Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian

Journal Information
ISSN / EISSN : 02161192 / 25414054
Current Publisher: Jurnal Informatika Pertanian (10.21082)
Total articles ≅ 115
Filter:

Latest articles in this journal

Isti Handayani, Nfn Sujiman
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 137-146; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.137-146

Abstract:
Kesumba (Bixa orellana L.) telah digunakan sebagai pewarna alami di banyak industri, tetapi penggunaan dalam makanan tradisional Indonesia belum banyak digunakan. Penelitian ini mengkaji aplikasi ekstrak kesumba sebagai sumber pewarna dan antioksidan alami pada getuk singkong. Ekstraksi dilakukan dengan metode sokletasi menggunakan tiga jenis pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh jenis pelarut dan konsentrasi ekstrak kesumba terhadap warna, total karotenoid, total fenol dan FFA getuk singkong. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi adalah heksana (non polar), kloroform (semi-polar) dan etanol (polar) pada konsentrasi ekstrak 1%; 2%; dan 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak heksana 3% yang diukur menggunakan kamus warna Munsell dan secara sensorik menghasilkan warna oranye dengan nilai Hue: 7.5 YR (Yellow Red = merah kekuningan); Value: 7, dan kroma: 10, serta menghasilkan tingkat kesukaan paling tinggi. Peningkatan konsentrasi ekstrak yang ditambahkan menghasilkan peningkatan kroma (intensitas warna). Kadar karotenoid tertinggi (0,33 mg / g), dihasilkan pada penambahan ekstrak heksana 2% dan kadar fenol total tertinggi (38,95 mg / 100 g) dihasilkan ekstrak heksana 3%. Asam lemak bebas terendah (0,15%) dihasilkan pada penambahan ekstrak heksana 1% walaupun tidak ada bedanya dengan penambahan ekstrak kloroform 1%. Application of Kesumba Extract (Bixa orellanna. L)as Anaural Colorant and Antioxidant in Cassava GetukKesumba (Bixa orellana L.) has been used as natural colourant in many industries. However its usage for Indonesian tranditional foods is still limeted. This study examined aplication of kesumba extract as natural colourant as well as antioxidants sources on getuk cassava. The extraction was performed throught soxhletation method using three types of solvents. This research aimed to evaluate the influence of solvent types and concentrations of the extract to colour, total carotenoid, total phenol and FFA of getuk cassava. This research was designed using a randomized block design (RBD). Solvents used for extraction were hexane (non polar), chloroform (semi-polar) and ethanol (polar) and the concentration of the extracts 1%; 2%; and 3%. The results showed that 3% of hexane, measured using the Munsell Color resulted in an orange colour (hue: 7,5 YR; value: 7, chroma:10), as well as sensory test, which obtained the most preference by the panelists. Increasing the extract concentration yielded in enhance of chroma (colour intensity). The 2% of hexane extract produced the highest levels of carotenoids (0.33 mg/g), while the highest levels of total phenols (38.95 mg/100 g) was treated from 3% of hexane extract. The lowest of free fatty acids (0.15%) was obtained at 1% of hexane extract although no differentces to 1% of chloroform extract.
Nurud Diniyah, Pradiska Gita Vindy Ganesha, Achmad Subagio
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 147-158; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.147-158

