinggi (Kaspro), memiliki sifat fungsional (bulk density, swelling power, solubility, WAC, OAC) yang lebih baik sehingga dapat digunakan untuk keperluan dunia industri yang lebih luas. Functional Properties of Starch MOCAF (Modified Cassava Flour) from Cassava Variety Kaspro and CimangguCassava from sweet (Cimanggu) and bitter (Kaspro) varieties can be used as raw material to produced MOCAF. MOCAF’s starch extraction can be influenced by time of fermentation and variety of cassava. The aim of this research is to determine the effect of time fermentation on the functional properties of MOCAF starch which made from two varieties of cassava (Kaspro and Cimanggu). Randomized Block Design (RAK) with the single factor, time of fermentation (0, 12, 24 hours) and varieties as its group (Cimanggu and Kaspro) with triplicate was used in this research. The physical properties ( bulk density, colour), chemical properties (protein, fat, ash and carbohydrate) and functional properties of MOCAF starch (swelling power, solubility, water absorption capacity and oil absorption capacity) were evaluated. The result showed that Kaspro variety and time of fermentation 24 hour had the highest value of bulk density 0,7505±0,0158 (g/mL), swelling power 7,4516±0,1185 (g/g), solubility 1,9294±0,2456 (%), WAC 12,0000±1,0000 (mL/g) dan OAC 17,6667±0,5774 (mL/g), lightness 89,9433±0,1079, whiteness index 85,9113±0,0821, protein, fat, ash and carbohydrate content respectively 0,6094±0,04; 0,3666±0,12; 0,1849±0,03 and...
M.App.Sc Nfn Setyadjit, Nfn Risfaheri, Aisya Ayu Handayani
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 25-35; doi:10.21082/jpasca.v15n1.2018.25-35

Abstract:Bawang merah utuh in brine adalah bawang merah segar yang diawetkan dalam larutan garam, asam atau keduanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi NaCl, asam sitrat, serta waktu pasteurisasi yang optimum dalam proses pembuatan bawang merah utuh in brine. Optimasi ini dilakukan dengan metode Response Surface Methodology (RSM), didapatkan 18 variasi konsentrasi NaCl, asam sitrat, dan lama pemanasan yang kemudian dihasilkan satu formula proses optimum. Parameter respon analisis meliputi aktivitas antioksidan metode DPPH, total antosianin, kecerahan warna, kadar keasaman (pH), angka lempeng total (ALT)), aktivitas air (Aw), volatile substances dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan 10% NaCl, 1% asam sitrat, dan lama pemanasan 20 menit merupakan formula yang optimum.. Dengan perlakuan tersebut bawaang merah utuh in brine memiliki pH 3,38, aktivitas air 1,0, TPT 15,4 °Brix, ALT 45,45 x 10² CFU/g, chroma chromatic)15.9, aktivitas antioksidan 191,841 ppm dengan persentase inhibisi 66.905%, total antosianin 23.83 ppm, dan volatil Substance 4701 ppm.Optimation of Producing Whole Shallot (Allium ascalonicum L) in Brine.The whole shallot in brine is fresh shallot preserved in a salt solution. The purpose of this research was to determine the optimum concentration of NaCl, citric acid and time of pasteurisation to get the optimum product, This optimation was done using Response Surface Methodology (RSM) DX7 tool programme. DX7 formulated 18 variation of NaCl, citric acid, time of pasteurization, after processing data one optimum formula was obtained. Parameters measured were antioxidant as DPPH, anthocyanin content, color, pH, total plate count, water activity and total soluble solid. The results showed that the addition of 10% salt, 1% citric acid, and 20 minutes of heating time was the optimal formula,. With this treatment the whole shallot in brine has a pH value of 3.38, a water activity of 1.0 TPT 15.4 ° Brix, ALT 45.45 x 10² CFU / g, Chromameter (chromatic) 15.9, antioxidant activity 191.841 ppm with 66.905% inhibition percentage, 23.83 ppm anthocyanin and VS 4701
Nfn Mardison, Usman Ahmad, Nfn Sutrisno, Slamet Widodo
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 43-51; doi:10.21082/jpasca.v15n1.2018.43-51

