Jurnal Akuakultur Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 1412-5269 / 2354-6700
Published by: Jurnal Akuakultur Indonesia (10.19027)
Total articles ≅ 453
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Taufik Shidik Adi Nugroho Shidik, Julie Ekasari, Dedi Jusadi, Mia Setiawati
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 148-162; https://doi.org/10.19027/jai.20.2.148-162

Abstract:
Cultivation of Moina sp is still constrained by its quality, productivity, and sustainability. The alternative solution is the use of cultivation media materials that have high nutritional content and easily available in large quantities to support the quality and productivity of Moina sp. and meet the needs of live feed. The objective of the study was to evaluate the effect of various culture medium on the productivity and nutritional quality of Moina sp.. Five culture media were tested in laboratory scale, i.e. organic ingredient (BO), Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + organic ingredients (ChBO), biofloc (BF) and biofloc + organic ingredients (BFBO). While in mass scale, four culture media were tested, i.e. Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Organic Ingredients (ChBO), Biofloc (BF) and Biofloc + Organic Ingredients (BFBO). The peaks of Moina sp. density in different treatments were achieved in different days. ChBO treatments significantly had higher productivity (P<0.05). The highest protein content was found in Moina sp. cultured with ChBO media, even higher than artemia. Moina sp. cultured with Chlorella sp. (Ch) showed the highest PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acids) contents, while the highest MUFA (mono unsaturated fatty acids) contents was obtained from Moina sp. cultured with BFBO media lower than artemia. The study results indicates that different culture media produces different productivity and nutrient quality of Moina sp. The organic material combination of Chlorella sp. + organic material (ChBO) was the best media to improve the productivity and protein quality of Moina sp. Keywords : Biofloc, Chlorella sp., Moina sp., organic matter, productivity, quality ABSTRAK Budidaya Moina sp. masih terkendala pada kualitas, produktivitas dan kestabilan dalam ketersediaannya. Untuk itu diperlukan penggunaan bahan media budidaya yang memiliki kandungan nutrisi tinggi dan mudah didapat dalam jumlah banyak untuk mendukung kualitas dan produktivitas Moina sp. demi memenuhi kebutuhan pakan hidup. Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi pengaruh berbagai media budidaya terhadap produktivitas dan kualitas nutrisi Moina sp. Lima media kultur yang diuji dalam penelitian laboratorium yaitu Bahan Organik (BO), Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Bahan Organik (ChBO), Bioflok (BF) dan Bioflok + Bahan Organik (BFBO). Sedangkan pada penelitian skala massal diuji empat media kultur yaitu Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Bahan Organik (ChBO), Bioflok (BF) dan Bioflok + Bahan Organik (BFBO). Puncak kepadatan Moina sp. pada tiap perlakuan dicapai pada hari yang berbeda. Perlakuan ChBO memiliki produktivitas yang lebih tinggi (P<0,05). Kandungan protein Moina sp. tertinggi ditemukan pada media ChBO dan bahkan lebih tinggi dari pada artemia. Moina sp. yang dibudidayakan dengan Chlorella sp. (Ch), menunjukkan kandungan PUFA tertinggi, sedangkan kandungan MUFA yang tertinggi terdapat pada Moina sp. yang dibudidayakan dengan bahan media BFBO namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan pada artemia. Hasil penelitian menunjukkan media kultur yang berbeda menghasilkan produktivitas dan kualitas nutrisi moina yang berbeda. Kombinasi bahan organik Chlorella + bahan organik (ChBO) merupakan media terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas nutrisi terutama protein Moina sp. Kata kunci : Bioflok, Chlorella sp., Moina sp., bahan organik, produktivitas, kualitas
Jefry Jefry, Mia Setiawati, Dedi Jusadi, Ichsan Achmad Fauzi
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 139-147; https://doi.org/10.19027/jai.20.2.139-147

Abstract:
This study was aimed to evaluate the utilization of hydrolyzed Indigofera zolingeriana by celullase enzyme as the feed ingredient of gourami fish. This study used a completely randomized design which contained three steps, whereas each step contained four treatments and four replications. The first step performed by evaluating the Indigofera leaf meal (ILM) added with cellulase enzyme of 0 g/kg (control), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, and 1.2 g/kg. The second step was the digestibility test of ILM on gourami seeds. The third step was feed evaluation added with ILM as much as 0% (control), 15%, 30%, and 45% against the growth performance on gourami seeds. The gourami seeds used in the second and third steps with a weight of 13.65 ± 0.39 g/seed and 5.95 ± 0.15 g/seed, respectively. The addition of 0.8 g/kg and 1.2 g/kg cellulase enzyme could significantly decrease the crude fiber of ILM with 43.33%, besides having the best value of total, ingredient, protein, lipid, and energy digestibility. The growth performance of gourami seeds given 15% ILM added feed had the best value and insignificantly different from the control feed without ILM addition based on the specific growth rate (SGR), protein retention (PR), and feed efficiency (FE). Keywords: Cellulase, feed, hydrolyze, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan daun Indigofera zolingeriana yang dihidrolisis enzim selulase sebagai bahan baku pada pakan benih ikan gurami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga tahap, dimana masing-masing tahap terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Pada tahap pertama dilakukan evaluasi tepung daun Indigofera (TDI) yang ditambahkan enzim selulase sebesar 0 g/kg (kontrol), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, dan 1.2 g/kg. Pada tahap kedua dilakukan uji kecernaan bahan TDI pada benih ikan gurami. Pada tahap ketiga dilakukan evaluasi pakan yang ditambahkan TDI sebesar 0% (kontrol), 15%, 30% dan 45% terhadap kinerja pertumbuhan pada benih ikan gurami. Benih ikan gurami yang digunakan pada penilitian tahap kedua dengan bobot 13.65 ± 0.39 g/ekor dan 5.95 ± 0.15 g/ekor. Penambahan enzim selulase pada dosis 0.8 g/kg dan 1.2 g/kg secara signifikan mampu menurunkan serat kasar TDI sebesar 43.33 % dan memberikan nilai terbaik terhadap nilai kecernaan total, kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi. Kinerja pertumbuhan benih ikan gurami yang diberikan pakan yang ditambahkan TDI sebesar 15% memilki nilai terbaik dan tidak berbeda nyata terhadap pakan kontrol tanpa TDI dari aspek laju pertumbuhan spesifik (LPS), retensi protein (RP) dan efisiensi pakan (EP). Kata kunci: Hidrolisis, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy, pakan, selulase.
Sarmila, Susilawati Susilawati, Sri Warastuti
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 174-180; https://doi.org/10.19027/jai.20.2.174-180

Abstract:
The purpose of this study was to determine the best percentage of artificial feed substitution for growth and survival rate of giant-snakehead. This study used a completely randomized design (CRD) with 4 levels of artificial feed substitution dose treatment, namely 25%, 50%, 75%, 100%, and control (without artificial substitution). The feed used in the form of fresh trash fish mixed with artificial feed FF-999 with a protein content of 35%. The results showed that the control treatment (100% trash fish) gave the best survival rate and spesific growth rate of 75% and 2.12%/day, respectively. Meanwhile, the percentage of artificial feed substitution treatment which gave the best survival rate and specific growth rate was found in the substitution percentage treatment of 25% artificial feed with a survival rate of 66.67% and a daily weight growth rate of 1.89%/day. Substitution of 100% artificial feed caused death with a 0% survival rate. Keywords: artificial feed, feed substitution, giant-snakehead, survival rate, growth ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menentukan persentase substitusi pakan buatan yang terbaik untuk laju pertumbuhan, dan tingkat kelangsungan hidup ikan toman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan 4 level dosis substitusi pakan buatan yaitu 25%, 50%, 75% dan 100% serta 1 kontrol (tanpa substitusi pakan buatan). Pakan yang digunakan berupa ikan rucah segar dicampur dengan pakan buatan berupa pellet dengan merk FF-999 berkadar protein 35%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kontrol (100% ikan rucah) memberikan tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan berat harian terbaik masing-masing sebesar 75% dan 2.12%/hari. Sementara untuk perlakuan persentase substitusi pakan buatan yang memberikan tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan terbaik terdapat pada perlakuan persentase substitusi sebesar 25% pakan buatan dengan tingkat kelangsungan hidup 66.67% dan laju pertumbuhan berat harian 1.89%/hari. Substitusi 100% pakan buatan menyebabkan kematian dengan tingkat kelangsungan hidup 0%. Kata kunci: ikan toman, kelangsungan hidup, laju pertumbuhan, pakan buatan, substitusi pakan.