Abstract:
Peningkatan sifat fungsional pati dapat dilakukan dengan mengubah struktur pati menjadi lebih banyak pada bagian amorf dengan cara perlakuan fermentasi pada umbi singkong terlebih dahulu sehingga dihasilkan Mocaf. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik pati Mocaf dengan perlakuan panas dan pengaturan tingkat keasaman (pH) agar dapat digunaan dalam aplikasi yang lebih luas. Perlakuan dalam penelitian ini meliputi variasi suhu pemanasan (60, 70, 80, 90, dan 120 °C) dan pH (3, 4, 5, 6, dan 7) dan diulang sebanyak 3 kali dengan parameter pengukuran meliputi daya kembang, kelarutan, kekeruhan, viskositas pasta, bentuk granula pati, dan sineresis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu pemanasan mempengaruhi nilai daya kembang, kelarutan, viskositas, bentuk granula pati, dan sineresis Mocaf, tetapi menyebabkan penurunan tingkat kekeruhan. Sedangkan penambahan asam dapat mempengaruhi viskositas dan granula pati Mocaf. Effect of pH and Temperature Treatment on Physicochemical Properties of Mocaf (Modiffied Cassava Flour) The changes in the starch’s structure to amorphous can increase the functional characteristics of starch using the fermentation process of cassava to be known as Mocaf. The aim of this study was to determine the physicochemical properties of Mocaf’s starch due to temperature and pH processing. Treatment in this research including various of temperature (60, 70, 80, 90, and 120 °C) dan pH (3, 4, 5, 6, dan 7) in three replications with analysis of swelling power, solubility, viscosity, starch granule, and syneresis. The results of this study indicate that the heating temperature affects the value of swelling power, solubility, viscosity, starch granule, and syneresis of Mocaf, but it causes a decrease of Mocaf’s turbidity. The addition of acid may affect the viscosity and granules of Mocaf’s starch.
Ahmad Nimatullah Al-Baarri, Heni Rizqiati, Mochammad Dicky Zulkharisma, Anang Mohamad Legowo, Ailsa Afra Mawarid, Widia Pangestika, Mulyana Hadipernata, Wisnu Broto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 129-136; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.129-136

Abstract:
Pencoklatan pada buah salak disebabkan oleh aktivitas enzim polifenol oksidase (PPO) yang bereaksi dengan oksigen menghasilkan o-kuinon yang membuat warna menjadi coklat, oleh karena itu adanya penghambatan kerja enzim PPO, dapat mencegah terjadinya warna coklat pada buah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi rebusan daun zaitun dalam rangka untuk mencegah terjadinya warna coklat yang dianalisis berdasarkan pada parameter penyertanya, yaitu warna, pH, gula terlarut, dan konduktivitas pada buah salak. Daun zaitun kering dilarutkan dalam air yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik berisi potongan salak. Sebagai kontrol, potongan salak disimpan dengan dan tanpa aquades. Pengamatan terhadap salak dilakukan sebanyak 7 kali selama 9 hari pada suhu kamar. Berdasarkan parameter warna, perlakuan zaitun mampu menahan warna lebih baik sebesar 28,17% pada nilai L*, 53,68% pada nilai a*, dan 27,19% pada nilai b*. pH salak dengan perlakuan zaitun dapat dijaga sehingga kenaikannya hanya sebesar 3,8% dan nilai konduktivitas hanya meningkat sebesar 18,5%. Pada parameter gula terlarut, perlakuan dengan zaitun dapat mempertahankan perubahannya sampai sebesar 4,29%. Kesimpulannya, perlakuan penambahan daun zaitun lebih baik dalam mempertahankan warna, derajat keasaman, konduktivitas dan gula terlarut pada buah salak daripada perlakuan dengan dan tanpa penambahan aquades. Application of Olive Leaves Extract (Olea europaea L.) in Vacuum Packaging to Prevent Browning on Salacca FruitBrowning occurs due to the activity of the polyphenol oxidase (PPO) enzyme that reacts with oxygen to produce O-quinone which causes the forming of brown color on fruit. One of the methods in preventing browning is the addition of antioxidant compounds from olive leaf. The purpose of this study was to determine the effect of addition olive leaf extract in the properties of color, pH, dissolved sugar, and conductivity in snake fruit with storage at room temperature. The snake fruit was cut into 1 g in size then was set with olive leaves extract in vacuum plastic container. The treatment was repeated 7 times and the storage was conducted for 9 days in room temperature. The contact with and without aquadest was also observed as control. The results indicated that the olive leaf treatment was able to hinder color changes by 28.17% in L*, while in a* and b* could be suppressed by 53.68 and 27.19%, respectively. On the pH, the increase could be suppressed by 3.8%, while on the conductivity and dissolved sugar could be inhibited by 18.5 and 4.29%, respectively. As conclusions, the addition of olive leaf was provided better effect to maintain the color, pH, conductivity, and dissolved sugar in snake fruit than those of with and without aquadest.
Andika Kuncoro Widagdo, Siti Hamidah
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 123-128; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.123-128