Abstract:Teknologi non-destruktif seperti penggunaan gelombang ultra-violet (UV) dapat dijadikan sebagai alternatif dalam menentukan kualitas beras sosoh. Pengembangan metode pengukuran dan karakterisasi beras sosoh berdasarkan absorbansi spektrumnya pada daerah UV sangat berpotensi dalam evaluasi kualitas beras secara non-destruktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis spektrum absorbansi UV pada beberapa varietas beras dengan tingkat penyosohan bervariasi dan menentukan hubungan derajat sosoh beras varietas Ciherang dengan spektrum absorbansi UV dari larutan beras dalam pelarut n-heksana. Larutan beras dibuat dengan pelarut n-heksana dengan perlakuan waktu perendaman dan konsentrasi n-heksana, kemudian dilakukan pengukuran absorbansi larutan pada spektrum UV, dan terakhir dilakukan analisis terhadap absorbansi larutan, dalam hubungannya dengan derajat sosoh. Sebelum analisis absorbansi pada spektrum UV dilakukan, didahului dengan dua pra-pengolahan data yaitu derivatif pertama dan normalisasi. Hasil analisis adalah karakteristik spektra untuk enam varietas beras yang diuji memiliki profil dan pola absorbansi pada spektrum UV dan hubungannya dengan dengan derajat sosoh beras varietas Ciherang adalah dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.927. Dari penelitian ini didapatkan metode persiapan sampel terbaik dengan waktu perendaman 2-3 jam, dan dengan konsentrasi larutan beras dalam pelarut n-heksanasebesar 43.3% absorbansi pada spektrum UV paling besar terjadi pada panjang gelombang 330-335 nm. Non-destructive technology such as the use of ultra-violet (UV) waves can be used as an alternative in determining the quality of milled riceThe development of method of measuring and characterizing milled rice based on the absorbance of spectra in the UV area is highly potential in milled rice quality evaluation non-destructively. This study aims to analyze the spectrum of UV absorbance for some rice varieties with varying degree of milling and determining relation degree of milling for ciherang rice varieties with the absorption on UV area of rice solution in n-hexane solvent. The rice solution was prepared with n-hexane solvent by treatment of immersion time and n-hexane concentration, then measured the absorbance of the solution on the UV spectrum, and finally analyzed the absorbance of the solution, in relation to the rice degree of milling. Prior to the analysis of absorbance on the UV spectrum, by two pre-processing data, first derivative and data normalization were performed. The results of the analysis are spectral characteristics for the six rice varieties tested were absorbance profile and pattern on the UV spectrum and its relation with the degree of milling for ciherang rice varieties with the correlation coefficient value (r) of 0.927. It was observed from this research the best sample preparation method was that with 2-3 hours of soaking time, and the concentration of rice solution in 43.3% n-hexane solvent, resulted maximum...
Nofa Andriastuti Dewi Hartono, Nfn Sutrisno, Emmy Darmawati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 52-62; doi:10.21082/jpasca.v15n1.2018.52-62

Abstract:Belimbing merupakan buah tropikal dengan bentuk dan rasa yang unik, serta kandungan gizi yang baik. Belimbing banyak kita jumpai pada pedagang kaki lima (PKL) di pinggir jalan raya, dimana belimbing mudah tercemar oleh bahan berbahaya dan penurunan mutu yang lebih cepat. Timbal (Pb) yang terdapat dalam asap kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber pencemar yang berdampak buruk bagi kesehatan. Terkait hal tersebut, pengemasan menjadi penting untuk menjaga mutu buahan yang di jual di PKL. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh jenis kemasan dan lama pemajangan terhadap resiko cemaran Pb dan penurunan mutu, mengkaji pengaruh pencucian belimbing kontrol (tanpa kemasan) dalam mengurangi residu Pb, dan memilih jenis kemasan terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu jenis kemasan dan lama pemajangan. Jenis kemasan yang digunakan styrofoam+plastik tcstretch, plastik stretch, polipropilen dan polietilen. Belimbing dipajang selama 10 (sepuluh) hari pada display PKL. Dari penelitian ini didapatkan bahwa residu Pb pada belimbing kontrol (tanpa kemasan) mulai terdeteksi pada hari ke-4 yaitu 0.058 mg/kg, sedangkan belimbing