Dodi Hermawan, Muhammad Agus Suprayudi, Dedi Jusadi, Alimuddin Alimuddin, Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 115-129; https://doi.org/10.19027/jai.20.2.115-129

Abstract:
This study was aimed to evaluate the use of corn steep powder (CSP) as a plant protein source in Oreochromis niloticus diet. A commercial feed with 28% protein content and 368 kcal/g energy was used as reference diet, while the test feed consisting of various CSP content, namely 0%, 10%, 20%, and 30% and feed containing soybean meal (SBM) at the level of 20% and 30%. Tilapia were used in the trial with the initial body weight of 6.44 ± 0.29 g, and reared for thirty days in the aquarium at the density of fifteen and fed 3 times daily at a satiation level. All diets were supplied by 0.5% of Cr2O3 as an indicator for digestibility measurement. This study applied the completely randomized design experimental method containing six diet treatments and four replications. The result showed that CSP contains 40.27% protein, 26.10% lactic acid, and minerals. CSP is low in crude fiber and anti-nutritional factors. This study results that increasing the level of CSP significantly decreased feed acidity (P <0.05) compared to the control. The addition of CSP 20% increased feed digestibility including protein, lipid, energy, and dry matter digestibility. CSP 20% treatment increased final body weight, specific growth rate and reduced feed conversion ratio significantly (P<0.05) compare to other treatments. In conclusion, CSP can be used up to 20% to improve the growth performance of tilapia. Keyword: corn steep powder, feed digestibility, growth performance, tilapia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan corn steep powder (CSP) sebagai sumber protein nabati pada pakan ikan nila Oreochromis niloticus. Pakan komersial dengan kadar protein 28% dan energi 368 kkal/g digunakan sebagai pakan acuan, sementara pakan uji terdiri atas pakan dengan kandungan CSP sebanyak 0% (CSP0), 10% (CSP10), 20% (CSP20) dan 30% (CSP30) serta pakan dengan kandungan tepung bungkil kedelai (SBM) pada level 20% (SBM20) dan 30% (SBM30) sebagai pembanding. Penambahan Cr2O3 0,5 % diberikan sebagai indikator untuk mengukur kecernaan. Ikan nila dengan bobot tubuh rata-rata 6.44 ± 0.29 dipelihara dalam akuarium (95×45×45 cm3) yang diisi air 100 L dengan kepadatan 15 ekor per akuarium dan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation selama 30 hari masa pemeliharaan. Penelitian ini menggunakan desain rancangan acak lengkap dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSP mengandung protein sebesar 40,27%, asam laktat 26,10%, beberapa mineral dan indeks asam amino esensial 0,90. CSP juga rendah serat kasar dan zat antinutrisi. Peningkatan dosis CSP menurunkan pH pakan secara signifikan (P<0.05) dibandingkan dengan kontrol. Penambahan CSP sampai level 20% meningkatkan nilai kecernaan total, kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi. Di samping itu, perlakuan CSP 20% meningkatkan bobot akhir, laju pertumbuhan harian dan rasio konversi pakan yang signifikan (P<0,05) dibandingkan perlakuan lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian CSP 20% dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila. Kata kunci: corn steep powder, kecernaan pakan, pertumbuhan, ikan nila