Abstract:
Daun kelor merupakan tanaman yang banyak ditemui di Indonesia. Tanaman ini mengandung banyak gizi, tetapi pemanfaatannya masih rendah. Agar gizi tersebut dapat dimanfaatkan maka perlu dilakukan inovasi makanan yang dapat diterima oleh masyarakat. Salah satu inovasi yang dipilih adalah samosa. Pemilihan hidangan tersebut dikarenakan rasa dari rempah dapat menutupi rasa dan aroma khas daun kelor. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui daya terima secara sensoris dan nilai gizi (energi dan ß-karoten) samosa. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 kali pengulangan pada 4 formula. Formula kontrol (F0) dan 3 formula modifikasi (F1,F2, dan F3), samosa diujikan kepada 50 panelis tidak terlatih dengan penambahan kelor sebesar 17,5%; 20% dan 22,5%. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann Whitney Test (a = 0,05). Analisis daya terima menunjukkan bahwa formula samosa daun kelor dapat diterima secara umum (rasa, aroma, tekstur, dan warna) dengan kategori suka (3) hanya pada formula F1 (penambahan daun kelor paling sedikit). Warna dan tekstur tidak berbeda nyata, sedangkan aroma berbeda nyata. Formula terbaik yang direkomendasikan yaitu F1 (daun kelor 17,5%) dengan kandungan zat gizi sebesar 164 kkal dan 604 mcg ß-karoten per 100 g. Received Power and Samosa Nutrition Substance with Addition Of Moringa olieferaMoringa leaves are plant parts that are commonly found in Indonesia. This plant contains high nutrients, but its use is still limited. To utilize these nutrients, it is necessary to innovate a food that accepted by the communities. One of the food was samosa, the choice of the dish was due to the taste of the spices that able to cover the flavor and aroma typical of moringa leaves. This research was carried out to determine the sensory reception and nutritional value (energy and ß-carotene) of samosa. The study was conducted using a completely randomized design (CRD) with six replicates on four formulas. Control formula (F0) and three modified samosas recipes (F1, F2, and F3), were tested to 50 untrained panelist with the addition of moringa were 17,5%; 20% and 22.5%. Data analysis used descriptive analysis and statistical analysis using the Kruskal Wallis test and Mann Whitney Test (a = 0.05). Analysis of acceptability indicate that samosa with F1 formula (the least addition of moringa leaves) was generally accepted (taste, aroma, texture, and color) with the category of the likes (3), Color and texture were not significantly different mean while aroma was significantly different. The best formula recommended is F1 (17,5% moringa leaves) with nutrient content of 164 kcal and 604 mcg ß-carotene per 100 g of samosa.
Priscillia Picauly, Gilian Tetelepta
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 110-115; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.110-115

Abstract:
Buah pisang Tongka Langit adalah salah satu jenis buah lokal di Maluku yang memiliki potensi yang baik untuk kesehatan namun umur simpannya pendek. Umur simpan buah dapat diperpanjang dengan menggunakan edible coating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pati ubi kayu yang terbaik dalam pelapisan buah pisang Tongka Langit, dan mengamati perubahan fisik dan kimia selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan konsentrasi pati ubi kayu (1%, 3%, dan 5%) dan ulangan sebanyak tiga kali. Data dianalisis dengan analisis ragam dan diuji lanjut dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Parameter yang diamati yaitu kekerasan, susut bobot, total padatan terlarut dan vitamin A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pati ubi kayu berpengaruh terhadap kekerasan, susut bobot, total padatan terlarut dan vitamin A. Pada penelitian ini, konsentrasi pati 3% yang terbaik karena mampu menghambat penurunan nilai kekerasan, kenaikan nilai susut bobot dan total padatan terlarut, serta mempertahankan nilai vitamin A sehingga dapat digunakan untuk memperpanjang umur simpan pisang Tongka Langit. The Effect of Cassava Starch Edibel Coating on Quality and Shelf Life of Tongka Langit BananaTongka Langit banana is one of the local fruit in Maluku which has a good potential for human health, however has short shelf life. Use of edible coating to extend the shelf life of fruit. The aim of this research was to find out the best coating for Tongka Langit banana used different concentration of cassava starch, and observed physical and chemical changes on banana Tongka Langit characteristics during storage. This study used Completely Randomized Design (CRD) with the cassava starch concentration (1%, 3%, 5%) as treatment and repeated three times. Data analyzed by analysis of variance (ANOVA) and tested signification by Tukey. The parameter observed during the storage were hardness, weight loss, total soluble solids, and vitamin A. The result showed that the concentration of cassava starch significantly affect on hardness, weight loss, total soluble solid, and vitamin A of Tongka Langit banana. The best in this research is cassava starch concentration 3% be able to inhibit decrease of hardness, increase of weight loss and total soluble solid, and integrity vitamin A value so it can be used to extend the shelf life of Tongka Langit banana.
Nurhayati Hamzah, Nfn Assrorudin
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 116-122; doi:10.21082/jpasca.v16n3.2019.116-122