yang dikemas residu Pb masih dibawah batas penetapan alat AAS (< 0.05 mg/kg). Pencucian dapat mengurangi residu Pb pada belimbing yang tidak dikemas sebesar 52.36%. Berdasarkan hasil pengukuran parameter mutu dan skor evaluasi tingkat kepentingan atribut mutu menunjukkan bahwa polipropilen merupakan kemasan terbaik. Packaging for Reduce the Risk of Lead (Pb) Contamination and Quality Degradation on Fruit Street Vendors Sales SystemStar fruit is a tropical fruit which has a unique shape and taste and also tnutritious. Star fruit are ussually marketed in many vendors along the busy streets in big cities, where star fruit is easily contaminated by hazardous materials and quickly degradation of fruit quality. Lead (Pb) contained in motor vehicle fumes is one of pollution source which adverse effect onon human health. Fruit packaging is vitalvital to maintaininging the quality of fruits on the street vendors. The objectives of this research are toze analyze the effects of the type of packaging and the time display to the level contamination of Pb and quality degradation, to zeanalyze theimpact impact of washing treatment to reduce the residue of Pb in unpackaged star fruit, and also to chosed the best packaging type of star fruit. The experimental design used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) with twotwo factorss, these are the type of packaging and the time of display. Star fruit displayed for 10 (ten) days on street of vendors. Types of packaging used are styrofoam+tcstretch plastic, stretch plastic, polypropylene and polyethylene. Pb residue during display at street vendors on star fruit control (unpacked) began to be able to detect on the 4th day and accounted of 0.058 mg/kg, while Pb for star fruit packed was still below the Atomic Absorption...
Widodo Suwito, Nfn Andriani, Felisitas Kristiyanti, Erna Winarti
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 36-42; doi:10.21082/jpasca.v15n1.2018.36-42

Abstract:Susu kambing dan produk olahannya dapat terkontaminasi E. coli O157:H7 dan Salmonella sp. Tujuan penelitian ini untuk isolasi dan identifikasi E. coli O157:H7, Salmonella sp, dan sensitifitasnya terhadap antibiotika dari susu kambing dan produk olahannya. Sebanyak 15 sampel susu kambing dan produk olahannya seperti susu bubuk, permen, es krim, yogurt, dan krupuk masing-masing sebanyak 10, 3, 6, 4, dan 3 sampel. Semua sampel diperiksa terhadap E. coli O157:H7, dan Salmonella sp berdasarkan reaksi biokimia. Jumlah E. coli pada semua sampel dihitung dengan most probable number (MPN), sedangkan sensitifitas terhadap antibiotika dengan agar difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa susu kambing dan produk olahannya tidak ditemukan E. coli O157:H7 dan Salmonella sp., tetapi E. coli non O157:H7 ditemukan pada susu kambing sebanyak 3/15 (20%) dengan jumlah >6 MPN/100ml. Semua produk olahan susu kambing memiliki jumlah E. coli <3 MPN/100ml. E. coli dari susu kambing resisten terhadap cefiksime, kanamisin, tetrasiklin, sulfonamide, dan oksitetrasiklin masing-masing sebanyak 1/3 (30%), sedangkan ampisilin dan amoksilin 100%. Goat milk and dairy products could be contaminated with E. coli O157:H7 and Salmonella sp.The purpose of this study was to isolation and identification of E. coli O157:H7, Salmonella sp, and antibiotic sensitivity from goat milk and dairy products. A total of 15 samples from goat milk and dairy products such as milk powder, candy, ice cream, yogurt, and crackers respectively 10, 3, 6, 4, and 3 samples. All samples were analyzed for E. coli O157: H7, and Salmonella sp with biochemical reaction. Total of E. coli in all samples was measured with most probable number (MPN) and antibiotic sensitivity with diffusion agar. These study showed that goat milk and dairy products not found E. coli O157:H7 and Salmonella sp., whereas E. coli non O157:H7 was found in goat milk 3/15 (20%) with total E. coli >6 MPN/100ml. All dairy goat products have total E. coli <3 MPN/100ml. E. coli from goat milk was resistant to cefixime, kanamycin, tetracycline, sulfonamide, and oxytetracycline 1/3 (30%) respectively, but ampicillin and amoxicillin 100%.