Giri Maruto Darmawangsa, Muhammad Agus Suprayudi, Nurbambang Priyo Utomo, Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 130-138; https://doi.org/10.19027/jai.20.2.130-138

Abstract:
This study aimed to evaluate the effect of organic selenium supplementation on diet with different protein levels on the growth performance and protein utilization of African catfish juvenile. A randomized 2×3 factorial design with two dietary protein levels (27% and 32%) and three dietary selenium (Se) supplementation levels (0 mg/kg, 3 mg/kg, and 6 mg/kg diet) in triplicates were applied in the study. African catfish juvenile with an initial average body weight and body length of 27.00 ± 0.14 g and 15.0 ± 0.5 cm, respectively, was reared in 18 units of aquarium (141 L) at a density of 142 fish/m3 for a rearing period of 40 days. Increasing organic Se supplementation level up to 6 mg/kg at high protein feed resulted in higher fish growth and final biomass, lower FCR, and higher protein utilization efficiency than those of other treatments. Furthermore, supplementation of organic Se also resulted in lower lipid and higher Se concentrations in the fish body as well as higher blood protein level compared to those of the control. In conclusion, the result of this study suggested that dietary supplementation of organic Se up to 6 mg/kg could enhance the growth and protein utilization in African catfish fed with both low and high protein diet. Keywords: African catfish, growth, dietary protein, protein utilization, organic selenium. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh suplementasi selenium organik pada pakan dengan kadar protein yang berbeda terhadap kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan protein pakan ikan lele Clarias gariepenus. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 2×3 dengan dua tingkat protein pakan (27% dan 32%) dan tiga tingkat suplementasi selenium (Se) pakan (0 mg/kg, 3 mg/kg, dan 6 mg/kg diet) sebanyak tiga ulangan. Ikan lele yang digunakan memiliki bobot awal rata-rata dan panjang tubuh 27 ± 0.14 g dan 15.0 ± 0.5 cm, dipelihara dalam 18 unit akuarium (141 L) dengan kepadatan 142 ekor/m3 selama 40 hari pemeliharaan. Peningkatan suplementasi Se organik hingga 6 mg/kg pada ikan yang diberi pakan protein tinggi menghasilkan kinerja pertumbuhan ikan dan biomassa akhir yang lebih tinggi, FCR yang lebih rendah, dan efisiensi pemanfaatan protein pakan yang lebih tinggi daripada perlakuan lain. Selain itu, suplementasi Se organik juga menghasilkan kadar lemak yang lebih rendah dan konsentrasi Se tubuh yang lebih tinggi serta kadar protein darah yang lebih tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu suplementasi Se organik pada pakan hingga 6 mg/kg dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan protein pakan pada ikan lele yang diberi pakan dengan kadar protein rendah dan tinggi. Kata kunci: ikan lele, pertumbuhan, protein pakan, pemanfaatan protein, selenium organik.