Abstract:
Buah pisang nipah termasuk buah klimakterik yang pematangannya akan berlangsung cepat jika disimpan pada suhu ruang. Penyimpanan suhu rendah merupakan salah satu teknik memperpanjang umur simpan buah pisang namun dapat menyebabkan kerusakan berupa pencokelatan kulit buah yang dikenal sebagai salah satu gejala chilling injury. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh pengukusan dalam menurunkan gejala chilling injury serta mempertahankan mutu buah pisang nipah yang disimpan pada suhu rendah. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari pengukusan pada suhu 42oC selama 15 menit, 48oC selama 10 menit, 100oC selama 30 detik dan tanpa pengukusan. Parameter pengamatan terdiri dari indeks chilling injury, susut bobot, kekerasan buah dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pengukusan dapat mengurangi gejala chilling injury dan dapat mempertahankan buah pisang selama 15 hari penyimpanan. Pengukusan pada suhu 100oC selama 30 detik merupakan perlakuan terbaik. Perlakuan pengukusan tidak menurunkan kandungan total padatan terlarut dan berpengaruh tidak nyata terhadap peningkatan susut bobot serta penurunan kekerasan buah pisang nipah. Steaming to Reduce the Symptoms of Chilling Injury and Maintaining Quality of Banana CV. NipahNipah banana is a kind of climacteric fruit which is the ripening can be faster if its storage at room temperature. Low temperature storage is a way to prolong shelf-life but can caused peel browning, known as chilling injury symptom. This study was aiming to get information about steaming decreased chilling injury symptom and maintaining nipah banana quality at low temperature. The experiment was arranged in a randomized complete design with 4 treatments and 3 replication. Nipah bananas were steamed at 42oC 15 minutes, 48oC 10 minutes, 100oC 30 seconds and unsteamed. Chilling injury index, weight lost, firmnes and total soluble solid were measured. The result showed that steaming treatments decreased chilling injury symptom and maintained Nipah banana until 15 days storage. Steaming on 100oC,30 seconds was more effective to alleviate chilling injury symptom than others. No significant effect were found on weight loss, firmness and total soluble solid.
Ari Satmoko, Hyundianto Arif Gunawan, Bonang Sigit Trenggono, Nfn Mujiono
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 15, pp 155-163; doi:10.21082/jpasca.v15n3.2018.155-163

Abstract:
Iradiator gamma, yang diberi nama iriradiator Merah Putih, telah selesai dibangun dan diisi dengan sumber Cobalt-60 dengan kapasitas sekitar 300 kCi. Dirancang untuk multiguna, iriadiator ini harus dapat menyediakan berbagai dosis serap dari rendah hingga tinggi. Sistem kontrol mengijinkan 4 opsi kombinasi rak-rak sumber dengan opsi aktivitas terkceil adalah 41,2 kCi. Di dalam bungker, produk akan menjalani mekanisme laluan iradiasi dengan tujuan agar mendapatkan dosis serap iradiasi yang beragam. Bungker menyediakan 72 posisi iradiasi. Di setiap posisi iradiasi, gerakan produk dapat dihentikan untuk jeda waktu tertentu menyesuaikan dosis serap iradiasi yang diinginkan. Waktu minimum bagi produk menyelesaikan menkanisme laluan iradiasi adalah 78,5 menit. Pengujian dosis dosimetri menunjukkan bahwa laju dosis serap opsi pengoperasiaan aktivitas sumber terkecil adalah 0,22 kGy per jam. Rasio Dmaks/Dmin bergantung pada densitas produk. Untuk densitas 0,2, 0,4, dan 0,6 g/cm3, rasio keseragaman dosis masing-masing adalah 1,54, 1,65, dan 1,71. Kombinasi karakterisasi mekanik dan dosimetri mengantarkan pada dosis serap minimum yang mungkin diperoleh sebesar 0,29 kGy. Dengan batasan minimum ini, segala tujuan iradiasi yang membutuhkan lebih besar dari dosis tersebut sangat dimungkinkan menggunakan iradiator Merah Putih seperti untuk karantina buah segar, pengawetan biji-biji serelia, buah-buahan kering, dan lain-lain. Permasalahan kapasitas produk juga menjadi bahan pertimbangan. Kapasitas produksi iradiasi bergantung berbagai parameter seperti dosis serap iradiasi yang diinginkan dan densitas produk, serta parameter operasional lainnya. Jika dibutuhkan dosis serap iradiasi Gy dan densitas produk 0,4 gr/cm3, maka kapasitas produksinya adalah 3,17 ton/jam atau 76 ton/hari. Kapasitas dapat berubah bila parameter iradiator juga berubah. Characterisation and Potential use of Irradiator Red and White for Handling Food Product Agricultural.A gamma irrdiator called Irradiator Merah Putih, has been contructed and loaded with Cobalt-60 sources having a total activity of about 300 kCi. Designed for multipurposes, the irriditor should be able to provide low-to-high absorbed doses. The control system allows 4 options for combination of source racks with the smallest activity option is 41.2 kCi. Inside the irridiator bunker, the product to be irradiated will undergo an irridiation source pass mechanism in order to obetain uniform irradition absorbed dose. The bunker provides as many as 72 irradiation positions. At its position, the product maybe stopped for certain period of delight adjusting the desired irradition dose. The minimum time for the product to complete the source pass mechanism is 78.5 minutes. The dosimetry test showed that the absorbed dose rate for the smallest source activy operation was 0.22 kGy/hr. The Dmax/Dmin ratio depend on the product densitiy. For densities 0.2, 0.4, and 0.6 g/cm3, the dose uniformity ratios were respectively 1.54, 1.65, and 1.71. The combination of both mechanical and dosimetry characterization leads to a minimum absorbed dose of 0.29 kGy. With this minimum restriction, any irradiation objective requiring greater than that dose is posible using the irradiator Merah Putih such as for fresh fruit, quarantine, presservation of ceral grains, dried fruits,and others. The irradiator’s throughput is also considered. The irradiation capasity depends on various parameters such as the desired irradiation absorbed dose and the density of thr product as well as other operational paramters. If a 400 Gy of irradiation of absorbed dose is required for a product with the density of 0.4 g/cm3, its production capacity is about 3.17 ton/h or 76 ton/day. The capasity may change when irradiator operational parameters are also change.
Doddy A Darmajana, Novianti Wulandari, Rima Kumalasari, Ade Chandra Irwansyah
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 47-55; doi:10.21082/jpasca.v16n1.2019.47-55