Erni Susanti, Dinamella Wahjuningrum, Sri Nuryati, Mia Setiawati
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 163-173; https://doi.org/10.19027/jai.20.2.163-173

Abstract:
Striped catfish Pangasianodon hypophthalamus is one of the intensive cultured commodities. Disease outbreak becomes inevitable to prevent in a fish culture. One of the most frequent disease occurred in striped catfish is the motile aeromonas septicemia (MAS) disease caused by Aeromonas hydrophila. This study aimed to evaluate the effectiveness of 1% dietary cinnamon powder and 0.5% dietary cinnamon leaf extract on the immune response of striped catfish challenged with A. hydrophila. Striped catfish used in this study sizing of 5.80 ± 0.21 g. This study contained two phases, namely in vitro and in vivo tests. In vitro test contained inhibition zone and antibacterial tests, which demonstrates that 1% cinnamon powder and 0.5% cinnamon leaf extract are effective to inhibit A. hydrophila activity. In vivo test contained four treatments, i.e fish fed with 1% cinnamon leaf powder supplemented diet; 0.5% cinnamon leaf extract supplemented diet, positive control diet, and negative control diet. Each treatment was performed in three replications. The result showed that 1% cinnamon leaf powder supplemented diet obtained the best results to enhance the immune response of striped catfish higher survival rate value at 83.33% than the positive control diet (P<0.05). Keywords: Aeromonas hydrophila, Cinnamomum burmannii, extract, Pangasianodon hypophthalmus, powder. ABSTRAK Ikan patin Pangasianodon hypophthalamus termasuk komoditas yang banyak dibudidayakan secara intensif. Kendala budidaya seperti penyakit pun sulit untuk dihindari. Salah satu jenis penyakit yang kerap menyerang ikan patin yaitu penyakit MAS (motile aermomonad septicaemia) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas 1% (w/w) tepung dan 0,5% (w/w) ekstrak daun kayu manis dalam pakan sebagai upaya pencegahan infeksi bakteri A. hydrophila pada ikan patin. Ikan patin yang digunakan berukuran 5,80 ± 0,21 g. Penelitian ini terdiri dua tahap yaitu uji in vitro dan uji in vivo. Hasil uji in vitro terhadap aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa dosis 1% (w/w) tepung daun kayu manis dan 0.5% (w/w) ekstrak daun kayu manis efektif dalam menghambat pertumbuhan A. hydrophila. Uji in vivo terdiri atas empat perlakuan yaitu pemberian pakan dengan penambahan tepung daun kayu manis 1% (w/w), pemberian pakan dengan penambahan ekstrak daun kayu manis 0,5% (w/w), kontrol positif, dan kontrol negatif dengan masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 1% (w/w) tepung daun kayu manis dalam pakan memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan respons imun ikan patin dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 83,33% lebih tinggi dibandingkan kontrol positif (P<0,05). Kata kunci: Aeromonas hydrophila, Cinnamomum burmannii, ekstrak, Pangasianodon hypophthalmus, tepung
Aris Sando Hamzah, Kukuh Nirmala, Eddy Supriyono, Irzal Effendi
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 14-23; https://doi.org/10.19027/jai.20.1.14-23

Abstract:
Suhu dan salinitas merupakan parameter kualitas air yang berperan penting terhadap proses fisiologis siput mata bulan (T. chrysostomus) sehingga berdampak terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pengaruh suhu dan salinitas terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva siput mata bulan (T. chrysostomus). Stadia pre-torsion veliger dicapai sekitar 11 jam 36 menit setelah fertilisasi atau sekitar 3 jam setelah trocophor. Stadia post-torsion veliger awal ditandai dengan cangkang yang telah terbentuk sempurna dan pada post-torsion veliger akhir, larva sudah mengembangkan operkulum, kaki, dan propodium. Hasil pengamatan menunjukan bahwa perlakuan A1B3 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir tercepat yaitu masing-masing 19 jam 36 menit dan 22 jam 36 menit setelah pembuahan. Sedangkan perlakuan A1B1 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir terlama yaitu masing-masing 20 jam 30 menit dan 23 jam 25 menit setelah pembuahan. Suhu tidak berpengaruh nyata sedangkan salinitas berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan harian larva siput mata bulan. Laju pertumbuhan harian tertinggi pada suhu 27±0.5oC (A1) tercatat pada perlakuan B3 dan menunjukan nilai yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan B2. Suhu dan salinitas memberikan pengaruh yang signifikan namun interaksi keduanya tidak menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup larva siput mata bulan. Perlakuan A1B3 memberikan persentase tingkat kelangsungan hidup tertinggi dan tidak menunjukan nilai yang berbeda nyata dengan perlakuan A1B2. Parameter kualitas air yang diperoleh masih mendukung performa larva siput mata bulan hingga mencapai stadia juvenil.