Abstract:
Cookies adalah camilan selingan praktis yang menjadi pilihan masyarakat saat ini dengan rasa yang manis, gurih seimbang, dan memiliki nilai fungsional bagi kesehatan. Rebung merupakan tunas muda bambu yang memiliki manfaat bagi kesehatan akan tetapi, semua rebung mengandung HCN (asam sianida) yang merupakan senyawa beracun dengan konsentrasi beragam. Tujuan penelitian ini adalah mensubstitusi sebagian tepung terigu dengan tepung rebung dalam formula pembuatan cookies. Manfaat penelitian untuk diversifikasi produk olahan pangan lokal dan diharapkan menambah alternatif olahan pangan lokal dan meningkatkan nilai ekonomis rebung. Metode penelitian menggunakan eksperimental dengan rancangan percobaan acak lengkap dengan perlakuan prosentase substitusi tepung rebung dan suhu pemanggangan. Hasil penelitian menunjukkan kadar HCN pada tepung rebung tanpa perebusan sebesar 29.0621 ppm, dengan perebusan 20 menit sebesar 4,86 ppm, dan perebusan 40 menit sebsar 4,32 ppm. Nilai IC50 pada tepung rebung tanpa perebusan sebesar 597,7900 ppm, dengan perebusan 20 menit sebesar 2495,7371 ppm, dan perebusan 40 menit sebsar 4644,2749 ppm. Tepung rebung dengan waktu 20 menit digunakan sebagai tepung dalam penelitian selanjutnya. Waktu pemanggangan cookies rebung berpengaruh terhadap respon organoleptik dan kadar air cookies. Waaktu pemanggangan yang digunakan adalah 10 menit, 12 menit, dan 15 menit. Waktu pemanggan cookies rebung terpilih berdasarkan respon organoleptik dan kadar air adalah waktu pemanggangan 10 menit berdasarkan respon organoleptik (rasa manis, warna cokelat, kerenyahan, aroma, dan after taste pahit) dan kadar air sebesar 3,4606. Influence of Ratio of Bambooshoot Flour (Dendrocalamus asper) and Wheat Flour on The Chemical Characteristics and Sensory Characteristics of CookiesThe aims of this research are to determine the influence of the ratio of bamboo shoot flour with wheat flour to the chemical and sensorycharacteristics of cookies. The research method uses experimental methods, completely randomized design with one treatment, namely the ratio of bamboo shoot flour with wheat flour. Ratio of bamboo shoot flour and wheat flour consists of 3 levels, namely: 1:2, 2: 1 and 3: 1. All experimental unit data averaged three replications. The experimental results of HCN levels showed that bamboo shoots without boiling flour were 29.0621 ppm, with boiling of 20 minutes of 4.86 ppm, and boiling of 40 minutes of 4.32 ppm. While the results of the flour composition experiment showed that the ratio of bamboo shoot flour and wheat flour significantly affected the water content, ash, protein, fat and crude fiber content of cookies made. The higher the level of bamboo shoot flour(3:1), the higher the ash content of cookies(2,53%), the lower the level of protein cookies(5,46%), the lower the fat content of cookies(19,17%), and the higher the level of crude fiber cookies(13,80%).Ratioof bamboo shoot flour and wheat flour significantly affected the sensory properties of bamboo shoot cookies.
Mukhammad Fauzi, Nfn Giyarto, Triana Lindriati, Hema Paramashinta
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 34-46; doi:10.21082/jpasca.v16n1.2019.34-46