Andhika Rakhmanda, Agung Pribadi, Parjiyo Parjiyo, Bobby Indra Gunawan Wibisono
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 56-64; https://doi.org/10.19027/jai.20.1.56-64

Abstract:
This research aimed to evaluate the production performance of white shrimp Litopenaeus vannamei with super-intensive culture on different rearing densities. The research was conducted at PT. Dewi Laut Aquaculture, Cikelet, Garut, West Java. As many of 8 ponds were used and divided into 2 groups based on the stock density of shrimp, 550 ind/m2 and 650 ind/m2, and reared for 99 days. The results showed that super-intensive shrimp culture at the density of 550–650 ind/m2 potentially produced shrimp with average body weight ranged from 15.91–19.31 g, survival rate 62.67–87.95%, growth 0.16 to 0.20 g/day, FCR 1.35–1.66, and productivity reach 5.55–9.19 kg/m2. There were no significant differences between the two stocking densities in body weight, growth, and feed conversion performance, while ponds with higher rearing density had better survival and productivity than ponds with lower rearing density. L. vannamei cultured at a density of 650 ind/m2 produces the best performance and most feasible to be applied in super-intensive white shrimp cultivation. Keywords: Litopenaeus vannamei, super-intensive, high-density, production performance ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja produksi udang vaname pada sistem super- intensif dengan padat penebaran berbeda. Penelitian dilaksanakan di tambak PT. Dewi Laut Aquaculture, Cikelet, Garut, Jawa Barat, menggunakan 8 petak tambak. Tambak dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 4 petak tambak dengan padat tebar udang 550 ekor/m2 dan 4 petak tambak lainnya dengan padat tebar 650 ekor/m2 dengan masa pemeliharaan 99 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya udang vaname pada sistem super-intensif dengan padat tebar 550–650 ekor/m2 dapat menghasilkan udang dengan bobot rata-rata berkisar antara 15.91–19.31 g, sintasan 62.67–87.95%, pertumbuhan 0.16–0.20 g/hari, konversi pakan (FCR) 1.35–1.66, dan produktivitas mencapai 5.55–9.19 kg/m2. Tidak ada perbedaan nyata antara kedua padat penebaran pada kinerja bobot, pertumbuhan harian, dan FCR; sementara tambak dengan kepadatan tinggi memiliki nilai sintasan dan produktivitas yang lebih tinggi dari tambak dengan kepadatan rendah. Padat penebaran 650 ekor/m2 menghasilkan kinerja produksi terbaik dan paling layak untuk diaplikasikan dalam budidaya udang vaname super-intensif. Kata kunci : Litopenaeus vannamei, padat tebar tinggi, super-intensif, kinerja produksi
Sumitro, Tatag Budiardi, Hilmi Fauzi, Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 82-92; https://doi.org/10.19027/jai.20.1.82-92

Abstract:
This study aimed to evaluate the production performance and nitrogen and phosphorus mass balance of biofloc-based intensive African catfish Clarias gariepinus culture at different densities. African catfish with an average body weight of 2.64 ± 0.06 g was randomly distributed into 12 units of round tank with a working volume of 2 m3 of water and maintained for 8 weeks. A completely randomized experimental design with four treatments (in triplicates), i.e. a control treatment at a fish density of 500 fish m-3 with regular water exchange and without organic carbon source addition, and biofloc treatments (BFT) at three different densities, i.e. 500 fish m-3 (BFT500), 750 fish m-3 (BFT750), and 1000 fish m-3 (BFT1000). Biofloc systems were performed with a regular addition of tapioca flour (40% C). The production performance between biofloc system and the control was not significantly different, however water and nitrogen utilizations were significantly more efficient in biofloc system than those of the control. The highest fish specific growth rate was observed in BFT1000 and BFT500 (6.01% day-1 and 5.96% day-1, respectively) (P<0.05). Fish density significantly affected the fish growth performance and productivity in biofloc systems, but not nitrogen and phosphorus utilizations. In conclusion, higher fish density significantly increased the production and water utilization efficiency in biofloc systems, but has no effect on nitrogen and phosphorus utilization efficiency. Furthermore, increasing the fish density could significantly reduce the fish survival and require more efforts to control biofloc biomass in the culture system.