Abstract:
Flake dapat dibuat dari tepung jagung, dicampur dengan tepung kacang hijau dan labu kuning LA3. Kombinasi yang tepat antara tepung jagung, tepung kacang hijau dan labu kuning LA3 dapat menghasilkan flake dengan nilai gizi yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan formulasi terbaik dalam pembuatan flake berbahan tepung jagung, tepung kacang hijau dan labu kuning LA3. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal, yaitu rasio tepung jagung, tepung kacang hijau dan labu kuning LA3 berturut-turut, (80:15:5; 70:20:10; 60:25:15; 50:30:20 dan 40:35:25), dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi tepung jagung, tepung kacang hijau dan labu kuning LA3 berpengaruh terhadap warna, tekstur, daya rehidrasi, betakaroten dan kadar air flake yang dihasilkan. Berdasarkan uji efektifitas dari penelitinan ini, proporsi flake terbaik diperoleh pada perlakuan P3 yaitu flake dengan variasi tepung jagung 60%, tepung kacang hijau 25% dan labu kuning LA3 15% dengan nilai lightness 62,38, tekstur 347,34 g/mm, daya rehidrasi 30,79%, betakaroten 1,94 mg/100g, kadar air 3,11%, kadar abu 2,4%, kadar protein 8,71%, kadar lemak 8,45%, karbohidrat 77,59%, total energi 421,25 kkal/100gram, nilai kesukaan warna 3,64 (netral hingga suka), nilai kesukaan tekstur 4,08 (suka), nilai kesukaan rasa 3,60 (netral hingga suka), nilai kesukaan aroma 3,64 (netral hingga suka) dan nilai kesukaan keseluruhan 4,20 (suka hingga sangat suka).Physicochemical and Organoleptic Characteristics of Flake Made from Corn (Zea mays L.), Mung Bean (Phaseolus radiatus) and Yellow Pumpkin LA3 (Cucurbita moschata) Flour.Flake can be made from corn flour (source of carbohydrate), mixed with mung bean flour (source of protein) and yellow pumpkin LA3 (source of vitamins). The best combination of corn flour, mung bean flour and yellow pumpkin LA3 can produce flake with good nutrition. The aim of the research was to characteristic and best ratio of flake made from corn corn flour, mung bean flour and yellow pumpkin LA3. This research was conducted using Completely Randomized Design (CRD) single factors with ratio of corn corn flour, mung bean flour and yellow pumpkin LA3 (80:15:5; 70:20:10; 60:25:15; 50:30:20 and 40:35:25), and repeated thrice each parameters. The results revealed that the proportions of corn flour, mung bean flour and yellow pumpkin LA3 influenced the color, texture, rehydration power, beta-carotene and water level of the resulting flake. Based on the effectiveness test of this research, the best flake proportion was obtained in P3 treatment that was flake with the variations of corn flour 60%, mung bean flour 25% and yellow pumpkin LA3 15%, had a lightness value of 62.38, texture of 347.34 g/mm, rehydration power of 30.79%, beta-carotene of 1.94 mg/100g, water level of 3.11%, ash content of 2.4%, protein content of 8.71%, fat content of 8.45 %, carbohydrate of 77.59%, total energy of 421.25 kcal/100gram, color preference value of 3.64 (neutral up to like), texture preference value of 4.08 (like), taste preference value of 3.60 (neutral up to like), aroma preference value of 3.64 (neutral up to like) and the whole preference value of 4.20 (like up to very like).
Nfn Misgiyarta, Anas Miftah Fauzi, Khaswar Syamsu, S Joni Munarso
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, Volume 16, pp 19-27; doi:10.21082/jpasca.v16n1.2019.19-27

Abstract:
Kualitas biji kakao fermentasi rendah karena kualitas starter mikroba untuk fermentasi biji kakao rendah. Seleksi starter mikroba diperlukan untuk mendapatkan starter yang unggul. Ada dua jenis starter, yaitu starter cair dan starter kering. Starter cair banyak digunakan untuk fermentasi biji kakao. Starter yang diuji adalah starter cair, yaitu starter Inoka, starter cair BB-Pasca, dan starter yoghurt. Seleksi starter mikroba dilakukan dengan memfermentasi pulp biji kakao selama 24 jam pada berbagai suhu fermentasi (20oC, 30oC, dan 40oC). Parameter yang diamati adalah jumlah total mikroba, laju pertumbuhan mikroba starter, tingkat konsumsi gula pereduksi oleh mikroba starter, total asam yang diproduksi, tingkat penurunan pH, dan peningkatan suhu fermentasi serta korelasi antara parameter pengamatan penelitian. Starter cair unggul yang terpilih adalah starter cair Inoka. Karakteristik starter Inoka adalah memiliki tingkat laju pertumbuhan μ = 0.470, konsumsi gula pereduksi oleh mikroba starter 12%, peningkatan asam total 7%, penurunan pH 5,2, dan peningkatan suhu fermentasi 1,56oC serta korelasi antara parameter penelitian di atas 0,61. Selection of Superior Liquid Starters for Cocoa Beans FermentationThe quality of fermented cocoa beans varies because the microbial starter for fermented cocoa beans varies. The selection of starter is needed to get a superior starter. The starter tested is a liquid starter, that is the Inoka starter, the BB-Pasca liquid starter, the yoghurt. The selection of starter is done by fermenting cocoa bean pulp for 24 hours at various fermentation temperatures (20oC, 30oC and 40oC). The parameters observed were total microbial count, microbial growth rate of starter, consumption of reducing sugars by starter microbes, total acid produced, decrease of pH, and increase of fermentation temperature and the correlation between the parameters of the study. The selected superior liquid starter is the Inoka liquid starter. The characteristics of Inoka starter are to have a growth rate of μ = 0.470, consumption of reducing sugars by starter microbes 12%, total acid increase of 7%, decrease in pH 5.2, and increase in fermentation temperature of 1.56oC and correlation between research parameters above 0.61.
Back to Top Top