Novi Megawati, Alimuddin, Ratu Siti Aliah
Jurnal Akuakultur Indonesia, Volume 20, pp 93-100; https://doi.org/10.19027/jai.20.1.93-100

Abstract:
Male giant freshwater prawn grows faster than its female. Therefore, male mono sex culture is one of the solutions to improve aquaculture production. The all-male population of giant freshwater prawns can be produced by mating the neo-females (sex-reversed males) with the normal males. This study was aimed to identify the molecular markers related to the giant freshwater prawn sex. Specific primers were designed based on female-specific AFLP marker sequences to distinguish male and female sex on the prawns. Three locations for obtaining the Indonesian prawns in this study were Aceh, Sukabumi, and Solo. Based on the PCR analysis with MrMKn primers, 30 samples of female prawns had 100 % occurred DNA bands, while no DNA bands were obtained in all-male prawns from Solo. Nevertheless, MrMKn primers still detected 10–16 % male prawns from Sukabumi and Aceh. This indicated that MrMKn primers could not yet distinguish the male prawns for all populations. Moreover, the results suggested that the three prawn samples were different based on female-specific gene sequence. The MrMKn primers have the opportunity to be used in the selection of the female ZZ (neo-female) prawns from Solo without progeny test, so that the determination of female ZZ candidates can be identified more quickly. However, the primer still needs to be redesigned to distinguish neo-female prawns from Sukabumi and Aceh. Keyword: giant freshwater prawn, mono sex, neo-female, sex markers ABSTRAK Udang galah jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan betinanya sehingga budidaya udang galah monoseks jantan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produksi budidaya. Populasi monoseks jantan udang galah dapat dihasilkan dengan mengawinkan neofemales (sex-reversed males) dengan jantan normal. Sistem kromosom pada udang galah berbeda dengan ikan. Individu betina bersifat heterogametik (WZ) dan jantan homogametik (ZZ). Dalam perkembangannya, terdapat kendala dalam menentukan individu neofemale yang memiliki kromosom ZZ. Berdasarkan pendekatan sistem kromosom tersebut, maka dapat dijadikan acuan untuk membuat marka molekuler terkait kelamin udang galah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi marka molekuler terkait jenis kelamin pada udang galah. Primer spesifik didesain berdasarkan sekuen female specific AFLP marker untuk membedakan kelamin jantan dan betina pada udang galah. Tiga sumber udang galah digunakan dalam penelitian ini, yaitu Aceh, Sukabumi, dan Solo. Berdasarkan hasil analisis PCR dengan primer MrKNn, dari 30 sampel pada kelompok udang galah betina diperoleh hasil 100% pita DNA muncul, dan tidak terdapat pita DNA pada semua udang galah jantan asal Solo. Namun demikian, primer MrMKn tersebut masih mendeteksi sebesar 10–16% pada udang galah asal Sukabumi dan Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa primer MrMKn belum dapat membedakan udang galah jantan dari semua populasi. Selain itu, dapat dikatakan bahwa ketiga udang galah uji adalah berbeda, khususnya sekuen gen spesifik betina. Primer MrMKn berpeluang digunakan dalam proses seleksi udang galah betina ZZ (neofemale) asal Solo tanpa harus melalui uji progeni sehingga penentuan kandidat betina ZZ lebih cepat teridentifikasi. Akan tetapi, primer masih perlu didesain ulang untuk membedakan neofemale asal Sukabumi dan Aceh. Kata kunci: marka kelamin, monoseks, neo-female, udang galah
Back to Top Top